Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

Nenekku buta itu fakta. Itu yang aku tahu sejak kecil. Tapi dulu, tak pernah ada yang betul-betul bercerita kenapa. 


Orang-orang bilang karena kakek meninggal. Dan rasa kehilangan itu membuat matanya perlahan gelap. Katanya, saking sedihnya, penglihatannya ikut padam. Seolah-olah hati dan mata itu satu paket. Ketika hati tak kuat menahan duka, maka mata pun ikut menyerah.

Tentu saja  saya kecil, saya percaya saja. Tapi setelah saya tumbuh, setelah saya belajar menimbang makna, setelah aku belajar filsafat. Saya ragu. Sedih, bisa bikin mata buta? Aku mulai curiga, jangan-jangan ada cerita lain yang selama ini disembunyikan. Atau mungkin, dianggap tak perlu diceritakan.

Baru belakangan aku dengar cerita yang berbeda. 


Katanya dulu, waktu nenek masih gadis, pernah ada kejadian. Antara dia dan saudara kandungnya. Saya ragu untuk menyebutnya: adik atau kakaknya sendiri. Mereka bertengkar, atau mungkin cuma salah paham kecil. Tapi saat itu, saudaranya menusukkan sesuatu ke arah nenek. Semacam bolpen. Mungkin kayu kecil. Yang jelas, sesuatu masuk ke mata. Berdarah.

Nenek tidak melawan. Tidak marah. Tidak mengadukan. Ia diam saja. Menerima. Seolah rasa sakit bukan sesuatu yang harus dibalas. Seolah luka itu adalah bagian dari takdir yang harus dilewati.

Aku membayangkan, berapa lama luka di mata itu mengendap. Pelan-pelan menggerogoti penglihatan. Hingga suatu hari, dunia mulai samar. Lalu jadi gelap. Dan nenek, tetap diam. Tidak pernah mengutuk. Tidak pernah mengeluh. Hanya menjalani. Seperti jalan panjang yang memang harus ditapaki.

Tapi justru cerita sesudah kakek meninggal yang membuat dadaku sering sesak.


Waktu itu, ibu masih dua tahun. Anak bungsu. Masih menyusu. Tapi karena nenek akan berangkat haji—ya, dengan kapal laut yang memakan waktu tujuh bulan lebih—ibu disapih. Tanpa perayaan. Tanpa bekal berlebih. Dan setelah pulang dari haji, tidak lama kemudian, kakek wafat.

Nenek benar-benar sendiri. Dengan mata yang sudah gelap, dan anak-anak yang masih kecil-kecil. Tidak ada penghasilan tetap. Tidak ada kendaraan. Tidak ada listrik di dapur atau air ledeng di belakang rumah. Tapi semua anaknya tumbuh. Tidak ada yang kelaparan. Tidak ada yang terlantar.

Kadang aku berpikir. Bagaimana bisa?

Bagaimana mungkin seorang perempuan buta, dengan tangan seadanya, membesarkan anak-anaknya? Sementara hari-harinya hanya diisi oleh rasa kehilangan, kecemasan, dan hidup yang tak kunjung lapang?

Mungkin jawabnya: nenek bukan sendirian. Ada Tuhan. Yang Maha Tidak Tegaan. Yang ketika melihat seorang ibu terus menggenggam hidup meski tak melihat apa-apa, Dia yang Rahman Rahim turun tangan. Pelan-pelan. Tanpa bunyi.

Dan di sanalah aku paham, kenapa ibuku seperti itu. Kenapa kami dibesarkan bukan dengan harta, tapi dengan cerita. Dengan keteladanan. Dengan nilai-nilai diam yang tidak diajarkan lewat mimbar-mimbar agama, tapi lewat hidup itu sendiri.

Aku ingin anak-anakku tahu, bahwa kami ini berasal dari seorang perempuan tua yang buta. Tapi melihat lebih jauh dari orang yang bisa membaca buku. Seorang perempuan yang tak pernah pergi sekolah, tapi mengerti bahwa hidup ini, kadang cukup dijalani dengan tabah. Bukan dibanggakan. Bukan dipamerkan. Cukup dijalani. Biasa saja.

Nama itu adalah perjalanan. Kadang kita tak tahu pasti, apa yang membuatnya berubah. Apa yang membuat seseorang, seperti kakek saya, yang dulu bernama Wastam, berubah menjadi Abdul Aziz. Semua itu penuh dengan kisah yang tak tampak. Perjalanan hidup yang dipenuhi oleh keputusan-keputusan besar, oleh tantangan, dan ujian yang datang tanpa diundang. Ini kisah seperti potongan-potongan mozaik yang berserakan.

Kakek saya, Wastam, dulu dikenal tak pernah banyak bicara soal dirinya sendiri. Tapi saya tahu, dalam diamnya itu, tersimpan sejuta cerita yang tak pernah keluar, yang tak pernah diceritakan. Salah satunya adalah perjalanan haji yang mereka tempuh, bersama nenek saya, yang dulu bernama Munirah, kemudian berganti menjadi Azizah.

Kini, nama-nama itu lekat pada mereka. Tapi nama itu bukan sekadar nama. adalah simbol dari perjuangan mereka yang luar biasa.

Dulu, perjalanan haji itu bukan seperti sekarang. Kalau sekarang, kita bisa terbang dalam hitungan jam, ke Tanah Suci, dengan kenyamanan yang cukup. Kakek dan nenek saya harus menempuh perjalanan panjang dengan kapal laut, berbulan-bulan. Mereka berangkat dari Pelabuhan Tegal, kapal itu bergerak perlahan, melewati pelabuhan-pelabuhan besar di sepanjang pantai, menuju lautan luas yang tak tahu kapan akan berhenti.

Tujuh bulan.

Itulah lama perjalanan mereka, dengan bekal seadanya. Mereka bertahan dalam keterbatasan, dalam perjalanan yang tidak mudah. Setiap gelombang yang menghempas, setiap angin yang menderu, itu adalah ujian bagi mereka. Tapi mereka terus maju, tanpa menyerah.
Ibu saya, waktu itu masih bayi, masih menyusu ke nenek saya. Dan karena nenek saya akan berangkat haji, ia harus disapih. Begitu banyak cerita yang terputus karena jarak dan waktu, cerita yang terlupakan oleh dunia, tetapi selalu hidup dalam memori saya.

Cerita ini mengingatkan saya pada sebuah novel karya Pramoedya Ananta Toer, yang menceritakan tentang perjalanan hidup, tentang bagaimana orang-orang harus meninggalkan tanah kelahiran mereka untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Begitu pula perjalanan kakek dan nenek saya. Mereka meninggalkan segalanya, demi sebuah panggilan. Sebuah tujuan yang lebih besar.

Perjalanan haji itu bukan hanya tentang ritual agama. Itu adalah perjalanan hidup yang penuh dengan ketekunan, perjuangan, dan keteguhan hati. Mereka pergi, berlayar melewati samudra Hindia yang luas, memutari Jawa bergerak ke Semarang, Surabaya, Pacitan, Yogyakarta, Cilacap, dan Banten.
Itulah perjalanan mereka. Dari Wastam, ke Abdul Aziz. Dari Munirah, ke Azizah. Perjalanan itu bukan hanya mengubah nama mereka. Itu mengubah hidup mereka.

Kakek saya bukanlah orang yang kaya. Tapi kakek adalah orang yang penuh dengan ketulusan. Seorang petani yang jujur, seorang tukang yang jujur.  Saya berharap Sifat itu turun ke dalam darah kami, tentu warisan itu menjadi warisan yang sangat berharga.

Kakek Abdul Aziz adalah lelaki yang biasa saja. Dulu dia bekerja di lahan milik Nenek Buyut saya, Aisyah. Konon, Aisyah ini adalah seorang wanita kaya, yang memiliki banyak sawah. Kakek saya, dengan ketulusan hatinya, merekomendasikan sawah-sawah yang sebaiknya dibeli. Karena itulah, kekayaan Buyut Aisyah sebagian besar datang dari keputusan-keputusan yang bijak dari kakek saya. Kakek saya bukan hanya seorang pekerja biasa. Ia adalah seorang yang penuh dedikasi, yang jujur dalam setiap langkahnya.

Saat Buyut Aisyah ingin membeli sesuatu, kakek saya lah yang akan menjualkan gabah-gabah yang sangat banyak itu, sebagai bekal untuk membeli sawah. Sebuah transaksi yang penuh kepercayaan dan kejujuran.

Cerita-cerita ini --- duhai anak-anakku, adalah bagian dari hidup saya. Saya dibesarkan dengan cerita-cerita tentang kebaikan para tetuaku dulu. Tentang bagaimana nenek dan kakek saya mengajarkan bahwa hidup ini bukan tentang seberapa banyak yang kita dapat, tetapi tentang seberapa besar kita memberi kepada orang lain.

Warisan mereka bukan harta, bukan kekayaan yang bisa dihitung dengan uang. Warisan mereka adalah nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai yang saya ingin teruskan kepada anak-anak saya, generasi yang akan datang. Karena pada akhirnya, saya ingin mereka tahu, bahwa hidup ini lebih berarti ketika kita hidup dengan kejujuran, ketulusan, dan pengabdian yang tulus.

Nama Abdul Aziz dan Azizah bukan sekadar sebutan. Mereka adalah doa. Doa yang mengalir dalam darah kami, doa yang mengingatkan kami untuk selalu menjadi orang yang baik, meskipun dunia sering kali tak mengenal kebaikan itu.

Nenekku buta. Tapi matanya yang tertutup itu tak membuat hatinya gelap. Namanya Azizah, dan kakekku Abdul Aziz. Nama mereka seperti sepasang pujian yang saling menguatkan. Nenek hidup panjang, 83 tahun. Tapi yang membuatnya terasa lebih panjang lagi adalah wirid dan puasanya, doa-doanya, kesabarannya. Beliau kehilangan penglihatan, konon setelah kakekku wafat. Kesedihan itu pelan-pelan mengambil penglihatannya, tapi membuka mata hatinya lebih lebar. Sejak saat itu, hari-harinya hanya dihabiskan di musholla kecil rumah kami. Tempat shalat itu jadi tempatnya mencurahkan rindu. Bukan lewat air mata, tapi lewat doa yang lirih tapi dalam. Nama-nama cucunya seperti disebut satu-satu, termasuk aku.

Aku percaya, apa pun yang kumiliki sekarang—kesehatan, jalan hidup, bahkan keberuntunganku—mungkin adalah hasil dari doa-doa panjang nenekku. Doa yang tak pernah ia minta balasannya, tak juga ia ceritakan. Ia hanya berdoa, lalu diam.

Aku masih ingat kamar mandi rumah kami dulu. Bak mandinya besar, dari semen. Gayung harus ditaruh di pinggir dan diisi air. Jangan dilempar ke tengah. Itu bukan aturan rumah, tapi bentuk cinta. Karena nenekku buta, kalau gayungnya dilempar ke tengah, beliau kesulitan menjangkaunya. Bapakku yang mengajarkan itu. Bapak—yang sebenarnya hanya menantu—memperlakukan nenek seperti ibunya sendiri. Telaten, lembut, dan sabar. Bahkan saat nenek sudah tua dan mulai tak bisa mengendalikan buang air kecil, bapak tetap menjaganya. Ia bersihkan, ia bantu, tanpa sekalipun mengeluh. Dan itu berlangsung bertahun-tahun. Aku jarang melihat hubungan menantu dan mertua sedekat dan sedamai itu.

Kini, ketika aku dewasa, kebiasaan itu masih ada. Aku masih suka meletakkan gayung di pinggir bak, dan mengisinya dengan air. Kadang istriku protes, takut gayungnya jatuh dan pecah. Tapi aku tak pernah menjelaskan alasannya. Karena setiap kali aku menaruh gayung seperti itu, rasanya seperti sedang menyambung kasih sayang dari masa lalu. Ada cinta yang diturunkan secara diam-diam lewat kebiasaan.

Nenekku tidak pernah melihat wajahku yang dewasa, tapi aku merasa doa-doanya tetap mengawasi langkahku. Kadang aku yakin, bukan hanya aku yang merasakannya. Cucu-cucunya yang lain mungkin juga mengalaminya. Rezeki yang entah datang dari mana, keberkahan yang tak masuk akal, perlindungan yang hadir di saat genting. Mungkin itu bukan hasil usaha kami semata. Mungkin itu tetes-tetes dari sumur doa yang tak pernah kering.

Nenek, perempuan buta yang penuh cahaya, mungkin sudah lama pergi. Tapi wiridnya masih terdengar di hati kami. Dan aku yakin, doa-doanya masih hidup di udara. Karena ada cinta yang tidak butuh mata untuk menjaganya. Cukup hati. Dan hati nenekku tak pernah benar-benar pergi.

Ibuku tak pernah benar-benar tahu seperti apa ayahnya.

Ia hanya mengingat satu malam—entah pukul berapa, entah bulan apa. Yang dia tahu, tubuhnya kecil dan sedang sakit. Dan dalam keadaan menggigil, ia digendong oleh seseorang. Lengan hangat. Dada bidang. Bau peluh dan sabar yang entah kenapa menenangkan.

Itulah satu-satunya kenangan Ibu tentang Bapak kandungnya. Ayahnya wafat saat ia baru berusia dua tahun.

Tapi lucunya, meski nyaris tak pernah mengenal, jejak lelaki itu seperti tak pernah benar-benar hilang.

Orang-orang bercerita bahwa kakekku bertubuh tinggi dan tegap, bermata bulat, dan tangannya terampil memahat dan membangun. Ia bukan arsitek bersertifikat, tapi tukang sejati yang tahu cara menjadikan kayu jadi rumah dan rumah jadi hangat. Seorang seniman yang tak mencetak lukisan, tapi warisan.

Mungkin karena itulah, sepupu kami, Mas Amin, tumbuh jadi ahli seni. Seperti ada sesuatu yang menurun diam-diam dari tangan yang sama—tangan yang tak sempat menuntun anaknya tumbuh besar, tapi masih mampu mengalir ke generasi berikutnya.

Kakekku bukan orang kaya. Tapi justru di situlah letak kebesarannya. Dalam kesederhanaan yang tidak dibuat-buat. Dalam cara hidup yang tidak banyak menuntut. Dalam keteguhan hati yang tidak butuh sorotan. Nilai-nilai itu, katanya, banyak ditiru oleh cucu-cucunya. Entah sadar atau tidak.

Dan aku masih ingat—waktu kecil, aku pernah melihat wajahnya. Lebih tepatnya, bayangannya. Di ruang tamu rumah uwakku, rumah tua peninggalan kakek, tergantung sebuah lukisan besar. Hitam putih. Sorot matanya dalam, wajahnya tegas, tapi ada kelembutan yang samar. Aku sering berdiri diam di depannya, seperti menunggu sosok itu bicara.

Suatu hari, angin kencang datang sore-sore. Jendela terbuka. Lukisan itu jatuh. Kacanya pecah. Kami semua terdiam. Tak ada yang terluka, tapi rasanya ada yang patah. Mungkin itu cuma kebetulan. Tapi buatku, seperti pertanda kecil dari alam: bahwa kenangan bisa jatuh, tapi tak hilang. Bahwa masa lalu tidak bisa disimpan utuh, tapi bisa dikenang dalam potongan.

Dan ada satu kisah lagi, yang tak pernah absen dari cerita keluarga kami: perjalanannya menunaikan haji.

Dulu, orang-orang pergi haji bukan dengan pesawat yang tinggal naik. Mereka naik kapal laut, berbulan-bulan di lautan. Perjalanan panjang. Bekal seadanya. Tapi mereka tetap pergi. Bersama nenekku, kakek menempuh perjalanan spiritual itu dengan sabar. Tak ada foto-foto dokumentasi, hanya cerita yang hidup dari mulut ke mulut. Bahwa mereka pergi bukan untuk dilihat, tapi untuk taat.

Cara beliau pergi haji itu yang paling membekas. Bukan karena kemewahan, tapi karena niat yang penuh. Dan diam-diam, aku berharap... cara beliau menempuh perjalanan itu bisa ditiru oleh cucu-cucunya. Tidak hanya dalam arti berangkat ke Tanah Suci, tapi juga dalam menjalani hidup.

Dengan sabar. Dengan cukup. Dengan hati yang penuh walau tangan sederhana.

Karena mungkin, jejak seorang kakek bukan hanya ada di foto tua, atau lukisan yang jatuh. Tapi ada dalam cara cucu-cucunya bersikap, bermimpi, dan menyederhanakan cinta.

 

Aktor senior Agus Kuncoro, dalam sebuah kontennya ditanya, apa yang membanggakan menjadi seorang bapak. Dia menjawab dengan mantap.

“melihat anak gadisku tumbuh dewasa”.
Kemudian ditanya lagi, apa yang paling menyedihkan menjadi seorang bapak. Dia jawab dengan nada sedih.

“melihat anak gadisku tumbuh dewasa”.

Pertanyaan berbeda. Jawaban sama. Penuh semantik dan semiotika.

....
#DearDifa
Hari ini sepulang sekolah kamu berkisah, bahwa tadi pagi di sekolah, selesai doa di bawah langit bertengadah, kepala sekolah bertanya depan kelas 1 sampai 6, hari ini siapa yang ulang tahun. Dan kamu mengacungkan jari. Pak guru menghadiahi uang sepuluh ribu. Ah tiba-tiba saja.  Kamu bahagia.

Untuk hal-hal yang remeh temeh seperti itu, sepertinya tanganmu sering lebih bertuah dari bapak ibumu. Beberapa kali juga dapat doorprize dalam sebuah acara yang kita tidak tahu.


Delapan tahun yang lalu itu, Difa. Saat ibumu kesakitan, dan bapakmu kebingungan. Besok akan seperti apa? Dan harus bagaimana. Meskipun saya sampai detik ini, saya meyakini, bahwa nasab saya ini adalah kaya 7 turunan. Sayangnya saya adalah turunan ke delapan! Haha. Maka kita jalani bersama-sama. Berjuang. Dengan segala Maha Ndak Tega-anNya Tuhan.


Karena saya turunan kedelapan itulah, Difa, saya tidak ada memberi apa-apa. Hanya berbagai pengalaman. Dan sedikit pengetahuan.


Karena saya bukan tipikal orang yang berdarah-darah dalam mencari esensi kebenaran. Maka yang saya wariskan adalah kebenaran warisan. Bagi saya, saya merasa tentram, hati nyaman, untuk hal-hal yang bersifat nostalgian: Salat bersama bapak dan kakekku sebagai penduduk kabupaten pinggiran.


Lima waktu bersama-sama kita kerjakan. Karena kata seorang kawan, keaslian kita, hidup, adalah menunggu waktu salat tiba. Adapun bekerja, bertani, berdagang, belajar atau sekolah, itu hanya selingan saja.


#Deardifa
Saya tidak tahu, nanti selanjutnya akan seperti apa. Saya berdoa, ketika nanti, kelak, dalam susah dan sedihmu, selesai salat-salat mu, semuanya akan reda. Dan dalam senang dan bahagiamu, selesai salat kamu akan berterimakasih dan biasa saja tanpa jumawa.

Sebagaimana tanganmu yang bertuah dalam setiap acara, semoga hidupmu kelak beruntung dalam kegembiraan dan dinaungi Maha Tidak Tega-anNya. Sejahtera. Bahagia.


...................
Delapan tahun itu, Difa. Bayi merah darah itu, dan kebingungan saya saat itu. Kamu akan tumbuh menjadi remaja. Agus Kuncoro, rasa yang sama.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE