Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

Dulu, tahun 2008, Facebook masih baru, beranda dihiasi kabar teman, saudara, tetangga. Hangat, dekat, sederhana.

Lalu, tahun 2014, Twitter dengan Twitwar-nya hadir.
Meski namanya “war”, kadang percakapan itu cerdaskan, menantang otak, membuat tertawa, membuat berpikir.

Saya rindu masa-masa itu.

Sekarang, beranda sosial media berubah. Jangkauannya luas, banyak orang yang tidak saya kenal muncul, kabar politik, berita pemerintah, iklan, opini pedas. Saya merasa lelah, otak dan hati dipenuhi sampah informasi, stres meninggi. 

Biasanya saya cek sosial media malam hari, atau sepulang berkegiatan di sore hari.
Kadang phobia membuka, terutama berita pemerintah, kabar yang bikin cemas.
Tapi di sisi lain, ssebagian orang sosial media juga ladang, tempat orang mencari penghasilan, membangun konten, menanam benih peluang.

Seperti biasa, saya belajar memilih, memilah mana yang perlu, mana yang cukup dilewatkan. Memberi ruang untuk hati bernapas, untuk pikiran tenang, untuk kehidupan nyata yang menunggu di sekitar.

Tanah, Ingatan, dan Ketahanan Pangan
Nenek saya, kakek saya, petani.

Saya masih ingat, saat musim panen dulu, udara sore dipenuhi bau jerami yang baru dipotong. Burung-burung beterbangan mencari sisa gabah.  Dan di pematang sawah, saya kecil berlari-lari, bermain layang-layang, sementara kakek dan nenek menunduk. Dengan sabar memungut butir padi. Butir hidup yang kelak tersaji di meja makan kami.

Hari ini disebut Hari Tani. tapi bagi saya, ia hanyalah hari biasa. Karena tanah tidak pernah menunggu tanggal di kalender. Karena petani tidak mengenal seremoni atau pesta. Setiap hari adalah hari tani. Sebagaimana setiap hari adalah hari santri. Hari kartini. Hari perjuangan dalam kehidupan.

Kalau hanya dijadikan momentum seremonial, seperti Hari Kartini yang tiba-tiba siswa dipaksa memakai kebaya. Atau Hari Santri yang diwajibkan memakai peci. Bagi saya, justru mengkerdilkan makna yang seharusnya lebih luas, lebih dalam.
                                                                 
Mbah Nun, dalam banyak kesempatan menekankan pentingnya ketahanan pangan. Bahwa bangsa ini tidak akan kuat, bila tidak mandiri pada tanahnya sendiri. Mas Sabrang pun sama, di forum Maiyah Mocopat Syafaat Yogyakarta, berpesan agar jamaah membangun ketahanan pangan minimal di skala rumah tangga.
Ia juga mengingatkan, dalam tiga sampai lima tahun ke depan, siapa pun yang masih memiliki tanah, sebaiknya jangan menjualnya.

Sebab tanah adalah masa depan. Tanah adalah kehidupan.

Maiyah mendidik kita, untuk tidak sekadar menjadi follower. pengikut arus yang menunggu tren global. Kita diajak menjadi flower. bunga yang tumbuh dari akar sendiri. Yang mekar di tanahnya sendiri. Yang memberi keharuman bagi sekitarnya.

Kesadaran pangan, bukan karena Bill Gates atau miliarder dunia lain sedang berinvestasi di sektor pertanian, tetapi karena nasi di piring kita, berasal dari keringat kakek dan nenek kita, dari doa petani yang mungkin tak pernah dikenal namanya.

Hari Tani. Bukanlah pesta tahunan. Bukan panggung politik. Bukan pula simbol kosong di kalender.
Hari Tani adalah setiap detik.  Setiap tarikan cangkul.  Setiap butir keringat. setiap nasi yang kita kunyah dengan doa syukur.

Dan di sana, ada wajah kakek saya, ada doa nenek saya, ada perjuangan yang diam-diam menyelamatkan hidup kita semua. 
24 September 2025

Jelek-jelek gini, saya pernah menjadi guru PPKn di sebuah SMK, Saya tidak tahu manajemen lembaga itu, bisa-bisanya saya jadi guru PPKn. Namun saya suka, murid-murid itu juga mungkin sama.

Di kelas itu, kami sedang membahas tentang ideologi dunia—kapitalisme dan sosialisme. Anak-anak muda dengan bahasa mereka yang polos, sebenarnya sudah paham bahwa kapitalisme hanya melahirkan jurang: yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Sosialisme, di sisi lain, tampak menjanjikan pemerataan, meski sejarah membuktikan bahwa praktiknya tidak pernah sesederhana yang dibayangkan.

Sebagai pengajar, saya mencoba menuntun mereka untuk melihat bahwa kedua ideologi itu sama-sama menyimpan jebakan. 

Tentu saya bukan pembela Liberlias-Kapitalis. Kapitalis memberi ruang kompetisi. Yang kuat akan selalu menyingkirkan yang lemah. Sementara sosialisme ingin meniadakan kelas, namun pada akhirnya tetap saja melahirkan penguasa baru dengan wajah yang berbeda.

Indonesia memang berlandaskan Pancasila. Realitanya, sila-sila itu seringkali hanya berhenti ditulisan dan hapalan. Tidak sampai pada laku dalam kehidupan. Ketuhanan Yang Maha Esa, misalnya, tampak diagungkan, tetapi pada praktiknya banyak tuhan-tuhan lain yang disembah: jabatan, uang, popularitas. 

Kemanusiaan yang adil dan beradab seolah menjadi slogan kosong ketika kita melihat betapa seringnya keadilan hanya berpihak pada mereka yang punya kuasa. Persatuan Indonesia pun retak oleh kepentingan golongan, apalagi sila keempat dan kelima—kerakyatan serta keadilan sosial—seringkali hanya menjadi jargon politik yang hilang bersama berakhirnya masa kampanye. 


Di tengah situasi seperti itu, saya berada pada posisi kelas menengah. Kelas yang sering disebut tulang punggung negara, namun justru kerap menanggung beban paling berat. Bagi kelas bawah, ada beragam bantuan sosial dan jaminan kesehatan. Bagi kelas atas, mereka tak perlu memikirkan itu semua—uang mereka tidak berseri, seolah tidak ada habisnya. Pernah suatu kali saya menyaksikan petinggi saya waktu itu, dengan mudah mentransfer satu miliar rupiah seolah hanya memindahkan recehan. Sedangkan bagi saya, mentransfer seratus ribu kepada seorang kawan saja masih disertai doa semoga uang itu kembali, meski dalam hati ada rasa pasrah kalau hilang selamanya. haha

Kelas menengah, dengan segala keterbatasannya, seringkali terjepit. Bayar iuran kesehatan saja bisa menunggak beberapa bulan. Pendidikan anak terasa semakin mahal. Hukum berjalan timpang: yang kecil digilas aturan, yang besar bisa membeli pasal. Budaya dan agama kadang justru menambah beban, ketika keduanya dipelintir menjadi alat legitimasi, bukan lagi sumber ketenteraman. Menjadi kelas menengah adalah menjadi saksi betapa negara ini tidak sungguh-sungguh hadir untuk semua lapisan.

Dari bacaan saya tentang sosialisme, termasuk tulisan para pemikir Indonesia seperti Tan Malaka, ada sebuah cita-cita tentang negara tanpa kelas. Sebuah dunia di mana tidak ada jurang yang memisahkan kaya dan miskin. Secara ideal, gagasan itu indah. Saya pernah menjadi pengagum ini. 

saya menemukan ada titik persinggungan yang menarik antara sosialisme dengan ajaran Islam. Keduanya sama-sama menekankan pentingnya keadilan, kesetaraan, dan keberpihakan.  Kepada Mustadhafiin tentu saja. 

Islam mengenal konsep zakat, infak, sedekah, yang secara langsung mengalirkan harta dari yang punya kepada yang tidak punya. Bahkan dalam sejarah, ada masa ketika baitul mal mampu menjamin kebutuhan masyarakat, hingga nyaris tidak ada orang yang berhak menerima zakat karena semua telah tercukupi. Semangat itu mirip dengan yang dicita-citakan para pemikir sosialis. Meski tentu saja ruhnya berbeda.

Di sinilah saya kemudian teringat pada pemikiran Cak Nun. Ia sering menyebut tentang jalan alternatif yang tidak harus ikut-ikutan pada kapitalisme ataupun sosialisme. Sebuah jalan yang ia sebut sebagai “ekonomi yang diberkahi Tuhan.” 

Bukan sekadar menghitung untung rugi, bukan pula semata membagi rata tanpa jiwa. Ekonomi ini berpijak pada keberkahan—tentang bagaimana rezeki yang kita dapat tidak hanya halal secara formal, tetapi juga membawa kebaikan bagi orang lain. Bahwa harta tidak menimbulkan kesombongan, melainkan menumbuhkan ke-solidaritas-an.

Mungkin inilah opsi yang sering luput dari peta ideologi dunia: sebuah ekonomi yang mengalir, cukup, dan menenangkan, karena Tuhan ridha di dalamnya.

Ekonomi yang diberkahi Tuhan, bagi saya, bukanlah konsep yang bisa disamakan dengan teori-teori ekonomi modern yang rumit. Ia lebih menyerupai laku hidup—cara kita memandang rezeki, memelihara harta, dan menempatkan manusia lain dalam lingkaran kehidupan kita. 

Saya jadi teringat obrolan dengan Bang Andi, seorang akuntan. Senior saya saat mbambung. Katanya, “Ekonomi Maiyah (secara makro), tidak dapat dilihat dari pandangan jagad cilik. Singkat kata, bagaimana kita bisa tahu orang lain sudah menghadirkan dan melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitasnya? Tapi dalam pandangan jagad gedhe, kita bisa saling berprasangka bahwa kita saling menghadirkan dan melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitas. Bertemu dengan orang yang sama-sama menghadirkan dan melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitas, dan bertemu peristiwa-kegiatan-tujuan yang saling menghadirkan dan melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitas.”


Perkataan itu bagi saya terlalu dalam, seperti gaya Sabrang, yang kerap membuat saya berhenti sejenak untuk mencerna. Namun justru dari kedalaman itu, saya teringat lagi pada nasihat Cak Nun yang lebih sederhana: “Wes dudu maqammu untuk mencari uang, uanglah yang seharusnya mencari kalian. Karena manusia itu Ahsanu Taqwiim. Masterpiece-Nya Tuhan."

Wallahu A'lam.

Semalam, saya ikut sebuah acara yang tidak akan mudah saya lupakan. Dentuman bass, irama reggae yang menghentak pelan, dan suara shalawat yang menggema dari panggung. Di sana, berdiri seorang musisi dengan jalan sunyi dakwahnya: Hamed Uye.

Di sosial media ada yang mengatakan, Hamed Uye adalah santri Tebu Ireng, Jombang. Dan saya bisa merasakan betul aura ke-santrian-nya, meski ia berambut gondrong gimbal, dan berdiri bukan di mimbar, namun di atas panggung musik reggae. Konon, syafaat Kanjeng Nabi itu tidak eksklusif, bukan hanya milik sekelompok orang tertentu. Dan semalam, Hamed Uye membuktikannya. Ia mengajak semua orang untuk bersholawat, apapun latar belakangnya. Yang suka habib, monggo. Yang dekat dengan kiai, silakan. Musiknya tidak memecah belah. Reggae versi Hamed Uye justru terasa multikulturalis—milik semua orang.

Lagu pertama yang dinyanyikan malam itu adalah Indonesia Tanah Air Beta. Bagi saya, ini tanda cinta tanah air yang tulus pada Indonesia. Hidup yang berat, harga kebutuhan yang terus menggila, dan dengan segala permasalah rakyat Indonesia: Pinjol, Judol dan lain-lain. Namun Hamed Uye mengajak terus menerus cinta Indonesia. Lagu-lagu berikutnya membuat nostalgia saya bangkit. Ada shalawat pesantren Langitan, ada Yarobbi Antal Hadi—shalawat yang akrab di telinga anak-anak 80–90an, dan bagi saya pribadi, jadi teman masa kecil waktu SD.

Dentuman reggae itu, atau SKA yang lebih ritmis, bagi saya bukan sekadar musik. Ia adalah musik hati. Pernah menemani saya menyelesaikan skripsi, tesis, dan malam-malam panjang penuh gelisah. Semalam, dentuman itu kembali hadir, dan Hamed Uye membungkusnya dengan shalawat.

Karena kebaikan hati seorang teman, sebelum naik panggung saya sempat bertemu Hamed Uye di tempat istirahatnya. Dalam hati, saya ingin banyak bicara, menyebut bahwa saya salah satu follower setianya di media sosial, ingin berbasa-basi panjang. Ingin mengutarakan di platform Spotify perlu update lagu-lagu yang baru. Tapi yang keluar dari mulut saya malam itu, hanya satu kalimat sederhana: “Sukses dan sehat selalu, Cak.”

Grogi, iya. Tapi lebih dari itu, ada rasa haru. Karena di hadapan saya bukan sekadar musisi reggae. Melainkan seseorang yang telah mengantarkan saya bernostalgia dengan shalawat-shalawat masa kecil. Shalawat-shalawat yang dulu diputar ayah, melalui tape recorder dengan kaset pita. 

Saya percaya, suatu saat Hamed Uye akan menjadi besar. Jalan dakwahnya insyaAllah akan diridhai dan dicintai Kanjeng Nabi. Sebab ia mengajak bukan dengan marah, bukan dengan sekat, melainkan dengan nada—yang mampu menyatukan semua hati yang semuanya rindu Kanjeng Nabi. 

............................................................................................................................................................

Semalam, adalah anniversary pernikahan saya dan istri. Kami berdua, menonton Hamed Uye, dengan shalawat-shalawatnya. Semacam doa. Kabulkanlah doa kami, jaga kami, lindungi kami.

Oh Allah, sampaikanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami, Muhammad dan keluarga. 

#DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar


Pasti, suatu saat nanti, kau akan mendengar kisah masyhur ini. Tentang Sayyidina Ali. Saat sedang genting-gentingnya Rasul Muhammad akan hijrah ke Madinah. Kafir Quraisy menutup semua akses jalan dari rumahnya. Rencana pembunuhan terhadap nabi begitu matang.


Hingga malam itu, dalam rangka mengelabuhi niat jahat kafir Quraisy, Sayyidina Ali mengorbankan dirinya untuk tidur di ranjang nabi. Nabi, karena campur tangan Allah, bebas aman menuju Madinah. Sementara Sayyidina Ali yang berbaring di ranjang nabi, dia merasa was-was. Artinya dia siap dengan segala resiko. 


Saya pertama kali mendengar kisah ini, saat duduk di sekolah dasar, dari ceramahnya Zainuddin MZ, di radio Raka Tegal yang diputer Bapak saya, setelah subuh. Tadinya saya tidak paham, kok bisa-bisanya Sayyidina Ali mau menggantikan nabi. 


Dibalik kisah kanjeng Nabi lolos dari kepungan kafir Quraisy itu, ada kisah lain. Kisah yang berlangsung di langit. 


Kisah ini ditulis oleh Imam Ghazali dalam kitab Ihya: Allah berfirman kepada Jibril dan Mikail. “Sesungguhnya Aku menjadikan kalian berdua sebagai saudara. Dan satu diantara kalian, Aku berikan umur panjang. Sekarang kalian pilih, mana yang lebih panjang umurnya?”.


Jibril dan Mikail Tidak ada yang mengalah. 


“Apakah kalian berdua tidak bisa meniru manusia yang bernama Ali bin Abi Thalib?”.


““Aku jadikan Ali dan Muhammad sebagai saudara. Ali menggantikan tidur di ranjangnya Muhammad, sebagai penebus nyawa Muhammad. Ali mengalah kepada Muhammad. supaya Muhammad tidak dibunuh oleh kafir Quraisy. Dia rela. Dia mau.”


“Turunlah, wahai Jibril dan Mikail. Lindungilah Ali dari musuh-musuhnya Muhammad.”


Kemudian mereka berdua turun dari langit ke bumi. Melindungi Ali. Jibril berada di samping kepalanya Sayyidina Ali, sementara Mikail disamping kedua kakinya. 


Dalam kisah itu, Jibril memberikan apresiasi kepada Sayidina Ali, “Kamu kok keren sekali, wahai anak laki-laki Abu Thalib. Allah membanggakanmu di hadapan para malaikat. Karena sifat itsarmu. 


Begitulah, dik. Itsar atau altruisme sebenarnya sikap sederhana. Sangat sederhana. Mengalah. Mendahulukan orang lain. Untuk mencari keridhaan Tuhan. 


Ada kisah lagi, dari Abu Hasan Al Antoqi. Dia tokoh Sufi dari kota Antoqia, atau Antiokhia, sebuah kota kuno yang penting di Asia Kecil, kini berlokasi dekat kota modern Antakya, di provinsi Hatay, Turki. Kota ini terkenal sebagai pusat kebudayaan, perdagangan, dan keagamaan pada zaman Helenistik, Romawi, dan Bizantium. 



Abu Hasan adalah seorang Sufi, yang sedang melancong bersama banyak sufi lain. Dulu, pekerjaan Sufi, dalam rangka untuk tadzkiatun Nafs dan mencari Ridha Tuhan, salah satu metodenya adalah Rihlah. Jalan-jalan.



Sesampainya di Kota Ray, sekarang Teheran, Iran. Saat malam tiba, mereka kelaparan. Ada sekitar 30 orang lebih, sementara Abu Hasan dan kawan-kawannya mempunyai beberapa roti yang terbatas. Yang tidak mungkin membuat kenyang seluruh rombongan tersebut. 



Agar semuanya terbagi, mereka memutuskan memecah jumlah roti itu menjadi banyak. mencincang roti itu menjadi banyak bagian. Kemudian mematikan lampu. Agar tidak ketahuan siapa yang makan banyak. Siapa yang mendapatkan sedikit. Pokoknya makan bersama. 



Saat lampu dinyalakan kembali. Ternyata roti itu masih utuh. Dari 30 orang, tidak ada yang makan sedikitpun. 



Kenapa roti itu masih utuh, karena semua berfikir sama. Mereka Ingin mendahulukan kawannya. Mementingkan kawan lain dari pada urusan sendiri. 


Kisah lain tentang altruisme dari Syu'bah. Dia seorang tabi'in. Ulama besar. Syu'bah bin al-Hajjaj, seorang ahli hadis yang hidup pada abad ke-2 Hijriah. 



Suatu hari, datanglah seorang peminta-minta menemui Syu'bah. Sementara Syu'bah tidak mempunyai apa-apa. Uang tidak punya. Makanan apalagi. 


Akhirnya, Syu'bah memutuskan untuk mencongkel atap rumahnya untuk diberikan kepada peminta itu. 


Begitulah dik, kisah-kisah itsar dari salafus saleh. 


Namun, sebenernya, kisah altruisme atau itsar ada di sekitar saya. Dari kawan-kawan saya dulu. Ada kawan saya dari Kudus, Temanggung. Ada kawan saya dari Jepara. Bumiayu. Mereka, ah iya, beberapa dari mereka tidak mengenal satu sama lain. Namun mereka begitu dekat dengan sikap tawadhu' dan itsar. Insya Allah, suatu saat akan saya bagi satu persatu kisah-kisah mereka. Saya bukan penjilat kawan. Untuk saat ini, fisik saya tidak mungkin dekat dengan mereka. Tapi saya sangat berhutang rasa dari sikap-sikap istar mereka. 


Dan akhirnya percayalah, dik. Mengalah itu bukan kalah. Kita tetap keren. 


FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE