Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

 Kemarin hari Minggu.


Dari pagi saya sudah sibuk di depan layar komputer, menyiapkan hal-hal yang perlu disiapkan. Membaca banyak hal untuk saya baca dan teliti.



Sebetulnya ini tidak perlu terjadi, jika manajemen waktu saya mumpuni.




Hal-hal yang saya lakukan saat minggu pagi sampai sore kemarin adalah pekerjaan bodoh yang saya lakukan. Istilahnya santri, saya menembel. Saya menambal beban pekerjaan selama satu semester dengan diganti satu hari.



Tentu kepala pusing, dengan sejumlah deadline yang ada.



Maka ketika sore tiba, dan pekerjaan sudah saya anggap selesai, saya menemui Difa dan Hilwa. Kami jajan cilok. Beli 4 ribu untuk dijadikan dua bungkus.



Difa makan ciloknya 4 biji. Habis. Hilwa makan 3 biji. Yang satu biji untuk diri saya sendiri. Anggap saja setusuk cilok itu sebagai bentuk apresiasi untuk diri saya sendiri setelah kerja minggu pagi sampai sore.

Suwun Gusti, ternyata saya masih keren (keren jare dewek mbuh apa wkwk).



Terkadang, untuk menyelesaikan setumpuk pekerjaan yang melelahkan dan berat, ada hal-hal yang di luar sana untuk membangkitkan semangat. Semacam energi di luar diriku sendiri. Pokoknya ini harus selesai.



Dan energi itu adalah doa ibu.



Semoga segalanya dimudahkan, kata ibu. Jadi di saat saya memasang tabung LPG, dan berhasil, itu bukan karena saya yang keren. Tapi doa ibu yang melampaui ke sana. Walau itu hanya sebatas memasang tabung. 



Aihh aku. Jangan sombong wahai aku. Tapi kamu harus tetap aku apresiasi, Wahai aku. Setusuk cilok lagi untukku dan untukmu. Ada aku di dalam aku.


Kematian jenis apa yang kelak kau inginkan? Adalah pertanyaan yang kadang menari-nari di otak saya.


Di usia yang melewati kepala tiga lebih, saya pernah melihat banyak fenomena orang-orang dengan berbagai jenis kematiannya. Pun demikian dengan engkau, bukan?


Ada orang yang mati secara mendadak, dan tidak jarang juga banyak orang yang mati dengan melawati berbagai penyakit dahulu sebelum dia meninggalkan dunia untuk selamanya.


Salah satu kakek sahabat saya, dia mati dengan kesan lucu, kakek ini memang dalam kesehariannya adl orang yang lucu. Hidupnya penuh canda tawa. Pun saat dia dalam masa-masa terkahirnya, ketika dia sudah terbaring dalam sakitnya dia berdiri berjalan menuju kamar mandi untuk buang air kecil, sambil mengatakan, “Aku kok arep mati ndadak pengin nguyoh mbarang ki loh, jan jan...”.


Setelah itu dia kembali masuk ke kamar dan memejamkan mata selamanya. Para keluarga yang menunggunya terkesima. Konon Tuhan tidak bertanya seberapa banyak hartamu, dan bagaimana pencapaian duniamu. Tapi seberapa banyak manusia yang engkau buat tertawa bahagia.


Kembali ke topik atas, jenis kematian seperti apa yang kelak akan kau inginkan.


Apakah dengan mendadak, tanpa banyak pesan, atau dengan organ-organ tubuh dan jaringanmu yang rusak terlebih dahulu. Sambil kamu merepotkan keluarga terdekatmu. Ya jika kamu punya keluarga dan kerabat dekat.


Maka yang paling keren adalah, suami dan istri yang tetap saling berbagi dan melayani meski diantara keduanya salah satunya sudah mendekati ajalnya. Tentu jika kamu sudah bersuami atau beristri.



Orang yang akan melawati kematian konon adalah orang yang merasa kesepian. Tidak ingin ditinggal. Dia ingin ditunggu terus menerus.



Anak-anak saya tentu saja bukan anak saya untuk melayani kelak saya. Anak saya adalah anak untuk jamannya. Jamannya lebih membutuhkan mereka ketimbang saya pribadi. 



Saya juga tidak punya keluarga. Saya tidak punya adik, dan juga kakak. Lalu siapa yang akan menggantikan celanaku saat sudah tidak berdaya lagi untuk sekedar ke kamar mandi. 



Siapa yang kelak akan membersihkan kotoran-kotoran ku. Yang cintanya melebihi jiji kepada kotoran itu.



Saya tidak tahu.



Jenis kematian kelak yang aku inginkan adalah yang mutmainah, jiwaku yang pasrah. Toh kata Gus Baha, hidup mati itu cuma sekedar pindah dari rahmatnya Allah di dunia menuju rahmatnya Allah di akhirat. 



Hidup kok penak temen Gusti. Kelak mati pun semoga enak juga...

 Untuk ikhwah Fillah. maafkan saya yang banyak kekurangan dalam menemani belajar metodologi pembelajaran. Sebenarnya bukan alasan kesibukan saya, tapi manajamen waktu saya yang buruk. Tulisan ini bisa jadi akan membosankan. Saya tidak menuntut membaca sampai akhir. Karena tulisan ini bukan tulisan ilmiah untuk bahan kuliah. tulisan ini hanya sekedar bahan refleksi pertemuan-pertemuan kita. 

.

.

Setelah kita banyak membaca dan diskusi dari berbagai teori, jenis metode, dan strategi pembelajaran, lalu di luar sana, banyak artikel ilmiah bertebaran tentang berbagai macam metodologi pembelajaran. Rasa-rasanya ada yang masih kurang. Metode apa yang paling hebat sesungguhnya agar menjadi “the great teacher”. Terlebih setelah masa pasca pandemik ini. Dulu semua sekolah dari berbagai jenjang libur, di banyak pesantren juga diliburkan. Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara online. Dengan berbagai metode dan jenis pengajaran– yang barangkali belum dimaktubkan dalam teori oleh para ahli.


Tapi tidak butuh ahli, kan? Kita yang orang awam mungkin bisa menggali. Lalu, apakah pelaksanaan kegiatan belajar yang seperti kita [memakai group WhatsApp, Zoom, dll] efektif? Wallahu a'lam.

.

.

Tentu berbagai jawaban pertanyaan itu akan bersifat subjektif. Pun, juga jika kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara normal. Kembali ke pertanyaan awal. Metode apa sih yang paling top; agar peserta didik faham, supaya peserta didik fokus dengan pelajaran, dan –muaranya– agar ilmu yang diajarkan bisa bermanfaat?

.

.

Saya akan sedikit berkisah. Suatu ketika saya mengikuti pelatihan. Pelatihan untuk menjadi fasilitator profesional pembelajaran untuk semacam belajar TOAFL [Test of Arabic as a Foreign Language]. Jenis tes TOAFL itu susah. Sangat susah. Karena TOAFL itu sebuah kewajiban yang harus dilalui sebelum mahasiswa munaqosah, maka mau tidak mau mahasiswa harus ikut dalam kelas TOAFL. Bukan dari PBA saja, juga dari berbagai jenis Prodi, matematika dlsbnya.

.

.

TOAFL itu sulit, dan membangun semangat belajar TOAFL di kelas jurusan Fisika jauh lebih sulit. Maka lembaga di mana saya mengajar mengadakan refleksi tahunan dengan mengundang pakar untuk melatih kami pada saat itu. Pakar itu adalah seorang Doktor bahasa Arab. Menjabat sebagai kepala lembaga bahasa di kampus Islam negeri di Jawa Timur. Dia membawahi berbagai bahasa asing.

.

.

Tidak banyak poin yang harus saya tandai tebal waktu itu. Dari banyak yang beliau bagikan tipsnya, salah satunya ini;

الطريقة أهم من المادة، ولكن المدرس أهم من الطربقة، بل روح المدرس أهم من المدرس نفسه.

.

.

Kata kuncinya adalah ruh seorang guru. Ruh itu tidak terlihat mata, kita tidak bisa memverifikasi adanya. Tidak ada mata kuliah tentang ruh. Tapi ruh itu adalah kuncinya kunci dari berbagai problematika kegiatan belajar mengajar. Percuma dengan materi yang bagus jika tidak menggunakan metode yang baik. Percuma ada metode yang apik tapi tidak ada keberadaan guru. Dan sangat percuma lagi jika ada materi, metode, dan guru, tapi seorang guru tidak menghadirkan hatinya dalam pembelajaran. Tidak ada keikhlasan dalam mengajar. Ruh itu mungkin bisa jadi totalitas kepasrahan jiwa seorang guru. 

.

.

Saya mendefinisikan ruh itu adalah keberkahan. Saya berungkali menjelaskan kepada teman², saya itu seorang positivis dan rasionalis. Tapi ada waktu tertentu untuk mendamaikan antara akal dengan wahyu. Salah satunya ini; saya percaya berkah. Berkat. Barokah. Berkah seorang guru. 

.

.

Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar apa itu berkah. Juga bagaimana seorang guru agar diberkahi. Teman² diusia sekarang sudah menjadi guru, tentu jauh lebih tahu. Tapi satu hal pesan saya. Bukan hanya guru yang mempunyai keberkahan. Siswa atau santri juga berpotensi dinaungi berkah. Maka, sebagai guru jangan anti kritik terhadap murid.

.

.

Maafkan saya, yang hanya sebatas ini. Semoga Allah menjaga kita. Dan sehat berkah selalu untuk teman² semua.

#DearDifa

#DearHilwa

dan

#DearKamuYangBersemayamDalamSepi



Hari ini pikiran dan perasaan saya campur aduk. Konon sastra yang paling murni adalah puisi. Saya ingin sesekali membuat puisi untuk kalian. Bukan sekedar cerita bualan. Namun apa daya, tulisan ini sebisa-bisa saya, semampu saya.



Sejujurnya saya tidak ingin merawat kesedihan, selain tidak baik untuk kesehatan paru-paru, kesedihan itu seperti luka, menyakitkan. Namun biar bagaimanapun, kita sebagai orang kecil, rakyat jelata, terkadang kesedihan dan kesengsaraan tetap dijaga, supaya kita selalu mawas diri dan waspada, sebenarnya hidup itu tidak hanya tentang bahagia.


Setelah hari ini, saya menemani sepupu saya bertawasul meminta hajat-hajatnya di sebuah Makam Wali. Banyak kisah ketika dulu kami masih kecil yang kami ceritakan ulang. Sepakbola, belajar, berkelahi, memanjat, bersepeda sampai puluhan kilometer dan lain-lain. Sebagaimana kisah biasa, kisah-kisah kami dulu seperti kisah keromantisan anak-anak yang kan selalu kami kenang.


Sekarang sepupu saya bekerja sebagai supir di perusahaan Tengki Pertamina, hampir setiap hari berangkat jam 2 dini hari, pulang malam 11 malam. Dilanjut lagi, setiap hari seperti itu. Jarang pulang. Tidur di jalan gantian. Pahit manis kehidupan jalan ia rasakan. Pernah ia tertahan di Polres berhari-hari karena tak sengaja truknya melindas orang, dan korbannya meninggal.



Di tengah perjalanan pulang dari makam wali, handphone sepupu saya berdering. Dia mengatakan bahwa itu adalah telpon dari putrinya. Telpon ia angkat. Percakapan ayah-anak yang jarang bertemu karena sebuah keadaan mengalir. Bercerita tentang baju lebaran, puasa dan sebagainya.


Getir.

Pada dasarnya, saya ini lelaki picisan. Rintik sedan berjatuhan.



#DearDifa umur putri sepupuku itu kurang lebih setahun di atas mu. Dan kau pernah foto berdua dengannya. Tentu saya tidak bisa membayangkan jika saya jauh darimu. Bagaimana nanti saya akan mengobati rindu yang pastinya menggebu.



Putrinya itu memanggil sepupu saya dengan sebutan Abi. Dia berkisah, bahwa puasa tahun ini, puasanya full sebulan penuh tanpa bolong, baju lebarannya ada 3 pasang. Dan dia merajuk, lebaran hari ini abinya tidak menemuinya. Tidak membelikan baju lebaran untuknya. Percakapan-percakapan selanjutnya saya tidak tertarik mengikutinya.



Hatiku remuk redam.



Sepupuku itu masih seperti dulu, lelaki yang tabah dan kadang lucu.



...................

Seorang kawan saya, lelaki asli Jepara saat dulu berkunjung ke rumahku pernah mengatakan, bahwa laki-laki yang paling beruntung itu seperti saya, mempunyai dua anak perempuan. Anak perempuan, kata kawan saya adalah benteng, benteng untuk ayahnya. Benteng pertahanan dari segala hal negatif.


Teman saya yang lain juga mengatakan kurang lebih sama. Dia berhenti minum alkohol dan segala hal yg negatif berkat kelahiran putrinya.


Semoga saya demikian. Selama ini Allah tutup segala keburukan saya.



Adapun sepupu saya, dia lelaki yang baik, dari dulu dia sangat baik. Cuma terkadang agak semrawut, tapi sesungguhnya baik. Dan dia tentu saja berhak bahagia beserta istri barunya.



Walangsanga, 04 Syawal 1444 H.

Pintu diketuk.

Ini sudah pukul 10 malam. Ini adalah hari mendekati lebaran. Saya sebenarnya telah mengantuk setelah aktifitas pagi sampai sore hari itu. Dengan rasa malas saya membuka pintu. Ternyata memang dia.


.......................................................................


Seseorang tiba-tiba menghubungi saya, bahwa dia akan mengunjungi saya malam itu juga. Telah lama kami hilang kontak. Terakhir bertemu sekitar 5 atau 6 tahun lalu. Dengan segala pertanyaan di hati, apa yang sebenarnya terjadi. Ada kepentingan apa dia malam-malam jauh-jauh mendatangi saya di pelosok desa.



Dia sahabat saya. Kuliah jurusan seni musik. Hampir 5 tahun di kota orang, dan dia adalah salah satu sahabat yang berasal dari satu kabupaten dengan saya. Segala manis pahitnya pernah melalui bersama. Beberapa kali saya juga hutang budi dengan dia. Saya tahu betul karakternya.



Saya duga dia akan meminta hutang atau jangan-jangan dia sedang terlibat masalah hukum yang besar. Yang nantinya pasti akan merepotkan saya. 😅 Ini sudah mendekati lebaran.



Dengan kondisi sosial ekonomi Indonesia sekarang ini, apa pun bisa terjadi. Tapi yang jelas dia cukup tahu, bahwa kehidupan ekonomi saya dari dulu ya seperti itu-itu saja. Tak mungkin dia berhutang padaku.


Saya suguhkan beberapa makanan sisa berbuka puasa. Belum lama kita basa-basi. Dan tiba-tiba dia minta makan nasi. 😅 

Adegan ini tentu khusus untuk kawan yang dekat. Hanya nasi putih. wkwkw



Rasa penasaranku masih tanda tanya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan dia.



“Bro, istrimu mana?”.



Pertanyaan ini memang agak sulit keluar dari mulut saya. Saya hampir tidak pernah bertanya kepada seseorang kapan dia nikah, dan kapan dia punya anak dan pertanyaan-pertanyaan tendensius lain. Bagi saya pertanyaan macam itu adalah pamali. 



Maka, agak canggung juga ketika saya menembak dengan pertanyaan itu. Terlebih dia tidak pernah aktif di sosial media. Saya tidak tahu kabar terbarunya.



Maka dia hanya senyum. Kemudian kami tertawa. 



Selanjutnya, dia menceritakan berbagai pencapaian-pencapaian yang telah diraih. Lebih tepatnya kegagalan-kegagalan dia sebagai manusia.



“Saya jadi ingat, saat dulu, ketika kita masih berjiwa muda, saat dalam sebuah evaluasi, kau mengkritik saya secara pedas, membabi buta, padahal dalam organisasi itu, kau adalah wakilku dan aku adalah ketuanya. Tapi kau mengkritik dalam forum, dilihat dan didengar banyak orang. Bahwa sebuah sumber kekacauan itu adalah aku, kritikanmu itu selalu aku kenang sampai sekarang, kritikan itu membangun". Kata dia dalam pertengahan obrolan kami.


Saya sendiri sudah lupa, kapan saya mengucapkan kritikan pada dia. Aihhh saya jadi kangen dengan diriku sendiri di masa lalu. Peluk erat untuk diriku waktu itu.



Dia sekarang sudah bangkit. Sudah siap menghadapi dunia lagi. 


Sebagai musisi dia berkisah, dia pernah stres mendengar bunyi-bunyi. Suara. Suara apapun. Tetasan air kamar mandi. Kicauan burung. Suara mesin motor. Dan lain-lain. 


Saya merasa kasihan dan takjub. Ini seperti yang digambarkan Andre Hirata, bahwa pemain orkestra mengulang-ulang terus suara dan nada yang sama, seperti kutukan menjadi kaset kusut yang rusak. Kalau hanya puluhan kali, tidak mengapa. Tapi jika sudah ratusan atau ribuan kali. Sudah pasti inalillahi.



Inilah mengapa, sebagai orang yang awam musik, saya harus apresiasi lebih kepada seniman musik.



Dia juga berkisah bagaimana kawan-kawannya (kawan-kawan saya juga) setia membantunya dari berbagai masalah. Belenggu hitam yang menjerat dia. Satu persatu dia lepaskan. Dan sudah menjadi takdir dia untuk berubah menjadi lebih baik lagi.



Di hadapan dia, tentu saya harus merasa tegar. Padahal setiap orang juga pasti mempunyai masalah yang dihadapi. Begitu juga dengan saya saat ini.



Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. 

“Bro, ini kalau dijadikan podcast tentu bagus sekali, ditonton banyak kawan kita”, kata saya.

“Ndasmuuu. Banyak sekali rahasia saya nantinya terbongkar wkwkwk”.



Sebelum dia pamit, saya bekali oleh-oleh “mantra ajaib”. Saya bukan dukun atau agamawan. Hanya sekedar mantra rasional biasa.


Sehat dan bangkit untuk kita semua.



FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE