Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

#DearDifa

#DearHilwa

dan

#DearKamuYangBersemayamDalamSepi



Hari ini pikiran dan perasaan saya campur aduk. Konon sastra yang paling murni adalah puisi. Saya ingin sesekali membuat puisi untuk kalian. Bukan sekedar cerita bualan. Namun apa daya, tulisan ini sebisa-bisa saya, semampu saya.



Sejujurnya saya tidak ingin merawat kesedihan, selain tidak baik untuk kesehatan paru-paru, kesedihan itu seperti luka, menyakitkan. Namun biar bagaimanapun, kita sebagai orang kecil, rakyat jelata, terkadang kesedihan dan kesengsaraan tetap dijaga, supaya kita selalu mawas diri dan waspada, sebenarnya hidup itu tidak hanya tentang bahagia.


Setelah hari ini, saya menemani sepupu saya bertawasul meminta hajat-hajatnya di sebuah Makam Wali. Banyak kisah ketika dulu kami masih kecil yang kami ceritakan ulang. Sepakbola, belajar, berkelahi, memanjat, bersepeda sampai puluhan kilometer dan lain-lain. Sebagaimana kisah biasa, kisah-kisah kami dulu seperti kisah keromantisan anak-anak yang kan selalu kami kenang.


Sekarang sepupu saya bekerja sebagai supir di perusahaan Tengki Pertamina, hampir setiap hari berangkat jam 2 dini hari, pulang malam 11 malam. Dilanjut lagi, setiap hari seperti itu. Jarang pulang. Tidur di jalan gantian. Pahit manis kehidupan jalan ia rasakan. Pernah ia tertahan di Polres berhari-hari karena tak sengaja truknya melindas orang, dan korbannya meninggal.



Di tengah perjalanan pulang dari makam wali, handphone sepupu saya berdering. Dia mengatakan bahwa itu adalah telpon dari putrinya. Telpon ia angkat. Percakapan ayah-anak yang jarang bertemu karena sebuah keadaan mengalir. Bercerita tentang baju lebaran, puasa dan sebagainya.


Getir.

Pada dasarnya, saya ini lelaki picisan. Rintik sedan berjatuhan.



#DearDifa umur putri sepupuku itu kurang lebih setahun di atas mu. Dan kau pernah foto berdua dengannya. Tentu saya tidak bisa membayangkan jika saya jauh darimu. Bagaimana nanti saya akan mengobati rindu yang pastinya menggebu.



Putrinya itu memanggil sepupu saya dengan sebutan Abi. Dia berkisah, bahwa puasa tahun ini, puasanya full sebulan penuh tanpa bolong, baju lebarannya ada 3 pasang. Dan dia merajuk, lebaran hari ini abinya tidak menemuinya. Tidak membelikan baju lebaran untuknya. Percakapan-percakapan selanjutnya saya tidak tertarik mengikutinya.



Hatiku remuk redam.



Sepupuku itu masih seperti dulu, lelaki yang tabah dan kadang lucu.



...................

Seorang kawan saya, lelaki asli Jepara saat dulu berkunjung ke rumahku pernah mengatakan, bahwa laki-laki yang paling beruntung itu seperti saya, mempunyai dua anak perempuan. Anak perempuan, kata kawan saya adalah benteng, benteng untuk ayahnya. Benteng pertahanan dari segala hal negatif.


Teman saya yang lain juga mengatakan kurang lebih sama. Dia berhenti minum alkohol dan segala hal yg negatif berkat kelahiran putrinya.


Semoga saya demikian. Selama ini Allah tutup segala keburukan saya.



Adapun sepupu saya, dia lelaki yang baik, dari dulu dia sangat baik. Cuma terkadang agak semrawut, tapi sesungguhnya baik. Dan dia tentu saja berhak bahagia beserta istri barunya.



Walangsanga, 04 Syawal 1444 H.

Pintu diketuk.

Ini sudah pukul 10 malam. Ini adalah hari mendekati lebaran. Saya sebenarnya telah mengantuk setelah aktifitas pagi sampai sore hari itu. Dengan rasa malas saya membuka pintu. Ternyata memang dia.


.......................................................................


Seseorang tiba-tiba menghubungi saya, bahwa dia akan mengunjungi saya malam itu juga. Telah lama kami hilang kontak. Terakhir bertemu sekitar 5 atau 6 tahun lalu. Dengan segala pertanyaan di hati, apa yang sebenarnya terjadi. Ada kepentingan apa dia malam-malam jauh-jauh mendatangi saya di pelosok desa.



Dia sahabat saya. Kuliah jurusan seni musik. Hampir 5 tahun di kota orang, dan dia adalah salah satu sahabat yang berasal dari satu kabupaten dengan saya. Segala manis pahitnya pernah melalui bersama. Beberapa kali saya juga hutang budi dengan dia. Saya tahu betul karakternya.



Saya duga dia akan meminta hutang atau jangan-jangan dia sedang terlibat masalah hukum yang besar. Yang nantinya pasti akan merepotkan saya. 😅 Ini sudah mendekati lebaran.



Dengan kondisi sosial ekonomi Indonesia sekarang ini, apa pun bisa terjadi. Tapi yang jelas dia cukup tahu, bahwa kehidupan ekonomi saya dari dulu ya seperti itu-itu saja. Tak mungkin dia berhutang padaku.


Saya suguhkan beberapa makanan sisa berbuka puasa. Belum lama kita basa-basi. Dan tiba-tiba dia minta makan nasi. 😅 

Adegan ini tentu khusus untuk kawan yang dekat. Hanya nasi putih. wkwkw



Rasa penasaranku masih tanda tanya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan dia.



“Bro, istrimu mana?”.



Pertanyaan ini memang agak sulit keluar dari mulut saya. Saya hampir tidak pernah bertanya kepada seseorang kapan dia nikah, dan kapan dia punya anak dan pertanyaan-pertanyaan tendensius lain. Bagi saya pertanyaan macam itu adalah pamali. 



Maka, agak canggung juga ketika saya menembak dengan pertanyaan itu. Terlebih dia tidak pernah aktif di sosial media. Saya tidak tahu kabar terbarunya.



Maka dia hanya senyum. Kemudian kami tertawa. 



Selanjutnya, dia menceritakan berbagai pencapaian-pencapaian yang telah diraih. Lebih tepatnya kegagalan-kegagalan dia sebagai manusia.



“Saya jadi ingat, saat dulu, ketika kita masih berjiwa muda, saat dalam sebuah evaluasi, kau mengkritik saya secara pedas, membabi buta, padahal dalam organisasi itu, kau adalah wakilku dan aku adalah ketuanya. Tapi kau mengkritik dalam forum, dilihat dan didengar banyak orang. Bahwa sebuah sumber kekacauan itu adalah aku, kritikanmu itu selalu aku kenang sampai sekarang, kritikan itu membangun". Kata dia dalam pertengahan obrolan kami.


Saya sendiri sudah lupa, kapan saya mengucapkan kritikan pada dia. Aihhh saya jadi kangen dengan diriku sendiri di masa lalu. Peluk erat untuk diriku waktu itu.



Dia sekarang sudah bangkit. Sudah siap menghadapi dunia lagi. 


Sebagai musisi dia berkisah, dia pernah stres mendengar bunyi-bunyi. Suara. Suara apapun. Tetasan air kamar mandi. Kicauan burung. Suara mesin motor. Dan lain-lain. 


Saya merasa kasihan dan takjub. Ini seperti yang digambarkan Andre Hirata, bahwa pemain orkestra mengulang-ulang terus suara dan nada yang sama, seperti kutukan menjadi kaset kusut yang rusak. Kalau hanya puluhan kali, tidak mengapa. Tapi jika sudah ratusan atau ribuan kali. Sudah pasti inalillahi.



Inilah mengapa, sebagai orang yang awam musik, saya harus apresiasi lebih kepada seniman musik.



Dia juga berkisah bagaimana kawan-kawannya (kawan-kawan saya juga) setia membantunya dari berbagai masalah. Belenggu hitam yang menjerat dia. Satu persatu dia lepaskan. Dan sudah menjadi takdir dia untuk berubah menjadi lebih baik lagi.



Di hadapan dia, tentu saya harus merasa tegar. Padahal setiap orang juga pasti mempunyai masalah yang dihadapi. Begitu juga dengan saya saat ini.



Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. 

“Bro, ini kalau dijadikan podcast tentu bagus sekali, ditonton banyak kawan kita”, kata saya.

“Ndasmuuu. Banyak sekali rahasia saya nantinya terbongkar wkwkwk”.



Sebelum dia pamit, saya bekali oleh-oleh “mantra ajaib”. Saya bukan dukun atau agamawan. Hanya sekedar mantra rasional biasa.


Sehat dan bangkit untuk kita semua.



Sebagai seorang laki-laki, saya harus akui ini. Ada ketakutan-ketakutan sendiri. Kekhawatiran hidup yang tak pasti. Salah satunya adalah cemas atas kebutuhan ekonomi yang dari tahun ketahun semakin tinggi.


Jika membaca berita, atau sebaran brosur iklan sekolah, pesantren dan perguruan tinggi, rasa-rasanya biaya pendidikan di Indonesia tidak mungkin saya gapai untuk membiayai pendidikan #DearDifa #DearHilwa dan #DearKauYangBersamayamDalamSepi kelak mereka dewasa nanti. Bingung dengan semua ini. 


Memang betul, di bank-bank BUMN ada pilihan menu layanan tabungan untuk biaya pendidikan anak-anak di masa depan. Yang katanya itu aman. Tapi persoalannya tidak seperti itu. Boro-boro untuk nabung, ya kan?



Namun selalu saya yakini dan saya syukuri, kelak pasti ada solusi. Keyakinan itu seyakin bahwa esok mentari akan terbit kembali.



Saya belajar dari Ikan Paus. Dan Juga Cicak.

Paus itu termasuk mamalia yang membuat saya kagum. Begitu pula saya takjub dengan cicak. Bukan ke paus atau cicak itu, tapi kepada sang pencipta mereka.


Setiap kali ada masalah tentang rizki dan mulai berfikir aneh-aneh “kelak suatu saat apa bisa membiayai anak-anak sekolah?” atau “Duh Allah, bagaimana ini. Saya bingung harus apa”. Saya selalu ingat tentang Paus dan cicak itu.


Ikan Paus, konon mereka butuh setidaknya dalam sehari membutuhkan 3-4 ton Krill– sejenis udang kecil yang hidup di lautan.


Paus Biru misalnya, dalam berikhtiar menangkap krill, dia membuka mulutnya dengan tubuh vertikal di tengah laut. Agar Krill yang sudah masuk di mulutnya mendatangkan ikan-ikan lain yang ukurannya lebih besar dari krill.



Siapa yang ajarkan dan mampu sediakan makanan sebegitu banyak, dengan populasi paus yang juga tidak sedikit?


Cicakpun demikian, dia pemangsa nyamuk. Nyamuk punya sayap. Sementara predatornya hanya punya 4 kaki. Tentu Allah akan mempermudah urusan rejeki cicak jika Dia menciptakan sayap untuk cicak. Tapi poinnya bukan di sana.



Semua makhluk yang Tuhan ciptakan pasti ada tujuan dan alasan. Tujuan Allah menciptakan jin dan manusia itu ya ibadah. Namun ibadah sendiri banyak sekali dimensinya. 


Lalu alasan paling logis kenapa kita diciptakan adalah supaya kita berfikir. Alquran sendiri yang mengatakan berkali-kali: Afala Tatafakuran, Afala Ta'qilun. 



Ohh Jadi begini cara Allah bagi-bagi rezeki. 

Bahwa Allah selalu rawat kita.



Hidup itu bukan selalu tentang gembira, bahagia, kenyang, tertawa dan hal-hal menyenangkan lainnya.



Setiap diri kita pasti mengalami tidak baik-baik saja. Melewati hal yang kurang menyenangkan harus tetap bergembira.



Tapi soal sayangnya Tuhan, jangan pernah buat kita syukuk atau ragu. Terus berbaik sangka, percaya paus sebesar itu, Tuhan rawat, cicak yang tidak punya sayap saja tetap makan nyamuk. Apalagi kita yang cuma butuh sepiring nasi setiap harinya.



Allah Yang Terus Maha Ndak Tega.


 #DearDifa

#DearHilwa


Saya selalu takjub dengan cara Allah mengasihani saya yang malang. Sebagaimana saya merasa sangat senang ketika suasana pagi hari, Allah selalu menghadiahi saya pagi, lagi dan lagi.


Contohnya adalah kalian berdua, #DearDifa lahir di bulan April 7 tahun yg silam. Bulan yang kata Syaikhona Maimun Zubair adalah bulan Robi' yang artinya bulan keempat. Konon, bulan ini adalah bulan Rasul Muhammad dilahirkan. Segala tonggak kehidupan tahun ini ditentukan, apakah akan kaya atau miskin. Akan mempunyai uang atau tidak. Ditentukan oleh Allah di bulan ini. 


Jika di bulan ini mempunyai uang, maka setahun mendatang akan dicukupkan oleh Allah kebutuhannya, itu yang ngendika adalah Mbah Mun. Tidak ada dalam literasi hadis atau kitab manapun. Tentu bisa diverifikasi oleh siapa saja.


Apakah seorang pekerja yang mendapatkan gaji tiap bulannya juga termasuk pemegang uang di Bulan April? Tanya seorang kawan, iya jawab saya. Tapi gaji itu seberapa lama bertahan ia pegang. Modern ini, banyak gaji pekerja yang “hanya lewat” saja.


April itu tentang keberkahan.


#DearHilwa lahir di bulan Juli. Bulan kebangkitan. Terdapat sejarah besar di Nahdlatul Ulama. Juli di tahun 1952, NU mendirikan partai sendiri dengan memisahkan diri dari Masyumi. Meskipun historiografi khitoh dan politik NU banyak sekali perdebatan. Akan tetapi Juli bagiku adalah bulan tonggak kebangkitan. Kebangkitan bagi santri atas berbagai keterpurukan.


Juli itu tentang kebangkitan.


Tapi di atas semua itu, saya merasa sangat bahagia dan bersyukur. Melihat keajaiban-keajaiban April Juli di depan mata saya. Keajaiban proses tumbuh kembang dua bayi orok yang merah darah, kini sudah berlari ke sana kemari. 


Keberkahan April. Kebangkitan Juli.


#DearDifa

#DearHilwa



#DearDifa

#DearHilwa

dan

#DearKauYangBersemayamDalamSepi


Mata saya membiru, ketika melihat sebuah video yang lewat di beranda sosial media. Video itu adalah seorang ayah yang dipenjara dan dijenguk seorang anak perempuan. Perempuan kecil itu berusaha memeluk ayah yang berada di balik jeruji besi.



Beruntung polisi yang menjaga sel tahanan itu membukakan pintu besi agar perempuan kecil itu bisa memeluk ayahnya tanpa terhalang. Tentu sikap polisi baik itu dapat pujaan dari berbagai kalangan. Polisi baik itu seperti malaikat.


Hukum di Indonesia apapun bisa terjadi. Seorang ayah tadi yang dipenjara, belum tentu dia berbuat jahat. Atau mungkin kalaupun dia jahat, satu pelukan putrinya adalah obat. Pelukan adalah penawar segala macam jenis penyakit.


Mungkin seorang laki-laki dewasa bisa saja menahan rindu, jauh dari kekasihnya. Tapi tidak bisa jauh dari putri-putrinya. Pun dengan ayahmu yang cengeng ini.


#DearDifa #DearHilwa satu pelukan, ciuman yang bertubi-tubi dari kalian setiap hari, setiap saat adalah obat untukku. Obat untuk setiap kegelisahanku. Obat bagi kelelahanku. Obat atas dosa-dosaku.


Konon dalam sebuah penelitian kardiolog, jantung manusia adalah makhluk sosial, dia butuh pelukan dan kasih sayang orang sekeliling. Agar terus sehat. Terus bermanfaat. 


Dalam ilmu psikologi, satu pelukan juga sebagai terapi. Jaman yang semakin modern sakit mental tentu sering terjadi. Jika kau merasa sendiri, merasa sedih, katakanlah padaku, aku akan memelukmu.


Pelukan tentu bukan budaya kita. Amat jarang kita temui leluhur kita dalam banyak foto dan album–Dalam momen bahagia berpelukan. Namun dalam momen-momen tertekan, pilu, banyak mereka berpelukan. Seperti kisah Rumini yang tidak tega meninggalkan ibunya yang renta, mereka meninggal terkena wedus gembel Gunung Merapi dalam keadaan berpelukan. Dan kisah-kisah lainnya. Pelukan itu saling menguatkan.


#DearDifa

#DearHilwa

dan

#DearKauYangBersemayamDalamSepi

Terimakasih pelukan-pelukan itu. Pada dasarnya saya sedang tidak baik-baik saja. Maka peluklah aku selamamu. Aku juga akan memelukmu selamaku. Walaupun aku tahu, salah satu hal yang saya khawatirkan tentang waktu. Kalian tumbuh dewasa. Dan malu untuk memeluk bapak.





FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE