BASRAH, dik. Pada abad 7 sampai 8 Hijriyah adalah kota yang sudah menua, kota yang diselimuti hikmah, sebagaimana seorang tetua bijak yang pernah jatuh cinta. Ia telah melewati kejayaan dan luka, tapi tetap menyimpan getar cinta Ilahi dalam setiap sudutnya.
Di sanalah, cerita sejarah kekasih Tuhan ber gender perempuan Rabi’ah Adawiyah, jejak cintanya kepada Tuhan tetap hadir hingga hari ini. Dalam senyap, dalam bait-bait doa, dalam mata yang berlinang karena rindu yang tak bisa dijelaskan. Meski dia tidak mau surga, dia adalah pemadam api neraka.
Kisah-kisah yang saya sampaikan padamu dik, semua ada referensinya. Ini bukan sekedar pedoman nulis ilmiah. Karena cerita tentang kekasih Tuhan tidak bisa dibuktikan dengan positivisme keilmiahan.
Kisah ini dinukil dari Syekh Faridudin Attar, seorang sastrawan berkebangsaan Persia. Dalam bukunya Tadkiratul Auliya.
Kisah tentang Rabi'ah adalah perjalanan spiritual yang melampaui ruang, sebuah kisah yang mengganjal, dari padang sunyi, menuju eksistensi diri. Untuk pergi berhaji, Rabi'ah tidak punya harta dan status sosial. Yang ia punya adalah cinta yang menyala-nyala pada Tuhan.
Suatu hari, Rabi'ah hendak menunaikan ibadah haji. Namun ia sudah tua, dan tidak kuat berjalan dari Basrah ke Makkah. Ia tetap berjalan. Sendirian. Menembus padang pasir. Tanpa kendaraan. Di tengah perjalanan, tubuhnya roboh, kemudian dia memandang langit dan berkata,
“Tuhanku, aku tidak sanggup melangkah lagi, tapi Engkau tahu, aku datang tiada lain hanya untuk Mu”.
Saat itu juga, Ka'bah datang menghampiri Rabi'ah. Orang-orang heran, Ka'bah tidak ada di tempatnya.
”Aku tidak mencari rumahNya. Tapi aku mencari sang pemilik rumah”. Kata Rabi'ah.
****
Kau tahu, dik. Haji bukan sekedar perjalanan badan ke Makkah, tapi perjalanan jiwa ke tauhid, ke dalam pusat diri. Ka'bah adalah simbol, ia tidak butuh dikunjungi jika hati masih penuh dunia.
“Apa gunanya thawaf jika engkau masih mengelilingi egomu sendiri”. Kata seseorang.
Ka'bah berdiri sebelum Islam, ia pernah dikuasai oleh berhala, disucikan Ibrahim, diselamatkan Rasul Muhammad. Dia adalah saksi, pembusukan tauhid oleh kabilah Arab, saksi kebangkitan spiritual lewat wahyu, dan saksi dari kepercayaan tribal menuju Keesaan Ilahi.
Dalam dunia yang sibuk, riuh, dan bising. Kadang kita perlu hening, agar bisa dijemput kembali oleh poros kefitrahan kita. Ka'bah tidak berpindah tempat. Namun, bagi jiwa yang murni, ia akan datang sendiri.
Tidak semua dari kita mempunyai kesempatan ke Baitullah. Tapi itu bukan alasan untuk jauh dari Nya. Karena sesungguhnya perjalanan yang suci, bukan soal jarak. Tapi soal arah hati.
“Jika hatimu bersih, maka setiap sujud adalah Makkah, jika hidupmu lurus, maka setiap detak adalah Talbiyah.”. Kata Rabi'ah Al Adawiyah.
Tegal, 12 Dzulhijjah 1447 H