Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

Ibuku tak pernah benar-benar tahu seperti apa ayahnya.

Ia hanya mengingat satu malam—entah pukul berapa, entah bulan apa. Yang dia tahu, tubuhnya kecil dan sedang sakit. Dan dalam keadaan menggigil, ia digendong oleh seseorang. Lengan hangat. Dada bidang. Bau peluh dan sabar yang entah kenapa menenangkan.

Itulah satu-satunya kenangan Ibu tentang Bapak kandungnya. Ayahnya wafat saat ia baru berusia dua tahun.

Tapi lucunya, meski nyaris tak pernah mengenal, jejak lelaki itu seperti tak pernah benar-benar hilang.

Orang-orang bercerita bahwa kakekku bertubuh tinggi dan tegap, bermata bulat, dan tangannya terampil memahat dan membangun. Ia bukan arsitek bersertifikat, tapi tukang sejati yang tahu cara menjadikan kayu jadi rumah dan rumah jadi hangat. Seorang seniman yang tak mencetak lukisan, tapi warisan.

Mungkin karena itulah, sepupu kami, Mas Amin, tumbuh jadi ahli seni. Seperti ada sesuatu yang menurun diam-diam dari tangan yang sama—tangan yang tak sempat menuntun anaknya tumbuh besar, tapi masih mampu mengalir ke generasi berikutnya.

Kakekku bukan orang kaya. Tapi justru di situlah letak kebesarannya. Dalam kesederhanaan yang tidak dibuat-buat. Dalam cara hidup yang tidak banyak menuntut. Dalam keteguhan hati yang tidak butuh sorotan. Nilai-nilai itu, katanya, banyak ditiru oleh cucu-cucunya. Entah sadar atau tidak.

Dan aku masih ingat—waktu kecil, aku pernah melihat wajahnya. Lebih tepatnya, bayangannya. Di ruang tamu rumah uwakku, rumah tua peninggalan kakek, tergantung sebuah lukisan besar. Hitam putih. Sorot matanya dalam, wajahnya tegas, tapi ada kelembutan yang samar. Aku sering berdiri diam di depannya, seperti menunggu sosok itu bicara.

Suatu hari, angin kencang datang sore-sore. Jendela terbuka. Lukisan itu jatuh. Kacanya pecah. Kami semua terdiam. Tak ada yang terluka, tapi rasanya ada yang patah. Mungkin itu cuma kebetulan. Tapi buatku, seperti pertanda kecil dari alam: bahwa kenangan bisa jatuh, tapi tak hilang. Bahwa masa lalu tidak bisa disimpan utuh, tapi bisa dikenang dalam potongan.

Dan ada satu kisah lagi, yang tak pernah absen dari cerita keluarga kami: perjalanannya menunaikan haji.

Dulu, orang-orang pergi haji bukan dengan pesawat yang tinggal naik. Mereka naik kapal laut, berbulan-bulan di lautan. Perjalanan panjang. Bekal seadanya. Tapi mereka tetap pergi. Bersama nenekku, kakek menempuh perjalanan spiritual itu dengan sabar. Tak ada foto-foto dokumentasi, hanya cerita yang hidup dari mulut ke mulut. Bahwa mereka pergi bukan untuk dilihat, tapi untuk taat.

Cara beliau pergi haji itu yang paling membekas. Bukan karena kemewahan, tapi karena niat yang penuh. Dan diam-diam, aku berharap... cara beliau menempuh perjalanan itu bisa ditiru oleh cucu-cucunya. Tidak hanya dalam arti berangkat ke Tanah Suci, tapi juga dalam menjalani hidup.

Dengan sabar. Dengan cukup. Dengan hati yang penuh walau tangan sederhana.

Karena mungkin, jejak seorang kakek bukan hanya ada di foto tua, atau lukisan yang jatuh. Tapi ada dalam cara cucu-cucunya bersikap, bermimpi, dan menyederhanakan cinta.

 

Aktor senior Agus Kuncoro, dalam sebuah kontennya ditanya, apa yang membanggakan menjadi seorang bapak. Dia menjawab dengan mantap.

“melihat anak gadisku tumbuh dewasa”.
Kemudian ditanya lagi, apa yang paling menyedihkan menjadi seorang bapak. Dia jawab dengan nada sedih.

“melihat anak gadisku tumbuh dewasa”.

Pertanyaan berbeda. Jawaban sama. Penuh semantik dan semiotika.

....
#DearDifa
Hari ini sepulang sekolah kamu berkisah, bahwa tadi pagi di sekolah, selesai doa di bawah langit bertengadah, kepala sekolah bertanya depan kelas 1 sampai 6, hari ini siapa yang ulang tahun. Dan kamu mengacungkan jari. Pak guru menghadiahi uang sepuluh ribu. Ah tiba-tiba saja.  Kamu bahagia.

Untuk hal-hal yang remeh temeh seperti itu, sepertinya tanganmu sering lebih bertuah dari bapak ibumu. Beberapa kali juga dapat doorprize dalam sebuah acara yang kita tidak tahu.


Delapan tahun yang lalu itu, Difa. Saat ibumu kesakitan, dan bapakmu kebingungan. Besok akan seperti apa? Dan harus bagaimana. Meskipun saya sampai detik ini, saya meyakini, bahwa nasab saya ini adalah kaya 7 turunan. Sayangnya saya adalah turunan ke delapan! Haha. Maka kita jalani bersama-sama. Berjuang. Dengan segala Maha Ndak Tega-anNya Tuhan.


Karena saya turunan kedelapan itulah, Difa, saya tidak ada memberi apa-apa. Hanya berbagai pengalaman. Dan sedikit pengetahuan.


Karena saya bukan tipikal orang yang berdarah-darah dalam mencari esensi kebenaran. Maka yang saya wariskan adalah kebenaran warisan. Bagi saya, saya merasa tentram, hati nyaman, untuk hal-hal yang bersifat nostalgian: Salat bersama bapak dan kakekku sebagai penduduk kabupaten pinggiran.


Lima waktu bersama-sama kita kerjakan. Karena kata seorang kawan, keaslian kita, hidup, adalah menunggu waktu salat tiba. Adapun bekerja, bertani, berdagang, belajar atau sekolah, itu hanya selingan saja.


#Deardifa
Saya tidak tahu, nanti selanjutnya akan seperti apa. Saya berdoa, ketika nanti, kelak, dalam susah dan sedihmu, selesai salat-salat mu, semuanya akan reda. Dan dalam senang dan bahagiamu, selesai salat kamu akan berterimakasih dan biasa saja tanpa jumawa.

Sebagaimana tanganmu yang bertuah dalam setiap acara, semoga hidupmu kelak beruntung dalam kegembiraan dan dinaungi Maha Tidak Tega-anNya. Sejahtera. Bahagia.


...................
Delapan tahun itu, Difa. Bayi merah darah itu, dan kebingungan saya saat itu. Kamu akan tumbuh menjadi remaja. Agus Kuncoro, rasa yang sama.

 

#DearDHA

Seorang kawan di Fesbuk membagikan cerita. Bahwa dia yang kini tinggal di Situbondo. meneruskan usaha mendiang bapaknya: penyewaan perahu wisata. Sebelumnya dia tinggal di kota pelajar, Yogya. Di sana dia juga pengusaha sektor wisata. Penyewaan mobil dan motor.

Sebelum berpulang, sang bapak berwasiat,
“Nak, perahunya jangan dijual, ya. Itu buat Kenang-kenangan”.
Alasan yang melankolis. Ucapan itu dilontarkan hampir ke semua keluarganya. Perahu itu terlalu banyak kenangan. Maka tidak ada pilihan lagi, perahu yang tua dimakan usia, jika didiamkan pasti akan rapuh dan hancur juga. Akhirnya keputusan itu bulat.

Dia banting setir. Melanjutkan usaha sang bapak.

Modal ia keluarkan. Perahu dimodifikasi dengan teknologi canggih. Berbekal pengalaman usaha di bidang wisata persewaan mobil dan motor dulu, dan pengalaman pendidikan di kota pelajar, ia sangat optimis, bahwa usahanya nanti pasti akan melampaui bapaknya.

Faktanya.

Sejak dia menggantikan bapak, dia hanya mendapatkan satu customer. Dan jika ditotal pendapatan selama tiga bulan terakhir, tidak sampai 500 ribu. Sedangkan modal tidak kurang 15 juta.

Dalam postingan Fesbuknya, foto dia memandangi perahu itu. Dia teringat bapaknya yang gigih menawarkan jasa kepada setiap tamu wisatawan. Kini ia teringat bapaknya berbagi uang kepada dia dan kakak-kakaknya saat pengunjung ramai. Tidak lupa nasi padang yang bapaknya tenteng sambil tertawa, “bapak banyak rejeki hari ini”.

Tentu saat duduk, dia menangis, mengingat kebaikan-kebaikan bapaknya dan ketololannya yang merasa jauh lebih baik dari si bapak. Hari ini tepat satu tahun bapaknya pergi. 

#DearDHA, 

#DearAsfar, 

Tidak memandang gender. Lelaki juga berhak bercerita. 

Ini sudah Februari 2025. Banyak sekali urusan-urusan duniawi yang tidak baik-baik saja. Dan postingan kawan saya itu serasa tanbih untukku. Bahwa kita harus banyak-banyak belajar kearifan pada orang tua. yang saya lewati hari ini, saya rasa melebihi bapakku. Kenyataannya tidak. Saya rapuh. Dan bapakku dulu kuat.

Sehat sehat kita semua.

#DearHilwa saya menulis ini dengan hati yang sedang embuh. Anggap saja ini adalah surat cintaku kepadamu yang kesekian kalinya. Bahwa saya sangat mencintaimu. Sebagaimana saya mencintai kakak dan adikmu.


Banyak sekali kekuranganku sebagai bapak. Menjadikan dhalim kepada dirimu, Hilwa. Ketidakmampuanku secara ekonomi, misalnya. Dan keterbatasanku sebagai manusia.


Tapi di luar kekuranganku, bahwa saya tahu, di dalam tubuhmu yang mungil, terdapat rasa syukur yang besar. Itulah kenapa, Hilwa. Bahwa Allah selalu tidak Maha Tega kepada kita.


Di bulan Juli yang dingin. Saat pertama kali kehadiranmu di tengah-tengah kita. saya merasa hangat. Dan sampai sekarang saya merasa hangat dengan canda dan tawamu.


Sebagai manusia biasa. Saat adikmu lahir yang jaraknya 2 tahun dari usiamu. Secara psikologis saya terguncang. Kamu yang sedang rewel-rewelnya, ditambah adikmu yang baru lahir. Anak sekecil kamu, harus berbagi apapun itu dengan adikmu. Kasih sayang ibumu yang berlimpah ruah, harus kamu bagi juga dengan adikmu. Mainan-mainan itu. Dan segala tetek-bengeknya, kamu harus memenuhi standar orang dewasa: mengerti dan mengasihani.


Hingga suatu hari, saat kamu sakit, dan nafasmu berbunyi, ibumu tahu, ini bukan sakit biasa. Tapi lagi-lagi Allah maha tidak tega kepada kita. Alam menyembuhkan dirinya.


#DearHilwa, kamu mempunyai kakak yang cantik seperti dirimu. Insya Allah saya tidak pernah membandingkan kamu dengan dirinya. Sama cintaku padamu. Kesukaanmu yang makanan-makanan tradisional konvensional. Segala hal kamu tanyakan kepada ibumu. 
“Mama, jeruk sehat?“.
“Mama, ubi sehat?“.
“Mama mama, lontong sehat?“.
“Sehat". Jawab ibumu.
Hingga suatu hari saat kita akan menunaikan salat, kamu bertanya, “Ayah, Allah sehat?“.
Dan saya bingung akan menjawab bagaimana.


Hilwa, di luar sana, dunia sangat keras. Ditempa, diguncang, digodok. Berpindah dari kegagalan satu kegagalan lain. Menjadikan saya tidak baik-baik saja, saya merasa babak belur dihajar banyak kepentingan dunia. Namun, saat pulang menemui mu, dipeluk dicium olehmu, adalah obat untukku.


Lelaki memang tidak bercerita, tapi saya sebagai bapakmu akan cerita sepanjang malammu. Berkisah tentang apa saja. Cerita-cerita yang kau senangi. Lelaki memang tidak bercerita. Hanya menulis blog saja.


#Dearhilwa. Dalam tubuhmu yang mungil terdapat rasa syukur yang besar. Saya banyak belajar. Sehat kita semua.


Cerita asal-usul ilmu Nahwu banyak dalam berbagai literatur Arab klasik. Dikisahkan, tokoh yang pertama kali mengkonsep, meng-epistemologi, aksiologi, hingga meng-ontologi Ilmu Nahwu (dan tata bahasa Arab lainnya–sharaf). Adalah Abu Aswad Ad Du'ali. Seorang Tabi'in yang tsiqah riwayat haditsnya.


Dalam buku Qowaidu Nahwi Bi Uslubi Al Ashri, karangan Muhammad Bakar Ismail, salah satu pengajar di Universitas Al Azhar, Kairo. (Saya ngaji kitab ini dari dosen saya Ustadz Yusuf Ahmad Hasyim, semoga Allah memberikan kesehatan selalu kepada beliau). Diceritakan, bahwa sebenarnya penggagas Ilmu Nahwu adalah  Imam Ali bin Abi Thalib. Abu Aswad, adalah salah satu pengikut beliau yang pandai dalam bahasa, maka Abu Aswad yang didelegasikan langsung oleh Imam Ali untuk merumuskan Nahwu.


Ada banyak faktor,  kenapa Nahwu harus lahir sebagai Ilmu pengetahuan. Salah satunya adalah kesulitan orang Ajam (non Arab) dalam mempelajari dan menyampaikan perkataan bahasa Arab, sebagai bahasa agama dalam Al-Qur'an.


Sebelum Nahwu (dan Sharaf ) lahir. Orang Ajam, akan selalu kesusahan. Bahkan orang-orang Arab sendiri pun juga kesulitan dalam menerka bahasa Al-Qur'an. Banyak kisah tentang orang-orang yang menafsirkan ayat Alquran karena kesalahan nahwu. Masyhurnya cerita surat At Taubah, misalnya. Baca  Kesalahan bacaan Nahwu

Manusia modern,  selalu mendapatkan kabar apapun dengan sangat cepat. Kabar duka, lara, hingga kegembiraan, pernikahan. Biasanya kabar² itu bisa diakses dalam platform WhatsApp Grup (selanjutnya ditulis WAG).

Dalam WAG, para anggota WAG bisa berbagi informasi. Saya punya WAG yang anggotanya multi budaya dan agama. Sebuah WAG hobby. Jumlah anggotanya ratusan. Kami sering berbagi informasi apa saja. Salah satunya adalah informasi kematian seseorang.

Nah di sana letak masalah terjadi. Fomo penggunaan stiker bahasa Arab, untuk membalas informasi di WAG, kadang begitu banyak. Celakanya, jika informasi yang meninggal dunia adalah laki-laki, beberapa peserta WAG membalasnya dengan dhamir (kata ganti perempuan). Atau semisal, informasi yang sakit adalah orang ketiga (dia), namun yang terjadi adalah, do'a dalam stikernya menggunakan kata ganti orang kedua (Syafakallah).

Ini mungkin sulit dijelaskan. Ketika peserta WAG, yang latah menggunakan stiker WA, do'a dalam bahasa Arab, agar terlihat lebih khusuk mungkin, atau agar terlihat religius dan islami. Namun sejatinya, tata bahasa mereka salah besar.

Fenomena ini sebenarnya saya sambil lalu, toh saya tidak punya kewajiban menjelaskan hakikat kebenaran. Terlebih situasi dalam WAG tidak kondusif jika terjadi perselisihan. Saya lebih menghindari keributan.

Saya jadi teringat kepada guru saya, K.H. Abdul Basyir, kalau tidak salah beliau asal Brebes dan menjadi salah satu santri kinasih K.H. Muslih Mranggen (salah satu pendiri Tarekat Jatman yang berafiliasi dengan NU), hingga beliau mendirikan sendiri pesantren di Mranggen.

Dari beliau saya kenal nadzam-nadzam Al Imrithi dan Alfiyah. Dan saya sebagai murid yang paling bebal di kelas, selalu dihukum berdiri depan kelas karena tidak hafal setoran nadzam yang sudah menjadi deadline itu. Terus terang, saya malu, stres, dan rasanya ingin pulang saja tidak perlu menjadi santri lagi. Tapi beliau dalam menghukumku, penuh dengan cinta. “Ziz, Ziz, adoh-adoh saka Tegal, setoran nadzam ora tahu apal“. Beliu berkata seperti itu dengan sangat memaklumiku.


Tanda cinta tidak harus dengan bunga. Mungkin begitu kira-kira yang bisa menggambarkan para kiai dan guru dalam membimbing muridnya. Hingga keberkahan itu memunculkan ndarunya. Beberapa minggu yang lalu, beliau sowan kepada Allah untuk selamanya.(Dalam sedih saya berdoa: Insya Allah, beliau dimaafkan segala kesalahannya, diterima semua amal baiknya).


Sebagaimana beliau memaklumi kebebalan dan kebodohan otakku, mungkin saja saya juga harus maklum terhadap do'a-do'a yang dipanjatkan dalam WAG meskipun salah dalam kaidah Nahwu.


Karena doa yang khusu'. Ucapan yang tulus, yang tidak hanya membagikan stiker yang bisa melampaui langit-langit kesadaran manusia. Menyalip dzikirnya malaikat. Sebagai wujud partisipasi sosial yang paling rendah. Tidak hanya sebatas terkotak dalam lingkaran kaidah bahasa yang tidak mungkin bisa berubah.



FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE