Nenekku buta. Tapi matanya yang tertutup itu tak membuat hatinya gelap. Namanya Azizah, dan kakekku Abdul Aziz. Nama mereka seperti sepasang pujian yang saling menguatkan. Nenek hidup panjang, 83 tahun. Tapi yang membuatnya terasa lebih panjang lagi adalah wirid dan puasanya, doa-doanya, kesabarannya. Beliau kehilangan penglihatan, konon setelah kakekku wafat. Kesedihan itu pelan-pelan mengambil penglihatannya, tapi membuka mata hatinya lebih lebar. Sejak saat itu, hari-harinya hanya dihabiskan di musholla kecil rumah kami. Tempat shalat itu jadi tempatnya mencurahkan rindu. Bukan lewat air mata, tapi lewat doa yang lirih tapi dalam. Nama-nama cucunya seperti disebut satu-satu, termasuk aku.
Aku percaya, apa pun yang kumiliki sekarang—kesehatan, jalan hidup, bahkan keberuntunganku—mungkin adalah hasil dari doa-doa panjang nenekku. Doa yang tak pernah ia minta balasannya, tak juga ia ceritakan. Ia hanya berdoa, lalu diam.
Aku masih ingat kamar mandi rumah kami dulu. Bak mandinya besar, dari semen. Gayung harus ditaruh di pinggir dan diisi air. Jangan dilempar ke tengah. Itu bukan aturan rumah, tapi bentuk cinta. Karena nenekku buta, kalau gayungnya dilempar ke tengah, beliau kesulitan menjangkaunya. Bapakku yang mengajarkan itu. Bapak—yang sebenarnya hanya menantu—memperlakukan nenek seperti ibunya sendiri. Telaten, lembut, dan sabar. Bahkan saat nenek sudah tua dan mulai tak bisa mengendalikan buang air kecil, bapak tetap menjaganya. Ia bersihkan, ia bantu, tanpa sekalipun mengeluh. Dan itu berlangsung bertahun-tahun. Aku jarang melihat hubungan menantu dan mertua sedekat dan sedamai itu.
Kini, ketika aku dewasa, kebiasaan itu masih ada. Aku masih suka meletakkan gayung di pinggir bak, dan mengisinya dengan air. Kadang istriku protes, takut gayungnya jatuh dan pecah. Tapi aku tak pernah menjelaskan alasannya. Karena setiap kali aku menaruh gayung seperti itu, rasanya seperti sedang menyambung kasih sayang dari masa lalu. Ada cinta yang diturunkan secara diam-diam lewat kebiasaan.
Nenekku tidak pernah melihat wajahku yang dewasa, tapi aku merasa doa-doanya tetap mengawasi langkahku. Kadang aku yakin, bukan hanya aku yang merasakannya. Cucu-cucunya yang lain mungkin juga mengalaminya. Rezeki yang entah datang dari mana, keberkahan yang tak masuk akal, perlindungan yang hadir di saat genting. Mungkin itu bukan hasil usaha kami semata. Mungkin itu tetes-tetes dari sumur doa yang tak pernah kering.
Nenek, perempuan buta yang penuh cahaya, mungkin sudah lama pergi. Tapi wiridnya masih terdengar di hati kami. Dan aku yakin, doa-doanya masih hidup di udara. Karena ada cinta yang tidak butuh mata untuk menjaganya. Cukup hati. Dan hati nenekku tak pernah benar-benar pergi.