Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

Stand By Me Doraemon 2 rilis tahun 2021. Dan saya justru baru bisa menontonnya sampai akhir di akhir tahun ini. Mungkin memang begitu cara kerja waktu. Ada hal-hal yang baru terasa ketika kita sudah cukup lelah untuk memahaminya.

Stand By Me bukan film anak-anak. Ia justru terasa sebagai film untuk kita yang sudah dewasa, sudah merasakan pahit dunia, tapi diam-diam merindukan kekonyolan-kekonyolan di masa lalu. 

Doraemon tentu saja salah satu anime favorit saya waktu kecil. Dan saya kira, bagi kebanyakan kelahiran 90-an, kita tumbuh dengan tontonan semacam itu. Doraemon adalah imajinasi paling fiktif dari masa kecil kita. Kantong ajaibnya membuat segalanya terasa mungkin. Seandainya saja Doraemon benar-benar ada, mungkin alat-alatnya bisa dipakai untuk mensejahterakan masyarakat seluruh Indonesia. Selain Doraemon, ada Dragon Ball, Detective Conan, dan banyak lagi. Hal-hal yang dulu tidak mungkin, tapi menjadi mewah lewat imajinasi otak kecil.

Dan bagian paling melankolis dari film ini adalah ketika kita mulai mengingat orang yang menyayangi kita dengan tulus, apa adanya, tanpa syarat. Orang yang kini sudah tiada. Nenek.

Nobita, bagi saya, sangat mirip dengan diri saya. Ceroboh, tergesa-gesa, konyol. Dalam kehidupan nyata, ada banyak hal yang membuat saya merasa seperti Nobita. Tidak bisa melakukan apa-apa. Tidak bisa diandalkan. Tidak percaya diri. Olahraga tidak bisa. Hampir selalu kalah dalam banyak hal. Dan yang paling mengkhawatirkan, perasaan seperti tidak punya masa depan.

Di Stand By Me 2, masa depan Nobita digambarkan sederhana: menikah. Itulah harapan nenek. Ia ingin melihat Nobita menikah. Hadir langsung di prosesi itu. Karena nenek tahu betul sifat cucunya sejak kecil. Ia khawatir, apakah Nobita benar-benar akan punya masa depan. Tapi menurut saya, yang dikhawatirkan nenek bukan hanya soal menikah. Yang dikhawatirkan adalah masa depan secara keseluruhan. Hidupnya nanti akan bagaimana.

Karena itulah, mesin waktu membawa Nobita Now kembali menemui neneknya. Ia ingin melihat nenek saat masih hidup. Ia juga melihat Nobita kecil, yang sejak dulu memang sudah ceroboh dan bodoh.  Dijahili Giant dan Suneo. Ketika bertemu nenek, Nobita ingin memeluknya. Matanya berkaca-kaca. Dan di titik itu, saya ikut ingin menangis. Ah orang yang cintanya tanpa syarat.

Singkat cerita, karena kekhawatiran nenek, Nobita berjanji akan memperlihatkan masa depan. Ia berjanji akan menunjukkan bahwa kelak ia benar-benar menikah.

Namun perjuangan menuju masa depan itu tidak mudah. Nobita Future ternyata masih sama saja. Walaupun manusia bisa berubah, sifat ceroboh dan tidak percaya diri tetap melekat. Pernikahan yang sudah direncanakan dengan baik, akad yang tinggal menunggu beberapa menit, justru membuat Nobita Future kabur. Ia lari ke masa Nobita Now, menggunakan mesin waktu Doraemon yang tertinggal di toilet umum.

Di sinilah ujian Nobita Now dimulai. Ia berikhtiar dengan berbagai cara. Tentu saja dibantu alat-alat Doraemon. Banyak drama khas Doraemon terjadi. Alat yang tidak berfungsi, waktu yang hampir habis, kekacauan yang datang bertubi-tubi. Semua terasa seperti episode Doraemon biasa, tapi dengan lebih menguras emosi. Sebenernya, banyak kritik dari film ini, tapi saya suka. 

Ada perbedaan menarik dibanding Stand By Me pertama. Jika dulu Nobita Future tidak ingin berinteraksi dengan Doraemon, karena Doraemon adalah teman yang khusus disediakan Nobita Now, dan mungkin  ada kejadian yang memilukan yang tidak ingin Nobita Futur bercegkrama dengan Doraemon. Namun, di film kedua ini Nobita Future justru banyak bekerja sama dengan Nobita Now dan Doraemon. 

Doraemon adalah simbol dunia yang ramah. Harapannya, dunia itu tetap ada sekarang. Ketika hidup tidak lagi seramah dulu. Ketika semuanya terasa penuh perjuangan, kepala mumet, dan target pekerjaan seperti tidak ada habisnya.

Doraemon sebenarnya nyata. Ia adalah teman-teman kita saat masih kecil. Kehidupan yang dulu terasa ajaib. Bermain bola sampai magrib. Bersepeda sejauh kaki kecil kita sanggup. Berhenti di pinggir sawah untuk minum. Ajaibnya, kita selalu sehat dan bahagia.

Bagi saya, mesin waktu itu sebenarnya ada. Ia hidup di dalam hati dan pikiran. Kita bisa kembali ke masa lalu lewat ingatan. Kita bisa maju ke masa depan lewat cita-cita, mimpi dan angan, 

Nenek, mengkhawatirkan masa depan cucunya. Apakah bisa menikah. Apakah bisa hidup layak. Doanya panjang, sepanjang apapun itu di dunia dan akhirat. Hingga akhirnya, lewat mesin waktu, nenek hadir di pernikahan Nobita. Mendengar pidato Nobita tentang nilai keluarga. Melihat cucu yang dulu ia khawatirkan, kini berdiri sebagai pengantin. Suasana pecah. Haru tidak terbendung.

Saya tidak tahu pasti, setiap kali saya mengalami kesulitan, kegagalan, dan kesedihan, kenapa rasanya nenek selalu hadir. Mendampingi. Menguatkan. Meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa semua bisa dilalui. Sebuah ruang sunyi di kepala, tempat doa nenek terus bekerja, tanpa pernah benar-benar tiada. 

Doraemon, nenek, please, stand by me.

 

Senyum-senyum dia. Berbahagia. Ketika namanya disebut sebagai peraih jumlah nilai akhir terbesar di kelasnya. Padahal bapaknya dulu tidak pernah meraih juara apapun. Wkw

Di kelasnya, semua rata² laki. Hanya dia dan satu kawan perempuan bernama Jihan. Penuturan wali kelasnya, meski dia sebagai salah dua sebagai perempuan, semangat belajarnya mengimbangi murid laki-laki. Bagi saya ini pembelajaran baik tentang gender untuknya: Seorang perempuan juga bisa melakukan apa saja yang bisa dilakukan laki-laki.

Saat tiba waktunya konseling satu persatu, dan mengambil buku raport, saya bertanya pada wali kelasnya. Apakah penilaian ini objektif. Wali kelas menjawab, sangat objektif. Ibunya, tentu saja tahu kemampuan dia sebenernya. Yang hanya menonton Nobita di serial anime Doraemon. Dia suka tertawa dengan nilai-nilai ulangan Nobita.

Bocah ini, tentu saja seperti bocah lainnya. Selalu berpuas diri. Akan menuntut janji² saya, membelikan sesuatu yang dia inginkan. Memberinya sebuah pengalaman dan petualangan baru.

Namun, ketahuilah, #DearNadifa, bahwa tidak hanya sekedar angka-angka, yang akan mempermudah kehidupanmu kelak. Keberkahan ilmu, ketulusan hatimu, kebaikan pekertimu yang Allah akan selalu menyayangimu.

#MengambilRaport
#DearNadifa

Saya seharusnya memang belajar berdamai dengan apa saja. Termasuk dengan malam ini.

Malam ketika mata tak mau terpejam, pikiran enggan tunduk.

Maka saya kembali meraih sebuah novel lama, Miramar, karya Naguib Mahfouz, sastrawan besar dunia dari Mesir. Novel tentang sebuah hotel. Tentang losmen, kata orang-orang dulu. Tentang orang-orang yang singgah, mengobrol, berpesta, saling mencurigai, saling menyimpan rahasia. Novel yang dulu pernah saya jadikan draf proposal disertasi, tapi malam ini saya membacanya tanpa beban akademik apa pun. Saya tidak sedang mencari objek penelitian. Saya hanya ingin menikmati diksi-diksinya. Keindahan bahasa yang berjalan pelan, tenang, tapi tiba-tiba menikam.

Di kepala saya, Miramar hampir senafas dengan karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Sama-sama berbicara tentang manusia, tentang perempuan, tentang kebangkitan pascarevolusi. Bedanya, Mahfouz mengurung semua itu di satu penginapan. Dan justru di situlah ia menjadi hidup. Latar waktunya, Mesir pascarevolusi -- terasa berdenyut pelan, seperti detak jam tua di dinding hotel.

Di telinga saya, Payung Teduh mengalun.
Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan.

Ah, mungkin hanya sedikit manusia yang masih terjaga di jam-jam seperti ini. Saya tidak ingin overthinking. 

Saya tidak sedang ingin bicara ideologi. Tidak ingin sok pandai menguliti pesan-pesan politik dalam sastra. Malam ini, sastra hanya membangkitkan imajinasi saya tentang zaman-zaman dahulu. Dan entah kenapa, itu terasa begitu nikmat. Ekstasi yang tenang. Mabuk yang pelan. Plot-plot Mahfouz berjalan seperti orang mengantuk, terlihat jinak, dan diam-diam memukul.

Saya berpikir, seandainya hidup di dunia nyata bisa dinikmati seperti menikmati sastra, mungkin pemerintah tak perlu repot-repot memikirkan cara membuat rakyat bahagia. Toh, alur hidup kebanyakan orang sudah sangat nyastrawi: orang-orang kecil, penuh utang, tukang becak, pengemudi ojek, pekerja jalanan, dan saya sendiri—semuanya punya kisah yang layak ditulis.

Saya pernah membaca sebuah artikel independen. Katanya, lebih dari 70 persen rakyat Indonesia tidak akan bertahan hidup jika tidak bekerja selama satu atau dua bulan. Tidak ada penghasilan, maka wassalam. Entah artikel itu benar atau salah. Mungkin banyak salahnya. Tapi juga tidak sepenuhnya keliru.

Secara kuantitatif, memang masuk akal. Orang yang tak bekerja berbulan-bulan, karena bencana atau apa pun, tentu kesulitan makan. Tapi nyatanya, orang-orang Indonesia itu luar biasa dalam urusan bertahan hidup. Kisah-kisah di sekitar kita membuktikannya. Mereka jatuh, bangkit, tertawa, dan entah bagaimana caranya, baik-baik saja.

Orang yang selalu melihat cahaya di tengah gelap semacam itu, bagi saya, adalah Emha Ainun Najib. Ia menguatkan, membesarkan hati orang-orang tertindas. Mustadh‘afin. Rakyat jelata yang tetap bisa bergurau meski hidupnya penuh kesusahan.

Namun tetap saja, ketimpangan di negeri ini terasa ironis. Terlalu jomplang. Saya membayangkan para tokoh, termasuk agamawan, yang gemar meributkan dan memperebutkan sesuatu, menciptakan polarisasi, membuat rakyat kecil bertengkar tanpa ujung. Di media sosial, di mushola, di kehidupan bertetangga. Mungkin ini cara meninabobokan kita: dibuat sibuk berdebat, mendukung hal-hal yang nyaris tak berdampak apa pun pada hidup kita sendiri.

Lalu ketika bencana alam datang, pemerintah kita…
Ah, pikiran saya berhenti di situ.

Malam semakin larut. Payung Teduh terus bergema di kepala. Sisa-sisa dialog di losmen Miramar masih mengambang di awang-awang.

Saya bertanya pelan: besok, anak-anakku dan zamannya nanti, akankah masih seperti ini? Di negara bernama Indonesia yang saya cintai.

Lagu Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan pun selesai. Dan malam kembali sunyi.

 

Salah satu hal yang paling menyenangkan dalam hidup saya adalah, ketika saya krenteg tentang sesuatu, biasanya Tuhan memberikan petunjuk lewat sesuatu. Seperti satu hal ini. 


Semalam. Gus Abduh, Gus Abdullah bin Kiai Ahmad Cikura, dalam ta'limnya, ngaji tentang اِكْتَفَى -- merasa cukup. Syekh Ibn ‘Aṭā’illah selalu punya cara membuat satu kata kecil berubah jadi cermin besar. Jika saya melihat ke sana, tapi yang terpajang justru wajah saya sendiri, lengkap dengan segala keinginan yang tak selesai.


Saya sedang dalam mengevaluasi siapapun. Kepada sistem, seseorang ataupun badan. Saya sedang mencoba menyelami diri saya sendiri. 


Andaikan saya belajar rasa cukup.

Dan semua manusia di dunia ini merasa cukup. 


Kalau politisi merasa cukup, mereka tidak akan menjual rakyatnya demi kursi yang cuma sementara. Kalau pengusaha merasa cukup, mereka tidak akan merebut hak orang kecil yang cuma ingin hidup wajar. Kalau penguasa merasa cukup, mereka tidak akan takut kehilangan jabatan sehingga menindas siapa saja yang berbeda suara.


Dan kalau kita semua merasa cukup.,mungkin bumi ini tidak sesak oleh nafsu yang meletup-letup tiap hari.


Tapi manusia, terkhusus saya, sering lupa bahwa cukup itu bukan soal apa yang ada di tangan, tapi apa yang tenang di dalam dada.


Syekh Ibn ‘Aṭā’illah pernah bilang,

"Bagaimana hatimu akan bercahaya, sedangkan bayang-bayang dirimu sendiri masih menutupi jalan menuju-Nya?"


Mungkin saja, rasa cukup itu cahaya kecil itu.

Kalau cahaya itu ada, dunia jadi teduh.

Kalau hilang, ya jadilah berita-berita yang tiap hari bikin kita sesak.


Beberapa hari ini, dada saya remuk redam, salah satu mahasiswa saya, yang tinggal di Aceh Tengah, dia menulis di whatsapp group. Memberi kabar dirinya, keluarganya, dalam situasi bencana banjir di Sumatera. Dari caranya menulis, saya tahu, ada beban dan....asudahlah saya tidak bisa melanjutkan inI. Sedih hati ini. 


Dari itu, saya membayangkan sebuah dunia, yang saya sebut: politisi jujur, pengusaha tidak rakus, penguasa adil, dan alim ulama tidak merebutkan jabatan. Dunia yang terasa seperti pagi setelah hujan. Bersih, wangi, dan menenangkan.


Mungkin, tugas saya bukan menunggu dunia seperti itu. Atau mengubah seperti Ultraman. Tugas saya adalah menjadi bagian kecil dari cukup itu:

cukup dalam ambisi, cukup dalam kemarahan, cukup dalam menghakimi orang, cukup dalam gelisah mengejar yang tak perlu.


Sebab, bagi saya, bencana besar selain banjir, selain pandemi, dan krisis ekonomi. Adalah ketika manusia kehilangan kemampuan untuk merasa: Ini cukup. 

Ada orang-orang yang kalau kita sebut namanya. Dada langsung hangat. Bukan karena kita selalu sepakat. Tapi karena lewat dia, kita pernah merasa. Islam itu luas sekali. Buat saya, salah satunya Gus Ulil Abshar Abdalla. 


Saya suka cara dia bicara. Cara dia nulis. Kadang saya bingung, beliau kalau ceramah kayak lagi nulis, atau kalau lagi nulis kayak lagi ceramah. Lisan dan tulisannya terasa seirama. Tenang. Terukur. Jarang naik nada. Pelan-pelan nusuk ke kepala.


Dan di balik semua itu, ada dunia ilmu yang rapi banget. Cara dia baca kitab, nahwu shorofnya rapih. Balaghah, mantiq, bukan cuma deretan istilah dalam cover kitab. Tapi jadi cara dia menata kalimat, mengurutkan argumen, membangun jembatan antara teks dan realitas.


Kadang pengajiannya aqidah. Kadang tasawuf. Kadang soal wacana sosial. Tapi entah kenapa, di sela-selanya, struktur bahasa itu selalu nongol. Pelan. Tidak menggurui. Tapi kerasa. Mengena. 


Dari sisi pemikiran, saya juga banyak sepakat dengan Islam Liberal. Dengan Islib, dengan semangat membaca ulang teks. Melihat Alquran dan Hadis bukan sebagai pagar listrik yang bikin orang takut mendekat, tapi sebagai ruang dialog. Tafsir yang sadar konteks. Keberanian mempertanyakan hal-hal yang selama ini kita telan bulat-bulat.


Sebagian orang marah, takut, atau alergi sama kata “liberal”. Buat saya, itu cuma satu fase. Satu jalan. Satu cara untuk bilang bahwa iman itu juga butuh berpikir. Butuh berani ragu, kemudian mencari. Butuh ruang untuk mengakui bahwa hidup ini nggak sesederhana hitam putih.


Menurut saya, banyak gagasan Islam Liberal yang dibawa Gus Ulil itu, kalau ditarik ke belakang, tidak jauh-jauh dari tradisi pesantren.


Pesantren, dari dulu ngaji kitab ya isinya debat, bantah-bantahan, qiyas, khilaf, perbedaan mazhab. Kitab kuning bukan kitab satu suara. Justru penuh keramaian pendapat. Cuma mungkin, sebagian dari kita punya nostalgia romantis pada “kepatuhan”, lupa bahwa dulu para ulama itu, tukang debat juga.


Di sisi lain, saya juga pelan-pelan kenal dunia lain. Dunia Islam kiri progresif. Nama-nama seperti Gus Fayyadh. Gus Roy Murtadho.


Kalau Gus Ulil banyak diasosiasikan dengan Amerika dan tradisi liberalnya, Gus Fayyadh tumbuh dengan jejak Prancis yang penuh sejarah gerakan-gerakan sosialis, kiri, pro-rakyat. Gus Roy juga berjalan di jalur Islam kiri progresif. Mereka berangkat dari tempat yang sama: pesantren, kitab kuning, ngaji, hormat pada tradisi. Tapi langkah mereka banyak turun ke jalan. Berhadapan langsung dengan aparat, kapital, kebijakan.


Mereka bicara soal mustadh’afin bukan sebagai istilah di kitab tafsir, tapi sebagai wajah-wajah konkret. Petani yang tanahnya tiba-tiba digusur. Kampung yang dibelah tambang. Hutan yang digunduli. Sungai yang dicemari. Yang mereka baca bukan cuma teks. Tapi juga peta konflik agraria, peta izin tambang, peta orang kecil yang terpinggirkan.


Nama Gunung Wadas pernah menggema.

Di sana, perlawanan terhadap tambang bukan sekadar “demo lingkungan”. Tapi jeritan orang-orang yang rumah, tanah, dan ingatan hidupnya terancam. Dan di saat ramai-ramai NU dengan urusan tambang, suara-suara seperti Gus Fayyadh dan Gus Roy muncul sebagai penyeimbang. Mengingatkan. Mengkritik. Mengajak melihat lagi relasi antara ormas keagamaan, negara, dan kapital.


Lalu datang momen yang bikin dada saya campur aduk. Perdebatan soal tambang, lingkungan, dan sikap NU.

Di situ, Gus Roy dan Gus Fayyadh bersuara lantang. Lalu di sisi lain, Gus Ulil menyebut mereka sebagai semacam “wahabi lingkungan”. Sebuah istilah yang, entah kenapa, bikin saya kaget, gemeteran.


Di suatu talkshow di televisi, Gus Ulil menjelaskan tentang tambang, tentang konsep “bad mining” dan “good mining”. Tentang bagaimana sumber daya alam bisa dikelola untuk kemaslahatan, bukan mesti ditolak mentah-mentah. Ada argumen ekonomi. Ada argumen tentang negara. Ada argumen tentang realitas pembangunan. Semuanya tersusun rapi. Keren. Secara struktur logika, nyaris tak ada celah.


Tapi di satu titik, ketika dia bicara bahwa alam punya kemampuan memulihkan diri, bahwa kerusakan bisa dinormalisasi, saya tiba-tiba ngerasa lemas.


Bukan karena saya lebih pintar. Bukan.

Tapi karena bayangan saya bukan hanya grafik pertumbuhan ekonomi, melainkan banjir, longsor, sawah tertimbun, kampung hilang.


Hari hari ini, ketika saya melihat berita banjir di Sumatera. Melihat orang-orang mengungsi. Rumah hanyut. Sawah rusak. Air keruh bercampur lumpur dan entah apa lagi. Saya jadi bertanya pelan-pelan di dalam hati, siapa yang sebenarnya paling sering salah, dan siapa yang paling sering terluka.


Di titik itu, kekaguman saya pada Gus Ulil tidak hilang. Sama sekali tidak. Saya masih melihat dia sebagai seorang kiai. Seorang intelektual. Pendiri Ghazalian College. Santri yang membawa tradisi Ihya’ ke ruang-ruang digital. Politisi yang tetap baca kitab. Guru yang membuat banyak anak muda merasa, Islam itu bisa cerdas sekaligus lembut.


Tapi di saat yang sama, ada ruang di hati saya yang terasa robek setiap kali lingkungan dibahas terlalu tenang. Terlalu yakin. Terlalu percaya pada konsep “pengelolaan yang baik” di tengah kenyataan kekuasaan yang timpang. Di antara narasi-narasi rapi, saya terbayang wajah petani yang nggak punya akses ke ruang studio. Yang suaranya cuma terdengar sebagai “keributan lokal”.


Di seberang sana, ada Gus Fayyadh. Ada Gus Roy Murtadho. Islam kiri progresif.

Mereka bawa Marxisme, teori kelas, analisis kapitalisme. Tapi semua itu mereka tarik sampai ke warung kopi, sudut-sudut desa, jalanan licin di depan kantor bupati. Ada yang menyebut mereka terlalu radikal. Terlalu kiri. Terlalu marah. Tapi mungkin, dalam marah itu, ada cinta yang bentuknya berbeda.


Kalau Gus Ulil mengajarkan saya pentingnya kebebasan berpikir, pentingnya menghindari fanatisme dalam memahami agama. Maka lewat Gus Fayyadh dan Gus Roy, saya diingatkan bahwa ada bentuk fanatisme lain yang perlu dicurigai. Fanatisme pada “kemajuan” yang melupakan siapa yang tergilas.


Pada akhirnya, saya tidak ingin memaksa diri untuk memilih satu dan meniadakan yang lain.

Saya masih ingin duduk tenang, membuka kitab, mendengar Gus Ulil mengurai kalimat Imam al-Ghazali pelan-pelan. Mengikuti jalan pikirannya yang bersih, balaghah-nya yang rapi, nahwu shorof yang ia rawat dalam setiap bacaan.


Tapi saya juga ingin suatu hari, kalau ada petani yang menangis karena tanahnya hendak dirampas atas nama pembangunan, saya berdiri di sebelah mereka. Meski cuma dengan suara kecil. Meski cuma dengan tulisan yang terselip di antara timeline.


Mungkin, di situ posisi saya sebagai murid zaman ini. Menyimpan kagum pada Gus Ulil dan Islam Liberal. Belajar marah dengan cara Islam kiri progresif. Dan di antara keduanya, mencoba tetap memeluk bumi. Agar ketika kita bicara tentang langit, tentang ayat-ayat, tentang tafsir dan teori, kita tidak lupa bahwa ada akar yang pelan-pelan tercabut.


Dan entah kenapa, di tengah semua itu, saya cuma bisa berdoa pelan.

Duhai Allah, jagalah orang-orang yang kami kagumi. Dan sekaligus, jagalah hutan, gunung, sungai, dan kampung yang tak punya akun media sosial untuk membela diri.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE