Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

Ini tentang sebuah kursi. Sebelum bahas sok akademis dalam tulisan ini, saya selingi anekdot kisah Gus Dur. Saya tidak tahu sumbernya kredibel sahih atau tidak. Begini kisahnya:

Seorang santri bertanya pada Gus Dur, 

“Gus, ada berapa jenis setan?."

“Setan itu ada tiga”. Jawab Gus Dur singkat. 

“Apa saja itu, Gus?”

“Setan yang pertama adalah setan yang takut dengan ayat kursi. Saat dibacakan ayat kursi dia langsung pergi”

“Terus yang kedua gimana, Gus?”

“Jenis setan yang kedua ini wujudnya jelas, dia gak takut ayat kursi, tapi jika dilempar kursi, pasti pergi”

“Whahaa, ini kan setan berbentuk manusia. Kemudian yang jenis ketiga gimana, Gus?”

“Jenis ini yang agak lucu, mereka tidak takut ayat kursi, juga tidak takut dibanting kursi, malah mereka saling berebut kursi”.


******************************************

Dalam dunia sastra, ada satu pendekatan yang memandang karya bukan sekadar cerita, tapi kumpulan tanda yang membawa makna. Pendekatan itu disebut semiotika.

Kata ini berasal dari bahasa Yunani sÄ“meion yang berarti “tanda.”


Secara sederhana, semiotika adalah ilmu yang mempelajari bagaimana tanda bekerja: bagaimana benda, kata, atau peristiwa bisa bermakna lebih dari yang tampak di permukaan.


Salah satu tokoh penting dalam teori ini adalah Roland Barthes, seorang pemikir Prancis yang percaya bahwa di balik hal-hal paling sederhana dalam kehidupan sehari-hari, selalu tersembunyi makna budaya dan mitos. 


Bagi Barthes, tanda tidak berhenti pada arti literalnya saja (yang disebut makna denotatif), tapi juga membawa makna kedua yang lebih dalam, yang disebut makna konotatif—makna yang muncul dari budaya, ingatan, dan cara kita menafsirkan dunia.


Tulisan “Kursi Kakek” adalah contoh yang sangat kuat dari cara tanda bekerja dalam kehidupan. Di permukaan, ia bercerita tentang masa kecil, tentang seorang kakek, tentang kursi kayu di rumah nenek. Tapi di kedalaman ceritanya, setiap benda di dalamnya membawa makna yang lebih luas—tentang rumah, tentang cinta, tentang spiritualitas yang diam-diam hidup di sela-sela rutinitas.


Kursi misalnya. Ia bukan hanya tempat duduk, tapi menjadi tanda dari kasih sayang dan kehadiran.


Kursi itu dibuat dengan tangan kakek sendiri, dan di sanalah segala kehangatan tubuh dan doa berpadu.


Ia menjadi ruang penyembuhan, tempat cucu kecil berbaring setelah dipijat, tempat kakek berdiam di usia senja, tempat para tetangga menunggu giliran doa.


Dalam pandangan semiotika, kursi itu bukan sekadar signifier—bentuk kayu dan senderan melengkung—tapi juga signified, yakni makna yang melekat: cinta, perhatian, sekaligus ingatan yang tak pernah padam.


Kursi menjadi simbol rumah dan akar. Ia menyimpan jejak tangan, waktu, dan doa yang telah menjadi bagian dari keluarga itu sendiri.


Lalu dapur.

Dalam kebudayaan Jawa, dapur bukan cuma ruang masak. Ia adalah jantung rumah, tempat di mana kehidupan lahir dan dipelihara. Nenek yang menyiapkan ketela goreng dan mendoan, bukan sekadar memberi makan, tapi menghadirkan rasa aman yang spiritual.


Asap dapur, aroma kayu bakar, dan suara gorengan adalah tanda-tanda kecil yang membawa kita pulang. Barthes mungkin akan menyebutnya sebagai mitos domestik, yaitu cara budaya menanamkan makna dalam keseharian—bahwa cinta dan doa bisa hidup lewat hal-hal kecil, bukan hanya lewat kata atau upacara.


Ada juga sembahyangan di seberang dapur. Dalam teks, ruang itu menjadi tanda sakral, tempat kakek berdoa untuk orang-orang yang datang mencari penyembuhan. Di situ, antara dunia nyata dan dunia spiritual seperti tidak ada batasnya.


Bagi Barthes, inilah lapisan konotasi yang paling dalam: makna yang lahir dari keyakinan dan tradisi. Ketika kakek duduk di kursinya, berdoa dalam diam, ia tidak hanya sedang melakukan ritual agama, tapi juga sedang menyatukan dunia—antara tubuh, alam, dan yang ilahi.


Benda-benda lain pun tak kalah berbicara. Ramuan pijat yang dibuat dari rempah dan minyak, misalnya, adalah tanda dari pengetahuan tubuh dan kasih. Ia menyembuhkan bukan hanya luka fisik, tapi juga rasa takut dan lemah seorang anak kecil.


Sementara larangan bagi tamu untuk duduk di kursi itu menjadi tanda dari penghormatan—bahwa ada ruang yang tidak semua orang bisa masuki, karena di sana tersimpan makna yang sakral dan pribadi.


Melalui kacamata semiotika, seluruh cerita “Kursi Kakek” bisa dibaca sebagai jaringan tanda-tanda yang membentuk mitos tentang rumah. Rumah di sini bukan sekadar tempat tinggal, tapi ruang spiritual, tempat kasih sayang, doa, dan kenangan hidup berdampingan dalam keheningan yang hangat.


Kursi, dapur, ramuan, sembahyangan—semuanya menjadi simbol bagaimana manusia Jawa memaknai keseharian dengan cara yang lembut tapi dalam.


Dan mungkin, begitulah cara kenangan bekerja.

Ia menyimpan tanda-tanda kecil yang kita bawa ke mana pun pergi. Kadang dalam bentuk kursi tua yang masih berdiri di sudut rumah, kadang dalam aroma ketela goreng, atau dalam doa yang kita bisikkan diam-diam saat tubuh terasa sakit.


Barthes pernah bilang, tanda selalu terbuka untuk ditafsirkan ulang. Begitu juga kenangan—selalu menunggu kita untuk kembali, membaca ulang, dan menemukan makna baru dari hal-hal yang dulu tampak biasa. Sekarang luar biasa. 


Sejujurnya saat saya menulis kemarin saat senja. Mata saya berkaca-kaca. 


#DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar


Senja ini, saya mengenang kursi di rumah nenek. Sebuah kursi yang dibuat langsung tangan kakek. Terbuat dari kayu. Sangat kokoh. Senderannya melekuk. Memanjakan setiap orang yang duduk. Tempat kakinya memanjang. Juga bisa ditekuk. Tepat untuk bermalas-malasan seharian. Meskipun ini bukan kursi goyang, tapi saya sangat nyaman. 


Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di kursi itu. Apalagi jika dalam keadaan sakit seperti sekarang ini. Biasanya kakek akan memijatku terlebih dahulu. Seluruh baju saya dilepas. Hanya menggunakan celana dalam. Dengan ramuan ajaibnya. Semacam rempah dan ditaburi minyak. Saya dipijat. Antara nangis dan geli. Kemudian saya akan bermalas-malasan di kursi itu kembali. Kegiatan ini terus dilakukan hingga saya sunat. 


Kursi itu terletak di dapur. Dekat pertungkuan api. Sambil tiduran dan malas-malasan, nenek akan menyiapkan banyak makanan. Ketela goreng. Tempe mendoan. Dan lain sebagainya. Sangat bahagia. 


Letak dapur, persis di sebrang sembahyangan. Kakek memang seniman. Selain itu, dia adalah kiai setengah dukun. Meskipun dia tidak menobatkan diri. Tapi air yang didoakan kakek konon 'mandi'. Jika sore seperti ini, beberapa tetangga yang punya masalah akan datang. Sambil menunggu kakek berdoa di sembahyangan, biasanya 'si pasien' akan duduk di kursi itu. 


Tapi, tidak semua orang boleh duduk di kursi itu. Pernah suatu kali, kakek memberi isyarat pada salah satu tamunya untuk jangan duduk di kursi itu. Dan si tamu juga memahami. Kakek, tentu saja, saya tidak pernah sedikitpun melihat ia marah. 


Kursi itu, sekali lagi adalah tempat favorit para cucu kakek. Kami bisa berebut kursi itu. Saya adalah cucu tertua secara nasab. Karena bapak saya adalah anak pertama. Meskipun secara umur paling muda – Sebelum anak dari Bulik saya lahir. Maka sayalah yang paling sering duduk di kursi itu. 


Di usia senjanya, kakek banyak menghabiskan waktu di kursi itu. Dari obrolan dulu, sepertinya baru bisa saya tafsirkan sekarang ini: Kakek merindukan anak laki-lakinya. Paman saya. Dia pergi entah ke mana. Konon katanya ke Papua. Dia meninggalkan rumah ketika saya TK. dan pulang ketika saya kelas 1 MTs namun kakek sudah tiada. 


Kursi itu, bagi saya lebih dari kursi. Ia merupakan tempat paling nyaman di dunia. Yang terbuat dari sentuhan seni sekaligus doa. Semacam mantra, dari kakek untuk cucunya. Kelak, ketika saya sakit seperti ini, di senja ini, merindukan kursi kakek. Kemudian nenek menyediakan makanan di meja. Ah indahnya, dunia yang keras, akan baik-baik saja, mungkin semacam surga. 



TGB Hasan Basri, pertamakali ke Madura pada tahun 1989. 


Mendiang ayahnya begitu gembira pada suatu pagi, ketika dia mengusulkan diri mondok ke Madura. Ayahnya bolos ngantor hari itu. Langsung mengajak sang ibu belanja tas dan perlengkapan mondok anaknya di pusat kota Mataram. 


Dia sebenarnya tidak terlalu yakin mau mondok.


Hari itu juga, sore harinya, TGB Hasan diruwat. Sang Ayah mengundang semua keluarga, terutama tetua dari keluarga. Selamatan untuk dia yang mau berangkat mondok. 


TGB Hasan dibawa ke beberapa mbah yang sudah jadi Tuan Guru untuk didoakan, karena projek dia mondok ini projek nekat saja dan berdasarkan keyakinan. 


Pengakuannya, waktu itu, dia blank ilmu dasar agama. Baca Al Qur’an saja tidak bisa. Apalagi mau menulis atau bercakap Arab. 


Dia mengenal al-Qur’an, hadis arbain, mata goyah dan lainnya berdasarkan hafalan walaupun tidak melek baca teks Arabnya— Tapi hanya kurang dari sebulan di pondok Al-Amien Madura, dia bisa baca al-Qur’an juga tajwidnya. 


Keesokan hari, mereka berangkat menumpangi bus Wisata Komodo menuju Surabaya. Ada delapan orang yang ikut mengantarkan. 


Si Ayah begitu yakin kalau dia akan kerasan mondok sampai selesai. Dan ini pertaruhan, karena kakak-kakaknya banyak yang gagal mondok.


Sampailah mereka di kantor ayah, di sekiatar kawasan Ampel. Salah seorang sopir kantor ayah mengajakan TGB Hasan keliling melihat Surabaya. Diajak ke mall, kemudian belanja. Tentu saja TGB Hasan merasa beruntung dan senang. 


Dia mengira Madura tidak jauh dari kota Surabaya. Dia tidak mengira harus menyebrang lagi dari Surabaya. Maklum tidak ada google map zaman itu.


Setelah mobil yang mereka tumpangi mendarat. dia melihat tanah memerah di sepanjang jalan. Terik matahari menyentuh kulitnya sehingga agak gatal. Dia mulai keder. Dia berbisik ke ibunya agar dia dibawa kembali ke kantor ayah saja dan pulang lagi ke Lombok.


Ibunya tampaknya tidak berani kepada ayah. “Persoalan mondok ini salah satu doa ayahmu”, kata ibu.


Singkatnya, dia di Madura hampir delapan tahun.  


Apa yang dia dapatkan? TGB Hasan bisa baca kitab gundul, belajar seni, bisa bahasa Inggris dan banyak wawasan lainnya.


Madura membentuk dia secara intelektual dan estetis. 


Betapa berhutangya dia kepada pulau Madura.


Dia juga tidak percaya kalau bisa menyelesaikan pendidikan di Pesantren Al-Amien, Prenduan, Sumenep, Madura. 


Dia memiliki guru-guru yang luar biasa. Sampai hari ini, paling tidak setiap selesai solat, wajah beliau-beliau membayangi TGB Hasan. Yai Idris, Yai Ahmad, Yai Jamal, Yai Maktum, dan banyak Yai lainnya. 


Kalau tidak berkah, tidak mungkin tanah Madura melahirkan orang mulai seperti guru-guru dia.


Dan tentu saja juga para guru mulia, para Yai lain, di pesantren-pesantren tua di Madura lainnya. Ada pesantren Bata-Bata dan An-Nuqayah yang sering datangi. Belum lagi pesantren di Pamekasan dan bagian pelosok lainnya di Sumenep, Bangkalan dan Sampang.


Dia berkisah, sosok kiai Kholil, cucu Mbah Khalil Bangkalan, yang sering ke pondoknya menemui Yai Ahmad. Keduanya adalah petinggi BASRA masa itu. 


Kadang dia melihat KH Wahid Zaini dari Paiton, begitu juga dengan iparnya KH Hasan Abdul Wafi dan banyak lainnya.


Ketika Yai Ahmad mengajar kitab Muhtasor Ihya, karya Imam Ghazali, biasanya dia diceritakan tentang kiai-kiai Madura dari masa lalu. Atau kiai dari Madura masa itu. 


Kadang sore, saat ngaji kitab Minhajul Abidin kepada Yai Idris, tiba-tiba ada seorang Yai datang mengucap salam keras. Dan memanggil Yai Idris dengan “lek” (paman). Ia tidak membuka sepatunya, langsung masuk ke dhalem memakai sepatunya. 


Dia tahu itu adalah Yai Sa’di dari An-Nuqayah, ponakan Yai Idris. Khelaf, kata Yai Idris singkat melihat ponakannya datang.


Tapi tidak sekalipun Kiai Ahmad atau Kiai Idris bercerita tentang Kiai Idris Patapan yang merupakan kakek buyut mereka. 


Ia para mulia madura tidak sekarlatan banyak yang menggeneralisasi rasisme Madura seperti Meksiko. 


TGB Hasan mengenal Madura bukan saja dari kultur pesantrennya. Dia paham perempuan-perempuan Madura itu cantik-cantik. Di berapa desa tertentu para perempuannya umumnya cantik: putih atau agak coklat, mata tajam, alis tebal, rambut lurus dan badan yang aduhai. 


Sayangnya TGB tidak mungkin menyebut dadanya.


Para lakinya juga sama. Banyak yang cenderung mancung hidungnya dan memiliki badan yang kekar dan tangguh.


Selama di Madura, TGB Hasan juga menemukan energi orang Madura berkesenian. Baik modern atau seni tradisi. 


Yai Zawawi Imron seperti orang tua TGB Hasan sendiri. 


Ada juga pekerja seni dan budayawan yang sudah mulai berumur, Pakdhe Syaf dan Pakdhe Dayat (keduanya aktif di FB). keduanya akrab luar dalam dengan TGB Hasan Basri. 


Madura bagi TGB Hasan, adalah sebuah rendezvous kultural. Di dalamnya dia tidak melihat ada yang asli. Madura telah mencampurnya menjadi campuran yang memiliki karakter. 


Madura mengajari TGB Hasan tentang harkat seorang manusia karena ia manusia. 


Dia tahu identitas seperti kelas, etnis dan ras itu cair, tidak esensial dari Madura daripada dari Stuart Hall atau Paul Gilroy.


Kelak setelah di Yogya, TGB tambah paham rasisme kepada orang Madura.


Umumnya teman-teman dia yang merasa dari Jawa agak sebelah mata melihat orang Madura.


Stereotipikalisme etnis atau persangkaan etnis itu sama saja muasalnya dengan persangkaan kelas sosial. Ia merambati otak siapapun. Terutama mereka yang sekolahan. Sedikit sekali orang terpelajar yang mampu melampui cerita rasisme atau persangkaan etnik yang mereka pelajari.


Antara persangkaan kelas, etnis dan rasa sama jahatnya. Semuanya penyakit bani adam yang belum lagi ada obat mujarabnya sampai sekarang. 


Teknologi digital yang dibanggakan kita selama ini, justeru menyuburkan persangkaan kelas, etnis, dan ras. Bukan malah menguranginya.


Saya kira pendidikan rasa, feeling, kepekaan, atau seni yang paling cepat memangkas penyakit rasisme daripada peningkatan kemampuan digital, atau sekedar olah intelektual ala kampus.


Setiap mengenang madura TGB Hasan selalu ingat kata-kata dari James Baldwin, kawan kerennya dari Amerika, penulis novel itu berkata : “Saya bangga dengan orang-orang ini bukan karena warna kulit mereka, tetapi karena kecerdasan, kekuatan spiritual, dan kecantikan mereka." 


Lalu, oknum yang mendzalimi Yai Mim di Malang itu, yang merupakan Madura, tentu saja, jangan digeneralisir untuk semua tentang Madura. 


Wallahu'alam...

Hari ini, di INSIP, kampus tempat saya dibesarkan, ada Studium General. Suasananya meriah, penuh kehangatan, penuh canda, tawa, guyonan, ger-geran, tapi juga kaya akan ilmu dan motivasi. Saya duduk, mendengarkan, dan di hati saya tumbuh semacam semangat baru.

Ada tiga orang di panggung akademik itu. Pak AZIZ HAKIM, Kasubdit Ketenagaan Kemenag, ahli tata hukum negara. Pak M. Adib Abdhushomad, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama. Dan Pak Muammar, moderator acara, dosen senior INSIP, Warek 3, sekaligus senior yang disegani.

Mereka bertiga punya benang merah, sama-sama berangkat dari IAIN Walisongo Semarang. Dulu mereka mahasiswa, sama-sama aktivis. Dan karena pernah melewati susah senang bersama, di panggung itu mereka lebih mirip teman lama yang reuni. Bercanda, saling roasting, dan kita yang mendengar ikut hanyut dalam tawa.

Pak Aziz Hakim lebih realistis. Meski kuliahnya sampai 14 semester, ia justru bangga karena masa mudanya dipenuhi dengan forum-forum diskusi di pojok kampus, literasi, demonstrasi, dan menulis di media massa sejak awal kuliah. Nilai, bagi beliau, bukan sekadar angka, tapi kualitas diri. Saya jadi teringat masa lalu saya, merasa pernah sok-sokan jadi aktivis, sering meremehkan kelas dosen. Sekarang saya juga menyesal. Tapi dengan beliau, jelas, saya tidak ada apa-apanya.

Lalu, ada Pak Adib. Anak kiai besar dari Pekalongan, seorang Gus, tapi justru memilih SMP dan SMA umum. Seangkatan dengan Pak Muammar, tapi jauh lebih cepat. S2 dua kali, di IAIN Walisongo dan Flinders University Australia, lalu S3 di sana juga. Sejak S1 sudah jadi editor handal, CV-nya penuh publikasi. Sangar.

Ada satu titik yang terasa menyentuh bagi saya. Saat beliau cerita masa-masa menulis tesis, bolak-balik mukim di Pesantren Futuhiyyah Demak. Mungkin tepat di masa itu, saya masih bocah ingusan. Baru jadi santri. Sering menangis di pojokan, jauh dari rumah, nyuci baju sendiri, makan seadanya. Rasanya seperti ada garis tipis yang mempertemukan kami, meski pada level dan keadaan yang berbeda.

Pak Adib berbeda dengan Pak Aziz Hakim. Kalau Pak Aziz HAkim mendorong mahasiswa untuk jangan hanya kuliah-pulang, tapi harus aktif berorganisasi, Pak Adib mengajak ke arah spiritual. Saya merinding ketika mendengar kisahnya, bagaimana di Australia, saat mumet-mumetnya menulis disertasi, ia bertawasul kepada Syekh Abdul Qodir al-Jailani dengan membaca Manaqib. Aih, Di negeri jauh, seorang akademisi modern, sudah go internasional masih menggantungkan diri pada spiritualitas ala pesantren.

Itu klimaksnya. Saya yakin, orang-orang besar, orang-orang yang diberi jabatan, mereka semua punya riyadhoh, laku batin. Pak Adib jelas bukan hanya bersandar pada doa. Sejak awal, ia menyiapkan diri total, belajar bahasa Inggris, berjuang keras, meski ditertawakan kawan-kawannya. Ikhtiar tanpa batas. Bersungguh-sungguh secara totalitas. Dan tetap saja, ia tidak meninggalkan riyadohnya.

Beliau mengingatkan agar menjauhi hal-hal negatif dari HP, memanfaatkan teknologi untuk belajar, menjaga tahajud. Saya termenung. Kadang, ogikanya, orang sukses, sudah punya jabatan, harta, kekuasaan, untuk apa lagi berdoa. Tapi justru mereka tidak pernah berhenti.

Saya teringat sopir truk proyek tol yang pernah saya lihat. Saat istirahat di masjid, ia sempatkan salat duha. Padahal, kalau ia tidak salat, urugan tanahnya bisa lebih banyak, penghasilan tambah besar. Tapi jawabannya sederhana, “duha itu minta keselamatan, Mas.”

Mungkin, yang dimaksud keselamatan, tidak keselamatan di jalan saja. Untuk bekal kelak nanti.

Itulah laku batin. Dan Pak Adib menegaskan itu dengan contoh lain, dari dekat posisi jabatannya dengan Menteri Agama. Tak jarang ia menuliskan teks pidatonya. Dan dari cerita beliau, Menteri Agama yang sekarang tidak pernah absen puasa Senin-Kamis.

Sorenya, saya pulang dengan dada yang penuh. Tawa, canda, roasting, ilmu, motivasi, tapi yang paling menetap adalah rasa merinding itu. Bahwa orang-orang besar, pada dasarnya, adalah orang-orang yang masih setia pada laku batin.


Dulu, tahun 2008, Facebook masih baru, beranda dihiasi kabar teman, saudara, tetangga. Hangat, dekat, sederhana.

Lalu, tahun 2014, Twitter dengan Twitwar-nya hadir.
Meski namanya “war”, kadang percakapan itu cerdaskan, menantang otak, membuat tertawa, membuat berpikir.

Saya rindu masa-masa itu.

Sekarang, beranda sosial media berubah. Jangkauannya luas, banyak orang yang tidak saya kenal muncul, kabar politik, berita pemerintah, iklan, opini pedas. Saya merasa lelah, otak dan hati dipenuhi sampah informasi, stres meninggi. 

Biasanya saya cek sosial media malam hari, atau sepulang berkegiatan di sore hari.
Kadang phobia membuka, terutama berita pemerintah, kabar yang bikin cemas.
Tapi di sisi lain, ssebagian orang sosial media juga ladang, tempat orang mencari penghasilan, membangun konten, menanam benih peluang.

Seperti biasa, saya belajar memilih, memilah mana yang perlu, mana yang cukup dilewatkan. Memberi ruang untuk hati bernapas, untuk pikiran tenang, untuk kehidupan nyata yang menunggu di sekitar.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE