Pada akhir tahun 2023 lalu, Hamid Dabashi, intelektual Iran yang menetap di AS dan mengajar di Universitas Columbia, melalui tulisannya (opini) di MEE, salah satu media elektronik yang serba " sedang-sedang", meminta agar pemerintah Iran ikut campur di persoalan genosida Israel terhadap penduduk sipil di Gaza. maksudnya melakukan intervensi militer membela bangsa Palestina. Saya lupa judul opini di MEE tersebut. waktu itu saya spontans batin, kok tumben kamerad ini berharap pada pemerintah Iran yang sering dikritiknya untuk tidak ragu melawan Israel secara militer? [Kamerad adalah kata sapaan dalam ideologi sayap kiri, seperti halnya kata Bung untuk memanggil bung Karno].
Sebelum melanjutkan, saya ingin bercerita tentang Dabashi.
Dalam rentang waktu kurang dari lima tahun, Dabashi telah menulis setengah lusin buku tentang negerinya. Tentang Iran. Semua bukunya tentang Iran ingin menunjukkan kekayaan kultural Iran, terutama kekayaan akan seni dan pengetahuan; keragaman aliran politik; keragaman religio maupun ideologi yang berkembang; posisi Syi'isme dalam rentang sejarah Iran; dampak kolonialisme dan tumbuhnya kultur pelacur imperial (the imperial whore) di tengan kelas menengah-terpelajar Iran ( ini penyakit umum di mana mana).
Saya suka membaca tulisan kawan Iran satu ini, walaupun tidak sepenuhnya setuju. Kritik tajamnya terhadap para mullah dan pemerintahan mereka yang dianggap Dabashi korup dan kehilangan ruh Syiahnya, saya imbangi dengan membaca banyak buku tentang Syiah dengan beragam aliran dan kroniknya. di antaranya saya saya membaca pakar Syiah Ismailiyah, farhad daftary.
Sikap sekulernya secara intelektual hampir saja membuatnya "melupakan" kesyiahannya. Ia tidak ingin tampak saleh sebagaimana para mullah yang dianggapnya tertinggal dan jauh dari kekayaan kultur Persia yang luar biasa. Mistisme sekular berdiri di atas fondasi: zahir tampak maksiat, batin tercerahkan.
salah satu yang sering diulangnya, kebanggaannya menceritakan latar belakang keluarganya di Ahwaz yang unik.
Ibunya seorang penganut Syiah yang taat, seringkali keras kepada agar belajar ilmu agama: solat dan membawa al-Qur'an. dari kecil membiasakannya melakukan sejumlah ritual Syiah. Membawanya menziarahi berapa situs suci Syiah secara reguler, termasuk datang ke makam Imam Reza di Mashad.
Sementara ayahnya, seorang pekerja di perusahaan kereta api. setiap kali ia pulang kerja, sambil memutar radio ia menenggak vodka. Jarang menunjukkan diri sebagai bagian tradisi Syiah.
Dabashi pada awal karirnya banyak menulis tentang Islam, tentang sejumlah sufi dan sufisme dari Iran dan yang diterima di kalangan Suni, seperti Syaikhul Maqtul Ainul Qudhat Hamadani dan tokoh lainnya.
Setelah mendalami sosiologi pengetahuan dan menjadi guru besar di Universitas Columbia, ia semakin keras mengkritik pemerintahan para Mullah di negerinya. Tapi ia lebih "kejam lagi" mengkritik negara imperialis semacam AS, kroni supremasis-rasisnya di Amerika yang tidak pernah sembuh; menghabisi para intelektual pesolek dan lacur, terutama mereka yang berlatar belakang dunia ketiga (tidak sedikit dari Iran); Dan kegundahannya dengan para pemimpin dunia Islam di Timur-Tengah.
Suatu kali (pernah saya tulis) Ia harus ke Palestina dalam suatu konfrensi ilmiah tentang perkembangan perfilman Palestina. Ketika pesawatnya mulai terbang rendag di atas tanah pendudukan Israel, ia melihat Al-Quds, di luar kuasanya, ia tidak sadar, bibirnya merafal al-Fatehah. Setelah mendarat dan melewati sejumlah pos pemeriksaan, ia sampai di hotel yang disediakan panitia yang ternyata tidak jauh jaraknya dari al-Quds. Selesai mandi ia mencari taksi menuju al-Quds. supirnya bertanya: apakah kamu seorang muslim? Dabashi menjawab, aku seorang Syiah. Supir taksi melihat mimiknya sehingga keduanya ngakak di perjalanan ke Al-Quds yang sakral itu. memasuki halaman Al-Quds ia semakin dak kuasa pada dirinya, kesyiahannya yang tertanam kuat dalam dirinya (embodied) keluar, ia merafal doa-doa yang di masalalu sering dibacanya. Airmatanya tidak terasa memabasi jenggot yang tidak lebat.
kembali ke pertanyaan, kenapa Dabashi meminta pemerintah Iran segera ambil bagian secara militer melawan Israel di kawasan?
Dabashi menyadari bahwa Iran, walaupun bukan negara paling besar di kawasan Timur Tengah, satu-satunya kekuatan yang mampu melakukan campur tangan militer melawan dominasi dan kecongkakan Israel.
Seperti dalam banyak tulisannya, di tengah kekurangan pemerintahan para Mullah, Iran masih memiliki ragam elemen lain dalam pemerintahan, terlebih di tengah masyarakat sipilnya.
Banyak sekali ilmuwan, intelektual, seniman dan kelompok progresif di tengah warga sipil Iran yang memilih menetap di Iran dan memiliki sikap kritis pada pemerintahan para Mullah. dan paling penting adalah mereka tidak mau jadi piaran imperial AS dan Zionis.
Intinya, Iran bukan semata pemerintahan para Ayatullah. Dan politik syiah dalam konteks negara modern tidak sesempit yang ditulis para analis soal pemerintahan para mullah.
Iran tidak saja terlihat lebih maju dari segi pengembangan teknologi berat dan informasi dibandingkan negara muslim lainnya di kawasan. Dan teknologi berat bukan satu-satunya ukuran untuk menunjukkan bahwa Iran mampu melakukan pengimbangan dominasi para penjajah dan para imperial di kawasan Timur-Tengah. harus dikatakan, seperti ditulis orang Dabashi, Iran memiliki bakat dan kultur anti- rendah- diri dihadapan kaum imperial, tidak mau tunduk, dan tidak mau menjadi domba para imperial dan kaum zionis.
Dan tentu harus diakaui adanya keragaman pemikiran politik syiah yang lebih maju dibandingkan dengan politik sunni, terutama kemampuan para imam dari kalangan dua belas imam dan imamiyah dalam merumuskan model dan design politik Syiah ketika harus berhadapan dengan model negara-modern yang mematikan dan ingin menyaingi peran agama itu sendiri.
Sunni sejak semula memang agak cuek dengan urusan politik, doktrin politiknya terbentuk belakangan, makanya hanya mampu dan cocok bikin Ormas. Dan paling jauh jadi Parpol. itupun ormas dan parpolnya dijejali para pelacur imperial seperti AS dan Yahudi. Tidak sekedar ormas besar, sampai ormas dan parpol yang jenggotan itu bagian dari kultur imperial.
Saya tidak setuju dengan analisa berapa orang Indonesia yang menganggap Iran hanya ingin memperluas pengaruhnya di kawasan Timur-Tengah. perang memabalas serangan Israel (dengan beckingan AS) oleh Iran hanya akan berakhir sebagai perang balas-balasan yang tidak akan ada akhirnya, dan tanpa pemenang. Langkah pemerintah Iran dan masyarakat tidak sesempit itu dalam melihat posisi negerinya di kawasan Timur Tengah.
di tengah embargo, pengepungan amerika dengan deretan pangkalan militernya, permusuhan negara-negara Arab, dan kesulitan lainnya, Iran tetap menunjukkkan bagaimana caranya hidup terhormat, yakni menghargai pengetahuan apa saja, menyelami akar kebudayaan sendiri, mandiri dan berani melawan. '
Jadi tidak sekedar kalah menang. Tapi bagaimana tegak tidak mau tunduk walaupun keliatan lusuh dan lemah. Inilah mistisme khas Iran (saya tidak mengatakan Syiah) sebagaimana dikatakan oleh Guru Agung abad 16, Shadruddin Muattallihin (Mulla Shadra), daalm tafsirnya atas surat al-Fatehah, bahwa ketika insan kamil mengejewantah pada diri seorang, apakah masih relevan masalah mazhab dan aliran?
– Tuan Guru Hasan Basri Mataram.