#DearDifa
#DearHilwa
#DearAsfar
Pasti, suatu saat nanti, kau akan mendengar kisah masyhur ini. Tentang Sayyidina Ali. Saat sedang genting-gentingnya Rasul Muhammad akan hijrah ke Madinah. Kafir Quraisy menutup semua akses jalan dari rumahnya. Rencana pembunuhan terhadap nabi begitu matang.
Hingga malam itu, dalam rangka mengelabuhi niat jahat kafir Quraisy, Sayyidina Ali mengorbankan dirinya untuk tidur di ranjang nabi. Nabi, karena campur tangan Allah, bebas aman menuju Madinah. Sementara Sayyidina Ali yang berbaring di ranjang nabi, dia merasa was-was. Artinya dia siap dengan segala resiko.
Saya pertama kali mendengar kisah ini, saat duduk di sekolah dasar, dari ceramahnya Zainuddin MZ, di radio Raka Tegal yang diputer Bapak saya, setelah subuh. Tadinya saya tidak paham, kok bisa-bisanya Sayyidina Ali mau menggantikan nabi.
Dibalik kisah kanjeng Nabi lolos dari kepungan kafir Quraisy itu, ada kisah lain. Kisah yang berlangsung di langit.
Kisah ini ditulis oleh Imam Ghazali dalam kitab Ihya: Allah berfirman kepada Jibril dan Mikail. “Sesungguhnya Aku menjadikan kalian berdua sebagai saudara. Dan satu diantara kalian, Aku berikan umur panjang. Sekarang kalian pilih, mana yang lebih panjang umurnya?”.
Jibril dan Mikail Tidak ada yang mengalah.
“Apakah kalian berdua tidak bisa meniru manusia yang bernama Ali bin Abi Thalib?”.
““Aku jadikan Ali dan Muhammad sebagai saudara. Ali menggantikan tidur di ranjangnya Muhammad, sebagai penebus nyawa Muhammad. Ali mengalah kepada Muhammad. supaya Muhammad tidak dibunuh oleh kafir Quraisy. Dia rela. Dia mau.”
“Turunlah, wahai Jibril dan Mikail. Lindungilah Ali dari musuh-musuhnya Muhammad.”
Kemudian mereka berdua turun dari langit ke bumi. Melindungi Ali. Jibril berada di samping kepalanya Sayyidina Ali, sementara Mikail disamping kedua kakinya.
Dalam kisah itu, Jibril memberikan apresiasi kepada Sayidina Ali, “Kamu kok keren sekali, wahai anak laki-laki Abu Thalib. Allah membanggakanmu di hadapan para malaikat. Karena sifat itsarmu.
Begitulah, dik. Itsar atau altruisme sebenarnya sikap sederhana. Sangat sederhana. Mengalah. Mendahulukan orang lain. Untuk mencari keridhaan Tuhan.
Ada kisah lagi, dari Abu Hasan Al Antoqi. Dia tokoh Sufi dari kota Antoqia, atau Antiokhia, sebuah kota kuno yang penting di Asia Kecil, kini berlokasi dekat kota modern Antakya, di provinsi Hatay, Turki. Kota ini terkenal sebagai pusat kebudayaan, perdagangan, dan keagamaan pada zaman Helenistik, Romawi, dan Bizantium.
Abu Hasan adalah seorang Sufi, yang sedang melancong bersama banyak sufi lain. Dulu, pekerjaan Sufi, dalam rangka untuk tadzkiatun Nafs dan mencari Ridha Tuhan, salah satu metodenya adalah Rihlah. Jalan-jalan.
Sesampainya di Kota Ray, sekarang Teheran, Iran. Saat malam tiba, mereka kelaparan. Ada sekitar 30 orang lebih, sementara Abu Hasan dan kawan-kawannya mempunyai beberapa roti yang terbatas. Yang tidak mungkin membuat kenyang seluruh rombongan tersebut.
Agar semuanya terbagi, mereka memutuskan memecah jumlah roti itu menjadi banyak. mencincang roti itu menjadi banyak bagian. Kemudian mematikan lampu. Agar tidak ketahuan siapa yang makan banyak. Siapa yang mendapatkan sedikit. Pokoknya makan bersama.
Saat lampu dinyalakan kembali. Ternyata roti itu masih utuh. Dari 30 orang, tidak ada yang makan sedikitpun.
Kenapa roti itu masih utuh, karena semua berfikir sama. Mereka Ingin mendahulukan kawannya. Mementingkan kawan lain dari pada urusan sendiri.
Kisah lain tentang altruisme dari Syu'bah. Dia seorang tabi'in. Ulama besar. Syu'bah bin al-Hajjaj, seorang ahli hadis yang hidup pada abad ke-2 Hijriah.
Suatu hari, datanglah seorang peminta-minta menemui Syu'bah. Sementara Syu'bah tidak mempunyai apa-apa. Uang tidak punya. Makanan apalagi.
Akhirnya, Syu'bah memutuskan untuk mencongkel atap rumahnya untuk diberikan kepada peminta itu.
Begitulah dik, kisah-kisah itsar dari salafus saleh.
Namun, sebenernya, kisah altruisme atau itsar ada di sekitar saya. Dari kawan-kawan saya dulu. Ada kawan saya dari Kudus, Temanggung. Ada kawan saya dari Jepara. Bumiayu. Mereka, ah iya, beberapa dari mereka tidak mengenal satu sama lain. Namun mereka begitu dekat dengan sikap tawadhu' dan itsar. Insya Allah, suatu saat akan saya bagi satu persatu kisah-kisah mereka. Saya bukan penjilat kawan. Untuk saat ini, fisik saya tidak mungkin dekat dengan mereka. Tapi saya sangat berhutang rasa dari sikap-sikap istar mereka.
Dan akhirnya percayalah, dik. Mengalah itu bukan kalah. Kita tetap keren.