Percaya tidak percaya. Sebuah kekuatan itu ada. Nyata. Kekuatan itu tidak bisa ditangkap indra. Tidak bisa dipegang, tak kasat mata. Kekuatan itu yang membentuk karakterku sebagai manusia. Saya diberi rizki oleh Tuhan. Diberikan segalanya. Tidak lain dan tidak bukan karena kekuatan itu. Orang-orang menyebutnya barokah.
Tempat ini banyak yang tidak berubah. Masih seperti dulu. Sepuluh tahun yang lalu. Atmosfir, udara, bau wewangian itu. Masih syahdu. Pohon mangga yang penuh kenangan ketika aku piket jaga malam, juga berdiri tegak. Lapangan bola voli terlihat semakin rapi.
Aku ketok pintu rumah seseorang yang sangat aku takdzimi.
"Assalamualaikum".
Tiada jawaban.
"Assalamualaikum".
Sepi.
"Assalamualaikum".
Masih ingat dalam kepalaku ketika aku duduk lesehan di sini. Termaktub pada kitab "Akhlaq Li Al Banin" Jilid 3. Buku kecil, tipis, yang sangat bermanfaat. Budi pekerti dikerek tinggi: Wahai anak, jika kau bertamu, tiga kali kau uluk salam, tidak ada jawaban. Maka diamlah, atau pergilah.
Saat itu aku bersama dengan seniorku. Kami sepakat pergi. Menunaikan shalat ashar dulu kemudian kembali ke sini lagi.
Kembali ke rumah itu.
"Assalamualaikum", beruntung kami ditemui oleh seorang wanita paruh baya. Sepertinya dia pembantu di sini.
"Ibu nyai wonten?", seniorku bertanya pada wanita itu. Wanita itu bimbang tidak menjawab.
"Waalaikumsalam, monggo rah mas pinarak".
Suara perempuan sepuh dari dalam mempersilahkan kami duduk. Ahh itu suara Bu Nyai.
Bu Nyai. Kami cium tangan. Ah Bu Nyai. Jika mungkin dulu aku tak makan nasi penuh barokah. Berjaga malam di teras ndalem. Aku tidak mungkin menjadi manusia seperti ini.
"Niki sinten njih?", Bu Nyai bertanya.
"Aniq, Bu Nyai".seniorku menjawab.
"Kula Aziz". Saya melengkapi.
"Aniq ponakane ustadz Fatkhur?"
"Injih, Bu nya.
" Lha niki... Aziz sing pundi?"
Bu Nyai sudah sepuh. Aku juga hanya sebentar singgah di sini. Selain itu, aku santri biasa saja. Tidak menonjol dalam segala hal. Tidak terkenal.
"Saya cucunya haji Mas'ud". Jawab saya.
"Oh... Suradadi".
"Injih..."
"Rumah haji Mas'ud saniki sing ngange sinten?"
Aku jelaskan dengan detail. Dan selalu. Percakapan tentang haji Mas'ud kakekku yang selalu mewarnai pembicaraanku ketika sowan ke sini. Seolah ada nostalgia antara Almaghfurlah Pak Kiai Syaban dengan almarhum kakekku.
Bu Nyai meski sepuh. terlihat sangat enerjik. Terlihat sehat. Sisa mudanya terlihat. Wajahnya ayu. Penjaga wudhu. Sebelum pulang. Kami meminta do'a. Bu Nyai sendiri yang memanjatkan do'a. Allahuma Amin.
Sehat dan panjang umur, Bu Nyai. Alfatihah
Tempat ini banyak yang tidak berubah. Masih seperti dulu. Sepuluh tahun yang lalu. Atmosfir, udara, bau wewangian itu. Masih syahdu. Pohon mangga yang penuh kenangan ketika aku piket jaga malam, juga berdiri tegak. Lapangan bola voli terlihat semakin rapi.
Aku ketok pintu rumah seseorang yang sangat aku takdzimi.
"Assalamualaikum".
Tiada jawaban.
"Assalamualaikum".
Sepi.
"Assalamualaikum".
Masih ingat dalam kepalaku ketika aku duduk lesehan di sini. Termaktub pada kitab "Akhlaq Li Al Banin" Jilid 3. Buku kecil, tipis, yang sangat bermanfaat. Budi pekerti dikerek tinggi: Wahai anak, jika kau bertamu, tiga kali kau uluk salam, tidak ada jawaban. Maka diamlah, atau pergilah.
Saat itu aku bersama dengan seniorku. Kami sepakat pergi. Menunaikan shalat ashar dulu kemudian kembali ke sini lagi.
Kembali ke rumah itu.
"Assalamualaikum", beruntung kami ditemui oleh seorang wanita paruh baya. Sepertinya dia pembantu di sini.
"Ibu nyai wonten?", seniorku bertanya pada wanita itu. Wanita itu bimbang tidak menjawab.
"Waalaikumsalam, monggo rah mas pinarak".
Suara perempuan sepuh dari dalam mempersilahkan kami duduk. Ahh itu suara Bu Nyai.
Bu Nyai. Kami cium tangan. Ah Bu Nyai. Jika mungkin dulu aku tak makan nasi penuh barokah. Berjaga malam di teras ndalem. Aku tidak mungkin menjadi manusia seperti ini.
"Niki sinten njih?", Bu Nyai bertanya.
"Aniq, Bu Nyai".seniorku menjawab.
"Kula Aziz". Saya melengkapi.
"Aniq ponakane ustadz Fatkhur?"
"Injih, Bu nya.
" Lha niki... Aziz sing pundi?"
Bu Nyai sudah sepuh. Aku juga hanya sebentar singgah di sini. Selain itu, aku santri biasa saja. Tidak menonjol dalam segala hal. Tidak terkenal.
"Saya cucunya haji Mas'ud". Jawab saya.
"Oh... Suradadi".
"Injih..."
"Rumah haji Mas'ud saniki sing ngange sinten?"
Aku jelaskan dengan detail. Dan selalu. Percakapan tentang haji Mas'ud kakekku yang selalu mewarnai pembicaraanku ketika sowan ke sini. Seolah ada nostalgia antara Almaghfurlah Pak Kiai Syaban dengan almarhum kakekku.
Bu Nyai meski sepuh. terlihat sangat enerjik. Terlihat sehat. Sisa mudanya terlihat. Wajahnya ayu. Penjaga wudhu. Sebelum pulang. Kami meminta do'a. Bu Nyai sendiri yang memanjatkan do'a. Allahuma Amin.
Sehat dan panjang umur, Bu Nyai. Alfatihah