Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

 #DearBapak

Memelihara pusaramu saja, aku tak mampu.

Anakmu yg merasa miskin, yg bisa jadi sesungguhnya tidak miskin-miskin amat, aku tak mampu.


Suatu saat, sungguh aku berharap aku bisa  bersamamu lagi. Menaiki sepeda bareng lagi.  Sepeda kecilku, pemberian mu, yang kaki kecilku belum kuat mengayuh itu, digandeng dengan tanganmu. 

Aku ingin jadi ahli ibadah seperti mu. Dunia yang semakin embuh, aku ingin mendengar lelucon-lelucon mu yang sebenarnya kita tahu tidak lucu. Namun kita menertawakan itu.

Sungguh hari-hari ini aku kangen, rindu, dan ingin sekali mengobrol denganmu.

Bapak, memelihara pusaramu saja aku tak mampu.


#DearDifaa

#DearHilwa


Mbak Yenny Zanuba Wahid, putri Almarhum Gus Dur, ketika diwawancara oleh Prof Abdul Gaffar Karim di Channel YT DPP UGM, tentang bagaimana rasanya menjadi anak Gus Dur. Dia menjawab, bahwa awalnya dia merasa terbebani, dari sisi personal, dia selalu akan diukur, dibandingkan dengan bayang-bayang Bapaknya. 


Orang-orang, akan memberi parameter bahwa kehebatannya seperti para leluhurnya, Kakeknya, Kiai Haji Wahid Hasyim adalah salah satu pendiri bangsa Indonesia, Kakek buyutnya KH. Hasyim Asy'ari pendiri organisasi Islam terbesar: Nahdlatul Ulama. Dan ayahnya adalah presiden Indonesia. Sudah barang tentu, orang akan berekspektasi besar terhadap dia.


Jadi, ketika dia akan melangkah selalu berhati-hati, saat dia mau melakukan tindakan apapun, akan selalu berrefleksi terlebih daulu, apakah jalan ini ada dampak negatif bagi nama keluarga. Hal ini semacam rambu-rambu bagi dia. 


Apakah ini mengekang? Tanya Prof Gaffar.

Awalnya dulu tersiksa, namun akhirnya saya bersyukur, Jawab Yenny.


Terkadang manusia tidak jauh dari kealpaan. Apalagi bagi yang pernah bergerak di politik, pemerintahan. Ada saja momen-momen yang bertentangan dengan hati nurani. 


Nah, menjadi anaknya Gus Dur adalah benteng agar  tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani. 


#DearDifaa #DearHilwaa Apa yang sudah ditanam oleh para sesepuh dulu, sudah bisa dipanen anaknya sekarang. Orang-orang menyebutnya dengan kebaikan. Integritas. 


Dari sebuah pekerjaan yang saya geluti lebih dari dua tahun ini, ada banyak hikmah yang saya yakini saya akan mengambilnya. Saya dipertemukan dengan berbagai karakter manusia. Dari yang putih, sampai yang hitam. 


Manusia baik dan buruk akan kelihatan ketika sedang duduk sebagai “raja”. Pemangku kebijakan. Atau sekedar sebagai kaki tangan raja. Setiap orang baik tentu saja berpeluang melakukan hal-hal buruk, kecuali dia mempunyai tameng, senjata rahasia, untuk terus berlaku lurus.


Jika mbak Yenni Wahid tamengnya adalah orang tuanya, para sesepuhnya. Maka terdapat orang yang saya kenal tamengnya adalah masa silamnya. 


“Saya dari dulu sudah biasa tidak punya uang mas, jadi kalau sekarang tidak punya uang ya tidak masalah”. Kalimat itu dikatakan oleh seorang ”raja” kepada saya waktu siang di udara yang dingin.


Lagi,

“Saya kan asli Provinsi J, Rumah saya itu desa pelosok, Mas. Berangkat sekolah ke ibu kota kecamatan harus jalan kaki 10 KM, itu belum pulangnya saya ngarit rumput untuk makan kambing”. Kata seorang pelayan masyarakat,  sekaligus pejabat anggota keamanan negara. 


#DearDifaa #DearHilwaa

Saya tidak tahu, harus pakai tameng seperti saya agar berlaku lurus, nenek kakekku dulu orang petani biasa, tapi nenekmu selalu berpesan untuk selalu jangan pernah meninggalkan shalat. 


Duhai kalian berdua, PR saya, senjata apa yang harus saya siapkan untuk mengarungi zaman kalian nanti. Duhai aku. Berbuat baiklah. 


Rambu-rambu itu adalah kebaikan, yang membentengi kebaikan.

#DearDifaa


Suatu siang di penghujung bulan Juli, langit tidak menampakkan panas, tidak pula hujan. Langit begitu sederhana. Apa adanya. Ibumu sudah menampakkan tanda kesakitan luar biasa. Itu sebagai tanda adikmu akan hadir di dunia.


Kita bergegas, sebenarnya banyak opsi kendaraan yang dipakai kita menuju rumah persalinan, tapi Ibumu memilih diantar dengan motor Supra butut saya. Dan kau Difa, anak gadis berumur empat tahun sudah menampakkan kedewasaanmu, kau berkenan ditinggal bersama tantemu. Saya sangat mengapresiasi itu.


Beberapa jam kemudian, kau menyusul bersama tante. Dan saya tahu, kau belum makan seharian setelah pulang sekolah. Kamu saya tawari makan makanan chiken siap saji – yang dulu saat kau masih kecil suka makan itu. Kau menolak.


Sementara pembukaan kelahiran adikmu sepertinya masih lama. Saya tinggalkan Ibumu sebentar dan mengajakmu makan. Pilihanmu jatuh pada tenda angkringan di bawah pohon beringin. Angin semilir sore itu, kau memesan es teh, memakan lontong dan gorengan. 


#DearDifaa. kamu yang dulu pecinta Chiken siap saji, kini memakan apa yang ayahmu makan: lontong dan gorengan. Bagi saya, ini adalah hal luar biasa. Terimakasih Difa. Ibu dan adikmu sedang berjuang. Dan kamu menunjukkan kedewasaan.


31 Juli tepat berkumandang adan Isya, hadir adikmu di dunia, membersamaimu tumbuh bersama. sehat senantiasa. Rukun agawe sentosa. Bersama: Hilwa Naina Zahida.

 #DearDifaa


Saya bapakmu, lelaki yang biasa saja. Saya biasa berkongsi dengan Ibumu pekerjaan rumah. Bila ibumu memasak, saya yang bertugas mencuci piring. Jika Ibumu mencuci piring, saya yang mencuci baju. Dan seterusnya. Itu biasa bagi saya. Karena saya ini lelaki yang biasa saja. Dan tugas-tugas yang konon kata kebanyakan orang terlihat feminim semua bisa saya lakukan. Karena bapak saya dulu begitu, karena lelaki asal Jombang yang ku sebut sebagai guru juga melakukan seperti itu. 



Tulisan ini bukan tentang hari perempuan. Mungkin lebih dari itu. Saya ingin membawamu ke perspektif lain, agar kamu bangga menjadi seorang perempuan. Bapakmu akan bahagia.



Suatu ketika, kelak, kau akan mendengar, Kisah nabi laki-laki dijadikan dalih untuk memberikan stereotip kepada perempuan bahwa mereka makhluk lemah, tidak mendapat kepercayaan atau mandat dari Tuhan. Mungkin ini salah satu argumen para Patriarkal dengan mudah memperlakukan istri dan perempuan secara semena-mena.



Rasyid Ridha dalam bukunya Wahyu Ilahi Kepada Muhammad, menerangkan kata 'nabi' secara bahasa. Nabi berasal dari kata Nubuwwah, yaitu Ar-Rif’ah. Asy-Syaraf, yang berarti keagungan, kemuliaan. Dalam bahasa Ibrani kuno, diartikan sebagai : “Yang berbicara tentang perkara keagamaan dengan suara keras”. Sedangkan secara umum kita menerima pemahaman bahwa nabi adalah orang yang menerima wahyu dari Allah.



Kalau kita telisik, ada loh perempuan yang langsung dihibur oleh Allah. Perempuan yang saat itu ketakutan kepada rezim yang kejam. Allah sendiri yang langsung menghiburnya. Perempuan itu adalah Ibu nabi Musa (selangkapnya lihat Alqur'an Surat Alqashash ayat 7). Ini menunjukan kedudukan perempuan itu tinggi sehingga Allah sendiri bahkan yang bercakap-cakap secara langsung layaknya bercakap kepada para kekasihNya.



Amina Wadud Muhsin, secara lebih tajam dalam bukunya berjudul “Wanita di dalam Al-qur’an”, memberikan deskripsi tokoh-tokoh perempuan yang dipercaya Tuhan sebagai nabi. Mereka adalah Ibu Musa, Maryam, Balqis, dan Ratu Sheba. Maryam sendiri di kalangan kaum sufi memiliki kedudukan tertinggi karena kedekatannya dengan Tuhan dalam ketaatan dan melahirkan nabi Isa.


Wadud menulis:


“Alquran menyatakan, Ibu Musa telah menerima wahyu, jadi memperlihatkan bahwa wanita, seperti juga kaum pria bisa saja menerima wahyu. Kasus Ibu Musa memperlihatkan bahwa wanita memang berbeda dalam sejumlah aspek, namun di sisi lain wanita juga bisa universal terhadap masalah tertentu.”


Tahun 1959, awal-awal Indonesia merdeka, Indonesia memiliki duta besar perempuan yang pertama, dilantik Presiden Soekarno menjadi Dubes di Belgia, namanya Leili Roesad. Perempuan Muslim berbaju kebaya. 



Pelantikannya sebagai duta besar pada tahun itu menjadi berita besar di Belgia. Dan di negara yang penduduknya mayoritas Muslim seperti Arab Saudi dan Malaysia diperbincangkan, seolah-olah, “mengapa Soekarno mengangkat perempuan jadi duta besar?".



Era itu, posisi politik perempuan tidak begitu ramah, apalagi di negara-negara Muslim. Soekarno memperkenalkan Leili Rusad. Masyarakat Indonesia mendukung keputusan Soekarno. Tidak ada yang marah. Ia dilantik. Perjalanan sejarah mengalir. Indonesia sejak awal berdirinya sudah maju. Pemahaman masyarakat tentang keislaman sudah hebat. Semoga tetap demikian adanya. 



#DearDifaa. 


Kamu tahu elep, kan? Iya, bus kecil satu pintu yang beroperasi dalam kota atau antar kota sebelah. Saya sedang keranjingan naik ini. Saya bisa mendapatkan apa saja yang tidak bisa saya dapatkan dengan naik kendaraan pribadi. 


Di elep, saya bisa bertemu dengan banyak juragan. Dari juragan tahu, juragan ikan asin, sampai pengamen biasa, atau Ibu Jamu gendong, tidak ketinggalan juga buruh-buruh pabrik. Obrolan mereka terkadang melebihi dawuhnya Socrates – mengandung filosofis yang dalam.


Terkadang juga, mereka lebih religius dari ustadz-ustadz selebriti TV. Seperti siang Jumat kala itu, ketika elep benar-benar sepi. Hanya mengangkut saya seorang, Alhamdulillah di tengah jalan, ada Ibu naik yang tergopoh dengan barang dagangannya. Dia penjual lauk keliling.

Sang Supir elep bertanya,

“Jumat-jumat kaya kie rame, Yu?”. 

“Ya embuh, Um. Arane beh ikhtiar”. 

 “Muga-muga tah rame yah, Yu”. Tukas Supir sambil senyum tulus.

Aku 'mbak deg'. Padahal supir ini rejekinya sedang seret. Elepnya kosong melompong. Dia tetap harus setoran. Tapi semua itu, tidak membuat dia terhalang untuk mendoakan rejeki orang.


Elep bagi saya adalah, tempat di mana manusia bisa bertegur sapa, tanpa harus saling mengenal sebelumnya. Di dalam elep, segala topik pembicaraan bebas untuk dilontarkan. Ekonomi adalah topik yang paling trendi. Politik, kesehatan, isu sosial, kebanjiran, semua bidang mereka bak ahli. 


Saya baru berani pertama naik elep sendirian waktu SMP kelas satu. Awal tahun milenium. Kalau kita amati secara sederhana, banyak perubahan signifikan terhadap elep di kota kecilku. Menururunnya jumlah penumpang, salah satunya.


Fenomena ini cukup klise. Di saat pemerintah mempermudah ijin regulasi penjualan kendaaraan bermotor, masyarakat banyak beralih naik kendaraan pribadi. Disisi lain, pemerintah mengkampanyekan naik bus umum sabagai solusi mecetnya jalananan. 


Namun, jika kita amati, di elep yang setiap hari saya naiki, jarang sekali saya temukan supir (juragan bus elep) menggunakan jasa kenek. Artinya, SDM di kota kecilku yang dari tahun ke tahun semakin membludak ini, tidak mungkin lagi bekerja sebagai kenek bus elep. Hilanglah satu jenis profesi di dunia ini. Hai apakabar Om Kenek yang dulu menemani saya berangkat sekolah? Sekarang bekerja sebagai apa.


Di dunia ini apa yang tidak paradoks. Tidak setiap di elep, bisa saya temukan semua kebaikan. Ada juga yang menyebaikan bisa saya temukan di jam-jam tertentu. Juga kejelakan: Supir yang egois. Suka kebut-kebutan. Tukang palak berkedok calo. Copet yang semakin canggih. Dan, dan, dan lain-lain.


Tapi semua paradoks itu, harus saya terima, saya syukuri, dan saya ikhlasi, bukan? Aihhh kata-kata saya sudah seperti Socrates belum? 


FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE