Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

“Om, sehat? awet ya sejak aku SMA.”

Alhamdulillah mas. Jawabnya singkat sambil tertawa. Saya bayar dan tentu saja murah. Dari tarif umumnya.

Dia adalah kernet di bus Santoso. Bus kecil semacam Tayo. Jurusan Tegal Pemalang Moga. Senyumnya masih sama. Kaosnya dari dulu hanya itu, berkerah dan mungkin baju seragam kebesaran PO busnya. Celananya masih sama. Kain hitam panjang. Sendal jepit. Yang berbeda hanya rambutnya kini lebih banyak putihnya. Yang saya amati, dia sudah gonta-ganti pasangan partner supir. Tapi menurutku dia adalah kaptennya di sini.

Dia pengatur ritme jalanan. Dia tahu kapan harus ngetem berhenti lama. Kapan harus ngebut berpacu waktu. Saya lihat dia tak bawa jam tangan. Tapi presisi ketepatan waktu dia memiliknya. Sepertinya para akademisi dan politisi yang suka terlambat harus belajar banyak pada dia.

Terbukti, dulu saya akan tertinggal busnya jika terlambat satu menit saja. Kemudian ruang BK dan segala hukumannya sudah menunggu saya.

Puluhan tahun dia di jalanan. Membuat dia betul-betul sebagai seniman. Dia tahu jam-jam kendor dan jam-jam ramai. Ini adalah seni. Senyumnya yang khas. Ramahnya dengan berbagai penumpang. Busnya selalu ramai.

Dia semacam dewa dewi, punya penglihatan irfan ilahi. dia tahu betul-betul mana yang penumpang asli atau penumpang gadungan. Dia memitagasi berbagai kejahatan. Pencopetan yang paling sering katanya. Dia ingin memastikan penumpangnya aman. Ah andai dia ini penyelenggara negara, yang memastikan keamanan warganya.

Gen saya ini dan mungkin gen di bawah saya, jika sebagai pekerja banyak tipikal pekerja jop hopper. Atau kutu loncat. Dia kebalikannya. Dan mungkin banyak orangtua kita dulu, sepantarannya adalah tipikal pekerja stayer. Dia loyal kepada pekerjaan. Dedikasinya patut kita contoh.

Tentu saja dia sudah merasakan berbagai pahit manisnya di jalan. Ramai dan sepinya penumpang adalah hal biasa. Ramai disyukuri. Sepi juga di-alhamdulillahi. Ratusan, mungkin ribuan orang sudah dia antar. Cerita-cerita para pedagang yang menumpang sudah berapa episode yang dia dengar. Kisah klasik para pengamen jalanan. Calo yang dia berdayakan. Preman yang harus dia ajak damai.

Saya tidak tahu sudah berapa generasi anak sekolah yang sudah dia antar. Sekarang sudah menjadi orang besar. Saya masih ingat kebaikannya. Suatu kali. Kakak kelasku kehabisan uang. Dia satu kecamatan dengan saya. Dia meminta uang ku yang seribu untuk memenuhi pembayaran kepada Om Kernet itu. Dia malah mengangguk, ketawa dan meledek kami berdua. Ahhh hutang rasa yang tidak pernah aku bayarkan.

******
Tulisan ini, dibuat 1 Mei. Menuliskan sejarah dedikasinya om kernet pada kehidupan ini.

Jake Sabay Clemente, musisi asal Manila Filipina, beberapa bulan yang lalu, melalui lagunya, FYP di media sosial dengan tokoh fiksinya Ernesto. Ia menyanyikan lagu Still Waiting at The Door. Aku masih setia menunggumu di depan pintu. Secara fisik, Ernesto digambarkan sebagai pria paruh baya yang tampak bersahaja. Wajahnya memiliki garis-garis kelelahan, sering kali mengenakan pakaian pekerja kasar atau tukang kayu mengenakan kaos lusuh. Seorang pria yang telah bekerja keras seumur hidup namun menyimpan luka batin yang besar. Sayangnya, ia hanya karakter AI. Penampilan ini diciptakan menggunakan teknologi untuk memunculkan kesan seperti asli.


Ernesto bukan sekadar karakter, dia adalah representasi dari sisi rapuh seorang pria. Di banyak budaya, pria sering kali dituntut untuk kuat dan tidak menunjukkan kesedihan. Ernesto mendobrak itu. Melalui suaranya yang serak dan penuh beban, dia mewakili setiap pria yang merasa kesepian, gagal move on, atau merasa tertinggal oleh waktu sementara dunia terus berjalan.

Di belantika musik Arab, kita bisa temui, Basrah wa Atooh (2022?). Tersesat di Labirin Kenangan. Lagu Basrah wa Atooh. secara harfiah berarti Aku melamun dan tersesat, adalah salah satu karya paling melankolis Band Cairokee asal Kairo Mesir. Lagu ini menceritakan tentang kondisi psikologis seseorang yang raganya ada di masa kini, namun jiwanya tertinggal jauh di masa lalu. 


Di Indonesia, tentu saja ada The Godfather of Broken Heart. Didi Kempot. Salah satu lagunya adalah Tanjung Emas Ninggal Janji. Sama-sama pria yang menunggu.

Pria yang menunggu ketidakpastian. 


Saya teringat film Interstellar (2014). Seorang pria bagiku yang sangat menyedihkan. Di masa depan yang tidak terlalu jauh, Bumi sedang sekarat. Badai debu raksasa dan wabah penyakit tanaman (hawar) menghancurkan sumber pangan dunia, membuat oksigen semakin menipis. Manusia dipaksa kembali menjadi petani hanya untuk bertahan hidup.

Joseph Cooper, seorang mantan pilot penguji NASA yang kini menjadi petani jagung, secara tidak sengaja menemukan koordinat rahasia melalui fenomena gravitasi yang terjadi di kamar putrinya, Murph. Koordinat tersebut membawanya ke markas rahasia NASA yang dipimpin oleh Profesor Brand.

NASA mengungkapkan bahwa mereka telah menemukan sebuah lubang cacing. Wormhole. Itu di dekat Saturnus yang diduga ditempatkan di sana oleh entitas misterius. Lubang ini adalah pintu menuju galaksi lain. 

Cooper direkrut untuk memimpin kru kapal Endurance guna menyusul misi sebelumnya. Misi Lazarus. Ia harus meninggalkan keluarganya, termasuk Murph yang merasa dikhianati oleh kepergian ayahnya, untuk mengunjungi tiga planet potensial: Miller, Mann, dan Edmunds.

Perjalanan ini penuh resiko, karena adanya dilatasi waktu. Karena lokasi planet-planet tersebut dekat dengan lubang hitam raksasa bernama Gargantua, waktu berjalan jauh lebih lambat bagi para kru dibandingkan dengan orang-orang di Bumi. Satu jam di sana sama dengan 7 tahun di bumi.

Ini bukan metafora. ini fisika Einstein. Semakin kuat gravitasi di sekitar, maka semakin lambat waktu berjalan. Kip Thorne, fisikawan hadiah nobel. Saat Cooper kembali ke kapal ternyata sudah 23 tahun yang lalu, anaknya sudah tumbuh dewasa, menikah, dan punya anak. Cucu-cucunya sudah tumbuh dewasa. Tapi Cooper masih dengan wajah yang sama, masih tubuh yang sama, karena buat dia hanya beberapa jam yang lalu.

Anggapan sebagian orang mungkin ini keren. Bagi saya ini bukan soal hidup abadi. Tapi soal hidup jauh lebih lama dari semua orang yang dicintai. Cooper masih ada, tapi ia kehilangan segalanya yang hidupnya berarti.

Ternyata itu bukan anugrah, tapi hukuman, dia menyaksikan orang yang dia cintai pergi satu persatu. Dan dia masih di sini tapi untuk siapa?

Film interstellar bukan hanya analogi, tapi fisikanya asli. Ernesto juga bukan hanya rekaan AI, namun budayanya ada di banyak belahan bumi. Lagu-lagu Cairokee tidak sekadar melodi, tapi jejak jiwa yang tertinggal dalam di hati. Dan Didi Kempot tidak sedang bernyanyi, ia sedang mewakili mereka yang tak pernah selesai. Ketika saya temui seorang kakek di masjid Agung Pemalang, berjamaah salat Isya. Ia menghabiskan sisa hidupnya menjual ketan bakar di sudut alun-alun Pemalang, sudah tidak ada siapapun yang menunggunya di rumah ketika ia pulang.  Saya dedikasikan tulisan ini untuk Kawan Temanggung dan Jepara saya.


Sebelum media sosial ramai dengan konten² tentang kecengengan dan kengenesan laki-laki. Di masa muda saya, sejujurnya, sudah menulisnya lebih lama di beranda fesbuk. Dulu saya kira itu cuma fase. Ternyata, itu bahasa yang sama, hanya sekarang dibicarakan oleh lebih banyak orang. Sekarang, di lorong-lorong media sosial, kita akan menemukan wajah laki-laki yang hampir serupa.


Tentang pencapaian dunia dan uang. Laki² dan rasa yang tidak bakal cukup karena ekonomi. Insecure terhadap standar peradaban. Membandingkan diri dengan orang lain yang lebih keren. Sampai kegagalan relasi dan penolakan. Dunia yang sungguh kejam. Sastra dan film-film cengeng turut serta membentuk karakter laki-laki miskin dan melankolis. Puncaknya hilangnya ketidakpercayaan diri. Banyak laki² miskin macam ini yang tidak punya ruang untuk bercerita. Apalagi bergembira?


Tadinya, saya kira, dunia laki² yang tidak punya “modal” dan “akses”, semasa muda semuanya sama. Seperti kebanyakan di sosial media. Lelahnya tidak hanya sekedar lelah. Pagi sampai petang fisik capek bekerja. Malamnya, batinnya lesu overthinking.

Tentu saja, semuanya tidak sama. Saya tahu. Betapa Tuhan membuat apa saja di dunia beraneka rupa. Tuhan menguatkan hati pemuda sekuat baja. Yang aksesnya minim, yang modalnya doa.

Syawal sebagai ajang silaturahmi. Mencharger energi. Obrolan di bawah rintik-rintik hujan, dan lampu temaram, dengan kopi pahit. Senja menuju magrib.


Saya tahu dia, dulu bagaimana, seharusnya dia berpandangan hidup penuh pesimistis. Seharusnya dia merasa tidak punya masa depan. Dan semestinya dia lelah dengan tekanan sosial dan  ekonomi. Dia tidak punya akses, tidak punya modal. Selalu diremehkan. Perjalanan asmaranya selalu kandas di jalan.

Di tengah kepulan asap itu, di bawah lampu temaram, seterang senter kandang pitik, tidak ada sedikitpun cerita tentang kerapuhan hidupnya.

Meki tampilannya alakadarnya. Rambut ikal yang dibiarkan. Baju hitam yang seperti dulu. Tapi sekarang dia adalah bos. Saat seorang pemuda lain yang penuh ambisi berjanji akan membuka 19 juta lapangan pekerjaan. Dia tanpa janji kepada siapapun, lebih dulu memberdayakan banyak orang. Dia perancang. Dia bukan follower. Dia lebih dari flower. Usahanya menuju startup yang gegap gempita di bawah naungan Tuhannya. Dia seorang pembelajar yang baik. Pemimpin yang tegas. Memecat tim nya yang terlibat judi online.



“Rumah saya sekarang sudah terbuat dari tembok!.” Katanya datar. Kami melihat lalu lintas yang sibuk gerimis.
Dan banyak kisah yang dia ceritakan padaku, pencapaian-pencapaian yang katanya hanya dikisahkan padaku. Katanya, dia tahu, bahwa aku adalah yang tidak akan memandang pencapaiannya karena kesombongannya. Justru dalam hati, saya bangga dulu pernah membersamainya.


Di malam ini, saat gerimis datang dengan malu-malu, dan petang dingin menusuk tulang. Rasanya, doa yang sedikit aku panjatkan.
“Oh Allah, banyak-banyakan aku bertemu dengan manusia sepositif dia, agar kemungkinan-kemungkinan itu pasti ada.”


“Ketahuilah bahwa imammu (Ali) telah merasa cukup dari dunianya dengan dua helai pakaian usang dan dari makanannya dengan dua potong roti gandum kasar. Seandainya aku mau, aku bisa saja memakan madu yang murni, gandum yang terbaik, dan memakai pakaian sutra. Namun, mustahil bagiku jika hawa nafsuku mengalahkanku. Sementara di Hijaz atau Yamamah mungkin ada orang yang tidak punya harapan untuk mendapatkan sepotong roti."

#DearDifa, #DearHilwa, #DearAsfar. Ini adalah surat ke-45 Imam Ali yang terangkum. Surat kepada Gubernur Basrah, Utsman bin Hunaif.

Ada lagi. Surat yang ditulis oleh beliau. ​Ini adalah "Monumen Sastra" besar dalam Nahjul Balaghah. Surat ini ditulis saat Imam Ali dalam perjalanan pulang dari Perang Siffin. Isinya adalah curahan hati seorang ayah yang semakin menua, kepada putranya yang masih muda.
​Sebuah petikan Puitis:
​"Ketahuilah wahai putraku, sesungguhnya engkau diciptakan untuk akhirat, bukan untuk dunia. Untuk kefanaan, bukan untuk keabadian, dan untuk kematian, bukan untuk kehidupan. Engkau berada di tempat yang sewaktu-waktu bisa mengusirmu. Maka janganlah engkau tertipu oleh dunia yang memamerkan keindahannya, karena ia laksana fatamorgana yang menipu orang dahaga."

Adalagi surat Imam Ali. Surat kepada Malik al-Asytar. Surat nomor 53. ​Meskipun ini adalah konstitusi pemerintahan, surat panjang, bagian pembukanya sangat puitis dalam mendefinisikan kemanusiaan. Surat ini sangat sakral bagi para pengikut mazhab Syi'ah. Bisa jadi ini termasuk dalam doktrin kepemimpinan di Iran.

​"Janganlah engkau menjadi binatang buas terhadap rakyatmu, yang merasa puas dengan memangsa mereka. Karena sesungguhnya manusia itu ada dua jenis: Mereka adalah saudaramu dalam seiman, atau mereka adalah setaramu dalam kemanusiaan (Nadhirun laka fil-khalq)."

​Makna: Kalimat "setaramu dalam kemanusiaan" dianggap sebagai salah satu kalimat paling humanis dalam sejarah Islam. Struktur kalimatnya dalam bahasa Arab sangat ritmis dan kuat.

Surat kepada Ahli Bashrah. Surat nomor 1. ​Surat ini ditulis dengan gaya deskriptif yang sangat kuat saat menjelaskan tentang awal mula penciptaan dan rapuhnya tipu daya manusia.
​"Dunia ini adalah tempat yang penuh dengan cobaan. Siapa yang mengejarnya, maka dunia akan menjatuhkannya. Siapa yang duduk menantinya, maka dunia akan meninggalkannya. Ia laksana bayangan, jika engkau mengejarnya, ia lari darimu, tapi jika engkau membelakanginya, ia justru mengikutimu."

Begitulah dik. Imam Ali.

Menjelang hari raya Idulfitri, Hasan dan Husain bertanya kepada ibunya, Sayyidah Fatimah: "Wahai Ibu, anak-anak di Madinah telah menghias diri dengan baju baru, mengapa kami belum?"😭😭
​Sayyidah Fatimah, yang saat itu tidak memiliki uang sepeser pun untuk membeli kain, menjawab dengan penuh keteguhan: "Wahai putraku, baju kalian sedang ada di tukang jahit."

​Saat malam takbiran tiba, mereka bertanya lagi. Fatimah menangis dalam hati dan berdoa kepada Allah karena tidak ingin mengecewakan putranya. Tiba-tiba, pintu rumah diketuk oleh seorang pria yang membawa bungkusan. Pria itu mengaku sebagai utusan tukang jahit. Ternyata, di dalamnya terdapat dua pasang pakaian indah.
​Imam Ali yang melihat hal itu bertanya, "Siapakah pria itu?" Rasulullah yang kemudian datang menjelaskan bahwa itu adalah Malaikat Jibril yang membawakan pakaian dari surga karena Allah tidak rida melihat kesedihan hati Fatimah dan anak-anaknya di hari raya.

​Referensi Kitab dalam ​kisah ini tercatat dalam beberapa kitab Manaqib dan Tafsir, di antaranya: ​Kitab Al-Awalim: Menjelaskan detail dialog antara Fatimah dan kedua putranya.

​Kitab Biharul Anwar (Karya Al-Majlisi): Jilid 43, Bab Keutamaan Hasan dan Husain. Di sini dijelaskan bahwa baju tersebut awalnya berwarna putih, lalu atas izin Allah berubah warna sesuai keinginan Hasan (Hijau) dan Husain (Merah). ​Kitab Dakhair al-Uqba (Karya Muhibbuddin al-Thabari): Seorang ulama besar yang mencatat kemuliaan keluarga Nabi.
*****
Di hari Asyura. 10 Muharram 61 H. Setelah semua sahabat dan keluarga pria Imam Husain gugur, Imam Husain berdiri sendirian. Beliau mendengar tangisan bayi dari tenda. Itulah Ali al-Asghar, putranya yang sedang sekarat karena kehausan setelah tiga hari blokade air oleh pasukan Yazid bin Muawiyah.

​Imam Husain sendrian membawa bayi itu ke hadapan pasukan musuh. Yang dipimpin Umar bin Sa'ad. Beliau mengangkat bayi itu tinggi-tinggi dengan kedua tangannya dan berseru:

​"Wahai kaum! Jika kalian menganggapku bersalah, maka bayi ini tidak berdosa. Dia tidak meminta kekuasaan, dia hanya meminta setetes air karena lidahnya telah mengering."

​Pasukan musuh mulai goyah melihat pemandangan itu. Beberapa tentara menangis. Melihat pasukannya ragu, Umar bin Sa'ad memerintahkan pemanah terbaiknya, Harmalah bin Kahil, untuk memutus pembicaraan Husain.

​Harmalah melepaskan panah bercabang tiga manjadiq, yang biasanya digunakan untuk berburu binatang besar. Panah itu melesat dan merobek leher si kecil Ali al-Asghar yang sedang berada di pelukan ayahnya. Bayi itu tersenyum kecil lalu syahid seketika. 😭😭😭

Allahu Akbar.

#DearDifa, #DearHilwa, #DearAsfar.

Kesederhanaan keluarga nabi, yang sampai sekarang dijunjung tinggi oleh bangsa Iran terus melekat sampai detik ini. Dan hari-hari ini. Apa yang dialami Iran saat ini. Ketika Amerika, Israel, dan negara-negara Teluk akan menginvasi Iran melalui darat. Mengobarkan semangat isu sektarian. Konon demi menjaga dua kota suci. Iran selalu teringat dawuh Imam Hussain: “Remember me when truth becomes alone.”

“Pulang jam berapa?”

Itu adalah Whatsapp dari istri saya.
Saya belum selesai menguji mahasiswa ujian komprehensif.
”15.30, insya Allah.” jawab saya.
“Di sini hujan deras disertai angin, lebih parah dari semalam”.

Ya Allah. Batin saya. Semalam, setelah salat gerhan bulan dan tarawih, di kampung hujan. Sangat deras. Angin tidak hanya sepoi. Tapi amboi. Memporak porandakan genteng-genteng rumah. Pohon pohon di pinggir jalan juga berjatuhan. Dan sore ini, katanya lebih parah.

15.00 WIB Pemalang belum hujan. Saya cek prediksi BMKG juga tidak ada tanda badai. Aman. 15.30 setelah semua hampir selesai. Saya salat ashar, kemudian duduk-duduk di depan gedung rektorat. Kampus ini terletak di tengah sawah. Pemandangan bisa melihat sekeliling alam ke atas raya.

Saya cek status whatsapp beberapa kawan di desa yang biasanya update tentang kondisi alam. Nyata! dia sedang adzan takbir, videonya memperlihatkan angin yang cukup besar. Meluluhlantakkan pohon depan balai desa.

Saat duduk di depan rektorat itulah. Tiba-tiba angin dan hujan datang. Ini badai. Serius ini angin yang besar.

Di samping kampus ada tower provider internet. Yang tingginya 100 meter. Ternyata ada pegawai masih di atas, mungkin sedang maintenance. Ah Tuhan semoga ia baik-baik saja. Nyata. Tali yang dia pakai jatuh terbawa angin. Tapi mungkin karena dia profesional dia aman turun bawah. Alhamdulillah.

Selanjutnya, saya bingung bagaimana pulangnya. Hari semakin sore. Nadifa anak saya belum punya lauk kesukaan untuk makan buka puasa. Saya kordinasi dengan istri, berkabar perkembangan kondisi hujan badai ini.

16.00 WIB saya memutuskan pulang. Istri tentu saja cemas. Dengan nama Allah yang Maha Rahman Rahim. Saya gas motor saya. Untal-untul dengan kawan yang se arah. Salah satunya mas Muhison, dia pustakawan di kampus kami.

“Mas gak usah ngebut-ngebut, ya. Maksimal 50-60 KM saja”. Pinta saya.
“Oke, pak”.
Gass.
Perjalanan belum ada 10 menit, di desa Surajaya, pohon tumbang di tengah jalan. Macet parah.

Di tengah itu, anggota tim BPBD Pemalang sedang sangat sibuk. Dengan beberapa mesin senso, war-wer war-wer, pohon besar di tengah jalan itu sedang diupayakan di potong.
Tapi kok lumayan lama.
Macet semakin menjadi. Sudah lebih 15 menit kami di sini.

“Pak, apa kita putar balik, lewat jalur pintas saja?” usul Mas Muhison.
“Di mana jalur pintas itu?”
Mas Muhison menjelaskan. Kami diskusi. Dan harus memutuskan detik itu juga. Pertimbangannya. Jalur alternatif tentu saja jalur persawahan. Kondisi jalan yang licin. Lumpur. Belum di tengah sawah yang disertai ancaman petir.

Kami memutuskan untuk menunggu.
Sekitar 10 menit. Alhamdulillah tim BPBD Pemalang berhasil menyingkirkan pohon yang tergelatak itu. Bravo BPBD!

Macet semakin parah. Dari arah lawan, jalur kanan kiri sudah ditutupi kendaraan. Polisi? Hehe jangan dicari.

Tapi akhirnya alhamdulillah, saya dan Mas Muhison bisa melewati kemacetan itu. Tapi, duh di mana dia sekarang? Dan rombongan kawan lain sudah kocar-kacir. Agaknya Muhison ini kecepatannya lebih dari 70 KM. Dia masih muda.

Saya gas pelan-pelan saja sesuai kemampuan daya saya.

Perjalanan belum sampai 7 menit. Mas Muhison berhenti di depan. Dia menunggu. Ini baru sampai di jalur antara Paguyangan dan Kebongede, Bantarbolang.

“Pak, di depan gak bisa lewat, jalur utama Bantarbolang tutup, pohon tumbang lagi”.
“Ya Allah, belok kiri ayo, Mas. Alternatif”.

Langit masih hujan. Saya masuk desa Paguyangan. Kanan kiri hutan. Jalannya bebatuan. Belum diaspal. Saya membayangkan. Desa ini dalam imajinasi saya adalah seperti desa Penari. Seperti kisah KKN Desa Penari. Semakin menuju desa semakin petang.

”Mas ini kok gak selesai-selesai. Jauh banget”, gerutu saya.
“Ya, pak. Gas aja”.

Muhison di dalam pekerjaan, orangnya tenang. Kalem. Dia masih muda. Cekatan. Di jalanan seperti ini, dia menunjukkan ketenangan juga.

Paguyangan. Belok kanan. Bayangan cerita horor KKN penari tidak ada di desa ini. Karena ini, karena di sini. Lautan manusia dengan kendaraannya. Macet parah. Sangat parah. Saya lupa. Jam jam ini adalah karyawan pulang.

CILAKA!

UMR Pemalang yang tak seberapa di Jateng, pabrik pabrik baru bermunculan. Tentu saja para pemodal suka dengan konsep ekonomi yang seperti ini. Di tengah macet jalanan desa yang kecil. Samar samar saya dengar obrolan karyawan itu.
“ngertia kayak kiye, miki donge ngelembur bae aja balik, neng pabrik, lumayan olih tambahan duit”.

Saya yang dibesarkan di kampung, belum pernah melihat macet separah ini. Muhison tidak tahu di mana di sekarang. Apa di depan. Atau di belakang. Situasi semakin chaos.
Dari arah depan, bus semi besar kecil, Santoso tetap melaju. Dari arah saya, dam truck berdiri diposisi. Jalan desa kecil tidak memungkinkan untuk saling berpapasan. Tidak ada yang mau mengalah.

Beruntung ada para pemuda desa yang ikut mengatur jalanan.

Jam di motor sudah menunjukkan 17 lebih. masih macet. Saya kabarkan kepada istri. Bahwa saya aman. Dan masih terjebak macet. Untuk Nadifa buka makan seadanya.

Muhison, di mana dia.

Ah iya, dia alumni UIN Jakarta. Dulu di sana, sudah terbiasa macet. Sekarang, Skilnya dalam menyusuri kemacetan pasti dia masih punya. Sedang saya hanya mahasiswa Yogya.

Saya move sedikit-sedikit. Saya tidak ingin terbayang Muhison lagi. Haha.

Hari semakin petang. Saya stres parah. Di hati, sambil terus komat kamit selawat kepada nabi. Berharap pada Allah yang Maha Ndak Tegaan untuk segera mensudahi drama ini.

Di depan, ibu-ibu memberi petunjuk. Motor lewat sini. Kata dia.

Saya dan pemotor lainnya masuk di sana. Yang saya lalui jalur di depan bersama Muhison adalah jalan alternatif. Dan ini lebih alternatif. Jadi alternatifnya alternatif. Jalannya kecil. Bukan jalur biasa. Ini adalah pekarangan warga!

Berkelok-kelok, kanan ke kiri, kiri ke kanan. Di tengah rumah penduduk. Sepertinya ini sudah masuk Desa KebonGede. Saya melalui sawah, melewati pemakaman desa. Belum pernah saya ke sini.

Langit semakin hitam petang.

Di depan. Hampir tiap tikungan. Penduduk setempat berdiri. Memberi arah jalan yang tepat. Mereka tentu saja tidak berkoordinasi. Saya menganggap ini adalah amal jariyah kebaikan mereka. Bentuk gotongroyong sebagai manusia pancasila: warga jaga warga.

Saya berhenti sejenak. Sambil mengistirahatkan tangan. Pergelangan tanganku masih sakit cidera kemarin. Memberi salam. Kepada seorang laki-laki berpayung. Berjaket Banser, bersarung lusuh. Berpeci miring.
“Bantarbolang masih jauh, Ndan?"
“Dekat, Kang.”
Wah, Nuwun, betapa banyak sekali urusan hidupku diselesaikan dengan para komandan Banser ini. Hutang rasa.

Lanjut lagi. Katanya dekat, kok 15 menit belum ketemu jalan besar beraspal. Wkwk tambah stress juga.

Saya membayangkan, kelak di hari nanti. Di hari pembalasan, akan seperti ini. Timbangan siapa yang lebih cepat. Bergantung dengan apa yang kita bawa, kalo bawannya mobil mungkin masih terjebak macet di tengah hutan di Paguyangan. Untungnya saya hanya bawa Vario. Sat set tas tes.

Alhamdulillah. Jalanan aspal Bantarbolang ketemu juga. Sudah masuk jalan utama. Saya tancap gas. Progress perjalanan sore ini menjelang buka puasa harus diselesaikan sampai rumah.

Di tengah jalan, saya mampir beli makanan buka puasa untuk istri dan anak. Alhamdulillah. Biasanya perjalanan cukup satu jam setengah. Sampai rumah setengah 7 lebih. Buka puasa. Minum. Makan.
Dan mati listrik. Tidak ada sinyal. Batrei HP tinggal 5 persen.

Saya belum ngabarin Mas Muhison.

Paginya. Saat sahur tiba, Muhison Whatsapp Saya. Memberi link berita. Yang terjadi di antara Paguyangan dan Kebongede. Seseorang tertindih tiang listrik yang terkena pohon tumbang.

Hal seperti ini, kecelakaan sepertinya biasa. Biasa. Sangat biasa. Lalu bagaimana Mitigasi pemerintah Kabupaten Pemalang.

Allahu Akbar.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE