Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

Asisten Penjaga Naskah dan Buku-Buku Ketimuran pada British Museum, London, Inggris mengungkap lengkap tentang siapa Muhammad berdasarkan kitab-kitab sejarah kuno. Benarkah Muhammad adalah nabi yang telah lama ditunggu?


Judul Buku: Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik

Penulis: Martin Lings

Penerbit: Serambi, April 2007

Halaman: 668 Halaman

Judul Asli: Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources, diterbitkan oleh The Islamic Texs Society, Cambridge, United Kingdom 1991


Digubah dari tulisan Cak Rusdi Mathari dalam blognya. 


Lings pernah bekerja sebagai asisten Penjaga Naskah dan Buku-Buku Ketimuran pada British Museum, memang mengungkap lebih lengkap tentang hubungan kaum cerdik pandai kaum Nasrani dengan Nabi Muhammad saw. (semoga Allah memberinya rahmat dan kesejahteraan) meskipun kemudian argumen Lings dianggap sepi oleh kaum Kristen. Informasi tentang kenabian Muhammad menurut Lings, sebetulnya sudah jelas, baik melalui risalah kitab suci (al Quran dan Injil) maupun sumber-sumber klasik: tidak pernah berdiri sendiri. Muhammad menurut Lings, dipengaruhi oleh keturunan, lingkungan, dan tentu saja campur tangan Tuhan. Tiga faktor itu, langsung dan tidak langsung telah menempatkan Muhammad sebagai nabi.


Dari garis keturunan, Muhammad adalah salah satu keturunan Ibrahim melalui Ismail. Nama yang disebut terakhir dilahirkan oleh Hajar budak Ibrahim dari Mesir yang dinikahi atas dorongan dan persetujuan Sarah, istri pertama Ibrahim. Ismail sendiri berarti “Tuhan telah mendengar”. Menjelang setahun setelah kelahiran Ismail, Sarah juga melahirkan anak Ibrahim dan diberi nama Ishak. Atas permintaan Sarah kepada Ibrahim pula, setelah kelahiran Ishak, Hajar dan Ismail diminta meninggalkan Kanaan.


Genesis mengabadikan peristiwa yang dialami oleh Ismail dan Hajar melalui Kitab Kejadian pasal 21. Dalam ayat 10, Injil mengungkapkan, “Usirlah perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba itu akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku, Ishak.” Pada ayat 17 disebutkan, “Apakah yang engkau susahkan, Hajar? Jangan takut sebab Allah telah mendengar anak itu dari tempat ia terbaring.” Di dalam ayat 20, Ismail dikisahkan oleh Genesis menetap di gurun dan juluki sebagai pemanah (Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta 1990). Nama Ismail setelah itu tak pernah disebutkan oleh Genesis kecuali dalam Mazmur pasal 84 ayat 7, yang secara tidak langsung memuji Ismail dan ibunya.


Bakaah dalam Bahasa Arab adalah Mekah. Dan di Mekah Ismail menurunkan banyak suku bangsa, yang terkuat adalah suku Fihr. Suku ini keturunan langsung Ismail dari jalur laki-laki, dan kemudian dikenal sebagai suku Quraisy. Adapun keturunan Ismail dari jalur perempuan disebut sebagai suku Quraisy Pinggiran. Karena pengaruhnya yang kuat, Quraisy dipercaya menjadi pemegang kekuasaan atas Mekah: melayani para peziarah yang datang ke Ka’bah.


Sekitar empat abad setelah Masehi, Qushay seorang laki-laki Quraisy menikahi perempuan bernama Hulayl, keturunan Quraiy Pinggiran. Pernikahan itu membuahkan empat anak laki-laki, salah satunya diberi nama Abdul Manaf. Setelah menikah, Abdul Manaf mempunyai empat anak lelaki; Abdu Syams, Hasyim, Al Muththalib, dan Naufal.


Keliru besar jika ada yang menganggap Muhammad adalah keturunan langsung Al Muththalib. Muththalib dalam hal ini hanyalah kakek buyut tidak langsung dari Muhammad, karena kakek buyut Muhammad yang langsung adalah Hasyim saudara Muthathalib. Selain berkuasa atas Mekah, Hasyim inilah yang membangun dua rute perjalanan kafilah besar dari Mekah: kafilah musim dingin ke Yaman dan kafilah musim panas ke barat laut Arab. Di antara dua musim itu, rutenya diarahkan ke Palestina dan Syiria yang pernah menjadi jajahan Romawi dari Eropa.


Salah satu pemberhentian utama dari kafilah musim panas adalah Yastrib (Madinah). Kendati mayoritas suku di sana adalah Arab, banyak kaum Yahudi yang menetap di Yastrib. Mereka menguasai oasis, dan tetap menjalankan agamanya sendiri, di luar kepercayaan pagan yang dianut hampir oleh sebagian besar suku Arab. Salah suku bangsa Yahudi yang berada di kota itu adalah Khazraj.


Hasyim menikahi Salmah, salah seorang perempuan dari suku Khazraj yang berpengaruh pada sukunya. Meskipun dari istri-istrinya yang lain Hasyim dikaruniai tiga putra, tidak ada yang lebih terkenal dibanding Syaibah, putra Hasyim dari perkawinannya dengan Salmah. Tidak seperti putra Hasyim yang lain yang tinggal di Mekah, Syaibah menetap di Yastrib bersama ibunya. Namun kepandaian Syaibah terdengar hingga di Mekah.


Sewaktu Hasyim menyerahkan kekuasaan Mekah kepada Muththalib, sang adik, Muththalib lalu berinisiatif memungut Syaibah, keponakannya itu, untuk tinggal di Mekah. Karena Syaibah diboyong ke Mekah menggunakan unta milik Muththalib, orang-orang di Mekah lalu memanggil-manggil Syaibah dengan panggilan Abd al-Muththalib atau “budak Muththalib”. Sejak itulah, Syaibah menetap di Mekah dan dikenal dengan nama Abdul Muththalib.


Tentang Kaum Hanif

Dari Abdul Muththalib inilah, sejarah Mekah dan juga sejarah Muhammad, kelak banyak dicatat oleh al Quran dan juga oleh sejarah. Dia memiliki tiga belas anak laki-laki dan enam anak perempuan hasil dari pernikahannya dengan beberapa perempuan. Abd Allah, ayah Muhammad, adalah salah satu dari tiga belas putra Abdul Muththalib itu. Nama-nama lain dari putra Abdul Muththalib yang juga terkenal adalah Harits, Zubair, Hamzah, Abbas, Abu Lahab (musuh utama Muhammad dalam penyebaran Islam di Mekah), dan Abu Thalib (ayah dari Jafar dan Ali).


Ada kisah menarik, ketika Abd Allah akan dinikahkan dengan Aminah dari Bani Zuhra. Dalam perjalanan menuju puak itu, Abd Allah bersama Abdul Muththalib harus melewati daerah yang dihuni oleh Bani Asad, salah satu klan dari Quraisy. Bani ini, termasuk salah satu klan yang tetap mempertahankan kepercayaan Ibrahim di tengah masyarakat Quraisy yang pagan. Nama-nama yang terkenal dari klan ini adalah Khadijah, Waraqah, dan Qutaylah. Pada saat dua lelaki Quraisy itu melintas di wilayah Bani Asad itulah, Qutaylah (saudara perempuan Waraqah) berdiri di depan pintu rumahnya. Qutaylah memperhatikan kedua ayah-anak itu, tapi perhatian utamanya tertuju kepada Abd Allah, laki-laki berusia 25 tahun.


Bukan baru sekali itu Qutaylah memperhatikan lelaki lewat. Tapi kali ini Abd Allah menarik perhatiannya secara istimewa. Memang, dalam hal ketampanan, Abd Allah adalah Yusuf pada zamannya. Tapi, bukan itu yang menarik Qutaylah. Muhammad ibn Ishaq di dalam buku Sirah Rasul Allah, Kehidupan Nabi edisi Wustendfeld, menggambarkan pada saat itu Qutaylah melihat cahaya pada wajah Abd Allah yang seolah memancar dari luar dunia. Qutaylah lalu tak bisa menahan diri untuk tidak menyapa dua lelaki itu dan kepada Abd Allah, dia menyatakan secara terus terang keinginannya: agar Abd Allah memilihnya sebagai istri. Mendapat “lamaran” yang tak disangka, Abd Allah hanya mampu menjawab bahwa dirinya menuruti ayahnya dan harus menikahi Aminah.


Sehari setelah pernikahan Abd Allah dengan Aminah, Abd Allah kembali bertemu dengan Qutaylah. Perempuan itu tak menyapa Abd Allah meski matanya menatap tajam. Ketika ditanya oleh Abd Allah ada apa, Qutaylah menjawab “ Cahaya yang ada padamu kemarin telah hilang. Hari ini engkau tak lagi bisa memenuhi harapanku.” Pernikahan itu berlangsung pada tahun 569 Masehi dan tahun setelah itu dikenal sebagai Tahun Gajah, tahun ketika Muhammad dilahirkan.


Mengapa Qutaylah meminta Abd Allah untuk menjadi suaminya?


Kendati sebagian besar suku Arab seperti Khuzaah, Hawazin, dan juga sebagian dari suku Quraisy adalah kaum pagan, sebagian kecil di antara mereka tetap mempertahankan agama Ibrahim atau setidaknya lebih dekat ke agama itu. Puak Hasyim dan Abdul Muththalib adalah salah satu di antara suku Qurays yang mempertahankan agama Ibrahim: tidak melakukan ritual penyembahan kepada berhala. Di luar mereka, Bani Asad termasuk puak yang menegakkan agama Ibrahim secara murni, jauh dari sikap tradisional. Mereka dikenal sebagai kaum hanif atau ortodok yang menganggap berhala-berhala yang ada di Mekah najis dan menimbulkan polusi. Istilah hanif yang digunakan oleh Lings berbeda dengan yang digunakan oleh Guntur. Guntur menunjuk hanif untuk Bani Hasyim.


Penolakan mereka untuk berkompromi terhadap pemujaan berhala dan seringnya mereka bicara terang-terangan tentang agama Ibrahim, menyebabkan mereka menjadi golongan yang terpinggirkan dalam masyarakat Mekah. Abdul Muththalib mengenal salah satu dari kaum hanif itu yaitu Waraqah, yang bersama kaumnya Bani Asad, memeluk agama Nasrani. Kaum inilah yang meyakini bahwa akan datang seorang nabi setelah Isa as.


Meskipun kepercayaan mereka tidak tersebar secara luas, mereka didukung oleh satu atau dua aliran besar gereja timur dan juga para astrolog dan para peramal. Mengenai kaum Yahudi –karena menurut mereka garis kenabian baru berakhir pada Mesias– hampir seluruhnya sepakat mengharapkan seorang nabi. Pendeta dan para rahib Yahudi meramalkan bahwa tanda-tanda kedatangan seorang nabi telah tiba, dan tentu saja nabi tersebut adalah (harus) seorang Yahudi, karena mereka mengklaim diri mereka sebagai bangsa pilihan.


Adapun kaum Kristen termasuk Waraqah meragukan hal itu. Mereka tidak melihat alasan mengapa nabi terakhir itu harus bukan Arab. Bangsa Arab di mata mereka lebih membutuhkan seorang nabi ketimbang kaum Yahudi, yang setidaknya masih mengikuti agama Ibrahim dan hanya menyembah satu Tuhan dan tidak menyembah berhala. Tidak ada yang bisa meluruskan bangsa Arab dan kesalahan agama mereka kecuali seorang nabi.

Ka’bah sebagai pusat Mekah pada masa itu dikelilingi 360 berhala.


Jumlah itu belum termasuk berhala-berhala kecil dan besar yang disimpan di setiap rumah di Mekah sebagai penjaga rumah. Bila mereka melakukan kegiatan apa pun khususnya jika hendak bepergian jauh, orang-orang Mekah itu akan menghadap berhala dan bersujud di depannya, memohon berkah dan keselamatan. Itu juga yang dilakukan oleh hampir semua bangsa Arab, termasuk sebagian masyarakat Arab Kristen di daerah selatan yaitu di Najran dan Yaman dan di utara dekat perbatasa Syria.


Nestor dan Bahirah

Abdul Muththalib dan kaumnya, Quraisy yang berkuasa atas Mekah dan juga suku-suku pagan tidak memusuhi orang Nasrani. Kaum Kristen yang kadangkala datang untuk memberikan penghormatan pada maqam Ibrahim diterima baik oleh Quraisy, seperti yang bisa mereka lakukan kepada tamu-tamu lainnya. Pada salah satu dinding Ka’bah, kaum Nasrani bahkan diberi kehormatan membuat lukisan Perawan Maria dan anaknya, Kristus –yang gambarnya jelas-jelas lebih menarik perhatian karena berbeda dengan gambar-gambar yang lain.


Waraqah yang dapat membaca dan telah mempelajari Injil dan teologi mampu melihat suatu janji Kristus. Janji itu secara umum oleh umat Nasrani dianggap merujuk ke Mukjizat Pantekosta. Meskipun bahasanya tak jelas (cryptic), mukjizat itu tersirat dalam Injil Yohanes pasal 16 ayat 13 “Ia tak akan berkata tentang dirinya, namun segala yang dapat ia dengar, itulah yang akan ia katakan.”


Sebagai kakak, Waraqah sering membicarakan isi Injil dengan Qutaylah adiknya. Pembicaraannya tentang akan datangnya seorang nabi dan waktu kedatangan itu tidak akan lama lagi, sangat membekas pada diri Qutaylah. Itu sebabnya, ketika melihat Abd Allah, Qutaylah meminta lelaki itu menikahinya: karena pada wajah Abd Allah seolah ada cahaya seperti yang banyak diceritakan oleh para pendahulunya tentang tand-tanda kelahiran para nabi. Sejarah membuktikan bahwa pernyataan Qutaylah kepada Abd Allah sehari setelah pria itu menikah dengan Aminah — cahaya itu tak ada lagi pada wajahnya– menjadi kenyataan, karena cahaya (kenabian) itu berpindah kepada Muhammad, putranya; yang kemudian menjadi lebih terang.


Kendati Lings tidak menyimpulkan, tapi sampai pada tahap ini terungkap, bahwa dari garis keturunan, Muhammad adalah keturunan orang-orang pilihan dari garis Ismail, putra Ibrahim. Dengan demikian, menurut Lings, Ibrahim bukan hanya melahirkan dua anak dari dua istri, namun dari dua anak itu pula Ibrahim melahirkan dua bangsa besar yang menjadi sarana “kehendak langit”, yang kepada kedua bangsa itu, Allah bukan saja menjanjikan kemakmuran duniawi, melainkan juga keluhuran spritiual. Dua spiritual, dua agama, dua dunia bagi Tuhan; dua lingkaran dan karena itu juga dua pusat.


Itulah tempat yang disucikan bukan atas pilihan manusia, tapi telah menjadi ketetapan “Kerajaan Langit”. Ada dua pusat suci yang melingkupi Ibrahim: satu di daerahnya di Kanaan, dan satu lagi di sebelah barat Kanaan, satu lembah tandus yang berjarak empat puluh hari perjalanan unta dari Kanaan. Tempat itu adalah Bakah yang kemudian dikenal sebagai Mekah, itu.


Tentang bagaimana pribadi dan perilaku Muhammad secara lahiriah, yang tampan, santun, jujur, cerdas, dan sebagainya; juga dibahas terperinci oleh Lings. Dalam konteks kenabian Muhammad dan hubungannnya dengan kaum cerdik pandai Kristen, menurut Lings, bukan saja terjadi pada tahun-tahun awal menjelang kelahiran Muhammad melainkan juga setelah Muhammad beranjak dewasa, terutama sejak dia memulai hubungan dengan Kahdijah, sepupu Waraqah.


Di Mekah, Khadijah adalah konglomerat yang cantik. Dia berurusan dengan Muhammad kali pertama ketika meminta Muhammad mewakilinya melakukan jual-beli ke Syiria. Muhammad setuju, dan Kahdijah menawarkan Maysarah, budaknya, untuk menemani Muhammad. Dikisahkan oleh Muhammad ibn Sa’d dalam kitab at Thabaqat al Kabir edisi Leyden Belanda, kabilah dagang Muhammad tiba di Bostra (di selatan Syria), kota yang memiliki biara dan di dalamnya dihuni oleh pendeta Kristen dari masa ke masa: di Bostra bila seorang pendeta meninggal, ia akan digantikan oleh yang lain, dan pengganti ini mewarisi seluruh isi biara termasuk manuskrip-manuskrip kuno. Salah satu manuskrip di Bostra itu berisi tentang ramalan akan datangnya seorang nabi kepada bangsa Arab.


Di Bostra, Muhammad berteduh di bawah sebuah pohon, tidak jauh dari rumah Nestor, seorang pendeta Kristen. Bertanyalah Nestor kepada Maysarah, “Siapa orang yang berteduh di bawah pohon itu?” Maysarah lalu menjawab, “Dia orang Quraisy, dari keluarga penjaga Tanah Suci.” “Tidak, dia tak lain adalah seorang nabi,” kata Nestor.


Jawaban Nestor sama dengan yang diberikan oleh Bahira, pendeta sebelum Nestor— ditempat yang sama, ketika pada usia sembilan tahun, Muhammad diajak oleh Abu Thalib sang paman berniaga ke Syria. Dibandingkan dengan Nestor, Bahirah lebih “mengenal” Muhammad, karena pada jamuan makan yang disediakannya untuk kabilah Abu Thalib itu Bahirah bahkan meminta Muhammad melepas jubahnya hanya untuk melihat punggung Muhammad.


Rahasia Namus

Keterangan pendeta Nestor itulah yang diceritakan oleh Maysarah kepada nyonyanya, setelah dia dan Muhammad kembali di Mekah. Khadijah lantas mengulang cerita Maysarah kepada sepupunya, Waraqah. ”Telah lama aku tahu bahwa seorang nabi akan diutus dan saatnya kini telah tiba,” kata Waraqah.


Beberapa waktu sesudah itu, Khadijahl lantas melamar Muhammad untuk menjadi suaminya. Sebagai mas kawin, Muhammad membayar dua puluh ekor unta betina yang dibayarkan oleh Hamzah, paman Muhammad. Ketika menikah dengan Muhammad, usia Khadijah sudah menginjak 40 tahun, sementara Muhammad baru berusia 25 tahun. Hingga masa sebelum Muhammad menerima wahyu kenabian, tak banyak riwayat yang menceritakan hubungan Muhammad dengan Khadijah.


Sejarah kemudian mencatat, Muhammad yang ketakutan datang kepada Khadijah pada suatu malam dan meminta istrinya itu untuk memeluk dan menyelimutinya. Sebelum malam itu, Muhammad adalah lelaki yang dikenal suka menyendiri dan menyepi (tahanmust) pada malam hari di gua di Bukit Hira’ di pinggiran kota Mekah. Bagi orang Quraisy, tahanmust bukan sesuatu yang asing dan menjadi praktik tradisional di kalangan keturunan Ismail. Muhammad melakukannya sejak menikah dengan Khadijah hingga malam itu, tepat pada bulan Ramadhan tahun 636 Masehi: Muhammad disergap rasa takut luar biasa.


Ketika ketakutannya mereda, Muhammad menceritakan apa yang dilihat dan didengarnya kepada Khadijah. Waraqah yang mendapat cerita dari Kahdijah berkata, bahwa yang mendatangi Muhammad adalah Namus. Dalam Bahasa Yunani Namus adalah Hukum Tuhan atau Roh. “Kudus, Kudus demi Tuhan yang menguasai jiwaku yang datang kepada Muhammad adalah Namus yang terbesar yang dulu juga mendatangi Musa. Sungguh dia adalah nabi bagi kaumnya. Yakinkan dia!” kata Waraqah yang saat itu sudah tua dan buta, kepada Khadijah.


Buku yang ditulis oleh Lings, sepenuhnya bercerita tentang Muhammad luar dalam, yang tersirat dan yang tersurat. Narasi dan komposisi bahasa dari Lings dalam buku ini membawa jantung saya seolah berhenti berdetak. Selain mengungkap peran kaum cerdik kaum Kristen, Lings juga mengungkapkan bahwa Rayhanah salah satu istri Muhammad adalah orang Yahudi dari Bani Nadhir.


Dari keseluruhan isi bukunya, Lings terlihat menempatkan Muhammad sebagai sosok yang patut dipuji dan berhak menjadi nabi. Selaras dengan banyak kitab-kitab kisah nabawiyah. 



DearDifa
DearHilwa
DearAsfar


Thread adalah media sosial, anak turun dari Instagram. Seperti halnya Fesbuk, ia masih di bawah Meta Platform. Pemilik dan asalnya tentu sudah tahu. Mark Zuckerberg. Fungsi thread seperti Twitter, atau X. Menjangkau setiap apa yang dihubungkan dengan keadaan sosial, pikiran pengguna.


Hari-hari ini selain fokus dalam kegiatan sehari-hari, saya banyak menyimak sosmed Thread ini daripada sosmed lain.


Peristiwa Indonesia, akhir Agustus 2025 kemarin adalah runtutan peristiwa yang melelahkan. Tragedi almarhum Affan Kurniawan dan banyak peristiwa di berbagai penjuru Indonesia, setiap detik kita disuguhi berita-berita yang mengerikan. Kelelahan sosial. Ekonomi yang tidak kunjung membaik.


Untungnya, masih banyak berita yang patut kita simak. Dari banyak tragedi itu, netizen Malaysia mengikuti perkembangan apa yang ada di Indonesia. Yang banyak dialami rakyat jelata Indonesia. Lagi-lagi saya terkesima, bahwa dibalik semua kejadian hitam itu, ada mutiara yang patut kita puja. Malaysia.


Bisa jadi selama ini, kita banyak bertengkar, banyak berebut dengan Malaysia. Kebudayaan, roasting sepakbola dan sebagainya. Tetapi justru disaat-saat seperti ini, netizen Malaysia banyak membantu Indonesia. Mereka mengubah lokasi food delivery service berada di Indonesia. Kemudian chating dengan driver platform tersebut dengan berusaha bahasa Indonesia yang bisa dipahami. Lalu mentransfer sejumlah uang untuk dibelikan makanan dan dibagikan kepada orang-orang yang dalam tragedi itu.


#DearDifa
#DearHilwa
#DearAsfar


Bisa jadi, Indonesia-Malaysia seperti kalian, adalah kakak beradik, yang sering saling berebut ketika bermain. Saling mengejek, sampai di antara kalian menangis. Tetapi saat-saat seperti ini. Ketika Indonesia sedang sakit parah, yang memperdulikan adalah adiknya. Memberikan banyak perhatian. Saling menyayangi. Saling mengasihi. Saling memerlukan.


Itulah kenapa dik, banyak pelukan jauh yang kita dapatkan dari Malaysia hari-hari ini. Termasuk dukungan demo dari warga dan mahasiswa Malaysia di KBRI Kuala Lumpur.


Rukun, saling menyayangi, dan saling support hanya itu yang bisa saya wariskan.


Di Thread juga, saya temukan kawan lama saya, yang kontennya banyak ditanggapi oleh warga net. Baik tanggapan positif maupun negatif. Namun, kebanyakan negatif. Karena kontennya hanya itu-itu saja. Kawan lama saya itu perempuan, dia menikah dengan lelaki militer luar negeri. Pelajaran yang bisa diambil dari dia adalah. Tidak cukup belajar bahasa asing. Belajar tentang filsafat, ideologi, hukum tata negara, dan feminisme, akan membukakan kita banyak jendela-jendela dunia.


Itulah kenapa dik, dunia terlalu keras, untuk kita yang hanya mengandalkan keikhlasan.


Satu lagi sebenarnya saya temukan di Thread. Kawan saya lama lain, seorang perempuan tangguh, yang belum sepenuhnya pulih, pasca dia ditinggalkan anaknya yang sudah lama. Saya tidak bisa bercerita terlalu lama tentang kesedihan. Dia pasti akan menemukan jalan keluar.

 

“Pernah mendengar pohon nangka berbuah mangga?”


Mboten.”


“Kalau ada, pasti geger ya, Yin.”


Beliau memanggilku Zayin.

“Njeh, leres, Cak.”


“Itulah, karena pohon tidak punya hawa nafsu, maka tidak pernah berbuah selain yang telah Allah tetapkan. Begitulah Yin, setiap manusia itu ada maksudnya dicipta oleh Allah. Masing-masing dari kalian ini punya misi hidupnya sendiri. Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu.”


Pembicaraan pada suatu sore di penghujung Sya'ban menuju Ramadhan. Beliau stater Motor WIN, kami berboncengan keluar dari kosnya, di belakang Kampus ISI Yogya. Ikhtiar menjual lukisan, untuk sekedar makan. Penuh ketenangan, meski dalam kemiskinan. Bantul 2014 yang membekas.

Beruntung guru saya tidak menjual surga. Dari kecil. Sekolah MI, MTs, saya punya guru-guru yang sama sekali tidak menjual kesucian. Tidak menjual kesaktian. Meskipun saat itu saya di pesantren, bahkan Kiai saya termasuk mursyid salah satu thariqah terkenal di Indonesia. 


Tidak. Saya tidak belajar thariqah. 


Saya hanya belajar nahwu, sharaf, dan kisah-kisah dalam kitab mutaqadim, yang keberkahannya saya rasakan sampai hari ini.


Sewaktu MTs, saya punya guru filsafat pertama, dia bahkan memperkenalkan filosofi angka 212 punya Wiro Sableng. Bahwa sesuatu yang matsna, dua. Pasti berasal dari yang Maha Satu. Dia juga yang memperkenalkan saya lagu yang sedang tranding waktu itu, Jika Surga Dan Neraka Tak Pernah Ada. Milik Chrisye. Mengajak berfikir jika seandainya Tuhan tidak menciptakan surga dan neraka. Apa mungkin saya sebagai manusia akan tulus beribadah. 


Disisi lain. Guru-guru lain memperkenalkan kisah kekasih Tuhan Perempuan: Rabi'ah Adawiyah, yang membakar surga dengan neraka. Dengan cintanya yang membahana kepada Tuhannya. 


Sewaktu SMA, guru saya di pesantren lebih tegas. Tidak menye-menye terhadap yang bertele-tele. Mengatakan lebih kuat. Menyatakan tidak terhadap sesuatu yang tidak mungkin. Meskipun beliau mengajar Ilmu Tauhid. Diskusi pertanyaan selalu terbuka. Dialektika keilmuan 


Sayangnya, saat kuliah S1 saya pernah nyantri, meskipun hanya beberapa bulan, dan saya kabur dari Pesantren itu, salah satu faktornya adalah sang guru terlalu vulgar menjual surga. Sok²an menjadi aktivis mahasiswa adalah faktor lainnya. 


Singkat cerita. Hampir semua “guru formal” saya tidak menjamin surga. Tidak pula menakut-nakuti dengan neraka. Pun dengan guru-guru “non formal” saya. 


Jadi hidup saya bebas. Tanpa beban. 


Ibadah, saya tinggal ibadah. Tidak perlu menanti-nanti kelak saya akan dapat apa. 


Itulah sebabnya, tidak ada yang bisa menjamin dan mengancam saya, kelak dengan surga atau neraka. 


Lalu bagaimana saya memaknai surga. Surga bagi saya, bisa saat ini atau kelak janji Allah nanti. Saat ini, ketika saya kumpul dengan orang-orang yang saya cintai; keluarga, kawan. Saya bisa berkisah apa saja. Atau saya bisa mendengar apa saja dari mereka. Dalam keadaan sehat dan bahagia. 


Surga juga menurut saya adalah, mendatangi majlis ilmu. Mendengar petuah-petuah bijak. Nasihat-nasihat dari orang Alim.


Itulah surga. Bagi saya. 


Untung guru-guru saya tidak berdagang surga. Tapi saya punya cita-cita di kehidupan kelak nanti, saya dikumpulkan lagi, dengan guru-guru saya dalam majelis ilmi. 



 #DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar

Saya mempunyai sirkel kawan pertemanan di fesbuk, dia adalah mantan jurnalis, namanya Ndoro Kakung, tulisan-tulisannya bernas, dia menjadikan tulisannya bukan sebagai konsumsi dia mencari uang lagi, hanya sekedar iseng, tapi keisengan tulisannya pagi itu,  tentang refleksi dunia wartawan dengan berbagai kabar, hingga membuat saya yang hari-harinya biasa saja, berpikir kembali. masa depan nanti akan seperti apa.

Tulisan Ndoro Kakung pagi itu membuat saya kangen tulisan-tulisan Cak Rusdi – Allah Yarhamhu Fi Qobrihi, dia wartawan juga, penuh mimpi dan idealisme tinggi, mendobrak anggapan populer, semacam Jacques Derrida dalam teori dekonstruksi. Ndoro Kakung menulis tentang kelelahan emosi kita sebagai warga Indonesia, dengan dicekoki berita-berita negatif yang terus membanjiri timeline dunia maya: tawaran antar kelompok, pembunuhan, kecelakaan, perampokan, pencurian, korupsi, dan lain-lain, seolah tidak ada berita bagus dan positif sama sekali.

Good News is bad news, kata Ndoro Kakung, bukan hanya sekedar menulis berita tentang keburukan, dia berkisah dulu bagaimana kantor berita tempat dia bekerja, mendapatkan surat dari ratusan pembaca, beberapa pembaca merasa terinspirasi penuh haru. Berita yang dimunculkan dalam surat kabar koran Ndaro Kakung berisi cukup sederhana, ia hanya menulis tentang seorang nenek yang tinggal pelosok pulau Nusa Tenggara, jauh dari kota.


Nenek itu kesehariannya hanya berjual di pasar, pedagang sayur biasa, namun yang membuat decak kagum pembaca adalah, dia masih belajar membaca alfa beta, belajar dari cucunya yang duduk di sekolah dasar kelas tiga. Kata kuncinya adalah ‘nenek belajar membaca’. Ada semacam mimpi yang terus berproses untuk tumbuh menjadi nyata. Berita itu, kata Ndoro, adalah yang bisa menjadi pupuk harapan dan cita-cita. Tidak seperti sekarang ini.

Pembaca kelelahan emosi, para wartawan nya, apalagi.


Kemarin Jumat sore, saya membaca Cerpen Djoko Subinarto. Cerpen mingguan Kompas, judulnya: Sekolah Terakhir Republik. Penulis menseting waktunya di Tahun 2045, tahun yang digada-gadakan pemerintah kita sebagai tahun emas, seabad kita merdeka

Saya membaca cerpen itu dengan berbagai emosi saya, marah, sedih, dan kecewa. Saya rasa, Cerpen itu semacam ramalan yang akan menjadi nyata. Dan saya pernah mengikuti sejarah yang tidak dibagikan kurikulum kita: negara bisa melakukan apa saja.


Hal paling sedih adalah #DearDifa bercita-cita menjadi guru di masa itu. Padahal menjadi guru dengan segala perjuanganya, kemudian dicekal oleh kebijakan negara.

Sesedih itu, sebagai warga negara konoha. Cerpen yang saya maksud ada di sini Cerpen Sekolah terakhir


FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE