Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

Tidak ada teori revolusi tanpa praktek revolusi, begitu pula sebaliknya – Vladimir Ilyich Ulyanov, dalam bukunya, What Is To Be Done? 1902.


Vladimir Ilyich Ulyanov, atau masyhur dikenal Lenin, adalah salah satu tokoh idola pendekar kita. Dia terinspirasi banyak hal dari gerakan-gerakan kiri. Termasuk bapak kiri Indonesia, Tan Malaka. Di tulisan Pendekar (1), saya sudah menjelaskan bahwa dia adalah aktivis yang murni aktivis. 


Dia aktivis kiri, ideologinya punk. Kumpul anak vespa. Tapi siapa sangka, di lingkaran itu justru dia adalah jalan dakwahnya. Secara genetik, dia Gus, anak seorang Kiai. Abahnya adalah jalan petunjuk dalam tiap langkahnya menuju salik. Dia akan meminta restu saat melakukan sesuatu. Bahkan di malam itu, 

“Jika kamu mati, Nak. Aku yang akan bertanggungjawab membesarkan anak-anakmu.” Abahnya meneguhkan hatinya. 


Pendekar kita berangkat perang, dan kita tahu dia sekarang tumbang. Berbaring di rumah sakit. Lukanya dijahit. Situasi mencekam. Komunitas vespa berkumpul. LSM Bajingan Preman berhimpun. 2 irisan itu siap perang. Di jalanan kabupaten yang sepi dan panjang sudah disepakati. 


Parang. Samurai. Rantai. Siap diayunkan. Secara kuantitatif tentu saja barisan preman itu kalah jumlah. Komunitas vespa datang dari mana saja. Dari berbagai daerah. Atas nama solidaritas untuk pendekar kita. 


Barisan LSM ciut. Mereka berpikir, orang-orang vespa jika mati tidak mungkin ada yang menangisi. Begitulah vespa. Tapi jika LSM mati, masih ada anak istri yang harus dinafkahi. 


LSM menyerah. 


Paginya, loreng hijau menemui kakak pendekar kita. Saya belum cerita kakak pendekar. Dia adalah lawyer terkenal di daerah. Advokat yang merakyat. Dia yang selama ini mem-backup sepak terjang pendekar kita. Meskipun si kakak tentu saja banyak sambatnya. 


Loreng hijau memberikan 80 juta. Kepada kakak. Si kakak tentu saja harus berhimpun dulu dengan pendekar kita. Pendekar tentu saja menolak. Meja hijau harus diteruskan. Perjuangan hukum harus ditegakkan. Kira-kira begitu kata pendekar. 


Namun nyatanya, sampai kasus berakhir, tidak ada dalang yang betul-betul bertanggungjawab. Hanya sekumpulan 6 preman itu yang dipenjara 4.5 tahun. 


Pendekar kita, tentu saja sudah berjuang. Sekuat-kuatnya iman. Dan toko obat jahanam sampai sekarang masih terus menjual obat terlarang. 


Saat pendekar menolak damai uang 80 juta. Saya sebenernya biasa saja. Itu adalah bentuk penolakan yang memang seharusnya. Tapi ada momen yang dia ceritakan yang membuat saya sesintimentil. Masih tentang uang. 


Dulu, di kalangan kami, sebagai aktivis mahasiswa adalah kebanggaan. Yang tentu saja tidak hanya sekedar dapat pengalaman. Kami terhubung kepada banyak senior yang “sukses”. Itu adalah salah satu akses masa depan. Menjadi dinda yang baik. Siap terjun demo atas arahan senior. Misalnya. 


Di kalangan kami, sebagian memang seperti itu, dan sebagian lagi tentu saja tidak. Saat salah satu kawan angkatan pendekar kita ini mampir ke rumahnya, membawa mobil, baju yang necis. Tampangnya tidak seperti aktivis. Sepatu mahal. Dia menawarkan pendekar kita masuk ke partai. Pendekar menolak. Dia ingin hidup apa adanya. Biasa saja. 


Setelah bincang lama. Bernostalgia. Tibalah momen, ketika kawan pendekar kita pamitan. Kawan pendekar memberikan uang segepok ke anak pendekar. Kira-kira mungkin 3 juta. Si anak menolak dengan halus. 

“Kata abah, Naura tidak boleh menerima uang dari siapapun yang tidak jelas.”

Saya mak deg. Allah. Merinding. 


Betapa pendidikan yang sangat penting ini kadang saya abaikan. Bahkan kepada anak saya sendiri. Kata pendekar, momen di situlah dia menang besar. Meskipun motornya vespa butut. Rumahnya sederhana. Dan kawannya yang kini kaya raya. Rasanya kekayaan itu kalah dengan pendidikan yang ditanamkan pada anak-anaknya. 


Kemenangan-kemenangan pendekar tentu saja tidak hanya itu, di banyak peristiwa, puluhan kali gelut di jalanan, berdebat argumentasi di panggung-panggung akademik, banyak ia menangkan. Tapi ada peristiwa yang tidak mungkin ia menangkan. Dia tidak bisa mengalahkan dirinya sendiri ketika beceng anggota menepikan dia di jalan. Saat dia mempertanyakan legalitas pembangunan PT di daerahnya. 


Peristiwa ini sangat melelahkan jika diingat. Bahkan momen saat Agustus 2025 kemarin. Saat banyak aktivis ditangkap. Tanpa proses hukum yang berarti. Ini akan diceritakan di serial selanjutnya. Insya Allah. 

Cerita ini pernah viral. FYP di Sosmed. "Warung Setan" yang menjual obat-obatan perusak generasi muda digeruduk oleh pemuda seorang diri. Dia pendekar. Kemudian ia limbung ditusuk 5 kali. 3 di punggung. 2 di perut. Dan tangannya sobek menahan pisau. Sabetan samurai oleh 6 preman itu menjadikan dia harus berbaring di rumah sakit. Kejadian ini sudah beberapa tahun yang lalu. 


Saya perkenalkan dulu tokohnya, dia adalah junior saya. Umurnya masih muda. Dulu, di pekerjaan dia sangat tidak profesional. Sangat tidak profesional. Banyak kawan satu divisinya mengeluh punya team seperti dia. Karena menurutku, pekerjaan itu bukan habitatnya. Sebagai pemegang ideologi punk, sekaligus anak vespa, rasanya tidak mungkin akan bertahan lama dalam pekerjaan itu. Tapi dia pembelajar yang baik. Dia seorang aktivis. Murni aktivis.


Jika dulu di sosmed cerita pendekar vs preman berkedok LSM itu sepotong-sepotong, saya ingin coba cerita detailnya. Beberapa hari yang lalu dia mengunjungi tempat saya. Dia berkisah:


Malam saat takbir hari raya idul fitri, dia didatangi oleh seorang muridnya dengan panik tergopoh-gopoh. Bahwa kawannya yang juga muridnya si pendekar kesurupan. Oh iya tokoh kita ini adalah pengelola ketua PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Semacam sekolah alternatif. Dia langsung samperin muridnya itu. Tidak ada yang bisa menolong. Dia analisis. Ini bukan kesurupan. Ini sakaw obat-obatan. Si murid di angkat tubuhnya. Dimiringkan. Tenggorokannya dibuka. Keluarlah muntahan yang disertai beberapa obat yang masih gelondongan. 


Hari raya ketiga. Dia juga menjumpai hal yang sama. Keponakannya sendiri overdosis obat yang luar biasa. Puncaknya adalah itu. Dia tidak sabar lagi. Datangilah warung penjual obat setan itu. Seorang diri. Dia memperingati. Lebih ke minta tolong. 

“Om, tolong jangan jual obat ini lagi.”

“Anda itu siapa? Aparat saja tidak berani memperingati.” sambil tersenyum merendahkan. 


Pendekar itu pulang. Kewajibannya amar ma'ruf nahi mungkar telah ia tunaikan. Hal yang paling dasar melalui lisan. Tetapi ia masih galau. Ia atur strategi lagi. Dia konsolidasi dengan beberapa organisasi kepemudaan. Dan hasilnya, organisasi itu tidak berani. Para organisator itu mengatakan bahwa warung itu dibekingi para perwira tinggi dan p*l*si. 


Di malam berikutnya, setelah dia melakukan meditasi. Dia berangkat lagi. Di warung itu dia ngamuk. Pemilik warung kalang kabut. Mengundang LSM preman, 3 orang yang jaga di warung itu juga kalah ditendang. Pendekar kita menang. Beberapa obat dan uang 25 juta ia diamankan. 


Petaka ini awalnya dari sana. Bos Mafia yang dari Jakarta video call ke pemilik warung saat penggerebekan itu. Pendekar kita memperkenalkan diri. Namanya. Alamat rumahnya. Siap untuk perang. Bos Mafia menawarkan sejumlah uang. 2 juta perbulan. Pendekar kita ini pendekar idealis. Tidak mungkin bisa menerima uang seperti itu. 


Esok malamnya ada pesan masuk. Meminta duel satu lawan satu. Di tempat dan waktu yang sudah ditentukan. Perjanjiannya adalah tanpa senjata tajam. Pendekar kita, belum mengiyakan. Ia meditasi lagi, meminta petunjuk ilahi. Dia juga meminta restu abahnya. Akhirnya ia menerima tantangan itu. 



Di malam yang dingin, di tempat yang sudah ditentukan. Dia hanya bawa seorang kawan. Dia ingin live streaming. Perkelahian ini harus disiarkan. Di luar dugaan, yang datang 6 orang. Semuanya membawa samurai panjang. Matilah. Kawannya pendekar ini langsung mengabarkan di whatsapp group, bahwa ia dan pendekar sedang dalam bahaya. 


Pendekar kita ini memang betul-betul pendekar. Dia jago bela diri. Sudah puluhan kali gelut dan perang di jalanan. Adrenalinnya sudah ia kuasai. Dia bisa mengatur emosi. Kapan ia harus gebug. Kapan ia harus menghindar. Dia tahu waktunya. Dia harus tetap percaya diri. Yang menjadi ia merasa di atas angin adalah, musuh-musuhnya bermata merah. Pertanda doping obat dan minuman keras. Sekali pukul pasti telak batinnya. 


Sebentar. Saya jeda. Menghela nafas nulisnya. Sayangnya saya tidak bisa menulis cerita silat seperti Wong Fei Hung. Tidak bisa mendeskripsikan dan menarasikan secara detail. 


Lanjut. Apa yang pendekar pikirkan ternyata di luar dugaan. 6 mengeroyok kanan kiri depan belakang, pendekar kita tumbang. Dan seandainya tangan dia tidak menahan laju pisau tepat mengenai mukanya, mungkin matanya sudah buta. Tangannya menangkis. Berdarah. Penuh luka. Pendekar kita tentu saja tidak kalah. 6 pengeroyok juga kena gebuk. Bajingan itu kabur. Tapi sayangnya akibat luka itu tidak mungkin bisa mengejar 6 bajingan itu. 


Kawan-kawannya yang dikabari di whatsapp group baru berdatangan. Sangat kesal. Markas para preman itu diporak porandakan. Tempat prostitusinya mowak mawik. Kawan-kawan pendekar balas dendam. 


Lalu bagaimana dengan keadaan pendekar? 

Setelah perang di jalanan, langkah selanjutnya perang di meja hukum. Bersambung dulu, temukan di tulisan selanjutnya. 

“Om, sehat? awet ya sejak aku SMA.”

Alhamdulillah mas. Jawabnya singkat sambil tertawa. Saya bayar dan tentu saja murah. Dari tarif umumnya.

Dia adalah kernet di bus Santoso. Bus kecil semacam Tayo. Jurusan Tegal Pemalang Moga. Senyumnya masih sama. Kaosnya dari dulu hanya itu, berkerah dan mungkin baju seragam kebesaran PO busnya. Celananya masih sama. Kain hitam panjang. Sendal jepit. Yang berbeda hanya rambutnya kini lebih banyak putihnya. Yang saya amati, dia sudah gonta-ganti pasangan partner supir. Tapi menurutku dia adalah kaptennya di sini.

Dia pengatur ritme jalanan. Dia tahu kapan harus ngetem berhenti lama. Kapan harus ngebut berpacu waktu. Saya lihat dia tak bawa jam tangan. Tapi presisi ketepatan waktu dia memiliknya. Sepertinya para akademisi dan politisi yang suka terlambat harus belajar banyak pada dia.

Terbukti, dulu saya akan tertinggal busnya jika terlambat satu menit saja. Kemudian ruang BK dan segala hukumannya sudah menunggu saya.

Puluhan tahun dia di jalanan. Membuat dia betul-betul sebagai seniman. Dia tahu jam-jam kendor dan jam-jam ramai. Ini adalah seni. Senyumnya yang khas. Ramahnya dengan berbagai penumpang. Busnya selalu ramai.

Dia semacam dewa dewi, punya penglihatan irfan ilahi. dia tahu betul-betul mana yang penumpang asli atau penumpang gadungan. Dia memitagasi berbagai kejahatan. Pencopetan yang paling sering katanya. Dia ingin memastikan penumpangnya aman. Ah andai dia ini penyelenggara negara, yang memastikan keamanan warganya.

Gen saya ini dan mungkin gen di bawah saya, jika sebagai pekerja banyak tipikal pekerja jop hopper. Atau kutu loncat. Dia kebalikannya. Dan mungkin banyak orangtua kita dulu, sepantarannya adalah tipikal pekerja stayer. Dia loyal kepada pekerjaan. Dedikasinya patut kita contoh.

Tentu saja dia sudah merasakan berbagai pahit manisnya di jalan. Ramai dan sepinya penumpang adalah hal biasa. Ramai disyukuri. Sepi juga di-alhamdulillahi. Ratusan, mungkin ribuan orang sudah dia antar. Cerita-cerita para pedagang yang menumpang sudah berapa episode yang dia dengar. Kisah klasik para pengamen jalanan. Calo yang dia berdayakan. Preman yang harus dia ajak damai.

Saya tidak tahu sudah berapa generasi anak sekolah yang sudah dia antar. Sekarang sudah menjadi orang besar. Saya masih ingat kebaikannya. Suatu kali. Kakak kelasku kehabisan uang. Dia satu kecamatan dengan saya. Dia meminta uang ku yang seribu untuk memenuhi pembayaran kepada Om Kernet itu. Dia malah mengangguk, ketawa dan meledek kami berdua. Ahhh hutang rasa yang tidak pernah aku bayarkan.

******
Tulisan ini, dibuat 1 Mei. Menuliskan sejarah dedikasinya om kernet pada kehidupan ini.

Jake Sabay Clemente, musisi asal Manila Filipina, beberapa bulan yang lalu, melalui lagunya, FYP di media sosial dengan tokoh fiksinya Ernesto. Ia menyanyikan lagu Still Waiting at The Door. Aku masih setia menunggumu di depan pintu. Secara fisik, Ernesto digambarkan sebagai pria paruh baya yang tampak bersahaja. Wajahnya memiliki garis-garis kelelahan, sering kali mengenakan pakaian pekerja kasar atau tukang kayu mengenakan kaos lusuh. Seorang pria yang telah bekerja keras seumur hidup namun menyimpan luka batin yang besar. Sayangnya, ia hanya karakter AI. Penampilan ini diciptakan menggunakan teknologi untuk memunculkan kesan seperti asli.


Ernesto bukan sekadar karakter, dia adalah representasi dari sisi rapuh seorang pria. Di banyak budaya, pria sering kali dituntut untuk kuat dan tidak menunjukkan kesedihan. Ernesto mendobrak itu. Melalui suaranya yang serak dan penuh beban, dia mewakili setiap pria yang merasa kesepian, gagal move on, atau merasa tertinggal oleh waktu sementara dunia terus berjalan.

Di belantika musik Arab, kita bisa temui, Basrah wa Atooh (2022?). Tersesat di Labirin Kenangan. Lagu Basrah wa Atooh. secara harfiah berarti Aku melamun dan tersesat, adalah salah satu karya paling melankolis Band Cairokee asal Kairo Mesir. Lagu ini menceritakan tentang kondisi psikologis seseorang yang raganya ada di masa kini, namun jiwanya tertinggal jauh di masa lalu. 


Di Indonesia, tentu saja ada The Godfather of Broken Heart. Didi Kempot. Salah satu lagunya adalah Tanjung Emas Ninggal Janji. Sama-sama pria yang menunggu.

Pria yang menunggu ketidakpastian. 


Saya teringat film Interstellar (2014). Seorang pria bagiku yang sangat menyedihkan. Di masa depan yang tidak terlalu jauh, Bumi sedang sekarat. Badai debu raksasa dan wabah penyakit tanaman (hawar) menghancurkan sumber pangan dunia, membuat oksigen semakin menipis. Manusia dipaksa kembali menjadi petani hanya untuk bertahan hidup.

Joseph Cooper, seorang mantan pilot penguji NASA yang kini menjadi petani jagung, secara tidak sengaja menemukan koordinat rahasia melalui fenomena gravitasi yang terjadi di kamar putrinya, Murph. Koordinat tersebut membawanya ke markas rahasia NASA yang dipimpin oleh Profesor Brand.

NASA mengungkapkan bahwa mereka telah menemukan sebuah lubang cacing. Wormhole. Itu di dekat Saturnus yang diduga ditempatkan di sana oleh entitas misterius. Lubang ini adalah pintu menuju galaksi lain. 

Cooper direkrut untuk memimpin kru kapal Endurance guna menyusul misi sebelumnya. Misi Lazarus. Ia harus meninggalkan keluarganya, termasuk Murph yang merasa dikhianati oleh kepergian ayahnya, untuk mengunjungi tiga planet potensial: Miller, Mann, dan Edmunds.

Perjalanan ini penuh resiko, karena adanya dilatasi waktu. Karena lokasi planet-planet tersebut dekat dengan lubang hitam raksasa bernama Gargantua, waktu berjalan jauh lebih lambat bagi para kru dibandingkan dengan orang-orang di Bumi. Satu jam di sana sama dengan 7 tahun di bumi.

Ini bukan metafora. ini fisika Einstein. Semakin kuat gravitasi di sekitar, maka semakin lambat waktu berjalan. Kip Thorne, fisikawan hadiah nobel. Saat Cooper kembali ke kapal ternyata sudah 23 tahun yang lalu, anaknya sudah tumbuh dewasa, menikah, dan punya anak. Cucu-cucunya sudah tumbuh dewasa. Tapi Cooper masih dengan wajah yang sama, masih tubuh yang sama, karena buat dia hanya beberapa jam yang lalu.

Anggapan sebagian orang mungkin ini keren. Bagi saya ini bukan soal hidup abadi. Tapi soal hidup jauh lebih lama dari semua orang yang dicintai. Cooper masih ada, tapi ia kehilangan segalanya yang hidupnya berarti.

Ternyata itu bukan anugrah, tapi hukuman, dia menyaksikan orang yang dia cintai pergi satu persatu. Dan dia masih di sini tapi untuk siapa?

Film interstellar bukan hanya analogi, tapi fisikanya asli. Ernesto juga bukan hanya rekaan AI, namun budayanya ada di banyak belahan bumi. Lagu-lagu Cairokee tidak sekadar melodi, tapi jejak jiwa yang tertinggal dalam di hati. Dan Didi Kempot tidak sedang bernyanyi, ia sedang mewakili mereka yang tak pernah selesai. Ketika saya temui seorang kakek di masjid Agung Pemalang, berjamaah salat Isya. Ia menghabiskan sisa hidupnya menjual ketan bakar di sudut alun-alun Pemalang, sudah tidak ada siapapun yang menunggunya di rumah ketika ia pulang.  Saya dedikasikan tulisan ini untuk Kawan Temanggung dan Jepara saya.


Sebelum media sosial ramai dengan konten² tentang kecengengan dan kengenesan laki-laki. Di masa muda saya, sejujurnya, sudah menulisnya lebih lama di beranda fesbuk. Dulu saya kira itu cuma fase. Ternyata, itu bahasa yang sama, hanya sekarang dibicarakan oleh lebih banyak orang. Sekarang, di lorong-lorong media sosial, kita akan menemukan wajah laki-laki yang hampir serupa.


Tentang pencapaian dunia dan uang. Laki² dan rasa yang tidak bakal cukup karena ekonomi. Insecure terhadap standar peradaban. Membandingkan diri dengan orang lain yang lebih keren. Sampai kegagalan relasi dan penolakan. Dunia yang sungguh kejam. Sastra dan film-film cengeng turut serta membentuk karakter laki-laki miskin dan melankolis. Puncaknya hilangnya ketidakpercayaan diri. Banyak laki² miskin macam ini yang tidak punya ruang untuk bercerita. Apalagi bergembira?


Tadinya, saya kira, dunia laki² yang tidak punya “modal” dan “akses”, semasa muda semuanya sama. Seperti kebanyakan di sosial media. Lelahnya tidak hanya sekedar lelah. Pagi sampai petang fisik capek bekerja. Malamnya, batinnya lesu overthinking.

Tentu saja, semuanya tidak sama. Saya tahu. Betapa Tuhan membuat apa saja di dunia beraneka rupa. Tuhan menguatkan hati pemuda sekuat baja. Yang aksesnya minim, yang modalnya doa.

Syawal sebagai ajang silaturahmi. Mencharger energi. Obrolan di bawah rintik-rintik hujan, dan lampu temaram, dengan kopi pahit. Senja menuju magrib.


Saya tahu dia, dulu bagaimana, seharusnya dia berpandangan hidup penuh pesimistis. Seharusnya dia merasa tidak punya masa depan. Dan semestinya dia lelah dengan tekanan sosial dan  ekonomi. Dia tidak punya akses, tidak punya modal. Selalu diremehkan. Perjalanan asmaranya selalu kandas di jalan.

Di tengah kepulan asap itu, di bawah lampu temaram, seterang senter kandang pitik, tidak ada sedikitpun cerita tentang kerapuhan hidupnya.

Meki tampilannya alakadarnya. Rambut ikal yang dibiarkan. Baju hitam yang seperti dulu. Tapi sekarang dia adalah bos. Saat seorang pemuda lain yang penuh ambisi berjanji akan membuka 19 juta lapangan pekerjaan. Dia tanpa janji kepada siapapun, lebih dulu memberdayakan banyak orang. Dia perancang. Dia bukan follower. Dia lebih dari flower. Usahanya menuju startup yang gegap gempita di bawah naungan Tuhannya. Dia seorang pembelajar yang baik. Pemimpin yang tegas. Memecat tim nya yang terlibat judi online.



“Rumah saya sekarang sudah terbuat dari tembok!.” Katanya datar. Kami melihat lalu lintas yang sibuk gerimis.
Dan banyak kisah yang dia ceritakan padaku, pencapaian-pencapaian yang katanya hanya dikisahkan padaku. Katanya, dia tahu, bahwa aku adalah yang tidak akan memandang pencapaiannya karena kesombongannya. Justru dalam hati, saya bangga dulu pernah membersamainya.


Di malam ini, saat gerimis datang dengan malu-malu, dan petang dingin menusuk tulang. Rasanya, doa yang sedikit aku panjatkan.
“Oh Allah, banyak-banyakan aku bertemu dengan manusia sepositif dia, agar kemungkinan-kemungkinan itu pasti ada.”


FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE