Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

#DearDifa

Konon kemapanan mematikan kreatifitas dan produktifitas dalam berkarya [Dalam menulis misalnya]. Tentu saja itu tidak bisa digeneralisasikan. Saya menulis ini saat saya di Surabaya. Ingat Surabaya ingat Dahllan Iskan. Dahlan Iskan itu tokoh Indonesia. Pernah menjadi menteri BUMN pada era presiden SBY. Juga pernah menjabat Dirut PLN. Bos Jawa Pos itu sekarang menjadi pengusaha dan keliling dunia. Dalam kemapanan dan kenyamanan kekayaan itu, dia setiap hari menulis. Setiap hari! Kadang saya mengikuti tulisannya di fanspage fesbuknya. DI'S Way.
.
.
Selain itu Emha Ainun Nadjib. Dia itu Kiai, seniman, budayawan, dan berbagai gelar yang disematkan oleh masyarakat kepadanya. Dia itu kolumnis produktif se-Indonesia! Tentu saja beliau orang kaya. Kaya akan batinnya. Kekayaan itu beliau bagi untuk para mustadhafiin dengan membesarkan hatinya rakyat miskin.
.
.
Maafkan saya, yang target awal tahun menulis satu minggu saja untukmu tidak bisa saya tunaikan. Kenyamanan semu yang fatamorgana ini kadang menggangu saya. Semoga saya baik-baik saja. Dan Tuhan tetap mengkasihani kita.
.
.
Di Surabaya ini, ada daerah yang bernama Kremil. Kita punya novel berjudul Kremil. Novel itu saya wariskan kepadamu juga adikmu, semoga saat kau dewasa akan membacanya. Novel karya Suprapto yang berlatar waktu tahun 1950an mengkisahkan tentang cinta, kehidupan, dan sebuah perjuangan. Kremil itu daerah prostitusi. Tentu saja tokoh-tokohnya diantaranya pelacur, germo, dlsbnya. Bukan itu poinnya. Kremil bagi saya adalah karya sastra yang luar biasa. Alur dan ceritanya sangat epik. Sejak walikotanya Risma, Kremil sudah tidak ada lagi.
.
.
Kremil itu mengkisahkan tentang kisah cinta di awal tahun-tahun kemerdekaan Indonesia. Konon syarat laki-laki dicintai oleh wanita itu hanya satu; harta. Tapi tesis itu dipatahkan Ibumu. Komitmen itu kami bangun saat saya masih tidak punya apa-apa. Saat saya masih menganggur belum bekerja. Saat saya masih begitu jelata [sekarang pun masih begini-begini saja]. Saya tidak begitu yakin, keimanan seperti apa, dan madzhab teologi mana, yang dipakai Ibumu hingga dia begitu percaya padaku. Gusti Allah selalu maha ndak tega kepada kita.
.
.
#DearDifa. Saya meskipun saya pernah sedikit membaca teori feminisme, saya tidak sepenuhnya memahami perempuan. Menurutmu, kamu memilih dicintai apa mencintai? Dicantai itu objek. Sedang mencintai adalah subjek. Para pecinta itu bersifat aktif, sedang seseorang yang dicintai cenderung pasif. Saya memilih sebagai pecinta Ibumu dan kamu. Kalau kamu?

Surabaya, 1 Maret 2020

#DearDifaa

Junjungan kita, Muhammad SAW. adalah sebaik-baiknya ciptaan Allah. Dia adalah master piecenya alam semesta. Tanpa kanjeng nabi, seisi dunia dan akhirat tidak akan tercipta. Dari sekian banyak kehebatan dan kisah-kisah hero tentang beliau, saya sangat suka dengan sikap tawadhu' beliau. Tawadhu' itu rendah hati.
.
.
Nabi yang sebaik-baiknya makhluk Allah pernah ngendika: "sebaik-baik manusia adalah kebermanfaatannya untuk manusia lain". Maknanya, nabi, yang bagaikan permata dianatara bebatuan, mengajak kita— para butiran debu kerikil, untuk menjadi manusia unggul. umatnya diberi kesempatan untuk mengikuti tauladan beliau–menjadi sebaik-baik manusia.
.
.
Sudah dua hari ini, pikiran saya kacau dan embuh. Seseorang yang kamu sebut dengan "Um Kaji" meninggalkan kita semua untuk selamanya. Dia sebenarnya bukan siapa-siapa kita. Tidak ada hubungan darah dengan kita. Namun secara emosi, dia sangat erat sekali.
.
.
Um kaji, secara teknis adalah orang yang membantu Ibu saya–nenekmu, berdagang di pasar. Namun realitanya setelah pulang dari pasar, selepas dzuhur, terkadang dia membantu permasalahan apa saja di rumah. Mulai dari hal-hal besar seperti membetulkan drainase yang mampet, membenarkan gendeng bocor, mencabut rumput depan rumah, dll.
.
.
Hingga hal yang remeh-temeh seperti membakar sampah, Um Kaji melakukannya. Bahkan pohon pisang di samping rumah adalah Um Kaji yang menamnya. Pohon mangga depan rumah kita, dulu beli cangkokan. Um Kaji lah yang memberi pupuk dan menyiram saat masih kecil. Ketika sudah besar, pohon mangga itu selalu berbuah tanpa kenal musim. Tidak jarang Um Kaji memanjat pohon itu untuk memetik mangga yang akan dipersembahkan untukmu. Kamu penyuka mangga.
.
.
Um Kaji tidak pernah jatuh sakit, dia selalu terlihat energik. Namun, karena sering membawa beban yang berat, Um Kaji pernah dioperasi hernia. Sebanyak dua kali. Saat operasi pertama, kami pikir, setelah operasi, dia akan pensiun dari pasar. Kenyataanya tidak. Seminggu setelah operasi, dia berangkat lagi.
.
.
Sebutannya Um Kaji, tentu dia pernah berhaji, saat berangkat haji inilah, Ibu saya benar-benar kerepotan. Tidak ada yang membantu Ibu di pasar, maka saya harus turun tangan. Tenaga saya tentu tidak sehebat Um Kaji untuk memanggul 50 Kilogram gula atau tepung aci, maka saya merasa ngap-ngapan. Dibantulah tenaga lain. Dan masih tidak sekuat Um kaji. Kami pikir, sepulang dari naik haji, Um Kaji tidak akan berangkat membantu di Pasar lagi. Kenyataannya tidak. Um Kaji masih ingin membantu lagi.
.
.
Suatu ketika, Um Kaji merasa sakit hernia lagi. Operasi yang dulu sebelah kanan, kini yang dia rasakan sebelah kiri. Saya yang mengantarkan untuk operasi kali kedua. Saat operasi inilah, tim dokter yang menangani operasi menunda karena suatu hal. Suatu hal inilah yang kelak suatu hari menjadi jalan berpulangnya dia menuju keabadian. Namun setelah diberi treatment operasi segera dijalankan. Kami juga berpikir, setelah operasi kedua ini, Um Kaji akan benar-benar pensiun. Dugaan kami selalu salah, Om Kaji baik-baik saja. Bahkan saya masih ingat, Om Kaji pulang dari operasi dengan menggunakan sepeda motor. Kuat sekali.
.
.
Akhir Januari 2020, hari minggu, di subuh yang membisu. Saya mengantar ibu saya ke pasar. Biasanya sudah ada Um Kaji di sana yang sudah membukakan toko. Namun pagi itu toko masih petang. Hanya lampu kuning yang redup bersusah payah menyinari gang. Biasanya, jika Um Kaji tidak berangkat, kunci di taruh di atas. Saya cari. Saya coba raba. Hasi nihil tidak ada.
.
.
Ibu saya mendapatkan telepon. Di ujung sana, suara dari keluarga Um Kaji. Suara itu menangis. Tidak jelas. Kami panik. Menduga-duga. Sebenarnya apa yang terjadi. Untuk memastikan, saya bergegas menuju rumahnya. Di depan rumah Um Kaji, sudah ada banyak tetangga yang membawa surat Yasin. Saya itu juga, saya tidak percaya, Um Kaji sudah benar-benar tidak ada.
.
.
Sabtu siang, Um Kaji masih sehat. Masih bugar. Saya juga sempat berkomunikasi. Minggu pagi, ketika dia akan pergi ke pasar, menstarter motornya tidak nyala. Dia terjatuh. Disinyalir serangan jantung. Namun Um Kaji saat serangan jantung itu dia sempat melawan maut, dia segera bangun. Tapi tubuhnya roboh kembali. Dan kita semua tahu, Um Kaji sejak minggu ini, benar-benar pensiun.
.
.
Um Kaji di pasar tidak hanya membantu Ibu saya saja. Juga mencabang, membuka dan menutup toko Haji Toni. Di pasar juga terkenal supel, periang, suka bercanda, dan hal-hal lain yang positif. Tentu saja banyak orang yang kehilanhan sosok Um Kaji.
.
.
#DearDifa. Saya mengkisahkan ini agar kamu kelak, saat sudah besar tidak lupa, pernah ada sosok Um Kaji yang dekat dengan kita. Juga banyak sekali orang yang menyayangimu—menyaksikan dan berbahagia atas kelahiranmu—,  mereka telah meninggalkan kita: alm. Hj. Aisyah, beliau adalah buyutmu, ibu dari mbah kakung dari jalur Ibumu. Lik Ulwiyah, dia adalah adik mbah putri dari jalur ibumu. Juga mbah H. Abdul Wahab, yang selalu menawarkanmu Yakult saat kita berkunjung, dia adalah kakak ipar dari nenek jalur bapak. Matua Baeh, yang kita pernah menjenguknya membawa pisang.
.
.
#DearDifa. Saya tidak menuntutmu untuk menjadi pribadi yang harus begini dan begitu. Bagi saya, menjadi manusia bermanfaat itu tidak harus menjadi pejabat atau ulama. Tidak harus menjadi guru, dosen, dokter, camat, bupati, gubernur, atau presiden. Menjadi manusia bermanfaat itu menyingkirkan duri dari jalanan. Atau saat kita berkendara memberi kesempatan orang menyeberang duluan. Kita ini hanya orang awam, melakukan sesuatu yang kecil-kecil saja. Barangkali kita kelak dikumpulkan dengan para sebaik-baik manusia.
#DearDifa.

Saat ini saya sedang memohon dengan segala harapan. Bisa jadi proposal itu akan gol. Atau bisa jadi juga zonk. Kita cuma hanya minta belas kasihan padaNya. 
.
.
Alquran itu ilmu pasti. Tidak ada keraguan tentangnya. Tidak ada kebimbangan bagi orang yang bertakwa. Falya'buduu rabba hadzal bait, aladzi athama hum min juu'i wa amana hum min khouf, kata Alquran. Maka sembahlah Tuhan yang menciptakan baitullah (ka'bah). Yang memberi makan kepada orang lapar, dan memberi rasa aman kepada orang yang ketakutan.
.
.
Konon di dunia ini, persoalan manusia yang paling mendasar hanya dua saja: lapar dan takut. Lapar itu babagan tentang perut, sementara ketakutan itu menyelimuti segala hal. The Panas Dalam, Band Indie asal Bandung yang sekarang sepertinya sudah tidak Indie lagi, pernah menulis lirik "lagu Timur". Timur itu anaknya Pidi Baiq–sang Imam besar The Panas Dalam.
.
.
Salah satu liriknya gini: 
Jangan takut Maklampir,
Maklampir itu Farida Fasya.
Jangan takut tidak naik kelas,
Tinggal pindah sekolah, 
Jangan takut polisi,
Kalau tidur, kita gilas. 
Jangan takut tentara, 
Tentara itu punya istri.
.
.
Lohhh maaf, malah ngelantur ke The Panas Dalam. Intinya kalau kita beribadah ke sang pemilik baitullah kita akan dijamin untuk tidak pernah kelaparan dan ketakutan.
.
.
ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزفه من حيث لا يحتسب

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
.
.
Buy one get two. Kita beli dengan satu, berupa Taqwa. Allah memberikan dua: Jalan keluar dari segala permasalahan dan rezeki yang tidak bisa disangka. Taqwa itu mengahdirkan Allah dalam segala hal. Dalam setiap detik kehidupan.
.
.
Waqul, robighfir wa anta khoiru rohimin.

#DearDifaa

Hari ini, hari minggu, jam 06.00 kamu masih terlelap. Biasanya kamu akan bangun satu setengah jam lagi. Seperti biasa, kamu tidur sangat malam. Semalam hujan. Sederas apapun hujan, ia adalah rahmat. Sebencana apapun dunia, kasih Tuhan akan selalu melekat.
.
.
Hari-hari Januari tahun ini adalah hari yang melelahkan. Dunia diselimuti kesedihan. Berbagai bencana alam menghantam. Juga bencana perang. Jenderal Iran, Qassem Sulaimani yang Syahid dirudal Amerika dengan cara curang, di Bandara sipil Irak, ia mempunyai anak. Anak itu seorang perempuan, tentu saja ia pasti bersedih ditinggal Ayahnya meninggal. Tapi kata-katanya yang mengalir indah mencerminkan jiwanya yang teguh, kurang lebih begini:  “Ayah saya bak botol kaca yang berisi parfum, jika seseorang memecah botol itu, wewangian akan menyerbak keseluruh dunia.” Tidak harus faham pepatah Parsi untuk memahami kalimat tadi.
.
.
Konon, maju mundurnya bangsa bergantung pada bagaimana isi pikiran para perempuannya. Ada khadijah yang mendukung dakwah nabi Muhammad. Ada Fatimah sang mutiara. Di Nusantara, terdapat banyak perempuan selain Kartini yang punya andil dalam peradaban banga kita, mereka tidak dikenal permukaan. Dan nama anak perempuan sang jenderal yang Syahid itu adalah Zainab Sulaimani. Catatlah, Difa, barangkali akan berguna untukmu suatu saat nanti.
.
.
Membicarakan tentang perempuan, semalam kita shalat maghrib di rumah. Kamu merajuk. Meminta ibumu shalat berdiri di depan, sedang Ayahmu di belakang. Ibumu memberimu nasihat, menganalogikan:
“Saat kita naik motor, kita jalan-jalan, posisi ayah ada di mana?”
“Di depan.” Jawabmu.
“Kalau Mama?”
“Di belakang”.
“Kalau Difa?”.
“Pangku, atau di tengah”. Jawabmu dengan tertawa.
“Nah, berarti kalau shalat, Mama juga di belakang”.

Akhirnya, kamu memahami itu. Dan posisi Ayah tidak bisa dimakzulkan dari Imam. Tapi tahukah kamu, Difa. Barangkali ini akan menjadi perdebatan panjang saat kau besar nanti. Ada pendapat Fuqaha yang tidak populer, seorang perempuan boleh menjadi Imam laki-laki. Lelaki itu seorang layaknya lelaki, ia bukan banci. Tapi pendapat ini tidak populer. Dan mungkin tidak boleh dipopulerkan. Saya tidak memunculkan sumbernya. Cari literasi sendiri. Tentu saja saya tidak memaksamu untuk menyetujui pendapat yang tidak populer itu.
.
.
Terus belajar, belajar terus, Nadifa.

#DearDifa

Natal sudah terlewat, tahun baru juga sudah kita injak. Agenda tahun ini insya Allah akan lebih seru. Ketika saya menulis ini, baru saja saya menyelesaikan pekerjaan laporan akhir tahunan, yang melebihi batas waktu sampai tahun baru. Apa saya zolim? Mungkin saja iya. Tapi saya akan memberikan yang terbaik. Meski harus jungkir balik.
.
.
Semalam kita tidak kemana-mana. Selain saya tidak suka keramaian, saya juga masih banyak pekerjaan. Di luar juga semalam hujan. Kamu seperti biasa tidur di atas jam 10 malam. Tahun 2019 adalah hal yang luar biasa dalam hidup saya. Tuhan selalu tidak tega kepada saya, kepada kita. Cintanya selalu memercik kepada kita. Tahun ini saya mempunyai tekad: Setidaknya seminggu sekali, sesibuk apapun, saya akan rajin menulis di blog ini. Itu target saya. Entah bagaimana nanti dengan realisasinya.
.
.
Bisa jadi menulis di blog ini adalah pekerjaan yang melelahkan. Karena tidak ada keuntungan finansial. Kadang juga saya heran kepada diri sendiri: Profesi saya bukan wartawan, juga bukan penulis. Profesi saya tidak jelas. Tidak ada kaitannya dengan dunia tulis menulis. Lalu untuk apa saya menulis. Tapi setidaknya, jiwa raga saya merasa bahagia, ketika saya menyelesaikan satu judul tulisan. Ada rasa kepuasan.
.
.
#DearDifa. Saya meyakini, motivasi itu bukan dari luar kita. Tapi motivasi ada dalam manusia. Di dalam relung jiwa yang sunyi. Percayalah, kita sebenarnya tidak membutuhkan motivator. Kata presiden Jancukers, motivator sebenarnya motivancuk. Maka api itu saya gali, dan saya akan berusaha menjaganya agar tetap selalu menyala.
.
.
Api motivasi itu bernama Bapak saya. Kakekmu. Saat beliau meninggal dunia. Saya masih duduk kelas 1 SMP. Usia saya saat itu belum genap 13 tahun. Dalam usia segitu, tentu saja saya tidak benar-benar mengenal siapa sebenarnya bapak saya. Seciprat kenangan dan hangatnya kasih sayang tentu saja masih saya ingat. Dan kenangan-kenangan itu timbul tenggelam. Semoga suatu saat saya bisa menuliskan.
.
.
Terkadang dalam lamunan, saya ingin benar-benar tahu siapa bapak saya sebenarnya, bagaimana jalan pikirnya. Pengalaman dan perjalan hidupnya seperti apa. Terkadang, jika ada kesempatan, perjalan hidupnya dikisahkan oleh Ibu saya. Satu dua kawan bapak juga pernah mengkisahkan beberapa halaman perjalanan kehidupan bapak.
.
.
Bapak saya guru honorer biasa. Konon juga pernah menjabat kepala sekolah. Beberapa mantan muridnya, ketika dalam suatu kesempatan bertemu saya, memberikan kesan yang mendalam tentang Bapak ketika menjadi guru. Tapi sayang sekali, semua kisah dan perjalanan [Sedih, senang, dan bahagianya] tidak pernah dibagikan langsung kepada saya.
.
.
Harapan saya: Saya, kamu dan Ibumu selalu sehat. Umur kita panjang. Kami bisa melihatmu berkembang dan mengarungi dinamika kehidupan. Sembari semua berproses. Ijinkan saya mencatat untukmu. Menulis dan melantur apa saja. Barangkali suatu saat bermanfaat. Semoga kita selalu diberkahi dan diridhoi Allah.


Tegal, 1 Januari 2020

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE