Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

PROF SURYADI. Profesor muda, guru besar ilmu hadits Uin Sunan Kalijaga. Belajar ilmu hadits dalam kelasnya tidak akan pernah bosan. Mahasiswa diajak menelusuri lorong waktu. Semacam piknik ke masa lalu. Seakan berziarah, sowan ke sumber pusatnya hadits: rasul Muhammad. Berkenalan dengan tokoh-tokoh rawi hadits. (Waladzi Nafsi Biyadih, sampai-sampai aku terbawa mimpi). Mahasiswa juga diajak bernalar kritis. Sangat menyenangkan. Sebagai jomblo saat itu, adalah hiburan yang menggembirakan.
.
.
Pertemuan pertama dalam kuliahnya aku dan seorang kawan Jepara terlambat. Beliau memandang tangan kami, memastikan ada jam tangan yang melingkar. Dan beliau menyindir kami. Aku sangat merasa bersalah. Beliau sangat menghargai waktu. Disiplin. Pertemuan-pertemuan berikutnya aku tidak pernah terlambat. Prof Suryadi adalah motivator yang tidak berbusa-busa dengan kata-kata. Tidak pakai quots-quits segala. Tapi memotivasi dengan bekerja dan berkarya. Beliau asli Pantura -- Pati. Konon orang Pati terkenal kejujurannya. Suatu ketika Prof Suryadi tanpa tedeng aling-aling menjelentarkan total honor perbulan sebagai profesor yang didapatkannya. Sebuah angka yang luar biasa.
.
.
Prof Suryadi, beliau seorang kiai. Pengasuh pesantren di Yogya. Saat mengawali kelas, beliau bermuqadimah khas pesantren NU. Membuat hatiku merasa ngilu, teriris, teringat masa lalu. Aku dapati diriku sebagai santri yang malas yang tidak bisa memaksimalkan waktu.
.
.
Dari beliau aku belajar tentang takhrij al hadits. Analisis hadits. Termasuk Rijal al hadits. Tahu pohon sanad? Ada penggalan cerita yang akan membuat pemikiranku berubah. Suatu ketika saat mendapat tugas menganalisis hadits. Diantara prosedurnya adalah membuat pohon sanad (sanad atau rawi adalah orang yang meriwayatkan hadits). Nama rawi-rawi tersebut diurutkan berantai terus menerus sampai ke nabi. Ada perbedaan yang mendasar dalam penggambaran pohon rawi, antara sarjana muslim dengan pemikir orientalis. Sarjana muslim akan menempatkan posisi kanjeng nabi Muhammad di pucuk pohon. Sebaliknya, posisi yang di pucuk pohon bagi orientalis adalah perawi akhir dan nabi terletak di akar pohon. Saat itu aku dalam keadaan "embuh", aku dan seorang teman Lampung menggambar apa yang digambar oleh pemikir orientalis. Apa yang terjadi? Prof Suryadi tidak marah, beliau dengan kata-kata yang menyejukan, membasahi hatiku, "Jangan begitu, kita kan ummatnya kanjeng nabi, tidak baik memperlakukan nabi seperti itu. Kita harus menjunjung tinggi akhlak". Ahhh pak Sur...
.
.
Pak Sur bagiku bukan hanya urusan kuliah dan nilai belaka. lebih dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku teman-teman sekelas waktu itu. Wajahnya yang teduh, kata-katanya yang sejuk, memantik kami untuk selalu berdiskusi, bermujadalah dengan argumentasi ilmiah. Saat pertemuan pertama kali, Pak Sur, beliau berkata, beliau melarang ada kamera untuk merekam aktifitas beliau mengajar. Tapi otak dan hatiku merekam. Meski tidak tajam. Percayalah, kau tidak boleh tahu konten-konten diskusi kami waktu itu. Karena kau akan menuduh kami sebagai kafir, liberal, syiah, komunis, yahudi.
.
.
Suatu ketika, saat beliau tahu bahwa aku asal Tegal, beliau sekonyong-konyong mendoakan aku: kelak aku menjadi kiai sekaligus pengusaha Warteg (warung Tegal). Aku aminkan. Meski tabiat, akhlaq, dan keilmuan ku jauh dari sosok kiai. Istilah kiai kan bukan hanya melekat pada sosok tokoh agama. Kerbau dan keris juga ada yang bergelar kiai, bukan begitu, pak Sur?
.
.
Tapi pertanyaan tadi tidak akan pernah beliau jawab, seperti dulu beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan di dalam kelas dengan lugas. Beliau sudah berpulang. Menyatu dalam keabadian. Beliau sang guru besar hadits, bertemu langsung dan mendapat syafaat dari sumbernya hadits, rosul Muhammad. Banyak saksi dari santri, murid, mahasiswanya beliau, beliau adalah orang baik. Orang yang sangat baik. Insya Allah khusnul khotimah. Alfatihah....
SHELDON J. PLANKTON masih menyimpan mimpinya mendapatkan resep bumbu rahasia krabby patty dari Crabs. Hari itu Bikini Bottom terasa panas. Impian Plankton, lebih tepatnya ambisinya, mengantarkannya untuk menghalalkan segala cara.


Siang terik, Plankton sibuk masak di dapur. Mencampur berbagai bahan makanan. Karen, si "WIFE" akronim dari Wired Integrated Female Electroencephalograph, mendekat.
"Apa yang sedang engkau lakukan, suamiku?"
"Aku sedang memasak untuk ku hidangankan pada Crabs. Aku campurkan DNA Patrick. Agar dia konyol dan bodoh, lalu dia akan dengan senang hati memberikan resep rahasia krabby patty padaku". Plankton terus mengaduk-aduk masakan itu. Mulutnya tertawa.
"Kali ini kau pasti gagal lagi!". Tukas Karen.


Benar apa kata Karen. Saat mengaduk, Plankton yang tubuhnya mungil terkena cipratan olahan makanan yang sudah  tercampur DNA Patrick. Dia memakannya! Seketika dia menjadi bodoh. Sialnya lagi olahan makanan itu meletup, meletus. Tersebar ke seluruh penjuru mata angin Bikini Bottom.


Yang diinginkan Plankton tercapai. Tuan Crabs menjadi bodoh. Tidak hanya tuan Crabs, SpongeBob, Squidward, juga Nyonya Pap–ibu guru kursus mengemudi–. Juga seluruh penduduk Bikini Bottom. Semua menjadi bodoh dan konyol. Bikini Bottom menjadi keos. Orang-orang mirip seperti Patrick. Memperagakan segala hal yang lucu, konyol dan tentu saja tidak penting. Di atas kepala setiap orang terdapat benjolan besar. Seperti tonjolan pada kepalanya Patrick.


Kecuali dua penduduk yang tidak akan menjadi bodoh: Karen Plankton, dia komputer. Dan Sandy, dia seekor tupai dari Texas yang sekarang hijrah ke Bikini Bottom. Dia tidak terkena virus karena rumah dan helmnya kedap air.


Melihat situasi Bikini Bottom yang keos. Mereka berdua berpikir keras. Mereka tidak mungkin menemukan 'formula' untuk mengembalikan kondisi normal. Kesepakatan itu terjadi antara Sandy dan Karen: Membuat sekolah!


Setiap pagi, setiap hari. Penduduk berangkat sekolah. Gurunya tentu saja dua penduduk normal di Bikini Bottom. Peserta didik rata-rata pembelajar yang baik. Setiapkali Ibu guru Sandy atau Ibu guru Karen melakukan evaluasi, peserta didik menjawab dengan benar. Setiapkali menjawab pertanyaan dengan benar itulah, tanda benjolan sebagai tanda kebodohan di kepala mereka berangsur mengecil. Kecuali si Plankton pemalas itu.


Tibalah hari kelulusan. Seluruh peserta didik bergembira. Mereka akan mengikuti rangkaian acara wisuda. Namun, ada adegan yang menegangkan. Di sebuah koridor kelas sekolah yang gelap. Plankton si preman sekolah itu sedang membegal resep rahasia krabby patty dari Crabs. Tuan Crabs dengan mimik ketakutan, wajahnya yang bodoh, hampir saja memberikan resep itu. Namun, lampu dinyalakan. Sandy keluar dari ruangan dan memberi tepuk tangan. Ternyata tuan Crabs sedang mendalami pelajaran peran akting saja. Dia berhasil meraih nilai A dari ibu guru Sandy.


Tuan Crabs siswa cerdas. Karakternya sebagai pengusaha tidak mau rugi satu sen pun. Dia akan mengeksplor apa saja yang bisa menjadi tambang dolar. Dia lambang kapitalis.


****
Nah, meski agak kesiangan. Aku ucapkan selamat untuk adik-adikku yang hari ini mulai sekolah. Jadilah manusia cerdas. Jangan menjadi konyol. Jangan mau dibodohi. Kelak, saat sudah lulus sekolah. Kau tumbuh dewasa. Eksplorasi semua hal yang berbau uang. Tidak usah pedulikan alam yang rusak. Semua akan baik-baik saja. Asal anak-anak dan istrimu bisa berbahagia. Jadilah manusia terpelajar yang kapitalis.

Kenapa yang harus dihormati hanya orang yang berhaji? Kenapa orang yang salat tidak dipanggil Pak Salat? Orang yang puasa tidak dipanggil Pak Puasa? Orang yang berzakat, Pak Zakat? - Cak Dlahom [Rusdi Mathari].


Disadari atau tidak, Kisah-kisah sufi yang sering didengarkan di pesantren-pesantren adalah kisah untuk mengasah kepedulian sosial seorang santri.  Aku ingin berkisah padamu dik, kisah tentang Abdullah bin Mubarak. Seorang ulama besar pada masanya. Seorang tabi'ut tabi'in.


Hari itu, kesekian kalinya Abdullah bin Mubarak menunaikan ibadah haji. Setelah thawaf mengelilingi ka'bah. Beliau tertidur. Dalam tidurnya antara mimpi dan sadar, Abdullah bin Mubarak mendengar percakapan antara dua malaikat:
"Berapa jumlah umat Islam yang menunaikan haji pada tahun ini?” tanya salah seorang malaikat.
“600.000 jama’ah haji,” jawab malaikat yang lain.
“Sayangnya tidak ada satupun dari mereka yang diterima hajinya”.
Dalam mimpi itu, Abdullah bin Mubarak terperangah. Ibnu Mubarak menangis.
“Namun…” lanjut malaikat, “Ada satu orang yang hajinya diterima. Namanya Ali bin Muwaffaq, berasal dari Damaskus. Seorang tukang sol sepatu".
"Sebenarnya ia tidak jadi berangkat haji, tetapi Allah menerima hajinya dan mengampuni dosanya. Bahkan berkat dia, seluruh jama’ah haji yang sekarang ada di tanah suci ini diterima hajinya oleh Allah". Seru malaikat.


Abdullah bin Mubarak sangat bahagia. Ia bersyukur, hajinya dan haji seluruh jama’ah diterima. Sayangnya, Abdullah bin Mubarak terbangun sebelum mendengarkan dialog malaikat berikutnya. Sehingga ia pun tidak mengetahui lebih lanjut siapa orang mulia yang karenanya haji ratusan ribu orang ini diterima.


Musim haji telah usai, rasa penasaran Abdullah bin Mubarak semakin menjadi. Siapa sebenarnya Ali bin Muwaffaq. Maka ia pun memutuskan untuk pergi ke Damaskus.


Damaskus tentu saja bukan kota kecil. Mencari seseorang yang hanya diketahui nama dan profesinya, tanpa diketahui alamatnya seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Namun, dengan izin Allah, setelah berusaha dan bertanya ke sana kemari, akhirnya Abdullah bin Mubarak dapat menemukan rumah orang yang bernama Ali bin Muwaffaq.
“Assalamu’alaikum,” kata Abdullah bin Mubarak di depan rumah sederhana itu.
“Wa’alaikum salam”
“Benarkah ini rumah Ali bin Muwaffaq, tukang sepatu?”
“Ya, benar. Ada yang bisa saya bantu?”.


Singkat cerita. Abdullah bin Mubarak menceritakan kisahnya tentang percakapan dua malaikat di tanah suci kepada Ali bin Muwaffaq. Lalu Abdullah bin Mubarak bertanya, "apa sesungguhnya rahasia amalan-amalanmu, wahai Ali bin Muwaffaq?"

****

Ali bin Muwaffaq berkisah. Dia memang tidak jadi berangkat haji. Sesungguhnya dia telah menabung sejak lama. Menumpuk pundi-pundi uang. Hingga terkumpullah biaya haji. Namun suatu siang yang panas. Sebelum dia berangkat ke tanah suci, dia dan istrinya mencium masakan yang sangat sedap.


Istrinya saat itu sedang hamil. Sang istri nyidam menginkan masakan itu. Lalu Ali bin Muwaffaq mencari sumbernya, ternyata dari rumah tetangga. Sang tetangga adalah seorang janda. Anaknya banyak.


Demi sang istri dan calon buah hati, Ali bin Muwaffaq memberanikan diri mengetuk pintu rumah tetangga. Tanpa banyak basa-basi, dia mengutarakan maksud dan tujuan.


Sang tetangga berkata, "Wahai Ali bin Muwaffaq, maafkan aku, makanan ini halal untukku dan anak-anakku. Tetapi haram untuk mu dan istrimu".
"Lho kenapa?", Tanya Ali.
"Sudah beberapa hari anakku tidak makan. Hari ini aku menemukan keledai mati, tergeletak di pinggir kali. Aku potong dan sayati. Aku memasakknya menjadi masakan ini".


Mendengar itu, Ali bin Muwaffaq si tukang sol sepatu merasa tertampar sekaligus sangat sedih. "Bagaimana mungkin aku akan berangkat haji sedangkan tetanggaku tidak bisa makan", dalam hati Ali.


Maka dia ambil seluruh uangnya dan diserahkan pada tetangga yang janda itu untuk memberikan makan anak-anaknya. Karena itu, dia tidak jadi berangkat haji.


Abdullah bin Mubarak terharu. Bulir-bulir air mata membasahi pipi ulama itu. “Sungguh pantas engkau menjadi mabrur sebelum haji. Sungguh pantas hajimu diterima sebelum engkau pergi ke tanah suci,” kata Abdullah bin Mubarak kepada Ali bin Muwaffaq.

Jika Anda berada di taman yang terdapat bunga yang warna warni. Cantik. Tentu Anda akan memetik bunga yang tercantik. Untuk dihirup baunya. Atau sekedar dibawa pulang untuk menemani hari Anda. Itu sebagai tamsil, bahwa Tuhan akan 'mengambil' orang-orang baik. Orang istimewa. Orang yang dikasihi-Nya.


Gus Dur (Allahu Yarhamhu). Mantan presiden Indonesia. Ketika ditanya seseorang. "Kenapa penjenengan suka ziarah kubur, Gus?". Gus Dur jawab sekenanya, "Karena orang mati tidak punya kepentingan". Secara tidak langsung jawaban Gus Dur menohok relung hati saya. Gus Dur itu Kiai. Tentu ilmu agamanya tinggi. Tapi Gus Dur tidak menjawab hukum dan berbagai macam dalil tentang ziarah kubur. Terlepas 'asbabun nuzul' Gus Dur saat menjawab pertanyaan itu menjadi tokoh nasional. Yang tentu saja banyak di sekitarnya pasti punya kepentingan. Dari jawaban Gus Dur itulah saya harus belajar. Belajar pada orang mati tentu saja. Belajar tentang apa? Belajar apa saja. Tokoh pertama adalah Gus Dur. Allah menyayangi beliau. Gus Dur dengan berbagai sepak terjang kontroversial dalam hidupnya. Saya merindunya.

Tokoh kedua adalah mbah Surip. Sang maestro reggae meninggal sekitar sepuluh tahun lalu. 04 Agustus 2009. Mbah Surip bagi saya saat itu adalah segalanya. Istimewa. Meski orangnya sudah meninggal, dendangan musik dan suaranya selalu mewarnai hari-hari saya yang kelabu. Siang dan malam. Mbah Surip itu bukan perihal lagu 'Tak Gendong'-nya saja. Ada banyak deretan judul lagu yang kebanyakan orang tidak tahu. Lagu religi pun ada, meski lirik dan suaranya tetap kental dengan jenaka.


Konon sebelum meninggal, mbah Surip belum sempat untuk menyelesaikan album religi. Mbah Surip seperti halnya Gito Rollies. Seorang Rocker, yang sebelum meninggal, dalam konsernya menangis saat menyanyikan lagu Rock berjudul 'Cinta yang Tulus'. Lagu yang sangat kentara akan cinta sejati. Lagu yang dipersembahkan oleh hamba untuk kekasihnya: Allah. Mbah Surippun sama.


Mbah Surip adalah kegetiran. Kegetiran manusia Indonesia. Tertawanya adalah kesedihannya. Orang Indonesia meskipun banyak masalah, ditolak perempuan pujaannya. Atau gaji pas-pasan, tarif dasar listrik naik, BBM naik, hutang semakin melangit. Tapi mereka tetap masih bisa ngopi dan merokok, serta tertawa dan tentu saja insya Allah bahagia. Itulah mbah Surip, representasi manusia Indonesia. Kepadanya saya belajar tertawa, meski sedang lara. Qonaah bahasa agamanya. I love you full, Mbah.


Tokoh berikutnya adalah Zainul Arifin, Allahu Yarhamhu. Mas Zainul dalam perjalanan terakhir hidupnya adalah vokalis Kiai Kanjeng. Suaranya bening. Menggetarkan 'sesuatu' yang di dalam. Di kota asalnya, Mojokerto, mas Zainul dikenal sebagai qori. Seorang pentilawah atau pembaca ayat-ayat suci. dengan teknik, gaya dan cengkok lisanul arabi. Ada 7 (tujuh) tradisi maqam tilawah, yang masing-masing berbeda genre-nya. Ketujuh maqam tilawah: bayati, shoba, nahawand, hijaz, rost, sika dan jiharka. Dan mas Zainul menguasai keseluruh maqam tilawah tersebut.


Saat tur-tur Emha dan Kiai Kanjeng ke seluruh penjuru tanah air dan beberapa kali ke luar negeri; Mesir, Abu Dhabi, Inggris, Vatikan, Belanda, Finlandia, dan lain sebagainya; mas Zainul salah salah satu vokalis andalan Kiai Kanjeng. Di negara-negara Timur Tengah, sebagai pusat kebudayaan Arab — mas Zainul yang kemampuan komunikasi bahasa Arabnya minim — justru sangat dielu-elukan karena kemampuan mengolah suara yang 'sangat Arab'. Langgam Arabic. Di Maroko misalnya, mas Zainul membawakan lagu yang sangat familiar bagi masyarakat setempat: Allah Ya Maulana, mendapat aplus meriah. Driss Ouaouicha, Rektor Universitas Al Akhawayn, Maroko saat itu, meminta untuk bertemu dengan mas Zainul. Rektor bersama ketua lembaga bahasa universitas tersebut terkagum-kagum terhadap suaranya dalam membawakan suluk-suluk atau lagu-lagu berbahasa Arab. Lagu yang sering saya putar ketika sendiri di malam yang sunyi, adalah 'Kuncine Lawang Suwarga, Laa Ila ha Illa Allah'. 13 Juni 2015, mas Zainul lebih dirindui oleh Tuhan-nya. Allah bersegera ingin bertemu seorang makhluk-Nya yang sangat indah ketika melantunkan firman-firman-Nya.


Dari mas Zainul, tentu saja suaraku yang cempreng tidak akan belajar meniru suaranya. Tapi suaranya yang lembut, menginspirasi hidup kita seharusnya terus berfikir positif, jernih dan bening. Mas Zainul adalah keindahan. Dan kita suatu saat nanti akan bermuara ke yang Maha Indah.


Rusdi Amrullah bin Mathari adalah tokoh berikutnya. Allah menyayanginya. Semasa hidupnya beliau adalah seorang jurnalis. Dalam lingkungan pergaulannya dia orang yang baik. Sangat baik. Dia punya semboyan "Karena Jurnalistik Bukan Monopoli Wartawan". Dia seorang idealis. Cak Rusdi, panggilan akrabnya seorang penulis. Menulis apa saja.


Yang paling saya suka adalah petuah-petuahnya tentang agama. "Kenapa yang harus dihormati hanya orang yang berhaji? Kenapa orang yang salat tidak dipanggil Pak Salat? Orang yang puasa tidak dipanggil Pak Puasa? Orang yang berzakat, Pak Zakat?"


Dulu, setiap pagi di beranda Facebook adalah keriaan yang disajikan oleh Rusdi Mathari. Hingga akhir hayatnya Cak Rusdi terus menulis. Belajar integritas itu bukan kepada penyelenggara negara. Cukup kepada Cak Rusdi saja.


Kepada beliau-beliau alfatihah....
Tuhanku...
Cintai anakku,
Dengan cinta yang tidak buta
Jangan manjakan ia oleh suka
Paksa ia mencicipi luka
Taburkan duri dikakinya
Cambuklah punggungnya
Agar mengerti dia
Hidup tak seindah khayalan tentang sorga


Tuhanku,
Jangan izinkan ia berdoa
Jika masih mengartikannya meminta
Kedatangannya di kaki-Mu, Paduka
Hanya karena rindu dan nyatakan cinta


Bungkam mulutnya jika ia memohon menang
Karena itu mengharapkan kekalahan orang
Hidup tak boleh ia artikan sebagai perlombaan
Cukuplah merupakan peristiwa agung Kau ciptakan

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE