PROF SURYADI. Profesor muda, guru besar ilmu hadits Uin Sunan Kalijaga. Belajar ilmu hadits dalam kelasnya tidak akan pernah bosan. Mahasiswa diajak menelusuri lorong waktu. Semacam piknik ke masa lalu. Seakan berziarah, sowan ke sumber pusatnya hadits: rasul Muhammad. Berkenalan dengan tokoh-tokoh rawi hadits. (Waladzi Nafsi Biyadih, sampai-sampai aku terbawa mimpi). Mahasiswa juga diajak bernalar kritis. Sangat menyenangkan. Sebagai jomblo saat itu, adalah hiburan yang menggembirakan.
.
.
Pertemuan pertama dalam kuliahnya aku dan seorang kawan Jepara terlambat. Beliau memandang tangan kami, memastikan ada jam tangan yang melingkar. Dan beliau menyindir kami. Aku sangat merasa bersalah. Beliau sangat menghargai waktu. Disiplin. Pertemuan-pertemuan berikutnya aku tidak pernah terlambat. Prof Suryadi adalah motivator yang tidak berbusa-busa dengan kata-kata. Tidak pakai quots-quits segala. Tapi memotivasi dengan bekerja dan berkarya. Beliau asli Pantura -- Pati. Konon orang Pati terkenal kejujurannya. Suatu ketika Prof Suryadi tanpa tedeng aling-aling menjelentarkan total honor perbulan sebagai profesor yang didapatkannya. Sebuah angka yang luar biasa.
.
.
Prof Suryadi, beliau seorang kiai. Pengasuh pesantren di Yogya. Saat mengawali kelas, beliau bermuqadimah khas pesantren NU. Membuat hatiku merasa ngilu, teriris, teringat masa lalu. Aku dapati diriku sebagai santri yang malas yang tidak bisa memaksimalkan waktu.
.
.
Dari beliau aku belajar tentang takhrij al hadits. Analisis hadits. Termasuk Rijal al hadits. Tahu pohon sanad? Ada penggalan cerita yang akan membuat pemikiranku berubah. Suatu ketika saat mendapat tugas menganalisis hadits. Diantara prosedurnya adalah membuat pohon sanad (sanad atau rawi adalah orang yang meriwayatkan hadits). Nama rawi-rawi tersebut diurutkan berantai terus menerus sampai ke nabi. Ada perbedaan yang mendasar dalam penggambaran pohon rawi, antara sarjana muslim dengan pemikir orientalis. Sarjana muslim akan menempatkan posisi kanjeng nabi Muhammad di pucuk pohon. Sebaliknya, posisi yang di pucuk pohon bagi orientalis adalah perawi akhir dan nabi terletak di akar pohon. Saat itu aku dalam keadaan "embuh", aku dan seorang teman Lampung menggambar apa yang digambar oleh pemikir orientalis. Apa yang terjadi? Prof Suryadi tidak marah, beliau dengan kata-kata yang menyejukan, membasahi hatiku, "Jangan begitu, kita kan ummatnya kanjeng nabi, tidak baik memperlakukan nabi seperti itu. Kita harus menjunjung tinggi akhlak". Ahhh pak Sur...
.
.
Pak Sur bagiku bukan hanya urusan kuliah dan nilai belaka. lebih dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku teman-teman sekelas waktu itu. Wajahnya yang teduh, kata-katanya yang sejuk, memantik kami untuk selalu berdiskusi, bermujadalah dengan argumentasi ilmiah. Saat pertemuan pertama kali, Pak Sur, beliau berkata, beliau melarang ada kamera untuk merekam aktifitas beliau mengajar. Tapi otak dan hatiku merekam. Meski tidak tajam. Percayalah, kau tidak boleh tahu konten-konten diskusi kami waktu itu. Karena kau akan menuduh kami sebagai kafir, liberal, syiah, komunis, yahudi.
.
.
Suatu ketika, saat beliau tahu bahwa aku asal Tegal, beliau sekonyong-konyong mendoakan aku: kelak aku menjadi kiai sekaligus pengusaha Warteg (warung Tegal). Aku aminkan. Meski tabiat, akhlaq, dan keilmuan ku jauh dari sosok kiai. Istilah kiai kan bukan hanya melekat pada sosok tokoh agama. Kerbau dan keris juga ada yang bergelar kiai, bukan begitu, pak Sur?
.
.
Tapi pertanyaan tadi tidak akan pernah beliau jawab, seperti dulu beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan di dalam kelas dengan lugas. Beliau sudah berpulang. Menyatu dalam keabadian. Beliau sang guru besar hadits, bertemu langsung dan mendapat syafaat dari sumbernya hadits, rosul Muhammad. Banyak saksi dari santri, murid, mahasiswanya beliau, beliau adalah orang baik. Orang yang sangat baik. Insya Allah khusnul khotimah. Alfatihah....
.
.
Pertemuan pertama dalam kuliahnya aku dan seorang kawan Jepara terlambat. Beliau memandang tangan kami, memastikan ada jam tangan yang melingkar. Dan beliau menyindir kami. Aku sangat merasa bersalah. Beliau sangat menghargai waktu. Disiplin. Pertemuan-pertemuan berikutnya aku tidak pernah terlambat. Prof Suryadi adalah motivator yang tidak berbusa-busa dengan kata-kata. Tidak pakai quots-quits segala. Tapi memotivasi dengan bekerja dan berkarya. Beliau asli Pantura -- Pati. Konon orang Pati terkenal kejujurannya. Suatu ketika Prof Suryadi tanpa tedeng aling-aling menjelentarkan total honor perbulan sebagai profesor yang didapatkannya. Sebuah angka yang luar biasa.
.
.
Prof Suryadi, beliau seorang kiai. Pengasuh pesantren di Yogya. Saat mengawali kelas, beliau bermuqadimah khas pesantren NU. Membuat hatiku merasa ngilu, teriris, teringat masa lalu. Aku dapati diriku sebagai santri yang malas yang tidak bisa memaksimalkan waktu.
.
.
Dari beliau aku belajar tentang takhrij al hadits. Analisis hadits. Termasuk Rijal al hadits. Tahu pohon sanad? Ada penggalan cerita yang akan membuat pemikiranku berubah. Suatu ketika saat mendapat tugas menganalisis hadits. Diantara prosedurnya adalah membuat pohon sanad (sanad atau rawi adalah orang yang meriwayatkan hadits). Nama rawi-rawi tersebut diurutkan berantai terus menerus sampai ke nabi. Ada perbedaan yang mendasar dalam penggambaran pohon rawi, antara sarjana muslim dengan pemikir orientalis. Sarjana muslim akan menempatkan posisi kanjeng nabi Muhammad di pucuk pohon. Sebaliknya, posisi yang di pucuk pohon bagi orientalis adalah perawi akhir dan nabi terletak di akar pohon. Saat itu aku dalam keadaan "embuh", aku dan seorang teman Lampung menggambar apa yang digambar oleh pemikir orientalis. Apa yang terjadi? Prof Suryadi tidak marah, beliau dengan kata-kata yang menyejukan, membasahi hatiku, "Jangan begitu, kita kan ummatnya kanjeng nabi, tidak baik memperlakukan nabi seperti itu. Kita harus menjunjung tinggi akhlak". Ahhh pak Sur...
.
.
Pak Sur bagiku bukan hanya urusan kuliah dan nilai belaka. lebih dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku teman-teman sekelas waktu itu. Wajahnya yang teduh, kata-katanya yang sejuk, memantik kami untuk selalu berdiskusi, bermujadalah dengan argumentasi ilmiah. Saat pertemuan pertama kali, Pak Sur, beliau berkata, beliau melarang ada kamera untuk merekam aktifitas beliau mengajar. Tapi otak dan hatiku merekam. Meski tidak tajam. Percayalah, kau tidak boleh tahu konten-konten diskusi kami waktu itu. Karena kau akan menuduh kami sebagai kafir, liberal, syiah, komunis, yahudi.
.
.
Suatu ketika, saat beliau tahu bahwa aku asal Tegal, beliau sekonyong-konyong mendoakan aku: kelak aku menjadi kiai sekaligus pengusaha Warteg (warung Tegal). Aku aminkan. Meski tabiat, akhlaq, dan keilmuan ku jauh dari sosok kiai. Istilah kiai kan bukan hanya melekat pada sosok tokoh agama. Kerbau dan keris juga ada yang bergelar kiai, bukan begitu, pak Sur?
.
.
Tapi pertanyaan tadi tidak akan pernah beliau jawab, seperti dulu beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan di dalam kelas dengan lugas. Beliau sudah berpulang. Menyatu dalam keabadian. Beliau sang guru besar hadits, bertemu langsung dan mendapat syafaat dari sumbernya hadits, rosul Muhammad. Banyak saksi dari santri, murid, mahasiswanya beliau, beliau adalah orang baik. Orang yang sangat baik. Insya Allah khusnul khotimah. Alfatihah....