Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

 #DearHilwaa


Hilwa itu berasal dari bahasa Arab, artinya manis. Harapannya, pekerti dan masa depannya juga manis.


Tulisan ini bukan saya mendustakan nikmat Tuhan, namun sebaliknya. Tuhan hadir dalam banyak hal, termasuk dari wajah ibu-ibu di bus umum itu. Betapa saya hutang rasa pada mereka, yang telah memberlakukan anak bayiku kedua, Hilwa.


Delapan bulan usianya. Saya pikir, seperti anggapan banyak orang, ketika bertambah anak, saya akan mendapatkan rejeki yang luar biasa, rejeki yang tidak diduga-duga. Tapi kenyataannya, masih saja kehidupan ekonomi saya seperti ini. Betapapun kerasnya hidup, orang sekelilingku adalah manusia luar biasa. Mereka menerima.


Dulu saya mengira, kelak anak kedua nasibnya tidak semuram kakaknya yang motoran ke mana-mana. Saya pikir, saya sudah siap mempunyai kendaraan roda empat. Tapi begitulah nasib. 


Sampai suatu ketika, Hilwa yang delapan bulan, terjebak di bus umum minim ventilasi. Cuaca sedang panas-panasnya. 


Hilwa ini bagaikan sungai yang mengalir di malam hari. Sejuk. Damai. Tenang. Anteng. kesehariannya ia jarang rewel. Dan di bus umum itu, di tengah siang bolong itu, tangisannya pecah. Keringatnya basah kuyup membanjiri wajahnya. Suara tangisnya tidak berhenti hingga suaranya serak.


Ia tidak berhenti juga menangis meski sudah diiming-imingi diajak bermain dengan banyak ibu-ibu penumpang bus itu.


Duhai Adik Hilwa, ingin ku bisikan padamu: bus umum itu adalah tempat di mana manusia saling bertegur sapa, tanpa kenal sebelumnya. Betapa saya sangat hutang rasa pada mereka, pada ibu-ibu di bus umum itu.


Begitulah nasib kita, Dik, dan maafkan ayahmu yang miskin ini.


4 Ramadan 1443 Hijriyah

 #DearBapak

Memelihara pusaramu saja, aku tak mampu.

Anakmu yg merasa miskin, yg bisa jadi sesungguhnya tidak miskin-miskin amat, aku tak mampu.


Suatu saat, sungguh aku berharap aku bisa  bersamamu lagi. Menaiki sepeda bareng lagi.  Sepeda kecilku, pemberian mu, yang kaki kecilku belum kuat mengayuh itu, digandeng dengan tanganmu. 

Aku ingin jadi ahli ibadah seperti mu. Dunia yang semakin embuh, aku ingin mendengar lelucon-lelucon mu yang sebenarnya kita tahu tidak lucu. Namun kita menertawakan itu.

Sungguh hari-hari ini aku kangen, rindu, dan ingin sekali mengobrol denganmu.

Bapak, memelihara pusaramu saja aku tak mampu.


#DearDifaa

#DearHilwa


Mbak Yenny Zanuba Wahid, putri Almarhum Gus Dur, ketika diwawancara oleh Prof Abdul Gaffar Karim di Channel YT DPP UGM, tentang bagaimana rasanya menjadi anak Gus Dur. Dia menjawab, bahwa awalnya dia merasa terbebani, dari sisi personal, dia selalu akan diukur, dibandingkan dengan bayang-bayang Bapaknya. 


Orang-orang, akan memberi parameter bahwa kehebatannya seperti para leluhurnya, Kakeknya, Kiai Haji Wahid Hasyim adalah salah satu pendiri bangsa Indonesia, Kakek buyutnya KH. Hasyim Asy'ari pendiri organisasi Islam terbesar: Nahdlatul Ulama. Dan ayahnya adalah presiden Indonesia. Sudah barang tentu, orang akan berekspektasi besar terhadap dia.


Jadi, ketika dia akan melangkah selalu berhati-hati, saat dia mau melakukan tindakan apapun, akan selalu berrefleksi terlebih daulu, apakah jalan ini ada dampak negatif bagi nama keluarga. Hal ini semacam rambu-rambu bagi dia. 


Apakah ini mengekang? Tanya Prof Gaffar.

Awalnya dulu tersiksa, namun akhirnya saya bersyukur, Jawab Yenny.


Terkadang manusia tidak jauh dari kealpaan. Apalagi bagi yang pernah bergerak di politik, pemerintahan. Ada saja momen-momen yang bertentangan dengan hati nurani. 


Nah, menjadi anaknya Gus Dur adalah benteng agar  tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani. 


#DearDifaa #DearHilwaa Apa yang sudah ditanam oleh para sesepuh dulu, sudah bisa dipanen anaknya sekarang. Orang-orang menyebutnya dengan kebaikan. Integritas. 


Dari sebuah pekerjaan yang saya geluti lebih dari dua tahun ini, ada banyak hikmah yang saya yakini saya akan mengambilnya. Saya dipertemukan dengan berbagai karakter manusia. Dari yang putih, sampai yang hitam. 


Manusia baik dan buruk akan kelihatan ketika sedang duduk sebagai “raja”. Pemangku kebijakan. Atau sekedar sebagai kaki tangan raja. Setiap orang baik tentu saja berpeluang melakukan hal-hal buruk, kecuali dia mempunyai tameng, senjata rahasia, untuk terus berlaku lurus.


Jika mbak Yenni Wahid tamengnya adalah orang tuanya, para sesepuhnya. Maka terdapat orang yang saya kenal tamengnya adalah masa silamnya. 


“Saya dari dulu sudah biasa tidak punya uang mas, jadi kalau sekarang tidak punya uang ya tidak masalah”. Kalimat itu dikatakan oleh seorang ”raja” kepada saya waktu siang di udara yang dingin.


Lagi,

“Saya kan asli Provinsi J, Rumah saya itu desa pelosok, Mas. Berangkat sekolah ke ibu kota kecamatan harus jalan kaki 10 KM, itu belum pulangnya saya ngarit rumput untuk makan kambing”. Kata seorang pelayan masyarakat,  sekaligus pejabat anggota keamanan negara. 


#DearDifaa #DearHilwaa

Saya tidak tahu, harus pakai tameng seperti saya agar berlaku lurus, nenek kakekku dulu orang petani biasa, tapi nenekmu selalu berpesan untuk selalu jangan pernah meninggalkan shalat. 


Duhai kalian berdua, PR saya, senjata apa yang harus saya siapkan untuk mengarungi zaman kalian nanti. Duhai aku. Berbuat baiklah. 


Rambu-rambu itu adalah kebaikan, yang membentengi kebaikan.

#DearDifaa


Suatu siang di penghujung bulan Juli, langit tidak menampakkan panas, tidak pula hujan. Langit begitu sederhana. Apa adanya. Ibumu sudah menampakkan tanda kesakitan luar biasa. Itu sebagai tanda adikmu akan hadir di dunia.


Kita bergegas, sebenarnya banyak opsi kendaraan yang dipakai kita menuju rumah persalinan, tapi Ibumu memilih diantar dengan motor Supra butut saya. Dan kau Difa, anak gadis berumur empat tahun sudah menampakkan kedewasaanmu, kau berkenan ditinggal bersama tantemu. Saya sangat mengapresiasi itu.


Beberapa jam kemudian, kau menyusul bersama tante. Dan saya tahu, kau belum makan seharian setelah pulang sekolah. Kamu saya tawari makan makanan chiken siap saji – yang dulu saat kau masih kecil suka makan itu. Kau menolak.


Sementara pembukaan kelahiran adikmu sepertinya masih lama. Saya tinggalkan Ibumu sebentar dan mengajakmu makan. Pilihanmu jatuh pada tenda angkringan di bawah pohon beringin. Angin semilir sore itu, kau memesan es teh, memakan lontong dan gorengan. 


#DearDifaa. kamu yang dulu pecinta Chiken siap saji, kini memakan apa yang ayahmu makan: lontong dan gorengan. Bagi saya, ini adalah hal luar biasa. Terimakasih Difa. Ibu dan adikmu sedang berjuang. Dan kamu menunjukkan kedewasaan.


31 Juli tepat berkumandang adan Isya, hadir adikmu di dunia, membersamaimu tumbuh bersama. sehat senantiasa. Rukun agawe sentosa. Bersama: Hilwa Naina Zahida.

 #DearDifaa


Saya bapakmu, lelaki yang biasa saja. Saya biasa berkongsi dengan Ibumu pekerjaan rumah. Bila ibumu memasak, saya yang bertugas mencuci piring. Jika Ibumu mencuci piring, saya yang mencuci baju. Dan seterusnya. Itu biasa bagi saya. Karena saya ini lelaki yang biasa saja. Dan tugas-tugas yang konon kata kebanyakan orang terlihat feminim semua bisa saya lakukan. Karena bapak saya dulu begitu, karena lelaki asal Jombang yang ku sebut sebagai guru juga melakukan seperti itu. 



Tulisan ini bukan tentang hari perempuan. Mungkin lebih dari itu. Saya ingin membawamu ke perspektif lain, agar kamu bangga menjadi seorang perempuan. Bapakmu akan bahagia.



Suatu ketika, kelak, kau akan mendengar, Kisah nabi laki-laki dijadikan dalih untuk memberikan stereotip kepada perempuan bahwa mereka makhluk lemah, tidak mendapat kepercayaan atau mandat dari Tuhan. Mungkin ini salah satu argumen para Patriarkal dengan mudah memperlakukan istri dan perempuan secara semena-mena.



Rasyid Ridha dalam bukunya Wahyu Ilahi Kepada Muhammad, menerangkan kata 'nabi' secara bahasa. Nabi berasal dari kata Nubuwwah, yaitu Ar-Rif’ah. Asy-Syaraf, yang berarti keagungan, kemuliaan. Dalam bahasa Ibrani kuno, diartikan sebagai : “Yang berbicara tentang perkara keagamaan dengan suara keras”. Sedangkan secara umum kita menerima pemahaman bahwa nabi adalah orang yang menerima wahyu dari Allah.



Kalau kita telisik, ada loh perempuan yang langsung dihibur oleh Allah. Perempuan yang saat itu ketakutan kepada rezim yang kejam. Allah sendiri yang langsung menghiburnya. Perempuan itu adalah Ibu nabi Musa (selangkapnya lihat Alqur'an Surat Alqashash ayat 7). Ini menunjukan kedudukan perempuan itu tinggi sehingga Allah sendiri bahkan yang bercakap-cakap secara langsung layaknya bercakap kepada para kekasihNya.



Amina Wadud Muhsin, secara lebih tajam dalam bukunya berjudul “Wanita di dalam Al-qur’an”, memberikan deskripsi tokoh-tokoh perempuan yang dipercaya Tuhan sebagai nabi. Mereka adalah Ibu Musa, Maryam, Balqis, dan Ratu Sheba. Maryam sendiri di kalangan kaum sufi memiliki kedudukan tertinggi karena kedekatannya dengan Tuhan dalam ketaatan dan melahirkan nabi Isa.


Wadud menulis:


“Alquran menyatakan, Ibu Musa telah menerima wahyu, jadi memperlihatkan bahwa wanita, seperti juga kaum pria bisa saja menerima wahyu. Kasus Ibu Musa memperlihatkan bahwa wanita memang berbeda dalam sejumlah aspek, namun di sisi lain wanita juga bisa universal terhadap masalah tertentu.”


Tahun 1959, awal-awal Indonesia merdeka, Indonesia memiliki duta besar perempuan yang pertama, dilantik Presiden Soekarno menjadi Dubes di Belgia, namanya Leili Roesad. Perempuan Muslim berbaju kebaya. 



Pelantikannya sebagai duta besar pada tahun itu menjadi berita besar di Belgia. Dan di negara yang penduduknya mayoritas Muslim seperti Arab Saudi dan Malaysia diperbincangkan, seolah-olah, “mengapa Soekarno mengangkat perempuan jadi duta besar?".



Era itu, posisi politik perempuan tidak begitu ramah, apalagi di negara-negara Muslim. Soekarno memperkenalkan Leili Rusad. Masyarakat Indonesia mendukung keputusan Soekarno. Tidak ada yang marah. Ia dilantik. Perjalanan sejarah mengalir. Indonesia sejak awal berdirinya sudah maju. Pemahaman masyarakat tentang keislaman sudah hebat. Semoga tetap demikian adanya. 



#DearDifaa. 


FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE