#DearDifa
Konon Tuhan itu bercakap dengan manusia melalui tanda. Tinggal manusia bisa membaca tanda itu atau tidak.
Saya dianugerahi banyak teman di Media Sosial dari beberapa kalangan. Dari teman itu saya mecoba, berusaha membaca tanda. Kadang Tuhan menyindir saya. Tidak jarang menyemangati juga.
Seperti unggahan seorang profesor. Dia menulis tentang doa. Dia menganalogikan. Ketika ada pengamen dengan suara yang sumbang, buru-buru ia memberikan recehan. Jangan-jangan selama ini, suara doa kita juga sama sekali tidak indah untuk didengar, hingga Tuhan buru-buru mengabulkan keinginan. Betapa hina nian.
Suatu ketika, seorang teman seniman apdet status. Tokoh seniman ini adalah orang yang hidupnya penuh lika-liku. Seniman duda yang ditinggal kekasihnya. Tapi ia terus berkarya. Dalam statusnya ia mengucapkan: bertarunglah, jika kalah akuilah. Lalu bertarung lagi. Jika menang, kenangkanlah. Sebab kemenangan akan menjadi cahaya bagi kehidupan. Yang saya tahu, Tuhan Maha Ndak Teganan.
Begitulah, dua hari lagi saya harus siap dengan pertarungan itu. Tentu saya menyanyi dalam doa. Tidak peduli nyanyian saya terdengar sumbang. Toh jika dalam sepanjang hidup saya, saya terus berdoa dengan nyanyian jelek ini, saya tidak apa-apa. Jika diberi recehan juga saya terima. Karena sudah seharusnya, genetik saya mewarisi survive dalam mengarungi kehidupan.
No comments:
Post a Comment