#DearDifana
Saat kalah melawan Imam Ali dalam perang Jamal, konon sayyidah Aisyah menyepi di pinggir sungai seorang
diri, beliau berkata kurang lebih begini: “jika seandainya aku adalah aliran
air, tentu aku akan selalu tenang”.
Difa, betapa kehidupan damai adalah dambaan semua orang. Kita bisa
bernafas, menghirup udara secara lega dan bebas karena kita tidak punya musuh. Kita
bertetangga, bersosial, saling mengenal, saling menyapa, dan sesekali mampir
ngopi ke teman, tetangga, saudara. Adalah kehidupan yang menyenangkan. Percayalah,
kita tidak punya musuh. Namun, jika bahasa agama menyatakan: setan adalah musuh
yang nyata. Sesungguhnya ia bukan benar-benar musuh. Musuh itu ada dalam diri
kita. Nafsu. Keinginan yang sundul langit, sementara usaha dan kemampuan kita jongkok di dasar
bumi. Jika kita menerjang norma-norma, hanya karena menuruti keinginan, kita kambing
hitamkan saja setan.
Lain kali kita bahas tentang keinginan, nafsu, dan setan. Karena ini
saatnya cerita tentang desa. Nak, desa itu mencetak banyak orang hebat. Orang hebat
seperti B.J Habibie, lahir dari desa. Presiden kita saat ini, juga konon orang ndesa.
Harapan saya sebagai pendamping desa, selain untuk pembangunan desa, juga tersampaikannya
dana desa kepada mereka mustadhafiin yang tidak mendapat apa-apa dari pihak lain,
merekalah yang pantas untuk diperdayakan. Desa lah yang sesungguhya wajib untuk
merangkulnya. Jika pembangunan ekonomi
desa menyentuh kepada mereka, ada harapan anak-anak mereka kelak akan menjadi B.J
Habibie di masa depan. Regulasinya sudah ada, tinggal pelaksanaannya. Barangkali ini adalah cita-cita yang hiperbola. Tapi entah mengapa, saat-saat
seperti ini, yang paling berat itu bukan rindu, tapi idealisme.
Selain orang hebat, desa juga melahirkan orang jahat. Itu sudah sunatullah. Perseteruan ada di
mana-mana. Konflik tidak bisa dihindari. Saya yang pernah sedikit mempelajari
manajemen konflik, juga kadang merasa bingung dengan situasi konflik di lapangan. Alih-alih menjadi
mediator yang baik. Dituduh memihak itu sudah biasa. Tapi tidak mengapa, kata
CN, orang yang merdeka adalah orang yang tidak punya kepentingan. Dan puji
Tuhan, saya tidak punya kepentingan apa-apa.
Secara psikologi, mungkin saya tipikal melankolis, pria yang suka
romantis. Mendambakan kedamaian, merindukan keheningan. Menjauhi konflik,
mengambil jarak dengan hal-hal yang berisik. Kalau sudah seperti ini, saya
teringat kata Sayyidah Aisyah: “jika seandainya aku adalah aliran air, tentu aku
akan selalu tenang”.
11 November 2019
No comments:
Post a Comment