Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

 

#DearDHA

Seorang kawan di Fesbuk membagikan cerita. Bahwa dia yang kini tinggal di Situbondo. meneruskan usaha mendiang bapaknya: penyewaan perahu wisata. Sebelumnya dia tinggal di kota pelajar, Yogya. Di sana dia juga pengusaha sektor wisata. Penyewaan mobil dan motor.

Sebelum berpulang, sang bapak berwasiat,
“Nak, perahunya jangan dijual, ya. Itu buat Kenang-kenangan”.
Alasan yang melankolis. Ucapan itu dilontarkan hampir ke semua keluarganya. Perahu itu terlalu banyak kenangan. Maka tidak ada pilihan lagi, perahu yang tua dimakan usia, jika didiamkan pasti akan rapuh dan hancur juga. Akhirnya keputusan itu bulat.

Dia banting setir. Melanjutkan usaha sang bapak.

Modal ia keluarkan. Perahu dimodifikasi dengan teknologi canggih. Berbekal pengalaman usaha di bidang wisata persewaan mobil dan motor dulu, dan pengalaman pendidikan di kota pelajar, ia sangat optimis, bahwa usahanya nanti pasti akan melampaui bapaknya.

Faktanya.

Sejak dia menggantikan bapak, dia hanya mendapatkan satu customer. Dan jika ditotal pendapatan selama tiga bulan terakhir, tidak sampai 500 ribu. Sedangkan modal tidak kurang 15 juta.

Dalam postingan Fesbuknya, foto dia memandangi perahu itu. Dia teringat bapaknya yang gigih menawarkan jasa kepada setiap tamu wisatawan. Kini ia teringat bapaknya berbagi uang kepada dia dan kakak-kakaknya saat pengunjung ramai. Tidak lupa nasi padang yang bapaknya tenteng sambil tertawa, “bapak banyak rejeki hari ini”.

Tentu saat duduk, dia menangis, mengingat kebaikan-kebaikan bapaknya dan ketololannya yang merasa jauh lebih baik dari si bapak. Hari ini tepat satu tahun bapaknya pergi. 

#DearDHA, 

#DearAsfar, 

Tidak memandang gender. Lelaki juga berhak bercerita. 

Ini sudah Februari 2025. Banyak sekali urusan-urusan duniawi yang tidak baik-baik saja. Dan postingan kawan saya itu serasa tanbih untukku. Bahwa kita harus banyak-banyak belajar kearifan pada orang tua. yang saya lewati hari ini, saya rasa melebihi bapakku. Kenyataannya tidak. Saya rapuh. Dan bapakku dulu kuat.

Sehat sehat kita semua.

#DearHilwa saya menulis ini dengan hati yang sedang embuh. Anggap saja ini adalah surat cintaku kepadamu yang kesekian kalinya. Bahwa saya sangat mencintaimu. Sebagaimana saya mencintai kakak dan adikmu.


Banyak sekali kekuranganku sebagai bapak. Menjadikan dhalim kepada dirimu, Hilwa. Ketidakmampuanku secara ekonomi, misalnya. Dan keterbatasanku sebagai manusia.


Tapi di luar kekuranganku, bahwa saya tahu, di dalam tubuhmu yang mungil, terdapat rasa syukur yang besar. Itulah kenapa, Hilwa. Bahwa Allah selalu tidak Maha Tega kepada kita.


Di bulan Juli yang dingin. Saat pertama kali kehadiranmu di tengah-tengah kita. saya merasa hangat. Dan sampai sekarang saya merasa hangat dengan canda dan tawamu.


Sebagai manusia biasa. Saat adikmu lahir yang jaraknya 2 tahun dari usiamu. Secara psikologis saya terguncang. Kamu yang sedang rewel-rewelnya, ditambah adikmu yang baru lahir. Anak sekecil kamu, harus berbagi apapun itu dengan adikmu. Kasih sayang ibumu yang berlimpah ruah, harus kamu bagi juga dengan adikmu. Mainan-mainan itu. Dan segala tetek-bengeknya, kamu harus memenuhi standar orang dewasa: mengerti dan mengasihani.


Hingga suatu hari, saat kamu sakit, dan nafasmu berbunyi, ibumu tahu, ini bukan sakit biasa. Tapi lagi-lagi Allah maha tidak tega kepada kita. Alam menyembuhkan dirinya.


#DearHilwa, kamu mempunyai kakak yang cantik seperti dirimu. Insya Allah saya tidak pernah membandingkan kamu dengan dirinya. Sama cintaku padamu. Kesukaanmu yang makanan-makanan tradisional konvensional. Segala hal kamu tanyakan kepada ibumu. 
“Mama, jeruk sehat?“.
“Mama, ubi sehat?“.
“Mama mama, lontong sehat?“.
“Sehat". Jawab ibumu.
Hingga suatu hari saat kita akan menunaikan salat, kamu bertanya, “Ayah, Allah sehat?“.
Dan saya bingung akan menjawab bagaimana.


Hilwa, di luar sana, dunia sangat keras. Ditempa, diguncang, digodok. Berpindah dari kegagalan satu kegagalan lain. Menjadikan saya tidak baik-baik saja, saya merasa babak belur dihajar banyak kepentingan dunia. Namun, saat pulang menemui mu, dipeluk dicium olehmu, adalah obat untukku.


Lelaki memang tidak bercerita, tapi saya sebagai bapakmu akan cerita sepanjang malammu. Berkisah tentang apa saja. Cerita-cerita yang kau senangi. Lelaki memang tidak bercerita. Hanya menulis blog saja.


#Dearhilwa. Dalam tubuhmu yang mungil terdapat rasa syukur yang besar. Saya banyak belajar. Sehat kita semua.


Cerita asal-usul ilmu Nahwu banyak dalam berbagai literatur Arab klasik. Dikisahkan, tokoh yang pertama kali mengkonsep, meng-epistemologi, aksiologi, hingga meng-ontologi Ilmu Nahwu (dan tata bahasa Arab lainnya–sharaf). Adalah Abu Aswad Ad Du'ali. Seorang Tabi'in yang tsiqah riwayat haditsnya.


Dalam buku Qowaidu Nahwi Bi Uslubi Al Ashri, karangan Muhammad Bakar Ismail, salah satu pengajar di Universitas Al Azhar, Kairo. (Saya ngaji kitab ini dari dosen saya Ustadz Yusuf Ahmad Hasyim, semoga Allah memberikan kesehatan selalu kepada beliau). Diceritakan, bahwa sebenarnya penggagas Ilmu Nahwu adalah  Imam Ali bin Abi Thalib. Abu Aswad, adalah salah satu pengikut beliau yang pandai dalam bahasa, maka Abu Aswad yang didelegasikan langsung oleh Imam Ali untuk merumuskan Nahwu.


Ada banyak faktor,  kenapa Nahwu harus lahir sebagai Ilmu pengetahuan. Salah satunya adalah kesulitan orang Ajam (non Arab) dalam mempelajari dan menyampaikan perkataan bahasa Arab, sebagai bahasa agama dalam Al-Qur'an.


Sebelum Nahwu (dan Sharaf ) lahir. Orang Ajam, akan selalu kesusahan. Bahkan orang-orang Arab sendiri pun juga kesulitan dalam menerka bahasa Al-Qur'an. Banyak kisah tentang orang-orang yang menafsirkan ayat Alquran karena kesalahan nahwu. Masyhurnya cerita surat At Taubah, misalnya. Baca  Kesalahan bacaan Nahwu

Manusia modern,  selalu mendapatkan kabar apapun dengan sangat cepat. Kabar duka, lara, hingga kegembiraan, pernikahan. Biasanya kabar² itu bisa diakses dalam platform WhatsApp Grup (selanjutnya ditulis WAG).

Dalam WAG, para anggota WAG bisa berbagi informasi. Saya punya WAG yang anggotanya multi budaya dan agama. Sebuah WAG hobby. Jumlah anggotanya ratusan. Kami sering berbagi informasi apa saja. Salah satunya adalah informasi kematian seseorang.

Nah di sana letak masalah terjadi. Fomo penggunaan stiker bahasa Arab, untuk membalas informasi di WAG, kadang begitu banyak. Celakanya, jika informasi yang meninggal dunia adalah laki-laki, beberapa peserta WAG membalasnya dengan dhamir (kata ganti perempuan). Atau semisal, informasi yang sakit adalah orang ketiga (dia), namun yang terjadi adalah, do'a dalam stikernya menggunakan kata ganti orang kedua (Syafakallah).

Ini mungkin sulit dijelaskan. Ketika peserta WAG, yang latah menggunakan stiker WA, do'a dalam bahasa Arab, agar terlihat lebih khusuk mungkin, atau agar terlihat religius dan islami. Namun sejatinya, tata bahasa mereka salah besar.

Fenomena ini sebenarnya saya sambil lalu, toh saya tidak punya kewajiban menjelaskan hakikat kebenaran. Terlebih situasi dalam WAG tidak kondusif jika terjadi perselisihan. Saya lebih menghindari keributan.

Saya jadi teringat kepada guru saya, K.H. Abdul Basyir, kalau tidak salah beliau asal Brebes dan menjadi salah satu santri kinasih K.H. Muslih Mranggen (salah satu pendiri Tarekat Jatman yang berafiliasi dengan NU), hingga beliau mendirikan sendiri pesantren di Mranggen.

Dari beliau saya kenal nadzam-nadzam Al Imrithi dan Alfiyah. Dan saya sebagai murid yang paling bebal di kelas, selalu dihukum berdiri depan kelas karena tidak hafal setoran nadzam yang sudah menjadi deadline itu. Terus terang, saya malu, stres, dan rasanya ingin pulang saja tidak perlu menjadi santri lagi. Tapi beliau dalam menghukumku, penuh dengan cinta. “Ziz, Ziz, adoh-adoh saka Tegal, setoran nadzam ora tahu apal“. Beliu berkata seperti itu dengan sangat memaklumiku.


Tanda cinta tidak harus dengan bunga. Mungkin begitu kira-kira yang bisa menggambarkan para kiai dan guru dalam membimbing muridnya. Hingga keberkahan itu memunculkan ndarunya. Beberapa minggu yang lalu, beliau sowan kepada Allah untuk selamanya.(Dalam sedih saya berdoa: Insya Allah, beliau dimaafkan segala kesalahannya, diterima semua amal baiknya).


Sebagaimana beliau memaklumi kebebalan dan kebodohan otakku, mungkin saja saya juga harus maklum terhadap do'a-do'a yang dipanjatkan dalam WAG meskipun salah dalam kaidah Nahwu.


Karena doa yang khusu'. Ucapan yang tulus, yang tidak hanya membagikan stiker yang bisa melampaui langit-langit kesadaran manusia. Menyalip dzikirnya malaikat. Sebagai wujud partisipasi sosial yang paling rendah. Tidak hanya sebatas terkotak dalam lingkaran kaidah bahasa yang tidak mungkin bisa berubah.



#DearDifa

#DearHilwa
#DearAsfar

Arah ideologi dunia yang semakin hari penuh dengan kapitalisme dan narsisme yang tidak ada ujungnya. Saya teringat kisah sufi yang terkenal. Tentang nasihat burung Kumbaroh. Cerita ini saya teringat lagi saat ngaji Ihya online Kiai Ulil Abshar Abdalla.


Ini cerita tentang ketamakan dan kerakusan manusia yang diberi pelajaran oleh burung. Kisah ini berasal dari Imam Sya'bi, ulama besar, perawi hadits.


Syahdan suatu hari. Seorang lelaki mendapati burung. Burung Kumbaroh.
“Apa yang kamu inginkan dariku, wahai pemburu?“, tanya burung.

“Saya ingin memburumu, menyembelihmu, kemudian akan aku makan“.

“Dagingku yang sedikit ini, tidak mungkin bisa menghilangkan kelaparanmu.“

“Begini saja, aku akan memberimu tiga petuah. Petuah bijak tentang kebaikan yang akan lebih bermanfaat dari sekedar memakan dagingku. Petuah pertama, aku akan mengajarkanmu saat kamu bisa menangkapku. Petuah kedua, jika kamu sudah berhasil menangkapku kemudian melepaskanku, dan aku hinggap di ranting pohon itu. Dan petuah ketiga, saat aku sudah terbang menjauhimu, saat aku sudah di atas gunung“. Kata burung Kumbaroh menjelaskan.

Karena tergoda janji petuah-petuah kebaikan Kumbaroh, lelaki tersebut berusaha memburu burung itu sampai berhasil. Dan berhasil. Lelaki itu menagih janji dari Kumbaroh.
“Petuah pertama: jangan sekali² sedih terhadap sesuatu yang telah pergi dan hilang darimu“. Nasihat pertama dari Kumbaroh. Kemudian si pemburu melepaskan burung.

Saat Kumbaroh sudah hinggap di ranting pohon.  “Berikan aku nasihat kebaikan kedua, wahai Kumbaroh“, kata si lelaki. “Jangan mempercayai sesuatu yang tidak mungkin ada di dunia ini, tiba-tiba akan ada“.

Karena sudah diberikan petuah kebaikan kedua. Kumbaroh terbang jauh menuju gunung. Sesuai dengan janji Kumbaroh, si lelaki diberikan kebaikan ketiga:
"Wahai orang celaka. Jika Kamu menyembelih aku, sesungguhnya di dalam tembolokku, terdapat 2 mutiara yang beratnya masing-masing 20 miskol, jika kamu menangkapku, membunuhku, dan menjual 2 mutiara itu, maka kamu akan kaya. (Miskol, volume ukuran berat bangsa Arab dulu. 1 miskol kira-kira 4 gram).

Pemburu menggigit bibir. Hampir menangis. Sangat sedih. Dia baru saja melepaskan kesempatan untuk menjadi seorang kaya raya. Kemudian dia meminta wejangan ketiga.

"Kamu telah melupakan kedua wejanganku. Bukankah engkau sudah saya kasih tahu, nasihat pertama, jangan bersedih terhadap apa saja yang hilang darimu. Nasihat kedua, jangan percaya terhadap apapun yang tidak mungkin ada di dunia ini“.

“Duhai manusia tamak. Bagaimana mungkin, di dalam tembolokku terhadap mutiara. Jika ditotal semua berat tubuhku, bulu-buluku yang tipis. Semua organ yang ada di dalam tubuhku tidak lebih dari 40 miskol!“.

#DearDifa
#DearHilwa
#DearAsfar

Kisah-kisah sufi alur ceritanya kebanyakan tidak realistis. Penuh imajinasi. Tapi bukan alurnya yang kita pelajari. Namun, konten dan hikmahnya yang kita dapati.

Sudahlah. Kita cukup segini saja. Jangan lebih. Jangan terlalu kaya, nanti kita menjadi semena-mena. Kita akan berjuang bersama.

Duhai kalian bertiga, saya tidak mungkin membesarkan kalian dengan balutan harta yang melimpah. Seperti bapakku dulu, saya dibesarkan dengan cerita, puisi, dan sastra.

DearHilwa, #DearDifa, #DearAsfar


Saya selalu berdoa, apa yang saya lakukan semoga dijauhkan dari segala hal yang berbahaya. Berbahaya itu luas maknanya. Berbahaya untukku saat ini. Atau berbahaya saatku nanti. Itu yang diajarkan bapakku dulu.


Hari-hari ini, tahun-tahun ini, saya sibuk dengan urusan duniawi. Seolah hasil dari usaha-usaha dan ikhtiar ini akan terus langgeng abadi. Tentunya tidak. Kesederhanaan bapakku dulu, yang sirkel pertemanannya hanya satu desa, dan tidak muluk-muluk menjadi apa atau siapa, perlu saya ceritakan kembali padamu. Tentu sebagai tanbih untuk ku.


Bulan Desember seharusnya turun penghujan. Cuaca semestinya dingin. Tapi sebaliknya suhu hati dan pikiran selalu memanas. Memikirkan nasib, bagaimana selanjutnya hari esok nanti. Makan apa saya nanti. Apa nanti segala cita dan mimpiku terpenuhi. Segala kemungkinan pasti ada dan terjadi. Dan itu sudah terjadi pada banyak lelaki tua, payah, dan miskin di sekitar saya: tua dalam keadaaan mengenaskan. Tidak dihiraukan.


Kalau tidak seperti itu, kemiskinan, kemelaratan, dan kepenyakitan membayangi-bayangi setiap lelaki yang tidak pasti di masa sekarang atau masa tua nanti. Mungkin ini, salah satu perlunya asuransi. Segala provider asuransi banyak beriklan, tapi jangankan asuransi, nasib kita hari ini?


Aihhh #DearDifa, berbagai cerita selama umurmu 6 tahun ini, telah kita lewati bersama. Susah sedihnya. Dan Allah sendiri yang menjamin kita, detik ini juga masih tertawa. Dan #DearHilwa, 2 tahun umurmu lebih, kita Insya Allah akan selalu berbahagia. Kita akan menggambarkan kisah-kisah penuh kegembiraan. 


Hari ini, bapakku, tepat sudah 20 tahun menghadap Allah. Banyak kisah-kisah yang sebenarnya saya ingat-ingat lupa. Tetapi lelaki itu, duhai #DearAsfar adalah lelaki yang sederhana. Proses hidupnya yang menempa menjadi lelaki apa adanya.


Maka, ketika saya memutar album Iksan Skuter 'Bapakku Indonesia', yang setiap pagi kita dengar bersama, ingatan-ingatan itu semakin jelas.


Lagu 'Pulang', adalah salah satu favorit saya. Lelaki dengan segudang prestasi kegagalannya. Merantau, tapi gagal. Lapar dan kedinginan tak berkesudahan. Merindukan pulang ke rumah, pada sore hari di teras duduk bersama bapakku ditemani teh panas ibu. Setelah gagal, ingin pulang, merindukan hal-hal yang sederhana: tidur di kasur empuk, diselimuti bapak, makan sayur bayam masakan ibu. Bagi saya, yang sudah 20 tahun berlalu, untuk mencapai itu, tentu tidak mungkin lagi di dunia ini: diselimuti bapak.


Lagu judul 'Bapak', Iksan skuter. Adalah hal yang mustahil lagi bagi aku. 

Ada manusia yang paling ingin aku peluk,

Tapi aku malu....

Tidak juga malu sebenarnya,

Hanya angkuh sebagai lelaki dewasa,

Orang yang sepertinya tak peduli dengan apa yang kulakukan.

Diam-diam bertanya kabarku.

Diam-diam menanyakan segala hal tentangku pada ibu.

Melalui lagu ini, Iksan mengejawantahkan padaku, bahwa saya ini tidak mungkin lagi akan memeluk bapakku. Meskipun saya sudah dewasa. Keangkuhan-keangkuhan ku tidak bisa menembus waktu. 


Lagu, 'Nak Jangan Seperti Bapak', seolah bapakku sendiri yang mengatakannya langsung: 

Janganlah seperti bapak, yang, susah mewujudkan mimpinya. 

Besarlah dengan semua harapan yang kamu miliki. 

Ku iringi doa dari hati kami. 

Bapakku entah bagaimana mestinya, bagaimana keadaannya di sana, masih saja mendoakan aku, menyertakan langkah-langkahku. Lelaki sederhana itu, tamatan SLTA pada jamannya, membuang predikat apa saja. Tidak gila jabatan untuk menjadi kepala sekolah. Dan lebih memilih menemani masa-masa kecilku. Memboncengku dengan sepeda butut itu, kedua kakiku diamankan dengan tali yang terbuat dari sobekan kain agar tidak masuk ke jeruji besi sepeda itu.


Lagu 'Yang Ku Ingat Dari Mu', masih di Album Bapakku Indonesia: 

Yang kuingat darimu

Kau bisa membuat Masakan yang enak

Disaat ibu bepergian. 

Yang kuingat darimu

Terkadang dirimu joget dan melucu. Agar kami semua tertawa bahagia.

Itulah dirimu yang katanya ibu, lelaki tak romantis itu. 

Itulah dirimu yang kata tetangga galak tak pandai melucu.


Dari lagu ini, saya ingat, beberapa murid bapakku dulu, sangat sayang pada bapakku. Mereka mengatakan langsung padaku saat beberapa tahun lalu kami bertemu. Ini bukan sekedar klaim sepihak. Bahwa bapakku dulu, galaknya luar biasa. Tapi entah bagaimana, ia amat disayang para murid²nya. Metode dan strategi seperti apa yang dulu dia terapkan saat mengajar. 


Bapakku tentu orang yang humoris, setidaknya hanya denganku. Banyak banyolan-banyolan yang sering kami ulang² bersama, dan kami tertawa bersama. Mentertawakan hal-hal yang biasa saja. Tapi kami bahagia. Pernah juga saya melihat dia menangis. Momen itu, adalah saat saya baru pulang dari khitan. Beliau merangkul pundakku sambil kami berjalan, dan berkata lirih: “aku khawatir”. 


Bapakku tentu tidak tahu teori-teori apa itu kesetaraan gender. Feminimisme. Tapi dari dialah saya belajar praktik bagaimana memperlakukan perempuan kesayangannya, berbagi tugas dalam mengurus rumah tangga. Mencuci baju, mencuci piring, menyapu, adalah hal biasa.


Lagu 'Pesan Untuk Mu', masih di Album yang sama: Jaga kehormatanku

Sepertiku menjagamu

Saat nanti ku mati

Ingat slalu pesanku.

Syair lagu ini, adalah lirik tentang pesan, agar aku tetap berintegritas sebagai manusia. Bagaimanapun pun keadaan ku sekarang dan nanti. Menjaga kehormatan bapakku adalah hal yang wajib, yang saya junjung tinggi: Integritas sebagai manusia. 


Pada akhirnya lagu 'Serigala Petarung' sebagai Gacuk atau senjata rahasia pemungkas untuk mengobarkan api semangat:

Aku takkan menyerah, tak lelah.

Aku takkan menangis, 

Mimpiku tak pernah habis.


#DearAsfar, insya Allah, jika diberi kesempatan, kesehatan, saya akan menemani mu menjadi lelaki yang lebih keren dari Bapakku. Bapakku menginggal dalam usia muda, aku ingin menemani mu sampai aku tua .

Dua puluh tahun yang lalu, lalu hujan turun memenuhiku, seakan diriku dengan Bapakku di teras rumah, ditemani teh panas ibu.

Alfatihah....

#DearAsfar

#DearHilwa

#DearDifa



FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE