Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

Cerita asal-usul ilmu Nahwu banyak dalam berbagai literatur Arab klasik. Dikisahkan, tokoh yang pertama kali mengkonsep, meng-epistemologi, aksiologi, hingga meng-ontologi Ilmu Nahwu (dan tata bahasa Arab lainnya–sharaf). Adalah Abu Aswad Ad Du'ali. Seorang Tabi'in yang tsiqah riwayat haditsnya.


Dalam buku Qowaidu Nahwi Bi Uslubi Al Ashri, karangan Muhammad Bakar Ismail, salah satu pengajar di Universitas Al Azhar, Kairo. (Saya ngaji kitab ini dari dosen saya Ustadz Yusuf Ahmad Hasyim, semoga Allah memberikan kesehatan selalu kepada beliau). Diceritakan, bahwa sebenarnya penggagas Ilmu Nahwu adalah  Imam Ali bin Abi Thalib. Abu Aswad, adalah salah satu pengikut beliau yang pandai dalam bahasa, maka Abu Aswad yang didelegasikan langsung oleh Imam Ali untuk merumuskan Nahwu.


Ada banyak faktor,  kenapa Nahwu harus lahir sebagai Ilmu pengetahuan. Salah satunya adalah kesulitan orang Ajam (non Arab) dalam mempelajari dan menyampaikan perkataan bahasa Arab, sebagai bahasa agama dalam Al-Qur'an.


Sebelum Nahwu (dan Sharaf ) lahir. Orang Ajam, akan selalu kesusahan. Bahkan orang-orang Arab sendiri pun juga kesulitan dalam menerka bahasa Al-Qur'an. Banyak kisah tentang orang-orang yang menafsirkan ayat Alquran karena kesalahan nahwu. Masyhurnya cerita surat At Taubah, misalnya. Baca  Kesalahan bacaan Nahwu

Manusia modern,  selalu mendapatkan kabar apapun dengan sangat cepat. Kabar duka, lara, hingga kegembiraan, pernikahan. Biasanya kabar² itu bisa diakses dalam platform WhatsApp Grup (selanjutnya ditulis WAG).

Dalam WAG, para anggota WAG bisa berbagi informasi. Saya punya WAG yang anggotanya multi budaya dan agama. Sebuah WAG hobby. Jumlah anggotanya ratusan. Kami sering berbagi informasi apa saja. Salah satunya adalah informasi kematian seseorang.

Nah di sana letak masalah terjadi. Fomo penggunaan stiker bahasa Arab, untuk membalas informasi di WAG, kadang begitu banyak. Celakanya, jika informasi yang meninggal dunia adalah laki-laki, beberapa peserta WAG membalasnya dengan dhamir (kata ganti perempuan). Atau semisal, informasi yang sakit adalah orang ketiga (dia), namun yang terjadi adalah, do'a dalam stikernya menggunakan kata ganti orang kedua (Syafakallah).

Ini mungkin sulit dijelaskan. Ketika peserta WAG, yang latah menggunakan stiker WA, do'a dalam bahasa Arab, agar terlihat lebih khusuk mungkin, atau agar terlihat religius dan islami. Namun sejatinya, tata bahasa mereka salah besar.

Fenomena ini sebenarnya saya sambil lalu, toh saya tidak punya kewajiban menjelaskan hakikat kebenaran. Terlebih situasi dalam WAG tidak kondusif jika terjadi perselisihan. Saya lebih menghindari keributan.

Saya jadi teringat kepada guru saya, K.H. Abdul Basyir, kalau tidak salah beliau asal Brebes dan menjadi salah satu santri kinasih K.H. Muslih Mranggen (salah satu pendiri Tarekat Jatman yang berafiliasi dengan NU), hingga beliau mendirikan sendiri pesantren di Mranggen.

Dari beliau saya kenal nadzam-nadzam Al Imrithi dan Alfiyah. Dan saya sebagai murid yang paling bebal di kelas, selalu dihukum berdiri depan kelas karena tidak hafal setoran nadzam yang sudah menjadi deadline itu. Terus terang, saya malu, stres, dan rasanya ingin pulang saja tidak perlu menjadi santri lagi. Tapi beliau dalam menghukumku, penuh dengan cinta. “Ziz, Ziz, adoh-adoh saka Tegal, setoran nadzam ora tahu apal“. Beliu berkata seperti itu dengan sangat memaklumiku.


Tanda cinta tidak harus dengan bunga. Mungkin begitu kira-kira yang bisa menggambarkan para kiai dan guru dalam membimbing muridnya. Hingga keberkahan itu memunculkan ndarunya. Beberapa minggu yang lalu, beliau sowan kepada Allah untuk selamanya.(Dalam sedih saya berdoa: Insya Allah, beliau dimaafkan segala kesalahannya, diterima semua amal baiknya).


Sebagaimana beliau memaklumi kebebalan dan kebodohan otakku, mungkin saja saya juga harus maklum terhadap do'a-do'a yang dipanjatkan dalam WAG meskipun salah dalam kaidah Nahwu.


Karena doa yang khusu'. Ucapan yang tulus, yang tidak hanya membagikan stiker yang bisa melampaui langit-langit kesadaran manusia. Menyalip dzikirnya malaikat. Sebagai wujud partisipasi sosial yang paling rendah. Tidak hanya sebatas terkotak dalam lingkaran kaidah bahasa yang tidak mungkin bisa berubah.



#DearDifa

#DearHilwa
#DearAsfar

Arah ideologi dunia yang semakin hari penuh dengan kapitalisme dan narsisme yang tidak ada ujungnya. Saya teringat kisah sufi yang terkenal. Tentang nasihat burung Kumbaroh. Cerita ini saya teringat lagi saat ngaji Ihya online Kiai Ulil Abshar Abdalla.


Ini cerita tentang ketamakan dan kerakusan manusia yang diberi pelajaran oleh burung. Kisah ini berasal dari Imam Sya'bi, ulama besar, perawi hadits.


Syahdan suatu hari. Seorang lelaki mendapati burung. Burung Kumbaroh.
“Apa yang kamu inginkan dariku, wahai pemburu?“, tanya burung.

“Saya ingin memburumu, menyembelihmu, kemudian akan aku makan“.

“Dagingku yang sedikit ini, tidak mungkin bisa menghilangkan kelaparanmu.“

“Begini saja, aku akan memberimu tiga petuah. Petuah bijak tentang kebaikan yang akan lebih bermanfaat dari sekedar memakan dagingku. Petuah pertama, aku akan mengajarkanmu saat kamu bisa menangkapku. Petuah kedua, jika kamu sudah berhasil menangkapku kemudian melepaskanku, dan aku hinggap di ranting pohon itu. Dan petuah ketiga, saat aku sudah terbang menjauhimu, saat aku sudah di atas gunung“. Kata burung Kumbaroh menjelaskan.

Karena tergoda janji petuah-petuah kebaikan Kumbaroh, lelaki tersebut berusaha memburu burung itu sampai berhasil. Dan berhasil. Lelaki itu menagih janji dari Kumbaroh.
“Petuah pertama: jangan sekali² sedih terhadap sesuatu yang telah pergi dan hilang darimu“. Nasihat pertama dari Kumbaroh. Kemudian si pemburu melepaskan burung.

Saat Kumbaroh sudah hinggap di ranting pohon.  “Berikan aku nasihat kebaikan kedua, wahai Kumbaroh“, kata si lelaki. “Jangan mempercayai sesuatu yang tidak mungkin ada di dunia ini, tiba-tiba akan ada“.

Karena sudah diberikan petuah kebaikan kedua. Kumbaroh terbang jauh menuju gunung. Sesuai dengan janji Kumbaroh, si lelaki diberikan kebaikan ketiga:
"Wahai orang celaka. Jika Kamu menyembelih aku, sesungguhnya di dalam tembolokku, terdapat 2 mutiara yang beratnya masing-masing 20 miskol, jika kamu menangkapku, membunuhku, dan menjual 2 mutiara itu, maka kamu akan kaya. (Miskol, volume ukuran berat bangsa Arab dulu. 1 miskol kira-kira 4 gram).

Pemburu menggigit bibir. Hampir menangis. Sangat sedih. Dia baru saja melepaskan kesempatan untuk menjadi seorang kaya raya. Kemudian dia meminta wejangan ketiga.

"Kamu telah melupakan kedua wejanganku. Bukankah engkau sudah saya kasih tahu, nasihat pertama, jangan bersedih terhadap apa saja yang hilang darimu. Nasihat kedua, jangan percaya terhadap apapun yang tidak mungkin ada di dunia ini“.

“Duhai manusia tamak. Bagaimana mungkin, di dalam tembolokku terhadap mutiara. Jika ditotal semua berat tubuhku, bulu-buluku yang tipis. Semua organ yang ada di dalam tubuhku tidak lebih dari 40 miskol!“.

#DearDifa
#DearHilwa
#DearAsfar

Kisah-kisah sufi alur ceritanya kebanyakan tidak realistis. Penuh imajinasi. Tapi bukan alurnya yang kita pelajari. Namun, konten dan hikmahnya yang kita dapati.

Sudahlah. Kita cukup segini saja. Jangan lebih. Jangan terlalu kaya, nanti kita menjadi semena-mena. Kita akan berjuang bersama.

Duhai kalian bertiga, saya tidak mungkin membesarkan kalian dengan balutan harta yang melimpah. Seperti bapakku dulu, saya dibesarkan dengan cerita, puisi, dan sastra.

DearHilwa, #DearDifa, #DearAsfar


Saya selalu berdoa, apa yang saya lakukan semoga dijauhkan dari segala hal yang berbahaya. Berbahaya itu luas maknanya. Berbahaya untukku saat ini. Atau berbahaya saatku nanti. Itu yang diajarkan bapakku dulu.


Hari-hari ini, tahun-tahun ini, saya sibuk dengan urusan duniawi. Seolah hasil dari usaha-usaha dan ikhtiar ini akan terus langgeng abadi. Tentunya tidak. Kesederhanaan bapakku dulu, yang sirkel pertemanannya hanya satu desa, dan tidak muluk-muluk menjadi apa atau siapa, perlu saya ceritakan kembali padamu. Tentu sebagai tanbih untuk ku.


Bulan Desember seharusnya turun penghujan. Cuaca semestinya dingin. Tapi sebaliknya suhu hati dan pikiran selalu memanas. Memikirkan nasib, bagaimana selanjutnya hari esok nanti. Makan apa saya nanti. Apa nanti segala cita dan mimpiku terpenuhi. Segala kemungkinan pasti ada dan terjadi. Dan itu sudah terjadi pada banyak lelaki tua, payah, dan miskin di sekitar saya: tua dalam keadaaan mengenaskan. Tidak dihiraukan.


Kalau tidak seperti itu, kemiskinan, kemelaratan, dan kepenyakitan membayangi-bayangi setiap lelaki yang tidak pasti di masa sekarang atau masa tua nanti. Mungkin ini, salah satu perlunya asuransi. Segala provider asuransi banyak beriklan, tapi jangankan asuransi, nasib kita hari ini?


Aihhh #DearDifa, berbagai cerita selama umurmu 6 tahun ini, telah kita lewati bersama. Susah sedihnya. Dan Allah sendiri yang menjamin kita, detik ini juga masih tertawa. Dan #DearHilwa, 2 tahun umurmu lebih, kita Insya Allah akan selalu berbahagia. Kita akan menggambarkan kisah-kisah penuh kegembiraan. 


Hari ini, bapakku, tepat sudah 20 tahun menghadap Allah. Banyak kisah-kisah yang sebenarnya saya ingat-ingat lupa. Tetapi lelaki itu, duhai #DearAsfar adalah lelaki yang sederhana. Proses hidupnya yang menempa menjadi lelaki apa adanya.


Maka, ketika saya memutar album Iksan Skuter 'Bapakku Indonesia', yang setiap pagi kita dengar bersama, ingatan-ingatan itu semakin jelas.


Lagu 'Pulang', adalah salah satu favorit saya. Lelaki dengan segudang prestasi kegagalannya. Merantau, tapi gagal. Lapar dan kedinginan tak berkesudahan. Merindukan pulang ke rumah, pada sore hari di teras duduk bersama bapakku ditemani teh panas ibu. Setelah gagal, ingin pulang, merindukan hal-hal yang sederhana: tidur di kasur empuk, diselimuti bapak, makan sayur bayam masakan ibu. Bagi saya, yang sudah 20 tahun berlalu, untuk mencapai itu, tentu tidak mungkin lagi di dunia ini: diselimuti bapak.


Lagu judul 'Bapak', Iksan skuter. Adalah hal yang mustahil lagi bagi aku. 

Ada manusia yang paling ingin aku peluk,

Tapi aku malu....

Tidak juga malu sebenarnya,

Hanya angkuh sebagai lelaki dewasa,

Orang yang sepertinya tak peduli dengan apa yang kulakukan.

Diam-diam bertanya kabarku.

Diam-diam menanyakan segala hal tentangku pada ibu.

Melalui lagu ini, Iksan mengejawantahkan padaku, bahwa saya ini tidak mungkin lagi akan memeluk bapakku. Meskipun saya sudah dewasa. Keangkuhan-keangkuhan ku tidak bisa menembus waktu. 


Lagu, 'Nak Jangan Seperti Bapak', seolah bapakku sendiri yang mengatakannya langsung: 

Janganlah seperti bapak, yang, susah mewujudkan mimpinya. 

Besarlah dengan semua harapan yang kamu miliki. 

Ku iringi doa dari hati kami. 

Bapakku entah bagaimana mestinya, bagaimana keadaannya di sana, masih saja mendoakan aku, menyertakan langkah-langkahku. Lelaki sederhana itu, tamatan SLTA pada jamannya, membuang predikat apa saja. Tidak gila jabatan untuk menjadi kepala sekolah. Dan lebih memilih menemani masa-masa kecilku. Memboncengku dengan sepeda butut itu, kedua kakiku diamankan dengan tali yang terbuat dari sobekan kain agar tidak masuk ke jeruji besi sepeda itu.


Lagu 'Yang Ku Ingat Dari Mu', masih di Album Bapakku Indonesia: 

Yang kuingat darimu

Kau bisa membuat Masakan yang enak

Disaat ibu bepergian. 

Yang kuingat darimu

Terkadang dirimu joget dan melucu. Agar kami semua tertawa bahagia.

Itulah dirimu yang katanya ibu, lelaki tak romantis itu. 

Itulah dirimu yang kata tetangga galak tak pandai melucu.


Dari lagu ini, saya ingat, beberapa murid bapakku dulu, sangat sayang pada bapakku. Mereka mengatakan langsung padaku saat beberapa tahun lalu kami bertemu. Ini bukan sekedar klaim sepihak. Bahwa bapakku dulu, galaknya luar biasa. Tapi entah bagaimana, ia amat disayang para murid²nya. Metode dan strategi seperti apa yang dulu dia terapkan saat mengajar. 


Bapakku tentu orang yang humoris, setidaknya hanya denganku. Banyak banyolan-banyolan yang sering kami ulang² bersama, dan kami tertawa bersama. Mentertawakan hal-hal yang biasa saja. Tapi kami bahagia. Pernah juga saya melihat dia menangis. Momen itu, adalah saat saya baru pulang dari khitan. Beliau merangkul pundakku sambil kami berjalan, dan berkata lirih: “aku khawatir”. 


Bapakku tentu tidak tahu teori-teori apa itu kesetaraan gender. Feminimisme. Tapi dari dialah saya belajar praktik bagaimana memperlakukan perempuan kesayangannya, berbagi tugas dalam mengurus rumah tangga. Mencuci baju, mencuci piring, menyapu, adalah hal biasa.


Lagu 'Pesan Untuk Mu', masih di Album yang sama: Jaga kehormatanku

Sepertiku menjagamu

Saat nanti ku mati

Ingat slalu pesanku.

Syair lagu ini, adalah lirik tentang pesan, agar aku tetap berintegritas sebagai manusia. Bagaimanapun pun keadaan ku sekarang dan nanti. Menjaga kehormatan bapakku adalah hal yang wajib, yang saya junjung tinggi: Integritas sebagai manusia. 


Pada akhirnya lagu 'Serigala Petarung' sebagai Gacuk atau senjata rahasia pemungkas untuk mengobarkan api semangat:

Aku takkan menyerah, tak lelah.

Aku takkan menangis, 

Mimpiku tak pernah habis.


#DearAsfar, insya Allah, jika diberi kesempatan, kesehatan, saya akan menemani mu menjadi lelaki yang lebih keren dari Bapakku. Bapakku menginggal dalam usia muda, aku ingin menemani mu sampai aku tua .

Dua puluh tahun yang lalu, lalu hujan turun memenuhiku, seakan diriku dengan Bapakku di teras rumah, ditemani teh panas ibu.

Alfatihah....

#DearAsfar

#DearHilwa

#DearDifa



Ada banyak alasan kenapa saya harus menyimak ngaji Gus Ulil, Ulil Abshar Abdalla, meskipun saya jarang ikut ngaji secara live. Namun dalam kesibukan aktivitas saya mencari keberkahan duniawi, Insya Allah saya sempatkan mendengar lewat rekaman di Spotify.


Diantara alasan itu adalah, metode ngaji. Meskipun yang dikaji pembahasan tasawuf hingga tauhid dan filsafat ala Imam Ghazali, yang cukup memeras otak dan membuat kernyitnya dahi. Metode Gus Ulil, seperti metode pesantren klasik; gramatika tarjamah tidak ditinggalkan. Pasti disisipi nahwu sharaf dalam pembahasan.


Selain itu, bagi saya Gus Ulil ini sosok yang unik, anak kiai yang berasal dari pesantren tradisional yang konservatif. Hingga jalan intelektualnya yang mengenyam pendidikan di Amerika. Maka tidak jarang, dalam ngaji istilah-istilah asing juga sering disebut. Tokoh-tokoh orientalis atau pemerhati Islam dari barat juga tidak luput dibahas. Tentu ini, menjadi literasi pengembangan wawasan santri.


Dalam ngaji terkahir, kitab Al Iqtishad fi Al I'tiqad – tentu saja karya Al Ghazali. Ini sedang seru-serunya pembahasan perdebatan antara Mu'tazilah dan Asy'ariyah, tentang apakah kelak Tuhan bisa dilihat oleh manusia?


Sebagai santri yang tumbuh di kalangan pesantren NU, yang sudah mengenyam ilmu akidah Imam Abu Hasan Al Asy'ari dan Imam Abu Mansur Al Maturidzi, tentu sudah terbiasa mempelajari “doktrin-doktrin” ilmu tentang ke-Esa-an Allah. Namun bagaimana ajaran tauhid Asy'ari dengan nalar-nalar Imam Ghazali mementalkan ajaran Mu'tazilah? Mu'tazilah ini adalah ahli dalam berlogika. Tapi justru logika ini dipatahkan oleh imam Al Ghazali.


Inilah salah satu keseruannya.


Sebelum membahas lebih dalam ke sana, Saya ingin berkisah lebih dahulu. Saat saya mengenyam pendidikan di salah satu perguruan tinggi Islam negeri, saya mendapatkan dosen favorit. Dia mengampu mata kuliah Filsafat Bahasa. Dari beliau, Filsafat yang bagi saya dan teman-teman di kelas itu sukar karena kerumitannya, dibuat kelas yang hidup dan menyenangkan. Diskusi-diskusi filsafat yang sering diselingi canda tawa. Nah beliau ini mengaku berfaham Mu'tazilah.


Dari sini stereotip saya tentang Mu'tazilah berbeda. Bahwa dulu, ajaran Mu'tazilah itu sesat dan menyesatkan itu, ternyata jauh dari itu. 


Mereka memang mengedepankan nalar dalam beragama, memang iya. Tapi ada banyak hal yang tidak bisa dilogikakan. 


Kembali ke laptop.


Kitab yang dibahas Gus Ulil, Al Iqtishad fi Al I'tiqad karya Imam Al Ghazali, Kata Al Iqtishad sendiri bermakna jalan tengah dan fi Al I’tiqad berarti dalam masalah akidah. Jadi kitab Al Iqtishad membahas jalan tengah dalam akidah. Jalan tengah yang dipilih Al Ghazali dalam kitab ini merupakan ciri beliau dalam bersikap dalam aqidah.


Mu'tazilah mengatakan bahwa di hari kelak, Allah tidak bisa dilihat oleh manusia. Bagaimana mungkin Allah bisa dilihat? Mu'tazilah menyatakan: Sesuatu bisa dilihat itu harus masuk dalam ruang dan waktu. Masuk dalam suatu arah. Misal, jika si A melihat si B, si A melihat si B harus dalam arah: depan, belakang, samping kanan, samping kiri, tengah, atas, dan bawah, itu adalah arah. Masuk ruang dan waktu. Namun dalam argumen Mu'tazilah, Allah itu di luar ruang. Maka, tidak mungkin bisa dilihat.


Argumentasi Mu'tazilah dipatahkan dengan perumpamaan sebuah cermin oleh Al Ghazali. Seseorang dapat melihat dirinya sendiri di sebuah cermin. Padahal sesuatu yang dilihat di cermin adalah dirinya sendiri yang di luar ruang dan waktu. Itu bisa dilihat.


Menurut Al Ghazali, sebelum jauh pembahasan lebih panjang, ada sesuatu hal yang harus disamakan. Atau ada persepsi yang harus (Al Ghazali dan Mu'tazilah) sama-sama setuju sebagai dasar dalam adu argumentasi. Karena jika dasar berfikir saja sudah berbeda tentu tidak akan ada titik temu.


Sesuatu dasar itu adalah, pengertian ra'yun atau melihat. Al-Ghazali mengajak Klarifikasi lebih dahulu istilah melihat. Bagaimana pandangan Mu'tazilah dan Al Ghazali harus diselesaikan lebih dahulu, disamakan lebih dahulu tentang melihat.



Al Ghazali menawarkan makna arti melihat dengan berbagai syarat; pertama, harus ada mahal atau tempat. Tempat melihat, yang dimaksud Al Ghazali tempat adalah alat untuk melihat. Maka, alat melihat salah satunya adalah mata sebagai indera penglihatan.


Syarat kedua adalah, ada sesuatu yang dilihat. Ada muta'alaq atau objeknya. Kemudian syarat ketiga adalah ada yang melihat. Atau harus ada Failnya.


Maka apabila kita mengatakan ada aktivitas melihat, sekurang-kurangnya ada tiga syarat yang diajukan Al Ghazali: alat untuk melihat, objek untuk dilihat, dan siapa yang melihat.


Nah, berbicara objek penglihatan, biasanya ada ukuran, warna, benda, dan semua objek penglihatan. 


Namun Al Ghazali memberi pandangan bahwa mata itu bukan rukun atau pilar yang wajib ada sebagai syarat sah kegiatan melihat. Ada hati, ada otak, dan ada indera yang lain untuk melihat. Apakah itu boleh? Boleh kata Gus Ulil, dalam memaparkan teks Al Ghazali ini.


Pembahasan ini memang sedikit rumit. Karena saat belajar aqidah, secara tidak langsung juga belajar filsafat. 


Maka, menurut Al Ghazali, jika melihat Allah itu tidak harus melihat dengan mata, karena melihat tidak harus melalui mata saja.


Gus Ulil menambahkan, argumen Al Ghazali memang sedikit rapuh. Karena sisi lain, Al Ghazali sebetulnya ingin mengatakan bahwa, ketika Alquran menegaskan, kelak manusia yang beriman di hari akhir nanti bisa melihat Alla. Melihatnya itu tidak melalui mata, melainkan melihat secara majazi. Artinya ayat ini ditakwil. Seperti kalimat “Allah punya tangan”, itu bukan tangan dalam bentuk tangan biasa, sebagaimana tangan manusia, tapi tangan itu adalah kekuasaan Allah, maknanya. 


Ngaji Al Iqtishad fi Al I'tiqad, saat tulisan ini ditulis belum selesai pembahasan Asy'ariyah Vs Mu'tazilah.


Tulisan ini hanya interpretasi santri biasa. Berharap banyak keberkahan dari para Kiai Ulama.


Wallahu a'lam Bi shawab.



Suatu malam di tahun 2015, tanggal 17 Mei. Saya lupa harinya. Saya dan seorang kawan motoran dari Semarang menuju Yogya. Kemudian melingkar di Mocopat Syafaat. 

Hadir pula budayawan kondang Sujiwo Tedjo.


Saya masih ingat betul. Dalam tawasul awalnya Simbah, Setelah berkirim fatihah untuk Kanjeng nabi dan wali-wali, beliau bertawasul kepada kakek nenek moyang jamaah, untuk menghadirkan bahwa semua permalasahan para jamaah yang ada, agar nenek moyang mengetahui dan turut serta membantu berdoa supaya segala permasalahan hari ini segera menuju titik terang. 


Saya merinding. Seolah semua kakek nenek ku juga hadir di sana. Mengamini segala rengekan-rengekan manjak ku.


Setelah itu, Simbah berkirim fatihah, kepada anak cucu yang akan lahir kelak. Saya ber-amin sangat keras. Waktu itu, dua hari sebelumnya di tanggal 15 Mei, saya baru saja melamar perempuan yg kelak menjadi istri saya. Maka anak-anak saya hari ini adalah perwujudan dari doa-doa penuh kebaikan dan kebijaksanaan Simbah di malam itu.


Setelah tawasul selesai. Simbah berdoa untuk para jamaah, inti dari doa itu adalah, supaya para jamaah dijauhkan dari segala hal yang penuh marabahaya.


Pada waktu itu, marabahaya dalam tafsir saya adalah kecelakaan lalulintas. Atau terkena musibah bencana alam. 

Namun, setelah 8 tahun hidup pasca Mocopat Syafaat malam itu, marabahaya itu tidak hanya sebatas kecelakaan lalulintas, atau musibah bencana alam non alam, tapi ternyata lebih jauh dari itu;


Kehidupan rumah tangga yang tentram, istri yang menerima. Hasil pekerjaan yang halal. Anak-anak yang saleh-salehah. Dan segala kehidupan yang tidak butuh intrik dan politik “kecurangan”, senggol kanan kiri, adalah bagi saya saat ini manifestasi doa Simbah untuk dijauhkan dari segala hal yang penuh marabahaya.


......


Sudah menjadi kodratnya manusia, untuk merasa kekurangan. Setelah mendapatkan ini, pasti ingin itu.


Pun juga saya. Sebagai manusia biasa. 


Namun the wisdomnya Simbah selalu berputar-putar dalam telinga saya, kurang lebihnya;


Manusia itu akhsanu taqwim, masterpiece-Nya Allah. Lebih mulia dari apapun. Apalagi uang. Uang yang harusnya mengejarmu. Bukan kamu yang mengejar-ngejar uang.


Hari-hari ini saya berusaha memposisikan itu. Meskipun sulit. Tentu saya akan coba belajar. Saya tidak ingin mengejar apapun. Uanglah yang membutuhkan saya bukan saya yang butuh uang. 


Hidup lebih enteng. Lebih tentram. Saya tidak malu-malu mengakui bahwa saya ini anak maiyah. 


Maiyah memberikan saya banyak hal. Termasuk artikel jurnal ilmiah yang saya tulis tentang Simbah. Tapi saya tidak pernah berkontribusi apapun terhadap Simbah.


Doaku untukmu Simbah. Sehat cerah. Temani kami kembali.


FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE