Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

SEKARJALAK. Saya sedang betul-betul menikmati waktu dengan anak lanang saya, Asfar. Kami jalan kaki, main bola. Kejar lari. Masuk dunianya seperti masuk duniaku dulu. Usianya di bulan ini akan menginjak 3 tahun. Insya Allah.

Sore tadi, kami membuat perangkap. Burung Jalak Kebo sukses berhasil masuk perangkap kami. Betapa bahagianya dia. Burung Jalak liar, masuk ke kandang. Nahasnya, si burung stress berat. Dia tidak mau makan. Dia ngamuk di kandang.

Burung jenis ini tentu saja punya banyak kisah dalam hidupku. Burung kesayangan bapakku dulu. Dan beberapa kisah-kisah perjalanan tentang Per-Jalakan. Tentang kisah Sufi Muhamadiyah dari Sekarjalak. Asfar, tentu saja tidak dan belum waktunya untuk saya kisahkan cerita-cerita itu. Malamnya, saya merasa berdosa. Saya tidak bisa tidur.

Subuh tiba. Pagi yang dingin, dia bangun, tiba-tiba dia mengusulkan padaku untuk melepaskan Jalak itu. Alhamdulillah. Mungkin saya tidak bisa menikmati ocehan Jalak bapak lagi, atau saya tidak bisa 'memiliki' sepenuhnya Jalak itu. Tapi siang ini, Jalak mampir di samping rumah. Memakan pisang yang sudah kami siapkan.




Daniel Wallace, novelis Amerika mengisahkan keharuan romantisme anak laki-laki dan bapaknya: The Big Fish 1998. Kemudian difilmkan (tahun 2005?).


Kisahnya. Edward Bloom adalah seorang pria lansia, ia dikenal sebagai pencinta cerita. Sepanjang hidupnya, dia selalu menceritakan kisah-kisah luar biasa, ajaib, dan cenderung tidak masuk akal tentang masa mudanya kepada siapa saja —mulai dari bertemu raksasa baik hati, kota tersembunyi di tengah hutan, hingga bagaimana dia menangkap ikan raksasa yang tak pernah bisa ditangkap siapa pun menggunakan cincin kawinnya.


​Namun, anak laki-lakinya, Will Bloom, bosan dengan semua dongeng itu. Setelah dewasa, Will merasa ayahnya adalah seorang pembual, yang menggunakan cerita fiksi untuk menutupi kenyataan, bahwa dia sering meninggalkan rumah demi pekerjaannya, traveling salesman. Ya, pedagang keliling! Will merasa tidak pernah benar-benar mengenal sosok ayahnya yang asli. Ketegangan ini, membuat hubungan mereka renggang, hingga mereka tidak saling bertegur sapa, selama bertahun-tahun.


​Cerita bergerak, ketika Edward jatuh sakit keras karena kanker dan sisa umurnya tidak lama lagi. Will, yang kini sudah menikah, akan segera menjadi seorang ayah, ia memutuskan, pulang ke rumah masa kecilnya di Alabama, untuk mendampingi ayahnya di saat-saat terakhir.


​Di ranjang kematian ayahnya, Will mencoba menuntut satu hal: kejujuran tanpa bualan. Dia ingin, ayahnya menceritakan fakta yang sebenarnya, sebelum semuanya terlambat. Namun, Edward menolak untuk melepaskan cerita-ceritanya, karena baginya, cerita-cerita itulah identitas dirinya yang sejati.


​Dalam sisa waktu yang krusial itu, Will mulai menelusuri kembali masa lalu ayahnya untuk memisahkan mana fakta dan mana mitos. Namun, menjelang detik-detik terakhir napas sang ayah, Will justru menyadari sebuah hakikat terdalam: bahwa, sebuah dongeng yang indah jauh lebih nyata dan bermakna daripada realitas yang membosankan.


Dan kau tahu, dik. Saat upacara pemakaman Edward, Will terkejut. Orang-orang yang datang ke pemakaman ayahnya ternyata adalah orang-orang yang selama ini ada di dalam dongeng Edward.


​Raksasa itu memang ada. Hanya saja dia pria yang sangat tinggi. Penyihir itu ada. Hanya wanita tua eksentrik. Dan seterusnya. Will akhirnya menyadari dua hal penting:


Pertama, ​cerita ayahnya tidak sepenuhnya bohong. Ayahnya hanya melebih-lebihkannya agar hidup yang sulit dan membosankan terasa lebih indah bagi anaknya.


Kedua. ​Cara ayahnya meninggalkannya dulu lewat dongeng adalah cara sang ayah menunjukkan cinta. Edward ingin dikenang sebagai pahlawan besar di mata anaknya, bukan cuma sebagai penjual keliling yang biasa-biasa saja.


Ketika, di media sosial banyak cerita tentang sosok bapak, banyak komentar, bahwa bapak mereka telah sombong sekian puluh tahun. Sudah tidak mau bicara. Sudah tidak mau menengok anaknya. Karena si bapak. Telah lama meninggal dunia. 


Duhai kalian bertiga, yang selalu kubesarkan dengan cerita, sastra, dan cinta. Terima kasih telah bersedia menjadi pendengar terbaik bagi dongeng-dongeng bapak. Tumbuhlah dengan jiwa yang kaya, meskipun hidup kita seperti ini saja. Selayaknya manusia Indonesia. 




Laki-laki memang tidak menangis, dik. Tapi hatinya berdarah. –Rusdi Mathari 2017.

Sudah hampir sepuluh tahun, petuah Cak Rusdi mengudara, tersebar di rak-rak perpustakaan, digital dan offline. Tentang laki-laki yang terus terngiang terhadap kenangan. Dan doa-doa yang saban hari dirapalkan.

 
Ya Allah, dik. Ini bulan Juni, bulannya bapak Sapardi. Dan kita, sebagaimana manusia kelas menengah Indonesia, ya hanya itu-itu saja. Barangkali bapak Sapardi tidak mengira bahwa puisinya menjadi nyata. Hujan yang tak kenal musim dan angin.
Sementara dik, aku sudah mengatakan sebenernya. Berjuang sebisa-bisanya. Sudah melakukan yang terbaik. Tidak banyak. Dan aku tidak tahu, apa yang aku lakukan akan baik untuk mu. Untuk kita.


Masya Allah, Dik. Seharusnya sore ini saya berada di tepi sungai. Memandangi alang-alang masa lalu, yang pernah tumbuh, dan membuat gatal. Merasakan angin mengusik batang-batang padi. Sebelum matahari meninggalkan senja. Melihat perahu para penggali pasir. Sementara anak-anak gembala bertopi koran. Berangkat pulang ke rumah. Itu kata Franky Sahilatua. Syair yang sering didengarkan bapakku dengan kaset pitanya yang usang.

Nyatanya, sore ini. Kita masih mematut-matutkan diri, di ruangan ini. Kita memang butuh becermin, Dik. Bukan bercermin. Meskipun alang² banyak merecoki dan banyak tumbuh di dada. Tapi hati kita siapa yang punya.

Maka di sinilah kita, terperangkap di antara dinding ruangan yang kaku dan jam dinding yang berdetak serak. Di luar, rintik Juni jatuh satu-satu, persis seperti tebakan Pak Sapardi yang tak pernah meleset tentang ketabahan. Bedanya, ketabahan kita hari ini harus dibagi dua: antara menyembunyikan luka yang berdarah di dalam, atau terus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja di depan cermin yang buram.

​"Sudah," bisikku pelan, entah pada angin yang menyelinap di sela jendela, atau pada bayanganmu yang berdiri di sudut mata. Aku sudah menyerahkan segalanya yang tersisa dari isi dompet dan isi kepala manusia kelas menengah. Berjuang sampai ke batas paling tepi, tempat di mana doa-doa tidak lagi diucapkan dengan suara, dengan denyut nadi yang tanpa jeda

​Kalau nanti perjuangan ini ternyata keliru untukmu, untuk kita, setidaknya catatlah satu hal: aku tidak pernah setengah hati. Hidupku selalu totalitas.

Dan ​sore akan segera melesat menjadi malam, Dik. Anak-anak gembala bertopi koran di lagu Franky Sahilatua mungkin sudah sampai di rumahnya yang hangat, merebahkan kepala di ranjang bambu tanpa perlu memikirkan besok harus mematut diri menjadi siapa lagi. Sementara kita? Kita masih di sini. Menghitung sisa hari di bulan Juni, sambil meraba dada kiri; memastikan bahwa yang berdarah di dalam sana masih sanggap berdetak untuk esok hari.

Tidak ada teori revolusi tanpa praktek revolusi, begitu pula sebaliknya – Vladimir Ilyich Ulyanov, dalam bukunya, What Is To Be Done? 1902.


Vladimir Ilyich Ulyanov, atau masyhur dikenal Lenin, adalah salah satu tokoh idola pendekar kita. Dia terinspirasi banyak hal dari gerakan-gerakan kiri. Termasuk bapak kiri Indonesia, Tan Malaka. Di tulisan Pendekar (1), saya sudah menjelaskan bahwa dia adalah aktivis yang murni aktivis. 


Dia aktivis kiri, ideologinya punk. Kumpul anak vespa. Tapi siapa sangka, di lingkaran itu justru dia adalah jalan dakwahnya. Secara genetik, dia Gus, anak seorang Kiai. Abahnya adalah jalan petunjuk dalam tiap langkahnya menuju salik. Dia akan meminta restu saat melakukan sesuatu. Bahkan di malam itu, 

“Jika kamu mati, Nak. Aku yang akan bertanggungjawab membesarkan anak-anakmu.” Abahnya meneguhkan hatinya. 


Pendekar kita berangkat perang, dan kita tahu dia sekarang tumbang. Berbaring di rumah sakit. Lukanya dijahit. Situasi mencekam. Komunitas vespa berkumpul. LSM Bajingan Preman berhimpun. 2 irisan itu siap perang. Di jalanan kabupaten yang sepi dan panjang sudah disepakati. 


Parang. Samurai. Rantai. Siap diayunkan. Secara kuantitatif tentu saja barisan preman itu kalah jumlah. Komunitas vespa datang dari mana saja. Dari berbagai daerah. Atas nama solidaritas untuk pendekar kita. 


Barisan LSM ciut. Mereka berpikir, orang-orang vespa jika mati tidak mungkin ada yang menangisi. Begitulah vespa. Tapi jika LSM mati, masih ada anak istri yang harus dinafkahi. 


LSM menyerah. 


Paginya, loreng hijau menemui kakak pendekar kita. Saya belum cerita kakak pendekar. Dia adalah lawyer terkenal di daerah. Advokat yang merakyat. Dia yang selama ini mem-backup sepak terjang pendekar kita. Meskipun si kakak tentu saja banyak sambatnya. 


Loreng hijau memberikan 80 juta. Kepada kakak. Si kakak tentu saja harus berhimpun dulu dengan pendekar kita. Pendekar tentu saja menolak. Meja hijau harus diteruskan. Perjuangan hukum harus ditegakkan. Kira-kira begitu kata pendekar. 


Namun nyatanya, sampai kasus berakhir, tidak ada dalang yang betul-betul bertanggungjawab. Hanya sekumpulan 6 preman itu yang dipenjara 4.5 tahun. 


Pendekar kita, tentu saja sudah berjuang. Sekuat-kuatnya iman. Dan toko obat jahanam sampai sekarang masih terus menjual obat terlarang. 


Saat pendekar menolak damai uang 80 juta. Saya sebenernya biasa saja. Itu adalah bentuk penolakan yang memang seharusnya. Tapi ada momen yang dia ceritakan yang membuat saya sesintimentil. Masih tentang uang. 


Dulu, di kalangan kami, sebagai aktivis mahasiswa adalah kebanggaan. Yang tentu saja tidak hanya sekedar dapat pengalaman. Kami terhubung kepada banyak senior yang “sukses”. Itu adalah salah satu akses masa depan. Menjadi dinda yang baik. Siap terjun demo atas arahan senior. Misalnya. 


Di kalangan kami, sebagian memang seperti itu, dan sebagian lagi tentu saja tidak. Saat salah satu kawan angkatan pendekar kita ini mampir ke rumahnya, membawa mobil, baju yang necis. Tampangnya tidak seperti aktivis. Sepatu mahal. Dia menawarkan pendekar kita masuk ke partai. Pendekar menolak. Dia ingin hidup apa adanya. Biasa saja. 


Setelah bincang lama. Bernostalgia. Tibalah momen, ketika kawan pendekar kita pamitan. Kawan pendekar memberikan uang segepok ke anak pendekar. Kira-kira mungkin 3 juta. Si anak menolak dengan halus. 

“Kata abah, Naura tidak boleh menerima uang dari siapapun yang tidak jelas.”

Saya mak deg. Allah. Merinding. 


Betapa pendidikan yang sangat penting ini kadang saya abaikan. Bahkan kepada anak saya sendiri. Kata pendekar, momen di situlah dia menang besar. Meskipun motornya vespa butut. Rumahnya sederhana. Dan kawannya yang kini kaya raya. Rasanya kekayaan itu kalah dengan pendidikan yang ditanamkan pada anak-anaknya. 


Kemenangan-kemenangan pendekar tentu saja tidak hanya itu, di banyak peristiwa, puluhan kali gelut di jalanan, berdebat argumentasi di panggung-panggung akademik, banyak ia menangkan. Tapi ada peristiwa yang tidak mungkin ia menangkan. Dia tidak bisa mengalahkan dirinya sendiri ketika beceng anggota menepikan dia di jalan. Saat dia mempertanyakan legalitas pembangunan PT di daerahnya. 


Peristiwa ini sangat melelahkan jika diingat. Bahkan momen saat Agustus 2025 kemarin. Saat banyak aktivis ditangkap. Tanpa proses hukum yang berarti. Ini akan diceritakan di serial selanjutnya. Insya Allah. 

Cerita ini pernah viral. FYP di Sosmed. "Warung Setan" yang menjual obat-obatan perusak generasi muda digeruduk oleh pemuda seorang diri. Dia pendekar. Kemudian ia limbung ditusuk 5 kali. 3 di punggung. 2 di perut. Dan tangannya sobek menahan pisau. Sabetan samurai oleh 6 preman itu menjadikan dia harus berbaring di rumah sakit. Kejadian ini sudah beberapa tahun yang lalu. 


Saya perkenalkan dulu tokohnya, dia adalah junior saya. Umurnya masih muda. Dulu, di pekerjaan dia sangat tidak profesional. Sangat tidak profesional. Banyak kawan satu divisinya mengeluh punya team seperti dia. Karena menurutku, pekerjaan itu bukan habitatnya. Sebagai pemegang ideologi punk, sekaligus anak vespa, rasanya tidak mungkin akan bertahan lama dalam pekerjaan itu. Tapi dia pembelajar yang baik. Dia seorang aktivis. Murni aktivis.


Jika dulu di sosmed cerita pendekar vs preman berkedok LSM itu sepotong-sepotong, saya ingin coba cerita detailnya. Beberapa hari yang lalu dia mengunjungi tempat saya. Dia berkisah:


Malam saat takbir hari raya idul fitri, dia didatangi oleh seorang muridnya dengan panik tergopoh-gopoh. Bahwa kawannya yang juga muridnya si pendekar kesurupan. Oh iya tokoh kita ini adalah pengelola ketua PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Semacam sekolah alternatif. Dia langsung samperin muridnya itu. Tidak ada yang bisa menolong. Dia analisis. Ini bukan kesurupan. Ini sakaw obat-obatan. Si murid di angkat tubuhnya. Dimiringkan. Tenggorokannya dibuka. Keluarlah muntahan yang disertai beberapa obat yang masih gelondongan. 


Hari raya ketiga. Dia juga menjumpai hal yang sama. Keponakannya sendiri overdosis obat yang luar biasa. Puncaknya adalah itu. Dia tidak sabar lagi. Datangilah warung penjual obat setan itu. Seorang diri. Dia memperingati. Lebih ke minta tolong. 

“Om, tolong jangan jual obat ini lagi.”

“Anda itu siapa? Aparat saja tidak berani memperingati.” sambil tersenyum merendahkan. 


Pendekar itu pulang. Kewajibannya amar ma'ruf nahi mungkar telah ia tunaikan. Hal yang paling dasar melalui lisan. Tetapi ia masih galau. Ia atur strategi lagi. Dia konsolidasi dengan beberapa organisasi kepemudaan. Dan hasilnya, organisasi itu tidak berani. Para organisator itu mengatakan bahwa warung itu dibekingi para perwira tinggi dan p*l*si. 


Di malam berikutnya, setelah dia melakukan meditasi. Dia berangkat lagi. Di warung itu dia ngamuk. Pemilik warung kalang kabut. Mengundang LSM preman, 3 orang yang jaga di warung itu juga kalah ditendang. Pendekar kita menang. Beberapa obat dan uang 25 juta ia diamankan. 


Petaka ini awalnya dari sana. Bos Mafia yang dari Jakarta video call ke pemilik warung saat penggerebekan itu. Pendekar kita memperkenalkan diri. Namanya. Alamat rumahnya. Siap untuk perang. Bos Mafia menawarkan sejumlah uang. 2 juta perbulan. Pendekar kita ini pendekar idealis. Tidak mungkin bisa menerima uang seperti itu. 


Esok malamnya ada pesan masuk. Meminta duel satu lawan satu. Di tempat dan waktu yang sudah ditentukan. Perjanjiannya adalah tanpa senjata tajam. Pendekar kita, belum mengiyakan. Ia meditasi lagi, meminta petunjuk ilahi. Dia juga meminta restu abahnya. Akhirnya ia menerima tantangan itu. 



Di malam yang dingin, di tempat yang sudah ditentukan. Dia hanya bawa seorang kawan. Dia ingin live streaming. Perkelahian ini harus disiarkan. Di luar dugaan, yang datang 6 orang. Semuanya membawa samurai panjang. Matilah. Kawannya pendekar ini langsung mengabarkan di whatsapp group, bahwa ia dan pendekar sedang dalam bahaya. 


Pendekar kita ini memang betul-betul pendekar. Dia jago bela diri. Sudah puluhan kali gelut dan perang di jalanan. Adrenalinnya sudah ia kuasai. Dia bisa mengatur emosi. Kapan ia harus gebug. Kapan ia harus menghindar. Dia tahu waktunya. Dia harus tetap percaya diri. Yang menjadi ia merasa di atas angin adalah, musuh-musuhnya bermata merah. Pertanda doping obat dan minuman keras. Sekali pukul pasti telak batinnya. 


Sebentar. Saya jeda. Menghela nafas nulisnya. Sayangnya saya tidak bisa menulis cerita silat seperti Wong Fei Hung. Tidak bisa mendeskripsikan dan menarasikan secara detail. 


Lanjut. Apa yang pendekar pikirkan ternyata di luar dugaan. 6 mengeroyok kanan kiri depan belakang, pendekar kita tumbang. Dan seandainya tangan dia tidak menahan laju pisau tepat mengenai mukanya, mungkin matanya sudah buta. Tangannya menangkis. Berdarah. Penuh luka. Pendekar kita tentu saja tidak kalah. 6 pengeroyok juga kena gebuk. Bajingan itu kabur. Tapi sayangnya akibat luka itu tidak mungkin bisa mengejar 6 bajingan itu. 


Kawan-kawannya yang dikabari di whatsapp group baru berdatangan. Sangat kesal. Markas para preman itu diporak porandakan. Tempat prostitusinya mowak mawik. Kawan-kawan pendekar balas dendam. 


Lalu bagaimana dengan keadaan pendekar? 

Setelah perang di jalanan, langkah selanjutnya perang di meja hukum. Bersambung dulu, temukan di tulisan selanjutnya. 

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE