Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Latest Products

Translate

Sebelum media sosial ramai dengan konten² tentang kecengengan dan kengenesan laki-laki. Di masa muda saya, sejujurnya, sudah menulisnya lebih lama di beranda fesbuk. Dulu saya kira itu cuma fase. Ternyata, itu bahasa yang sama, hanya sekarang dibicarakan oleh lebih banyak orang. Sekarang, di lorong-lorong media sosial, kita akan menemukan wajah laki-laki yang hampir serupa.


Tentang pencapaian dunia dan uang. Laki² dan rasa yang tidak bakal cukup karena ekonomi. Insecure terhadap standar peradaban. Membandingkan diri dengan orang lain yang lebih keren. Sampai kegagalan relasi dan penolakan. Dunia yang sungguh kejam. Sastra dan film-film cengeng turut serta membentuk karakter laki-laki miskin dan melankolis. Puncaknya hilangnya ketidakpercayaan diri. Banyak laki² miskin macam ini yang tidak punya ruang untuk bercerita. Apalagi bergembira?


Tadinya, saya kira, dunia laki² yang tidak punya “modal” dan “akses”, semasa muda semuanya sama. Seperti kebanyakan di sosial media. Lelahnya tidak hanya sekedar lelah. Pagi sampai petang fisik capek bekerja. Malamnya, batinnya lesu overthinking.

Tentu saja, semuanya tidak sama. Saya tahu. Betapa Tuhan membuat apa saja di dunia beraneka rupa. Tuhan menguatkan hati pemuda sekuat baja. Yang aksesnya minim, yang modalnya doa.

Syawal sebagai ajang silaturahmi. Mencharger energi. Obrolan di bawah rintik-rintik hujan, dan lampu temaram, dengan kopi pahit. Senja menuju magrib.


Saya tahu dia, dulu bagaimana, seharusnya dia berpandangan hidup penuh pesimistis. Seharusnya dia merasa tidak punya masa depan. Dan semestinya dia lelah dengan tekanan sosial dan  ekonomi. Dia tidak punya akses, tidak punya modal. Selalu diremehkan. Perjalanan asmaranya selalu kandas di jalan.

Di tengah kepulan asap itu, di bawah lampu temaram, seterang senter kandang pitik, tidak ada sedikitpun cerita tentang kerapuhan hidupnya.

Meki tampilannya alakadarnya. Rambut ikal yang dibiarkan. Baju hitam yang seperti dulu. Tapi sekarang dia adalah bos. Saat seorang pemuda lain yang penuh ambisi berjanji akan membuka 19 juta lapangan pekerjaan. Dia tanpa janji kepada siapapun, lebih dulu memberdayakan banyak orang. Dia perancang. Dia bukan follower. Dia lebih dari flower. Usahanya menuju startup yang gegap gempita di bawah naungan Tuhannya. Dia seorang pembelajar yang baik. Pemimpin yang tegas. Memecat tim nya yang terlibat judi online.



“Rumah saya sekarang sudah terbuat dari tembok!.” Katanya datar. Kami melihat lalu lintas yang sibuk gerimis.
Dan banyak kisah yang dia ceritakan padaku, pencapaian-pencapaian yang katanya hanya dikisahkan padaku. Katanya, dia tahu, bahwa aku adalah yang tidak akan memandang pencapaiannya karena kesombongannya. Justru dalam hati, saya bangga dulu pernah membersamainya.


Di malam ini, saat gerimis datang dengan malu-malu, dan petang dingin menusuk tulang. Rasanya, doa yang sedikit aku panjatkan.
“Oh Allah, banyak-banyakan aku bertemu dengan manusia sepositif dia, agar kemungkinan-kemungkinan itu pasti ada.”


“Ketahuilah bahwa imammu (Ali) telah merasa cukup dari dunianya dengan dua helai pakaian usang dan dari makanannya dengan dua potong roti gandum kasar. Seandainya aku mau, aku bisa saja memakan madu yang murni, gandum yang terbaik, dan memakai pakaian sutra. Namun, mustahil bagiku jika hawa nafsuku mengalahkanku. Sementara di Hijaz atau Yamamah mungkin ada orang yang tidak punya harapan untuk mendapatkan sepotong roti."

#DearDifa, #DearHilwa, #DearAsfar. Ini adalah surat ke-45 Imam Ali yang terangkum. Surat kepada Gubernur Basrah, Utsman bin Hunaif.

Ada lagi. Surat yang ditulis oleh beliau. ​Ini adalah "Monumen Sastra" besar dalam Nahjul Balaghah. Surat ini ditulis saat Imam Ali dalam perjalanan pulang dari Perang Siffin. Isinya adalah curahan hati seorang ayah yang semakin menua, kepada putranya yang masih muda.
​Sebuah petikan Puitis:
​"Ketahuilah wahai putraku, sesungguhnya engkau diciptakan untuk akhirat, bukan untuk dunia. Untuk kefanaan, bukan untuk keabadian, dan untuk kematian, bukan untuk kehidupan. Engkau berada di tempat yang sewaktu-waktu bisa mengusirmu. Maka janganlah engkau tertipu oleh dunia yang memamerkan keindahannya, karena ia laksana fatamorgana yang menipu orang dahaga."

Adalagi surat Imam Ali. Surat kepada Malik al-Asytar. Surat nomor 53. ​Meskipun ini adalah konstitusi pemerintahan, surat panjang, bagian pembukanya sangat puitis dalam mendefinisikan kemanusiaan. Surat ini sangat sakral bagi para pengikut mazhab Syi'ah. Bisa jadi ini termasuk dalam doktrin kepemimpinan di Iran.

​"Janganlah engkau menjadi binatang buas terhadap rakyatmu, yang merasa puas dengan memangsa mereka. Karena sesungguhnya manusia itu ada dua jenis: Mereka adalah saudaramu dalam seiman, atau mereka adalah setaramu dalam kemanusiaan (Nadhirun laka fil-khalq)."

​Makna: Kalimat "setaramu dalam kemanusiaan" dianggap sebagai salah satu kalimat paling humanis dalam sejarah Islam. Struktur kalimatnya dalam bahasa Arab sangat ritmis dan kuat.

Surat kepada Ahli Bashrah. Surat nomor 1. ​Surat ini ditulis dengan gaya deskriptif yang sangat kuat saat menjelaskan tentang awal mula penciptaan dan rapuhnya tipu daya manusia.
​"Dunia ini adalah tempat yang penuh dengan cobaan. Siapa yang mengejarnya, maka dunia akan menjatuhkannya. Siapa yang duduk menantinya, maka dunia akan meninggalkannya. Ia laksana bayangan, jika engkau mengejarnya, ia lari darimu, tapi jika engkau membelakanginya, ia justru mengikutimu."

Begitulah dik. Imam Ali.

Menjelang hari raya Idulfitri, Hasan dan Husain bertanya kepada ibunya, Sayyidah Fatimah: "Wahai Ibu, anak-anak di Madinah telah menghias diri dengan baju baru, mengapa kami belum?"😭😭
​Sayyidah Fatimah, yang saat itu tidak memiliki uang sepeser pun untuk membeli kain, menjawab dengan penuh keteguhan: "Wahai putraku, baju kalian sedang ada di tukang jahit."

​Saat malam takbiran tiba, mereka bertanya lagi. Fatimah menangis dalam hati dan berdoa kepada Allah karena tidak ingin mengecewakan putranya. Tiba-tiba, pintu rumah diketuk oleh seorang pria yang membawa bungkusan. Pria itu mengaku sebagai utusan tukang jahit. Ternyata, di dalamnya terdapat dua pasang pakaian indah.
​Imam Ali yang melihat hal itu bertanya, "Siapakah pria itu?" Rasulullah yang kemudian datang menjelaskan bahwa itu adalah Malaikat Jibril yang membawakan pakaian dari surga karena Allah tidak rida melihat kesedihan hati Fatimah dan anak-anaknya di hari raya.

​Referensi Kitab dalam ​kisah ini tercatat dalam beberapa kitab Manaqib dan Tafsir, di antaranya: ​Kitab Al-Awalim: Menjelaskan detail dialog antara Fatimah dan kedua putranya.

​Kitab Biharul Anwar (Karya Al-Majlisi): Jilid 43, Bab Keutamaan Hasan dan Husain. Di sini dijelaskan bahwa baju tersebut awalnya berwarna putih, lalu atas izin Allah berubah warna sesuai keinginan Hasan (Hijau) dan Husain (Merah). ​Kitab Dakhair al-Uqba (Karya Muhibbuddin al-Thabari): Seorang ulama besar yang mencatat kemuliaan keluarga Nabi.
*****
Di hari Asyura. 10 Muharram 61 H. Setelah semua sahabat dan keluarga pria Imam Husain gugur, Imam Husain berdiri sendirian. Beliau mendengar tangisan bayi dari tenda. Itulah Ali al-Asghar, putranya yang sedang sekarat karena kehausan setelah tiga hari blokade air oleh pasukan Yazid bin Muawiyah.

​Imam Husain sendrian membawa bayi itu ke hadapan pasukan musuh. Yang dipimpin Umar bin Sa'ad. Beliau mengangkat bayi itu tinggi-tinggi dengan kedua tangannya dan berseru:

​"Wahai kaum! Jika kalian menganggapku bersalah, maka bayi ini tidak berdosa. Dia tidak meminta kekuasaan, dia hanya meminta setetes air karena lidahnya telah mengering."

​Pasukan musuh mulai goyah melihat pemandangan itu. Beberapa tentara menangis. Melihat pasukannya ragu, Umar bin Sa'ad memerintahkan pemanah terbaiknya, Harmalah bin Kahil, untuk memutus pembicaraan Husain.

​Harmalah melepaskan panah bercabang tiga manjadiq, yang biasanya digunakan untuk berburu binatang besar. Panah itu melesat dan merobek leher si kecil Ali al-Asghar yang sedang berada di pelukan ayahnya. Bayi itu tersenyum kecil lalu syahid seketika. 😭😭😭

Allahu Akbar.

#DearDifa, #DearHilwa, #DearAsfar.

Kesederhanaan keluarga nabi, yang sampai sekarang dijunjung tinggi oleh bangsa Iran terus melekat sampai detik ini. Dan hari-hari ini. Apa yang dialami Iran saat ini. Ketika Amerika, Israel, dan negara-negara Teluk akan menginvasi Iran melalui darat. Mengobarkan semangat isu sektarian. Konon demi menjaga dua kota suci. Iran selalu teringat dawuh Imam Hussain: “Remember me when truth becomes alone.”

“Pulang jam berapa?”

Itu adalah Whatsapp dari istri saya.
Saya belum selesai menguji mahasiswa ujian komprehensif.
”15.30, insya Allah.” jawab saya.
“Di sini hujan deras disertai angin, lebih parah dari semalam”.

Ya Allah. Batin saya. Semalam, setelah salat gerhan bulan dan tarawih, di kampung hujan. Sangat deras. Angin tidak hanya sepoi. Tapi amboi. Memporak porandakan genteng-genteng rumah. Pohon pohon di pinggir jalan juga berjatuhan. Dan sore ini, katanya lebih parah.

15.00 WIB Pemalang belum hujan. Saya cek prediksi BMKG juga tidak ada tanda badai. Aman. 15.30 setelah semua hampir selesai. Saya salat ashar, kemudian duduk-duduk di depan gedung rektorat. Kampus ini terletak di tengah sawah. Pemandangan bisa melihat sekeliling alam ke atas raya.

Saya cek status whatsapp beberapa kawan di desa yang biasanya update tentang kondisi alam. Nyata! dia sedang adzan takbir, videonya memperlihatkan angin yang cukup besar. Meluluhlantakkan pohon depan balai desa.

Saat duduk di depan rektorat itulah. Tiba-tiba angin dan hujan datang. Ini badai. Serius ini angin yang besar.

Di samping kampus ada tower provider internet. Yang tingginya 100 meter. Ternyata ada pegawai masih di atas, mungkin sedang maintenance. Ah Tuhan semoga ia baik-baik saja. Nyata. Tali yang dia pakai jatuh terbawa angin. Tapi mungkin karena dia profesional dia aman turun bawah. Alhamdulillah.

Selanjutnya, saya bingung bagaimana pulangnya. Hari semakin sore. Nadifa anak saya belum punya lauk kesukaan untuk makan buka puasa. Saya kordinasi dengan istri, berkabar perkembangan kondisi hujan badai ini.

16.00 WIB saya memutuskan pulang. Istri tentu saja cemas. Dengan nama Allah yang Maha Rahman Rahim. Saya gas motor saya. Untal-untul dengan kawan yang se arah. Salah satunya mas Muhison, dia pustakawan di kampus kami.

“Mas gak usah ngebut-ngebut, ya. Maksimal 50-60 KM saja”. Pinta saya.
“Oke, pak”.
Gass.
Perjalanan belum ada 10 menit, di desa Surajaya, pohon tumbang di tengah jalan. Macet parah.

Di tengah itu, anggota tim BPBD Pemalang sedang sangat sibuk. Dengan beberapa mesin senso, war-wer war-wer, pohon besar di tengah jalan itu sedang diupayakan di potong.
Tapi kok lumayan lama.
Macet semakin menjadi. Sudah lebih 15 menit kami di sini.

“Pak, apa kita putar balik, lewat jalur pintas saja?” usul Mas Muhison.
“Di mana jalur pintas itu?”
Mas Muhison menjelaskan. Kami diskusi. Dan harus memutuskan detik itu juga. Pertimbangannya. Jalur alternatif tentu saja jalur persawahan. Kondisi jalan yang licin. Lumpur. Belum di tengah sawah yang disertai ancaman petir.

Kami memutuskan untuk menunggu.
Sekitar 10 menit. Alhamdulillah tim BPBD Pemalang berhasil menyingkirkan pohon yang tergelatak itu. Bravo BPBD!

Macet semakin parah. Dari arah lawan, jalur kanan kiri sudah ditutupi kendaraan. Polisi? Hehe jangan dicari.

Tapi akhirnya alhamdulillah, saya dan Mas Muhison bisa melewati kemacetan itu. Tapi, duh di mana dia sekarang? Dan rombongan kawan lain sudah kocar-kacir. Agaknya Muhison ini kecepatannya lebih dari 70 KM. Dia masih muda.

Saya gas pelan-pelan saja sesuai kemampuan daya saya.

Perjalanan belum sampai 7 menit. Mas Muhison berhenti di depan. Dia menunggu. Ini baru sampai di jalur antara Paguyangan dan Kebongede, Bantarbolang.

“Pak, di depan gak bisa lewat, jalur utama Bantarbolang tutup, pohon tumbang lagi”.
“Ya Allah, belok kiri ayo, Mas. Alternatif”.

Langit masih hujan. Saya masuk desa Paguyangan. Kanan kiri hutan. Jalannya bebatuan. Belum diaspal. Saya membayangkan. Desa ini dalam imajinasi saya adalah seperti desa Penari. Seperti kisah KKN Desa Penari. Semakin menuju desa semakin petang.

”Mas ini kok gak selesai-selesai. Jauh banget”, gerutu saya.
“Ya, pak. Gas aja”.

Muhison di dalam pekerjaan, orangnya tenang. Kalem. Dia masih muda. Cekatan. Di jalanan seperti ini, dia menunjukkan ketenangan juga.

Paguyangan. Belok kanan. Bayangan cerita horor KKN penari tidak ada di desa ini. Karena ini, karena di sini. Lautan manusia dengan kendaraannya. Macet parah. Sangat parah. Saya lupa. Jam jam ini adalah karyawan pulang.

CILAKA!

UMR Pemalang yang tak seberapa di Jateng, pabrik pabrik baru bermunculan. Tentu saja para pemodal suka dengan konsep ekonomi yang seperti ini. Di tengah macet jalanan desa yang kecil. Samar samar saya dengar obrolan karyawan itu.
“ngertia kayak kiye, miki donge ngelembur bae aja balik, neng pabrik, lumayan olih tambahan duit”.

Saya yang dibesarkan di kampung, belum pernah melihat macet separah ini. Muhison tidak tahu di mana di sekarang. Apa di depan. Atau di belakang. Situasi semakin chaos.
Dari arah depan, bus semi besar kecil, Santoso tetap melaju. Dari arah saya, dam truck berdiri diposisi. Jalan desa kecil tidak memungkinkan untuk saling berpapasan. Tidak ada yang mau mengalah.

Beruntung ada para pemuda desa yang ikut mengatur jalanan.

Jam di motor sudah menunjukkan 17 lebih. masih macet. Saya kabarkan kepada istri. Bahwa saya aman. Dan masih terjebak macet. Untuk Nadifa buka makan seadanya.

Muhison, di mana dia.

Ah iya, dia alumni UIN Jakarta. Dulu di sana, sudah terbiasa macet. Sekarang, Skilnya dalam menyusuri kemacetan pasti dia masih punya. Sedang saya hanya mahasiswa Yogya.

Saya move sedikit-sedikit. Saya tidak ingin terbayang Muhison lagi. Haha.

Hari semakin petang. Saya stres parah. Di hati, sambil terus komat kamit selawat kepada nabi. Berharap pada Allah yang Maha Ndak Tegaan untuk segera mensudahi drama ini.

Di depan, ibu-ibu memberi petunjuk. Motor lewat sini. Kata dia.

Saya dan pemotor lainnya masuk di sana. Yang saya lalui jalur di depan bersama Muhison adalah jalan alternatif. Dan ini lebih alternatif. Jadi alternatifnya alternatif. Jalannya kecil. Bukan jalur biasa. Ini adalah pekarangan warga!

Berkelok-kelok, kanan ke kiri, kiri ke kanan. Di tengah rumah penduduk. Sepertinya ini sudah masuk Desa KebonGede. Saya melalui sawah, melewati pemakaman desa. Belum pernah saya ke sini.

Langit semakin hitam petang.

Di depan. Hampir tiap tikungan. Penduduk setempat berdiri. Memberi arah jalan yang tepat. Mereka tentu saja tidak berkoordinasi. Saya menganggap ini adalah amal jariyah kebaikan mereka. Bentuk gotongroyong sebagai manusia pancasila: warga jaga warga.

Saya berhenti sejenak. Sambil mengistirahatkan tangan. Pergelangan tanganku masih sakit cidera kemarin. Memberi salam. Kepada seorang laki-laki berpayung. Berjaket Banser, bersarung lusuh. Berpeci miring.
“Bantarbolang masih jauh, Ndan?"
“Dekat, Kang.”
Wah, Nuwun, betapa banyak sekali urusan hidupku diselesaikan dengan para komandan Banser ini. Hutang rasa.

Lanjut lagi. Katanya dekat, kok 15 menit belum ketemu jalan besar beraspal. Wkwk tambah stress juga.

Saya membayangkan, kelak di hari nanti. Di hari pembalasan, akan seperti ini. Timbangan siapa yang lebih cepat. Bergantung dengan apa yang kita bawa, kalo bawannya mobil mungkin masih terjebak macet di tengah hutan di Paguyangan. Untungnya saya hanya bawa Vario. Sat set tas tes.

Alhamdulillah. Jalanan aspal Bantarbolang ketemu juga. Sudah masuk jalan utama. Saya tancap gas. Progress perjalanan sore ini menjelang buka puasa harus diselesaikan sampai rumah.

Di tengah jalan, saya mampir beli makanan buka puasa untuk istri dan anak. Alhamdulillah. Biasanya perjalanan cukup satu jam setengah. Sampai rumah setengah 7 lebih. Buka puasa. Minum. Makan.
Dan mati listrik. Tidak ada sinyal. Batrei HP tinggal 5 persen.

Saya belum ngabarin Mas Muhison.

Paginya. Saat sahur tiba, Muhison Whatsapp Saya. Memberi link berita. Yang terjadi di antara Paguyangan dan Kebongede. Seseorang tertindih tiang listrik yang terkena pohon tumbang.

Hal seperti ini, kecelakaan sepertinya biasa. Biasa. Sangat biasa. Lalu bagaimana Mitigasi pemerintah Kabupaten Pemalang.

Allahu Akbar.

Banyak artis yang kemudian terpeleset ke dalam kepribadian yang bukan dirinya, karena tak kuat menahan arus kebintangan yang memang memabukkan. Ini bisa terjadi pada siapa saja. Orang-orang dengan latar belakang pekerjaan apa saja. Ketika sudah di atas, sangat sulit mengontrol dirinya sendiri.


Saya lebih suka menjadi seorang idealis daripada jadi orang populis. Bagi saya, tidak perlu saya harus disukai orang secara berlebihan jika itu harus mengorbankan jati diri saya yang sebenarnya.


( Chrisye )

******


Ada seorang penyanyi hebat di Indonesia ini, dan rupanya Tuhan menganugerahkan “suara malaikat” kepadanya. Dia konsisten di dunia tarik suara. Pernah satu kali dia bermain film, namun sejak itu dia tidak mau lagi memanfaatkan aji mumpung tersebut. Baginya, musik dan bernyanyi adalah dunianya, dan dia tidak mau sabet jaya ke bidang lain demi kejar setoran. 


Dia mu‘alaf dan rajin shalat di masjid dekat rumahnya. Semakin tua, karyanya semakin apik dan mewah, serta semakin banyak pintu rejeki terbuka baginya. Dia disebut Legenda dalam dunia musik Indonesia, namun semua orang yang pernah kenal dan bekerja sama dengannya akan mendapat kesan yang sama bahwa dia sangat rendah hati. 


Saat dia tampil solo untuk pertama kalinya dengan besar-besaran, ketika penonton mengelu-elukannya, dia malah berkata dalam hati, “Ya Allah, betapa aku ini kecil tak ada arti apa di hadapan-Mu.”


Tirulah Chrisye, yang ketika berada di puncak ketenaran, tetap rendah hati dan tak melakukan personal branding berlebihan.


Ditulis Oleh Pak Alfathiri Adlin. 

*****************************************

TAUFIQ ISMAIL


Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, “Bang, saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?” Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi relijius.


Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul. Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan. Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, ” Chris, maaf ya, macet. Sori.” Saya akan kembalikan pita rekaman itu. Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin.


Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi, A’udzubillahi minasy syaithonirrojim. “Alyauma nakhtimu ‘alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibuun” saya berhenti. Maknanya, “Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan.” Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!


Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke larik-larik lagi tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai. Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.


Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon,” Chris, alhamdulillah selesai”. Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut. Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.


Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye Sebuah Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye. 


Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba lagi. Menangis lagi. Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata.


Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya. “Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65…” kata Taufiq. Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!


Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya. Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai. Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari!


Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benar meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi.


_______________________________________


Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat kelak.


Mengenai menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.


* * *


Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. “Kenapa Bang, kurang?” Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya.


Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar. “Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun ‘kan?”


Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun senang.


Pada subuh hari Jum’at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan istri, Yanti, dan empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album sountrack, 20 album solo dan 2 film. Semoga penyanyi yang lembut hati dan pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga terbuka lebar baginya. Amin. #


Ketika Tangan dan Kaki BerkataLirik : Taufiq Ismail

Lagu : Chrisye


Akan datang hari mulut dikunci

Kata tak ada lagi

Akan tiba masa tak ada suara

Dari mulut kita


Berkata tangan kita

Tentang apa yang dilakukannya

Berkata kaki kita

Kemana saja dia melangkahnya

Tidak tahu kita bila harinya

Tanggung jawab tiba


Rabbana

Tangan kami

Kaki kami

Mulut kami

Mata hati kami

Luruskanlah

Kukuhkanlah

Di jalan cahaya…. sempurna


Mohon karunia

Kepada kami

HambaMu yang hina

Lagi lagi ini. Pagi ini saya benar-benar kangen guru saya. Prof Suryadi. Saya tidak pernah benar-benar dapat nilai Mumtaz di kelas beliau. Hanya sekedar jayyid. Baik. Setidaknya, ini yang kelak menuntun hidup saya menuju lebih baik. Tentu saja saya tidak sedang mengklaim, saya ini orang baik. 


Melalui beliau, lagi lagi saya mengenal banyak hal, dari klasifikasi jenis hadits. Sampai banyak hal tentang manusia agung, sumbernya hadist: Rasul Muhammad–Oh Allah, sampaikanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad. 


Ndilalah, di ramadhan ini, banyak waktu luang yang saya punya. Ini adalah rejeki. Saya seperti wali. Bisa berpindah-pindah daerah dalam satu hari. Sehabis subuh, saya ngelemprak di Leteh, Rembang. Ngaji pada Mbah Yai Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Kitab Burdah. Karya Imam Al-Bushiri (610-695 H/1213-1296 M). 


Sehabis dhuhur, pindah tempat ngelemprak di Giren, Talang, Kabupaten Tegal. Kepada Habib Ahmad Bin Habib Abdullah Al Athas. Ngaji Kitab Muqodimah Hadramiyah. Kitab tentang Haji. Proletariat seperti saya, punya kepentingan apa mempelajari Bab tentang haji? Haha


Sorenya, menjelang buka, jika tidak ada jadwal, kadang saya ngabuburit di Cilandak Jakarta Selatan, di Nurcholish Madjid Society. Bersama murid-muridnya Cak Nur. Menyeruput sisa-sisa kebajikan Cak Nur yang masih tertinggal di bumi. 


Betapa menyenangkannya hidup saya. Seperti wali sakti. Tapi tentu saja semua itu saya kerjakan dari rumah. Teknologi yang bisa merubah saya menyerupai wali. 


Di subuh ini, Ngaji kepada Mbah Mus, adalah ngaji yang membuat saya lagi-lagi kangen pada Prof Suryadi. Persis. Sebagaimana ceramah-ceramah beliau. 


Ngaji tentang Burdah, itu mengaji tentang bagaimana puja puji kepada Kanjeng Nabi. Tidak ada celaan untuk manusia suci. Ajarannya adalah cinta. Tidak ada kebencian sedikitpun. Hari ini sudah masuk Fashl Tsalis. Bagian ketiga dari Nadzam Imam Al-Bushiri. 


Pilihan diksi² Imam Al-Bushiri itu luar biasa. Itulah kenapa ada yang sampai mabuk. Lupa dengan dirinya sendiri. Dari akibat dari memuji Nabi. Saya ingat, dulu di Yogya, ada seorang kiai sekaligus pengusaha sukses yang memberiku ijazah amalan supaya lekas kaya: bacalah Burdah. Meskipun kehidupanku yang sekarang ya hanya seperti ini, masih proletar. Tapi semuanya tetap alhamdulillah. 


Balik lagi ke syair Imam Al-Bushiri yang dibahas Mbah Mus. Cara Imam Imam Al-Bushiri memuji nabi itu, tidak meninggalkan pujiannya kepada Allah. Karena nabi sendiri yang diangkat oleh Allah. Warafa'na laka dzikrak. Supaya dipuji. Bukan karena nabi sendiri yang ingin dipuji. 


Imam Al-Bushiri sendiri dalam diksinya, mengatakan: Laisa lahu Haddun Yu'robuhu, tidak ada diksi yang tepat untuk mengungkapkan segala kebaikan Rasul Muhammad. Itu yang mengatakan Imam Al-Bushiri, pencipta Qasidah Burdah. 


Mbah Mus, mengatakan, Nabi sendiri itu ajarannya adalah cinta, penuh kasih sayang pada Ummatnya. Apakah ada ajaran, dakwahnya nabi yang memberatkan kita? 


Tidak ada. 


Semua sudah dihitung oleh nabi. 

Shalat susah? Mudah. Hanya 5 waktu. Jika tidak bisa berdiri, duduk. Jika tidak bisa duduk, tiduran. Di perjalanan? Ada klausul jamak. 

Zakat? mudah, kalo mampu, kalo ada harta, Mbah Mus mempercandai santri-santrinya yang kemungkinan besar malah orang-orang mustahiq zakat. Penerima zakat. Wkwkw.. 

Puasa? Mudah. Anak TK sekarang aja sudah pada puasa. 

Haji? Itu kan hanya untuk orang mampu. Gak seperti dapuranmu. Canda Mbah Mus. 


Pendeknya, apa yang diwajibkan oleh Kanjeng nabi itu sangat mudah dilaksanakan. 


Dan pagi ini, saat Mbah Mus menjelaskan bahwa Nabi tidak pernah memberatkan umatnya, saya seperti mendengar suara Prof Suryadi di kelas Hadits dulu.Bahwa memahami Nabi bukan hanya memahami sanad dan matan, tapi memahami ruh kasih sayangnya.


Pada akhirnya, ngaji keliling dari Leteh, Giren, hingga Cilandak via layar ini membuat saya sadar. Kanjeng Nabi mewariskan agama yang mudah. Guru-guru saya, mewariskannya dengan senyum dan cinta. Dan untuk ukuran seorang proletar seperti saya, bisa menikmati semua kemewahan ilmu ini dari rumah, bukankah itu rezeki yang lebih dari sekadar nilai Mumtaz?




FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE