Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

 #DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar

Saya mempunyai sirkel kawan pertemanan di fesbuk, dia adalah mantan jurnalis, namanya Ndoro Kakung, tulisan-tulisannya bernas, dia menjadikan tulisannya bukan sebagai konsumsi dia mencari uang lagi, hanya sekedar iseng, tapi keisengan tulisannya pagi itu,  tentang refleksi dunia wartawan dengan berbagai kabar, hingga membuat saya yang hari-harinya biasa saja, berpikir kembali. masa depan nanti akan seperti apa.

Tulisan Ndoro Kakung pagi itu membuat saya kangen tulisan-tulisan Cak Rusdi – Allah Yarhamhu Fi Qobrihi, dia wartawan juga, penuh mimpi dan idealisme tinggi, mendobrak anggapan populer, semacam Jacques Derrida dalam teori dekonstruksi. Ndoro Kakung menulis tentang kelelahan emosi kita sebagai warga Indonesia, dengan dicekoki berita-berita negatif yang terus membanjiri timeline dunia maya: tawaran antar kelompok, pembunuhan, kecelakaan, perampokan, pencurian, korupsi, dan lain-lain, seolah tidak ada berita bagus dan positif sama sekali.

Good News is bad news, kata Ndoro Kakung, bukan hanya sekedar menulis berita tentang keburukan, dia berkisah dulu bagaimana kantor berita tempat dia bekerja, mendapatkan surat dari ratusan pembaca, beberapa pembaca merasa terinspirasi penuh haru. Berita yang dimunculkan dalam surat kabar koran Ndaro Kakung berisi cukup sederhana, ia hanya menulis tentang seorang nenek yang tinggal pelosok pulau Nusa Tenggara, jauh dari kota.


Nenek itu kesehariannya hanya berjual di pasar, pedagang sayur biasa, namun yang membuat decak kagum pembaca adalah, dia masih belajar membaca alfa beta, belajar dari cucunya yang duduk di sekolah dasar kelas tiga. Kata kuncinya adalah ‘nenek belajar membaca’. Ada semacam mimpi yang terus berproses untuk tumbuh menjadi nyata. Berita itu, kata Ndoro, adalah yang bisa menjadi pupuk harapan dan cita-cita. Tidak seperti sekarang ini.

Pembaca kelelahan emosi, para wartawan nya, apalagi.


Kemarin Jumat sore, saya membaca Cerpen Djoko Subinarto. Cerpen mingguan Kompas, judulnya: Sekolah Terakhir Republik. Penulis menseting waktunya di Tahun 2045, tahun yang digada-gadakan pemerintah kita sebagai tahun emas, seabad kita merdeka

Saya membaca cerpen itu dengan berbagai emosi saya, marah, sedih, dan kecewa. Saya rasa, Cerpen itu semacam ramalan yang akan menjadi nyata. Dan saya pernah mengikuti sejarah yang tidak dibagikan kurikulum kita: negara bisa melakukan apa saja.


Hal paling sedih adalah #DearDifa bercita-cita menjadi guru di masa itu. Padahal menjadi guru dengan segala perjuanganya, kemudian dicekal oleh kebijakan negara.

Sesedih itu, sebagai warga negara konoha. Cerpen yang saya maksud ada di sini Cerpen Sekolah terakhir


Kira-kira seabad yang lalu, Umi Kultsum, penyanyi legenda Mesir, menyanyikan lagu A Ghadan Al Qak. Apakah besok kita akan bertemu, duhai kekasih. Syair yang penuh kegalauan, dan penuh ketidak pastian. Bagi seorang pecinta, namun takut merindu.


Di tanah air, lebih sadis lagi. Kita disajikan penyanyi legendaris. Yang menyanyi dengan bahasa ibu kita sendiri. Lord Didi Kempot, lagu-lagunya relate dengan para sobat ambyar. Ambyar hatinya. Ambyar hidupnya.


Namun ada kisah, seseorang yang merasa dirinya ambyar itu, ia jadikan ke-ambyaran hatinya sebagai kekuatan, untuk lebih meloncat lebih tinggi dalam hidupnya. Tapi ia tahu persis, bahwa hidup itu bukan soal berlomba pencapaian apapun dengan orang lain.


Persis seperti cerita Gus Dur, Konon ketika dia ditanya bagaimana cara menulis yang konsisten, dia menjawab, kamu harus pernah merasakan patah hati dulu dalam hidupmu.


Dia adalah mantan muridku, ketika saya mengajar di SMK dulu, namanya Je. Pengusaha Martabak yang tengah viral. Sebelum ia mendirikan usahanya sendiri, dia ikut bekerja Martabak juga di temannya Er. Je dan Er dulu satu kelas, sama-sama murid saya.


Mereka adalah golongan Gen Z yang bukan pemalas. Mereka tipe petarung. Tidak pernah memelas kasih pada negara. Meraka bukan yang suka tongkrongan, ngalor ngidul tidak jelas. Seperti yang banyak digeneralisir di Sosmed – Gen Z dengan segala keburukannya. Seolah generasi si pemberi stereotip itu generasi dewa yang serba bisa.


Kemarin saya melihat, komentar di status  Fesbuk, saat Dahlan Iskan dan Direksi Jawa Pos sekarang berseteru, padahal Dahlan Iskan yang dulu membesarkan nama Jawa Pos, salah satu komentar followernya mengatakan bahwa, ia berterimakasih kepada Dahlan Iskan dan Jawa Pos, saat itu tahun 80an, si follower dulu mengais rezeki dari loper koran, dan penjajakan Koran-koran pagi di Surabaya. Ia berterimakasih karena secara tidak langsung Jawa Pos dan Dahlan Iskan membentuk karakternya untuk menjadi pebisnis tangguh. Mentalnya menjadi kuat.


Saya tidak tahu, mental yang seperti apa yang telah membentuk Er dan Je sehingga menjadi pengusaha sukses di usia muda. Er sudah tamat S1. Sudah menikah. Menikahi perempuan yang dia cintai. Sementara Je. Je ini unik. Kisah cintanya...  Ah sudahlah.


Martabak Rindu tentu saja tidak seperti Markobar. Dia dilahirkan betul betul dari dedikasi pemuda. Banyak diendorse artis-artis ibu kota. Para Food vlogger juga banyak yang datang. Yang manis, ketebelan adonannya, brutal topingnya. Yang telor sangat istimewa.


Martabak Rindu setidaknya sudah mempunyai 6 cabang yang tersebar di Jabodetabek. Aslinya di Bogor. Milik Er. Je sebelum membuka kedainya sendiri, meminta doa padaku. Padahal saya bukan agamawan yang do'anya pasti dikabulkan Tuhan. Namun setulus hati saya, saya selalu terkesan untuk orang yang selalu konsisten dalam berjuang.


Je ini luar biasa, dari usahanya, adik-adiknya bersekolah tinggi. Dan segala Pencapaian-pencapain lainnya. Sepuluh tahun yang lalu Je dan Er adalah muridku. Belajar kosakata, belajar macam-macam ideologi dunia. Tapi kedepannya mereka adalah guruku. Dalam berjuang dalam negara yang ekonominya, sebagai kelas menengah seperti kita, tidak baik-baik saja.

Seorang kawan dalam story WhatsApp menggunggah screenshot chat dia dengan mantan muridnya dulu di SMK.

“Pak, bagaimana cara menjadi penyabar seperti bapak? ”
Sepertinya di kehidupan nyata, si murid butuh bernafas untuk menjadi seorang yang lebih sabar. Dia mempunyai uswah, bahwa gurunya dulu di SMK adalah keteladanan sabar itu.
*****
Terkadang manusia menjadi bertumbuh, setelah sekian waktu mengalami rasa sakit dan penderitaan. Tentu saja, ini tidak didapatkan jika hidup dalan zona nyaman. Konon, ada sedikit penjelasan dari neurosains.


Jadi, saat seseorang berhasil melewati masa sulit, otak melepaskan dopamin. Sebuah hormon kebahagiaan, ia memberikan rasa bangga dan motivasi. Maka, penderitaan bukanlah tanda  gagal. Ia adalah proses otak yang sedang berlatih menjadi lebih hebat. Lebih keren.


Tapi sewaktu-waktu kita  mengalami jalan buntu. Capek berpikir. Maka sikap "berserah kepada Tuhan" menjadi cara terbaik.


Dalam kondisi ini, otak justru tidak efektif menemukan solusi, dan seseoranh merasa stuck. Namun, ketika kita berserah, entah dalam bentuk doa, pasrah, atau meditasi spiritual, sistem saraf kita masuk ke dalam mode istirahat dan pemulihan yang disebut default mode network (DMN).


DMN aktif saat kita tidak fokus pada tugas tertentu dan menariknya, di sinilah banyak ide kreatif dan insight tiba-tiba muncul. Fenomena ini disebut juga “aha moment” atau insight problem-solving.


Ketika logika berhenti dan kita berserah, otak masuk dalam kondisi tenang yang justru membuka ruang bagi ide, koneksi, dan solusi muncul. Dalam neuroscience, ini disebut “insight through surrender” keajaiban yang muncul bukan karena kita menyerah, tetapi karena otak akhirnya diberi ruang untuk bernafas, memproses, & terinspirasi.


Tulisan  ini sebagai refleksi hari-hari yang begitu berat. Saya mendapat banyak ide dan keajaiban bertahan karena otak adalah akal budi yg Tuhan beri untuk kehidupan.


Percayalah, wahai aku. Iman sebagai jalan filsafat epistemologis kebahagiaan. Tuhan akan menunjukkan yusro disebelah usri. Perpaduan akal, hati dan kesabaran akan menunjukkan jalan.

Saya punya Betet. Burung paruh bengkok. Bertubuh besar. Lebih besar dari Lovebird. Di komunitas Betet, burung ini bisa dilatih berbicara. Para pelatih secara tidak langsung menggunakan teori linguistik behavior. Betet yang saya punya bukan Betet bahasa. Ia fokus sebagai penerbang. Terbang tinggi. Jika dipanggil, ia kembali lagi ke tangan pelatihnya. Persis seperti burung merpati jantan jika di klepek-klepek merpati betina.


Betet saya ini asli Jawa. Endemik dari Jawa. Berasal dari pegunungan Merapi Kabupaten Magelang. Di komunitas free fly, Betet merupakan Burung yang mempunyai harga lumayan. Karena kecerdasannya. Komunikasinya dengan manusia. Dan segala indikator menunjukkan Betet ini luar biasa. Meskipun tidak sekeren Macaw atau Parkit dan Nuri. Betet tetap masuk dalam radar burung yang dicari dalam komunitas ini.


Betet Jawa mempunyai saudara dekat. Hampir mirip. Namanya Betet Enggano. Enggano lebih besar dari Betet Jawa. Ekornya juga lebih panjang. Lebih cantik. Berasal dari Pulau Enggano. Provinsi Bengkulu. Salah satu pulau terluar dari Pulau Sumatera. Berjarak 151 kilometer. Ditempuh kurang lebih 12 Jam perjalanan dengan kapal.


Namun, kecantikan Betet Enggano sepertinya tidak akan mempengaruhi kondisi Pulau Enggano saat ini. Pulau ini terisolasi lebih dari 5 bulan. Disebabkan oleh pendangkalan parah di Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu. Menghambat akses transportasi laut ke pulau tersebut. Kondisi ini berdampak pada berbagai aspek kehidupan masyarakat di sana. Ekonomi, akses layanan dasar : pendidikan dan kesehatan, serta kesediaan pangan.


Regulasi negara kita sudah ditetapkan, melalui Inpres. Namun belum juga solusi itu keluar. Data Litbang Kompas tahun 2023 jumlah penduduk pulau ini sekitar 4000 an, terdiri dari 5 desa.


Enggano tentu saja lebih kaya alamnya. Penduduknya luar biasa. Bertahun-tahun tinggal di pulau terluar Sumatera. Bahkan beratus-ratus tahun dikelilingi samudra Hindia. Ia tetap eksotis.  Sesekali Betet Enggano terbang menampakkan diri.


Mereka akan lebih kuat lagi, Do'a kami bersama mereka yang selalu terdampak dari apapun itu kebijakan dan kekuasaan yang tidak berpihak. Sebagaimana malam ini, malam 10 Asyura. Kesyahidan Husain dalam tanah Karbala.

Di acara haul masyayikh salafiyah Pemalang, seorang lelaki menghampiri saya dan bertanya dengan ramah, “kang Aziz, yak?”


Saya mengamati wajahnya sejenak. Dia tampak jauh lebih muda dari saya: kacamata bundar, berpeci, menggendong anak kecil, dan tubuhnya tinggi jangkung. Saya menebak-nebak, tapi wajahnya benar-benar terasa asing. 


Akhirnya saya menyerah. Otak saya gagal menemukan ingatan dan tidak menemukan clue dari mana seharusnya saya menggali memori untuk mengenal orang ini.


"Ngampunten saya lupa. Sampean siapa ya?" tanya saya selembut mungkin.


“Saya Bagus,” sahut orang itu tersenyum maklum.


Nama itu seperti kunci yang membuka pintu masa lalu. Bagus. Saya langsung mengingat. Anak kecil yang dulu masih SMP, masih lugu. Tapi wajah ini… bukan dia. Rasanya seperti puzzle yang belum lengkap. Suara dan gaya bicaranya mirip, tapi wajahnya tetap terasa asing.


Meskipun demikian kami tetap mengobrol. Pembicaraan mulai asyik dan seru. Saya tertawa saat dia menyebut satu demi satu kenangan lucu, nama ustadz killer, dan momen ketika kami kabur bareng dari ngaji. Dan di tengah tawa itu, terjadi sesuatu yang aneh dan cukup magis.


Pelan-pelan, wajahnya mulai berubah di mata saya. Seperti kabut yang menyingkir. Dari balik lelaki tegap itu, saya mulai melihat mata Bagus yang dulu, mata jenaka yang menyipit saat tertawa. Senyumnya kembali seperti dulu, bahkan cara dia mengangguk pun terasa familiar. 


Saat itu, dada saya terasa hangat dan aneh. Rasanya seperti sedang menonton film yang wajah tokohnya berubah dari sekarang ke masa lalu, tapi ini bukan film. Ini nyata. Saya sedang melihat waktu bekerja mundur, dan teman lama saya kembali hadir dalam bentuk yang saya kenal dulu. 


Aneh banget, kan. Apa yang sebenarnya terjadi di momen tersebut? Mengapa otak bisa “mengganti” wajah seseorang secara perlahan seperti itu? Saya yakin semua orang pasti pernah mengalami hal ini. Utamanya saat dalam situasi reuni.


Secara ilmiah, hal ini bisa dijelaskan. Ketika pertama kali melihat Bagus, bagian otak saya, yang bernama fusiform face area, tidak mengenali wajah tuanya. Otak bagian ini memang bertugas mengenali wajah, tapi perubahan drastis akibat pertambahan usia membuatnya ragu. 


Namun ketika Bagus mulai bicara, tertawa, menyebut nama-nama dan cerita masa lalu, bagian lain dari otak saya ikut bekerja. Namanya hipokampus yang menyimpan memori jangka panjang dan korteks prefrontal medial yang memproses kenangan sosial dan emosional. 


Otak menerima data-data baru dan mulai mencocokkan petunjuk: suara, gerakan tangan, gaya bicara, dan humor. Terjadilah apa yang biasa disebut dengan pattern recognition. 


Dan ketika cukup banyak petunjuk cocok, otak membuat “keputusan visual” untuk mengembalikan citra lama yang lebih akrab. Inilah yang disebut visual override, realita baru dibentuk dari dalam. Bukan dari apa yang saya lihat, tapi dari apa yang saya ingat dan rasakan.


Emosi punya peran penting. Karena Bagus adalah bagian dari masa remaja saya, masa yang penuh warna dan hangat, amigdala ikut aktif, menguatkan kenangan dengan lapisan perasaan. Itu sebabnya, saya bukan hanya “melihat” Bagus saat SMP, tapi juga “merasakan” dia seolah tak pernah pergi jauh. Otak saya menyatukan potongan waktu, menciptakan kembali seseorang yang sudah lama hilang di lorong-lorong ingatan.


Dan saat itulah saya sadar, kita semua menyimpan dunia kecil di kepala masing-masing. Dunia yang bisa memanggil kembali siapa pun yang pernah berarti, hanya dari sepotong suara, tawa, atau nama yang akrab. Momen wajah Bagus berubah bukan hanya keajaiban otak, tapi juga bukti bahwa kenangan itu hidup dan bisa menyapa kita kapan saja.


Setelah kami mengobrol cukup lama, Bagus menatap saya dan tertawa kecil. "Sampean tau nggak kang Aziz..." katanya sambil menyeruput teh yang sudah dingin, "...tadinya saya juga nggak ngenalin sampean."


"Hah??" saya kaget.


"Iya, soalnya sampean keliatan tua banget!" katanya sambil ngakak.


Saya melongo.


"Tapi temen-temen yang lain bilang itu sampean. Pas saya perhatiin cara sampean ngomong, cara bergerak, ketawa, baru saya yakin kalo itu sampean."


Saya terdiam. Lalu kami berdua ketawa, agak pahit, agak manis. Saya menyadari bahwa Bagus juga mempunyai pengalaman yang sama. Ternyata saya juga menua seperti semua temen lainnya.


Sebuah pemahaman baru menyeruak bahwa bukan hanya wajah yang berubah dimakan waktu, cara kita memandang dan dikenali pun ikut berubah. Namun justru di situlah letak keajaibannya: bahwa yang sejati dari diri kita bukan hanya wajah, tapi semua jejak yang pernah kita tinggalkan dalam ingatan orang lain.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE