Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

#DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar

Mendiang Umbu Landu Paranggi, yang sering disebut tokoh misterius dalam dunia sastra Indonesia pernah berpuisi. Apa ada angin di Jakarta?


Senin, 10 Agustus 2026 saya pergi ke Jakarta, memenuhi undangan LPDP. Selama enam hari itulah saya tak memegang HP. Semua dibatasi. Di tempat Diklat sekolah bahasa Polri. Dan saya akhirnya bisa menjawab pertanyaan Umbu.


Di Jakarta, tidak ada angin. Tidak ada cintamu. Tidak ada rengekanmu. Tak ada candamu. Yang ada hanya doa²mu yang deras memenuhi dadaku yang sesak.

Jika ada guru atau dosen, yang sabdanya bisa memeberkahi perjalanan hidupku, beliau adalah Pak Zaim. Kaprodi PBA Unnes saat saya masih menjadi mahasiswa baru.


Saya ingat-ingat lupa momentumnya. Beliau pernah mengajar mata kuliah semantik Al-quran. Tetapi bukan momen itu sepertinya. Sebagai mahasiswa pendidikan bahasa Arab dari kalangan ndeso, kelak saya tidak tahu akan menjadi apa selain jadi guru. Tentu saja banyak rasa was-was, minder dan segala OVT lainnya terhadap masa depan.


Pak Zaim hadir.


Beliau berkisah: dulu, Jepang menyerah tanpa syarat pada Perang Dunia II tahun 1945, kondisi Jepang hancur lebur secara ekonomi, infrastruktur, dan mental. Kaisar Hirohito mengumpulkan para pejabatnya, pertanyaan pertama yang diajukan memang bukan tentang berapa jumlah tentara atau sisa emas yang dimiliki, hanya: "Berapa jumlah guru yang masih hidup? Kumpulkan!". Maka kita bisa melihat Jepang yang sekarang.


Sepenggal kisah itu, yang diceritakan Pak Zaim, menjadi gacuk (senjata rahasia) saat saya lulus, saat posisi saya terpojok. Di sebuah FGD (Focus Group Discussion), perekrutan tenaga kontrak kementerian — kementerian yang bukan urusannya pendidikan, bukan juga keagamaan, saya lolos meyakinkan para panelis dan peserta lain, bahwa saya sepertinya adalah salah satu guru yang wajib dikumpulkan kaisar Hirohito, untuk 'ndandani' kementerian tersebut.  Alhamdulillah terbukti, tenaga saya mewarnai kementerian tersebut tepat 5 tahun.


Bahkan, saat kemarin, ketika saya terpojokan dalam test susbtansi LPDP. Karena tujuan kampus dan Prodi S3 saya Alquran, sementara, proposal disertasi saya masih rasa berbau keguruan. Reviewer akademik sungguh sangat meremehkan. Di akhir sesi, saat closing statement, gacuk yang diberikan Pak Zaim saya keluarkan, bahwa saya adalah salah satu guru, sebagaimana Kaisar Jepang dulu mengumpulkan para guru waktu itu. saya akan membuat Indonesia yang saya cintai ini lebih maju. Reviewer tadi, yang mengejar dengan segala pertanyaan yang meremehkan hanya berdiri, tepuk tangan dan tersenyum lebar, waktu itu saya tidak tahu apa makna dibalik itu.


Ah ya. Betapa, sepenggal kisah dari Pak Zaim sangat memberkati hidupku.
****
Pak Zaim, bagiku, role model pendewasaan keislaman. Saya yang jebolan santri salaf, NU. Dulu di Unnes agak kaget, saat bertemu dengan kalangan non NU. Pak Zaim adalah tetangga saya. Hidup saya nebeng, di kakak sepupu saya Mas Abdul Azis dosen Psikologi, di Patemon. Saya juga punya kawan kentel, satu kamar, satu Prodi, Fahmi Najib —yang dia juga nebeng kakak sepupunya, Mbak Zulfa Sakhiyya, dosen Pendidikan Bahasa Inggris. Mas Azis dan Mbak Afa suami istri, maka saya dan Fahmi dipertemukan di Patemon ini selayaknya keluarga jauh yang dekat.


Nah, dulu rumah Pak Zaim ada di samping rumah Mas Azis. Sepulang kuliah, saat salat Magrib, Isya dan subuh, saya akan berjama'ah di masjid yang di depan komplek kami bersama Pak Zaim. Madjid desa, yang kebanyakan dari kalangan NU.


Sepenuturan salah satu kawan saya, yang dekat dengan Pak Zaim, beliau pernah NU, kemudian di Muhammadiyah. Namun, di masjid itu, saat pak zaim jadi makmum, saat subuh, beliau tetap mengikuti do'a qunut. Hal yang membuat saya sedikit tidak percaya adalah, di bulan Safar. Orang-orang kampung Patemon mengadakan salat talak balak. Agar terhindar dari macam mara bahaya. Pak Zaim ikut juga sebagai makmum. Shalat yang mungkin sebagian kalangan mengakatan bahwa ini adalah bid'ah.



Di kampus, beliau dipanggil ustadz, sebagaimana tradisi mahasiswa PBA. Sesekali menjadi khatib dan imam masjid besar kampus, seringkali kali juga menjadi da'i narasumber, mengisi ceramah di acara-acara resmi dan non resmi. Gayanya seperti ustad maulana, jama'ah oh jama'ah alhamdulillah. Konten ceramahnya segar segar. Berisi tentang islam yang moderat, tidak dikotak-kotakkan oleh organisasi dalam sekat.

****
Suatu ketika, saya dan Fahmi mengikuti acara kampus sampai senja tiba. Ingin pulang. Tapi sudah terlalu sore dari kampus ke Patemon. Kami tidak membawa motor. Angkutan juga sepertinya sudah tidak ada. Dulu belum ada Ojol. Kami melihat mobil sedan Toyota Corona masih terparkir di depan dekanat. Ini mobil Pak Zaim batin saya. Saya dan Fahmi menunggu Pak Zaim keluar dari kantor jurusan, Pak Zaim tahu maksud kami, kami dipersilahkan masuk. Dan karena canggung dan malu, kami berdua duduk di belakang. Betapa su'ul adabnya saya waktu itu. Menjadikan Pak Zaim selayaknya Saiq biasa.
****
Ah Pak Zaim, jika boleh, saya ingin nebeng terus pada ideologi panjenengan dalam tiap langkah hidupku, Pak Zaim. Ya Allah husnul Khatimah.

SEKARJALAK. Saya sedang betul-betul menikmati waktu dengan anak lanang saya, Asfar. Kami jalan kaki, main bola. Kejar lari. Masuk dunianya seperti masuk duniaku dulu. Usianya di bulan ini akan menginjak 3 tahun. Insya Allah.

Sore tadi, kami membuat perangkap. Burung Jalak Kebo sukses berhasil masuk perangkap kami. Betapa bahagianya dia. Burung Jalak liar, masuk ke kandang. Nahasnya, si burung stress berat. Dia tidak mau makan. Dia ngamuk di kandang.

Burung jenis ini tentu saja punya banyak kisah dalam hidupku. Burung kesayangan bapakku dulu. Dan beberapa kisah-kisah perjalanan tentang Per-Jalakan. Tentang kisah Sufi Muhamadiyah dari Sekarjalak. Asfar, tentu saja tidak dan belum waktunya untuk saya kisahkan cerita-cerita itu. Malamnya, saya merasa berdosa. Saya tidak bisa tidur.

Subuh tiba. Pagi yang dingin, dia bangun, tiba-tiba dia mengusulkan padaku untuk melepaskan Jalak itu. Alhamdulillah. Mungkin saya tidak bisa menikmati ocehan Jalak bapak lagi, atau saya tidak bisa 'memiliki' sepenuhnya Jalak itu. Tapi siang ini, Jalak mampir di samping rumah. Memakan pisang yang sudah kami siapkan.




Daniel Wallace, novelis Amerika mengisahkan keharuan romantisme anak laki-laki dan bapaknya: The Big Fish 1998. Kemudian difilmkan (tahun 2005?).


Kisahnya. Edward Bloom adalah seorang pria lansia, ia dikenal sebagai pencinta cerita. Sepanjang hidupnya, dia selalu menceritakan kisah-kisah luar biasa, ajaib, dan cenderung tidak masuk akal tentang masa mudanya kepada siapa saja —mulai dari bertemu raksasa baik hati, kota tersembunyi di tengah hutan, hingga bagaimana dia menangkap ikan raksasa yang tak pernah bisa ditangkap siapa pun menggunakan cincin kawinnya.


​Namun, anak laki-lakinya, Will Bloom, bosan dengan semua dongeng itu. Setelah dewasa, Will merasa ayahnya adalah seorang pembual, yang menggunakan cerita fiksi untuk menutupi kenyataan, bahwa dia sering meninggalkan rumah demi pekerjaannya, traveling salesman. Ya, pedagang keliling! Will merasa tidak pernah benar-benar mengenal sosok ayahnya yang asli. Ketegangan ini, membuat hubungan mereka renggang, hingga mereka tidak saling bertegur sapa, selama bertahun-tahun.


​Cerita bergerak, ketika Edward jatuh sakit keras karena kanker dan sisa umurnya tidak lama lagi. Will, yang kini sudah menikah, akan segera menjadi seorang ayah, ia memutuskan, pulang ke rumah masa kecilnya di Alabama, untuk mendampingi ayahnya di saat-saat terakhir.


​Di ranjang kematian ayahnya, Will mencoba menuntut satu hal: kejujuran tanpa bualan. Dia ingin, ayahnya menceritakan fakta yang sebenarnya, sebelum semuanya terlambat. Namun, Edward menolak untuk melepaskan cerita-ceritanya, karena baginya, cerita-cerita itulah identitas dirinya yang sejati.


​Dalam sisa waktu yang krusial itu, Will mulai menelusuri kembali masa lalu ayahnya untuk memisahkan mana fakta dan mana mitos. Namun, menjelang detik-detik terakhir napas sang ayah, Will justru menyadari sebuah hakikat terdalam: bahwa, sebuah dongeng yang indah jauh lebih nyata dan bermakna daripada realitas yang membosankan.


Dan kau tahu, dik. Saat upacara pemakaman Edward, Will terkejut. Orang-orang yang datang ke pemakaman ayahnya ternyata adalah orang-orang yang selama ini ada di dalam dongeng Edward.


​Raksasa itu memang ada. Hanya saja dia pria yang sangat tinggi. Penyihir itu ada. Hanya wanita tua eksentrik. Dan seterusnya. Will akhirnya menyadari dua hal penting:


Pertama, ​cerita ayahnya tidak sepenuhnya bohong. Ayahnya hanya melebih-lebihkannya agar hidup yang sulit dan membosankan terasa lebih indah bagi anaknya.


Kedua. ​Cara ayahnya meninggalkannya dulu lewat dongeng adalah cara sang ayah menunjukkan cinta. Edward ingin dikenang sebagai pahlawan besar di mata anaknya, bukan cuma sebagai penjual keliling yang biasa-biasa saja.


Ketika, di media sosial banyak cerita tentang sosok bapak, banyak komentar, bahwa bapak mereka telah sombong sekian puluh tahun. Sudah tidak mau bicara. Sudah tidak mau menengok anaknya. Karena si bapak. Telah lama meninggal dunia. 


Duhai kalian bertiga, yang selalu kubesarkan dengan cerita, sastra, dan cinta. Terima kasih telah bersedia menjadi pendengar terbaik bagi dongeng-dongeng bapak. Tumbuhlah dengan jiwa yang kaya, meskipun hidup kita seperti ini saja. Selayaknya manusia Indonesia. 




Laki-laki memang tidak menangis, dik. Tapi hatinya berdarah. –Rusdi Mathari 2017.

Sudah hampir sepuluh tahun, petuah Cak Rusdi mengudara, tersebar di rak-rak perpustakaan, digital dan offline. Tentang laki-laki yang terus terngiang terhadap kenangan. Dan doa-doa yang saban hari dirapalkan.

 
Ya Allah, dik. Ini bulan Juni, bulannya bapak Sapardi. Dan kita, sebagaimana manusia kelas menengah Indonesia, ya hanya itu-itu saja. Barangkali bapak Sapardi tidak mengira bahwa puisinya menjadi nyata. Hujan yang tak kenal musim dan angin.
Sementara dik, aku sudah mengatakan sebenernya. Berjuang sebisa-bisanya. Sudah melakukan yang terbaik. Tidak banyak. Dan aku tidak tahu, apa yang aku lakukan akan baik untuk mu. Untuk kita.


Masya Allah, Dik. Seharusnya sore ini saya berada di tepi sungai. Memandangi alang-alang masa lalu, yang pernah tumbuh, dan membuat gatal. Merasakan angin mengusik batang-batang padi. Sebelum matahari meninggalkan senja. Melihat perahu para penggali pasir. Sementara anak-anak gembala bertopi koran. Berangkat pulang ke rumah. Itu kata Franky Sahilatua. Syair yang sering didengarkan bapakku dengan kaset pitanya yang usang.

Nyatanya, sore ini. Kita masih mematut-matutkan diri, di ruangan ini. Kita memang butuh becermin, Dik. Bukan bercermin. Meskipun alang² banyak merecoki dan banyak tumbuh di dada. Tapi hati kita siapa yang punya.

Maka di sinilah kita, terperangkap di antara dinding ruangan yang kaku dan jam dinding yang berdetak serak. Di luar, rintik Juni jatuh satu-satu, persis seperti tebakan Pak Sapardi yang tak pernah meleset tentang ketabahan. Bedanya, ketabahan kita hari ini harus dibagi dua: antara menyembunyikan luka yang berdarah di dalam, atau terus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja di depan cermin yang buram.

​"Sudah," bisikku pelan, entah pada angin yang menyelinap di sela jendela, atau pada bayanganmu yang berdiri di sudut mata. Aku sudah menyerahkan segalanya yang tersisa dari isi dompet dan isi kepala manusia kelas menengah. Berjuang sampai ke batas paling tepi, tempat di mana doa-doa tidak lagi diucapkan dengan suara, dengan denyut nadi yang tanpa jeda

​Kalau nanti perjuangan ini ternyata keliru untukmu, untuk kita, setidaknya catatlah satu hal: aku tidak pernah setengah hati. Hidupku selalu totalitas.

Dan ​sore akan segera melesat menjadi malam, Dik. Anak-anak gembala bertopi koran di lagu Franky Sahilatua mungkin sudah sampai di rumahnya yang hangat, merebahkan kepala di ranjang bambu tanpa perlu memikirkan besok harus mematut diri menjadi siapa lagi. Sementara kita? Kita masih di sini. Menghitung sisa hari di bulan Juni, sambil meraba dada kiri; memastikan bahwa yang berdarah di dalam sana masih sanggap berdetak untuk esok hari.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE