Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

 #DearDifaa


Hidup yang fana ini sesekali memang harus kita rayakan. Cara merayakannya jangan tanyakan padaku. Kau akan menemukannya nanti. Di perjalanan nanti, ada banyak tanda yang akan membawamu merayakan kegembiraan sendiri. 



Difa, kehidupan yg fana ini, bagi sebagian orang adalah mampir berlomba. Hidup cuma merayakan, dari satu kompetisi ke kompetisi lain. Bahkan, konon dulu, sebelum menuju kefanaan ini, kita juga berkompetisi. Kanjeng nabi Muhammad, panutan kita, juga membawa pesan dari Tuhan; supaya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Masalahnya, seringkali, kita yang makhluk fana ini, selalu mendambakan kemenangan dalam setiap perhelatan. Seringkali kita bersedih, ketika kekalahan adalah sebuah kenyataan. 



Itu dulu, sebelum saya tahu. Bahwa hidup itu bukan untuk hebat-hebatan. Kemenangan bukan tujuan. Dalam khazanah Maiyah, diceritakan, bahwa Allah tidak menuntut kita untuk berjaya. Allah hanya menyuruh kita berjuang tanpa berhenti. Maka, saya berjuang semampu saya. Dan kau juga suatu saat harus berjuang semampu kamu. Sebisa kamu. 



Aku juga harus menceritakan padamu tentang ini; terdapat seseorang yang menghindari kompetisi. Dia sudah tidak menghiraukan apa-apa. Sudah tidak berkeinginan tentang dunia. Fokusnya hanya mencari ridho dan cintaNya. Suatu ketika seorang kawannya bertanya pada dia; “bagaimana mungkin Anda mengharapkan cinta Allah, jika Anda juga tidak dalam rangka berlomba-lomba meminta cinta”. Jawabnya; “Saya tidak bisa menjawab dan berargumentasi kepadamu. Jika aku menjawab, mungkin saja saya sudah masuk dalam arena lomba!”



Ada lagi kisah, ini asli, tentang sepenggal cerita, bagaimana manusia Indonesia bertahan dalam kemiskinan, ketiadaan dan merayakannya dengan penuh kegembiraan. Tokoh kita ini, ketika kecil, tidak tinggal bersama ibunya, karena orang tuanya bercerai. Dia tinggal bersama bapaknya. Pekerjaan bapak tukang becak. Ketika dia umur sekolah TK, sepertimu, dia bersosialisasi banyak dengan kawan. 



Berangkat dan pulang diantar jemput dengan bus sekolah. Setiap kali bus berhenti, menjemput teman-temannya satu persatu, teman-temannya berpamitan dan salam cium tangan pada ibu mereka. Sementara dia tidak. Suatu kesempatan, dia yang masih TK bertanya pada kakak perempuanya. “Kak, Ibu itu apa?” ditanya begitu, si Kakak menangis. Lalu memeluk adiknya. Dari caranya bertanya. Dia yang sudah TK tidak punya konsep dalam alam pikirannya, dia mengambil pilahan kata ‘apa’ bukan ‘siapa’ untuk meminta penjelasan dari arti kata ‘ibu’.  



Dia yang miskin, dia yang tekun belajar. Di sekolah selalu mendapatkan juara. Menjadi siswa teladan. Rangking 3 besar. Dari SD sampai SMP. Ironisnya, setiap kali pengambilan raport, tidak ada orang tuanya mengambil raportnya. Kakak perempuannya berkata, “Sudahlah dik, kamu ndak usah belajar, untuk apa mendapatkan juara. Kamu itu tidak membutuhkannya. Juara itu untuk orang lain saja yang lebih membutuhkan”. Nasihat ini tentu saja sangat nyeleneh. Tidak wajar. Juga njijiki. Tapi begitulah, kalau kita pelajari psiko dan sosio manusia Indonesia arus bawah itu menyenangkan sekali, banyak yang jauh melenceng dari teori.



Singkat cerita, nasihat kakak perempuannya ia terima. Justru ini adalah jalan hidup yang mencerahkan. Di SMA dia biasa-biasa saja. Menjadi siswa nyeleneh. Kenyelenehan ini yang menjadi cikal dasar, ia akan menjadi seniman besar.



#DearDifaa. Saya selalu mengambilkan tamsil untukmu dari kisah orang biasa saja. Bukan berarti kau harus begini dan begitu. Kamu harus jadi dirimu sendiri, Nak. Yang terpenting adalah bergembiralah. Tulisan ini tentang kompetisi dan lomba. Dua hari lagi, saya akan berlaga. Tentu saja saya manusia biasa. Bukan seperti kisah-kisah tokoh yang saya tuliskan di atas. Saya masih berharap kepada Allah. Untuk sekali lagi, tidak tega kepada saya. Tidak tega kepada kita. Dan meng-acc proposal kita.

 #DearDifa


Konon Tuhan itu bercakap dengan manusia melalui tanda. Tinggal manusia bisa membaca tanda itu atau tidak.



Saya dianugerahi banyak teman di Media Sosial dari beberapa kalangan. Dari teman itu saya mecoba, berusaha membaca tanda. Kadang Tuhan menyindir saya. Tidak jarang menyemangati juga. 



Seperti unggahan seorang profesor. Dia menulis tentang doa. Dia menganalogikan. Ketika ada pengamen dengan suara yang sumbang, buru-buru ia memberikan recehan. Jangan-jangan selama ini, suara doa kita juga sama sekali tidak indah untuk didengar, hingga Tuhan buru-buru mengabulkan keinginan. Betapa hina nian.



Suatu ketika, seorang teman seniman apdet status. Tokoh seniman ini adalah orang yang hidupnya penuh lika-liku. Seniman duda yang ditinggal kekasihnya. Tapi ia terus berkarya. Dalam statusnya ia mengucapkan: bertarunglah, jika kalah akuilah. Lalu bertarung lagi. Jika menang, kenangkanlah. Sebab kemenangan akan menjadi cahaya bagi kehidupan. Yang saya tahu, Tuhan Maha Ndak Teganan.



Begitulah, dua hari lagi saya harus siap dengan pertarungan itu. Tentu saya menyanyi dalam doa. Tidak peduli nyanyian saya terdengar sumbang. Toh jika dalam sepanjang hidup saya, saya terus berdoa dengan nyanyian jelek ini, saya tidak apa-apa. Jika diberi recehan juga saya terima. Karena sudah seharusnya, genetik saya mewarisi survive dalam mengarungi kehidupan.

 #DearDifaa


Pelajaran sejarah adalah bagi saya pelajaran yang membosankan. Selain hanya mendengarkan guru mendongeng, saat itu saya juga harus menghapalkan tokoh, peristiwa, sekaligus tanggal dan tahunnya. Konon, sejarah itu milik pengusa yang sedang duduk di singga sana.

.

.

Suatu hari, ketika saya sudah mentas dari bangku sekolah, saya baru tahu; ada satu tokoh, tokoh ini adalah tokoh sentral, bagaimana tokoh ini berperan sebagai pemantik pergerakan yang disebut nasionalisme dalam lingkungan kolonialiasme Belanda. Dia yang awal mula membidani lahirnya sebuah bangsa, yang kelak bangsa itu menamakan dirinya Indonesia. 

.

.

Tokoh ini, kelak saat kamu besar, mungkin tidak akan mengenalnya. Tidak pernah dijadikan nama jalan di kota-kota maupun di desa. Tahun 2006 pemerintah memang sudah menetapkan bahwa dia pahlawan. Tapi tempat peristirahatannya yang terkahir tidak di makam pahlawan. Karena sebenarnya dia dilupakan dan yang terlupakan. Maka, ijinkan saya memintamu menyimpan baik-baik nama tokoh ini; Raden Mas Tirto Adhi Soerja. 

.

.

Dia anak Bupati Bojonegoro. Darah biru. Keturunan ningrat. Saat manusia sebangsanya tidak mendapatkan akses pendidikan, dia memperoleh pendidikan Eropa. Pada jaman itu, awal tahun 1900an, perbedaan kelas sosial sangat kental sekali. Rakyat jelata akan menyembah, membungkuk jika menghadap atau bertemu dengan pejabat. Nah, R.M Tirto menolak sembah dan sungkem. Baginya, yang sudah mendapatkan pendidikan Eropa, manusia di atas bumi ini adalah sama. Dia tidak membutuhkan sembah dari rakyat jelata. Karena manusia itu hakikatnya sama, maka pribumi, Belanda, dan semua ras manusia juga seharusnya kedudukannya sama. Perbudakan, penjajahan, kolonialisme harus dibuang.

.

.

Dialah manusia pertama Hindia Belanda, yang menginisiasi membentuk organisasi. Dia melawan tirani melalui wadah bernama organisasi. Dia juga Bapak pers Indonesia. Dia yang pertama kali menerbitkan koran berbahasa Melayu, bahasa yang kelak akan menjadi bahasa Indonesia. Bahasa yang kelak akan menjadi bahasa sumpah pemuda.

.

.

#DearDifa. Dia fasih berbahasa Belanda baik tulis maupun lisan. Jika umurku panjang, ijinkan aku nanti berkisah banyak hal padamu. Kita akan berdiskusi panjang. Aku akan menjadi teman mengobrolmu. Bisa jadi akulah teman debatmu. Dan, Difa. Tepat hari ini, 17 Agustus tahun 1918. Seorang lelaki pembela rakyat, meninggal tanpa banyak orang mengiringi pemakamannya. 17 Agustus 1945 Merdekalah bangsa kita. Dan R.M Tirto tetap saja dilupakan.

 #DearDifa

Simpan baik-baik nama gadis kecil ini: Ghina Bou Hamdan. Dalam acara The Voice Kids for Arab 2015, ia menyanyikan Atoua Toufuli (Give Us the Chilhood). Ghina, saat itu, hampir tidak bisa menyelesaikan nyanyiannya. Dan banyak orang yang menangis mendengar ia menyanyi. 

.

.

Kau tahu, Nak. Kenapa Ghina dan para pendengar menangis? Mereka rindu nikmat kedamaian. Damai yang seharusnya mereka rasakan sejak kanak-kanak. Lagu ini, mengkisahkan kerinduan seorang bocah Lebanon, Remi Bendali. Dia merasa kegembiraan kanak-kanaknya tercabut karena perang pada tahun 1985. Kala itu, Remi berusia 5 tahun. Lebanon sedang porak poranda akibat perang sekterian. 

.

.

Konon, lagu ini adalah lagu wajib anak-anak di dunia Arab. Lagu yang mereflesikan kerinduan seorang anak akan kedamaian yang hingga hari ini, tanah para nabi itu tak pernah berhenti bergejolak. Tontonlah videonya ini: https://youtu.be/y7KqSrXnpSg

.

.

Pada sore hari tanggal 4 Agustus 2020 pukul 18.08 waktu setempat, terjadi ledakan di Pelabuhan Beirut yang berlokasi di Beirut, Lebanon. Sekitar 137 orang meninggal dunia, 80 orang hilang,dan lebih dari 5.000 orang mengalami luka-luka.

.

.

#DearDifaa, dulu bangsa kita juga mengalami hal yang sama, di atas tanah yang belum dinamai Indonesia. Perang, suasana mencekam. Tidak ada canda tawa anak. Bernyanyilah, Nak. Nyanyianmu akan diperdengarkan banyak orang. Dan akan menghibur Bapakmu ini. 

#DearDifa

Kisah ini jauh-jauh hari sebelum pandemi ini masuk ke negara itu. Saat itu umurmu belum genap 3 tahun. Kamu sakit. Suhu tubuhmu panas. Disertai batuk kering juga. Kesepakatan itu terjadi di antara kita. Bahkan kamu yang menginkannya: periksa.
.
.
Kita pergi bukan ke dokter, bukan pula ke tabib. Di desa kita, tabib jaman ini sudah tidak ada. Kita pergi ke seorang mantri kesehatan. Mantri itu adalah seorang perempuan tua, namanya Bu Ken. Meski Bu Ken bukan seorang dokter atau perawat, tempat dia buka praktek sangat laris. Banyak juga pasien dari tetangga desa. Bisa jadi, karena tarif bayarnya yang merakyat. Jika berobat di dokter paling minim sekali berobat 50 ribu, maka di Bu Ken hanya 20 ribu. Atau mungkin saja, pelayanannya yang supel. Ramah. Dan juga banyak pasien yang sembuh.
.
.
Di Bu Ken inilah kamu sendiri yang mengambil nomor antrian, dan mengantri bersama ibumu di dalam. Sementara saya menunggumu di luar. Tempat di Bu Ken agak sempit. Rata-rata pasien Bu Ken adalah anak-anak. Kata Ibumu, saat tiba giliranmu, kali ini kau tidak seperti biasanya; merajuk digendongan. Takut diperiksa dan ingin segera pulang. Kali ini kau berjalan sendiri, menuju ruang kerja Bu Ken. Naik ke bad sendiri. Membuka baju sendiri agar dadamu dibuka. Dan siap untuk diperiksa. Tentu saja, Bu Ken takjub dengan apa yang kamu lakukan. Dengan cekatan Bu Ken memeriksamu dengan stetoskponya.
.
.
Stetoskop itu, bisa jadi adalah alat yang sama yang dulu memeriksa saya saat kecil – sepertimu yang sedang sakit. Waktu sepertinya begitu cepat. Memerlukan lamunan panjang untuk menyadari bahwa saya sudah setua ini.
.
.
Konon, Bu Ken bukan asli orang desa kita. Jika mendengar intonasi berbicara, sepertinya dia berasal Solo. Dan menetap di sini bersuami sang suami. Suatu ketika, saat saya kecil dan sakit. Ibu saya membawa ke Bu Ken. Namun sial. Bu Ken hari itu tutup. Rumahnya sepi. Karena sebuah kepercayaan dan keyakinan tinggi, saya jika tidak diperiksa Bu Ken sakitnya lama sembuh. Pernah mencoba berobat ke dokter. Tapi tidak ada tanda sembuh. Maka, saya disuruh memegang pagar rumahnya saja. Dan bim salabim. Tentu saja Tuhanlah yang maha menyembuhkan.
.
.
Kisah tentang lompatan-lompatan waktu seperti kisah Bu Ken juga dialami Ibumu. Dulu, Ibunya Ibumu –nenekmu, melahirkan bayinya di rumah bersalin Bidan Solihin. Si bayi itu, setelah berusia 25 tahun menjadi istri saya. Saat hamil, bayi yang sudah dewasa itu yang dilahirkan di Bidan Solihin, melahirkan juga di bidan Solihin. Bayi yang dilahirkan itu kamu. 
.
.
Sehat selalu untuk semua makhluk yang melompati waktu. Waktu tidak beranjak ke mana-mana. Hanya kita yang semakin tua.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE