Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

#DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar

Subuh ini, saya mengenang guru saya, dosen saya di Yogya. Guru besar Hadist UIN Sunan Kalijaga. Profesor yang masih muda, tapi Allah mencintainya. Menjemput lebih dulu dari kita semua.

Pemikirannya luar biasa. Kebanyakan orang mengatakan liberal. Bagi saya tidak. Berbagai metodologi takhrij hadist beliau tentu saja hatam. Di sela-sela ceramah, beliau menyatakan, bahwa kelak anak-anak nya tidak akan diizinkan untuk berpindah agama, karena ini prinsipil. Saya ingat-ingat lupa konteksnya, kenapa saat itu beliau mengatakan demikian. Beliau membebaskan anak-anaknya untuk mengerjakan apa saja. Menjadi apa saja.

Ramadhan tahun ini, insya Allah masih menyenangkan. Membahagiakan. Tidak perlu teori-teori kesehatan untuk menjelaskan legitimasi kenapa harus wajib puasa. Tidak perlu.  Karena ini adalah salah satu jalan cinta. Pun dengan Salat Tarawih.

#DearDifa, agama itu memang dogma. Doktrin kebenaran. Ia bersifat mutlak. Tapi saya ingin membawamu dan adikmu lebih dari ini: yang sebagian orang menyebutnya sebagai cinta. Tidak ada nilai tawar terhadap ideologi. Apalagi cinta. Termasuk rukun Islam ke empat, puasa.

Dalam teori sosial, degradasi budaya itu ada. Dulu, generasi dulu, saat memasuki bulan puasa kami menyambutnya dengan gegap-gempita. Bergema. Dari Tongtongprek sahur, kuliah subuh, jalan habis subuh, kelaparan, kejujuran, buku ramadhan, berburu takjil, buka puasa, jajan habis buka, dan lain sebagainya. Adalah sesuatu yg khas untuk menyambut euforia ramadhan. Seperti hukuman mememang. Tidak enak. kelaparan, kehausan, di siang hari. Dan malas-malasan untuk menegakkan salat tarawih di malam hari.

Pasca makan sahur yang ngantuk, tetapi harus ikut kajian kuliah subuh. Harus. Kenapa harus, karena kami dibekali buku catatan amal kebaikan yang harus ditandatangani oleh ustadz atau kiai. Saya dan kawan-kawan mencatat, merangkum apa saja isi ceramah yang disampaikan ustadz.

Buku itu, Difa. Kelak akan dikumpulkan setelah lebaran. Dan menjadi nilai yang akan dipertaruhkan di sekolah nantinya. Di dalam buku tersebut juga ada catatan amal, selama 30 hari itu, berapa hari puasa saya bolong-bolong. Buku itu ditulis saya sendiri, ditulis apa adanya, sejujur jujurnya. Dan jika catatan amalan itu buruk, minimal akan malu, akan diroasting banyak kawan di sekolah.

Begitulah, Difa. Degradasi muncul dengan adanya perubahan zaman. Dan mungkin faktor teknologi.

Salah satu hal yang paling menyenangkan tentang Ramadhan adalah tarawihnya. Jumlah rakaat yang banyak. Bagi golongan seperti kita 20 rakaat, 10 salam, dan 3 rakaat witir, 2 salam. Melelahkan. Sangat malas untuk dikerjakan. Tapi ini nostalgis sekali.

Tahun ini, di Masjidil Haram, melaksanakan salat tarawih hanya dilakukan 8 rakaat, 4 salam, dan 3 rakaat witir.

Maka, pertanyaannya, apakah masih relate, di dunia yang sekarang serba bergegas. Instan. Cepat. Fleksibel. Dengan melakukan tarawih yang 20 rakaat 3 witir itu?

Sangat relevan!

Saya didik dalam keluarga tarawih 20 rakaat. Kemudian mengaji doktrin Kitab Ahlu Sunah Wal. Jama'ah. Di dalamnya ada sejarah rakaat tarawih itu.
Di Indonesia, terutama di lingkungan Nahdlatul Ulama, tarawih 20 rakaat + 3 witir adalah praktik yang sangat mapan.
Ini bukan tradisi baru, tapi warisan panjang dari praktik para sahabat pada masa Umar bin Khattab. Secara historis, pada masa beliau, tarawih berjamaah dikumpulkan dan ditetapkan 20 rakaat. Sejak itu, mayoritas ulama empat mazhab menerima praktik ini sebagai bentuk kesepakatan umat (ijma’ amali).

Lalu Kenapa Ada yang 8 Rakaat?

Sebagian kelompok merujuk pada riwayat bahwa Rasul Muhammad tidak pernah shalat malam lebih dari 11 rakaat (termasuk witir). Dari sini lahir praktik 8 rakaat, 3 witir.

Apakah masih relevan di Zaman Sekarang?
Kalau relevan diartikan sebagai: masih sesuai syariat, tentu saja iya. Masih diamalkan mayoritas umat, iya. Masih punya nilai spiritual? Sangat iya.

Yang sering membuat terasa tidak relevan itu bukan rakaatnya. Tapi tempo hidup kita yang makin cepat. Kita sanggup duduk 2 jam scroll HP, tapi 1 jam di masjid terasa lama. Kadang bukan tarawihnya yang berat, tapi hati kita yang belum siap pelan.
Tarawih itu qiyam Ramadhan.Yang dicari bukan angka, tapi ruh ibadahnya. 20 rakaat memberi ruang. Lebih banyak baca Qur’an. Lebih lama berdiri. Lebih banyak sujud. Lebih lama bersama jamaah.

Di desa-desa, tarawih 20 rakaat itu bukan sekadar ibadah, tapi ruang silaturahmi. Anak kecil lari-lari, orang sepuh duduk di saf belakang, setelahnya ada teh panas dan obrolan ringan. Kadang yang membuatnya relevan bukan dalilnya, tapi kehangatan sosialnya.

Saya, tentu saja tidak akan mengklaim ini hal yang paling benar.  Yang penting salat tarawih. Saya juga tidak ingin mencela orang yang tidak bisa tarawih karena sesuatu hal.
Sebagaimana ngendikanya Gus Baha. Agar tidak mencela atau memandang negatif orang yang tidak shalat tarawih karena bekerja, sebab tarawih hukumnya sunnah dan mencari nafkah halal adalah kewajiban. Beliau menekankan bahwa Islam tidak memberatkan, sehingga pekerja tidak perlu merasa berdosa jika melewatkan tarawih demi menafkahi keluarga. 

Tapi #DearDifa seperti dosen hadist saya, Saya ingin kau dan adikmu melanjutkan. Jika suatu malam nanti kau lelah berdiri di rakaat ke-17, ingatlah: yang sedang kau jaga bukan jumlahnya, tapi silsilah cinta kita.


Desember sebentar lagi selesai, semalam hujan, tapi langit pagi ini cerah sekali. Puluhan bintang gemintang yang menemani subuhku. Langit merah fajar menambah rasa syahdu.

Desember, letak matahari ada selatan bumi. Konon, itu yang membuat udara dingin sekali, matahari terbit dari pojok timur selatan.  Ayam berkokok, sisa suara jangkrik masih berbunyi. Tapi begitulah alam raya, bergerak. Santai. Apa adanya. Mengikuti ritme-Nya.

Sementara, di belahan bumi sana, manusia, dengan segala angan dan ambisinya, ingin mengatur semua. Hatinya kemrungsung. Otaknya berfikir. Kapan semua ini akan berakhir. Manusia itu adalah aku dan mungkin kamu.

Ini soal waktu kata seseorang. Biarkan menggelinding pelan. Atau subuh ini, yg asri, yang sejuk, kau ingin rubah tiba-tiba menjadi malam yang suram? Tidak. Ini hanya soal waktu. Toh kita bukan pengendali waktu. Kita hanya pengendali kapal, karena nenek moyangku seorang pelaut.

Desember sudah hampir habis hari ini. Perlahan saja kita nikmati. Detik demi detik, jam demi jam. Spotify sudah merilis Wrapped, di sana, lagu-lagu kesukaanku muncul. Artis-artis favoritku dari nomor lima sampai nomor satu. Berdasarkan apa yang saya putar selama satu tahun.

Wrapped Desember tahun ini hampir masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Lagu kesukaanku ya hanya itu-itu. Iksan Skuter, Pidi Baiq. Selain itu, ada ratusan lagu dari berbagai artis yang saya putar ternyata. Dari Arabic Indie, SKA, reggae, dan tentu saja Indonesia Indie. Dan yang mengejutkan adalah, lagu “gacuk”, sebagai senjata rahasia mumetku tidak muncul di urutan lagu favoritku.

Artinya apa, 2025 adalah tahun menyenangkan! Meskipun tidak sepenuhnya. Banyak kegagalan-kegagalan yang menyelimuti aku. Menamparku, memelukku sepanjang 2025 ini. Tapi toh Tuhan tidak mewajibkan kita untuk sukses dalam banyak hal. Tuhan hanya menyuruh kita berikhitiar. Tapi apapun itu, saya sangat berterimakasih. Bersyukur pada Dzat yang Maha Asih. RahmatNya menyelimuti segalanya. RahmanNya mem-backup semua.

Ibu yang sehat, anak-anak yang tumbuh berkembang, istri yang sabar, dan kesehatan bagi semua keluarga. Adalah sesuatu hal yang sangat penting dari segala ambisiku sebagai manusia. Saya tidak tahu, 2026 di depan sana ada apa. Tugas ku, kalo ada di depan mata, saya ikhtiari sebisanya. Saya pasrahkan pada Tuhan yang Maha Kuasa. 2026 insya Allah indah pada waktunya. Hanya urusan waktu.

Stand By Me Doraemon 2 rilis tahun 2021. Dan saya justru baru bisa menontonnya sampai akhir di akhir tahun ini. Mungkin memang begitu cara kerja waktu. Ada hal-hal yang baru terasa ketika kita sudah cukup lelah untuk memahaminya.

Stand By Me bukan film anak-anak. Ia justru terasa sebagai film untuk kita yang sudah dewasa, sudah merasakan pahit dunia, tapi diam-diam merindukan kekonyolan-kekonyolan di masa lalu. 

Doraemon tentu saja salah satu anime favorit saya waktu kecil. Dan saya kira, bagi kebanyakan kelahiran 90-an, kita tumbuh dengan tontonan semacam itu. Doraemon adalah imajinasi paling fiktif dari masa kecil kita. Kantong ajaibnya membuat segalanya terasa mungkin. Seandainya saja Doraemon benar-benar ada, mungkin alat-alatnya bisa dipakai untuk mensejahterakan masyarakat seluruh Indonesia. Selain Doraemon, ada Dragon Ball, Detective Conan, dan banyak lagi. Hal-hal yang dulu tidak mungkin, tapi menjadi mewah lewat imajinasi otak kecil.

Dan bagian paling melankolis dari film ini adalah ketika kita mulai mengingat orang yang menyayangi kita dengan tulus, apa adanya, tanpa syarat. Orang yang kini sudah tiada. Nenek.

Nobita, bagi saya, sangat mirip dengan diri saya. Ceroboh, tergesa-gesa, konyol. Dalam kehidupan nyata, ada banyak hal yang membuat saya merasa seperti Nobita. Tidak bisa melakukan apa-apa. Tidak bisa diandalkan. Tidak percaya diri. Olahraga tidak bisa. Hampir selalu kalah dalam banyak hal. Dan yang paling mengkhawatirkan, perasaan seperti tidak punya masa depan.

Di Stand By Me 2, masa depan Nobita digambarkan sederhana: menikah. Itulah harapan nenek. Ia ingin melihat Nobita menikah. Hadir langsung di prosesi itu. Karena nenek tahu betul sifat cucunya sejak kecil. Ia khawatir, apakah Nobita benar-benar akan punya masa depan. Tapi menurut saya, yang dikhawatirkan nenek bukan hanya soal menikah. Yang dikhawatirkan adalah masa depan secara keseluruhan. Hidupnya nanti akan bagaimana.

Karena itulah, mesin waktu membawa Nobita Now kembali menemui neneknya. Ia ingin melihat nenek saat masih hidup. Ia juga melihat Nobita kecil, yang sejak dulu memang sudah ceroboh dan bodoh.  Dijahili Giant dan Suneo. Ketika bertemu nenek, Nobita ingin memeluknya. Matanya berkaca-kaca. Dan di titik itu, saya ikut ingin menangis. Ah orang yang cintanya tanpa syarat.

Singkat cerita, karena kekhawatiran nenek, Nobita berjanji akan memperlihatkan masa depan. Ia berjanji akan menunjukkan bahwa kelak ia benar-benar menikah.

Namun perjuangan menuju masa depan itu tidak mudah. Nobita Future ternyata masih sama saja. Walaupun manusia bisa berubah, sifat ceroboh dan tidak percaya diri tetap melekat. Pernikahan yang sudah direncanakan dengan baik, akad yang tinggal menunggu beberapa menit, justru membuat Nobita Future kabur. Ia lari ke masa Nobita Now, menggunakan mesin waktu Doraemon yang tertinggal di toilet umum.

Di sinilah ujian Nobita Now dimulai. Ia berikhtiar dengan berbagai cara. Tentu saja dibantu alat-alat Doraemon. Banyak drama khas Doraemon terjadi. Alat yang tidak berfungsi, waktu yang hampir habis, kekacauan yang datang bertubi-tubi. Semua terasa seperti episode Doraemon biasa, tapi dengan lebih menguras emosi. Sebenernya, banyak kritik dari film ini, tapi saya suka. 

Ada perbedaan menarik dibanding Stand By Me pertama. Jika dulu Nobita Future tidak ingin berinteraksi dengan Doraemon, karena Doraemon adalah teman yang khusus disediakan Nobita Now, dan mungkin  ada kejadian yang memilukan yang tidak ingin Nobita Futur bercegkrama dengan Doraemon. Namun, di film kedua ini Nobita Future justru banyak bekerja sama dengan Nobita Now dan Doraemon. 

Doraemon adalah simbol dunia yang ramah. Harapannya, dunia itu tetap ada sekarang. Ketika hidup tidak lagi seramah dulu. Ketika semuanya terasa penuh perjuangan, kepala mumet, dan target pekerjaan seperti tidak ada habisnya.

Doraemon sebenarnya nyata. Ia adalah teman-teman kita saat masih kecil. Kehidupan yang dulu terasa ajaib. Bermain bola sampai magrib. Bersepeda sejauh kaki kecil kita sanggup. Berhenti di pinggir sawah untuk minum. Ajaibnya, kita selalu sehat dan bahagia.

Bagi saya, mesin waktu itu sebenarnya ada. Ia hidup di dalam hati dan pikiran. Kita bisa kembali ke masa lalu lewat ingatan. Kita bisa maju ke masa depan lewat cita-cita, mimpi dan angan, 

Nenek, mengkhawatirkan masa depan cucunya. Apakah bisa menikah. Apakah bisa hidup layak. Doanya panjang, sepanjang apapun itu di dunia dan akhirat. Hingga akhirnya, lewat mesin waktu, nenek hadir di pernikahan Nobita. Mendengar pidato Nobita tentang nilai keluarga. Melihat cucu yang dulu ia khawatirkan, kini berdiri sebagai pengantin. Suasana pecah. Haru tidak terbendung.

Saya tidak tahu pasti, setiap kali saya mengalami kesulitan, kegagalan, dan kesedihan, kenapa rasanya nenek selalu hadir. Mendampingi. Menguatkan. Meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa semua bisa dilalui. Sebuah ruang sunyi di kepala, tempat doa nenek terus bekerja, tanpa pernah benar-benar tiada. 

Doraemon, nenek, please, stand by me.

 

Senyum-senyum dia. Berbahagia. Ketika namanya disebut sebagai peraih jumlah nilai akhir terbesar di kelasnya. Padahal bapaknya dulu tidak pernah meraih juara apapun. Wkw

Di kelasnya, semua rata² laki. Hanya dia dan satu kawan perempuan bernama Jihan. Penuturan wali kelasnya, meski dia sebagai salah dua sebagai perempuan, semangat belajarnya mengimbangi murid laki-laki. Bagi saya ini pembelajaran baik tentang gender untuknya: Seorang perempuan juga bisa melakukan apa saja yang bisa dilakukan laki-laki.

Saat tiba waktunya konseling satu persatu, dan mengambil buku raport, saya bertanya pada wali kelasnya. Apakah penilaian ini objektif. Wali kelas menjawab, sangat objektif. Ibunya, tentu saja tahu kemampuan dia sebenernya. Yang hanya menonton Nobita di serial anime Doraemon. Dia suka tertawa dengan nilai-nilai ulangan Nobita.

Bocah ini, tentu saja seperti bocah lainnya. Selalu berpuas diri. Akan menuntut janji² saya, membelikan sesuatu yang dia inginkan. Memberinya sebuah pengalaman dan petualangan baru.

Namun, ketahuilah, #DearNadifa, bahwa tidak hanya sekedar angka-angka, yang akan mempermudah kehidupanmu kelak. Keberkahan ilmu, ketulusan hatimu, kebaikan pekertimu yang Allah akan selalu menyayangimu.

#MengambilRaport
#DearNadifa

Saya seharusnya memang belajar berdamai dengan apa saja. Termasuk dengan malam ini.

Malam ketika mata tak mau terpejam, pikiran enggan tunduk.

Maka saya kembali meraih sebuah novel lama, Miramar, karya Naguib Mahfouz, sastrawan besar dunia dari Mesir. Novel tentang sebuah hotel. Tentang losmen, kata orang-orang dulu. Tentang orang-orang yang singgah, mengobrol, berpesta, saling mencurigai, saling menyimpan rahasia. Novel yang dulu pernah saya jadikan draf proposal disertasi, tapi malam ini saya membacanya tanpa beban akademik apa pun. Saya tidak sedang mencari objek penelitian. Saya hanya ingin menikmati diksi-diksinya. Keindahan bahasa yang berjalan pelan, tenang, tapi tiba-tiba menikam.

Di kepala saya, Miramar hampir senafas dengan karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Sama-sama berbicara tentang manusia, tentang perempuan, tentang kebangkitan pascarevolusi. Bedanya, Mahfouz mengurung semua itu di satu penginapan. Dan justru di situlah ia menjadi hidup. Latar waktunya, Mesir pascarevolusi -- terasa berdenyut pelan, seperti detak jam tua di dinding hotel.

Di telinga saya, Payung Teduh mengalun.
Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan.

Ah, mungkin hanya sedikit manusia yang masih terjaga di jam-jam seperti ini. Saya tidak ingin overthinking. 

Saya tidak sedang ingin bicara ideologi. Tidak ingin sok pandai menguliti pesan-pesan politik dalam sastra. Malam ini, sastra hanya membangkitkan imajinasi saya tentang zaman-zaman dahulu. Dan entah kenapa, itu terasa begitu nikmat. Ekstasi yang tenang. Mabuk yang pelan. Plot-plot Mahfouz berjalan seperti orang mengantuk, terlihat jinak, dan diam-diam memukul.

Saya berpikir, seandainya hidup di dunia nyata bisa dinikmati seperti menikmati sastra, mungkin pemerintah tak perlu repot-repot memikirkan cara membuat rakyat bahagia. Toh, alur hidup kebanyakan orang sudah sangat nyastrawi: orang-orang kecil, penuh utang, tukang becak, pengemudi ojek, pekerja jalanan, dan saya sendiri—semuanya punya kisah yang layak ditulis.

Saya pernah membaca sebuah artikel independen. Katanya, lebih dari 70 persen rakyat Indonesia tidak akan bertahan hidup jika tidak bekerja selama satu atau dua bulan. Tidak ada penghasilan, maka wassalam. Entah artikel itu benar atau salah. Mungkin banyak salahnya. Tapi juga tidak sepenuhnya keliru.

Secara kuantitatif, memang masuk akal. Orang yang tak bekerja berbulan-bulan, karena bencana atau apa pun, tentu kesulitan makan. Tapi nyatanya, orang-orang Indonesia itu luar biasa dalam urusan bertahan hidup. Kisah-kisah di sekitar kita membuktikannya. Mereka jatuh, bangkit, tertawa, dan entah bagaimana caranya, baik-baik saja.

Orang yang selalu melihat cahaya di tengah gelap semacam itu, bagi saya, adalah Emha Ainun Najib. Ia menguatkan, membesarkan hati orang-orang tertindas. Mustadh‘afin. Rakyat jelata yang tetap bisa bergurau meski hidupnya penuh kesusahan.

Namun tetap saja, ketimpangan di negeri ini terasa ironis. Terlalu jomplang. Saya membayangkan para tokoh, termasuk agamawan, yang gemar meributkan dan memperebutkan sesuatu, menciptakan polarisasi, membuat rakyat kecil bertengkar tanpa ujung. Di media sosial, di mushola, di kehidupan bertetangga. Mungkin ini cara meninabobokan kita: dibuat sibuk berdebat, mendukung hal-hal yang nyaris tak berdampak apa pun pada hidup kita sendiri.

Lalu ketika bencana alam datang, pemerintah kita…
Ah, pikiran saya berhenti di situ.

Malam semakin larut. Payung Teduh terus bergema di kepala. Sisa-sisa dialog di losmen Miramar masih mengambang di awang-awang.

Saya bertanya pelan: besok, anak-anakku dan zamannya nanti, akankah masih seperti ini? Di negara bernama Indonesia yang saya cintai.

Lagu Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan pun selesai. Dan malam kembali sunyi.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE