Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

Sejak kecil, saya punya banyak cita-cita. Dan dua di antaranya terdengar, sangat heroik, sekaligus sangat tidak mungkin saya capai dengan kondisi saya hari ini.

Pertama, saya ingin bekerja di TVRI. Ya, TVRI hitam putih yang saya tonton waktu kecil. Yang gambarnya burem, antenanya harus diputer dulu pakai galah bambu, dan kalau hujan petir gambarnya jadi cacing kejang. Tapi entah kenapa, buat saya keren sekali menjadi bagian dari TVRI. Rasanya seperti jadi orang penting di republik ini, meski cuma baca acara jadwal siaran. Hingga saat ini saya suka sekali menonton berita TVRI.

Dan cita-cita kedua. Saya ingin menjadi qori. Qori tilawah Al-Qur’an. Sebuah seni tarik suara yang memadukan keindahan maqamat, tetapi tetap menjaga esensi tajwid. Meskipun suara saya sebenarnya sangat jelek. Jelek sekali.
Yang kalau dikasih nilai seratus, sembilan puluh sembilannya itu karena Allah Maha Pengampun.

Saya terinspirasi dari paman saya. Keluarga dari ibu saya, meski agak jauh. Beliau seorang qori hebat di kampung kami. Juara nasional. Lucunya, beliau dulu anggota Polri. Sudah pensiun, sudah sepuh, tapi kalau pengajian kampung-kampung, dia yang baca. Dan puncaknya selalu di  shalat Jumat Kliwon. Hari sakral. Shalat jum'at ketika masjid besar penuh sesak.

Dan ketika paman saya membaca. Saya berani bersumpah. Bahkan angin pun berhenti bergerak. Daun-daun pohon seperti menahan napas. Sampai jago pun lupa cara berkokok.

Setiap tarikan napasnya seperti menegakkan iman. Setiap pengeluaran lafaz seperti membelah dada dan memasukkan cahaya ke dalamnya.
Dan keindahan kalam Allah turun begitu lembut, bagai hujan yang jatuh satu demi satu, tapi mampu menumbuhkan seluruh ladang hati.

Indah sekali. Saya yakin siapa pun yang hadir saat itu akan diam. Dan pulang dengan dada yang lapang.

Lalu kembali ke realitas.

Saya ditakdirkan dengan suara yang biasa saja. Untuk tidak menyebutnya dengan kejujuran penuh: suara saya sebenarnya sangat jelek. Teramat jelek. Hahaa

Dulu di pesantren ada kelas qori. Saya paling malas ikut kelas itu. Saya sadar diri. Saya pernah ikut paling tidak satu atau dua kali. Selebihnya saya bolos. Kabur. Bersembunyi di belakang kitab alfiyah, sambil pura-pura sibuk menghapal. Wkwkwk.

Lalu waktu berjalan.
Ternyata hidup tidak selalu menyenangkan, dan saya belajar menjadi prajurit: bertahan dalam keadaan apa pun.

Dan hari ini, saat asesmen lapangan izin prodi magister, karena hari Ahad dan tidak ada orang lain, maka petaka itu terjadi.

Saya ditunjuk sebagai qori. Di depan teman-teman kampus. Di depan para profesor.
Di depan bu Rektor.

Dan tentu saja kita semua bisa menebak hasilnya: amat sangat memalukan. Saya grogi setengah mati. Suara saya bergetar seperti speaker masjid yang kesetrum.

Dan yang lebih menyakitkan dari suara saya sendiri adalah ketika Bu Rektor berdiri, tersenyum, dan berkata pada asesor:

“Beliau ini biasanya qori-nya bagus… tapi hari ini berbeda.”
Saya ingin menghilang.
Kalau bisa, saya ingin menjadi sajadah. Atau sandal jepit. Atau apa pun yang tidak terlihat manusia. Wkwkwkw.

Tapi sudahlah.

Hikmahnya jelas. Saya tidak akan pernah ditunjuk menjadi qori lagi. Dan itu salah satu bentuk kemenangan yang paling realistis dalam hidup saya.

Dulu, saat saya mahasiswa PPL di Kendal, karena saya koordinator mahasiswa, saya qori juga. Tidak separah hari ini. Tapi tetap saja traumatis.

Hari ini saya hanya bisa berdoa.
Semoga asesmen lapangan prodi magister kampus saya berhasil.
Sukses.
Dan tentu saja. bukan karena qori-nya saya.

Anak kecil yang dulu duduk di depan televisi tabung, tiap Minggu pagi jam sembilan, menunggu Indosiar memutar kembali dunia yang terasa jauh dari kampungnya. Dunia para Saiya.

Di situ, di antara kursi plastik dan suara ayam tetangga, ia menemukan Goku. Bukan sebagai pahlawan super, tapi sebagai teman imajinasi yang membuat hidupnya terasa lebih luas dari pagar rumah yang terbuat dari bambu.

Anehnya, bertahun-tahun lewat, anak itu kini tumbuh menjadi orang yang sering mumet oleh hal-hal yang bahkan Vegeta pun mungkin tak mau mengurusnya, tagihan, pekerjaan, tuntutan, luka-luka hati yang tidak terlihat.

Mumet yang tidak bisa dikalahkan dengan satu kali hantaman Kamehameha.
Mumet yang cuma bisa dipikul pelan-pelan sambil menunggu dada kembali lapang.

Dan justru di saat itulah, kenangan tentang Goku datang lagi.
Goku yang tidak pernah digambarkan sebagai keturunan ningrat, bukan keturunan kiai, bukan anak habib, bukan orang besar yang semua jalannya sudah dirapikan.
Ia cuma seseorang yang terus berlatih. Terus naik level. Berusaha mencoba menjadi lebih baik dari kemarin.
Sederhana, tapi tegas untuk dirinya senidiri. Seorang biasa yang memilih untuk tidak berhenti.

Akira Toriyama, lelaki yang jarang dilihat orang di balik layar, telah memberi anak kecil itu satu pelajaran penting tanpa ceramah, tanpa ayat, tanpa pidato.
Bahwa, siapa pun bisa tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dari dirinya hari ini.
Bahwa batas kemampuan itu bukan tembok, melainkan pintu yang menunggu diketuk.

Kadang anak itu, yang kini sudah dewasa, menyadari bahwa kehidupan bukan tentang menjadi jagoan.
Tapi tentang keberanian untuk menambah sedikit kekuatan, sedikit pemahaman, sedikit keberanian, setiap hari.
Seperti Goku yang selalu kembali berlatih meski tubuhnya babak belur, kita pun belajar untuk berdamai dengan mumet, bukan kabur darinya.

Karena di balik kepala yang penuh dan hari-hari yang berat, ada peluang kecil untuk “naik wujud”, versi Super Saiya yang tidak memancarkan cahaya emas, tetapi memancarkan kesabaran, ketekunan, dan keteguhan hati.

Dan mungkin, tanpa sadar, anak kecil yang dulu duduk di depan Indosiar itu sedang menghidupi pesan yang diwariskan Toriyama:
bahwa manusia biasa pun berhak tumbuh luar biasa, selama ia berani melampaui dirinya sendiri.

Super saiya itu sedang mumet, mengatur strategi baru.

Memang begitulah kejadiannya.

Sekitar pukul sebelas malam, Suleman ditemukan meninggal di ruang wudu Mushala Nurul Huda. Di samping tubuhnya yang basah kuyup tergeletak seorang perempuan muda bernama Siti Nur, kader posyandu yang juga bendahara mushala itu. Keduanya ditemukan oleh anak-anak yang datang hendak belajar ngaji lebih awal menjelang subuh. Saat itu air masih menggenang di lantai, dan lampu-lampu mushala padam seluruhnya.

Berita tentang kematian mereka beredar lebih cepat daripada kabar azan subuh.


Dalam waktu singkat nama Suleman, guru ngaji yang sudah lebih dari dua puluh tahun mengajar anak-anak kampung itu, menjadi buah bibir. Orang-orang membicarakan posisi tubuhnya, cara meninggalnya, dan dengan siapa ia ditemukan. Di warung kopi, di beranda rumah, bahkan di grup WhatsApp warga, kalimat yang berulang-ulang terdengar sama:

“Guru ngaji meninggal berduaan dengan janda muda.”

Beberapa ibu rumah tangga bahkan menyarankan agar mushala itu ditutup sementara, menunggu pembersihan dan doa tolak bala. Sementara di pengajian Jumat, seorang ustadz sempat berkata dengan nada getir, “Begitulah, kadang setan datang dari pintu yang kita kira paling suci.”

Pemakaman Suleman berlangsung sederhana. Tak banyak yang datang. Hanya dua santri tua, satu tetangga dekat, dan tentu saja istrinya, Rukiyah, yang sudah lama sakit dan nyaris tak sanggup berdiri. Tak ada khotbah panjang, tak ada doa yang mengiringi lebih dari tiga menit. Angin pagi lewat di antara nisan-nisan baru, membawa bisik-bisik yang tak sempat ditepis siapa pun.

Sesudah itu, nama Suleman lenyap dari pengeras suara mushala. Anak-anak diminta mengaji di rumah Ustadz Mahfud.

Dan setiap kali orang lewat di depan ruang wudu yang sudah dikeringkan itu, mereka menunduk, bukan karena hormat, tapi karena malu menyebut sesuatu yang tabu.

“Sudah lama sebenarnya mereka berdua dekat,” kata seseorang di warung.
“Alim di depan, tapi siapa tahu di belakang.”

Begitulah manusia: sekali percaya pada gosip, maka kebenaran tak lagi butuh bukti.

Baru seminggu kemudian, petugas dari kelurahan datang membawa berkas laporan. Mereka mencari seseorang dari DKM untuk menandatangani dokumen bantuan air bersih. Dalam percakapan yang singkat dan nyaris diabaikan warga itu, terkuak sebuah hal kecil: malam sebelum kejadian, pompa air mushala rusak total.

Padahal, keesokan paginya akan diadakan pengajian akbar dan vaksinasi massal di halaman mushala. Suleman yang bertanggung jawab atas persiapan itu merasa gelisah, karena mushala tak boleh kering dari air wudu atau untuk sekedar cuci tangan.

Ia sempat menyambangi beberapa warga untuk meminjam kunci sumur umum RT sebelah, tapi hanya Siti Nur, bendahara mushala yang juga petugas posyandu, yang masih terjaga malam itu.

Mereka berdua ke mushala bukan untuk hal lain. Hanya untuk memastikan air tersedia esok hari.

Menurut keterangan petugas PLN yang memeriksa pagi berikutnya, kabel mesin pompa itu sudah lama terkelupas. Begitu mesin dinyalakan, arus listrik bocor ke genangan air.

Suleman yang berdiri paling dekat tersengat lebih dulu. Siti yang panik mencoba menarik tubuhnya.

Keduanya jatuh bersamaan, dalam posisi yang kemudian disalahartikan orang sebagai aib.

Tak ada yang tahu peristiwa itu hingga subuh tiba.

Namun kebenaran, seperti air, selalu datang terlambat. Dan sering kali, sudah terlalu keruh untuk dipercaya. Laporan resmi kelurahan tak pernah benar-benar dibaca warga.
Orang-orang sudah terlanjur menutup telinga dengan keyakinan mereka sendiri.

Hanya Rukiyah, istri Suleman, yang tetap datang ke mushala setiap sore. Meskipun sakit. Ia duduk di serambi dengan langkah tertatih, membawa ember besar. Kadang ia menimba air dari bak, menuangkannya perlahan ke lantai ruang wudu. Tak seorang pun tahu untuk apa. Mungkin hanya kebiasaan lama yang tak sempat ia buang.

Suatu kali seorang bocah menegurnya, “Buat apa airnya, Bu?”
Rukiyah tersenyum kecil.

“Biar besok kalau orang mau salat, gak kepleset.
Dulu Bapakmu juga begitu.”

Anak itu mengangguk, menatap permukaan air yang bergetar karena angin. Di luar, langit mulai gelap, seperti hendak hujan lagi.

Dan begitulah, bertahun-tahun kemudian, setiap kali air mushala macet atau hujan turun deras, orang-orang kampung masih menoleh ke arah ruang wudu itu. Bukan karena takut tersengat listrik, tapi karena, entah kenapa, mereka merasa ada sesuatu yang menatap balik dari sana . Sesuatu yang ingin berkata bahwa kebenaran tak selalu datang lebih cepat dari gosip.

Tapi tidak ada yang benar-benar mendengarkan.
Mereka hanya berdiri diam, memandangi ember di pojok mushala yang tak pernah kosong dari air.

Di antara sunyi dan rasa takutnya sendiri, ia memegang perutnya yang bergetar oleh kehidupan yang tak pernah ia rencanakan. Dunia di sekitarnya penuh tudingan, tapi di dadanya hanya ada satu kalimat yang tak bisa dijelaskan. Tuhan telah memilihku. Bahkan ketika aku tak meminta apa-apa.


Kisah itu sering diceritakan saat saya masih kecil sebagai kisah mukjizat. Seorang perempuan melahirkan tanpa laki-laki. Mungkin, di balik itu, ada pesan yang lebih lembut dari sekadar keajaiban.


Amina Wadud pernah menulis bahwa Maryam bukan sekadar “ibu nabi”, tapi perempuan yang menjadi ruang bagi wahyu. Bukan tubuhnya yang luar biasa, melainkan keberaniannya untuk percaya pada sesuatu yang di luar nalar. Ia berdiri sendirian, tapi tak pernah kehilangan arah.


Ia tak menunggu seorang laki-laki untuk menegaskan eksistensinya. ia berdiri di hadapan Tuhan. Utuh, suci, dan berdaulat atas dirinya sendiri. Mendobrak patriarki karena Maryam tidak membutuhkan figur laki-laki untuk “menggenapkan” dirinya. Ia mandiri secara spiritual dan moral. Sekaligus emansipasi. Perempuan bisa menjadi perantara wahyu, bisa membawa kebenaran ilahi, tanpa perlu peran laki-laki di belakangnya


Di sisi lain, Fazlur Rahman menafsirkan mukjizat bukan sebagai pelanggaran hukum alam. Melainkan tanda dari sesuatu yang lebih dalam. Ia bilang, Al-Qur’an tidak berbicara kepada manusia pada zamannya, tapi juga untuk manusia di setiap zaman. Sahih li Kuli Zaman. Maka yang harus dibaca bukan hanya apa yang terjadi, tapi mengapa itu dikisahkan.


Maryam, dalam pandangan itu, adalah simbol tentang sesuatu yang melampaui struktur lama. Kekuasaan Tuhan tidak tunduk pada rumus sosial, dan kebenaran bisa lahir dari rahim siapa saja yang bersih hatinya. Walaupun tanpa restu masyarakat, tanpa figur laki-laki yang melindungi.


Ulil Abshar Abdalla, dalam salah satu tulisannya, pernah berkata panjang tentang Maryam. Ia menyebut Maryam sebagai wajah spiritualitas yang lembut sekaligus tegas. Perempuan yang memeluk kesunyian, namun dalam diamnya justru melahirkan suara paling nyaring tentang tauhid.


Kata Ulil, kisah Maryam adalah “protes lembut” terhadap tatanan yang menyingkirkan perempuan dari ruang suci. Ia hadir bukan untuk melawan, tapi untuk menunjukkan bahwa kesucian dan kekuatan bisa berjalan beriring. kelembutan juga bisa melahirkan mukjizat.


Lalu aku berpikir. Mungkinkah kelahiran Isa bukan sekadar kisah iman, tapi juga cermin bagi rasio yang gelisah. Kita ingin semua hal bisa dijelaskan, diberi rumus, dibuktikan. Tapi di hadapan kisah ini, rasio kita hanya bisa menunduk dan berkata: mungkin tidak semua hal harus masuk akal; sebagian cukup masuk ke makna.


Karena di balik setiap kisah yang tampak mustahil, selalu ada Tuhan yang sedang berbisik: “Aku masih bisa menciptakan keajaiban, bahkan lewat kesunyian seorang perempuan.”


Dan entah mengapa, aku selalu merasa, Maryam itu seperti setiap orang yang sedang berjuang sendirian. Yang merasa tak dipahami, tapi terus percaya bahwa ada alasan di balik setiap luka. Bahwa kadang, sesuatu yang tak masuk akal justru cara Tuhan membentuk kekuatan baru.


Kisah Maryam bukan hanya tentang kelahiran Isa, tapi tentang kelahiran iman di dalam diri manusia. Bahwa yang paling suci bukanlah mereka yang tak pernah goyah, tapi mereka yang tetap percaya di tengah tudingan, di tengah ragu, di tengah rasa sakit.


Dan di sanalah mukjizat sejati tinggal, bukan di rahim yang melahirkan tanpa ayah, tapi di hati yang berani percaya, bahkan ketika seluruh dunia menertawakan keyakinannya.


Saya mencoba menafsirkan lagu “Kunang-Kunang” milik Pidi Baiq.

Barangkali, tidak semua para penikmat lagunya, paham betul tafsiran lagu ini. Ini hanya persepsi pribadi. Tapi kalau didenger baik-baik, ada rasa rindu yang disembunyikan di antara nada-nada ringan itu. Dan entah kenapa, saya yakin ini lagu tentang ayah.

Ternyata, bukan saya saja yang merasakan, salah satu komentar di lagu itu, dalam channel Youtube Pidi Baiq, seseorang mengenang 2 tahun ayahnya pergi. ðŸ¥€

Pada waktu ayah masih kecil, tahun satu delapan delapan empat. Kunang-kunang itu juga masih kecil. Sekarang ayah sudah besar, tapi tetap saja kunang-kunang masih kecil. Seandainya saja ada kunang-kunang sebesar ayah, teranglah dunia.”

Begitulah cara Pidi Baiq membuka lagu itu, absurd, lucu, tapi banyak hal yang perlu ditafsirkan.

Saya tahu Pidi. Saya mengikuti banyak karyanya bersama The Panas Dalam Bank dan sejumlah karya tulisnya. Itu jauh sebelum booming novel Dilan di tahun 2014 (?).  Kemudian difilmkan (2018?). Ia selalu bisa mengubah kesedihan menjadi lelucon yang manis, seperti orang tua yang menyembunyikan air mata di balik tawa. 

Kunang-kunang, makhluk kecil dengan cahaya redup, tapi indah. Dan Pidi membayangkan, seandainya ada yang sebesar ayah. Sosok yang dulu jadi cahaya di rumah, yang menuntun, yang diam-diam menanggung segala gelap, agar anaknya tetap merasa terang. Mungkin dunia akan baik-baik saja. Tidak se-menyesakkan ini. Tidak se-gelap ini. Tidak sesulit ini. Pada sebuah hidup yang tak baik-baik saja, dalam kesedihan yang datang berulang.

Bayangan saya jika saya masih punya cahaya sebesar itu. Mungkin dunia akan terasa lebih hangat, lebih mudah dijalani, lebih bisa ditertawakan.

"Kunang-kunang banyak terbang 
Kuning kuning malam kudus hening"

Adalah lirik pertama. Seperti lukisan kecil yang ditulis pakai kata. Malam yang sunyi, tidak ada suara apa-apa, tapi di situ beterbangan cahaya-cahaya kecil berwarna kuning.

Nah, kata “malam kudus hening” di situ bukan sekadar menggambarkan suasana malam yang tenang.
Itu semacam “malam yang sakral”  malam yang membawa rasa damai, tapi juga kesepian. Ada aura spiritual di balik absurd-nya Pidi. 

 "Ada satu Kunang-kunang
 Lihat terbang bimbang dan bergoyang"

Di antara semua cahaya kecil yang tenang dan indah itu, ada satu yang tidak stabil, goyah, ragu, kehilangan arah.

Bisa jadi, “kunang-kunang” di lagu ini metafora. “bimbang dan bergoyang” ini bisa diartikan sebagai si tokoh utama sendiri. Anak yang sedang berusaha tetap menyala di tengah hidup yang gelap, tapi cahaya dalam dirinya mulai goyah karena kehilangan ayah.

Dalam konteks lagu ini, bisa juga dibaca sebagai refleksi dan relasi tentang ayah dan anak:
Dulu ayah yang jadi cahaya, sekarang sang anak mencoba jadi kunang-kunang kecil yang meneruskan terang itu, meski belum se-terang ayahnya. Terbang bimbang, bergoyang. Dan berusaha tetap berusaha menyala.

Frasa biasa, tapi menyimpan seluruh fragmen rindu dan perjuangan hidup.

"Wahai kau selalu ku kenang 

Bila ku berkunang-kunang 

Wahai kau selalu ku kenang 

Bila ku berkunang-kunang"

Bagian ini adalah jantung dari seluruh lagu itu. Reff-nya pendek, diulang dua kali, tapi justru di situ letak kedalaman yang sulit dijelaskan. 

“Berkunang-kunang” di sini tidak cuma tentang cahaya kecil di malam hari. Pidi bermain di lapisan ganda. Berkunang-kunang bisa juga berarti “pusing, pandangan kabur,”. Sebuah metafora dari kelelahan hidup. Saat hidup terasa mumet, ketika dunia seperti berputar dan cahaya seolah hilang. Di situlah kenangan tentang ayah datang. 

Pengulangan kalimat itu dua kali bukan tanpa alasan. Yang pertama seperti panggilan lembut, yang kedua seperti pengakuan yang lebih dalam. Bahwa mengenang ayah bukan sekadar kebiasaan, tapi cara untuk tetap waras di dunia yang semakin keras. 

Dan frasa, “bila ku berkunang-kunang” itu adalah bentuk kejujuran paling manusiawi. Hidup ini memang sering bikin pusing, ekonomi tidak baik-baik saja, pikiran kadang kalut. Tapi di setiap momen gelap itu, kenangan tentang ayah menyalakan kembali sesuatu di dalam diri. Cahaya kecil, tapi cukup untuk melangkah lagi. Bangun kembali.

Pidi tidak menulis lirik dengan bahasa sedih. Dia pakai bahasa yang absurd, bahkan santai. Tapi itu justru bikin perasaan sedih para penikmatnya lebih nyata. Terlebih lengkingan suara Pidi dalam menyanyikannya.

"Kunang-kunang apa sama 
Bila pusing matamu berkunang-kunang 
Jangan sayang mentang mentang
 Kunang-kunang banyak begadang"

Kalimat Kunang-kunang apa sama, bila pusing matamu berkunang-kunang” di permukaan seperti guyonan. Tapi kalau kita lihat dari cara Pidi nulis, ini sebenarnya bentuk kegetiran yang disamarkan lewat tanya-tanya konyol.

Dia lagi sedih, lagi reflektif, tapi sengaja menyisipkan logika ngaco supaya tidak terlalu muram.

Seolah dia bilang: hidup gue lagi gelap, kepala lagi pusing, tapi yaudah lah, gue becandain aja biar nggak tambah berat. Pertanyaan “kunang-kunang apa sama?” itu retoris, yang tahu tentu saja hanya Pidi dan Tuhannya. Pun dengan frasa selanjutnya: Kunang-kunang banyak begadang.


di akhir lagu, pidi mengatakan:

"Yah kunang-kunang

seandainya Ayah persingkat

maka dia akan menjadi kunang dua".

 

Itulah letak kejeniusan sekaligus titik keharuan khas Pidi Baiq. Absurdnya bukan tanpa arah.  Itu cara Pidi menertawakan kesedihan. Kalimat “Seandainya Ayah persingkat, maka dia akan menjadi kunang dua” itu memang mainan kata yang kelihatannya cuma lucu. Dari kunang-kunang, menjadi kunang dua, alias kunang² , seperti di tulisan-tulisan santai orang Indonesia.

Tapi jika kita lebih dalam, di balik kelucuannya, ada lapisan kesedihan yang disamarkan tawa. Pidi sering banget seperti itu. Dia berbicara hal melankolis, sekaligus diselipin logika ngawur, biar tidak meledak tangisnya. Lebih tepatnya, si para penikmat karyanya, tidak menangis berdarah-darah.

Angkat topi tinggi-tinggi untuk Ayah Pidi. Terus berkarya. Sehat dan bahagia. Terimakasih. 

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE