Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

Saya seharusnya memang belajar berdamai dengan apa saja. Termasuk dengan malam ini.

Malam ketika mata tak mau terpejam, pikiran enggan tunduk.

Maka saya kembali meraih sebuah novel lama, Miramar, karya Naguib Mahfouz, sastrawan besar dunia dari Mesir. Novel tentang sebuah hotel. Tentang losmen, kata orang-orang dulu. Tentang orang-orang yang singgah, mengobrol, berpesta, saling mencurigai, saling menyimpan rahasia. Novel yang dulu pernah saya jadikan draf proposal disertasi, tapi malam ini saya membacanya tanpa beban akademik apa pun. Saya tidak sedang mencari objek penelitian. Saya hanya ingin menikmati diksi-diksinya. Keindahan bahasa yang berjalan pelan, tenang, tapi tiba-tiba menikam.

Di kepala saya, Miramar hampir senafas dengan karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Sama-sama berbicara tentang manusia, tentang perempuan, tentang kebangkitan pascarevolusi. Bedanya, Mahfouz mengurung semua itu di satu penginapan. Dan justru di situlah ia menjadi hidup. Latar waktunya, Mesir pascarevolusi -- terasa berdenyut pelan, seperti detak jam tua di dinding hotel.

Di telinga saya, Payung Teduh mengalun.
Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan.

Ah, mungkin hanya sedikit manusia yang masih terjaga di jam-jam seperti ini. Saya tidak ingin overthinking. 

Saya tidak sedang ingin bicara ideologi. Tidak ingin sok pandai menguliti pesan-pesan politik dalam sastra. Malam ini, sastra hanya membangkitkan imajinasi saya tentang zaman-zaman dahulu. Dan entah kenapa, itu terasa begitu nikmat. Ekstasi yang tenang. Mabuk yang pelan. Plot-plot Mahfouz berjalan seperti orang mengantuk, terlihat jinak, dan diam-diam memukul.

Saya berpikir, seandainya hidup di dunia nyata bisa dinikmati seperti menikmati sastra, mungkin pemerintah tak perlu repot-repot memikirkan cara membuat rakyat bahagia. Toh, alur hidup kebanyakan orang sudah sangat nyastrawi: orang-orang kecil, penuh utang, tukang becak, pengemudi ojek, pekerja jalanan, dan saya sendiri—semuanya punya kisah yang layak ditulis.

Saya pernah membaca sebuah artikel independen. Katanya, lebih dari 70 persen rakyat Indonesia tidak akan bertahan hidup jika tidak bekerja selama satu atau dua bulan. Tidak ada penghasilan, maka wassalam. Entah artikel itu benar atau salah. Mungkin banyak salahnya. Tapi juga tidak sepenuhnya keliru.

Secara kuantitatif, memang masuk akal. Orang yang tak bekerja berbulan-bulan, karena bencana atau apa pun, tentu kesulitan makan. Tapi nyatanya, orang-orang Indonesia itu luar biasa dalam urusan bertahan hidup. Kisah-kisah di sekitar kita membuktikannya. Mereka jatuh, bangkit, tertawa, dan entah bagaimana caranya, baik-baik saja.

Orang yang selalu melihat cahaya di tengah gelap semacam itu, bagi saya, adalah Emha Ainun Najib. Ia menguatkan, membesarkan hati orang-orang tertindas. Mustadh‘afin. Rakyat jelata yang tetap bisa bergurau meski hidupnya penuh kesusahan.

Namun tetap saja, ketimpangan di negeri ini terasa ironis. Terlalu jomplang. Saya membayangkan para tokoh, termasuk agamawan, yang gemar meributkan dan memperebutkan sesuatu, menciptakan polarisasi, membuat rakyat kecil bertengkar tanpa ujung. Di media sosial, di mushola, di kehidupan bertetangga. Mungkin ini cara meninabobokan kita: dibuat sibuk berdebat, mendukung hal-hal yang nyaris tak berdampak apa pun pada hidup kita sendiri.

Lalu ketika bencana alam datang, pemerintah kita…
Ah, pikiran saya berhenti di situ.

Malam semakin larut. Payung Teduh terus bergema di kepala. Sisa-sisa dialog di losmen Miramar masih mengambang di awang-awang.

Saya bertanya pelan: besok, anak-anakku dan zamannya nanti, akankah masih seperti ini? Di negara bernama Indonesia yang saya cintai.

Lagu Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan pun selesai. Dan malam kembali sunyi.

 

Salah satu hal yang paling menyenangkan dalam hidup saya adalah, ketika saya krenteg tentang sesuatu, biasanya Tuhan memberikan petunjuk lewat sesuatu. Seperti satu hal ini. 


Semalam. Gus Abduh, Gus Abdullah bin Kiai Ahmad Cikura, dalam ta'limnya, ngaji tentang اِكْتَفَى -- merasa cukup. Syekh Ibn ‘Aṭā’illah selalu punya cara membuat satu kata kecil berubah jadi cermin besar. Jika saya melihat ke sana, tapi yang terpajang justru wajah saya sendiri, lengkap dengan segala keinginan yang tak selesai.


Saya sedang dalam mengevaluasi siapapun. Kepada sistem, seseorang ataupun badan. Saya sedang mencoba menyelami diri saya sendiri. 


Andaikan saya belajar rasa cukup.

Dan semua manusia di dunia ini merasa cukup. 


Kalau politisi merasa cukup, mereka tidak akan menjual rakyatnya demi kursi yang cuma sementara. Kalau pengusaha merasa cukup, mereka tidak akan merebut hak orang kecil yang cuma ingin hidup wajar. Kalau penguasa merasa cukup, mereka tidak akan takut kehilangan jabatan sehingga menindas siapa saja yang berbeda suara.


Dan kalau kita semua merasa cukup.,mungkin bumi ini tidak sesak oleh nafsu yang meletup-letup tiap hari.


Tapi manusia, terkhusus saya, sering lupa bahwa cukup itu bukan soal apa yang ada di tangan, tapi apa yang tenang di dalam dada.


Syekh Ibn ‘Aṭā’illah pernah bilang,

"Bagaimana hatimu akan bercahaya, sedangkan bayang-bayang dirimu sendiri masih menutupi jalan menuju-Nya?"


Mungkin saja, rasa cukup itu cahaya kecil itu.

Kalau cahaya itu ada, dunia jadi teduh.

Kalau hilang, ya jadilah berita-berita yang tiap hari bikin kita sesak.


Beberapa hari ini, dada saya remuk redam, salah satu mahasiswa saya, yang tinggal di Aceh Tengah, dia menulis di whatsapp group. Memberi kabar dirinya, keluarganya, dalam situasi bencana banjir di Sumatera. Dari caranya menulis, saya tahu, ada beban dan....asudahlah saya tidak bisa melanjutkan inI. Sedih hati ini. 


Dari itu, saya membayangkan sebuah dunia, yang saya sebut: politisi jujur, pengusaha tidak rakus, penguasa adil, dan alim ulama tidak merebutkan jabatan. Dunia yang terasa seperti pagi setelah hujan. Bersih, wangi, dan menenangkan.


Mungkin, tugas saya bukan menunggu dunia seperti itu. Atau mengubah seperti Ultraman. Tugas saya adalah menjadi bagian kecil dari cukup itu:

cukup dalam ambisi, cukup dalam kemarahan, cukup dalam menghakimi orang, cukup dalam gelisah mengejar yang tak perlu.


Sebab, bagi saya, bencana besar selain banjir, selain pandemi, dan krisis ekonomi. Adalah ketika manusia kehilangan kemampuan untuk merasa: Ini cukup. 

Ada orang-orang yang kalau kita sebut namanya. Dada langsung hangat. Bukan karena kita selalu sepakat. Tapi karena lewat dia, kita pernah merasa. Islam itu luas sekali. Buat saya, salah satunya Gus Ulil Abshar Abdalla. 


Saya suka cara dia bicara. Cara dia nulis. Kadang saya bingung, beliau kalau ceramah kayak lagi nulis, atau kalau lagi nulis kayak lagi ceramah. Lisan dan tulisannya terasa seirama. Tenang. Terukur. Jarang naik nada. Pelan-pelan nusuk ke kepala.


Dan di balik semua itu, ada dunia ilmu yang rapi banget. Cara dia baca kitab, nahwu shorofnya rapih. Balaghah, mantiq, bukan cuma deretan istilah dalam cover kitab. Tapi jadi cara dia menata kalimat, mengurutkan argumen, membangun jembatan antara teks dan realitas.


Kadang pengajiannya aqidah. Kadang tasawuf. Kadang soal wacana sosial. Tapi entah kenapa, di sela-selanya, struktur bahasa itu selalu nongol. Pelan. Tidak menggurui. Tapi kerasa. Mengena. 


Dari sisi pemikiran, saya juga banyak sepakat dengan Islam Liberal. Dengan Islib, dengan semangat membaca ulang teks. Melihat Alquran dan Hadis bukan sebagai pagar listrik yang bikin orang takut mendekat, tapi sebagai ruang dialog. Tafsir yang sadar konteks. Keberanian mempertanyakan hal-hal yang selama ini kita telan bulat-bulat.


Sebagian orang marah, takut, atau alergi sama kata “liberal”. Buat saya, itu cuma satu fase. Satu jalan. Satu cara untuk bilang bahwa iman itu juga butuh berpikir. Butuh berani ragu, kemudian mencari. Butuh ruang untuk mengakui bahwa hidup ini nggak sesederhana hitam putih.


Menurut saya, banyak gagasan Islam Liberal yang dibawa Gus Ulil itu, kalau ditarik ke belakang, tidak jauh-jauh dari tradisi pesantren.


Pesantren, dari dulu ngaji kitab ya isinya debat, bantah-bantahan, qiyas, khilaf, perbedaan mazhab. Kitab kuning bukan kitab satu suara. Justru penuh keramaian pendapat. Cuma mungkin, sebagian dari kita punya nostalgia romantis pada “kepatuhan”, lupa bahwa dulu para ulama itu, tukang debat juga.


Di sisi lain, saya juga pelan-pelan kenal dunia lain. Dunia Islam kiri progresif. Nama-nama seperti Gus Fayyadh. Gus Roy Murtadho.


Kalau Gus Ulil banyak diasosiasikan dengan Amerika dan tradisi liberalnya, Gus Fayyadh tumbuh dengan jejak Prancis yang penuh sejarah gerakan-gerakan sosialis, kiri, pro-rakyat. Gus Roy juga berjalan di jalur Islam kiri progresif. Mereka berangkat dari tempat yang sama: pesantren, kitab kuning, ngaji, hormat pada tradisi. Tapi langkah mereka banyak turun ke jalan. Berhadapan langsung dengan aparat, kapital, kebijakan.


Mereka bicara soal mustadh’afin bukan sebagai istilah di kitab tafsir, tapi sebagai wajah-wajah konkret. Petani yang tanahnya tiba-tiba digusur. Kampung yang dibelah tambang. Hutan yang digunduli. Sungai yang dicemari. Yang mereka baca bukan cuma teks. Tapi juga peta konflik agraria, peta izin tambang, peta orang kecil yang terpinggirkan.


Nama Gunung Wadas pernah menggema.

Di sana, perlawanan terhadap tambang bukan sekadar “demo lingkungan”. Tapi jeritan orang-orang yang rumah, tanah, dan ingatan hidupnya terancam. Dan di saat ramai-ramai NU dengan urusan tambang, suara-suara seperti Gus Fayyadh dan Gus Roy muncul sebagai penyeimbang. Mengingatkan. Mengkritik. Mengajak melihat lagi relasi antara ormas keagamaan, negara, dan kapital.


Lalu datang momen yang bikin dada saya campur aduk. Perdebatan soal tambang, lingkungan, dan sikap NU.

Di situ, Gus Roy dan Gus Fayyadh bersuara lantang. Lalu di sisi lain, Gus Ulil menyebut mereka sebagai semacam “wahabi lingkungan”. Sebuah istilah yang, entah kenapa, bikin saya kaget, gemeteran.


Di suatu talkshow di televisi, Gus Ulil menjelaskan tentang tambang, tentang konsep “bad mining” dan “good mining”. Tentang bagaimana sumber daya alam bisa dikelola untuk kemaslahatan, bukan mesti ditolak mentah-mentah. Ada argumen ekonomi. Ada argumen tentang negara. Ada argumen tentang realitas pembangunan. Semuanya tersusun rapi. Keren. Secara struktur logika, nyaris tak ada celah.


Tapi di satu titik, ketika dia bicara bahwa alam punya kemampuan memulihkan diri, bahwa kerusakan bisa dinormalisasi, saya tiba-tiba ngerasa lemas.


Bukan karena saya lebih pintar. Bukan.

Tapi karena bayangan saya bukan hanya grafik pertumbuhan ekonomi, melainkan banjir, longsor, sawah tertimbun, kampung hilang.


Hari hari ini, ketika saya melihat berita banjir di Sumatera. Melihat orang-orang mengungsi. Rumah hanyut. Sawah rusak. Air keruh bercampur lumpur dan entah apa lagi. Saya jadi bertanya pelan-pelan di dalam hati, siapa yang sebenarnya paling sering salah, dan siapa yang paling sering terluka.


Di titik itu, kekaguman saya pada Gus Ulil tidak hilang. Sama sekali tidak. Saya masih melihat dia sebagai seorang kiai. Seorang intelektual. Pendiri Ghazalian College. Santri yang membawa tradisi Ihya’ ke ruang-ruang digital. Politisi yang tetap baca kitab. Guru yang membuat banyak anak muda merasa, Islam itu bisa cerdas sekaligus lembut.


Tapi di saat yang sama, ada ruang di hati saya yang terasa robek setiap kali lingkungan dibahas terlalu tenang. Terlalu yakin. Terlalu percaya pada konsep “pengelolaan yang baik” di tengah kenyataan kekuasaan yang timpang. Di antara narasi-narasi rapi, saya terbayang wajah petani yang nggak punya akses ke ruang studio. Yang suaranya cuma terdengar sebagai “keributan lokal”.


Di seberang sana, ada Gus Fayyadh. Ada Gus Roy Murtadho. Islam kiri progresif.

Mereka bawa Marxisme, teori kelas, analisis kapitalisme. Tapi semua itu mereka tarik sampai ke warung kopi, sudut-sudut desa, jalanan licin di depan kantor bupati. Ada yang menyebut mereka terlalu radikal. Terlalu kiri. Terlalu marah. Tapi mungkin, dalam marah itu, ada cinta yang bentuknya berbeda.


Kalau Gus Ulil mengajarkan saya pentingnya kebebasan berpikir, pentingnya menghindari fanatisme dalam memahami agama. Maka lewat Gus Fayyadh dan Gus Roy, saya diingatkan bahwa ada bentuk fanatisme lain yang perlu dicurigai. Fanatisme pada “kemajuan” yang melupakan siapa yang tergilas.


Pada akhirnya, saya tidak ingin memaksa diri untuk memilih satu dan meniadakan yang lain.

Saya masih ingin duduk tenang, membuka kitab, mendengar Gus Ulil mengurai kalimat Imam al-Ghazali pelan-pelan. Mengikuti jalan pikirannya yang bersih, balaghah-nya yang rapi, nahwu shorof yang ia rawat dalam setiap bacaan.


Tapi saya juga ingin suatu hari, kalau ada petani yang menangis karena tanahnya hendak dirampas atas nama pembangunan, saya berdiri di sebelah mereka. Meski cuma dengan suara kecil. Meski cuma dengan tulisan yang terselip di antara timeline.


Mungkin, di situ posisi saya sebagai murid zaman ini. Menyimpan kagum pada Gus Ulil dan Islam Liberal. Belajar marah dengan cara Islam kiri progresif. Dan di antara keduanya, mencoba tetap memeluk bumi. Agar ketika kita bicara tentang langit, tentang ayat-ayat, tentang tafsir dan teori, kita tidak lupa bahwa ada akar yang pelan-pelan tercabut.


Dan entah kenapa, di tengah semua itu, saya cuma bisa berdoa pelan.

Duhai Allah, jagalah orang-orang yang kami kagumi. Dan sekaligus, jagalah hutan, gunung, sungai, dan kampung yang tak punya akun media sosial untuk membela diri.

 #DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar


Saya pernah punya seorang kawan dari jurusan seni. Ia bukan anak orang kaya, dan kamera yang akhirnya ia miliki—dengan lensa panjang yang tampak gagah di genggamannya—bukan hasil hadiah atau fasilitas orang tua. Kamera itu lahir dari kerja keras, dari keringat yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit. Dari kacamata awam, hasil jepretannya tampak biasa saja, seolah tak ada yang istimewa. Namun karya-karyanya dihargai banyak pihak, mendapat apresiasi yang tak pernah ia minta. Banyak orang merasa tersentuh, meski tak semua mengerti teknik yang ia gunakan.


Sebelum ia memiliki kamera, ia lebih dulu menulis. Tentang kemiskinan, rasa sepi, ketimpangan, tentang dunia yang sering terasa bengkok dan tidak adil. Ia belajar memotret kenyataan melalui kata-kata, jauh sebelum memotret melalui lensa. Mungkin di situlah ia menemukan mata kedua: mata yang tidak sekadar melihat, tapi menghayati.


Dari dia saya belajar bahwa menjadi fotografer tidak selalu memerlukan kamera. Saya tidak paham teori pencahayaan, komposisi, atau fokus. Tapi saya tahu bahwa setiap hari, dunia memberi banyak pemandangan yang bisa dipotret dengan hati. Seperti saat terjebak macet panjang di jalanan kota yang berdebu. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menerima. Panas menyengat, suara klakson saling bersahutan, dan wajah-wajah manusia menampakkan ragam cerita. Ada yang mengeluh keras, ada yang menumpahkan amarah tanpa tujuan. Namun ada juga pedagang kecil yang duduk santai di bawah motornya, memanfaatkan bayangan mesin sebagai atap sementara, menunggu pembeli dengan wajah tenang.


Pemandangan seperti itu selalu terasa indah jika dilihat dengan mata yang tepat. Bahkan ketika hujan turun, ketika dingin menusuk, atau ketika langit membakar kulit. Setiap keadaan punya ruangnya sendiri untuk dinikmati. Tidak semuanya perlu diumumkan atau diteriakkan kepada dunia.


Saya teringat pesan nenek dari masa kecil: tidak elok mengeluh pada keadaan. Panas yang terasa panas tidak perlu dijadikan pengumuman. Hujan yang membasahi tidak harus menjadi status. Dingin yang menggigit bukan alasan menuntut simpati. Semua itu seperti rezeki—ada porsinya, ada hikmahnya, dan tidak perlu semua orang tahu.


Dari pelajaran itu, saya mengerti bahwa menjadi fotografer tanpa kamera bukan kekurangan. Itu cara lain untuk melihat kehidupan. Untuk menangkap cerita yang berjalan tanpa suara. Untuk menyimpan pemandangan paling jujur yang tak pernah butuh filter atau bingkai.


Dan kadang, karya paling indah bukan yang bisa dipajang di dinding atau diposting di media sosial. Tapi yang diam-diam tinggal di dada.


Sejak kecil, saya punya banyak cita-cita. Dan dua di antaranya terdengar, sangat heroik, sekaligus sangat tidak mungkin saya capai dengan kondisi saya hari ini.

Pertama, saya ingin bekerja di TVRI. Ya, TVRI hitam putih yang saya tonton waktu kecil. Yang gambarnya burem, antenanya harus diputer dulu pakai galah bambu, dan kalau hujan petir gambarnya jadi cacing kejang. Tapi entah kenapa, buat saya keren sekali menjadi bagian dari TVRI. Rasanya seperti jadi orang penting di republik ini, meski cuma baca acara jadwal siaran. Hingga saat ini saya suka sekali menonton berita TVRI.

Dan cita-cita kedua. Saya ingin menjadi qori. Qori tilawah Al-Qur’an. Sebuah seni tarik suara yang memadukan keindahan maqamat, tetapi tetap menjaga esensi tajwid. Meskipun suara saya sebenarnya sangat jelek. Jelek sekali.
Yang kalau dikasih nilai seratus, sembilan puluh sembilannya itu karena Allah Maha Pengampun.

Saya terinspirasi dari paman saya. Keluarga dari ibu saya, meski agak jauh. Beliau seorang qori hebat di kampung kami. Juara nasional. Lucunya, beliau dulu anggota Polri. Sudah pensiun, sudah sepuh, tapi kalau pengajian kampung-kampung, dia yang baca. Dan puncaknya selalu di  shalat Jumat Kliwon. Hari sakral. Shalat jum'at ketika masjid besar penuh sesak.

Dan ketika paman saya membaca. Saya berani bersumpah. Bahkan angin pun berhenti bergerak. Daun-daun pohon seperti menahan napas. Sampai jago pun lupa cara berkokok.

Setiap tarikan napasnya seperti menegakkan iman. Setiap pengeluaran lafaz seperti membelah dada dan memasukkan cahaya ke dalamnya.
Dan keindahan kalam Allah turun begitu lembut, bagai hujan yang jatuh satu demi satu, tapi mampu menumbuhkan seluruh ladang hati.

Indah sekali. Saya yakin siapa pun yang hadir saat itu akan diam. Dan pulang dengan dada yang lapang.

Lalu kembali ke realitas.

Saya ditakdirkan dengan suara yang biasa saja. Untuk tidak menyebutnya dengan kejujuran penuh: suara saya sebenarnya sangat jelek. Teramat jelek. Hahaa

Dulu di pesantren ada kelas qori. Saya paling malas ikut kelas itu. Saya sadar diri. Saya pernah ikut paling tidak satu atau dua kali. Selebihnya saya bolos. Kabur. Bersembunyi di belakang kitab alfiyah, sambil pura-pura sibuk menghapal. Wkwkwk.

Lalu waktu berjalan.
Ternyata hidup tidak selalu menyenangkan, dan saya belajar menjadi prajurit: bertahan dalam keadaan apa pun.

Dan hari ini, saat asesmen lapangan izin prodi magister, karena hari Ahad dan tidak ada orang lain, maka petaka itu terjadi.

Saya ditunjuk sebagai qori. Di depan teman-teman kampus. Di depan para profesor.
Di depan bu Rektor.

Dan tentu saja kita semua bisa menebak hasilnya: amat sangat memalukan. Saya grogi setengah mati. Suara saya bergetar seperti speaker masjid yang kesetrum.

Dan yang lebih menyakitkan dari suara saya sendiri adalah ketika Bu Rektor berdiri, tersenyum, dan berkata pada asesor:

“Beliau ini biasanya qori-nya bagus… tapi hari ini berbeda.”
Saya ingin menghilang.
Kalau bisa, saya ingin menjadi sajadah. Atau sandal jepit. Atau apa pun yang tidak terlihat manusia. Wkwkwkw.

Tapi sudahlah.

Hikmahnya jelas. Saya tidak akan pernah ditunjuk menjadi qori lagi. Dan itu salah satu bentuk kemenangan yang paling realistis dalam hidup saya.

Dulu, saat saya mahasiswa PPL di Kendal, karena saya koordinator mahasiswa, saya qori juga. Tidak separah hari ini. Tapi tetap saja traumatis.

Hari ini saya hanya bisa berdoa.
Semoga asesmen lapangan prodi magister kampus saya berhasil.
Sukses.
Dan tentu saja. bukan karena qori-nya saya.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE