Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

Anak kecil yang dulu duduk di depan televisi tabung, tiap Minggu pagi jam sembilan, menunggu Indosiar memutar kembali dunia yang terasa jauh dari kampungnya. Dunia para Saiya.

Di situ, di antara kursi plastik dan suara ayam tetangga, ia menemukan Goku. Bukan sebagai pahlawan super, tapi sebagai teman imajinasi yang membuat hidupnya terasa lebih luas dari pagar rumah yang terbuat dari bambu.

Anehnya, bertahun-tahun lewat, anak itu kini tumbuh menjadi orang yang sering mumet oleh hal-hal yang bahkan Vegeta pun mungkin tak mau mengurusnya, tagihan, pekerjaan, tuntutan, luka-luka hati yang tidak terlihat.

Mumet yang tidak bisa dikalahkan dengan satu kali hantaman Kamehameha.
Mumet yang cuma bisa dipikul pelan-pelan sambil menunggu dada kembali lapang.

Dan justru di saat itulah, kenangan tentang Goku datang lagi.
Goku yang tidak pernah digambarkan sebagai keturunan ningrat, bukan keturunan kiai, bukan anak habib, bukan orang besar yang semua jalannya sudah dirapikan.
Ia cuma seseorang yang terus berlatih. Terus naik level. Berusaha mencoba menjadi lebih baik dari kemarin.
Sederhana, tapi tegas untuk dirinya senidiri. Seorang biasa yang memilih untuk tidak berhenti.

Akira Toriyama, lelaki yang jarang dilihat orang di balik layar, telah memberi anak kecil itu satu pelajaran penting tanpa ceramah, tanpa ayat, tanpa pidato.
Bahwa, siapa pun bisa tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dari dirinya hari ini.
Bahwa batas kemampuan itu bukan tembok, melainkan pintu yang menunggu diketuk.

Kadang anak itu, yang kini sudah dewasa, menyadari bahwa kehidupan bukan tentang menjadi jagoan.
Tapi tentang keberanian untuk menambah sedikit kekuatan, sedikit pemahaman, sedikit keberanian, setiap hari.
Seperti Goku yang selalu kembali berlatih meski tubuhnya babak belur, kita pun belajar untuk berdamai dengan mumet, bukan kabur darinya.

Karena di balik kepala yang penuh dan hari-hari yang berat, ada peluang kecil untuk “naik wujud”, versi Super Saiya yang tidak memancarkan cahaya emas, tetapi memancarkan kesabaran, ketekunan, dan keteguhan hati.

Dan mungkin, tanpa sadar, anak kecil yang dulu duduk di depan Indosiar itu sedang menghidupi pesan yang diwariskan Toriyama:
bahwa manusia biasa pun berhak tumbuh luar biasa, selama ia berani melampaui dirinya sendiri.

Super saiya itu sedang mumet, mengatur strategi baru.

Memang begitulah kejadiannya.

Sekitar pukul sebelas malam, Suleman ditemukan meninggal di ruang wudu Mushala Nurul Huda. Di samping tubuhnya yang basah kuyup tergeletak seorang perempuan muda bernama Siti Nur, kader posyandu yang juga bendahara mushala itu. Keduanya ditemukan oleh anak-anak yang datang hendak belajar ngaji lebih awal menjelang subuh. Saat itu air masih menggenang di lantai, dan lampu-lampu mushala padam seluruhnya.

Berita tentang kematian mereka beredar lebih cepat daripada kabar azan subuh.


Dalam waktu singkat nama Suleman, guru ngaji yang sudah lebih dari dua puluh tahun mengajar anak-anak kampung itu, menjadi buah bibir. Orang-orang membicarakan posisi tubuhnya, cara meninggalnya, dan dengan siapa ia ditemukan. Di warung kopi, di beranda rumah, bahkan di grup WhatsApp warga, kalimat yang berulang-ulang terdengar sama:

“Guru ngaji meninggal berduaan dengan janda muda.”

Beberapa ibu rumah tangga bahkan menyarankan agar mushala itu ditutup sementara, menunggu pembersihan dan doa tolak bala. Sementara di pengajian Jumat, seorang ustadz sempat berkata dengan nada getir, “Begitulah, kadang setan datang dari pintu yang kita kira paling suci.”

Pemakaman Suleman berlangsung sederhana. Tak banyak yang datang. Hanya dua santri tua, satu tetangga dekat, dan tentu saja istrinya, Rukiyah, yang sudah lama sakit dan nyaris tak sanggup berdiri. Tak ada khotbah panjang, tak ada doa yang mengiringi lebih dari tiga menit. Angin pagi lewat di antara nisan-nisan baru, membawa bisik-bisik yang tak sempat ditepis siapa pun.

Sesudah itu, nama Suleman lenyap dari pengeras suara mushala. Anak-anak diminta mengaji di rumah Ustadz Mahfud.

Dan setiap kali orang lewat di depan ruang wudu yang sudah dikeringkan itu, mereka menunduk, bukan karena hormat, tapi karena malu menyebut sesuatu yang tabu.

“Sudah lama sebenarnya mereka berdua dekat,” kata seseorang di warung.
“Alim di depan, tapi siapa tahu di belakang.”

Begitulah manusia: sekali percaya pada gosip, maka kebenaran tak lagi butuh bukti.

Baru seminggu kemudian, petugas dari kelurahan datang membawa berkas laporan. Mereka mencari seseorang dari DKM untuk menandatangani dokumen bantuan air bersih. Dalam percakapan yang singkat dan nyaris diabaikan warga itu, terkuak sebuah hal kecil: malam sebelum kejadian, pompa air mushala rusak total.

Padahal, keesokan paginya akan diadakan pengajian akbar dan vaksinasi massal di halaman mushala. Suleman yang bertanggung jawab atas persiapan itu merasa gelisah, karena mushala tak boleh kering dari air wudu atau untuk sekedar cuci tangan.

Ia sempat menyambangi beberapa warga untuk meminjam kunci sumur umum RT sebelah, tapi hanya Siti Nur, bendahara mushala yang juga petugas posyandu, yang masih terjaga malam itu.

Mereka berdua ke mushala bukan untuk hal lain. Hanya untuk memastikan air tersedia esok hari.

Menurut keterangan petugas PLN yang memeriksa pagi berikutnya, kabel mesin pompa itu sudah lama terkelupas. Begitu mesin dinyalakan, arus listrik bocor ke genangan air.

Suleman yang berdiri paling dekat tersengat lebih dulu. Siti yang panik mencoba menarik tubuhnya.

Keduanya jatuh bersamaan, dalam posisi yang kemudian disalahartikan orang sebagai aib.

Tak ada yang tahu peristiwa itu hingga subuh tiba.

Namun kebenaran, seperti air, selalu datang terlambat. Dan sering kali, sudah terlalu keruh untuk dipercaya. Laporan resmi kelurahan tak pernah benar-benar dibaca warga.
Orang-orang sudah terlanjur menutup telinga dengan keyakinan mereka sendiri.

Hanya Rukiyah, istri Suleman, yang tetap datang ke mushala setiap sore. Meskipun sakit. Ia duduk di serambi dengan langkah tertatih, membawa ember besar. Kadang ia menimba air dari bak, menuangkannya perlahan ke lantai ruang wudu. Tak seorang pun tahu untuk apa. Mungkin hanya kebiasaan lama yang tak sempat ia buang.

Suatu kali seorang bocah menegurnya, “Buat apa airnya, Bu?”
Rukiyah tersenyum kecil.

“Biar besok kalau orang mau salat, gak kepleset.
Dulu Bapakmu juga begitu.”

Anak itu mengangguk, menatap permukaan air yang bergetar karena angin. Di luar, langit mulai gelap, seperti hendak hujan lagi.

Dan begitulah, bertahun-tahun kemudian, setiap kali air mushala macet atau hujan turun deras, orang-orang kampung masih menoleh ke arah ruang wudu itu. Bukan karena takut tersengat listrik, tapi karena, entah kenapa, mereka merasa ada sesuatu yang menatap balik dari sana . Sesuatu yang ingin berkata bahwa kebenaran tak selalu datang lebih cepat dari gosip.

Tapi tidak ada yang benar-benar mendengarkan.
Mereka hanya berdiri diam, memandangi ember di pojok mushala yang tak pernah kosong dari air.

Di antara sunyi dan rasa takutnya sendiri, ia memegang perutnya yang bergetar oleh kehidupan yang tak pernah ia rencanakan. Dunia di sekitarnya penuh tudingan, tapi di dadanya hanya ada satu kalimat yang tak bisa dijelaskan. Tuhan telah memilihku. Bahkan ketika aku tak meminta apa-apa.


Kisah itu sering diceritakan saat saya masih kecil sebagai kisah mukjizat. Seorang perempuan melahirkan tanpa laki-laki. Mungkin, di balik itu, ada pesan yang lebih lembut dari sekadar keajaiban.


Amina Wadud pernah menulis bahwa Maryam bukan sekadar “ibu nabi”, tapi perempuan yang menjadi ruang bagi wahyu. Bukan tubuhnya yang luar biasa, melainkan keberaniannya untuk percaya pada sesuatu yang di luar nalar. Ia berdiri sendirian, tapi tak pernah kehilangan arah.


Ia tak menunggu seorang laki-laki untuk menegaskan eksistensinya. ia berdiri di hadapan Tuhan. Utuh, suci, dan berdaulat atas dirinya sendiri. Mendobrak patriarki karena Maryam tidak membutuhkan figur laki-laki untuk “menggenapkan” dirinya. Ia mandiri secara spiritual dan moral. Sekaligus emansipasi. Perempuan bisa menjadi perantara wahyu, bisa membawa kebenaran ilahi, tanpa perlu peran laki-laki di belakangnya


Di sisi lain, Fazlur Rahman menafsirkan mukjizat bukan sebagai pelanggaran hukum alam. Melainkan tanda dari sesuatu yang lebih dalam. Ia bilang, Al-Qur’an tidak berbicara kepada manusia pada zamannya, tapi juga untuk manusia di setiap zaman. Sahih li Kuli Zaman. Maka yang harus dibaca bukan hanya apa yang terjadi, tapi mengapa itu dikisahkan.


Maryam, dalam pandangan itu, adalah simbol tentang sesuatu yang melampaui struktur lama. Kekuasaan Tuhan tidak tunduk pada rumus sosial, dan kebenaran bisa lahir dari rahim siapa saja yang bersih hatinya. Walaupun tanpa restu masyarakat, tanpa figur laki-laki yang melindungi.


Ulil Abshar Abdalla, dalam salah satu tulisannya, pernah berkata panjang tentang Maryam. Ia menyebut Maryam sebagai wajah spiritualitas yang lembut sekaligus tegas. Perempuan yang memeluk kesunyian, namun dalam diamnya justru melahirkan suara paling nyaring tentang tauhid.


Kata Ulil, kisah Maryam adalah “protes lembut” terhadap tatanan yang menyingkirkan perempuan dari ruang suci. Ia hadir bukan untuk melawan, tapi untuk menunjukkan bahwa kesucian dan kekuatan bisa berjalan beriring. kelembutan juga bisa melahirkan mukjizat.


Lalu aku berpikir. Mungkinkah kelahiran Isa bukan sekadar kisah iman, tapi juga cermin bagi rasio yang gelisah. Kita ingin semua hal bisa dijelaskan, diberi rumus, dibuktikan. Tapi di hadapan kisah ini, rasio kita hanya bisa menunduk dan berkata: mungkin tidak semua hal harus masuk akal; sebagian cukup masuk ke makna.


Karena di balik setiap kisah yang tampak mustahil, selalu ada Tuhan yang sedang berbisik: “Aku masih bisa menciptakan keajaiban, bahkan lewat kesunyian seorang perempuan.”


Dan entah mengapa, aku selalu merasa, Maryam itu seperti setiap orang yang sedang berjuang sendirian. Yang merasa tak dipahami, tapi terus percaya bahwa ada alasan di balik setiap luka. Bahwa kadang, sesuatu yang tak masuk akal justru cara Tuhan membentuk kekuatan baru.


Kisah Maryam bukan hanya tentang kelahiran Isa, tapi tentang kelahiran iman di dalam diri manusia. Bahwa yang paling suci bukanlah mereka yang tak pernah goyah, tapi mereka yang tetap percaya di tengah tudingan, di tengah ragu, di tengah rasa sakit.


Dan di sanalah mukjizat sejati tinggal, bukan di rahim yang melahirkan tanpa ayah, tapi di hati yang berani percaya, bahkan ketika seluruh dunia menertawakan keyakinannya.


Saya mencoba menafsirkan lagu “Kunang-Kunang” milik Pidi Baiq.

Barangkali, tidak semua para penikmat lagunya, paham betul tafsiran lagu ini. Ini hanya persepsi pribadi. Tapi kalau didenger baik-baik, ada rasa rindu yang disembunyikan di antara nada-nada ringan itu. Dan entah kenapa, saya yakin ini lagu tentang ayah.

Ternyata, bukan saya saja yang merasakan, salah satu komentar di lagu itu, dalam channel Youtube Pidi Baiq, seseorang mengenang 2 tahun ayahnya pergi. ðŸ¥€

Pada waktu ayah masih kecil, tahun satu delapan delapan empat. Kunang-kunang itu juga masih kecil. Sekarang ayah sudah besar, tapi tetap saja kunang-kunang masih kecil. Seandainya saja ada kunang-kunang sebesar ayah, teranglah dunia.”

Begitulah cara Pidi Baiq membuka lagu itu, absurd, lucu, tapi banyak hal yang perlu ditafsirkan.

Saya tahu Pidi. Saya mengikuti banyak karyanya bersama The Panas Dalam Bank dan sejumlah karya tulisnya. Itu jauh sebelum booming novel Dilan di tahun 2014 (?).  Kemudian difilmkan (2018?). Ia selalu bisa mengubah kesedihan menjadi lelucon yang manis, seperti orang tua yang menyembunyikan air mata di balik tawa. 

Kunang-kunang, makhluk kecil dengan cahaya redup, tapi indah. Dan Pidi membayangkan, seandainya ada yang sebesar ayah. Sosok yang dulu jadi cahaya di rumah, yang menuntun, yang diam-diam menanggung segala gelap, agar anaknya tetap merasa terang. Mungkin dunia akan baik-baik saja. Tidak se-menyesakkan ini. Tidak se-gelap ini. Tidak sesulit ini. Pada sebuah hidup yang tak baik-baik saja, dalam kesedihan yang datang berulang.

Bayangan saya jika saya masih punya cahaya sebesar itu. Mungkin dunia akan terasa lebih hangat, lebih mudah dijalani, lebih bisa ditertawakan.

"Kunang-kunang banyak terbang 
Kuning kuning malam kudus hening"

Adalah lirik pertama. Seperti lukisan kecil yang ditulis pakai kata. Malam yang sunyi, tidak ada suara apa-apa, tapi di situ beterbangan cahaya-cahaya kecil berwarna kuning.

Nah, kata “malam kudus hening” di situ bukan sekadar menggambarkan suasana malam yang tenang.
Itu semacam “malam yang sakral”  malam yang membawa rasa damai, tapi juga kesepian. Ada aura spiritual di balik absurd-nya Pidi. 

 "Ada satu Kunang-kunang
 Lihat terbang bimbang dan bergoyang"

Di antara semua cahaya kecil yang tenang dan indah itu, ada satu yang tidak stabil, goyah, ragu, kehilangan arah.

Bisa jadi, “kunang-kunang” di lagu ini metafora. “bimbang dan bergoyang” ini bisa diartikan sebagai si tokoh utama sendiri. Anak yang sedang berusaha tetap menyala di tengah hidup yang gelap, tapi cahaya dalam dirinya mulai goyah karena kehilangan ayah.

Dalam konteks lagu ini, bisa juga dibaca sebagai refleksi dan relasi tentang ayah dan anak:
Dulu ayah yang jadi cahaya, sekarang sang anak mencoba jadi kunang-kunang kecil yang meneruskan terang itu, meski belum se-terang ayahnya. Terbang bimbang, bergoyang. Dan berusaha tetap berusaha menyala.

Frasa biasa, tapi menyimpan seluruh fragmen rindu dan perjuangan hidup.

"Wahai kau selalu ku kenang 

Bila ku berkunang-kunang 

Wahai kau selalu ku kenang 

Bila ku berkunang-kunang"

Bagian ini adalah jantung dari seluruh lagu itu. Reff-nya pendek, diulang dua kali, tapi justru di situ letak kedalaman yang sulit dijelaskan. 

“Berkunang-kunang” di sini tidak cuma tentang cahaya kecil di malam hari. Pidi bermain di lapisan ganda. Berkunang-kunang bisa juga berarti “pusing, pandangan kabur,”. Sebuah metafora dari kelelahan hidup. Saat hidup terasa mumet, ketika dunia seperti berputar dan cahaya seolah hilang. Di situlah kenangan tentang ayah datang. 

Pengulangan kalimat itu dua kali bukan tanpa alasan. Yang pertama seperti panggilan lembut, yang kedua seperti pengakuan yang lebih dalam. Bahwa mengenang ayah bukan sekadar kebiasaan, tapi cara untuk tetap waras di dunia yang semakin keras. 

Dan frasa, “bila ku berkunang-kunang” itu adalah bentuk kejujuran paling manusiawi. Hidup ini memang sering bikin pusing, ekonomi tidak baik-baik saja, pikiran kadang kalut. Tapi di setiap momen gelap itu, kenangan tentang ayah menyalakan kembali sesuatu di dalam diri. Cahaya kecil, tapi cukup untuk melangkah lagi. Bangun kembali.

Pidi tidak menulis lirik dengan bahasa sedih. Dia pakai bahasa yang absurd, bahkan santai. Tapi itu justru bikin perasaan sedih para penikmatnya lebih nyata. Terlebih lengkingan suara Pidi dalam menyanyikannya.

"Kunang-kunang apa sama 
Bila pusing matamu berkunang-kunang 
Jangan sayang mentang mentang
 Kunang-kunang banyak begadang"

Kalimat Kunang-kunang apa sama, bila pusing matamu berkunang-kunang” di permukaan seperti guyonan. Tapi kalau kita lihat dari cara Pidi nulis, ini sebenarnya bentuk kegetiran yang disamarkan lewat tanya-tanya konyol.

Dia lagi sedih, lagi reflektif, tapi sengaja menyisipkan logika ngaco supaya tidak terlalu muram.

Seolah dia bilang: hidup gue lagi gelap, kepala lagi pusing, tapi yaudah lah, gue becandain aja biar nggak tambah berat. Pertanyaan “kunang-kunang apa sama?” itu retoris, yang tahu tentu saja hanya Pidi dan Tuhannya. Pun dengan frasa selanjutnya: Kunang-kunang banyak begadang.


di akhir lagu, pidi mengatakan:

"Yah kunang-kunang

seandainya Ayah persingkat

maka dia akan menjadi kunang dua".

 

Itulah letak kejeniusan sekaligus titik keharuan khas Pidi Baiq. Absurdnya bukan tanpa arah.  Itu cara Pidi menertawakan kesedihan. Kalimat “Seandainya Ayah persingkat, maka dia akan menjadi kunang dua” itu memang mainan kata yang kelihatannya cuma lucu. Dari kunang-kunang, menjadi kunang dua, alias kunang² , seperti di tulisan-tulisan santai orang Indonesia.

Tapi jika kita lebih dalam, di balik kelucuannya, ada lapisan kesedihan yang disamarkan tawa. Pidi sering banget seperti itu. Dia berbicara hal melankolis, sekaligus diselipin logika ngawur, biar tidak meledak tangisnya. Lebih tepatnya, si para penikmat karyanya, tidak menangis berdarah-darah.

Angkat topi tinggi-tinggi untuk Ayah Pidi. Terus berkarya. Sehat dan bahagia. Terimakasih. 

Sungguh ironi, kadang aku tertawa di depan kompor panas, bukan karena bahagia, tapi karena asap martabak mengaburkan air mata yang tak jadi jatuh. Orang-orang memanggilku “bang”, menyebut nama pesanan. Tak ada yang tahu, di setiap lipatan adonan, aku sembunyikan satu kenangan yang belum matang-matang juga: kamu.

Kau tahu? Sejak malam itu, aku berhenti menulis puisi. Karena setiap kata rindu yang kucoba tulis, berakhir jadi resep martabak. Satu sendok gula, dua tetes harap. Dan sedikit garam untuk menutupi pahit yang tak mau pergi.

Bisa jadi, senyummu dulu itu kutafsirkan sebagai: perjuangkan aku. Ternyata bukan.
Atau WhatsApp-mu yang dulu : Assalamu’alaikum. kukira kabar rindu, ternyata cuma tagihan uang kas kelas kala itu. Mungkin aku tumbuh bersama rasa percaya diri, yang ternyata hanya cara lain dari menyakiti diri sendiri.

Kadang aku iri pada minyak goreng di wajan. Ia bisa mendidih, menggelegak, lalu tenang lagi. Sementara aku, terjebak di panas yang sama, tapi tak pernah matang menjadi apa-apa.

Orang bilang, waktu akan menyembuhkan. Tapi waktu cuma lewat, tak pernah mampir beli martabakku.

Lucu ya, aku ini penjual martabak yang bercita-cita jadi pelupa. Tapi setiap kali melupakanmu, yang muncul malah ingatan baru. Cara kamu tertawa waktu aku gugup di depan kelas, cara kamu menulis huruf ya Arab dengan titiknya yang miring. Semua itu menempel di kepala lebih kuat dari adonan di tanganku.

Buku-buku di rak rumah kontrakan sudah jadi saksi bisu. Dari Kierkegaard sampai Kahlil Gibran, semua kubaca dengan satu harapan. Semoga ada bab yang mengajarkanku cara berhenti mencintaimu. Tapi tidak ada. Mereka semua bicara tentang kehilangan, lalu berakhir dengan kata yang sama: ikhlas.
Dan aku benci kata itu. Karena setiap kali kubaca, aku tahu aku belum sampai di sana.

Kadang malam-malam aku ikut open mic. Katanya komedi bisa jadi terapi, dan tawa adalah cara paling rasional untuk bertahan hidup. Tapi bahkan di panggung, di bawah cahaya lampu dan tatapan orang-orang, aku masih melihat wajahmu di antara penonton. Mungkin itu sebabnya setiap punchline-ku terdengar seperti pengakuan. Dan dalam tiap tawa, terdengar seperti ejekan. 

Kemudia setelah semuanya selesai, aku pulang, menyapa sepi di kamar, menyalakan kipas angin yang berisik, lalu menatap langit-langit sambil bergumam:
“Lupa itu ternyata bukan soal waktu, tapi soal.... entah apa itu.”

Kadang aku iri pada orang-orang yang bisa benar-benar lupa. Mereka memotong masa lalu seperti gunting memotong benang kusut. Cepat, rapi, dan tanpa rasa bersalah. Sedang aku, masih saja memunguti sisa-sisa yang jatuh di lantai ingatan. Kadang satu senyummu terselip di antara halaman buku, kadang suaramu muncul dari tawa penonton di kafe kecil tempatku open mic.

Ada malam-malam di mana aku membaca hanya untuk tidak memikirkanmu, tapi justru setiap kata mengantarku kembali ke wajahmu. “Cinta adalah penderitaan yang indah,” tulis satu pengarang.
Aku tutup bukunya, karena aku tahu, yang kualami bukan lagi indah, hanya sisa penderitaan yang belum selesai.

Aku pikir dengan berkomedi aku bisa menertawakan luka. Tapi rupanya, aku hanya sedang berlatih menyembunyikannya. Tawa di panggung hanyalah kamuflase. Sesudahnya, aku pulang dengan dada kosong, seperti martabak yang lupa diberi isi.

Dan entah kenapa, setiap kali wangi mentega menyeruak di udara, aku teringat pada sore-sore di mana kamu masih jadi kemungkinan.

Kini, bahkan aroma pun berubah jadi kenangan. Sungguh, hidup kadang terlalu pandai bercanda. 

Ada malam ketika aku benar-benar tak kuat lagi. Martabak habis, uang pas-pasan, dan hati masih tak punya rumah untuk pulang.

Aku duduk di depan wajan yang sudah dingin, memandangi bayanganku sendiri di genangan minyak bekas.
Lama sekali.

Seolah di situ aku bisa menemukan jawaban kenapa hidup terus mengulang rasa kehilangan yang sama.

Aku pernah berpikir untuk berhenti saja. Berhenti membaca, berhenti tampil, berhenti berharap.
Apa gunanya semua itu, kalau ujungnya cuma rindu yang tak sampai? Tapi setiap kali pikiran itu datang, aku ingat, ada versi diriku di masa lalu yang pernah berjanji untuk bertahan. Untuk jadi kuat, meski tak ada yang memeluk.

Kadang aku berdoa, bukan untuk melupakanmu, tapi agar suatu hari nanti, kalau aku melihatmu lagi, aku bisa menatap tanpa gemetar. Itu saja. Itu Cukup.

Dan di titik itu, aku sadar. Mungkin aku tak sedang belajar melupakanmu,
aku hanya sedang belajar menerima kenyataan bahwa beberapa orang memang ditakdirkan cuma untuk singgah, bukan tinggal.

Sejak malam itu, aku mulai bicara dengan diriku sendiri.
Kadang di depan cermin kamar mandi kontrakan, kadang di tengah jalan sepi setelah open mic selesai.
Aku tanya. Kenapa kamu masih di sini?
Diriku yang lain menjawab pelan: Karena kamu belum benar-benar pergi.

Lucu, ya?
Orang-orang mengira aku kuat. Mereka melihatku bisa melucu di atas panggung, bisa jualan sambil senyum, bisa membaca buku filsafat dengan catatan penuh sorotan stabilo.
Tapi tak ada yang tahu, di antara tiap baris kalimat itu, ada namamu yang kutimpa paksa dengan tinta hitam.
Tak berhasil juga. Masih samar terlihat. Masih terbaca.

Aku mulai menghitung hari, bukan untuk berharap kamu kembali, tapi untuk tahu: sudah berapa lama aku hidup tanpa kamu.
Dan tetap saja, setiap hitungan berhenti di angka yang sama. Angka yang tak pernah selesai.

Pernah aku coba menulis lagi. Satu kalimat saja:
“Perasaan yang tak disampaikan akan membusuk di dada.”
Lalu aku diam.
Karena di dada ini memang sudah terlalu banyak yang busuk.

Aku menyalakan lampu kamar, tapi cahaya itu seperti tak mau menempel di dinding. Ia hanya melayang di udara, redup, menggantung, dan dingin. Mungkin begini rasanya kehilangan yang sejati. Bukan air mata, bukan teriak, tapi sunyi yang terlalu panjang, hingga akhirnya kau tak tahu lagi bagaimana rasanya berbicara tanpa menyebut nama seseorang.

Tapi aneh, semakin lama aku diam di dalam sunyi, semakin aku mengenali diriku sendiri.

Ternyata aku tidak hanya kehilanganmu, aku juga kehilangan bagian dari diriku yang dulu ingin membuatmu bahagia. Dan di sanalah aku mulai paham. Mungkin bukan kamu yang perlu kulepaskan,
tapi versi diriku yang terus menunggu di tempat yang sama.

Sekarang, setiap kali aku membuat martabak, aku melakukannya perlahan. Ada semacam ketenangan baru di antara bunyi wajan dan aroma mentega. Mungkin karena aku sudah tidak lagi berharap kamu datang membelinya atau sekedar menyapa. Mungkin karena akhirnya aku bisa menerima bahwa beberapa kenangan cukup disimpan, bukan diulang.

Aku masih membaca, tentu saja. Tapi bukan lagi untuk mencari cara melupakanmu. Aku membaca untuk belajar mencintai hidup, meski tak selalu ada alasan yang indah. Dan saat aku naik panggung lagi, aku tak lagi takut jika tiba-tiba wajahmu terlintas. Karena sekarang, kalau pun kau muncul di antara penonton, aku tahu, aku bisa tetap menertawakan kisahku sendiri tanpa merasa kalah.

Lucu, ya? Ternyata damai itu tidak datang dalam sorak atau tawa. Ia datang diam-diam, di sela-sela aroma martabak hangat, di antara halaman buku yang terlipat, di dalam diri yang akhirnya bisa berkata:
“Sudah cukup.”

Malam makin larut. Suara kendaraan Kota Bogor di luar menipis, menyisakan desau kipas angin dan detak kecil jam dinding yang entah sejak kapan berhenti pas di angka tiga dini hari.
Aku duduk di tepi ranjang, memandangi langit-langit yang retaknya membentuk pola tak beraturan, seperti peta, tapi tanpa tujuan.

Di luar jendela, lampu jalan berpendar kuning pucat, menembus tirai lusuh kamar kontrakan. Cahaya itu menimpa wajahku, separuh hangat, separuh dingin. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya aku tidak merasa perlu memalingkan wajah dari bayanganku sendiri.

Aku menutup buku di pangkuan. Di halamannya terselip sehelai kertas order martabak, masih berbau mentega. Di sana, dengan tulisan tangan yang hampir pudar, ada satu kalimat yang dulu aku tulis untukmu:
“Jika suatu hari aku tak lagi menunggumu, bukan berarti aku berhenti mencintaimu. Aku hanya lelah jadi satu-satunya yang bertahan.”

Aku tersenyum kecil, bukan karena sudah bahagia,
tapi karena akhirnya aku tahu, bahwa beberapa kehilangan memang harus dibiarkan tinggal di tempatnya. Seperti halnya malam ini.
Diam.
Dingin.
Tapi jujur.

Yang tersisa di atas wajan.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE