Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

Percayalah, dik, yang paling berat itu, bukan pergi ke masjid. Bukan. Yang paling berat adalah pulang dari masjid.” Saya lupa-lupa ingat yang mengatakan ini siapa. bagaimana ia menempel di dada ketika kita pulang, membuka pintu rumah, menegakkan punggung di depan cermin, dan melihat diri sendiri.


Di bawah lampu yang temaram, di teras yang masih lembab setelah hujan, lelaki tua itu duduk. Bukan ustadz ternama. Bukan tokoh yang namanya dipanggil. Orang kampung memanggilnya dengan nama kecilnya saja, atau kadang, diam-diam, “Mbah Sarmidi”. Nah Mbah Sarmadi adalah muadzin yg keren. Adzannya dan shalawatan dengan langgam Jawa, tentu saja saya banyak berhutang rasa. Ia sering sujud. Ia tak butuh mimbar untuk berbicara, karena kata-kata yang benar ia taruh di tindakan kecilnya: menolong tetangga, menahan lidah ketika gosip datang.


Ia pernah berkata, pendek, pada seorang pemuda yang bertanya karena penasaran: “Pergi ke masjid itu sebentar. Tapi pulang dari masjid… itu ujian.” Pemuda itu mengernyit, menunggu definisi besar. Mbahnya tersenyum, lalu bercerita pelan, seolah sedang melipat kain. “Kau tahu, manusia mudah pamer. Di dalam masjid, saat sujud, orang melihat langit. Tapi ketika keluar, sering ia lupa menundukkan hati. Ia menaruh sujud di saku baju, lalu mengeluarkan dompet—berbicara besar, menilai orang, merasa lebih suci. Itulah yang paling berat.”


Banyak ulama-ulama tasawuf dahulu berbicara tentang hal yang sama, tapi mereka memakai nama-nama besar, istilah-istilah yang membuat rasa hormat; sementara di kampung itu, pelajaran itu datang dalam bentuk sederhana: jangan pulang dengan dada penuh. Jangan pulang membawa lampu sorot yang menerangi semua kekurangan orang lain. Jangan pulang seolah ritual itu adalah jubah yang menjadikanmu berada di atas.


Malam itu, pemuda itu pulang dengan langkah berat. Di jalan, ada orang yang memotong jalan, ada warung yang menawarkan kopi, ada yang berdebat soal harta. Suara-suara itu merayap masuk, mencoba menyalakan api dalam dada. Pemuda itu memegang pintu rumah. Dia mendengar ibu di dapur, anak yang tertawa sambil menaruh piring. Ia membungkuk, menanggalkan sepatu, lalu teringat kata Mbah: pulang tanpa sombong. Ia menahan kalimat yang ingin keluar, menahan komentar yang ingin dilontarkan. Ia memilih diam. Ia masuk, duduk, memberi salam, membantu mengangkat panci.


Itulah ujian sebenarnya. Bukan seberapa lama kau sujud, bukan seberapa pandai kau membacakan ayat. Ujian adalah, ketika hatimu diberi kesempatan untuk menilai, untuk menghakimi, untuk menempatkan dirimu di ruang yang lebih tinggi, apakah kau akan memilih merendah atau menambah derajat di matamu sendiri? Apakah khutbah yang kau dengar akan menyirami kemauanmu untuk berbagi, atau malah akan jadi senjata untuk menumbuhkan rasa congkak bahwa ‘aku lebih tahu’?


Ulama-ulama tasawuf dulu menganjurkan muraqabah, mengawasi hati seperti menjaga bara api; mereka mengajarkan zuhud pada pujian, dan tawadhu’ pada sekilas sanjungan. Mereka sering menyuruh muridnya pulang dalam kesunyian, menimbang setiap kata yang akan diucapkan, menimbang setiap niat. Karena musuh besar sering bukan orang lain; musuh besar adalah pujian yang datang, lalu menempel di dalam dada, seperti karat yang menutup hati.


Mungkin, jika kita mau jujur, yang paling berat bukan soal ritual, tapi soal integritas hati—membiarkan ibadah itu mengubah perilaku, bukan hanya memberi sensasi suci sementara. Pergi ke masjid memberi kita suara-suara kolektif, gema sujud bersama, rasa hangat berjamaah. Tapi pulang dari masjid menuntut kerja batin yang panjang: menyingkirkan riya’, menyingkirkan kebanggaan, menyingkirkan kecenderungan untuk menilai. Pulang dari masjid menuntut kita membawa bekal yang tak tampak, kasih sayang, rendah hati, dan komitmen untuk bertindak.


Jadi, “yang paling berat itu pulang dari masjid,” ia bukan berbicara tentang jarak. Ia berbicara tentang beratnya menurunkan kepalsuan, dan ringan-ringannya hati yang tulus. Ia berbicara tentang keberanian untuk tidak memegang selembar keagungan ketika pulang, dan keberanian untuk memakai tangan sendiri untuk membantu, bukan tangan untuk menunjuk.


Di ujung jalan setapak, lelaki tua itu menutup kitab kecilnya, menyalakan lentera, dan menatap ke langit. Ia tidak ingin dikenal. Ia hanya ingin pulang dari masjid seperti pulang dari rumah sahabat, tanpa kepura-puraan, tanpa pretensi, dengan hati yang sama ketika ia sujud. Itu, katanya, sudah cukup.

Di tanah yang dikepung tembok dan doa, nama Marwan Barghouti masih disebut pelan-pelan oleh banyak orang. Bukan cuma oleh keluarga Fatah tempat ia lahir, tapi juga oleh Hamas—kelompok yang selama ini sering dianggap berseberangan.


Padahal keduanya lahir dari luka yang sama.

Bedanya, Fatah tumbuh dari jalur politik dan diplomasi, sementara Hamas memilih perlawanan bersenjata. Satu percaya pada meja perundingan, satu lagi percaya pada jalan perjuangan. Dan di antara keduanya, selalu ada rakyat yang masih mencari rumah.


Ketika Hamas menulis nama Marwan dalam daftar tahanan yang ingin dibebaskan, itu bukan sekadar strategi. Itu isyarat kecil bahwa mereka masih mengingat satu hal penting: bahwa kemerdekaan tak bisa lahir dari faksi, tapi dari persatuan. Bahwa Palestina, sebelum apa pun, adalah satu nama — satu nasib.


Israel menolak.


Marwan sudah lama dikurung sejak 2004, dijatuhi hukuman seumur hidup karena dituduh membunuh orang Israel. Tuduhan yang bagi banyak orang terdengar ganjil: bagaimana mungkin bangsa yang dijajah dihukum karena melawan penjajahnya, sementara sang penjajah menulis sendiri aturan tentang “keamanan”?

Dunia diam, sebagaimana biasa. Tapi Marwan tidak.


Dari dalam sel yang sempit, ia tetap menulis, tetap berbicara, tetap percaya. Ketika Fatah dan Hamas pecah pada 2007, ia justru menyeru agar rakyat berhenti saling menyalahkan.


“Yang kita lawan bukan satu sama lain,” begitu kira-kira pesannya, “tapi sistem yang membuat kita terus bertengkar.” Dan mungkin karena itu orang-orang menyebutnya: Mandela-nya Palestina.


Ia tak pernah mencari simbol. Hidupnya sederhana, suaranya datar, tapi tegas. Ia menolak berpura-pura percaya pada “proses perdamaian” yang dari awal tak pernah jujur. Ia tahu, perundingan takkan melahirkan kemerdekaan kalau tanahnya terus direbut, kalau rakyatnya terus diusir.


Baginya, melawan bukan pilihan, tapi kewajaran bangsa yang dijajah.


Di mata banyak rakyat Palestina, Marwan adalah napas panjang. Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak hanya soal tanah, tapi juga soal martabat. Sebuah bangsa bisa hancur bukan karena penjajahan, tapi karena kehilangan rasa percaya satu sama lain.


Dan mungkin di situlah bedanya Marwan dengan para pemimpin lain — ia bicara dari luka, bukan dari kursi.


Ketika ia sadar bahwa proses perdamaian hanyalah taktik untuk memperpanjang pendudukan, ia mulai mengambil jarak dari elit Fatah. Langkah itu membuatnya jadi target pembunuhan pada 2001.


Namun sejarah, dengan caranya sendiri, melindungi orang-orang seperti Marwan: ia memenjarakan tubuhnya, tapi tidak pikirannya.


Sekarang, namanya kembali disebut.

Bersama tiga tokoh lain—Abbas al-Sayyid, Ahmed Saadat, dan Hassan Salameh—Hamas menuntut kebebasan mereka.


Media Israel bahkan menulis bahwa jika keempatnya keluar, “akan ada gelombang energi yang tak terlukiskan” di tengah rakyat Palestina.

Dan mungkin mereka benar. Karena di dunia yang penuh senjata, yang paling ditakuti penjajah bukanlah peluru, tapi persatuan.


Dan dari dalam penjara itu, Marwan masih mengajarkan satu hal yang tak pernah pudar: bahwa harapan bisa tetap hidup, bahkan di tempat yang pencahayaannya redup.



Ini tentang sebuah kursi. Sebelum bahas sok akademis dalam tulisan ini, saya selingi anekdot kisah Gus Dur. Saya tidak tahu sumbernya kredibel sahih atau tidak. Begini kisahnya:

Seorang santri bertanya pada Gus Dur, 

“Gus, ada berapa jenis setan?."

“Setan itu ada tiga”. Jawab Gus Dur singkat. 

“Apa saja itu, Gus?”

“Setan yang pertama adalah setan yang takut dengan ayat kursi. Saat dibacakan ayat kursi dia langsung pergi”

“Terus yang kedua gimana, Gus?”

“Jenis setan yang kedua ini wujudnya jelas, dia gak takut ayat kursi, tapi jika dilempar kursi, pasti pergi”

“Whahaa, ini kan setan berbentuk manusia. Kemudian yang jenis ketiga gimana, Gus?”

“Jenis ini yang agak lucu, mereka tidak takut ayat kursi, juga tidak takut dibanting kursi, malah mereka saling berebut kursi”.


******************************************

Dalam dunia sastra, ada satu pendekatan yang memandang karya bukan sekadar cerita, tapi kumpulan tanda yang membawa makna. Pendekatan itu disebut semiotika.

Kata ini berasal dari bahasa Yunani sÄ“meion yang berarti “tanda.”


Secara sederhana, semiotika adalah ilmu yang mempelajari bagaimana tanda bekerja: bagaimana benda, kata, atau peristiwa bisa bermakna lebih dari yang tampak di permukaan.


Salah satu tokoh penting dalam teori ini adalah Roland Barthes, seorang pemikir Prancis yang percaya bahwa di balik hal-hal paling sederhana dalam kehidupan sehari-hari, selalu tersembunyi makna budaya dan mitos. 


Bagi Barthes, tanda tidak berhenti pada arti literalnya saja (yang disebut makna denotatif), tapi juga membawa makna kedua yang lebih dalam, yang disebut makna konotatif—makna yang muncul dari budaya, ingatan, dan cara kita menafsirkan dunia.


Tulisan “Kursi Kakek” adalah contoh yang sangat kuat dari cara tanda bekerja dalam kehidupan. Di permukaan, ia bercerita tentang masa kecil, tentang seorang kakek, tentang kursi kayu di rumah nenek. Tapi di kedalaman ceritanya, setiap benda di dalamnya membawa makna yang lebih luas—tentang rumah, tentang cinta, tentang spiritualitas yang diam-diam hidup di sela-sela rutinitas.


Kursi misalnya. Ia bukan hanya tempat duduk, tapi menjadi tanda dari kasih sayang dan kehadiran.


Kursi itu dibuat dengan tangan kakek sendiri, dan di sanalah segala kehangatan tubuh dan doa berpadu.


Ia menjadi ruang penyembuhan, tempat cucu kecil berbaring setelah dipijat, tempat kakek berdiam di usia senja, tempat para tetangga menunggu giliran doa.


Dalam pandangan semiotika, kursi itu bukan sekadar signifier—bentuk kayu dan senderan melengkung—tapi juga signified, yakni makna yang melekat: cinta, perhatian, sekaligus ingatan yang tak pernah padam.


Kursi menjadi simbol rumah dan akar. Ia menyimpan jejak tangan, waktu, dan doa yang telah menjadi bagian dari keluarga itu sendiri.


Lalu dapur.

Dalam kebudayaan Jawa, dapur bukan cuma ruang masak. Ia adalah jantung rumah, tempat di mana kehidupan lahir dan dipelihara. Nenek yang menyiapkan ketela goreng dan mendoan, bukan sekadar memberi makan, tapi menghadirkan rasa aman yang spiritual.


Asap dapur, aroma kayu bakar, dan suara gorengan adalah tanda-tanda kecil yang membawa kita pulang. Barthes mungkin akan menyebutnya sebagai mitos domestik, yaitu cara budaya menanamkan makna dalam keseharian—bahwa cinta dan doa bisa hidup lewat hal-hal kecil, bukan hanya lewat kata atau upacara.


Ada juga sembahyangan di seberang dapur. Dalam teks, ruang itu menjadi tanda sakral, tempat kakek berdoa untuk orang-orang yang datang mencari penyembuhan. Di situ, antara dunia nyata dan dunia spiritual seperti tidak ada batasnya.


Bagi Barthes, inilah lapisan konotasi yang paling dalam: makna yang lahir dari keyakinan dan tradisi. Ketika kakek duduk di kursinya, berdoa dalam diam, ia tidak hanya sedang melakukan ritual agama, tapi juga sedang menyatukan dunia—antara tubuh, alam, dan yang ilahi.


Benda-benda lain pun tak kalah berbicara. Ramuan pijat yang dibuat dari rempah dan minyak, misalnya, adalah tanda dari pengetahuan tubuh dan kasih. Ia menyembuhkan bukan hanya luka fisik, tapi juga rasa takut dan lemah seorang anak kecil.


Sementara larangan bagi tamu untuk duduk di kursi itu menjadi tanda dari penghormatan—bahwa ada ruang yang tidak semua orang bisa masuki, karena di sana tersimpan makna yang sakral dan pribadi.


Melalui kacamata semiotika, seluruh cerita “Kursi Kakek” bisa dibaca sebagai jaringan tanda-tanda yang membentuk mitos tentang rumah. Rumah di sini bukan sekadar tempat tinggal, tapi ruang spiritual, tempat kasih sayang, doa, dan kenangan hidup berdampingan dalam keheningan yang hangat.


Kursi, dapur, ramuan, sembahyangan—semuanya menjadi simbol bagaimana manusia Jawa memaknai keseharian dengan cara yang lembut tapi dalam.


Dan mungkin, begitulah cara kenangan bekerja.

Ia menyimpan tanda-tanda kecil yang kita bawa ke mana pun pergi. Kadang dalam bentuk kursi tua yang masih berdiri di sudut rumah, kadang dalam aroma ketela goreng, atau dalam doa yang kita bisikkan diam-diam saat tubuh terasa sakit.


Barthes pernah bilang, tanda selalu terbuka untuk ditafsirkan ulang. Begitu juga kenangan—selalu menunggu kita untuk kembali, membaca ulang, dan menemukan makna baru dari hal-hal yang dulu tampak biasa. Sekarang luar biasa. 


Sejujurnya saat saya menulis kemarin saat senja. Mata saya berkaca-kaca. 


#DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar


Senja ini, saya mengenang kursi di rumah nenek. Sebuah kursi yang dibuat langsung tangan kakek. Terbuat dari kayu. Sangat kokoh. Senderannya melekuk. Memanjakan setiap orang yang duduk. Tempat kakinya memanjang. Juga bisa ditekuk. Tepat untuk bermalas-malasan seharian. Meskipun ini bukan kursi goyang, tapi saya sangat nyaman. 


Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di kursi itu. Apalagi jika dalam keadaan sakit seperti sekarang ini. Biasanya kakek akan memijatku terlebih dahulu. Seluruh baju saya dilepas. Hanya menggunakan celana dalam. Dengan ramuan ajaibnya. Semacam rempah dan ditaburi minyak. Saya dipijat. Antara nangis dan geli. Kemudian saya akan bermalas-malasan di kursi itu kembali. Kegiatan ini terus dilakukan hingga saya sunat. 


Kursi itu terletak di dapur. Dekat pertungkuan api. Sambil tiduran dan malas-malasan, nenek akan menyiapkan banyak makanan. Ketela goreng. Tempe mendoan. Dan lain sebagainya. Sangat bahagia. 


Letak dapur, persis di sebrang sembahyangan. Kakek memang seniman. Selain itu, dia adalah kiai setengah dukun. Meskipun dia tidak menobatkan diri. Tapi air yang didoakan kakek konon 'mandi'. Jika sore seperti ini, beberapa tetangga yang punya masalah akan datang. Sambil menunggu kakek berdoa di sembahyangan, biasanya 'si pasien' akan duduk di kursi itu. 


Tapi, tidak semua orang boleh duduk di kursi itu. Pernah suatu kali, kakek memberi isyarat pada salah satu tamunya untuk jangan duduk di kursi itu. Dan si tamu juga memahami. Kakek, tentu saja, saya tidak pernah sedikitpun melihat ia marah. 


Kursi itu, sekali lagi adalah tempat favorit para cucu kakek. Kami bisa berebut kursi itu. Saya adalah cucu tertua secara nasab. Karena bapak saya adalah anak pertama. Meskipun secara umur paling muda – Sebelum anak dari Bulik saya lahir. Maka sayalah yang paling sering duduk di kursi itu. 


Di usia senjanya, kakek banyak menghabiskan waktu di kursi itu. Dari obrolan dulu, sepertinya baru bisa saya tafsirkan sekarang ini: Kakek merindukan anak laki-lakinya. Paman saya. Dia pergi entah ke mana. Konon katanya ke Papua. Dia meninggalkan rumah ketika saya TK. dan pulang ketika saya kelas 1 MTs namun kakek sudah tiada. 


Kursi itu, bagi saya lebih dari kursi. Ia merupakan tempat paling nyaman di dunia. Yang terbuat dari sentuhan seni sekaligus doa. Semacam mantra, dari kakek untuk cucunya. Kelak, ketika saya sakit seperti ini, di senja ini, merindukan kursi kakek. Kemudian nenek menyediakan makanan di meja. Ah indahnya, dunia yang keras, akan baik-baik saja, mungkin semacam surga. 



TGB Hasan Basri, pertamakali ke Madura pada tahun 1989. 


Mendiang ayahnya begitu gembira pada suatu pagi, ketika dia mengusulkan diri mondok ke Madura. Ayahnya bolos ngantor hari itu. Langsung mengajak sang ibu belanja tas dan perlengkapan mondok anaknya di pusat kota Mataram. 


Dia sebenarnya tidak terlalu yakin mau mondok.


Hari itu juga, sore harinya, TGB Hasan diruwat. Sang Ayah mengundang semua keluarga, terutama tetua dari keluarga. Selamatan untuk dia yang mau berangkat mondok. 


TGB Hasan dibawa ke beberapa mbah yang sudah jadi Tuan Guru untuk didoakan, karena projek dia mondok ini projek nekat saja dan berdasarkan keyakinan. 


Pengakuannya, waktu itu, dia blank ilmu dasar agama. Baca Al Qur’an saja tidak bisa. Apalagi mau menulis atau bercakap Arab. 


Dia mengenal al-Qur’an, hadis arbain, mata goyah dan lainnya berdasarkan hafalan walaupun tidak melek baca teks Arabnya— Tapi hanya kurang dari sebulan di pondok Al-Amien Madura, dia bisa baca al-Qur’an juga tajwidnya. 


Keesokan hari, mereka berangkat menumpangi bus Wisata Komodo menuju Surabaya. Ada delapan orang yang ikut mengantarkan. 


Si Ayah begitu yakin kalau dia akan kerasan mondok sampai selesai. Dan ini pertaruhan, karena kakak-kakaknya banyak yang gagal mondok.


Sampailah mereka di kantor ayah, di sekiatar kawasan Ampel. Salah seorang sopir kantor ayah mengajakan TGB Hasan keliling melihat Surabaya. Diajak ke mall, kemudian belanja. Tentu saja TGB Hasan merasa beruntung dan senang. 


Dia mengira Madura tidak jauh dari kota Surabaya. Dia tidak mengira harus menyebrang lagi dari Surabaya. Maklum tidak ada google map zaman itu.


Setelah mobil yang mereka tumpangi mendarat. dia melihat tanah memerah di sepanjang jalan. Terik matahari menyentuh kulitnya sehingga agak gatal. Dia mulai keder. Dia berbisik ke ibunya agar dia dibawa kembali ke kantor ayah saja dan pulang lagi ke Lombok.


Ibunya tampaknya tidak berani kepada ayah. “Persoalan mondok ini salah satu doa ayahmu”, kata ibu.


Singkatnya, dia di Madura hampir delapan tahun.  


Apa yang dia dapatkan? TGB Hasan bisa baca kitab gundul, belajar seni, bisa bahasa Inggris dan banyak wawasan lainnya.


Madura membentuk dia secara intelektual dan estetis. 


Betapa berhutangya dia kepada pulau Madura.


Dia juga tidak percaya kalau bisa menyelesaikan pendidikan di Pesantren Al-Amien, Prenduan, Sumenep, Madura. 


Dia memiliki guru-guru yang luar biasa. Sampai hari ini, paling tidak setiap selesai solat, wajah beliau-beliau membayangi TGB Hasan. Yai Idris, Yai Ahmad, Yai Jamal, Yai Maktum, dan banyak Yai lainnya. 


Kalau tidak berkah, tidak mungkin tanah Madura melahirkan orang mulai seperti guru-guru dia.


Dan tentu saja juga para guru mulia, para Yai lain, di pesantren-pesantren tua di Madura lainnya. Ada pesantren Bata-Bata dan An-Nuqayah yang sering datangi. Belum lagi pesantren di Pamekasan dan bagian pelosok lainnya di Sumenep, Bangkalan dan Sampang.


Dia berkisah, sosok kiai Kholil, cucu Mbah Khalil Bangkalan, yang sering ke pondoknya menemui Yai Ahmad. Keduanya adalah petinggi BASRA masa itu. 


Kadang dia melihat KH Wahid Zaini dari Paiton, begitu juga dengan iparnya KH Hasan Abdul Wafi dan banyak lainnya.


Ketika Yai Ahmad mengajar kitab Muhtasor Ihya, karya Imam Ghazali, biasanya dia diceritakan tentang kiai-kiai Madura dari masa lalu. Atau kiai dari Madura masa itu. 


Kadang sore, saat ngaji kitab Minhajul Abidin kepada Yai Idris, tiba-tiba ada seorang Yai datang mengucap salam keras. Dan memanggil Yai Idris dengan “lek” (paman). Ia tidak membuka sepatunya, langsung masuk ke dhalem memakai sepatunya. 


Dia tahu itu adalah Yai Sa’di dari An-Nuqayah, ponakan Yai Idris. Khelaf, kata Yai Idris singkat melihat ponakannya datang.


Tapi tidak sekalipun Kiai Ahmad atau Kiai Idris bercerita tentang Kiai Idris Patapan yang merupakan kakek buyut mereka. 


Ia para mulia madura tidak sekarlatan banyak yang menggeneralisasi rasisme Madura seperti Meksiko. 


TGB Hasan mengenal Madura bukan saja dari kultur pesantrennya. Dia paham perempuan-perempuan Madura itu cantik-cantik. Di berapa desa tertentu para perempuannya umumnya cantik: putih atau agak coklat, mata tajam, alis tebal, rambut lurus dan badan yang aduhai. 


Sayangnya TGB tidak mungkin menyebut dadanya.


Para lakinya juga sama. Banyak yang cenderung mancung hidungnya dan memiliki badan yang kekar dan tangguh.


Selama di Madura, TGB Hasan juga menemukan energi orang Madura berkesenian. Baik modern atau seni tradisi. 


Yai Zawawi Imron seperti orang tua TGB Hasan sendiri. 


Ada juga pekerja seni dan budayawan yang sudah mulai berumur, Pakdhe Syaf dan Pakdhe Dayat (keduanya aktif di FB). keduanya akrab luar dalam dengan TGB Hasan Basri. 


Madura bagi TGB Hasan, adalah sebuah rendezvous kultural. Di dalamnya dia tidak melihat ada yang asli. Madura telah mencampurnya menjadi campuran yang memiliki karakter. 


Madura mengajari TGB Hasan tentang harkat seorang manusia karena ia manusia. 


Dia tahu identitas seperti kelas, etnis dan ras itu cair, tidak esensial dari Madura daripada dari Stuart Hall atau Paul Gilroy.


Kelak setelah di Yogya, TGB tambah paham rasisme kepada orang Madura.


Umumnya teman-teman dia yang merasa dari Jawa agak sebelah mata melihat orang Madura.


Stereotipikalisme etnis atau persangkaan etnis itu sama saja muasalnya dengan persangkaan kelas sosial. Ia merambati otak siapapun. Terutama mereka yang sekolahan. Sedikit sekali orang terpelajar yang mampu melampui cerita rasisme atau persangkaan etnik yang mereka pelajari.


Antara persangkaan kelas, etnis dan rasa sama jahatnya. Semuanya penyakit bani adam yang belum lagi ada obat mujarabnya sampai sekarang. 


Teknologi digital yang dibanggakan kita selama ini, justeru menyuburkan persangkaan kelas, etnis, dan ras. Bukan malah menguranginya.


Saya kira pendidikan rasa, feeling, kepekaan, atau seni yang paling cepat memangkas penyakit rasisme daripada peningkatan kemampuan digital, atau sekedar olah intelektual ala kampus.


Setiap mengenang madura TGB Hasan selalu ingat kata-kata dari James Baldwin, kawan kerennya dari Amerika, penulis novel itu berkata : “Saya bangga dengan orang-orang ini bukan karena warna kulit mereka, tetapi karena kecerdasan, kekuatan spiritual, dan kecantikan mereka." 


Lalu, oknum yang mendzalimi Yai Mim di Malang itu, yang merupakan Madura, tentu saja, jangan digeneralisir untuk semua tentang Madura. 


Wallahu'alam...

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE