Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

“Pulang jam berapa?”

Itu adalah Whatsapp dari istri saya.
Saya belum selesai menguji mahasiswa ujian komprehensif.
”15.30, insya Allah.” jawab saya.
“Di sini hujan deras disertai angin, lebih parah dari semalam”.

Ya Allah. Batin saya. Semalam, setelah salat gerhan bulan dan tarawih, di kampung hujan. Sangat deras. Angin tidak hanya sepoi. Tapi amboi. Memporak porandakan genteng-genteng rumah. Pohon pohon di pinggir jalan juga berjatuhan. Dan sore ini, katanya lebih parah.

15.00 WIB Pemalang belum hujan. Saya cek prediksi BMKG juga tidak ada tanda badai. Aman. 15.30 setelah semua hampir selesai. Saya salat ashar, kemudian duduk-duduk di depan gedung rektorat. Kampus ini terletak di tengah sawah. Pemandangan bisa melihat sekeliling alam ke atas raya.

Saya cek status whatsapp beberapa kawan di desa yang biasanya update tentang kondisi alam. Nyata! dia sedang adzan takbir, videonya memperlihatkan angin yang cukup besar. Meluluhlantakkan pohon depan balai desa.

Saat duduk di depan rektorat itulah. Tiba-tiba angin dan hujan datang. Ini badai. Serius ini angin yang besar.

Di samping kampus ada tower provider internet. Yang tingginya 100 meter. Ternyata ada pegawai masih di atas, mungkin sedang maintenance. Ah Tuhan semoga ia baik-baik saja. Nyata. Tali yang dia pakai jatuh terbawa angin. Tapi mungkin karena dia profesional dia aman turun bawah. Alhamdulillah.

Selanjutnya, saya bingung bagaimana pulangnya. Hari semakin sore. Nadifa anak saya belum punya lauk kesukaan untuk makan buka puasa. Saya kordinasi dengan istri, berkabar perkembangan kondisi hujan badai ini.

16.00 WIB saya memutuskan pulang. Istri tentu saja cemas. Dengan nama Allah yang Maha Rahman Rahim. Saya gas motor saya. Untal-untul dengan kawan yang se arah. Salah satunya mas Muhison, dia pustakawan di kampus kami.

“Mas gak usah ngebut-ngebut, ya. Maksimal 50-60 KM saja”. Pinta saya.
“Oke, pak”.
Gass.
Perjalanan belum ada 10 menit, di desa Surajaya, pohon tumbang di tengah jalan. Macet parah.

Di tengah itu, anggota tim BPBD Pemalang sedang sangat sibuk. Dengan beberapa mesin senso, war-wer war-wer, pohon besar di tengah jalan itu sedang diupayakan di potong.
Tapi kok lumayan lama.
Macet semakin menjadi. Sudah lebih 15 menit kami di sini.

“Pak, apa kita putar balik, lewat jalur pintas saja?” usul Mas Muhison.
“Di mana jalur pintas itu?”
Mas Muhison menjelaskan. Kami diskusi. Dan harus memutuskan detik itu juga. Pertimbangannya. Jalur alternatif tentu saja jalur persawahan. Kondisi jalan yang licin. Lumpur. Belum di tengah sawah yang disertai ancaman petir.

Kami memutuskan untuk menunggu.
Sekitar 10 menit. Alhamdulillah tim BPBD Pemalang berhasil menyingkirkan pohon yang tergelatak itu. Bravo BPBD!

Macet semakin parah. Dari arah lawan, jalur kanan kiri sudah ditutupi kendaraan. Polisi? Hehe jangan dicari.

Tapi akhirnya alhamdulillah, saya dan Mas Muhison bisa melewati kemacetan itu. Tapi, duh di mana dia sekarang? Dan rombongan kawan lain sudah kocar-kacir. Agaknya Muhison ini kecepatannya lebih dari 70 KM. Dia masih muda.

Saya gas pelan-pelan saja sesuai kemampuan daya saya.

Perjalanan belum sampai 7 menit. Mas Muhison berhenti di depan. Dia menunggu. Ini baru sampai di jalur antara Paguyangan dan Kebongede, Bantarbolang.

“Pak, di depan gak bisa lewat, jalur utama Bantarbolang tutup, pohon tumbang lagi”.
“Ya Allah, belok kiri ayo, Mas. Alternatif”.

Langit masih hujan. Saya masuk desa Paguyangan. Kanan kiri hutan. Jalannya bebatuan. Belum diaspal. Saya membayangkan. Desa ini dalam imajinasi saya adalah seperti desa Penari. Seperti kisah KKN Desa Penari. Semakin menuju desa semakin petang.

”Mas ini kok gak selesai-selesai. Jauh banget”, gerutu saya.
“Ya, pak. Gas aja”.

Muhison di dalam pekerjaan, orangnya tenang. Kalem. Dia masih muda. Cekatan. Di jalanan seperti ini, dia menunjukkan ketenangan juga.

Paguyangan. Belok kanan. Bayangan cerita horor KKN penari tidak ada di desa ini. Karena ini, karena di sini. Lautan manusia dengan kendaraannya. Macet parah. Sangat parah. Saya lupa. Jam jam ini adalah karyawan pulang.

CILAKA!

UMR Pemalang yang tak seberapa di Jateng, pabrik pabrik baru bermunculan. Tentu saja para pemodal suka dengan konsep ekonomi yang seperti ini. Di tengah macet jalanan desa yang kecil. Samar samar saya dengar obrolan karyawan itu.
“ngertia kayak kiye, miki donge ngelembur bae aja balik, neng pabrik, lumayan olih tambahan duit”.

Saya yang dibesarkan di kampung, belum pernah melihat macet separah ini. Muhison tidak tahu di mana di sekarang. Apa di depan. Atau di belakang. Situasi semakin chaos.
Dari arah depan, bus semi besar kecil, Santoso tetap melaju. Dari arah saya, dam truck berdiri diposisi. Jalan desa kecil tidak memungkinkan untuk saling berpapasan. Tidak ada yang mau mengalah.

Beruntung ada para pemuda desa yang ikut mengatur jalanan.

Jam di motor sudah menunjukkan 17 lebih. masih macet. Saya kabarkan kepada istri. Bahwa saya aman. Dan masih terjebak macet. Untuk Nadifa buka makan seadanya.

Muhison, di mana dia.

Ah iya, dia alumni UIN Jakarta. Dulu di sana, sudah terbiasa macet. Sekarang, Skilnya dalam menyusuri kemacetan pasti dia masih punya. Sedang saya hanya mahasiswa Yogya.

Saya move sedikit-sedikit. Saya tidak ingin terbayang Muhison lagi. Haha.

Hari semakin petang. Saya stres parah. Di hati, sambil terus komat kamit selawat kepada nabi. Berharap pada Allah yang Maha Ndak Tegaan untuk segera mensudahi drama ini.

Di depan, ibu-ibu memberi petunjuk. Motor lewat sini. Kata dia.

Saya dan pemotor lainnya masuk di sana. Yang saya lalui jalur di depan bersama Muhison adalah jalan alternatif. Dan ini lebih alternatif. Jadi alternatifnya alternatif. Jalannya kecil. Bukan jalur biasa. Ini adalah pekarangan warga!

Berkelok-kelok, kanan ke kiri, kiri ke kanan. Di tengah rumah penduduk. Sepertinya ini sudah masuk Desa KebonGede. Saya melalui sawah, melewati pemakaman desa. Belum pernah saya ke sini.

Langit semakin hitam petang.

Di depan. Hampir tiap tikungan. Penduduk setempat berdiri. Memberi arah jalan yang tepat. Mereka tentu saja tidak berkoordinasi. Saya menganggap ini adalah amal jariyah kebaikan mereka. Bentuk gotongroyong sebagai manusia pancasila: warga jaga warga.

Saya berhenti sejenak. Sambil mengistirahatkan tangan. Pergelangan tanganku masih sakit cidera kemarin. Memberi salam. Kepada seorang laki-laki berpayung. Berjaket Banser, bersarung lusuh. Berpeci miring.
“Bantarbolang masih jauh, Ndan?"
“Dekat, Kang.”
Wah, Nuwun, betapa banyak sekali urusan hidupku diselesaikan dengan para komandan Banser ini. Hutang rasa.

Lanjut lagi. Katanya dekat, kok 15 menit belum ketemu jalan besar beraspal. Wkwk tambah stress juga.

Saya membayangkan, kelak di hari nanti. Di hari pembalasan, akan seperti ini. Timbangan siapa yang lebih cepat. Bergantung dengan apa yang kita bawa, kalo bawannya mobil mungkin masih terjebak macet di tengah hutan di Paguyangan. Untungnya saya hanya bawa Vario. Sat set tas tes.

Alhamdulillah. Jalanan aspal Bantarbolang ketemu juga. Sudah masuk jalan utama. Saya tancap gas. Progress perjalanan sore ini menjelang buka puasa harus diselesaikan sampai rumah.

Di tengah jalan, saya mampir beli makanan buka puasa untuk istri dan anak. Alhamdulillah. Biasanya perjalanan cukup satu jam setengah. Sampai rumah setengah 7 lebih. Buka puasa. Minum. Makan.
Dan mati listrik. Tidak ada sinyal. Batrei HP tinggal 5 persen.

Saya belum ngabarin Mas Muhison.

Paginya. Saat sahur tiba, Muhison Whatsapp Saya. Memberi link berita. Yang terjadi di antara Paguyangan dan Kebongede. Seseorang tertindih tiang listrik yang terkena pohon tumbang.

Hal seperti ini, kecelakaan sepertinya biasa. Biasa. Sangat biasa. Lalu bagaimana Mitigasi pemerintah Kabupaten Pemalang.

Allahu Akbar.

Banyak artis yang kemudian terpeleset ke dalam kepribadian yang bukan dirinya, karena tak kuat menahan arus kebintangan yang memang memabukkan. Ini bisa terjadi pada siapa saja. Orang-orang dengan latar belakang pekerjaan apa saja. Ketika sudah di atas, sangat sulit mengontrol dirinya sendiri.


Saya lebih suka menjadi seorang idealis daripada jadi orang populis. Bagi saya, tidak perlu saya harus disukai orang secara berlebihan jika itu harus mengorbankan jati diri saya yang sebenarnya.


( Chrisye )

******


Ada seorang penyanyi hebat di Indonesia ini, dan rupanya Tuhan menganugerahkan “suara malaikat” kepadanya. Dia konsisten di dunia tarik suara. Pernah satu kali dia bermain film, namun sejak itu dia tidak mau lagi memanfaatkan aji mumpung tersebut. Baginya, musik dan bernyanyi adalah dunianya, dan dia tidak mau sabet jaya ke bidang lain demi kejar setoran. 


Dia mu‘alaf dan rajin shalat di masjid dekat rumahnya. Semakin tua, karyanya semakin apik dan mewah, serta semakin banyak pintu rejeki terbuka baginya. Dia disebut Legenda dalam dunia musik Indonesia, namun semua orang yang pernah kenal dan bekerja sama dengannya akan mendapat kesan yang sama bahwa dia sangat rendah hati. 


Saat dia tampil solo untuk pertama kalinya dengan besar-besaran, ketika penonton mengelu-elukannya, dia malah berkata dalam hati, “Ya Allah, betapa aku ini kecil tak ada arti apa di hadapan-Mu.”


Tirulah Chrisye, yang ketika berada di puncak ketenaran, tetap rendah hati dan tak melakukan personal branding berlebihan.


Ditulis Oleh Pak Alfathiri Adlin. 

*****************************************

TAUFIQ ISMAIL


Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, “Bang, saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?” Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi relijius.


Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul. Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan. Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, ” Chris, maaf ya, macet. Sori.” Saya akan kembalikan pita rekaman itu. Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin.


Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi, A’udzubillahi minasy syaithonirrojim. “Alyauma nakhtimu ‘alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibuun” saya berhenti. Maknanya, “Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan.” Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!


Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke larik-larik lagi tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai. Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.


Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon,” Chris, alhamdulillah selesai”. Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut. Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.


Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye Sebuah Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye. 


Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba lagi. Menangis lagi. Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata.


Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya. “Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65…” kata Taufiq. Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!


Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya. Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai. Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari!


Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benar meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi.


_______________________________________


Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat kelak.


Mengenai menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.


* * *


Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. “Kenapa Bang, kurang?” Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya.


Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar. “Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun ‘kan?”


Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun senang.


Pada subuh hari Jum’at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan istri, Yanti, dan empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album sountrack, 20 album solo dan 2 film. Semoga penyanyi yang lembut hati dan pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga terbuka lebar baginya. Amin. #


Ketika Tangan dan Kaki BerkataLirik : Taufiq Ismail

Lagu : Chrisye


Akan datang hari mulut dikunci

Kata tak ada lagi

Akan tiba masa tak ada suara

Dari mulut kita


Berkata tangan kita

Tentang apa yang dilakukannya

Berkata kaki kita

Kemana saja dia melangkahnya

Tidak tahu kita bila harinya

Tanggung jawab tiba


Rabbana

Tangan kami

Kaki kami

Mulut kami

Mata hati kami

Luruskanlah

Kukuhkanlah

Di jalan cahaya…. sempurna


Mohon karunia

Kepada kami

HambaMu yang hina

Lagi lagi ini. Pagi ini saya benar-benar kangen guru saya. Prof Suryadi. Saya tidak pernah benar-benar dapat nilai Mumtaz di kelas beliau. Hanya sekedar jayyid. Baik. Setidaknya, ini yang kelak menuntun hidup saya menuju lebih baik. Tentu saja saya tidak sedang mengklaim, saya ini orang baik. 


Melalui beliau, lagi lagi saya mengenal banyak hal, dari klasifikasi jenis hadits. Sampai banyak hal tentang manusia agung, sumbernya hadist: Rasul Muhammad–Oh Allah, sampaikanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad. 


Ndilalah, di ramadhan ini, banyak waktu luang yang saya punya. Ini adalah rejeki. Saya seperti wali. Bisa berpindah-pindah daerah dalam satu hari. Sehabis subuh, saya ngelemprak di Leteh, Rembang. Ngaji pada Mbah Yai Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Kitab Burdah. Karya Imam Al-Bushiri (610-695 H/1213-1296 M). 


Sehabis dhuhur, pindah tempat ngelemprak di Giren, Talang, Kabupaten Tegal. Kepada Habib Ahmad Bin Habib Abdullah Al Athas. Ngaji Kitab Muqodimah Hadramiyah. Kitab tentang Haji. Proletariat seperti saya, punya kepentingan apa mempelajari Bab tentang haji? Haha


Sorenya, menjelang buka, jika tidak ada jadwal, kadang saya ngabuburit di Cilandak Jakarta Selatan, di Nurcholish Madjid Society. Bersama murid-muridnya Cak Nur. Menyeruput sisa-sisa kebajikan Cak Nur yang masih tertinggal di bumi. 


Betapa menyenangkannya hidup saya. Seperti wali sakti. Tapi tentu saja semua itu saya kerjakan dari rumah. Teknologi yang bisa merubah saya menyerupai wali. 


Di subuh ini, Ngaji kepada Mbah Mus, adalah ngaji yang membuat saya lagi-lagi kangen pada Prof Suryadi. Persis. Sebagaimana ceramah-ceramah beliau. 


Ngaji tentang Burdah, itu mengaji tentang bagaimana puja puji kepada Kanjeng Nabi. Tidak ada celaan untuk manusia suci. Ajarannya adalah cinta. Tidak ada kebencian sedikitpun. Hari ini sudah masuk Fashl Tsalis. Bagian ketiga dari Nadzam Imam Al-Bushiri. 


Pilihan diksi² Imam Al-Bushiri itu luar biasa. Itulah kenapa ada yang sampai mabuk. Lupa dengan dirinya sendiri. Dari akibat dari memuji Nabi. Saya ingat, dulu di Yogya, ada seorang kiai sekaligus pengusaha sukses yang memberiku ijazah amalan supaya lekas kaya: bacalah Burdah. Meskipun kehidupanku yang sekarang ya hanya seperti ini, masih proletar. Tapi semuanya tetap alhamdulillah. 


Balik lagi ke syair Imam Al-Bushiri yang dibahas Mbah Mus. Cara Imam Imam Al-Bushiri memuji nabi itu, tidak meninggalkan pujiannya kepada Allah. Karena nabi sendiri yang diangkat oleh Allah. Warafa'na laka dzikrak. Supaya dipuji. Bukan karena nabi sendiri yang ingin dipuji. 


Imam Al-Bushiri sendiri dalam diksinya, mengatakan: Laisa lahu Haddun Yu'robuhu, tidak ada diksi yang tepat untuk mengungkapkan segala kebaikan Rasul Muhammad. Itu yang mengatakan Imam Al-Bushiri, pencipta Qasidah Burdah. 


Mbah Mus, mengatakan, Nabi sendiri itu ajarannya adalah cinta, penuh kasih sayang pada Ummatnya. Apakah ada ajaran, dakwahnya nabi yang memberatkan kita? 


Tidak ada. 


Semua sudah dihitung oleh nabi. 

Shalat susah? Mudah. Hanya 5 waktu. Jika tidak bisa berdiri, duduk. Jika tidak bisa duduk, tiduran. Di perjalanan? Ada klausul jamak. 

Zakat? mudah, kalo mampu, kalo ada harta, Mbah Mus mempercandai santri-santrinya yang kemungkinan besar malah orang-orang mustahiq zakat. Penerima zakat. Wkwkw.. 

Puasa? Mudah. Anak TK sekarang aja sudah pada puasa. 

Haji? Itu kan hanya untuk orang mampu. Gak seperti dapuranmu. Canda Mbah Mus. 


Pendeknya, apa yang diwajibkan oleh Kanjeng nabi itu sangat mudah dilaksanakan. 


Dan pagi ini, saat Mbah Mus menjelaskan bahwa Nabi tidak pernah memberatkan umatnya, saya seperti mendengar suara Prof Suryadi di kelas Hadits dulu.Bahwa memahami Nabi bukan hanya memahami sanad dan matan, tapi memahami ruh kasih sayangnya.


Pada akhirnya, ngaji keliling dari Leteh, Giren, hingga Cilandak via layar ini membuat saya sadar. Kanjeng Nabi mewariskan agama yang mudah. Guru-guru saya, mewariskannya dengan senyum dan cinta. Dan untuk ukuran seorang proletar seperti saya, bisa menikmati semua kemewahan ilmu ini dari rumah, bukankah itu rezeki yang lebih dari sekadar nilai Mumtaz?




#DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar

Subuh ini, saya mengenang guru saya, dosen saya di Yogya. Guru besar Hadist UIN Sunan Kalijaga. Profesor yang masih muda, tapi Allah mencintainya. Menjemput lebih dulu dari kita semua.

Pemikirannya luar biasa. Kebanyakan orang mengatakan liberal. Bagi saya tidak. Berbagai metodologi takhrij hadist beliau tentu saja hatam. Di sela-sela ceramah, beliau menyatakan, bahwa kelak anak-anak nya tidak akan diizinkan untuk berpindah agama, karena ini prinsipil. Saya ingat-ingat lupa konteksnya, kenapa saat itu beliau mengatakan demikian. Beliau membebaskan anak-anaknya untuk mengerjakan apa saja. Menjadi apa saja.

Ramadhan tahun ini, insya Allah masih menyenangkan. Membahagiakan. Tidak perlu teori-teori kesehatan untuk menjelaskan legitimasi kenapa harus wajib puasa. Tidak perlu.  Karena ini adalah salah satu jalan cinta. Pun dengan Salat Tarawih.

#DearDifa, agama itu memang dogma. Doktrin kebenaran. Ia bersifat mutlak. Tapi saya ingin membawamu dan adikmu lebih dari ini: yang sebagian orang menyebutnya sebagai cinta. Tidak ada nilai tawar terhadap ideologi. Apalagi cinta. Termasuk rukun Islam ke empat, puasa.

Dalam teori sosial, degradasi budaya itu ada. Dulu, generasi dulu, saat memasuki bulan puasa kami menyambutnya dengan gegap-gempita. Bergema. Dari Tongtongprek sahur, kuliah subuh, jalan habis subuh, kelaparan, kejujuran, buku ramadhan, berburu takjil, buka puasa, jajan habis buka, dan lain sebagainya. Adalah sesuatu yg khas untuk menyambut euforia ramadhan. Seperti hukuman mememang. Tidak enak. kelaparan, kehausan, di siang hari. Dan malas-malasan untuk menegakkan salat tarawih di malam hari.

Pasca makan sahur yang ngantuk, tetapi harus ikut kajian kuliah subuh. Harus. Kenapa harus, karena kami dibekali buku catatan amal kebaikan yang harus ditandatangani oleh ustadz atau kiai. Saya dan kawan-kawan mencatat, merangkum apa saja isi ceramah yang disampaikan ustadz.

Buku itu, Difa. Kelak akan dikumpulkan setelah lebaran. Dan menjadi nilai yang akan dipertaruhkan di sekolah nantinya. Di dalam buku tersebut juga ada catatan amal, selama 30 hari itu, berapa hari puasa saya bolong-bolong. Buku itu ditulis saya sendiri, ditulis apa adanya, sejujur jujurnya. Dan jika catatan amalan itu buruk, minimal akan malu, akan diroasting banyak kawan di sekolah.

Begitulah, Difa. Degradasi muncul dengan adanya perubahan zaman. Dan mungkin faktor teknologi.

Salah satu hal yang paling menyenangkan tentang Ramadhan adalah tarawihnya. Jumlah rakaat yang banyak. Bagi golongan seperti kita 20 rakaat, 10 salam, dan 3 rakaat witir, 2 salam. Melelahkan. Sangat malas untuk dikerjakan. Tapi ini nostalgis sekali.

Tahun ini, di Masjidil Haram, melaksanakan salat tarawih hanya dilakukan 8 rakaat, 4 salam, dan 3 rakaat witir.

Maka, pertanyaannya, apakah masih relate, di dunia yang sekarang serba bergegas. Instan. Cepat. Fleksibel. Dengan melakukan tarawih yang 20 rakaat 3 witir itu?

Sangat relevan!

Saya didik dalam keluarga tarawih 20 rakaat. Kemudian mengaji doktrin Kitab Ahlu Sunah Wal. Jama'ah. Di dalamnya ada sejarah rakaat tarawih itu.
Di Indonesia, terutama di lingkungan Nahdlatul Ulama, tarawih 20 rakaat + 3 witir adalah praktik yang sangat mapan.
Ini bukan tradisi baru, tapi warisan panjang dari praktik para sahabat pada masa Umar bin Khattab. Secara historis, pada masa beliau, tarawih berjamaah dikumpulkan dan ditetapkan 20 rakaat. Sejak itu, mayoritas ulama empat mazhab menerima praktik ini sebagai bentuk kesepakatan umat (ijma’ amali).

Lalu Kenapa Ada yang 8 Rakaat?

Sebagian kelompok merujuk pada riwayat bahwa Rasul Muhammad tidak pernah shalat malam lebih dari 11 rakaat (termasuk witir). Dari sini lahir praktik 8 rakaat, 3 witir.

Apakah masih relevan di Zaman Sekarang?
Kalau relevan diartikan sebagai: masih sesuai syariat, tentu saja iya. Masih diamalkan mayoritas umat, iya. Masih punya nilai spiritual? Sangat iya.

Yang sering membuat terasa tidak relevan itu bukan rakaatnya. Tapi tempo hidup kita yang makin cepat. Kita sanggup duduk 2 jam scroll HP, tapi 1 jam di masjid terasa lama. Kadang bukan tarawihnya yang berat, tapi hati kita yang belum siap pelan.
Tarawih itu qiyam Ramadhan.Yang dicari bukan angka, tapi ruh ibadahnya. 20 rakaat memberi ruang. Lebih banyak baca Qur’an. Lebih lama berdiri. Lebih banyak sujud. Lebih lama bersama jamaah.

Di desa-desa, tarawih 20 rakaat itu bukan sekadar ibadah, tapi ruang silaturahmi. Anak kecil lari-lari, orang sepuh duduk di saf belakang, setelahnya ada teh panas dan obrolan ringan. Kadang yang membuatnya relevan bukan dalilnya, tapi kehangatan sosialnya.

Saya, tentu saja tidak akan mengklaim ini hal yang paling benar.  Yang penting salat tarawih. Saya juga tidak ingin mencela orang yang tidak bisa tarawih karena sesuatu hal.
Sebagaimana ngendikanya Gus Baha. Agar tidak mencela atau memandang negatif orang yang tidak shalat tarawih karena bekerja, sebab tarawih hukumnya sunnah dan mencari nafkah halal adalah kewajiban. Beliau menekankan bahwa Islam tidak memberatkan, sehingga pekerja tidak perlu merasa berdosa jika melewatkan tarawih demi menafkahi keluarga. 

Tapi #DearDifa seperti dosen hadist saya, Saya ingin kau dan adikmu melanjutkan. Jika suatu malam nanti kau lelah berdiri di rakaat ke-17, ingatlah: yang sedang kau jaga bukan jumlahnya, tapi silsilah cinta kita.


Desember sebentar lagi selesai, semalam hujan, tapi langit pagi ini cerah sekali. Puluhan bintang gemintang yang menemani subuhku. Langit merah fajar menambah rasa syahdu.

Desember, letak matahari ada selatan bumi. Konon, itu yang membuat udara dingin sekali, matahari terbit dari pojok timur selatan.  Ayam berkokok, sisa suara jangkrik masih berbunyi. Tapi begitulah alam raya, bergerak. Santai. Apa adanya. Mengikuti ritme-Nya.

Sementara, di belahan bumi sana, manusia, dengan segala angan dan ambisinya, ingin mengatur semua. Hatinya kemrungsung. Otaknya berfikir. Kapan semua ini akan berakhir. Manusia itu adalah aku dan mungkin kamu.

Ini soal waktu kata seseorang. Biarkan menggelinding pelan. Atau subuh ini, yg asri, yang sejuk, kau ingin rubah tiba-tiba menjadi malam yang suram? Tidak. Ini hanya soal waktu. Toh kita bukan pengendali waktu. Kita hanya pengendali kapal, karena nenek moyangku seorang pelaut.

Desember sudah hampir habis hari ini. Perlahan saja kita nikmati. Detik demi detik, jam demi jam. Spotify sudah merilis Wrapped, di sana, lagu-lagu kesukaanku muncul. Artis-artis favoritku dari nomor lima sampai nomor satu. Berdasarkan apa yang saya putar selama satu tahun.

Wrapped Desember tahun ini hampir masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Lagu kesukaanku ya hanya itu-itu. Iksan Skuter, Pidi Baiq. Selain itu, ada ratusan lagu dari berbagai artis yang saya putar ternyata. Dari Arabic Indie, SKA, reggae, dan tentu saja Indonesia Indie. Dan yang mengejutkan adalah, lagu “gacuk”, sebagai senjata rahasia mumetku tidak muncul di urutan lagu favoritku.

Artinya apa, 2025 adalah tahun menyenangkan! Meskipun tidak sepenuhnya. Banyak kegagalan-kegagalan yang menyelimuti aku. Menamparku, memelukku sepanjang 2025 ini. Tapi toh Tuhan tidak mewajibkan kita untuk sukses dalam banyak hal. Tuhan hanya menyuruh kita berikhitiar. Tapi apapun itu, saya sangat berterimakasih. Bersyukur pada Dzat yang Maha Asih. RahmatNya menyelimuti segalanya. RahmanNya mem-backup semua.

Ibu yang sehat, anak-anak yang tumbuh berkembang, istri yang sabar, dan kesehatan bagi semua keluarga. Adalah sesuatu hal yang sangat penting dari segala ambisiku sebagai manusia. Saya tidak tahu, 2026 di depan sana ada apa. Tugas ku, kalo ada di depan mata, saya ikhtiari sebisanya. Saya pasrahkan pada Tuhan yang Maha Kuasa. 2026 insya Allah indah pada waktunya. Hanya urusan waktu.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE