Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

DearHilwa, #DearDifa, #DearAsfar


Saya selalu berdoa, apa yang saya lakukan semoga dijauhkan dari segala hal yang berbahaya. Berbahaya itu luas maknanya. Berbahaya untukku saat ini. Atau berbahaya saatku nanti. Itu yang diajarkan bapakku dulu.


Hari-hari ini, tahun-tahun ini, saya sibuk dengan urusan duniawi. Seolah hasil dari usaha-usaha dan ikhtiar ini akan terus langgeng abadi. Tentunya tidak. Kesederhanaan bapakku dulu, yang sirkel pertemanannya hanya satu desa, dan tidak muluk-muluk menjadi apa atau siapa, perlu saya ceritakan kembali padamu. Tentu sebagai tanbih untuk ku.


Bulan Desember seharusnya turun penghujan. Cuaca semestinya dingin. Tapi sebaliknya suhu hati dan pikiran selalu memanas. Memikirkan nasib, bagaimana selanjutnya hari esok nanti. Makan apa saya nanti. Apa nanti segala cita dan mimpiku terpenuhi. Segala kemungkinan pasti ada dan terjadi. Dan itu sudah terjadi pada banyak lelaki tua, payah, dan miskin di sekitar saya: tua dalam keadaaan mengenaskan. Tidak dihiraukan.


Kalau tidak seperti itu, kemiskinan, kemelaratan, dan kepenyakitan membayangi-bayangi setiap lelaki yang tidak pasti di masa sekarang atau masa tua nanti. Mungkin ini, salah satu perlunya asuransi. Segala provider asuransi banyak beriklan, tapi jangankan asuransi, nasib kita hari ini?


Aihhh #DearDifa, berbagai cerita selama umurmu 6 tahun ini, telah kita lewati bersama. Susah sedihnya. Dan Allah sendiri yang menjamin kita, detik ini juga masih tertawa. Dan #DearHilwa, 2 tahun umurmu lebih, kita Insya Allah akan selalu berbahagia. Kita akan menggambarkan kisah-kisah penuh kegembiraan. 


Hari ini, bapakku, tepat sudah 20 tahun menghadap Allah. Banyak kisah-kisah yang sebenarnya saya ingat-ingat lupa. Tetapi lelaki itu, duhai #DearAsfar adalah lelaki yang sederhana. Proses hidupnya yang menempa menjadi lelaki apa adanya.


Maka, ketika saya memutar album Iksan Skuter 'Bapakku Indonesia', yang setiap pagi kita dengar bersama, ingatan-ingatan itu semakin jelas.


Lagu 'Pulang', adalah salah satu favorit saya. Lelaki dengan segudang prestasi kegagalannya. Merantau, tapi gagal. Lapar dan kedinginan tak berkesudahan. Merindukan pulang ke rumah, pada sore hari di teras duduk bersama bapakku ditemani teh panas ibu. Setelah gagal, ingin pulang, merindukan hal-hal yang sederhana: tidur di kasur empuk, diselimuti bapak, makan sayur bayam masakan ibu. Bagi saya, yang sudah 20 tahun berlalu, untuk mencapai itu, tentu tidak mungkin lagi di dunia ini: diselimuti bapak.


Lagu judul 'Bapak', Iksan skuter. Adalah hal yang mustahil lagi bagi aku. 

Ada manusia yang paling ingin aku peluk,

Tapi aku malu....

Tidak juga malu sebenarnya,

Hanya angkuh sebagai lelaki dewasa,

Orang yang sepertinya tak peduli dengan apa yang kulakukan.

Diam-diam bertanya kabarku.

Diam-diam menanyakan segala hal tentangku pada ibu.

Melalui lagu ini, Iksan mengejawantahkan padaku, bahwa saya ini tidak mungkin lagi akan memeluk bapakku. Meskipun saya sudah dewasa. Keangkuhan-keangkuhan ku tidak bisa menembus waktu. 


Lagu, 'Nak Jangan Seperti Bapak', seolah bapakku sendiri yang mengatakannya langsung: 

Janganlah seperti bapak, yang, susah mewujudkan mimpinya. 

Besarlah dengan semua harapan yang kamu miliki. 

Ku iringi doa dari hati kami. 

Bapakku entah bagaimana mestinya, bagaimana keadaannya di sana, masih saja mendoakan aku, menyertakan langkah-langkahku. Lelaki sederhana itu, tamatan SLTA pada jamannya, membuang predikat apa saja. Tidak gila jabatan untuk menjadi kepala sekolah. Dan lebih memilih menemani masa-masa kecilku. Memboncengku dengan sepeda butut itu, kedua kakiku diamankan dengan tali yang terbuat dari sobekan kain agar tidak masuk ke jeruji besi sepeda itu.


Lagu 'Yang Ku Ingat Dari Mu', masih di Album Bapakku Indonesia: 

Yang kuingat darimu

Kau bisa membuat Masakan yang enak

Disaat ibu bepergian. 

Yang kuingat darimu

Terkadang dirimu joget dan melucu. Agar kami semua tertawa bahagia.

Itulah dirimu yang katanya ibu, lelaki tak romantis itu. 

Itulah dirimu yang kata tetangga galak tak pandai melucu.


Dari lagu ini, saya ingat, beberapa murid bapakku dulu, sangat sayang pada bapakku. Mereka mengatakan langsung padaku saat beberapa tahun lalu kami bertemu. Ini bukan sekedar klaim sepihak. Bahwa bapakku dulu, galaknya luar biasa. Tapi entah bagaimana, ia amat disayang para murid²nya. Metode dan strategi seperti apa yang dulu dia terapkan saat mengajar. 


Bapakku tentu orang yang humoris, setidaknya hanya denganku. Banyak banyolan-banyolan yang sering kami ulang² bersama, dan kami tertawa bersama. Mentertawakan hal-hal yang biasa saja. Tapi kami bahagia. Pernah juga saya melihat dia menangis. Momen itu, adalah saat saya baru pulang dari khitan. Beliau merangkul pundakku sambil kami berjalan, dan berkata lirih: “aku khawatir”. 


Bapakku tentu tidak tahu teori-teori apa itu kesetaraan gender. Feminimisme. Tapi dari dialah saya belajar praktik bagaimana memperlakukan perempuan kesayangannya, berbagi tugas dalam mengurus rumah tangga. Mencuci baju, mencuci piring, menyapu, adalah hal biasa.


Lagu 'Pesan Untuk Mu', masih di Album yang sama: Jaga kehormatanku

Sepertiku menjagamu

Saat nanti ku mati

Ingat slalu pesanku.

Syair lagu ini, adalah lirik tentang pesan, agar aku tetap berintegritas sebagai manusia. Bagaimanapun pun keadaan ku sekarang dan nanti. Menjaga kehormatan bapakku adalah hal yang wajib, yang saya junjung tinggi: Integritas sebagai manusia. 


Pada akhirnya lagu 'Serigala Petarung' sebagai Gacuk atau senjata rahasia pemungkas untuk mengobarkan api semangat:

Aku takkan menyerah, tak lelah.

Aku takkan menangis, 

Mimpiku tak pernah habis.


#DearAsfar, insya Allah, jika diberi kesempatan, kesehatan, saya akan menemani mu menjadi lelaki yang lebih keren dari Bapakku. Bapakku menginggal dalam usia muda, aku ingin menemani mu sampai aku tua .

Dua puluh tahun yang lalu, lalu hujan turun memenuhiku, seakan diriku dengan Bapakku di teras rumah, ditemani teh panas ibu.

Alfatihah....

#DearAsfar

#DearHilwa

#DearDifa



Ada banyak alasan kenapa saya harus menyimak ngaji Gus Ulil, Ulil Abshar Abdalla, meskipun saya jarang ikut ngaji secara live. Namun dalam kesibukan aktivitas saya mencari keberkahan duniawi, Insya Allah saya sempatkan mendengar lewat rekaman di Spotify.


Diantara alasan itu adalah, metode ngaji. Meskipun yang dikaji pembahasan tasawuf hingga tauhid dan filsafat ala Imam Ghazali, yang cukup memeras otak dan membuat kernyitnya dahi. Metode Gus Ulil, seperti metode pesantren klasik; gramatika tarjamah tidak ditinggalkan. Pasti disisipi nahwu sharaf dalam pembahasan.


Selain itu, bagi saya Gus Ulil ini sosok yang unik, anak kiai yang berasal dari pesantren tradisional yang konservatif. Hingga jalan intelektualnya yang mengenyam pendidikan di Amerika. Maka tidak jarang, dalam ngaji istilah-istilah asing juga sering disebut. Tokoh-tokoh orientalis atau pemerhati Islam dari barat juga tidak luput dibahas. Tentu ini, menjadi literasi pengembangan wawasan santri.


Dalam ngaji terkahir, kitab Al Iqtishad fi Al I'tiqad – tentu saja karya Al Ghazali. Ini sedang seru-serunya pembahasan perdebatan antara Mu'tazilah dan Asy'ariyah, tentang apakah kelak Tuhan bisa dilihat oleh manusia?


Sebagai santri yang tumbuh di kalangan pesantren NU, yang sudah mengenyam ilmu akidah Imam Abu Hasan Al Asy'ari dan Imam Abu Mansur Al Maturidzi, tentu sudah terbiasa mempelajari “doktrin-doktrin” ilmu tentang ke-Esa-an Allah. Namun bagaimana ajaran tauhid Asy'ari dengan nalar-nalar Imam Ghazali mementalkan ajaran Mu'tazilah? Mu'tazilah ini adalah ahli dalam berlogika. Tapi justru logika ini dipatahkan oleh imam Al Ghazali.


Inilah salah satu keseruannya.


Sebelum membahas lebih dalam ke sana, Saya ingin berkisah lebih dahulu. Saat saya mengenyam pendidikan di salah satu perguruan tinggi Islam negeri, saya mendapatkan dosen favorit. Dia mengampu mata kuliah Filsafat Bahasa. Dari beliau, Filsafat yang bagi saya dan teman-teman di kelas itu sukar karena kerumitannya, dibuat kelas yang hidup dan menyenangkan. Diskusi-diskusi filsafat yang sering diselingi canda tawa. Nah beliau ini mengaku berfaham Mu'tazilah.


Dari sini stereotip saya tentang Mu'tazilah berbeda. Bahwa dulu, ajaran Mu'tazilah itu sesat dan menyesatkan itu, ternyata jauh dari itu. 


Mereka memang mengedepankan nalar dalam beragama, memang iya. Tapi ada banyak hal yang tidak bisa dilogikakan. 


Kembali ke laptop.


Kitab yang dibahas Gus Ulil, Al Iqtishad fi Al I'tiqad karya Imam Al Ghazali, Kata Al Iqtishad sendiri bermakna jalan tengah dan fi Al I’tiqad berarti dalam masalah akidah. Jadi kitab Al Iqtishad membahas jalan tengah dalam akidah. Jalan tengah yang dipilih Al Ghazali dalam kitab ini merupakan ciri beliau dalam bersikap dalam aqidah.


Mu'tazilah mengatakan bahwa di hari kelak, Allah tidak bisa dilihat oleh manusia. Bagaimana mungkin Allah bisa dilihat? Mu'tazilah menyatakan: Sesuatu bisa dilihat itu harus masuk dalam ruang dan waktu. Masuk dalam suatu arah. Misal, jika si A melihat si B, si A melihat si B harus dalam arah: depan, belakang, samping kanan, samping kiri, tengah, atas, dan bawah, itu adalah arah. Masuk ruang dan waktu. Namun dalam argumen Mu'tazilah, Allah itu di luar ruang. Maka, tidak mungkin bisa dilihat.


Argumentasi Mu'tazilah dipatahkan dengan perumpamaan sebuah cermin oleh Al Ghazali. Seseorang dapat melihat dirinya sendiri di sebuah cermin. Padahal sesuatu yang dilihat di cermin adalah dirinya sendiri yang di luar ruang dan waktu. Itu bisa dilihat.


Menurut Al Ghazali, sebelum jauh pembahasan lebih panjang, ada sesuatu hal yang harus disamakan. Atau ada persepsi yang harus (Al Ghazali dan Mu'tazilah) sama-sama setuju sebagai dasar dalam adu argumentasi. Karena jika dasar berfikir saja sudah berbeda tentu tidak akan ada titik temu.


Sesuatu dasar itu adalah, pengertian ra'yun atau melihat. Al-Ghazali mengajak Klarifikasi lebih dahulu istilah melihat. Bagaimana pandangan Mu'tazilah dan Al Ghazali harus diselesaikan lebih dahulu, disamakan lebih dahulu tentang melihat.



Al Ghazali menawarkan makna arti melihat dengan berbagai syarat; pertama, harus ada mahal atau tempat. Tempat melihat, yang dimaksud Al Ghazali tempat adalah alat untuk melihat. Maka, alat melihat salah satunya adalah mata sebagai indera penglihatan.


Syarat kedua adalah, ada sesuatu yang dilihat. Ada muta'alaq atau objeknya. Kemudian syarat ketiga adalah ada yang melihat. Atau harus ada Failnya.


Maka apabila kita mengatakan ada aktivitas melihat, sekurang-kurangnya ada tiga syarat yang diajukan Al Ghazali: alat untuk melihat, objek untuk dilihat, dan siapa yang melihat.


Nah, berbicara objek penglihatan, biasanya ada ukuran, warna, benda, dan semua objek penglihatan. 


Namun Al Ghazali memberi pandangan bahwa mata itu bukan rukun atau pilar yang wajib ada sebagai syarat sah kegiatan melihat. Ada hati, ada otak, dan ada indera yang lain untuk melihat. Apakah itu boleh? Boleh kata Gus Ulil, dalam memaparkan teks Al Ghazali ini.


Pembahasan ini memang sedikit rumit. Karena saat belajar aqidah, secara tidak langsung juga belajar filsafat. 


Maka, menurut Al Ghazali, jika melihat Allah itu tidak harus melihat dengan mata, karena melihat tidak harus melalui mata saja.


Gus Ulil menambahkan, argumen Al Ghazali memang sedikit rapuh. Karena sisi lain, Al Ghazali sebetulnya ingin mengatakan bahwa, ketika Alquran menegaskan, kelak manusia yang beriman di hari akhir nanti bisa melihat Alla. Melihatnya itu tidak melalui mata, melainkan melihat secara majazi. Artinya ayat ini ditakwil. Seperti kalimat “Allah punya tangan”, itu bukan tangan dalam bentuk tangan biasa, sebagaimana tangan manusia, tapi tangan itu adalah kekuasaan Allah, maknanya. 


Ngaji Al Iqtishad fi Al I'tiqad, saat tulisan ini ditulis belum selesai pembahasan Asy'ariyah Vs Mu'tazilah.


Tulisan ini hanya interpretasi santri biasa. Berharap banyak keberkahan dari para Kiai Ulama.


Wallahu a'lam Bi shawab.



Suatu malam di tahun 2015, tanggal 17 Mei. Saya lupa harinya. Saya dan seorang kawan motoran dari Semarang menuju Yogya. Kemudian melingkar di Mocopat Syafaat. 

Hadir pula budayawan kondang Sujiwo Tedjo.


Saya masih ingat betul. Dalam tawasul awalnya Simbah, Setelah berkirim fatihah untuk Kanjeng nabi dan wali-wali, beliau bertawasul kepada kakek nenek moyang jamaah, untuk menghadirkan bahwa semua permalasahan para jamaah yang ada, agar nenek moyang mengetahui dan turut serta membantu berdoa supaya segala permasalahan hari ini segera menuju titik terang. 


Saya merinding. Seolah semua kakek nenek ku juga hadir di sana. Mengamini segala rengekan-rengekan manjak ku.


Setelah itu, Simbah berkirim fatihah, kepada anak cucu yang akan lahir kelak. Saya ber-amin sangat keras. Waktu itu, dua hari sebelumnya di tanggal 15 Mei, saya baru saja melamar perempuan yg kelak menjadi istri saya. Maka anak-anak saya hari ini adalah perwujudan dari doa-doa penuh kebaikan dan kebijaksanaan Simbah di malam itu.


Setelah tawasul selesai. Simbah berdoa untuk para jamaah, inti dari doa itu adalah, supaya para jamaah dijauhkan dari segala hal yang penuh marabahaya.


Pada waktu itu, marabahaya dalam tafsir saya adalah kecelakaan lalulintas. Atau terkena musibah bencana alam. 

Namun, setelah 8 tahun hidup pasca Mocopat Syafaat malam itu, marabahaya itu tidak hanya sebatas kecelakaan lalulintas, atau musibah bencana alam non alam, tapi ternyata lebih jauh dari itu;


Kehidupan rumah tangga yang tentram, istri yang menerima. Hasil pekerjaan yang halal. Anak-anak yang saleh-salehah. Dan segala kehidupan yang tidak butuh intrik dan politik “kecurangan”, senggol kanan kiri, adalah bagi saya saat ini manifestasi doa Simbah untuk dijauhkan dari segala hal yang penuh marabahaya.


......


Sudah menjadi kodratnya manusia, untuk merasa kekurangan. Setelah mendapatkan ini, pasti ingin itu.


Pun juga saya. Sebagai manusia biasa. 


Namun the wisdomnya Simbah selalu berputar-putar dalam telinga saya, kurang lebihnya;


Manusia itu akhsanu taqwim, masterpiece-Nya Allah. Lebih mulia dari apapun. Apalagi uang. Uang yang harusnya mengejarmu. Bukan kamu yang mengejar-ngejar uang.


Hari-hari ini saya berusaha memposisikan itu. Meskipun sulit. Tentu saya akan coba belajar. Saya tidak ingin mengejar apapun. Uanglah yang membutuhkan saya bukan saya yang butuh uang. 


Hidup lebih enteng. Lebih tentram. Saya tidak malu-malu mengakui bahwa saya ini anak maiyah. 


Maiyah memberikan saya banyak hal. Termasuk artikel jurnal ilmiah yang saya tulis tentang Simbah. Tapi saya tidak pernah berkontribusi apapun terhadap Simbah.


Doaku untukmu Simbah. Sehat cerah. Temani kami kembali.


 Kemarin hari Minggu.


Dari pagi saya sudah sibuk di depan layar komputer, menyiapkan hal-hal yang perlu disiapkan. Membaca banyak hal untuk saya baca dan teliti.



Sebetulnya ini tidak perlu terjadi, jika manajemen waktu saya mumpuni.




Hal-hal yang saya lakukan saat minggu pagi sampai sore kemarin adalah pekerjaan bodoh yang saya lakukan. Istilahnya santri, saya menembel. Saya menambal beban pekerjaan selama satu semester dengan diganti satu hari.



Tentu kepala pusing, dengan sejumlah deadline yang ada.



Maka ketika sore tiba, dan pekerjaan sudah saya anggap selesai, saya menemui Difa dan Hilwa. Kami jajan cilok. Beli 4 ribu untuk dijadikan dua bungkus.



Difa makan ciloknya 4 biji. Habis. Hilwa makan 3 biji. Yang satu biji untuk diri saya sendiri. Anggap saja setusuk cilok itu sebagai bentuk apresiasi untuk diri saya sendiri setelah kerja minggu pagi sampai sore.

Suwun Gusti, ternyata saya masih keren (keren jare dewek mbuh apa wkwk).



Terkadang, untuk menyelesaikan setumpuk pekerjaan yang melelahkan dan berat, ada hal-hal yang di luar sana untuk membangkitkan semangat. Semacam energi di luar diriku sendiri. Pokoknya ini harus selesai.



Dan energi itu adalah doa ibu.



Semoga segalanya dimudahkan, kata ibu. Jadi di saat saya memasang tabung LPG, dan berhasil, itu bukan karena saya yang keren. Tapi doa ibu yang melampaui ke sana. Walau itu hanya sebatas memasang tabung. 



Aihh aku. Jangan sombong wahai aku. Tapi kamu harus tetap aku apresiasi, Wahai aku. Setusuk cilok lagi untukku dan untukmu. Ada aku di dalam aku.


Kematian jenis apa yang kelak kau inginkan? Adalah pertanyaan yang kadang menari-nari di otak saya.


Di usia yang melewati kepala tiga lebih, saya pernah melihat banyak fenomena orang-orang dengan berbagai jenis kematiannya. Pun demikian dengan engkau, bukan?


Ada orang yang mati secara mendadak, dan tidak jarang juga banyak orang yang mati dengan melawati berbagai penyakit dahulu sebelum dia meninggalkan dunia untuk selamanya.


Salah satu kakek sahabat saya, dia mati dengan kesan lucu, kakek ini memang dalam kesehariannya adl orang yang lucu. Hidupnya penuh canda tawa. Pun saat dia dalam masa-masa terkahirnya, ketika dia sudah terbaring dalam sakitnya dia berdiri berjalan menuju kamar mandi untuk buang air kecil, sambil mengatakan, “Aku kok arep mati ndadak pengin nguyoh mbarang ki loh, jan jan...”.


Setelah itu dia kembali masuk ke kamar dan memejamkan mata selamanya. Para keluarga yang menunggunya terkesima. Konon Tuhan tidak bertanya seberapa banyak hartamu, dan bagaimana pencapaian duniamu. Tapi seberapa banyak manusia yang engkau buat tertawa bahagia.


Kembali ke topik atas, jenis kematian seperti apa yang kelak akan kau inginkan.


Apakah dengan mendadak, tanpa banyak pesan, atau dengan organ-organ tubuh dan jaringanmu yang rusak terlebih dahulu. Sambil kamu merepotkan keluarga terdekatmu. Ya jika kamu punya keluarga dan kerabat dekat.


Maka yang paling keren adalah, suami dan istri yang tetap saling berbagi dan melayani meski diantara keduanya salah satunya sudah mendekati ajalnya. Tentu jika kamu sudah bersuami atau beristri.



Orang yang akan melawati kematian konon adalah orang yang merasa kesepian. Tidak ingin ditinggal. Dia ingin ditunggu terus menerus.



Anak-anak saya tentu saja bukan anak saya untuk melayani kelak saya. Anak saya adalah anak untuk jamannya. Jamannya lebih membutuhkan mereka ketimbang saya pribadi. 



Saya juga tidak punya keluarga. Saya tidak punya adik, dan juga kakak. Lalu siapa yang akan menggantikan celanaku saat sudah tidak berdaya lagi untuk sekedar ke kamar mandi. 



Siapa yang kelak akan membersihkan kotoran-kotoran ku. Yang cintanya melebihi jiji kepada kotoran itu.



Saya tidak tahu.



Jenis kematian kelak yang aku inginkan adalah yang mutmainah, jiwaku yang pasrah. Toh kata Gus Baha, hidup mati itu cuma sekedar pindah dari rahmatnya Allah di dunia menuju rahmatnya Allah di akhirat. 



Hidup kok penak temen Gusti. Kelak mati pun semoga enak juga...

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE