Sungguh ironi, kadang aku tertawa di depan kompor panas, bukan karena bahagia, tapi karena asap martabak mengaburkan air mata yang tak jadi jatuh. Orang-orang memanggilku “bang”, menyebut nama pesanan. Tak ada yang tahu, di setiap lipatan adonan, aku sembunyikan satu kenangan yang belum matang-matang juga: kamu.
Kau tahu? Sejak malam itu, aku berhenti menulis puisi. Karena setiap kata rindu yang kucoba tulis, berakhir jadi resep martabak. Satu sendok gula, dua tetes harap. Dan sedikit garam untuk menutupi pahit yang tak mau pergi.
Bisa jadi, senyummu dulu itu kutafsirkan sebagai: perjuangkan aku. Ternyata bukan.
Atau WhatsApp-mu yang dulu : Assalamu’alaikum. kukira kabar rindu, ternyata cuma tagihan uang kas kelas kala itu. Mungkin aku tumbuh bersama rasa percaya diri, yang ternyata hanya cara lain dari menyakiti diri sendiri.
Kadang aku iri pada minyak goreng di wajan. Ia bisa mendidih, menggelegak, lalu tenang lagi. Sementara aku, terjebak di panas yang sama, tapi tak pernah matang menjadi apa-apa.
Orang bilang, waktu akan menyembuhkan. Tapi waktu cuma lewat, tak pernah mampir beli martabakku.
Lucu ya, aku ini penjual martabak yang bercita-cita jadi pelupa. Tapi setiap kali melupakanmu, yang muncul malah ingatan baru. Cara kamu tertawa waktu aku gugup di depan kelas, cara kamu menulis huruf ya Arab dengan titiknya yang miring. Semua itu menempel di kepala lebih kuat dari adonan di tanganku.
Buku-buku di rak rumah kontrakan sudah jadi saksi bisu. Dari Kierkegaard sampai Kahlil Gibran, semua kubaca dengan satu harapan. Semoga ada bab yang mengajarkanku cara berhenti mencintaimu. Tapi tidak ada. Mereka semua bicara tentang kehilangan, lalu berakhir dengan kata yang sama: ikhlas.
Dan aku benci kata itu. Karena setiap kali kubaca, aku tahu aku belum sampai di sana.
Kadang malam-malam aku ikut open mic. Katanya komedi bisa jadi terapi, dan tawa adalah cara paling rasional untuk bertahan hidup. Tapi bahkan di panggung, di bawah cahaya lampu dan tatapan orang-orang, aku masih melihat wajahmu di antara penonton. Mungkin itu sebabnya setiap punchline-ku terdengar seperti pengakuan. Dan dalam tiap tawa, terdengar seperti ejekan.
Kemudia setelah semuanya selesai, aku pulang, menyapa sepi di kamar, menyalakan kipas angin yang berisik, lalu menatap langit-langit sambil bergumam:
“Lupa itu ternyata bukan soal waktu, tapi soal.... entah apa itu.”
Kadang aku iri pada orang-orang yang bisa benar-benar lupa. Mereka memotong masa lalu seperti gunting memotong benang kusut. Cepat, rapi, dan tanpa rasa bersalah. Sedang aku, masih saja memunguti sisa-sisa yang jatuh di lantai ingatan. Kadang satu senyummu terselip di antara halaman buku, kadang suaramu muncul dari tawa penonton di kafe kecil tempatku open mic.
Ada malam-malam di mana aku membaca hanya untuk tidak memikirkanmu, tapi justru setiap kata mengantarku kembali ke wajahmu. “Cinta adalah penderitaan yang indah,” tulis satu pengarang.
Aku tutup bukunya, karena aku tahu, yang kualami bukan lagi indah, hanya sisa penderitaan yang belum selesai.
Aku pikir dengan berkomedi aku bisa menertawakan luka. Tapi rupanya, aku hanya sedang berlatih menyembunyikannya. Tawa di panggung hanyalah kamuflase. Sesudahnya, aku pulang dengan dada kosong, seperti martabak yang lupa diberi isi.
Dan entah kenapa, setiap kali wangi mentega menyeruak di udara, aku teringat pada sore-sore di mana kamu masih jadi kemungkinan.
Kini, bahkan aroma pun berubah jadi kenangan. Sungguh, hidup kadang terlalu pandai bercanda.
Ada malam ketika aku benar-benar tak kuat lagi. Martabak habis, uang pas-pasan, dan hati masih tak punya rumah untuk pulang.
Aku duduk di depan wajan yang sudah dingin, memandangi bayanganku sendiri di genangan minyak bekas.
Lama sekali.
Seolah di situ aku bisa menemukan jawaban kenapa hidup terus mengulang rasa kehilangan yang sama.
Aku pernah berpikir untuk berhenti saja. Berhenti membaca, berhenti tampil, berhenti berharap.
Apa gunanya semua itu, kalau ujungnya cuma rindu yang tak sampai? Tapi setiap kali pikiran itu datang, aku ingat, ada versi diriku di masa lalu yang pernah berjanji untuk bertahan. Untuk jadi kuat, meski tak ada yang memeluk.
Kadang aku berdoa, bukan untuk melupakanmu, tapi agar suatu hari nanti, kalau aku melihatmu lagi, aku bisa menatap tanpa gemetar. Itu saja. Itu Cukup.
Dan di titik itu, aku sadar. Mungkin aku tak sedang belajar melupakanmu,
aku hanya sedang belajar menerima kenyataan bahwa beberapa orang memang ditakdirkan cuma untuk singgah, bukan tinggal.
Sejak malam itu, aku mulai bicara dengan diriku sendiri.
Kadang di depan cermin kamar mandi kontrakan, kadang di tengah jalan sepi setelah open mic selesai.
Aku tanya. Kenapa kamu masih di sini?
Diriku yang lain menjawab pelan: Karena kamu belum benar-benar pergi.
Lucu, ya?
Orang-orang mengira aku kuat. Mereka melihatku bisa melucu di atas panggung, bisa jualan sambil senyum, bisa membaca buku filsafat dengan catatan penuh sorotan stabilo.
Tapi tak ada yang tahu, di antara tiap baris kalimat itu, ada namamu yang kutimpa paksa dengan tinta hitam.
Tak berhasil juga. Masih samar terlihat. Masih terbaca.
Aku mulai menghitung hari, bukan untuk berharap kamu kembali, tapi untuk tahu: sudah berapa lama aku hidup tanpa kamu.
Dan tetap saja, setiap hitungan berhenti di angka yang sama. Angka yang tak pernah selesai.
Pernah aku coba menulis lagi. Satu kalimat saja:
“Perasaan yang tak disampaikan akan membusuk di dada.”
Lalu aku diam.
Karena di dada ini memang sudah terlalu banyak yang busuk.
Aku menyalakan lampu kamar, tapi cahaya itu seperti tak mau menempel di dinding. Ia hanya melayang di udara, redup, menggantung, dan dingin. Mungkin begini rasanya kehilangan yang sejati. Bukan air mata, bukan teriak, tapi sunyi yang terlalu panjang, hingga akhirnya kau tak tahu lagi bagaimana rasanya berbicara tanpa menyebut nama seseorang.
Tapi aneh, semakin lama aku diam di dalam sunyi, semakin aku mengenali diriku sendiri.
Ternyata aku tidak hanya kehilanganmu, aku juga kehilangan bagian dari diriku yang dulu ingin membuatmu bahagia. Dan di sanalah aku mulai paham. Mungkin bukan kamu yang perlu kulepaskan,
tapi versi diriku yang terus menunggu di tempat yang sama.
Sekarang, setiap kali aku membuat martabak, aku melakukannya perlahan. Ada semacam ketenangan baru di antara bunyi wajan dan aroma mentega. Mungkin karena aku sudah tidak lagi berharap kamu datang membelinya atau sekedar menyapa. Mungkin karena akhirnya aku bisa menerima bahwa beberapa kenangan cukup disimpan, bukan diulang.
Aku masih membaca, tentu saja. Tapi bukan lagi untuk mencari cara melupakanmu. Aku membaca untuk belajar mencintai hidup, meski tak selalu ada alasan yang indah. Dan saat aku naik panggung lagi, aku tak lagi takut jika tiba-tiba wajahmu terlintas. Karena sekarang, kalau pun kau muncul di antara penonton, aku tahu, aku bisa tetap menertawakan kisahku sendiri tanpa merasa kalah.
Lucu, ya? Ternyata damai itu tidak datang dalam sorak atau tawa. Ia datang diam-diam, di sela-sela aroma martabak hangat, di antara halaman buku yang terlipat, di dalam diri yang akhirnya bisa berkata:
“Sudah cukup.”
Malam makin larut. Suara kendaraan Kota Bogor di luar menipis, menyisakan desau kipas angin dan detak kecil jam dinding yang entah sejak kapan berhenti pas di angka tiga dini hari.
Aku duduk di tepi ranjang, memandangi langit-langit yang retaknya membentuk pola tak beraturan, seperti peta, tapi tanpa tujuan.
Di luar jendela, lampu jalan berpendar kuning pucat, menembus tirai lusuh kamar kontrakan. Cahaya itu menimpa wajahku, separuh hangat, separuh dingin. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya aku tidak merasa perlu memalingkan wajah dari bayanganku sendiri.
Aku menutup buku di pangkuan. Di halamannya terselip sehelai kertas order martabak, masih berbau mentega. Di sana, dengan tulisan tangan yang hampir pudar, ada satu kalimat yang dulu aku tulis untukmu:
“Jika suatu hari aku tak lagi menunggumu, bukan berarti aku berhenti mencintaimu. Aku hanya lelah jadi satu-satunya yang bertahan.”
Aku tersenyum kecil, bukan karena sudah bahagia,
tapi karena akhirnya aku tahu, bahwa beberapa kehilangan memang harus dibiarkan tinggal di tempatnya. Seperti halnya malam ini.
Diam.
Dingin.
Tapi jujur.
Yang tersisa di atas wajan.