Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

 

“Pernah mendengar pohon nangka berbuah mangga?”


Mboten.”


“Kalau ada, pasti geger ya, Yin.”


Beliau memanggilku Zayin.

“Njeh, leres, Cak.”


“Itulah, karena pohon tidak punya hawa nafsu, maka tidak pernah berbuah selain yang telah Allah tetapkan. Begitulah Yin, setiap manusia itu ada maksudnya dicipta oleh Allah. Masing-masing dari kalian ini punya misi hidupnya sendiri. Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu.”


Pembicaraan pada suatu sore di penghujung Sya'ban menuju Ramadhan. Beliau stater Motor WIN, kami berboncengan keluar dari kosnya, di belakang Kampus ISI Yogya. Ikhtiar menjual lukisan, untuk sekedar makan. Penuh ketenangan, meski dalam kemiskinan. Bantul 2014 yang membekas.

Beruntung guru saya tidak menjual surga. Dari kecil. Sekolah MI, MTs, saya punya guru-guru yang sama sekali tidak menjual kesucian. Tidak menjual kesaktian. Meskipun saat itu saya di pesantren, bahkan Kiai saya termasuk mursyid salah satu thariqah terkenal di Indonesia. 


Tidak. Saya tidak belajar thariqah. 


Saya hanya belajar nahwu, sharaf, dan kisah-kisah dalam kitab mutaqadim, yang keberkahannya saya rasakan sampai hari ini.


Sewaktu MTs, saya punya guru filsafat pertama, dia bahkan memperkenalkan filosofi angka 212 punya Wiro Sableng. Bahwa sesuatu yang matsna, dua. Pasti berasal dari yang Maha Satu. Dia juga yang memperkenalkan saya lagu yang sedang tranding waktu itu, Jika Surga Dan Neraka Tak Pernah Ada. Milik Chrisye. Mengajak berfikir jika seandainya Tuhan tidak menciptakan surga dan neraka. Apa mungkin saya sebagai manusia akan tulus beribadah. 


Disisi lain. Guru-guru lain memperkenalkan kisah kekasih Tuhan Perempuan: Rabi'ah Adawiyah, yang membakar surga dengan neraka. Dengan cintanya yang membahana kepada Tuhannya. 


Sewaktu SMA, guru saya di pesantren lebih tegas. Tidak menye-menye terhadap yang bertele-tele. Mengatakan lebih kuat. Menyatakan tidak terhadap sesuatu yang tidak mungkin. Meskipun beliau mengajar Ilmu Tauhid. Diskusi pertanyaan selalu terbuka. Dialektika keilmuan 


Sayangnya, saat kuliah S1 saya pernah nyantri, meskipun hanya beberapa bulan, dan saya kabur dari Pesantren itu, salah satu faktornya adalah sang guru terlalu vulgar menjual surga. Sok²an menjadi aktivis mahasiswa adalah faktor lainnya. 


Singkat cerita. Hampir semua “guru formal” saya tidak menjamin surga. Tidak pula menakut-nakuti dengan neraka. Pun dengan guru-guru “non formal” saya. 


Jadi hidup saya bebas. Tanpa beban. 


Ibadah, saya tinggal ibadah. Tidak perlu menanti-nanti kelak saya akan dapat apa. 


Itulah sebabnya, tidak ada yang bisa menjamin dan mengancam saya, kelak dengan surga atau neraka. 


Lalu bagaimana saya memaknai surga. Surga bagi saya, bisa saat ini atau kelak janji Allah nanti. Saat ini, ketika saya kumpul dengan orang-orang yang saya cintai; keluarga, kawan. Saya bisa berkisah apa saja. Atau saya bisa mendengar apa saja dari mereka. Dalam keadaan sehat dan bahagia. 


Surga juga menurut saya adalah, mendatangi majlis ilmu. Mendengar petuah-petuah bijak. Nasihat-nasihat dari orang Alim.


Itulah surga. Bagi saya. 


Untung guru-guru saya tidak berdagang surga. Tapi saya punya cita-cita di kehidupan kelak nanti, saya dikumpulkan lagi, dengan guru-guru saya dalam majelis ilmi. 



 #DearDifa

#DearHilwa

#DearAsfar

Saya mempunyai sirkel kawan pertemanan di fesbuk, dia adalah mantan jurnalis, namanya Ndoro Kakung, tulisan-tulisannya bernas, dia menjadikan tulisannya bukan sebagai konsumsi dia mencari uang lagi, hanya sekedar iseng, tapi keisengan tulisannya pagi itu,  tentang refleksi dunia wartawan dengan berbagai kabar, hingga membuat saya yang hari-harinya biasa saja, berpikir kembali. masa depan nanti akan seperti apa.

Tulisan Ndoro Kakung pagi itu membuat saya kangen tulisan-tulisan Cak Rusdi – Allah Yarhamhu Fi Qobrihi, dia wartawan juga, penuh mimpi dan idealisme tinggi, mendobrak anggapan populer, semacam Jacques Derrida dalam teori dekonstruksi. Ndoro Kakung menulis tentang kelelahan emosi kita sebagai warga Indonesia, dengan dicekoki berita-berita negatif yang terus membanjiri timeline dunia maya: tawaran antar kelompok, pembunuhan, kecelakaan, perampokan, pencurian, korupsi, dan lain-lain, seolah tidak ada berita bagus dan positif sama sekali.

Good News is bad news, kata Ndoro Kakung, bukan hanya sekedar menulis berita tentang keburukan, dia berkisah dulu bagaimana kantor berita tempat dia bekerja, mendapatkan surat dari ratusan pembaca, beberapa pembaca merasa terinspirasi penuh haru. Berita yang dimunculkan dalam surat kabar koran Ndaro Kakung berisi cukup sederhana, ia hanya menulis tentang seorang nenek yang tinggal pelosok pulau Nusa Tenggara, jauh dari kota.


Nenek itu kesehariannya hanya berjual di pasar, pedagang sayur biasa, namun yang membuat decak kagum pembaca adalah, dia masih belajar membaca alfa beta, belajar dari cucunya yang duduk di sekolah dasar kelas tiga. Kata kuncinya adalah ‘nenek belajar membaca’. Ada semacam mimpi yang terus berproses untuk tumbuh menjadi nyata. Berita itu, kata Ndoro, adalah yang bisa menjadi pupuk harapan dan cita-cita. Tidak seperti sekarang ini.

Pembaca kelelahan emosi, para wartawan nya, apalagi.


Kemarin Jumat sore, saya membaca Cerpen Djoko Subinarto. Cerpen mingguan Kompas, judulnya: Sekolah Terakhir Republik. Penulis menseting waktunya di Tahun 2045, tahun yang digada-gadakan pemerintah kita sebagai tahun emas, seabad kita merdeka

Saya membaca cerpen itu dengan berbagai emosi saya, marah, sedih, dan kecewa. Saya rasa, Cerpen itu semacam ramalan yang akan menjadi nyata. Dan saya pernah mengikuti sejarah yang tidak dibagikan kurikulum kita: negara bisa melakukan apa saja.


Hal paling sedih adalah #DearDifa bercita-cita menjadi guru di masa itu. Padahal menjadi guru dengan segala perjuanganya, kemudian dicekal oleh kebijakan negara.

Sesedih itu, sebagai warga negara konoha. Cerpen yang saya maksud ada di sini Cerpen Sekolah terakhir


Kira-kira seabad yang lalu, Umi Kultsum, penyanyi legenda Mesir, menyanyikan lagu A Ghadan Al Qak. Apakah besok kita akan bertemu, duhai kekasih. Syair yang penuh kegalauan, dan penuh ketidak pastian. Bagi seorang pecinta, namun takut merindu.


Di tanah air, lebih sadis lagi. Kita disajikan penyanyi legendaris. Yang menyanyi dengan bahasa ibu kita sendiri. Lord Didi Kempot, lagu-lagunya relate dengan para sobat ambyar. Ambyar hatinya. Ambyar hidupnya.


Namun ada kisah, seseorang yang merasa dirinya ambyar itu, ia jadikan ke-ambyaran hatinya sebagai kekuatan, untuk lebih meloncat lebih tinggi dalam hidupnya. Tapi ia tahu persis, bahwa hidup itu bukan soal berlomba pencapaian apapun dengan orang lain.


Persis seperti cerita Gus Dur, Konon ketika dia ditanya bagaimana cara menulis yang konsisten, dia menjawab, kamu harus pernah merasakan patah hati dulu dalam hidupmu.


Dia adalah mantan muridku, ketika saya mengajar di SMK dulu, namanya Je. Pengusaha Martabak yang tengah viral. Sebelum ia mendirikan usahanya sendiri, dia ikut bekerja Martabak juga di temannya Er. Je dan Er dulu satu kelas, sama-sama murid saya.


Mereka adalah golongan Gen Z yang bukan pemalas. Mereka tipe petarung. Tidak pernah memelas kasih pada negara. Meraka bukan yang suka tongkrongan, ngalor ngidul tidak jelas. Seperti yang banyak digeneralisir di Sosmed – Gen Z dengan segala keburukannya. Seolah generasi si pemberi stereotip itu generasi dewa yang serba bisa.


Kemarin saya melihat, komentar di status  Fesbuk, saat Dahlan Iskan dan Direksi Jawa Pos sekarang berseteru, padahal Dahlan Iskan yang dulu membesarkan nama Jawa Pos, salah satu komentar followernya mengatakan bahwa, ia berterimakasih kepada Dahlan Iskan dan Jawa Pos, saat itu tahun 80an, si follower dulu mengais rezeki dari loper koran, dan penjajakan Koran-koran pagi di Surabaya. Ia berterimakasih karena secara tidak langsung Jawa Pos dan Dahlan Iskan membentuk karakternya untuk menjadi pebisnis tangguh. Mentalnya menjadi kuat.


Saya tidak tahu, mental yang seperti apa yang telah membentuk Er dan Je sehingga menjadi pengusaha sukses di usia muda. Er sudah tamat S1. Sudah menikah. Menikahi perempuan yang dia cintai. Sementara Je. Je ini unik. Kisah cintanya...  Ah sudahlah.


Martabak Rindu tentu saja tidak seperti Markobar. Dia dilahirkan betul betul dari dedikasi pemuda. Banyak diendorse artis-artis ibu kota. Para Food vlogger juga banyak yang datang. Yang manis, ketebelan adonannya, brutal topingnya. Yang telor sangat istimewa.


Martabak Rindu setidaknya sudah mempunyai 6 cabang yang tersebar di Jabodetabek. Aslinya di Bogor. Milik Er. Je sebelum membuka kedainya sendiri, meminta doa padaku. Padahal saya bukan agamawan yang do'anya pasti dikabulkan Tuhan. Namun setulus hati saya, saya selalu terkesan untuk orang yang selalu konsisten dalam berjuang.


Je ini luar biasa, dari usahanya, adik-adiknya bersekolah tinggi. Dan segala Pencapaian-pencapain lainnya. Sepuluh tahun yang lalu Je dan Er adalah muridku. Belajar kosakata, belajar macam-macam ideologi dunia. Tapi kedepannya mereka adalah guruku. Dalam berjuang dalam negara yang ekonominya, sebagai kelas menengah seperti kita, tidak baik-baik saja.

Seorang kawan dalam story WhatsApp menggunggah screenshot chat dia dengan mantan muridnya dulu di SMK.

“Pak, bagaimana cara menjadi penyabar seperti bapak? ”
Sepertinya di kehidupan nyata, si murid butuh bernafas untuk menjadi seorang yang lebih sabar. Dia mempunyai uswah, bahwa gurunya dulu di SMK adalah keteladanan sabar itu.
*****
Terkadang manusia menjadi bertumbuh, setelah sekian waktu mengalami rasa sakit dan penderitaan. Tentu saja, ini tidak didapatkan jika hidup dalan zona nyaman. Konon, ada sedikit penjelasan dari neurosains.


Jadi, saat seseorang berhasil melewati masa sulit, otak melepaskan dopamin. Sebuah hormon kebahagiaan, ia memberikan rasa bangga dan motivasi. Maka, penderitaan bukanlah tanda  gagal. Ia adalah proses otak yang sedang berlatih menjadi lebih hebat. Lebih keren.


Tapi sewaktu-waktu kita  mengalami jalan buntu. Capek berpikir. Maka sikap "berserah kepada Tuhan" menjadi cara terbaik.


Dalam kondisi ini, otak justru tidak efektif menemukan solusi, dan seseoranh merasa stuck. Namun, ketika kita berserah, entah dalam bentuk doa, pasrah, atau meditasi spiritual, sistem saraf kita masuk ke dalam mode istirahat dan pemulihan yang disebut default mode network (DMN).


DMN aktif saat kita tidak fokus pada tugas tertentu dan menariknya, di sinilah banyak ide kreatif dan insight tiba-tiba muncul. Fenomena ini disebut juga “aha moment” atau insight problem-solving.


Ketika logika berhenti dan kita berserah, otak masuk dalam kondisi tenang yang justru membuka ruang bagi ide, koneksi, dan solusi muncul. Dalam neuroscience, ini disebut “insight through surrender” keajaiban yang muncul bukan karena kita menyerah, tetapi karena otak akhirnya diberi ruang untuk bernafas, memproses, & terinspirasi.


Tulisan  ini sebagai refleksi hari-hari yang begitu berat. Saya mendapat banyak ide dan keajaiban bertahan karena otak adalah akal budi yg Tuhan beri untuk kehidupan.


Percayalah, wahai aku. Iman sebagai jalan filsafat epistemologis kebahagiaan. Tuhan akan menunjukkan yusro disebelah usri. Perpaduan akal, hati dan kesabaran akan menunjukkan jalan.

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE