Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Monday, 11 November 2019

Catatan dari Desa (2)


#DearDifana
Saat kalah melawan Imam Ali dalam perang Jamal, konon sayyidah  Aisyah menyepi di pinggir sungai seorang diri, beliau berkata kurang lebih begini: “jika seandainya aku adalah aliran air, tentu aku akan selalu tenang”.

Difa, betapa kehidupan damai adalah dambaan semua orang. Kita bisa bernafas, menghirup udara secara lega dan bebas karena kita tidak punya musuh. Kita bertetangga, bersosial, saling mengenal, saling menyapa, dan sesekali mampir ngopi ke teman, tetangga, saudara. Adalah kehidupan yang menyenangkan. Percayalah, kita tidak punya musuh. Namun, jika bahasa agama menyatakan: setan adalah musuh yang nyata. Sesungguhnya ia bukan benar-benar musuh. Musuh itu ada dalam diri kita. Nafsu. Keinginan yang sundul langit, sementara  usaha dan kemampuan kita jongkok di dasar bumi. Jika kita menerjang norma-norma, hanya karena menuruti keinginan, kita kambing hitamkan saja setan. 

Lain kali kita bahas tentang keinginan, nafsu, dan setan. Karena ini saatnya cerita tentang desa. Nak, desa itu mencetak banyak orang hebat. Orang hebat seperti B.J Habibie, lahir dari desa. Presiden kita saat ini, juga konon orang ndesa. Harapan saya sebagai pendamping desa, selain untuk pembangunan desa, juga tersampaikannya dana desa kepada mereka mustadhafiin yang tidak mendapat apa-apa dari pihak lain, merekalah yang pantas untuk diperdayakan. Desa lah yang sesungguhya wajib untuk merangkulnya. Jika pembangunan ekonomi desa menyentuh kepada mereka, ada harapan anak-anak mereka kelak akan menjadi B.J Habibie di masa depan. Regulasinya sudah ada, tinggal pelaksanaannya. Barangkali ini adalah cita-cita yang hiperbola. Tapi entah mengapa, saat-saat seperti ini, yang paling berat itu bukan rindu, tapi idealisme.

Selain orang hebat, desa juga melahirkan orang jahat. Itu  sudah sunatullah. Perseteruan ada di mana-mana. Konflik tidak bisa dihindari. Saya yang pernah sedikit mempelajari manajemen konflik, juga kadang merasa bingung dengan situasi konflik di lapangan. Alih-alih menjadi mediator yang baik. Dituduh memihak itu sudah biasa. Tapi tidak mengapa, kata CN, orang yang merdeka adalah orang yang tidak punya kepentingan. Dan puji Tuhan, saya  tidak punya kepentingan apa-apa.   

Secara psikologi, mungkin saya tipikal melankolis, pria yang suka romantis. Mendambakan kedamaian, merindukan keheningan. Menjauhi konflik, mengambil jarak dengan hal-hal yang berisik. Kalau sudah seperti ini, saya teringat kata Sayyidah Aisyah: “jika seandainya aku adalah aliran air, tentu aku akan selalu tenang”.


11 November 2019

No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE