Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

Ada banyak alasan kenapa saya harus menyimak ngaji Gus Ulil, Ulil Abshar Abdalla, meskipun saya jarang ikut ngaji secara live. Namun dalam kesibukan aktivitas saya mencari keberkahan duniawi, Insya Allah saya sempatkan mendengar lewat rekaman di Spotify.


Diantara alasan itu adalah, metode ngaji. Meskipun yang dikaji pembahasan tasawuf hingga tauhid dan filsafat ala Imam Ghazali, yang cukup memeras otak dan membuat kernyitnya dahi. Metode Gus Ulil, seperti metode pesantren klasik; gramatika tarjamah tidak ditinggalkan. Pasti disisipi nahwu sharaf dalam pembahasan.


Selain itu, bagi saya Gus Ulil ini sosok yang unik, anak kiai yang berasal dari pesantren tradisional yang konservatif. Hingga jalan intelektualnya yang mengenyam pendidikan di Amerika. Maka tidak jarang, dalam ngaji istilah-istilah asing juga sering disebut. Tokoh-tokoh orientalis atau pemerhati Islam dari barat juga tidak luput dibahas. Tentu ini, menjadi literasi pengembangan wawasan santri.


Dalam ngaji terkahir, kitab Al Iqtishad fi Al I'tiqad – tentu saja karya Al Ghazali. Ini sedang seru-serunya pembahasan perdebatan antara Mu'tazilah dan Asy'ariyah, tentang apakah kelak Tuhan bisa dilihat oleh manusia?


Sebagai santri yang tumbuh di kalangan pesantren NU, yang sudah mengenyam ilmu akidah Imam Abu Hasan Al Asy'ari dan Imam Abu Mansur Al Maturidzi, tentu sudah terbiasa mempelajari “doktrin-doktrin” ilmu tentang ke-Esa-an Allah. Namun bagaimana ajaran tauhid Asy'ari dengan nalar-nalar Imam Ghazali mementalkan ajaran Mu'tazilah? Mu'tazilah ini adalah ahli dalam berlogika. Tapi justru logika ini dipatahkan oleh imam Al Ghazali.


Inilah salah satu keseruannya.


Sebelum membahas lebih dalam ke sana, Saya ingin berkisah lebih dahulu. Saat saya mengenyam pendidikan di salah satu perguruan tinggi Islam negeri, saya mendapatkan dosen favorit. Dia mengampu mata kuliah Filsafat Bahasa. Dari beliau, Filsafat yang bagi saya dan teman-teman di kelas itu sukar karena kerumitannya, dibuat kelas yang hidup dan menyenangkan. Diskusi-diskusi filsafat yang sering diselingi canda tawa. Nah beliau ini mengaku berfaham Mu'tazilah.


Dari sini stereotip saya tentang Mu'tazilah berbeda. Bahwa dulu, ajaran Mu'tazilah itu sesat dan menyesatkan itu, ternyata jauh dari itu. 


Mereka memang mengedepankan nalar dalam beragama, memang iya. Tapi ada banyak hal yang tidak bisa dilogikakan. 


Kembali ke laptop.


Kitab yang dibahas Gus Ulil, Al Iqtishad fi Al I'tiqad karya Imam Al Ghazali, Kata Al Iqtishad sendiri bermakna jalan tengah dan fi Al I’tiqad berarti dalam masalah akidah. Jadi kitab Al Iqtishad membahas jalan tengah dalam akidah. Jalan tengah yang dipilih Al Ghazali dalam kitab ini merupakan ciri beliau dalam bersikap dalam aqidah.


Mu'tazilah mengatakan bahwa di hari kelak, Allah tidak bisa dilihat oleh manusia. Bagaimana mungkin Allah bisa dilihat? Mu'tazilah menyatakan: Sesuatu bisa dilihat itu harus masuk dalam ruang dan waktu. Masuk dalam suatu arah. Misal, jika si A melihat si B, si A melihat si B harus dalam arah: depan, belakang, samping kanan, samping kiri, tengah, atas, dan bawah, itu adalah arah. Masuk ruang dan waktu. Namun dalam argumen Mu'tazilah, Allah itu di luar ruang. Maka, tidak mungkin bisa dilihat.


Argumentasi Mu'tazilah dipatahkan dengan perumpamaan sebuah cermin oleh Al Ghazali. Seseorang dapat melihat dirinya sendiri di sebuah cermin. Padahal sesuatu yang dilihat di cermin adalah dirinya sendiri yang di luar ruang dan waktu. Itu bisa dilihat.


Menurut Al Ghazali, sebelum jauh pembahasan lebih panjang, ada sesuatu hal yang harus disamakan. Atau ada persepsi yang harus (Al Ghazali dan Mu'tazilah) sama-sama setuju sebagai dasar dalam adu argumentasi. Karena jika dasar berfikir saja sudah berbeda tentu tidak akan ada titik temu.


Sesuatu dasar itu adalah, pengertian ra'yun atau melihat. Al-Ghazali mengajak Klarifikasi lebih dahulu istilah melihat. Bagaimana pandangan Mu'tazilah dan Al Ghazali harus diselesaikan lebih dahulu, disamakan lebih dahulu tentang melihat.



Al Ghazali menawarkan makna arti melihat dengan berbagai syarat; pertama, harus ada mahal atau tempat. Tempat melihat, yang dimaksud Al Ghazali tempat adalah alat untuk melihat. Maka, alat melihat salah satunya adalah mata sebagai indera penglihatan.


Syarat kedua adalah, ada sesuatu yang dilihat. Ada muta'alaq atau objeknya. Kemudian syarat ketiga adalah ada yang melihat. Atau harus ada Failnya.


Maka apabila kita mengatakan ada aktivitas melihat, sekurang-kurangnya ada tiga syarat yang diajukan Al Ghazali: alat untuk melihat, objek untuk dilihat, dan siapa yang melihat.


Nah, berbicara objek penglihatan, biasanya ada ukuran, warna, benda, dan semua objek penglihatan. 


Namun Al Ghazali memberi pandangan bahwa mata itu bukan rukun atau pilar yang wajib ada sebagai syarat sah kegiatan melihat. Ada hati, ada otak, dan ada indera yang lain untuk melihat. Apakah itu boleh? Boleh kata Gus Ulil, dalam memaparkan teks Al Ghazali ini.


Pembahasan ini memang sedikit rumit. Karena saat belajar aqidah, secara tidak langsung juga belajar filsafat. 


Maka, menurut Al Ghazali, jika melihat Allah itu tidak harus melihat dengan mata, karena melihat tidak harus melalui mata saja.


Gus Ulil menambahkan, argumen Al Ghazali memang sedikit rapuh. Karena sisi lain, Al Ghazali sebetulnya ingin mengatakan bahwa, ketika Alquran menegaskan, kelak manusia yang beriman di hari akhir nanti bisa melihat Alla. Melihatnya itu tidak melalui mata, melainkan melihat secara majazi. Artinya ayat ini ditakwil. Seperti kalimat “Allah punya tangan”, itu bukan tangan dalam bentuk tangan biasa, sebagaimana tangan manusia, tapi tangan itu adalah kekuasaan Allah, maknanya. 


Ngaji Al Iqtishad fi Al I'tiqad, saat tulisan ini ditulis belum selesai pembahasan Asy'ariyah Vs Mu'tazilah.


Tulisan ini hanya interpretasi santri biasa. Berharap banyak keberkahan dari para Kiai Ulama.


Wallahu a'lam Bi shawab.



Suatu malam di tahun 2015, tanggal 17 Mei. Saya lupa harinya. Saya dan seorang kawan motoran dari Semarang menuju Yogya. Kemudian melingkar di Mocopat Syafaat. 

Hadir pula budayawan kondang Sujiwo Tedjo.


Saya masih ingat betul. Dalam tawasul awalnya Simbah, Setelah berkirim fatihah untuk Kanjeng nabi dan wali-wali, beliau bertawasul kepada kakek nenek moyang jamaah, untuk menghadirkan bahwa semua permalasahan para jamaah yang ada, agar nenek moyang mengetahui dan turut serta membantu berdoa supaya segala permasalahan hari ini segera menuju titik terang. 


Saya merinding. Seolah semua kakek nenek ku juga hadir di sana. Mengamini segala rengekan-rengekan manjak ku.


Setelah itu, Simbah berkirim fatihah, kepada anak cucu yang akan lahir kelak. Saya ber-amin sangat keras. Waktu itu, dua hari sebelumnya di tanggal 15 Mei, saya baru saja melamar perempuan yg kelak menjadi istri saya. Maka anak-anak saya hari ini adalah perwujudan dari doa-doa penuh kebaikan dan kebijaksanaan Simbah di malam itu.


Setelah tawasul selesai. Simbah berdoa untuk para jamaah, inti dari doa itu adalah, supaya para jamaah dijauhkan dari segala hal yang penuh marabahaya.


Pada waktu itu, marabahaya dalam tafsir saya adalah kecelakaan lalulintas. Atau terkena musibah bencana alam. 

Namun, setelah 8 tahun hidup pasca Mocopat Syafaat malam itu, marabahaya itu tidak hanya sebatas kecelakaan lalulintas, atau musibah bencana alam non alam, tapi ternyata lebih jauh dari itu;


Kehidupan rumah tangga yang tentram, istri yang menerima. Hasil pekerjaan yang halal. Anak-anak yang saleh-salehah. Dan segala kehidupan yang tidak butuh intrik dan politik “kecurangan”, senggol kanan kiri, adalah bagi saya saat ini manifestasi doa Simbah untuk dijauhkan dari segala hal yang penuh marabahaya.


......


Sudah menjadi kodratnya manusia, untuk merasa kekurangan. Setelah mendapatkan ini, pasti ingin itu.


Pun juga saya. Sebagai manusia biasa. 


Namun the wisdomnya Simbah selalu berputar-putar dalam telinga saya, kurang lebihnya;


Manusia itu akhsanu taqwim, masterpiece-Nya Allah. Lebih mulia dari apapun. Apalagi uang. Uang yang harusnya mengejarmu. Bukan kamu yang mengejar-ngejar uang.


Hari-hari ini saya berusaha memposisikan itu. Meskipun sulit. Tentu saya akan coba belajar. Saya tidak ingin mengejar apapun. Uanglah yang membutuhkan saya bukan saya yang butuh uang. 


Hidup lebih enteng. Lebih tentram. Saya tidak malu-malu mengakui bahwa saya ini anak maiyah. 


Maiyah memberikan saya banyak hal. Termasuk artikel jurnal ilmiah yang saya tulis tentang Simbah. Tapi saya tidak pernah berkontribusi apapun terhadap Simbah.


Doaku untukmu Simbah. Sehat cerah. Temani kami kembali.


 Kemarin hari Minggu.


Dari pagi saya sudah sibuk di depan layar komputer, menyiapkan hal-hal yang perlu disiapkan. Membaca banyak hal untuk saya baca dan teliti.



Sebetulnya ini tidak perlu terjadi, jika manajemen waktu saya mumpuni.




Hal-hal yang saya lakukan saat minggu pagi sampai sore kemarin adalah pekerjaan bodoh yang saya lakukan. Istilahnya santri, saya menembel. Saya menambal beban pekerjaan selama satu semester dengan diganti satu hari.



Tentu kepala pusing, dengan sejumlah deadline yang ada.



Maka ketika sore tiba, dan pekerjaan sudah saya anggap selesai, saya menemui Difa dan Hilwa. Kami jajan cilok. Beli 4 ribu untuk dijadikan dua bungkus.



Difa makan ciloknya 4 biji. Habis. Hilwa makan 3 biji. Yang satu biji untuk diri saya sendiri. Anggap saja setusuk cilok itu sebagai bentuk apresiasi untuk diri saya sendiri setelah kerja minggu pagi sampai sore.

Suwun Gusti, ternyata saya masih keren (keren jare dewek mbuh apa wkwk).



Terkadang, untuk menyelesaikan setumpuk pekerjaan yang melelahkan dan berat, ada hal-hal yang di luar sana untuk membangkitkan semangat. Semacam energi di luar diriku sendiri. Pokoknya ini harus selesai.



Dan energi itu adalah doa ibu.



Semoga segalanya dimudahkan, kata ibu. Jadi di saat saya memasang tabung LPG, dan berhasil, itu bukan karena saya yang keren. Tapi doa ibu yang melampaui ke sana. Walau itu hanya sebatas memasang tabung. 



Aihh aku. Jangan sombong wahai aku. Tapi kamu harus tetap aku apresiasi, Wahai aku. Setusuk cilok lagi untukku dan untukmu. Ada aku di dalam aku.


Kematian jenis apa yang kelak kau inginkan? Adalah pertanyaan yang kadang menari-nari di otak saya.


Di usia yang melewati kepala tiga lebih, saya pernah melihat banyak fenomena orang-orang dengan berbagai jenis kematiannya. Pun demikian dengan engkau, bukan?


Ada orang yang mati secara mendadak, dan tidak jarang juga banyak orang yang mati dengan melawati berbagai penyakit dahulu sebelum dia meninggalkan dunia untuk selamanya.


Salah satu kakek sahabat saya, dia mati dengan kesan lucu, kakek ini memang dalam kesehariannya adl orang yang lucu. Hidupnya penuh canda tawa. Pun saat dia dalam masa-masa terkahirnya, ketika dia sudah terbaring dalam sakitnya dia berdiri berjalan menuju kamar mandi untuk buang air kecil, sambil mengatakan, “Aku kok arep mati ndadak pengin nguyoh mbarang ki loh, jan jan...”.


Setelah itu dia kembali masuk ke kamar dan memejamkan mata selamanya. Para keluarga yang menunggunya terkesima. Konon Tuhan tidak bertanya seberapa banyak hartamu, dan bagaimana pencapaian duniamu. Tapi seberapa banyak manusia yang engkau buat tertawa bahagia.


Kembali ke topik atas, jenis kematian seperti apa yang kelak akan kau inginkan.


Apakah dengan mendadak, tanpa banyak pesan, atau dengan organ-organ tubuh dan jaringanmu yang rusak terlebih dahulu. Sambil kamu merepotkan keluarga terdekatmu. Ya jika kamu punya keluarga dan kerabat dekat.


Maka yang paling keren adalah, suami dan istri yang tetap saling berbagi dan melayani meski diantara keduanya salah satunya sudah mendekati ajalnya. Tentu jika kamu sudah bersuami atau beristri.



Orang yang akan melawati kematian konon adalah orang yang merasa kesepian. Tidak ingin ditinggal. Dia ingin ditunggu terus menerus.



Anak-anak saya tentu saja bukan anak saya untuk melayani kelak saya. Anak saya adalah anak untuk jamannya. Jamannya lebih membutuhkan mereka ketimbang saya pribadi. 



Saya juga tidak punya keluarga. Saya tidak punya adik, dan juga kakak. Lalu siapa yang akan menggantikan celanaku saat sudah tidak berdaya lagi untuk sekedar ke kamar mandi. 



Siapa yang kelak akan membersihkan kotoran-kotoran ku. Yang cintanya melebihi jiji kepada kotoran itu.



Saya tidak tahu.



Jenis kematian kelak yang aku inginkan adalah yang mutmainah, jiwaku yang pasrah. Toh kata Gus Baha, hidup mati itu cuma sekedar pindah dari rahmatnya Allah di dunia menuju rahmatnya Allah di akhirat. 



Hidup kok penak temen Gusti. Kelak mati pun semoga enak juga...

 Untuk ikhwah Fillah. maafkan saya yang banyak kekurangan dalam menemani belajar metodologi pembelajaran. Sebenarnya bukan alasan kesibukan saya, tapi manajamen waktu saya yang buruk. Tulisan ini bisa jadi akan membosankan. Saya tidak menuntut membaca sampai akhir. Karena tulisan ini bukan tulisan ilmiah untuk bahan kuliah. tulisan ini hanya sekedar bahan refleksi pertemuan-pertemuan kita. 

.

.

Setelah kita banyak membaca dan diskusi dari berbagai teori, jenis metode, dan strategi pembelajaran, lalu di luar sana, banyak artikel ilmiah bertebaran tentang berbagai macam metodologi pembelajaran. Rasa-rasanya ada yang masih kurang. Metode apa yang paling hebat sesungguhnya agar menjadi “the great teacher”. Terlebih setelah masa pasca pandemik ini. Dulu semua sekolah dari berbagai jenjang libur, di banyak pesantren juga diliburkan. Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara online. Dengan berbagai metode dan jenis pengajaran– yang barangkali belum dimaktubkan dalam teori oleh para ahli.


Tapi tidak butuh ahli, kan? Kita yang orang awam mungkin bisa menggali. Lalu, apakah pelaksanaan kegiatan belajar yang seperti kita [memakai group WhatsApp, Zoom, dll] efektif? Wallahu a'lam.

.

.

Tentu berbagai jawaban pertanyaan itu akan bersifat subjektif. Pun, juga jika kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara normal. Kembali ke pertanyaan awal. Metode apa sih yang paling top; agar peserta didik faham, supaya peserta didik fokus dengan pelajaran, dan –muaranya– agar ilmu yang diajarkan bisa bermanfaat?

.

.

Saya akan sedikit berkisah. Suatu ketika saya mengikuti pelatihan. Pelatihan untuk menjadi fasilitator profesional pembelajaran untuk semacam belajar TOAFL [Test of Arabic as a Foreign Language]. Jenis tes TOAFL itu susah. Sangat susah. Karena TOAFL itu sebuah kewajiban yang harus dilalui sebelum mahasiswa munaqosah, maka mau tidak mau mahasiswa harus ikut dalam kelas TOAFL. Bukan dari PBA saja, juga dari berbagai jenis Prodi, matematika dlsbnya.

.

.

TOAFL itu sulit, dan membangun semangat belajar TOAFL di kelas jurusan Fisika jauh lebih sulit. Maka lembaga di mana saya mengajar mengadakan refleksi tahunan dengan mengundang pakar untuk melatih kami pada saat itu. Pakar itu adalah seorang Doktor bahasa Arab. Menjabat sebagai kepala lembaga bahasa di kampus Islam negeri di Jawa Timur. Dia membawahi berbagai bahasa asing.

.

.

Tidak banyak poin yang harus saya tandai tebal waktu itu. Dari banyak yang beliau bagikan tipsnya, salah satunya ini;

الطريقة أهم من المادة، ولكن المدرس أهم من الطربقة، بل روح المدرس أهم من المدرس نفسه.

.

.

Kata kuncinya adalah ruh seorang guru. Ruh itu tidak terlihat mata, kita tidak bisa memverifikasi adanya. Tidak ada mata kuliah tentang ruh. Tapi ruh itu adalah kuncinya kunci dari berbagai problematika kegiatan belajar mengajar. Percuma dengan materi yang bagus jika tidak menggunakan metode yang baik. Percuma ada metode yang apik tapi tidak ada keberadaan guru. Dan sangat percuma lagi jika ada materi, metode, dan guru, tapi seorang guru tidak menghadirkan hatinya dalam pembelajaran. Tidak ada keikhlasan dalam mengajar. Ruh itu mungkin bisa jadi totalitas kepasrahan jiwa seorang guru. 

.

.

Saya mendefinisikan ruh itu adalah keberkahan. Saya berungkali menjelaskan kepada teman², saya itu seorang positivis dan rasionalis. Tapi ada waktu tertentu untuk mendamaikan antara akal dengan wahyu. Salah satunya ini; saya percaya berkah. Berkat. Barokah. Berkah seorang guru. 

.

.

Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar apa itu berkah. Juga bagaimana seorang guru agar diberkahi. Teman² diusia sekarang sudah menjadi guru, tentu jauh lebih tahu. Tapi satu hal pesan saya. Bukan hanya guru yang mempunyai keberkahan. Siswa atau santri juga berpotensi dinaungi berkah. Maka, sebagai guru jangan anti kritik terhadap murid.

.

.

Maafkan saya, yang hanya sebatas ini. Semoga Allah menjaga kita. Dan sehat berkah selalu untuk teman² semua.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE