Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

Pada akhir tahun 2023 lalu, Hamid Dabashi, intelektual Iran yang menetap di AS dan mengajar di Universitas Columbia, melalui tulisannya (opini) di MEE, salah satu media elektronik yang serba " sedang-sedang", meminta agar pemerintah Iran ikut campur di persoalan genosida Israel terhadap penduduk sipil di Gaza.  maksudnya melakukan intervensi militer membela bangsa Palestina. Saya lupa judul opini di MEE tersebut. waktu itu saya spontans batin, kok tumben kamerad ini berharap pada pemerintah Iran yang sering dikritiknya untuk tidak ragu melawan Israel secara militer? [Kamerad adalah kata sapaan dalam ideologi sayap kiri, seperti halnya kata Bung untuk memanggil bung Karno].

Sebelum melanjutkan, saya ingin bercerita tentang Dabashi.

Dalam rentang  waktu kurang dari lima tahun, Dabashi telah menulis setengah lusin buku tentang negerinya. Tentang Iran. Semua bukunya tentang Iran ingin menunjukkan kekayaan kultural Iran, terutama kekayaan akan seni dan pengetahuan; keragaman aliran politik; keragaman religio maupun ideologi yang berkembang; posisi Syi'isme dalam rentang sejarah Iran; dampak kolonialisme dan tumbuhnya kultur pelacur imperial (the imperial whore) di tengan kelas menengah-terpelajar Iran ( ini penyakit umum di mana mana).

Saya suka membaca tulisan kawan Iran satu ini, walaupun tidak sepenuhnya setuju. Kritik tajamnya terhadap para mullah dan pemerintahan mereka yang dianggap Dabashi korup dan kehilangan ruh Syiahnya, saya imbangi dengan membaca banyak buku tentang Syiah dengan beragam aliran dan kroniknya. di antaranya saya saya membaca pakar Syiah Ismailiyah, farhad daftary.

Sikap sekulernya secara intelektual hampir saja membuatnya "melupakan" kesyiahannya. Ia tidak ingin tampak saleh sebagaimana para mullah yang dianggapnya tertinggal dan jauh dari kekayaan kultur Persia yang luar biasa. Mistisme sekular berdiri di atas fondasi: zahir tampak maksiat, batin tercerahkan.

salah satu yang sering diulangnya, kebanggaannya menceritakan  latar belakang keluarganya di Ahwaz yang unik.

Ibunya seorang penganut Syiah yang taat, seringkali keras kepada agar belajar ilmu agama: solat dan membawa al-Qur'an. dari kecil membiasakannya melakukan sejumlah ritual Syiah. Membawanya menziarahi berapa situs suci Syiah secara reguler, termasuk datang ke makam Imam Reza di Mashad.

Sementara ayahnya, seorang pekerja di perusahaan kereta api. setiap kali ia pulang kerja, sambil memutar radio ia menenggak vodka. Jarang menunjukkan diri sebagai bagian tradisi Syiah.

Dabashi pada awal karirnya banyak menulis tentang Islam, tentang sejumlah sufi dan sufisme dari Iran dan yang diterima di kalangan Suni, seperti Syaikhul Maqtul Ainul Qudhat Hamadani dan tokoh lainnya.

Setelah mendalami sosiologi pengetahuan dan menjadi guru besar di Universitas Columbia, ia semakin keras mengkritik pemerintahan para Mullah di negerinya. Tapi ia lebih "kejam lagi" mengkritik negara imperialis semacam AS, kroni supremasis-rasisnya di Amerika yang tidak pernah sembuh; menghabisi para intelektual pesolek dan lacur, terutama mereka yang berlatar belakang dunia ketiga (tidak sedikit dari Iran); Dan kegundahannya dengan para pemimpin dunia Islam di Timur-Tengah.

Suatu kali (pernah saya tulis) Ia harus ke Palestina dalam suatu konfrensi ilmiah tentang perkembangan perfilman Palestina. Ketika pesawatnya mulai terbang rendag di atas tanah pendudukan Israel, ia melihat Al-Quds, di luar kuasanya, ia tidak sadar, bibirnya merafal al-Fatehah. Setelah mendarat dan melewati sejumlah pos pemeriksaan, ia sampai di hotel yang disediakan panitia yang ternyata tidak jauh jaraknya dari al-Quds. Selesai mandi ia mencari taksi menuju al-Quds. supirnya bertanya: apakah kamu seorang muslim? Dabashi menjawab, aku seorang Syiah. Supir taksi melihat mimiknya sehingga keduanya ngakak di perjalanan ke Al-Quds yang sakral itu. memasuki halaman Al-Quds ia semakin dak kuasa pada dirinya, kesyiahannya yang tertanam kuat dalam dirinya (embodied) keluar, ia merafal doa-doa yang di masalalu sering dibacanya. Airmatanya tidak terasa memabasi jenggot yang tidak lebat.

kembali ke pertanyaan, kenapa Dabashi meminta pemerintah Iran segera ambil bagian secara militer melawan Israel di kawasan? 

Dabashi menyadari bahwa Iran, walaupun bukan negara paling besar di kawasan Timur Tengah, satu-satunya kekuatan yang mampu melakukan campur tangan militer melawan dominasi dan kecongkakan Israel.

Seperti dalam banyak tulisannya, di tengah kekurangan pemerintahan para Mullah, Iran masih memiliki ragam elemen lain dalam pemerintahan, terlebih di tengah masyarakat sipilnya.

Banyak sekali ilmuwan, intelektual, seniman dan kelompok progresif di tengah warga sipil Iran yang memilih menetap di Iran dan memiliki sikap kritis pada pemerintahan para Mullah. dan paling penting adalah mereka tidak mau jadi piaran imperial AS dan Zionis.

Intinya, Iran bukan semata pemerintahan para Ayatullah. Dan politik syiah dalam konteks negara modern tidak sesempit yang ditulis para analis soal pemerintahan para mullah.

Iran tidak saja terlihat lebih maju dari segi pengembangan teknologi berat dan informasi dibandingkan negara muslim lainnya di kawasan.  Dan teknologi berat bukan satu-satunya ukuran untuk menunjukkan bahwa Iran mampu melakukan pengimbangan dominasi para penjajah dan para imperial di kawasan Timur-Tengah. harus dikatakan, seperti ditulis orang Dabashi, Iran memiliki bakat dan kultur anti- rendah- diri dihadapan kaum imperial, tidak mau tunduk, dan tidak mau menjadi domba para imperial dan kaum zionis.

Dan tentu harus diakaui adanya keragaman pemikiran politik syiah yang lebih maju dibandingkan dengan politik sunni, terutama kemampuan para imam dari kalangan dua belas imam dan imamiyah dalam merumuskan model dan design politik Syiah ketika harus berhadapan dengan model negara-modern yang mematikan dan ingin menyaingi peran agama itu sendiri.

Sunni sejak semula memang agak cuek dengan urusan politik, doktrin politiknya terbentuk belakangan, makanya hanya mampu dan  cocok bikin Ormas. Dan paling jauh jadi Parpol.  itupun ormas dan parpolnya dijejali para pelacur imperial seperti AS dan Yahudi. Tidak sekedar ormas besar, sampai ormas dan parpol yang jenggotan itu bagian dari kultur imperial.

Saya tidak setuju dengan analisa berapa orang Indonesia yang menganggap Iran hanya ingin memperluas pengaruhnya di kawasan Timur-Tengah. perang memabalas serangan Israel (dengan beckingan AS) oleh Iran hanya akan berakhir sebagai perang balas-balasan yang tidak akan ada akhirnya, dan tanpa pemenang. Langkah pemerintah Iran dan masyarakat tidak sesempit itu dalam melihat posisi negerinya di kawasan Timur Tengah.

di tengah embargo, pengepungan amerika dengan deretan pangkalan militernya, permusuhan negara-negara Arab, dan  kesulitan lainnya, Iran tetap menunjukkkan bagaimana caranya hidup terhormat, yakni menghargai pengetahuan apa saja, menyelami akar kebudayaan sendiri, mandiri dan berani melawan. '

Jadi tidak sekedar kalah menang. Tapi bagaimana tegak tidak mau tunduk  walaupun keliatan lusuh dan lemah. Inilah mistisme khas Iran (saya tidak mengatakan Syiah) sebagaimana dikatakan oleh Guru Agung abad 16, Shadruddin Muattallihin (Mulla Shadra), daalm tafsirnya atas surat al-Fatehah, bahwa ketika insan kamil mengejewantah pada diri seorang, apakah masih relevan masalah mazhab dan aliran?

Tuan Guru Hasan Basri Mataram.


BASRAH, dik. Pada abad 7 sampai 8 Hijriyah adalah kota yang sudah menua, kota yang diselimuti hikmah, sebagaimana seorang tetua bijak yang pernah jatuh cinta. Ia telah melewati kejayaan dan luka, tapi tetap menyimpan getar cinta Ilahi dalam setiap sudutnya. 


Di sanalah, cerita sejarah kekasih Tuhan ber gender perempuan Rabi’ah Adawiyah, jejak cintanya kepada Tuhan tetap hadir hingga hari ini. Dalam senyap, dalam bait-bait doa, dalam mata yang berlinang karena rindu yang tak bisa dijelaskan. Meski dia tidak mau surga, dia adalah pemadam api neraka. 


Kisah-kisah yang saya sampaikan padamu dik, semua ada referensinya. Ini bukan sekedar pedoman nulis ilmiah. Karena cerita tentang kekasih Tuhan tidak bisa dibuktikan dengan positivisme keilmiahan. 


Kisah ini dinukil dari Syekh Faridudin Attar, seorang sastrawan berkebangsaan Persia. Dalam bukunya Tadkiratul Auliya. 


Kisah tentang Rabi'ah adalah perjalanan spiritual yang melampaui ruang, sebuah kisah yang mengganjal, dari padang sunyi, menuju eksistensi diri. Untuk pergi berhaji, Rabi'ah tidak punya harta dan status sosial. Yang ia punya adalah cinta yang menyala-nyala pada Tuhan. 


Suatu hari, Rabi'ah hendak menunaikan ibadah haji. Namun ia sudah tua, dan tidak kuat berjalan dari Basrah ke Makkah. Ia tetap berjalan. Sendirian. Menembus padang pasir. Tanpa kendaraan. Di tengah perjalanan, tubuhnya roboh, kemudian dia memandang langit dan berkata, 

“Tuhanku, aku tidak sanggup melangkah lagi, tapi Engkau tahu, aku datang tiada lain hanya untuk Mu”.

Saat itu juga, Ka'bah datang menghampiri Rabi'ah. Orang-orang heran, Ka'bah tidak ada di tempatnya. 

”Aku tidak mencari rumahNya. Tapi aku mencari sang pemilik rumah”. Kata Rabi'ah. 

****

Kau tahu, dik. Haji bukan sekedar perjalanan badan ke Makkah, tapi perjalanan jiwa ke tauhid, ke dalam pusat diri. Ka'bah adalah simbol, ia tidak butuh dikunjungi jika hati masih penuh dunia. 

“Apa gunanya thawaf jika engkau masih mengelilingi egomu sendiri”. Kata seseorang. 


Ka'bah berdiri sebelum Islam, ia pernah dikuasai oleh berhala, disucikan Ibrahim, diselamatkan Rasul Muhammad. Dia adalah saksi, pembusukan tauhid oleh kabilah Arab, saksi kebangkitan spiritual lewat wahyu, dan saksi dari kepercayaan tribal menuju Keesaan Ilahi. 


Dalam dunia yang sibuk, riuh, dan bising. Kadang kita perlu hening, agar bisa dijemput kembali oleh poros kefitrahan kita. Ka'bah tidak berpindah tempat. Namun, bagi jiwa yang murni, ia akan datang sendiri. 


Tidak semua dari kita mempunyai kesempatan ke Baitullah. Tapi itu bukan alasan untuk jauh dari Nya. Karena sesungguhnya perjalanan yang suci, bukan soal jarak. Tapi soal arah hati. 

“Jika hatimu bersih, maka setiap sujud adalah Makkah, jika hidupmu lurus, maka setiap detak adalah Talbiyah.”. Kata Rabi'ah Al Adawiyah. 


Tegal, 12 Dzulhijjah 1447 H





Saya tidak tahu harus menulis ini dimulai dari mana. Karena pesimis itu adalah luka. Sulit untuk sembuh. Diantara pesimisme yang berkembang sesama anak bangsa banyak bertebaran di sosial media. Dan kisah-kisah nelangsa yang kita temukan di mana-mana. 


Sastrawan tidak bisa hidup dari sastra, petani tidak bisa hidup dari hasil pertanian, guru tidak bisa menghidupi dirinya sendiri dari kegiatan dia mengajar. Dan para fasilitator pemberdaya sama sekali tidak berdaya. 


Pengangguran, drama-drama pembubaran dan karyawan dirumahkan. Dan teori-teori kurikulum pendidikan kita untuk pembodohan sesama anak bangsa. Karena berbagai faktor itulah. Pesimisme muncul sebagai anggapan yang —sekedar menatap masa depan pun enggan. 



Seolah, sebentar lagi, Indonesia akan hancur. Lebur. 



Saya akan memulai sebuah kisah, barangkali ini bisa dijadikan titik terang, pondasi, melihat Indonesia ke depan– Atau barangkali suatu saat, bangsa ini bukan bernama Indonesia lagi. 

****

Kisah pertama adalah dari baju Parcok. Akronim dari Partai Coklat. Jika Anda pengikut Sosmed aktif, lembaga ini mendapatkan nilai rendah dari netizen. Dari banyaknya kegiatan dan kasus yang ada. Begitulah rakyat kita menilai.


Kata guru filsafat saya dulu, menggeneralisir permasalahannya itu tidak baik. Tidak objektif. Saya ceritakan salah satu personel Parcok yang keren. Setidaknya keren bagi saya. Dia mungkin tidak setenar Hugeng yang dikisahkan Gus Dur. Tapi kisah tirakat hidupnya sejak kecil hingga meraih pendidikannya tidak mudah. Dia menceritakannya padaku di ladang sawah saat itu. Meski dia Parcok, dia lebih senang disebut petani. 


Dia seorang pemberdaya sejati. Kebermanfaatan hidupnya banyak dirasakan oleh masyarakat desa. Pengangguran ia pekerjakan. Bidang dia di Parcok, membidangi ekonomi. Karena integritasnya, ia banyak meraih penghargaan. Sayangnya karirnya hanya mentok di situ-situ saja. Dan dia tidak bersosial media. Jarang dikenal manusia. 


Kisah yang lain dari dua kawan saya, dua orang yang tidak saling kenal. Tapi saya kenal dekat dengan mereka berdua. Yang satu kawan saya saat SMA, yang satunya lagi senior saya di sebuah organisasi. Mereka bekerja dalam instansi yang sama. Mereka adalah tiang penyangga APBN kita, saat saya bertanya, kenapa dia tidak menerima duit dari para cukong itu, intinya mereka bilang. Di angkatan mereka, ada semacam kesepakatan, ingin sekali memutus mata rantai angkatan-angkatan dulu yang memungut TAX yang tidak setorkan ke negara. 


Di dunia akademik, juga ada cerita yang hampir sama. Ketika banyak dosen yang mengejar kepangkatan menjadi guru besar. Beliau malah menghindar. Saya tahu, beliau adalah orang yang paling produktif karya dan pemikirannya. Konon alasan beliau adalah, dia sudah merasa cukup dengan apa yang ada. Namun para koleganya, membantunya. Saat ini beliau sudah bergelar profesor, semangatnya untuk menolak jabatan patut dipercontohkan.


Cerita lain yang membuat saya optimis bahwa Indonesia akan terus jaya adalah, seorang bendahara di sebuah organisasi perangkat daerah. Secara SDM dia biasa-biasa saja. Bukan golongan unggul sebagai manusia. Tapi suatu hari saya saat saya sedang berjalan dengan motor butut saya, saya melihat dia di proyek gorong-gorong pinggir jalan. Tidak berseragam dinas. Bersama pekerja lain, ia ikut terjun menggali dengan cangkul. Saat saya tanya apakah dia mendapatkan honor tambahan dari pekerjaan dia mencangkul, dia jawab tidak. Tentu saja saya tahu, dia bukan pencari panggung, pencitraan untuk kenaikan jabatan. 

“Lalu untuk apa lo ikut menggali?”, tanya saya lebih dalam. 

“Agar suatu hari nanti, di hadapan Tuhan, tenggorokan saya tidak keselek ketika dimintai pertanggungjawaban!”.


****

#DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar

Kelak hidup kalian tidak usah bersaing dengan siapapun. Ucapkan pada yang lain. Silahkan mendahului dari sisi manapun. Hidup ini perjalanan pribadi dan abadi. 


Tumbuhlah dengan indah, tanpa merusak hal di sekitarmu. Kita tidak sedang berlomba dalam perkara dunia, tapi perihal menjadi yang terbaik di sisiNya. Barangkali dengan cara itu, Tuhan Maha Tidak Tega melihat Indonesia selesai. 


Kata Iksan Skuter pada sebuah Podcast, tugas seniman itu berkarya, tugas guru adalah mengajar, tugas petani bertani. Tidak lebih, tidak kurang. 



Ini tulisan Om Bud, yang saya gubah sedikit. Sangat relevan denganku yang dulu menggebu-gebu. 

*****

Dulu saya pikir hidup itu medan perang. Setiap hari saya bangun dengan pikiran bahwa saya harus "mengalahkan hari ini". Saya paksa semua hal berjalan sesuai rencana. Kalau tidak sesuai, saya anggap itu kegagalan.


Sampai suatu hari, saya duduk di taman sendirian. Tak ada yang spesial. Hanya pohon, langit, dan angin sore. Tapi sore itu saya sadar—tak satu pun dari mereka sedang melawan. Pohon tidak memaksa daun bertahan. Awan tidak protes ketika hujan turun. Bahkan matahari pun tahu kapan harus tenggelam. Alam seperti menepuk bahu saya pelan: "Kenapa kamu terus melawan, padahal kami hanya sedang mengalir?"


Sejak itu, saya mulai mencoba mendengar. Lebih sering diam. Lebih sering bertanya daripada mengatur. Ketika sesuatu tak berjalan sesuai harapan, saya tidak langsung menyalahkan hidup. Saya tanya dulu: “Apa mungkin ini arah yang lain, bukan kegagalan?”


Saya belajar bahwa bersinergi dengan semesta bukan berarti pasrah. Tapi belajar kapan harus bertindak, dan kapan harus diam. Belajar membedakan mana yang memang harus diperjuangkan, dan mana yang perlu dilepaskan.


Ternyata, semesta tak pernah melawan saya. Saya aja yang terlalu sibuk jadi komandan, sampai lupa bahwa saya bagian dari orkestra besar yang bernama kehidupan.


Suatu pagi saya duduk di halaman rumah, menatap semut yang mondar-mandir membawa remah roti. Di sebelah saya, kucing tetangga melintas dengan langkah malas, sementara burung gereja berkicau dari atas pagar. Saya tersenyum. Mereka semua sibuk dengan urusannya masing-masing, tapi entah kenapa pagi itu terasa hidup.


Saya jadi sadar: saya tidak sendiri di planet ini. Kita semua—manusia, semut, burung, pohon, air, batu—adalah sesama penghuni bumi. Sesama penduduk alam semesta.


Manusia memang sering gak tau diri. Kita merasa pemilik bumi. Tanah, hewan dan pepohonan adalah asset. Padahal tanpa makhluk lain, tanpa pohon yang memberi oksigen, tanpa lebah yang membantu bunga tumbuh, tanpa angin yang menggerakkan awan...apa yang tersisa dari kehidupan?


Sejak itu, saya mulai membiasakan sesuatu yang mungkin terdengar aneh: saya mengajak mereka bicara. Kadang saya menyapa pohon. Kadang saya bilang “terima kasih” ke air yang saya minum. Kadang saya minta maaf ke tanah yang saya injak. Mungkin terdengar konyol, tapi rasanya hangat.


Semesta ternyata tidak pernah sunyi. Ia selalu menjawab. Lewat angin. Lewat gerak daun. Lewat perasaan yang muncul tiba-tiba, entah dari mana. Semesta bicara, kalau kita mau mendengar.


Saya percaya: kalau kita mau menjaga bumi ini, kita harus mulai bersilaturahmi dengan seluruh penghuninya. Bukan hanya manusia, tapi juga makhluk lain yang selama ini kita anggap diam. Mereka bukan diam. Kita saja yang tak pernah menyapa.


Menjaga bumi bukan tugas manusia sendiri. Itu kerja kolektif. Kita perlu berteman, bukan hanya memakai. Perlu mendengar, bukan hanya meminta. Perlu berbicara bukan memerintah.


Ketika kita mulai hidup bersama, bukan di atas yang lain, semesta pun akan ikut merawat kita.


Dulu saya pikir suara semesta itu semacam bisikan gaib atau petunjuk mistis yang muncul tiba-tiba. Ternyata bukan.


Suara semesta sering datang sebagai rasa. Rasa yang lembut tapi menggelitik, muncul saat saya diam. Saat saya berhenti dari rutinitas yang bising, duduk tenang, dan benar-benar hadir.


Saya ingat suatu sore, saya duduk di bawah pohon jambu yang tumbuh di belakang rumah. Angin sore menyentuh pelan kulit saya. Daun-daunnya berdesir seperti membisikkan sesuatu. Dan entah kenapa, sore itu saya merasa damai sekali. Rasanya seperti dipeluk. Padahal saya sendirian.


Mungkin itulah suara semesta.


Kadang semesta tidak berbicara lewat kata-kata. Ia berbicara lewat getaran. Lewat angin yang tiba-tiba berhenti, lewat hujan yang turun di saat hati sedang berat, lewat pelangi yang muncul setelah hari-hari mendung. Lewat seekor kupu-kupu yang hinggap di tangan, seolah bilang, “Hei, tenang, kamu tidak sendiri.”


Dan untuk bisa mendengar semua itu, kita harus belajar satu hal penting: diam.


Bukan diam karena tak tahu harus berkata apa, tapi diam yang penuh kehadiran. Diam yang tidak melarikan diri dari rasa, tapi justru menatapnya. Diam yang membuka pintu-pintu batin, agar suara-suara lembut dari luar bisa masuk.


Semakin saya diam, semakin saya peka.


Saya mulai bisa membedakan: mana suara hati saya sendiri, mana suara ego, mana suara semesta. Tiga hal itu sering tumpang tindih, tapi pelan-pelan saya belajar membedakannya lewat latihan sederhana: duduk, napas panjang, dan tidak buru-buru menjawab dunia.


Mendengar semesta adalah keahlian yang bisa dipelajari. Bukan karena kita jadi sakti, tapi karena kita belajar hadir. Hadir sebagai manusia di tengah rimbunnya kehidupan lain, sebagai salah satu dari banyak makhluk yang sama-sama ingin hidup dengan damai.


Semesta memang tidak selalu memberi jawaban yang kita mau. Tapi ia selalu memberi jawaban yang kita butuh. Kalau kita mau benar-benar mendengar.


Kata sastra jalanan yang pernah saya baca di bokong truk, “cepat-cepat mau ngejar apa, pelan-pelan nungguin siapa”. Hidup semengalir saja. 


*****

#DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar




Dalam sebuah diskusi film, di Gedung B6, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang, Dedi Mizwar mengatakan: ”Sekolah itu penting, agar tahu bahwa sekolah itu tidak penting”.


****
Toha, namanya diabadikan Tuhan dalam Alquran. Tapi bukan itu, Toha adalah nama bapak kawan saya. Sahabat saya ini umurnya jauh dibawah saya. Manusia seusia saya ini bisa nyambung dengan umur berapapun. Termasuk dengan bapak kawan saya yang jauh lebih sepuh. Jika nongkrong dan ngobrol dengan para tetua,, yang diceritakan adalah kisah-kisah terdahulu sebagai bentuk kejujuran kehidupan. Inilah Pak Toha dengan hikayatnya yang diceritakan. 


Barangkali ini adalah kisah biasa. Kisah-kisah zaman dulu dengan berbagai perjuangan, kelaparan, dan kemiskinan. Namun sesungguhnya, dibalik kisah ini saya tahu, Pak Toha adalah orang kaya, kaya hatinya, kaya pengetahuannya. Dan paling penting kaya cita-cita luhurnya. 


Saya akan menarik seting kisah ini. Cerita ini bertempat di sebuah desa di lereng Gunung Slamet. Listrik baru masuk desa ini pada saat kawan saya lahir di dunia, 1995.

Pagi itu, cuaca agak mendung Pak Toha membuka obrolan dengan saya perjuangannya sekolah SD pada tahun 1970an. Di desanya dulu, belum ada SD sekolah SD hanya sampai kelas 3, itupun bukan bangunan SD, hanya gubuk rumah warga yang disulap sebagai kelas untuk pembelajaran, selepas kelas 3, yaitu kelas 4, SD hanya ada di desa tetangga yang harus melewati bukit dan jalanan terjal. Pantas saja, dari jumlah teman-teman Pak Toha saat kelas 1 sampai kelas 3 berjumlah 40, hanya tersisa 4 yang melanjutkan ke kelas 4 hingga kelas 6 di desa tetangga.

Dia mengaku untuk pergi ke sekolah, saat musim hujan adalah sebuah hal yang paling payah, jalanan licin, tidak ada payung, baju basah, apalagi sepatu sebagai alas kaki. Pada musim kemarau, lebih parah, jalanan berdebu luar biasa, hingga terkadang dia dan kawan-kawannya terbatuk-batuk. Singkatnya, dalam musim apapun, pergi sekolah adalah hal yang tidak menyenangkan. Terlebih pada zaman itu, ketika kemiskinan dan kelaparan adalah teman, berangkat sekolah belum tentu tersedia sarapan. 



Dulu itu – entah dengan sekarang,, pendidikan dan sekolah tidak terlalu penting. Terlebih bagi perempuan. Dulu, ketika saya belajar dasar-dasar pendidikan dan gender, saya rasa, anggapan perempuan yang hanya Tiga Ur: Dapur, Sumur, Kasur, adalah teori belaka. Ternyata hal seperti ini sangat kental di masyarakat desa kawan saya pada saat itu. 


Pak Toha mempunyai lima anak, empat diantaranya adalah perempuan. Yang laki-laki hanya kawan saya itu, dia anak nomor tiga. Pak Toha sebagaimana lelaki desa biasa, tentu saja bukan orang kaya, saat para anak perempuannya sekolah sampai SMP, dan SMA, banyak yang mencemooh, apalagi sampai di awal milenium, perempuan pertamanya kuliah, tidak ada dukungan sama sekali, dari keluarga besarnya, karena latar belakang Pak Toha di desa yang hanya kalangan menengah ke bawah, kata-kata 3 Ur tadi sering keluar dari masyarakat desa. Tapi tidak dengan Pak Toha, optimisme akan masa depan, dan cita-cita menghilangkan kebodohan tidak melihat gender anaknya. Keempat anaknya adalah sarjana di kampus Yogya. Tinggal  perempuan terakhirnya yang sekarang sedang skripsi di Kampus Bandung.

Dengan latar belakang ekonomi Pak Toha tersebut, yang saya herankan, adalah, kok ada saja rezekinya untuk pendidikan anak-anaknya.

Saat anak perempuannya kuliah di Yogya, misalnya, Pak Toha berkisah, dia menjual 2 ekor kerbaunya untuk membeli laptop! Ya, harga laptop jaman dulu belum terjangkau, dan satu kerbau dewasa itu, yang sekarang mengalami inflasi ekonomi berharga paling murah 25 juta!

Ada lagi, saat anaknya yang keempat wisuda kemudian menikah, Pak Toha yang petani itu, sedang menanam cabai, satu kilo cabai pada saat itu mencapai 90 ribu, kok ya ndilalah ada.

Sekarang, ketiga anak perempuannya berkiprah dalam dunia kerja masing-masing, yang pertama selain menjadi guru, dia menjadi tokoh di desa, yang kedua dan keempat tinggal di Yogya, bekerja di bidangnya. Banyak gadis-gadis di desa terinspirasi kepada para anak perempuan Pak Toha, mereka mengejar pendidikannya, mimpi dan cita-citanya. Kawan saya sarjana dalam bidang pertanian, dia banyak membantu bapaknya dengan ilmu-ilmu pertanian mutakhir, seolah dia yang akan disiapkan bapaknya menjadi petani generasi  masa depan.


Saat saya mengkonfirmasi kepada kawan saya tentang kisah-kisah tersebut, 

“Bro, bapak lo luar biasa!”,

“Bukan, bro, bukan bapak gw yang luar biasa, tapi kakek gw yang keren.”.

Kawan saya menceritakan, bahwa, kakeknya berpesan, pendidikan itu penting, motivasi itu yang menjadikan Pak Toha bisa sampai kelas 6 SD, walaupun saat ujian kelas 6 Pak Toha tidak lulus, karena ujian kenaikan tingkat pada saat itu harus dilakukan di Sekolah di ibu kota kecamatan, sementara untuk pergi ke kecamatan pada saat itu belum ada jembatan.

****

#DearDifa
#DearHilwa

#DearAsfar




Saya tidak tahu, saya yang seperti ini, bagaimana nantinya akan memberikan fasilitas pendidikan, kesehatan kalian di masa depan, selain berharap pada Tuhan Yang Maha tidak Tegaan. Kembali lagi, pendidikan itu penting, agar kita tahu bahwa SISTEM pendidikan kita itu sebenarnyatidak penting.






FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE