Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

Hari ini, di INSIP, kampus tempat saya dibesarkan, ada Studium General. Suasananya meriah, penuh kehangatan, penuh canda, tawa, guyonan, ger-geran, tapi juga kaya akan ilmu dan motivasi. Saya duduk, mendengarkan, dan di hati saya tumbuh semacam semangat baru.

Ada tiga orang di panggung akademik itu. Pak AZIZ HAKIM, Kasubdit Ketenagaan Kemenag, ahli tata hukum negara. Pak M. Adib Abdhushomad, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama. Dan Pak Muammar, moderator acara, dosen senior INSIP, Warek 3, sekaligus senior yang disegani.

Mereka bertiga punya benang merah, sama-sama berangkat dari IAIN Walisongo Semarang. Dulu mereka mahasiswa, sama-sama aktivis. Dan karena pernah melewati susah senang bersama, di panggung itu mereka lebih mirip teman lama yang reuni. Bercanda, saling roasting, dan kita yang mendengar ikut hanyut dalam tawa.

Pak Aziz Hakim lebih realistis. Meski kuliahnya sampai 14 semester, ia justru bangga karena masa mudanya dipenuhi dengan forum-forum diskusi di pojok kampus, literasi, demonstrasi, dan menulis di media massa sejak awal kuliah. Nilai, bagi beliau, bukan sekadar angka, tapi kualitas diri. Saya jadi teringat masa lalu saya, merasa pernah sok-sokan jadi aktivis, sering meremehkan kelas dosen. Sekarang saya juga menyesal. Tapi dengan beliau, jelas, saya tidak ada apa-apanya.

Lalu, ada Pak Adib. Anak kiai besar dari Pekalongan, seorang Gus, tapi justru memilih SMP dan SMA umum. Seangkatan dengan Pak Muammar, tapi jauh lebih cepat. S2 dua kali, di IAIN Walisongo dan Flinders University Australia, lalu S3 di sana juga. Sejak S1 sudah jadi editor handal, CV-nya penuh publikasi. Sangar.

Ada satu titik yang terasa menyentuh bagi saya. Saat beliau cerita masa-masa menulis tesis, bolak-balik mukim di Pesantren Futuhiyyah Demak. Mungkin tepat di masa itu, saya masih bocah ingusan. Baru jadi santri. Sering menangis di pojokan, jauh dari rumah, nyuci baju sendiri, makan seadanya. Rasanya seperti ada garis tipis yang mempertemukan kami, meski pada level dan keadaan yang berbeda.

Pak Adib berbeda dengan Pak Aziz Hakim. Kalau Pak Aziz HAkim mendorong mahasiswa untuk jangan hanya kuliah-pulang, tapi harus aktif berorganisasi, Pak Adib mengajak ke arah spiritual. Saya merinding ketika mendengar kisahnya, bagaimana di Australia, saat mumet-mumetnya menulis disertasi, ia bertawasul kepada Syekh Abdul Qodir al-Jailani dengan membaca Manaqib. Aih, Di negeri jauh, seorang akademisi modern, sudah go internasional masih menggantungkan diri pada spiritualitas ala pesantren.

Itu klimaksnya. Saya yakin, orang-orang besar, orang-orang yang diberi jabatan, mereka semua punya riyadhoh, laku batin. Pak Adib jelas bukan hanya bersandar pada doa. Sejak awal, ia menyiapkan diri total, belajar bahasa Inggris, berjuang keras, meski ditertawakan kawan-kawannya. Ikhtiar tanpa batas. Bersungguh-sungguh secara totalitas. Dan tetap saja, ia tidak meninggalkan riyadohnya.

Beliau mengingatkan agar menjauhi hal-hal negatif dari HP, memanfaatkan teknologi untuk belajar, menjaga tahajud. Saya termenung. Kadang, ogikanya, orang sukses, sudah punya jabatan, harta, kekuasaan, untuk apa lagi berdoa. Tapi justru mereka tidak pernah berhenti.

Saya teringat sopir truk proyek tol yang pernah saya lihat. Saat istirahat di masjid, ia sempatkan salat duha. Padahal, kalau ia tidak salat, urugan tanahnya bisa lebih banyak, penghasilan tambah besar. Tapi jawabannya sederhana, “duha itu minta keselamatan, Mas.”

Mungkin, yang dimaksud keselamatan, tidak keselamatan di jalan saja. Untuk bekal kelak nanti.

Itulah laku batin. Dan Pak Adib menegaskan itu dengan contoh lain, dari dekat posisi jabatannya dengan Menteri Agama. Tak jarang ia menuliskan teks pidatonya. Dan dari cerita beliau, Menteri Agama yang sekarang tidak pernah absen puasa Senin-Kamis.

Sorenya, saya pulang dengan dada yang penuh. Tawa, canda, roasting, ilmu, motivasi, tapi yang paling menetap adalah rasa merinding itu. Bahwa orang-orang besar, pada dasarnya, adalah orang-orang yang masih setia pada laku batin.


Dulu, tahun 2008, Facebook masih baru, beranda dihiasi kabar teman, saudara, tetangga. Hangat, dekat, sederhana.

Lalu, tahun 2014, Twitter dengan Twitwar-nya hadir.
Meski namanya “war”, kadang percakapan itu cerdaskan, menantang otak, membuat tertawa, membuat berpikir.

Saya rindu masa-masa itu.

Sekarang, beranda sosial media berubah. Jangkauannya luas, banyak orang yang tidak saya kenal muncul, kabar politik, berita pemerintah, iklan, opini pedas. Saya merasa lelah, otak dan hati dipenuhi sampah informasi, stres meninggi. 

Biasanya saya cek sosial media malam hari, atau sepulang berkegiatan di sore hari.
Kadang phobia membuka, terutama berita pemerintah, kabar yang bikin cemas.
Tapi di sisi lain, ssebagian orang sosial media juga ladang, tempat orang mencari penghasilan, membangun konten, menanam benih peluang.

Seperti biasa, saya belajar memilih, memilah mana yang perlu, mana yang cukup dilewatkan. Memberi ruang untuk hati bernapas, untuk pikiran tenang, untuk kehidupan nyata yang menunggu di sekitar.

Tanah, Ingatan, dan Ketahanan Pangan
Nenek saya, kakek saya, petani.

Saya masih ingat, saat musim panen dulu, udara sore dipenuhi bau jerami yang baru dipotong. Burung-burung beterbangan mencari sisa gabah.  Dan di pematang sawah, saya kecil berlari-lari, bermain layang-layang, sementara kakek dan nenek menunduk. Dengan sabar memungut butir padi. Butir hidup yang kelak tersaji di meja makan kami.

Hari ini disebut Hari Tani. tapi bagi saya, ia hanyalah hari biasa. Karena tanah tidak pernah menunggu tanggal di kalender. Karena petani tidak mengenal seremoni atau pesta. Setiap hari adalah hari tani. Sebagaimana setiap hari adalah hari santri. Hari kartini. Hari perjuangan dalam kehidupan.

Kalau hanya dijadikan momentum seremonial, seperti Hari Kartini yang tiba-tiba siswa dipaksa memakai kebaya. Atau Hari Santri yang diwajibkan memakai peci. Bagi saya, justru mengkerdilkan makna yang seharusnya lebih luas, lebih dalam.
                                                                 
Mbah Nun, dalam banyak kesempatan menekankan pentingnya ketahanan pangan. Bahwa bangsa ini tidak akan kuat, bila tidak mandiri pada tanahnya sendiri. Mas Sabrang pun sama, di forum Maiyah Mocopat Syafaat Yogyakarta, berpesan agar jamaah membangun ketahanan pangan minimal di skala rumah tangga.
Ia juga mengingatkan, dalam tiga sampai lima tahun ke depan, siapa pun yang masih memiliki tanah, sebaiknya jangan menjualnya.

Sebab tanah adalah masa depan. Tanah adalah kehidupan.

Maiyah mendidik kita, untuk tidak sekadar menjadi follower. pengikut arus yang menunggu tren global. Kita diajak menjadi flower. bunga yang tumbuh dari akar sendiri. Yang mekar di tanahnya sendiri. Yang memberi keharuman bagi sekitarnya.

Kesadaran pangan, bukan karena Bill Gates atau miliarder dunia lain sedang berinvestasi di sektor pertanian, tetapi karena nasi di piring kita, berasal dari keringat kakek dan nenek kita, dari doa petani yang mungkin tak pernah dikenal namanya.

Hari Tani. Bukanlah pesta tahunan. Bukan panggung politik. Bukan pula simbol kosong di kalender.
Hari Tani adalah setiap detik.  Setiap tarikan cangkul.  Setiap butir keringat. setiap nasi yang kita kunyah dengan doa syukur.

Dan di sana, ada wajah kakek saya, ada doa nenek saya, ada perjuangan yang diam-diam menyelamatkan hidup kita semua. 
24 September 2025

Jelek-jelek gini, saya pernah menjadi guru PPKn di sebuah SMK, Saya tidak tahu manajemen lembaga itu, bisa-bisanya saya jadi guru PPKn. Namun saya suka, murid-murid itu juga mungkin sama.

Di kelas itu, kami sedang membahas tentang ideologi dunia—kapitalisme dan sosialisme. Anak-anak muda dengan bahasa mereka yang polos, sebenarnya sudah paham bahwa kapitalisme hanya melahirkan jurang: yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Sosialisme, di sisi lain, tampak menjanjikan pemerataan, meski sejarah membuktikan bahwa praktiknya tidak pernah sesederhana yang dibayangkan.

Sebagai pengajar, saya mencoba menuntun mereka untuk melihat bahwa kedua ideologi itu sama-sama menyimpan jebakan. 

Tentu saya bukan pembela Liberlias-Kapitalis. Kapitalis memberi ruang kompetisi. Yang kuat akan selalu menyingkirkan yang lemah. Sementara sosialisme ingin meniadakan kelas, namun pada akhirnya tetap saja melahirkan penguasa baru dengan wajah yang berbeda.

Indonesia memang berlandaskan Pancasila. Realitanya, sila-sila itu seringkali hanya berhenti ditulisan dan hapalan. Tidak sampai pada laku dalam kehidupan. Ketuhanan Yang Maha Esa, misalnya, tampak diagungkan, tetapi pada praktiknya banyak tuhan-tuhan lain yang disembah: jabatan, uang, popularitas. 

Kemanusiaan yang adil dan beradab seolah menjadi slogan kosong ketika kita melihat betapa seringnya keadilan hanya berpihak pada mereka yang punya kuasa. Persatuan Indonesia pun retak oleh kepentingan golongan, apalagi sila keempat dan kelima—kerakyatan serta keadilan sosial—seringkali hanya menjadi jargon politik yang hilang bersama berakhirnya masa kampanye. 


Di tengah situasi seperti itu, saya berada pada posisi kelas menengah. Kelas yang sering disebut tulang punggung negara, namun justru kerap menanggung beban paling berat. Bagi kelas bawah, ada beragam bantuan sosial dan jaminan kesehatan. Bagi kelas atas, mereka tak perlu memikirkan itu semua—uang mereka tidak berseri, seolah tidak ada habisnya. Pernah suatu kali saya menyaksikan petinggi saya waktu itu, dengan mudah mentransfer satu miliar rupiah seolah hanya memindahkan recehan. Sedangkan bagi saya, mentransfer seratus ribu kepada seorang kawan saja masih disertai doa semoga uang itu kembali, meski dalam hati ada rasa pasrah kalau hilang selamanya. haha

Kelas menengah, dengan segala keterbatasannya, seringkali terjepit. Bayar iuran kesehatan saja bisa menunggak beberapa bulan. Pendidikan anak terasa semakin mahal. Hukum berjalan timpang: yang kecil digilas aturan, yang besar bisa membeli pasal. Budaya dan agama kadang justru menambah beban, ketika keduanya dipelintir menjadi alat legitimasi, bukan lagi sumber ketenteraman. Menjadi kelas menengah adalah menjadi saksi betapa negara ini tidak sungguh-sungguh hadir untuk semua lapisan.

Dari bacaan saya tentang sosialisme, termasuk tulisan para pemikir Indonesia seperti Tan Malaka, ada sebuah cita-cita tentang negara tanpa kelas. Sebuah dunia di mana tidak ada jurang yang memisahkan kaya dan miskin. Secara ideal, gagasan itu indah. Saya pernah menjadi pengagum ini. 

saya menemukan ada titik persinggungan yang menarik antara sosialisme dengan ajaran Islam. Keduanya sama-sama menekankan pentingnya keadilan, kesetaraan, dan keberpihakan.  Kepada Mustadhafiin tentu saja. 

Islam mengenal konsep zakat, infak, sedekah, yang secara langsung mengalirkan harta dari yang punya kepada yang tidak punya. Bahkan dalam sejarah, ada masa ketika baitul mal mampu menjamin kebutuhan masyarakat, hingga nyaris tidak ada orang yang berhak menerima zakat karena semua telah tercukupi. Semangat itu mirip dengan yang dicita-citakan para pemikir sosialis. Meski tentu saja ruhnya berbeda.

Di sinilah saya kemudian teringat pada pemikiran Cak Nun. Ia sering menyebut tentang jalan alternatif yang tidak harus ikut-ikutan pada kapitalisme ataupun sosialisme. Sebuah jalan yang ia sebut sebagai “ekonomi yang diberkahi Tuhan.” 

Bukan sekadar menghitung untung rugi, bukan pula semata membagi rata tanpa jiwa. Ekonomi ini berpijak pada keberkahan—tentang bagaimana rezeki yang kita dapat tidak hanya halal secara formal, tetapi juga membawa kebaikan bagi orang lain. Bahwa harta tidak menimbulkan kesombongan, melainkan menumbuhkan ke-solidaritas-an.

Mungkin inilah opsi yang sering luput dari peta ideologi dunia: sebuah ekonomi yang mengalir, cukup, dan menenangkan, karena Tuhan ridha di dalamnya.

Ekonomi yang diberkahi Tuhan, bagi saya, bukanlah konsep yang bisa disamakan dengan teori-teori ekonomi modern yang rumit. Ia lebih menyerupai laku hidup—cara kita memandang rezeki, memelihara harta, dan menempatkan manusia lain dalam lingkaran kehidupan kita. 

Saya jadi teringat obrolan dengan Bang Andi, seorang akuntan. Senior saya saat mbambung. Katanya, “Ekonomi Maiyah (secara makro), tidak dapat dilihat dari pandangan jagad cilik. Singkat kata, bagaimana kita bisa tahu orang lain sudah menghadirkan dan melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitasnya? Tapi dalam pandangan jagad gedhe, kita bisa saling berprasangka bahwa kita saling menghadirkan dan melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitas. Bertemu dengan orang yang sama-sama menghadirkan dan melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitas, dan bertemu peristiwa-kegiatan-tujuan yang saling menghadirkan dan melibatkan Tuhan dalam setiap aktivitas.”


Perkataan itu bagi saya terlalu dalam, seperti gaya Sabrang, yang kerap membuat saya berhenti sejenak untuk mencerna. Namun justru dari kedalaman itu, saya teringat lagi pada nasihat Cak Nun yang lebih sederhana: “Wes dudu maqammu untuk mencari uang, uanglah yang seharusnya mencari kalian. Karena manusia itu Ahsanu Taqwiim. Masterpiece-Nya Tuhan."

Wallahu A'lam.

Semalam, saya ikut sebuah acara yang tidak akan mudah saya lupakan. Dentuman bass, irama reggae yang menghentak pelan, dan suara shalawat yang menggema dari panggung. Di sana, berdiri seorang musisi dengan jalan sunyi dakwahnya: Hamed Uye.

Di sosial media ada yang mengatakan, Hamed Uye adalah santri Tebu Ireng, Jombang. Dan saya bisa merasakan betul aura ke-santrian-nya, meski ia berambut gondrong gimbal, dan berdiri bukan di mimbar, namun di atas panggung musik reggae. Konon, syafaat Kanjeng Nabi itu tidak eksklusif, bukan hanya milik sekelompok orang tertentu. Dan semalam, Hamed Uye membuktikannya. Ia mengajak semua orang untuk bersholawat, apapun latar belakangnya. Yang suka habib, monggo. Yang dekat dengan kiai, silakan. Musiknya tidak memecah belah. Reggae versi Hamed Uye justru terasa multikulturalis—milik semua orang.

Lagu pertama yang dinyanyikan malam itu adalah Indonesia Tanah Air Beta. Bagi saya, ini tanda cinta tanah air yang tulus pada Indonesia. Hidup yang berat, harga kebutuhan yang terus menggila, dan dengan segala permasalah rakyat Indonesia: Pinjol, Judol dan lain-lain. Namun Hamed Uye mengajak terus menerus cinta Indonesia. Lagu-lagu berikutnya membuat nostalgia saya bangkit. Ada shalawat pesantren Langitan, ada Yarobbi Antal Hadi—shalawat yang akrab di telinga anak-anak 80–90an, dan bagi saya pribadi, jadi teman masa kecil waktu SD.

Dentuman reggae itu, atau SKA yang lebih ritmis, bagi saya bukan sekadar musik. Ia adalah musik hati. Pernah menemani saya menyelesaikan skripsi, tesis, dan malam-malam panjang penuh gelisah. Semalam, dentuman itu kembali hadir, dan Hamed Uye membungkusnya dengan shalawat.

Karena kebaikan hati seorang teman, sebelum naik panggung saya sempat bertemu Hamed Uye di tempat istirahatnya. Dalam hati, saya ingin banyak bicara, menyebut bahwa saya salah satu follower setianya di media sosial, ingin berbasa-basi panjang. Ingin mengutarakan di platform Spotify perlu update lagu-lagu yang baru. Tapi yang keluar dari mulut saya malam itu, hanya satu kalimat sederhana: “Sukses dan sehat selalu, Cak.”

Grogi, iya. Tapi lebih dari itu, ada rasa haru. Karena di hadapan saya bukan sekadar musisi reggae. Melainkan seseorang yang telah mengantarkan saya bernostalgia dengan shalawat-shalawat masa kecil. Shalawat-shalawat yang dulu diputar ayah, melalui tape recorder dengan kaset pita. 

Saya percaya, suatu saat Hamed Uye akan menjadi besar. Jalan dakwahnya insyaAllah akan diridhai dan dicintai Kanjeng Nabi. Sebab ia mengajak bukan dengan marah, bukan dengan sekat, melainkan dengan nada—yang mampu menyatukan semua hati yang semuanya rindu Kanjeng Nabi. 

............................................................................................................................................................

Semalam, adalah anniversary pernikahan saya dan istri. Kami berdua, menonton Hamed Uye, dengan shalawat-shalawatnya. Semacam doa. Kabulkanlah doa kami, jaga kami, lindungi kami.

Oh Allah, sampaikanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami, Muhammad dan keluarga. 

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE