Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

#DearAsfar

Cerita ini saya dapatkan dari Om Bud, dia adalah master Copywriting Indonesia. Banyak iklan produk terkenal di tivi-tivi yang kita tonton, dibalik layar, penulis iklan tersebut adalah Om Bud. Saya percaya bahwa dia adalah penulis yang jujur. Pun dalam kisah yang dibagikan kepada saya. Saya yakin apa adanya. 


Epic kisah ini. Endingnya seperti FTV.


Om Bud punya teman.  Seorang laki-laki, namanya Alif. Ia berpostur tinggi. Wajahnya tampan. Rumahnya mewah, di garasi rumahnya, terparkir mobil sport banyak. Namun karena kesederhanaan hidupnya, saat pergi ke mana-mana hanya memakai sepeda.


Tidak sampai itu, saat Om Bud membuat puisi dan dibagikan ke teman-temannya. Teman-teman lain mencemooh, mengolok-olok, ada yang mengatakan bahwa puisi Om Bud ini seperti susunan kata-kata anak SD saja. Tapi tidak dengan Alif, dia memberikan penilaian dan apresiasi yang luar biasa pada puisinya Om Bud.


Hal yang paling menyenangkan bagi Om Bud adalah saat bermain ke rumah Alif. Pembantu di rumah Alif selalu menyajikan makanan yang enak-enak, dari mulai kue dan makanan berat yang tentu saja lezat. Dia pembantu yang luar biasa. Meski hanya pembantu di rumah itu, Alif sangat menyayangi dia.


Jadi ngga ada yang perlu diherankan, banyak cewek yang naksir sama Alif. Dari sekian perempuan yang berkompetisi, Wulan menjadi pemenangnya. Wulan cantik, cerdas, dan mereka menjadi pasangan ideal. Mereka tampak mencintai satu sama lain, seakan dunia milik mereka berdua. Sering Om Bud menatap mereka dengan perasaan iri dan dengki melihat mereka jalan bareng, bergandengan kayak truk dan saling memberi perhatian satu sama lain. 


Tapi di tengah jalan. Pacarnya Alif selingkuh. Dia lebih memilih laki-laki lain. Dan herannya bagi Om Bud, si Alif sama sekali tidak marah. Malah saat pergi ke mana-mana–laki-laki itu dan mantannya Alif, Alif lah yang menjadi sopir mereka!


Suatu hari Om Bud berhasil mengajak Alif ngobrol berdua di sebuah warung kopi. Untuk memuaskan rasa penasaran, Om Bud bertanya, “Lif, kok elo bisa, sih, selalu tenang dan bijak banget?"


Dia cuma senyum sambil menghirup kopinya, "Gini, Bro. Hidup itu bukan tentang menang atau kalah. Hidup itu tentang ikhlas. Lo akan ngerasain damai asal lo mau belajar ikhlas. Kalau lo ngerasa hidup ini berat, mungkin lo perlu lihat dari perspektif yang lain."


“Secara umum hidup memang begitu. Tapi soal Wulan?” desak Om Bud.


“Intinya begini. Kalo ada orang menemukan jodohnya. Lalu keduanya berbahagia. Bukankah gue ada andil dalam mempertemukan mereka? Bukankah ini sesuatu yang harus disyukuri?”


“Tetep gak masuk di otak gue,” sahut Om Bud sambil menggeleng-gelengkan kepala.


“Coba lo bayangin. Ada orang yang setiap malam berdoa untuk menemukan jodohnya. Lalu Tuhan menjawab doa itu dengan cara menunjuk kita sebagai jalan untuk mempertemukan kedua pasangan itu. Masak harus gue tolak, sih?” sahut Alif tersenyum lalu menghirup kopi panasnya dengan wajah teduh.


Masya Allah. Om Bud semakin terkagum.

Hingga beberapa bulan, Om Bud tidak bertemu Alif, akhirnya dia memutuskan pergi ke rumah Alif, sesampainya di sana, dia bertemu tante cantik. Kulit glowing. Pasti skincarenya mahal. Dengan dandanan pakaian khas orang kaya. Om Bud memastikan bahwa ini adalah ibunya Alif.


"Alif ada, Tante?" tanya Om Bud.


Dia sedikit mengernyitkan dahi, lalu menjawab dengan suara lembut, "Alif nggak ada di sini, Nak."


"Loh, ke mana, Tante?"  Om Bud mulai bingung.


"Dia nggak kasih tau ya? Bulan lalu dia pergi. Pulang kampung sama ibunya," jawab Tante itu dengan senyum kecil yang agak aneh.


Om Bud masih bingung, "Oh? Bukannya Tante ini ibunya Alif?"


Tante itu tertawa kecil, "Hihihi... bukan, Nak. Alif cuma tinggal sama saya."


Om Bud terdiam beberapa detik, mencoba menyerap apa yang baru saja Tante itu katakan, "Maksudnya gimana, Tante? Kok saya nggak mudeng?”


Tante itu melanjutkan, "Ibunya kerja dengan saya. Jadi Alif memang bukan anak saya. Dia tinggal di sini karena ikut ibunya."


“Hah? Jadi ibunya yang mana Tante? Ibu Marfuah?” tanya Om Bud dengan suara bergetar.


“Iya, betul. Ibu Marfuah asisten rumah tangga saya. Dia ibunya Alif."


Om Bud tercengang. Darah bergolak. Jantung berdetak lebih cepat. Perasaan berkecamuk. Selama ini saya mengira Alif anak orang kaya. Rumahnya yang megah, gaya hidupnya yang terlihat begitu sempurna, semua itu ternyata hanya gambaran luar.


“Kapan Alif balik ke sini, Tante?” tanya Om Bud dengan suara bergetar.


“Mereka nggak akan balik lagi.”


“Oh...” Cuma itu yang keluar dari mulut Om Bud. Hari itu terlalu banyak kejutan sehingga membuat perbendaharaan kata Om Bud menipis. 


Tante itu melanjutkan dengan tatapan penuh simpati, "Saya juga sedih. Alif itu anak yang luar biasa. Baik, sopan, rajin dan selalu tahu diri. Dia pintar mengaji, dan sudah beberapa kali khatam Quran."


Masya Allah. Meskipun Alif sudah pergi ternyata dia nggak berhenti membuat Om Bud kagum.


"Saya kan ngga punya anak, makanya  Alif udah saya anggap seperti anak sendiri.” Tante cantik ini menutup ceritanya dengan suara teramat lirih.


Om Bud terdiam lama. Semua peristiwa yang Om Bud alami bersama Alif berkelebat-kelebat. Semakin Om Bud merenung, kotak pandora semakin terbuka. Makanya Om Bud bisa menduga kenapa Alif putus sama Wulan. Kenapa dia bisa berteman dengan pacarnya  Wulan. Bahkan menjadi "supir pribadi" saat mereka bepergian.


Dengan hati gundah Om Bud pamit pada Tante tadi. Sebelum menstater Vespa sambil melirik ke arah garasi tempat nongkrong mobil-mobil mewah dengan merek berbeda. Perlahan Om Bud semakin merasa betapa besar hati Alif. Meski hidupnya sederhana, dia bisa memandang dunia dengan lebih lapang. Dan Om Bud memberikan pelajaran bahwa kekayaan yang sebenarnya ada di hati. Bukan di garasi.

Saat buka Instagram, dan membaca akun SkeNU tentang fenomena anak muda yang ramai ke makam wali untuk memenangkan diri. Itu sangat relet dg saya. Saya jadi ingat kawan saya. Dia kolega saya di sebuah lembaga. 


Di Whatsapp Group kami, dia sering membagikan pencapaian-pencapain dia pergi ke makam-makam "wali", hingga di pelosok-pelosok desa, sampai makam-makam yang jarang dikenal manusia pada umumnya. Sampai suatu saat ada anggota group lain nyinyir. 


Kata seseorang, hidup hanya tirakatan, dia masih muda. Masih bujangan. Puluhan tahun lalu saya juga merasakan hal yang sama seperti itu. Saat masih bujangan. Ketika pekerjaan tidak kunjung datang. Ketika masa depan tidak tahu arahnya akan seperti apa. Meskipun saat ini juga masih sama. 


Mau curhat ke siapa? Psikolog? Saya tidak punya akses. Apalagi uang. Ke teman? Apa yang diharapkan pada seorang yang bernasib sama. Mario Teguh? Haha. Dulu ada istilah  yang terkenal, bahwa hidup tidak seindah c*c*tnya Mario Teguh. 


Maka, makam-makam wali adalah jalan. 


Sendiri membaca sedikit tahlil. Selebihnya menenangkan diri. Dan selebihnya diserahkan ke Tuhan yang Maha Tidak Tegaan. 


Jadi, ini bukan lagi tentang bagaimana halal atau haram berziarah. Tapi ada yang lebih penting. Kondisi ekonomi negara yang tak menentu, berimbas pada masa depan pemuda pemudi merajut masa depan. Depresi takut akan kegagalan. Belum lagi permasalahan asmara yang tak kunjung padam. 


Santri yang realistis tentu dia tahu bagaimana kaifiyah berdoa di Makam Wali. Sebagai penganut penyerempet pakem-pakem Positivisme dalam filsafat, bahwa pengetahuan yang valid hanya berasal dari pengalaman indrawi dan metode ilmiah. Meskipun ziarah ini kata sebagian kaum tidak ada ilmiah-ilmiahnya sama sekali. Positivisme dan bahasa agama dikolaborasi. 


Di sana–di makam wali-wali itu, sangat menenangkan, kita bisa berdialog dengan diri sendiri, sebenernya apa yang saya cari. 


Di sana, tidak cari karomah, hanya mencari sunyi, cari ruang yang tidak berisik seperti dunia sosial media hari ini. Tidak ada motivator-motivator seperti Mario Teguh. Adanya motivator seperti Sudjiwo Tedjo, tapi dia mengaku dia hanya seorang motivan*uk! 


Makam Wali itu lucu, kita datang sambil nangis, tidak akan ada yang tanya, kamu kenapa? Tidak ada yang menghakimi, tidak seperti konten-konten motivasi. Di makam Wali, hanya cukup diam. Karena mungkin wali-wali itu tahu, tidak semua luka itu harus diceritakan, hanya cukup dirasakan. 


#DearDifa
#DearHilwa
#DearAsfar

Nenekku buta itu fakta. Itu yang aku tahu sejak kecil. Tapi dulu, tak pernah ada yang betul-betul bercerita kenapa. 


Orang-orang bilang karena kakek meninggal. Dan rasa kehilangan itu membuat matanya perlahan gelap. Katanya, saking sedihnya, penglihatannya ikut padam. Seolah-olah hati dan mata itu satu paket. Ketika hati tak kuat menahan duka, maka mata pun ikut menyerah.

Tentu saja  saya kecil, saya percaya saja. Tapi setelah saya tumbuh, setelah saya belajar menimbang makna, setelah aku belajar filsafat. Saya ragu. Sedih, bisa bikin mata buta? Aku mulai curiga, jangan-jangan ada cerita lain yang selama ini disembunyikan. Atau mungkin, dianggap tak perlu diceritakan.

Baru belakangan aku dengar cerita yang berbeda. 


Katanya dulu, waktu nenek masih gadis, pernah ada kejadian. Antara dia dan saudara kandungnya. Saya ragu untuk menyebutnya: adik atau kakaknya sendiri. Mereka bertengkar, atau mungkin cuma salah paham kecil. Tapi saat itu, saudaranya menusukkan sesuatu ke arah nenek. Semacam bolpen. Mungkin kayu kecil. Yang jelas, sesuatu masuk ke mata. Berdarah.

Nenek tidak melawan. Tidak marah. Tidak mengadukan. Ia diam saja. Menerima. Seolah rasa sakit bukan sesuatu yang harus dibalas. Seolah luka itu adalah bagian dari takdir yang harus dilewati.

Aku membayangkan, berapa lama luka di mata itu mengendap. Pelan-pelan menggerogoti penglihatan. Hingga suatu hari, dunia mulai samar. Lalu jadi gelap. Dan nenek, tetap diam. Tidak pernah mengutuk. Tidak pernah mengeluh. Hanya menjalani. Seperti jalan panjang yang memang harus ditapaki.

Tapi justru cerita sesudah kakek meninggal yang membuat dadaku sering sesak.


Waktu itu, ibu masih dua tahun. Anak bungsu. Masih menyusu. Tapi karena nenek akan berangkat haji—ya, dengan kapal laut yang memakan waktu tujuh bulan lebih—ibu disapih. Tanpa perayaan. Tanpa bekal berlebih. Dan setelah pulang dari haji, tidak lama kemudian, kakek wafat.

Nenek benar-benar sendiri. Dengan mata yang sudah gelap, dan anak-anak yang masih kecil-kecil. Tidak ada penghasilan tetap. Tidak ada kendaraan. Tidak ada listrik di dapur atau air ledeng di belakang rumah. Tapi semua anaknya tumbuh. Tidak ada yang kelaparan. Tidak ada yang terlantar.

Kadang aku berpikir. Bagaimana bisa?

Bagaimana mungkin seorang perempuan buta, dengan tangan seadanya, membesarkan anak-anaknya? Sementara hari-harinya hanya diisi oleh rasa kehilangan, kecemasan, dan hidup yang tak kunjung lapang?

Mungkin jawabnya: nenek bukan sendirian. Ada Tuhan. Yang Maha Tidak Tegaan. Yang ketika melihat seorang ibu terus menggenggam hidup meski tak melihat apa-apa, Dia yang Rahman Rahim turun tangan. Pelan-pelan. Tanpa bunyi.

Dan di sanalah aku paham, kenapa ibuku seperti itu. Kenapa kami dibesarkan bukan dengan harta, tapi dengan cerita. Dengan keteladanan. Dengan nilai-nilai diam yang tidak diajarkan lewat mimbar-mimbar agama, tapi lewat hidup itu sendiri.

Aku ingin anak-anakku tahu, bahwa kami ini berasal dari seorang perempuan tua yang buta. Tapi melihat lebih jauh dari orang yang bisa membaca buku. Seorang perempuan yang tak pernah pergi sekolah, tapi mengerti bahwa hidup ini, kadang cukup dijalani dengan tabah. Bukan dibanggakan. Bukan dipamerkan. Cukup dijalani. Biasa saja.

Nama itu adalah perjalanan. Kadang kita tak tahu pasti, apa yang membuatnya berubah. Apa yang membuat seseorang, seperti kakek saya, yang dulu bernama Wastam, berubah menjadi Abdul Aziz. Semua itu penuh dengan kisah yang tak tampak. Perjalanan hidup yang dipenuhi oleh keputusan-keputusan besar, oleh tantangan, dan ujian yang datang tanpa diundang. Ini kisah seperti potongan-potongan mozaik yang berserakan.

Kakek saya, Wastam, dulu dikenal tak pernah banyak bicara soal dirinya sendiri. Tapi saya tahu, dalam diamnya itu, tersimpan sejuta cerita yang tak pernah keluar, yang tak pernah diceritakan. Salah satunya adalah perjalanan haji yang mereka tempuh, bersama nenek saya, yang dulu bernama Munirah, kemudian berganti menjadi Azizah.

Kini, nama-nama itu lekat pada mereka. Tapi nama itu bukan sekadar nama. adalah simbol dari perjuangan mereka yang luar biasa.

Dulu, perjalanan haji itu bukan seperti sekarang. Kalau sekarang, kita bisa terbang dalam hitungan jam, ke Tanah Suci, dengan kenyamanan yang cukup. Kakek dan nenek saya harus menempuh perjalanan panjang dengan kapal laut, berbulan-bulan. Mereka berangkat dari Pelabuhan Tegal, kapal itu bergerak perlahan, melewati pelabuhan-pelabuhan besar di sepanjang pantai, menuju lautan luas yang tak tahu kapan akan berhenti.

Tujuh bulan.

Itulah lama perjalanan mereka, dengan bekal seadanya. Mereka bertahan dalam keterbatasan, dalam perjalanan yang tidak mudah. Setiap gelombang yang menghempas, setiap angin yang menderu, itu adalah ujian bagi mereka. Tapi mereka terus maju, tanpa menyerah.
Ibu saya, waktu itu masih bayi, masih menyusu ke nenek saya. Dan karena nenek saya akan berangkat haji, ia harus disapih. Begitu banyak cerita yang terputus karena jarak dan waktu, cerita yang terlupakan oleh dunia, tetapi selalu hidup dalam memori saya.

Cerita ini mengingatkan saya pada sebuah novel karya Pramoedya Ananta Toer, yang menceritakan tentang perjalanan hidup, tentang bagaimana orang-orang harus meninggalkan tanah kelahiran mereka untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Begitu pula perjalanan kakek dan nenek saya. Mereka meninggalkan segalanya, demi sebuah panggilan. Sebuah tujuan yang lebih besar.

Perjalanan haji itu bukan hanya tentang ritual agama. Itu adalah perjalanan hidup yang penuh dengan ketekunan, perjuangan, dan keteguhan hati. Mereka pergi, berlayar melewati samudra Hindia yang luas, memutari Jawa bergerak ke Semarang, Surabaya, Pacitan, Yogyakarta, Cilacap, dan Banten.
Itulah perjalanan mereka. Dari Wastam, ke Abdul Aziz. Dari Munirah, ke Azizah. Perjalanan itu bukan hanya mengubah nama mereka. Itu mengubah hidup mereka.

Kakek saya bukanlah orang yang kaya. Tapi kakek adalah orang yang penuh dengan ketulusan. Seorang petani yang jujur, seorang tukang yang jujur.  Saya berharap Sifat itu turun ke dalam darah kami, tentu warisan itu menjadi warisan yang sangat berharga.

Kakek Abdul Aziz adalah lelaki yang biasa saja. Dulu dia bekerja di lahan milik Nenek Buyut saya, Aisyah. Konon, Aisyah ini adalah seorang wanita kaya, yang memiliki banyak sawah. Kakek saya, dengan ketulusan hatinya, merekomendasikan sawah-sawah yang sebaiknya dibeli. Karena itulah, kekayaan Buyut Aisyah sebagian besar datang dari keputusan-keputusan yang bijak dari kakek saya. Kakek saya bukan hanya seorang pekerja biasa. Ia adalah seorang yang penuh dedikasi, yang jujur dalam setiap langkahnya.

Saat Buyut Aisyah ingin membeli sesuatu, kakek saya lah yang akan menjualkan gabah-gabah yang sangat banyak itu, sebagai bekal untuk membeli sawah. Sebuah transaksi yang penuh kepercayaan dan kejujuran.

Cerita-cerita ini --- duhai anak-anakku, adalah bagian dari hidup saya. Saya dibesarkan dengan cerita-cerita tentang kebaikan para tetuaku dulu. Tentang bagaimana nenek dan kakek saya mengajarkan bahwa hidup ini bukan tentang seberapa banyak yang kita dapat, tetapi tentang seberapa besar kita memberi kepada orang lain.

Warisan mereka bukan harta, bukan kekayaan yang bisa dihitung dengan uang. Warisan mereka adalah nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai yang saya ingin teruskan kepada anak-anak saya, generasi yang akan datang. Karena pada akhirnya, saya ingin mereka tahu, bahwa hidup ini lebih berarti ketika kita hidup dengan kejujuran, ketulusan, dan pengabdian yang tulus.

Nama Abdul Aziz dan Azizah bukan sekadar sebutan. Mereka adalah doa. Doa yang mengalir dalam darah kami, doa yang mengingatkan kami untuk selalu menjadi orang yang baik, meskipun dunia sering kali tak mengenal kebaikan itu.

Nenekku buta. Tapi matanya yang tertutup itu tak membuat hatinya gelap. Namanya Azizah, dan kakekku Abdul Aziz. Nama mereka seperti sepasang pujian yang saling menguatkan. Nenek hidup panjang, 83 tahun. Tapi yang membuatnya terasa lebih panjang lagi adalah wirid dan puasanya, doa-doanya, kesabarannya. Beliau kehilangan penglihatan, konon setelah kakekku wafat. Kesedihan itu pelan-pelan mengambil penglihatannya, tapi membuka mata hatinya lebih lebar. Sejak saat itu, hari-harinya hanya dihabiskan di musholla kecil rumah kami. Tempat shalat itu jadi tempatnya mencurahkan rindu. Bukan lewat air mata, tapi lewat doa yang lirih tapi dalam. Nama-nama cucunya seperti disebut satu-satu, termasuk aku.

Aku percaya, apa pun yang kumiliki sekarang—kesehatan, jalan hidup, bahkan keberuntunganku—mungkin adalah hasil dari doa-doa panjang nenekku. Doa yang tak pernah ia minta balasannya, tak juga ia ceritakan. Ia hanya berdoa, lalu diam.

Aku masih ingat kamar mandi rumah kami dulu. Bak mandinya besar, dari semen. Gayung harus ditaruh di pinggir dan diisi air. Jangan dilempar ke tengah. Itu bukan aturan rumah, tapi bentuk cinta. Karena nenekku buta, kalau gayungnya dilempar ke tengah, beliau kesulitan menjangkaunya. Bapakku yang mengajarkan itu. Bapak—yang sebenarnya hanya menantu—memperlakukan nenek seperti ibunya sendiri. Telaten, lembut, dan sabar. Bahkan saat nenek sudah tua dan mulai tak bisa mengendalikan buang air kecil, bapak tetap menjaganya. Ia bersihkan, ia bantu, tanpa sekalipun mengeluh. Dan itu berlangsung bertahun-tahun. Aku jarang melihat hubungan menantu dan mertua sedekat dan sedamai itu.

Kini, ketika aku dewasa, kebiasaan itu masih ada. Aku masih suka meletakkan gayung di pinggir bak, dan mengisinya dengan air. Kadang istriku protes, takut gayungnya jatuh dan pecah. Tapi aku tak pernah menjelaskan alasannya. Karena setiap kali aku menaruh gayung seperti itu, rasanya seperti sedang menyambung kasih sayang dari masa lalu. Ada cinta yang diturunkan secara diam-diam lewat kebiasaan.

Nenekku tidak pernah melihat wajahku yang dewasa, tapi aku merasa doa-doanya tetap mengawasi langkahku. Kadang aku yakin, bukan hanya aku yang merasakannya. Cucu-cucunya yang lain mungkin juga mengalaminya. Rezeki yang entah datang dari mana, keberkahan yang tak masuk akal, perlindungan yang hadir di saat genting. Mungkin itu bukan hasil usaha kami semata. Mungkin itu tetes-tetes dari sumur doa yang tak pernah kering.

Nenek, perempuan buta yang penuh cahaya, mungkin sudah lama pergi. Tapi wiridnya masih terdengar di hati kami. Dan aku yakin, doa-doanya masih hidup di udara. Karena ada cinta yang tidak butuh mata untuk menjaganya. Cukup hati. Dan hati nenekku tak pernah benar-benar pergi.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE