Nenekku buta itu fakta. Itu yang aku tahu sejak kecil. Tapi dulu, tak pernah ada yang betul-betul bercerita kenapa.
Orang-orang bilang karena kakek meninggal. Dan rasa kehilangan itu membuat matanya perlahan gelap. Katanya, saking sedihnya, penglihatannya ikut padam. Seolah-olah hati dan mata itu satu paket. Ketika hati tak kuat menahan duka, maka mata pun ikut menyerah.
Tentu saja saya kecil, saya percaya saja. Tapi setelah saya tumbuh, setelah saya belajar menimbang makna, setelah aku belajar filsafat. Saya ragu. Sedih, bisa bikin mata buta? Aku mulai curiga, jangan-jangan ada cerita lain yang selama ini disembunyikan. Atau mungkin, dianggap tak perlu diceritakan.
Baru belakangan aku dengar cerita yang berbeda.
Katanya dulu, waktu nenek masih gadis, pernah ada kejadian. Antara dia dan saudara kandungnya. Saya ragu untuk menyebutnya: adik atau kakaknya sendiri. Mereka bertengkar, atau mungkin cuma salah paham kecil. Tapi saat itu, saudaranya menusukkan sesuatu ke arah nenek. Semacam bolpen. Mungkin kayu kecil. Yang jelas, sesuatu masuk ke mata. Berdarah.
Nenek tidak melawan. Tidak marah. Tidak mengadukan. Ia diam saja. Menerima. Seolah rasa sakit bukan sesuatu yang harus dibalas. Seolah luka itu adalah bagian dari takdir yang harus dilewati.
Aku membayangkan, berapa lama luka di mata itu mengendap. Pelan-pelan menggerogoti penglihatan. Hingga suatu hari, dunia mulai samar. Lalu jadi gelap. Dan nenek, tetap diam. Tidak pernah mengutuk. Tidak pernah mengeluh. Hanya menjalani. Seperti jalan panjang yang memang harus ditapaki.
Tapi justru cerita sesudah kakek meninggal yang membuat dadaku sering sesak.
Waktu itu, ibu masih dua tahun. Anak bungsu. Masih menyusu. Tapi karena nenek akan berangkat haji—ya, dengan kapal laut yang memakan waktu tujuh bulan lebih—ibu disapih. Tanpa perayaan. Tanpa bekal berlebih. Dan setelah pulang dari haji, tidak lama kemudian, kakek wafat.
Nenek benar-benar sendiri. Dengan mata yang sudah gelap, dan anak-anak yang masih kecil-kecil. Tidak ada penghasilan tetap. Tidak ada kendaraan. Tidak ada listrik di dapur atau air ledeng di belakang rumah. Tapi semua anaknya tumbuh. Tidak ada yang kelaparan. Tidak ada yang terlantar.
Kadang aku berpikir. Bagaimana bisa?
Bagaimana mungkin seorang perempuan buta, dengan tangan seadanya, membesarkan anak-anaknya? Sementara hari-harinya hanya diisi oleh rasa kehilangan, kecemasan, dan hidup yang tak kunjung lapang?
Mungkin jawabnya: nenek bukan sendirian. Ada Tuhan. Yang Maha Tidak Tegaan. Yang ketika melihat seorang ibu terus menggenggam hidup meski tak melihat apa-apa, Dia yang Rahman Rahim turun tangan. Pelan-pelan. Tanpa bunyi.
Dan di sanalah aku paham, kenapa ibuku seperti itu. Kenapa kami dibesarkan bukan dengan harta, tapi dengan cerita. Dengan keteladanan. Dengan nilai-nilai diam yang tidak diajarkan lewat mimbar-mimbar agama, tapi lewat hidup itu sendiri.
Aku ingin anak-anakku tahu, bahwa kami ini berasal dari seorang perempuan tua yang buta. Tapi melihat lebih jauh dari orang yang bisa membaca buku. Seorang perempuan yang tak pernah pergi sekolah, tapi mengerti bahwa hidup ini, kadang cukup dijalani dengan tabah. Bukan dibanggakan. Bukan dipamerkan. Cukup dijalani. Biasa saja.