Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

BASRAH, dik. Pada abad 7 sampai 8 Hijriyah adalah kota yang sudah menua, kota yang diselimuti hikmah, sebagaimana seorang tetua bijak yang pernah jatuh cinta. Ia telah melewati kejayaan dan luka, tapi tetap menyimpan getar cinta Ilahi dalam setiap sudutnya. 


Di sanalah, cerita sejarah kekasih Tuhan ber gender perempuan Rabi’ah Adawiyah, jejak cintanya kepada Tuhan tetap hadir hingga hari ini. Dalam senyap, dalam bait-bait doa, dalam mata yang berlinang karena rindu yang tak bisa dijelaskan. Meski dia tidak mau surga, dia adalah pemadam api neraka. 


Kisah-kisah yang saya sampaikan padamu dik, semua ada referensinya. Ini bukan sekedar pedoman nulis ilmiah. Karena cerita tentang kekasih Tuhan tidak bisa dibuktikan dengan positivisme keilmiahan. 


Kisah ini dinukil dari Syekh Faridudin Attar, seorang sastrawan berkebangsaan Persia. Dalam bukunya Tadkiratul Auliya. 


Kisah tentang Rabi'ah adalah perjalanan spiritual yang melampaui ruang, sebuah kisah yang mengganjal, dari padang sunyi, menuju eksistensi diri. Untuk pergi berhaji, Rabi'ah tidak punya harta dan status sosial. Yang ia punya adalah cinta yang menyala-nyala pada Tuhan. 


Suatu hari, Rabi'ah hendak menunaikan ibadah haji. Namun ia sudah tua, dan tidak kuat berjalan dari Basrah ke Makkah. Ia tetap berjalan. Sendirian. Menembus padang pasir. Tanpa kendaraan. Di tengah perjalanan, tubuhnya roboh, kemudian dia memandang langit dan berkata, 

“Tuhanku, aku tidak sanggup melangkah lagi, tapi Engkau tahu, aku datang tiada lain hanya untuk Mu”.

Saat itu juga, Ka'bah datang menghampiri Rabi'ah. Orang-orang heran, Ka'bah tidak ada di tempatnya. 

”Aku tidak mencari rumahNya. Tapi aku mencari sang pemilik rumah”. Kata Rabi'ah. 

****

Kau tahu, dik. Haji bukan sekedar perjalanan badan ke Makkah, tapi perjalanan jiwa ke tauhid, ke dalam pusat diri. Ka'bah adalah simbol, ia tidak butuh dikunjungi jika hati masih penuh dunia. 

“Apa gunanya thawaf jika engkau masih mengelilingi egomu sendiri”. Kata seseorang. 


Ka'bah berdiri sebelum Islam, ia pernah dikuasai oleh berhala, disucikan Ibrahim, diselamatkan Rasul Muhammad. Dia adalah saksi, pembusukan tauhid oleh kabilah Arab, saksi kebangkitan spiritual lewat wahyu, dan saksi dari kepercayaan tribal menuju Keesaan Ilahi. 


Dalam dunia yang sibuk, riuh, dan bising. Kadang kita perlu hening, agar bisa dijemput kembali oleh poros kefitrahan kita. Ka'bah tidak berpindah tempat. Namun, bagi jiwa yang murni, ia akan datang sendiri. 


Tidak semua dari kita mempunyai kesempatan ke Baitullah. Tapi itu bukan alasan untuk jauh dari Nya. Karena sesungguhnya perjalanan yang suci, bukan soal jarak. Tapi soal arah hati. 

“Jika hatimu bersih, maka setiap sujud adalah Makkah, jika hidupmu lurus, maka setiap detak adalah Talbiyah.”. Kata Rabi'ah Al Adawiyah. 


Tegal, 12 Dzulhijjah 1447 H





Saya tidak tahu harus menulis ini dimulai dari mana. Karena pesimis itu adalah luka. Sulit untuk sembuh. Diantara pesimisme yang berkembang sesama anak bangsa banyak bertebaran di sosial media. Dan kisah-kisah nelangsa yang kita temukan di mana-mana. 


Sastrawan tidak bisa hidup dari sastra, petani tidak bisa hidup dari hasil pertanian, guru tidak bisa menghidupi dirinya sendiri dari kegiatan dia mengajar. Dan para fasilitator pemberdaya sama sekali tidak berdaya. 


Pengangguran, drama-drama pembubaran dan karyawan dirumahkan. Dan teori-teori kurikulum pendidikan kita untuk pembodohan sesama anak bangsa. Karena berbagai faktor itulah. Pesimisme muncul sebagai anggapan yang —sekedar menatap masa depan pun enggan. 



Seolah, sebentar lagi, Indonesia akan hancur. Lebur. 



Saya akan memulai sebuah kisah, barangkali ini bisa dijadikan titik terang, pondasi, melihat Indonesia ke depan– Atau barangkali suatu saat, bangsa ini bukan bernama Indonesia lagi. 

****

Kisah pertama adalah dari baju Parcok. Akronim dari Partai Coklat. Jika Anda pengikut Sosmed aktif, lembaga ini mendapatkan nilai rendah dari netizen. Dari banyaknya kegiatan dan kasus yang ada. Begitulah rakyat kita menilai.


Kata guru filsafat saya dulu, menggeneralisir permasalahannya itu tidak baik. Tidak objektif. Saya ceritakan salah satu personel Parcok yang keren. Setidaknya keren bagi saya. Dia mungkin tidak setenar Hugeng yang dikisahkan Gus Dur. Tapi kisah tirakat hidupnya sejak kecil hingga meraih pendidikannya tidak mudah. Dia menceritakannya padaku di ladang sawah saat itu. Meski dia Parcok, dia lebih senang disebut petani. 


Dia seorang pemberdaya sejati. Kebermanfaatan hidupnya banyak dirasakan oleh masyarakat desa. Pengangguran ia pekerjakan. Bidang dia di Parcok, membidangi ekonomi. Karena integritasnya, ia banyak meraih penghargaan. Sayangnya karirnya hanya mentok di situ-situ saja. Dan dia tidak bersosial media. Jarang dikenal manusia. 


Kisah yang lain dari dua kawan saya, dua orang yang tidak saling kenal. Tapi saya kenal dekat dengan mereka berdua. Yang satu kawan saya saat SMA, yang satunya lagi senior saya di sebuah organisasi. Mereka bekerja dalam instansi yang sama. Mereka adalah tiang penyangga APBN kita, saat saya bertanya, kenapa dia tidak menerima duit dari para cukong itu, intinya mereka bilang. Di angkatan mereka, ada semacam kesepakatan, ingin sekali memutus mata rantai angkatan-angkatan dulu yang memungut TAX yang tidak setorkan ke negara. 


Di dunia akademik, juga ada cerita yang hampir sama. Ketika banyak dosen yang mengejar kepangkatan menjadi guru besar. Beliau malah menghindar. Saya tahu, beliau adalah orang yang paling produktif karya dan pemikirannya. Konon alasan beliau adalah, dia sudah merasa cukup dengan apa yang ada. Namun para koleganya, membantunya. Saat ini beliau sudah bergelar profesor, semangatnya untuk menolak jabatan patut dipercontohkan.


Cerita lain yang membuat saya optimis bahwa Indonesia akan terus jaya adalah, seorang bendahara di sebuah organisasi perangkat daerah. Secara SDM dia biasa-biasa saja. Bukan golongan unggul sebagai manusia. Tapi suatu hari saya saat saya sedang berjalan dengan motor butut saya, saya melihat dia di proyek gorong-gorong pinggir jalan. Tidak berseragam dinas. Bersama pekerja lain, ia ikut terjun menggali dengan cangkul. Saat saya tanya apakah dia mendapatkan honor tambahan dari pekerjaan dia mencangkul, dia jawab tidak. Tentu saja saya tahu, dia bukan pencari panggung, pencitraan untuk kenaikan jabatan. 

“Lalu untuk apa lo ikut menggali?”, tanya saya lebih dalam. 

“Agar suatu hari nanti, di hadapan Tuhan, tenggorokan saya tidak keselek ketika dimintai pertanggungjawaban!”.


****

#DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar

Kelak hidup kalian tidak usah bersaing dengan siapapun. Ucapkan pada yang lain. Silahkan mendahului dari sisi manapun. Hidup ini perjalanan pribadi dan abadi. 


Tumbuhlah dengan indah, tanpa merusak hal di sekitarmu. Kita tidak sedang berlomba dalam perkara dunia, tapi perihal menjadi yang terbaik di sisiNya. Barangkali dengan cara itu, Tuhan Maha Tidak Tega melihat Indonesia selesai. 


Kata Iksan Skuter pada sebuah Podcast, tugas seniman itu berkarya, tugas guru adalah mengajar, tugas petani bertani. Tidak lebih, tidak kurang. 



Ini tulisan Om Bud, yang saya gubah sedikit. Sangat relevan denganku yang dulu menggebu-gebu. 

*****

Dulu saya pikir hidup itu medan perang. Setiap hari saya bangun dengan pikiran bahwa saya harus "mengalahkan hari ini". Saya paksa semua hal berjalan sesuai rencana. Kalau tidak sesuai, saya anggap itu kegagalan.


Sampai suatu hari, saya duduk di taman sendirian. Tak ada yang spesial. Hanya pohon, langit, dan angin sore. Tapi sore itu saya sadar—tak satu pun dari mereka sedang melawan. Pohon tidak memaksa daun bertahan. Awan tidak protes ketika hujan turun. Bahkan matahari pun tahu kapan harus tenggelam. Alam seperti menepuk bahu saya pelan: "Kenapa kamu terus melawan, padahal kami hanya sedang mengalir?"


Sejak itu, saya mulai mencoba mendengar. Lebih sering diam. Lebih sering bertanya daripada mengatur. Ketika sesuatu tak berjalan sesuai harapan, saya tidak langsung menyalahkan hidup. Saya tanya dulu: “Apa mungkin ini arah yang lain, bukan kegagalan?”


Saya belajar bahwa bersinergi dengan semesta bukan berarti pasrah. Tapi belajar kapan harus bertindak, dan kapan harus diam. Belajar membedakan mana yang memang harus diperjuangkan, dan mana yang perlu dilepaskan.


Ternyata, semesta tak pernah melawan saya. Saya aja yang terlalu sibuk jadi komandan, sampai lupa bahwa saya bagian dari orkestra besar yang bernama kehidupan.


Suatu pagi saya duduk di halaman rumah, menatap semut yang mondar-mandir membawa remah roti. Di sebelah saya, kucing tetangga melintas dengan langkah malas, sementara burung gereja berkicau dari atas pagar. Saya tersenyum. Mereka semua sibuk dengan urusannya masing-masing, tapi entah kenapa pagi itu terasa hidup.


Saya jadi sadar: saya tidak sendiri di planet ini. Kita semua—manusia, semut, burung, pohon, air, batu—adalah sesama penghuni bumi. Sesama penduduk alam semesta.


Manusia memang sering gak tau diri. Kita merasa pemilik bumi. Tanah, hewan dan pepohonan adalah asset. Padahal tanpa makhluk lain, tanpa pohon yang memberi oksigen, tanpa lebah yang membantu bunga tumbuh, tanpa angin yang menggerakkan awan...apa yang tersisa dari kehidupan?


Sejak itu, saya mulai membiasakan sesuatu yang mungkin terdengar aneh: saya mengajak mereka bicara. Kadang saya menyapa pohon. Kadang saya bilang “terima kasih” ke air yang saya minum. Kadang saya minta maaf ke tanah yang saya injak. Mungkin terdengar konyol, tapi rasanya hangat.


Semesta ternyata tidak pernah sunyi. Ia selalu menjawab. Lewat angin. Lewat gerak daun. Lewat perasaan yang muncul tiba-tiba, entah dari mana. Semesta bicara, kalau kita mau mendengar.


Saya percaya: kalau kita mau menjaga bumi ini, kita harus mulai bersilaturahmi dengan seluruh penghuninya. Bukan hanya manusia, tapi juga makhluk lain yang selama ini kita anggap diam. Mereka bukan diam. Kita saja yang tak pernah menyapa.


Menjaga bumi bukan tugas manusia sendiri. Itu kerja kolektif. Kita perlu berteman, bukan hanya memakai. Perlu mendengar, bukan hanya meminta. Perlu berbicara bukan memerintah.


Ketika kita mulai hidup bersama, bukan di atas yang lain, semesta pun akan ikut merawat kita.


Dulu saya pikir suara semesta itu semacam bisikan gaib atau petunjuk mistis yang muncul tiba-tiba. Ternyata bukan.


Suara semesta sering datang sebagai rasa. Rasa yang lembut tapi menggelitik, muncul saat saya diam. Saat saya berhenti dari rutinitas yang bising, duduk tenang, dan benar-benar hadir.


Saya ingat suatu sore, saya duduk di bawah pohon jambu yang tumbuh di belakang rumah. Angin sore menyentuh pelan kulit saya. Daun-daunnya berdesir seperti membisikkan sesuatu. Dan entah kenapa, sore itu saya merasa damai sekali. Rasanya seperti dipeluk. Padahal saya sendirian.


Mungkin itulah suara semesta.


Kadang semesta tidak berbicara lewat kata-kata. Ia berbicara lewat getaran. Lewat angin yang tiba-tiba berhenti, lewat hujan yang turun di saat hati sedang berat, lewat pelangi yang muncul setelah hari-hari mendung. Lewat seekor kupu-kupu yang hinggap di tangan, seolah bilang, “Hei, tenang, kamu tidak sendiri.”


Dan untuk bisa mendengar semua itu, kita harus belajar satu hal penting: diam.


Bukan diam karena tak tahu harus berkata apa, tapi diam yang penuh kehadiran. Diam yang tidak melarikan diri dari rasa, tapi justru menatapnya. Diam yang membuka pintu-pintu batin, agar suara-suara lembut dari luar bisa masuk.


Semakin saya diam, semakin saya peka.


Saya mulai bisa membedakan: mana suara hati saya sendiri, mana suara ego, mana suara semesta. Tiga hal itu sering tumpang tindih, tapi pelan-pelan saya belajar membedakannya lewat latihan sederhana: duduk, napas panjang, dan tidak buru-buru menjawab dunia.


Mendengar semesta adalah keahlian yang bisa dipelajari. Bukan karena kita jadi sakti, tapi karena kita belajar hadir. Hadir sebagai manusia di tengah rimbunnya kehidupan lain, sebagai salah satu dari banyak makhluk yang sama-sama ingin hidup dengan damai.


Semesta memang tidak selalu memberi jawaban yang kita mau. Tapi ia selalu memberi jawaban yang kita butuh. Kalau kita mau benar-benar mendengar.


Kata sastra jalanan yang pernah saya baca di bokong truk, “cepat-cepat mau ngejar apa, pelan-pelan nungguin siapa”. Hidup semengalir saja. 


*****

#DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar




Dalam sebuah diskusi film, di Gedung B6, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang, Dedi Mizwar mengatakan: ”Sekolah itu penting, agar tahu bahwa sekolah itu tidak penting”.


****
Toha, namanya diabadikan Tuhan dalam Alquran. Tapi bukan itu, Toha adalah nama bapak kawan saya. Sahabat saya ini umurnya jauh dibawah saya. Manusia seusia saya ini bisa nyambung dengan umur berapapun. Termasuk dengan bapak kawan saya yang jauh lebih sepuh. Jika nongkrong dan ngobrol dengan para tetua,, yang diceritakan adalah kisah-kisah terdahulu sebagai bentuk kejujuran kehidupan. Inilah Pak Toha dengan hikayatnya yang diceritakan. 


Barangkali ini adalah kisah biasa. Kisah-kisah zaman dulu dengan berbagai perjuangan, kelaparan, dan kemiskinan. Namun sesungguhnya, dibalik kisah ini saya tahu, Pak Toha adalah orang kaya, kaya hatinya, kaya pengetahuannya. Dan paling penting kaya cita-cita luhurnya. 


Saya akan menarik seting kisah ini. Cerita ini bertempat di sebuah desa di lereng Gunung Slamet. Listrik baru masuk desa ini pada saat kawan saya lahir di dunia, 1995.

Pagi itu, cuaca agak mendung Pak Toha membuka obrolan dengan saya perjuangannya sekolah SD pada tahun 1970an. Di desanya dulu, belum ada SD sekolah SD hanya sampai kelas 3, itupun bukan bangunan SD, hanya gubuk rumah warga yang disulap sebagai kelas untuk pembelajaran, selepas kelas 3, yaitu kelas 4, SD hanya ada di desa tetangga yang harus melewati bukit dan jalanan terjal. Pantas saja, dari jumlah teman-teman Pak Toha saat kelas 1 sampai kelas 3 berjumlah 40, hanya tersisa 4 yang melanjutkan ke kelas 4 hingga kelas 6 di desa tetangga.

Dia mengaku untuk pergi ke sekolah, saat musim hujan adalah sebuah hal yang paling payah, jalanan licin, tidak ada payung, baju basah, apalagi sepatu sebagai alas kaki. Pada musim kemarau, lebih parah, jalanan berdebu luar biasa, hingga terkadang dia dan kawan-kawannya terbatuk-batuk. Singkatnya, dalam musim apapun, pergi sekolah adalah hal yang tidak menyenangkan. Terlebih pada zaman itu, ketika kemiskinan dan kelaparan adalah teman, berangkat sekolah belum tentu tersedia sarapan. 



Dulu itu – entah dengan sekarang,, pendidikan dan sekolah tidak terlalu penting. Terlebih bagi perempuan. Dulu, ketika saya belajar dasar-dasar pendidikan dan gender, saya rasa, anggapan perempuan yang hanya Tiga Ur: Dapur, Sumur, Kasur, adalah teori belaka. Ternyata hal seperti ini sangat kental di masyarakat desa kawan saya pada saat itu. 


Pak Toha mempunyai lima anak, empat diantaranya adalah perempuan. Yang laki-laki hanya kawan saya itu, dia anak nomor tiga. Pak Toha sebagaimana lelaki desa biasa, tentu saja bukan orang kaya, saat para anak perempuannya sekolah sampai SMP, dan SMA, banyak yang mencemooh, apalagi sampai di awal milenium, perempuan pertamanya kuliah, tidak ada dukungan sama sekali, dari keluarga besarnya, karena latar belakang Pak Toha di desa yang hanya kalangan menengah ke bawah, kata-kata 3 Ur tadi sering keluar dari masyarakat desa. Tapi tidak dengan Pak Toha, optimisme akan masa depan, dan cita-cita menghilangkan kebodohan tidak melihat gender anaknya. Keempat anaknya adalah sarjana di kampus Yogya. Tinggal  perempuan terakhirnya yang sekarang sedang skripsi di Kampus Bandung.

Dengan latar belakang ekonomi Pak Toha tersebut, yang saya herankan, adalah, kok ada saja rezekinya untuk pendidikan anak-anaknya.

Saat anak perempuannya kuliah di Yogya, misalnya, Pak Toha berkisah, dia menjual 2 ekor kerbaunya untuk membeli laptop! Ya, harga laptop jaman dulu belum terjangkau, dan satu kerbau dewasa itu, yang sekarang mengalami inflasi ekonomi berharga paling murah 25 juta!

Ada lagi, saat anaknya yang keempat wisuda kemudian menikah, Pak Toha yang petani itu, sedang menanam cabai, satu kilo cabai pada saat itu mencapai 90 ribu, kok ya ndilalah ada.

Sekarang, ketiga anak perempuannya berkiprah dalam dunia kerja masing-masing, yang pertama selain menjadi guru, dia menjadi tokoh di desa, yang kedua dan keempat tinggal di Yogya, bekerja di bidangnya. Banyak gadis-gadis di desa terinspirasi kepada para anak perempuan Pak Toha, mereka mengejar pendidikannya, mimpi dan cita-citanya. Kawan saya sarjana dalam bidang pertanian, dia banyak membantu bapaknya dengan ilmu-ilmu pertanian mutakhir, seolah dia yang akan disiapkan bapaknya menjadi petani generasi  masa depan.


Saat saya mengkonfirmasi kepada kawan saya tentang kisah-kisah tersebut, 

“Bro, bapak lo luar biasa!”,

“Bukan, bro, bukan bapak gw yang luar biasa, tapi kakek gw yang keren.”.

Kawan saya menceritakan, bahwa, kakeknya berpesan, pendidikan itu penting, motivasi itu yang menjadikan Pak Toha bisa sampai kelas 6 SD, walaupun saat ujian kelas 6 Pak Toha tidak lulus, karena ujian kenaikan tingkat pada saat itu harus dilakukan di Sekolah di ibu kota kecamatan, sementara untuk pergi ke kecamatan pada saat itu belum ada jembatan.

****

#DearDifa
#DearHilwa

#DearAsfar




Saya tidak tahu, saya yang seperti ini, bagaimana nantinya akan memberikan fasilitas pendidikan, kesehatan kalian di masa depan, selain berharap pada Tuhan Yang Maha tidak Tegaan. Kembali lagi, pendidikan itu penting, agar kita tahu bahwa SISTEM pendidikan kita itu sebenarnyatidak penting.






Semester ini, saya mengampu kelas Kitabah. Menulis dalam Bahasa Arab—sebuah kegiatan yang bagi sebagian mahasiswa masih terasa asing, menantang, bahkan kadang menakutkan. Tapi kita sepakat untuk memulainya, perlahan. Meski bukan di ruang kelas dengan meja dan papan tulis, tapi di kotak-kotak kecil bernama Zoom, dengan suara yang kadang delay dan wajah yang tak selalu menyala.

Saya memilih pendekatan qawaid dalam tiap bab. Bukan tanpa alasan. Saya percaya, menulis dalam bahasa Arab bukan semata soal mengalirkan kata, tapi memahami struktur di baliknya. Maka kami belajar mengenal mubtada’ dan khabar, hingga naik ke inna wa akhwatuha, dan menyelami perubahan makna dalam kana wa akhwatuha. Setiap bab hadir bukan hanya dengan teori, tapi dengan harapan: semoga pola-pola itu menjadi pijakan dalam tulisan.

Namun, tidak semua berjalan mulus.

Pernah suatu sore, langit gelap, angin bertiup kencang. Di rumah saya, suara genteng berderak, sinyal naik-turun, bahkan listrik sempat berkedip. Tapi ketika saya buka Zoom, satu per satu nama kalian muncul. Ada yang menyalakan kamera, ada yang diam dalam mode mute, tapi saya tahu: kalian hadir. Dan di tengah bisingnya hujan, saya sampaikan salam, saya buka pelajaran, dan kita mulai menyusun kalimat.

Hari lain, saat penarikan KKN, saya sebenarnya sudah lelah. Tubuh rasanya minta istirahat, tapi hati tak tenang kalau kelas kitabah harus kosong. Maka dengan sinyal seadanya, saya tetap masuk. “Ana ma’akum,” saya bilang. Dan kalian, seperti biasa, menyambut dengan semangat yang membuat lelah itu luruh. Kita tetap belajar. Kalimat demi kalimat. Walau pendek, walau masih terbata, tapi kita menulis.

Sebagai fasilitator, saya tahu saya bukan yang terbaik. Banyak hal yang belum sempurna. Mungkin ada penjelasan yang terlalu cepat, mungkin saya kurang peka saat kalian bingung, atau mungkin saya terlalu sering mengulang contoh yang sama. Saya minta maaf. Sebesar-besarnya. Sedalam-dalamnya. Tapi percayalah, saya berusaha. Karena saya yakin, kalian layak mendapatkan pembelajaran yang baik.

Dan saya percaya, kalian juga sudah berjuang. Di balik layar laptop atau ponsel kecil, kalian menulis. Kadang sambil mengasuh adik, sambil sibuk bekerja, kadang sambil mengisi daya HP yang nyaris habis, atau sambil bertanya dalam hati: “Benar nggak ya jumlah ini?” Tapi kalian tetap menulis. Dan bagi saya, itu luar biasa.

Tujuan dari kelas ini sederhana: agar kalian bisa membangun kalimat dengan sadar. Tidak hanya paham teori, tapi tahu mengapa kalimat itu ditulis begitu. Dan semoga dari pola-pola yang kita pelajari, lahir tulisan-tulisan yang tidak hanya benar secara nahwu, tapi juga punya makna dan rasa.

Sekarang semester telah usai. Tapi pelajaran belum. Karena menulis tidak selesai di Zoom. Ia hidup dalam tugas, dalam skripsi, dalam doa-doa yang kalian ketik dalam bahasa Arab di catatan pribadi.

InsyaAllah, semester depan kita bertemu lagi. Dengan qowaid yang lebih dikuasai, dengan semangat yang tidak pernah padam, dan dengan lembar-lembar digital yang siap diisi.

Terima kasih telah hadir, bahkan saat hujan angin, bahkan saat saya lelah. Terima kasih telah menulis, bahkan saat tak ada yang memaksa.

Kitabah kita mungkin sederhana. Tapi semangatnya tak pernah biasa.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE