#DearDifaa
Hidup yang fana ini sesekali memang harus kita rayakan. Cara merayakannya jangan tanyakan padaku. Kau akan menemukannya nanti. Di perjalanan nanti, ada banyak tanda yang akan membawamu merayakan kegembiraan sendiri.
Difa, kehidupan yg fana ini, bagi sebagian orang adalah mampir berlomba. Hidup cuma merayakan, dari satu kompetisi ke kompetisi lain. Bahkan, konon dulu, sebelum menuju kefanaan ini, kita juga berkompetisi. Kanjeng nabi Muhammad, panutan kita, juga membawa pesan dari Tuhan; supaya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Masalahnya, seringkali, kita yang makhluk fana ini, selalu mendambakan kemenangan dalam setiap perhelatan. Seringkali kita bersedih, ketika kekalahan adalah sebuah kenyataan.
Itu dulu, sebelum saya tahu. Bahwa hidup itu bukan untuk hebat-hebatan. Kemenangan bukan tujuan. Dalam khazanah Maiyah, diceritakan, bahwa Allah tidak menuntut kita untuk berjaya. Allah hanya menyuruh kita berjuang tanpa berhenti. Maka, saya berjuang semampu saya. Dan kau juga suatu saat harus berjuang semampu kamu. Sebisa kamu.
Aku juga harus menceritakan padamu tentang ini; terdapat seseorang yang menghindari kompetisi. Dia sudah tidak menghiraukan apa-apa. Sudah tidak berkeinginan tentang dunia. Fokusnya hanya mencari ridho dan cintaNya. Suatu ketika seorang kawannya bertanya pada dia; “bagaimana mungkin Anda mengharapkan cinta Allah, jika Anda juga tidak dalam rangka berlomba-lomba meminta cinta”. Jawabnya; “Saya tidak bisa menjawab dan berargumentasi kepadamu. Jika aku menjawab, mungkin saja saya sudah masuk dalam arena lomba!”
Ada lagi kisah, ini asli, tentang sepenggal cerita, bagaimana manusia Indonesia bertahan dalam kemiskinan, ketiadaan dan merayakannya dengan penuh kegembiraan. Tokoh kita ini, ketika kecil, tidak tinggal bersama ibunya, karena orang tuanya bercerai. Dia tinggal bersama bapaknya. Pekerjaan bapak tukang becak. Ketika dia umur sekolah TK, sepertimu, dia bersosialisasi banyak dengan kawan.
Berangkat dan pulang diantar jemput dengan bus sekolah. Setiap kali bus berhenti, menjemput teman-temannya satu persatu, teman-temannya berpamitan dan salam cium tangan pada ibu mereka. Sementara dia tidak. Suatu kesempatan, dia yang masih TK bertanya pada kakak perempuanya. “Kak, Ibu itu apa?” ditanya begitu, si Kakak menangis. Lalu memeluk adiknya. Dari caranya bertanya. Dia yang sudah TK tidak punya konsep dalam alam pikirannya, dia mengambil pilahan kata ‘apa’ bukan ‘siapa’ untuk meminta penjelasan dari arti kata ‘ibu’.
Dia yang miskin, dia yang tekun belajar. Di sekolah selalu mendapatkan juara. Menjadi siswa teladan. Rangking 3 besar. Dari SD sampai SMP. Ironisnya, setiap kali pengambilan raport, tidak ada orang tuanya mengambil raportnya. Kakak perempuannya berkata, “Sudahlah dik, kamu ndak usah belajar, untuk apa mendapatkan juara. Kamu itu tidak membutuhkannya. Juara itu untuk orang lain saja yang lebih membutuhkan”. Nasihat ini tentu saja sangat nyeleneh. Tidak wajar. Juga njijiki. Tapi begitulah, kalau kita pelajari psiko dan sosio manusia Indonesia arus bawah itu menyenangkan sekali, banyak yang jauh melenceng dari teori.
Singkat cerita, nasihat kakak perempuannya ia terima. Justru ini adalah jalan hidup yang mencerahkan. Di SMA dia biasa-biasa saja. Menjadi siswa nyeleneh. Kenyelenehan ini yang menjadi cikal dasar, ia akan menjadi seniman besar.
#DearDifaa. Saya selalu mengambilkan tamsil untukmu dari kisah orang biasa saja. Bukan berarti kau harus begini dan begitu. Kamu harus jadi dirimu sendiri, Nak. Yang terpenting adalah bergembiralah. Tulisan ini tentang kompetisi dan lomba. Dua hari lagi, saya akan berlaga. Tentu saja saya manusia biasa. Bukan seperti kisah-kisah tokoh yang saya tuliskan di atas. Saya masih berharap kepada Allah. Untuk sekali lagi, tidak tega kepada saya. Tidak tega kepada kita. Dan meng-acc proposal kita.