Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Wednesday, 28 October 2020

Tentang Kartun Nabi Muhammad di Perancis

Setelah pembunuhan guru Paty yang memunculkan kartun Nabi Muhammad saat mengajar, majalah mingguan satir Perancis Charlie Hebdo mencetak lagi kartun nabi Muhammad di edisi terbarunya. Ludes terjual dalam kurun sehari. Kartunis majalah itu mengungkapkan bahwa kebebasan berkespresi didukung publik Perancis.

 

Entah dari mana asal-usulnya, masyarakat meyakini, bahwa  itu lantas disebut sebagai wajah Nabi Muhammad karena jika pandangan Anda adalah Islam rahmah, tidak perlu marah. Bagaimana mungkin wajah nabi kita dilukisakan dalam kartun sejelek itu. Barangkali di sanalah letak kelucuan karikatur Westergaard itu: mencoba berimajinasi terhadap sesuatu yang tidak pernah dijumpai dan dilihatnya dan kemudian memang keliru sama sekali.

 

Nabi Muhammad adalah sosok yang disanjung dan menjadi panutan seluruh umat Islam. Lahir di Mekkah, Muhammad terlahir dari garis keturunan Ibrahim as. melalui Nabi Ismail. Nama yang disebut terakhir dilahirkan oleh Hajar, budak Ibrahim dari Mesir yang dinikahi atas dorongan dan persetujuan Sarah, istri pertama Ibrahim. Menjelang setahun setelah kelahiran Ismail, Sarah juga melahirkan anak Ibrahim dan diberi nama Ishak. Atas permintaan Sarah kepada Ibrahim pula, setelah kelahiran Ishak, Hajar dan Ismail diminta meninggalkan Kanaan.

 

Dalam buku Muhammad Sang Nabi: Sebuah Biografi Kritis  yang ditulis oleh Karen Amstrong, digambarkan sebagai pria yang tampan, santun, jujur, dan cerdas. Beberapa hadis dan keterangan Sahabat juga mengungkapkan hal yang sama. Salah satu sebab orang-orang Quraisy (salah satu suku yang paling keras menentang ajaran Muhammad) tak mampu mengusir dan mengucilkan Nabi, karena perilaku Muhammad yang santun, jujur, dan cerdas bahkan sejak kanak-kanak. Sehingga dalam setiap persoalan, mereka yang menentang keras Muhammad pun selalu meminta Nabi untuk menjadi penengah atau hakim dalam setiap perkara.

 

Keterangan Karen tersebut, niscaya juga berlaku pada semua nabi dan orang-orang saleh yang lain. Pada mereka seolah berlaku ketetapan bahwa ucapan dan perbuatan kadarnya sama benar. Tidak ada misalnya, sejarah dari para nabi dan orang-orang saleh, apa pun agama yang dibawa oleh mereka, kemudian antara ucapan dan perbuatannya tidak singkron apalagi misalnya mengajarkan kebencian dan permusuhan. Wajah mereka, semuanya juga digambarkan sebagai wajah yang teduh, sehingga membuat banyak orang merasa aman berada di samping mereka.

Persoalannya, berdasarkan beberapa hadis, dalam Islam melarang orang membuat gambar dan menyimpannya dalam rumah. Salah satunya adalah sebuah hadis yang dikabarkan oleh Bukhari, yang menyebut, “Bahwasanya Malaikat tidak masuk ketika gambar-gambar di rumah”, Apa alasan Nabi waktu mengatakan itu, penafsirannya juga multi tafsir. Jika dalam Ilmu Kajian Alquran terdapat Asbabun Nuzul (Sebab-sebab diturunkannya ayat), maka dalam Ilmu Hadis terdapat Asbabul Wurud (Sebab-sebab datangnya/keluarnya hadis). Hadis tentang malaikat rahmat, yang enggan masuk rumah karena terdapat gambar, juga bisa di-takhrij (analisis Hadis) dari berbagai sudut pandang kecakapan Rawi (periwayat Hadis),  dan lain-lain. Dari Takhrij Al Hadis itu bisa menentukan kualitas Hadis dan bisa dicerna kemana arah kontekstual ucapan Nabi pada waktu itu.

 

Ada sebuah cerita yang cukup menarik, saat peristiwa Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah) Nabi memasuki Mekkah untuk kali pertama sejak berpindah (hijrah) ke Madinah. Ketika mendekati Ka’bah, semua patung dan gambar yang mengelilingi Ka’bah dihancurkan. Kemudian Bilal mengumandangkan adzan

 

Sebagian ulama karena itu lalu sepakat bahwa tentang pelarangan gambar oleh fikih. Dengan tujuan agar tidak ada upaya untuk mengultuskan seseorang atau individu bahkan jika seseorang atau individu itu adalah seorang nabi sekali pun. Konteksnya adalah, perilaku suku Quraisy yang cepat menjadikan sesembahan dari gambar maupun patung. Sementara Nabi membawa ajaran yang mengajak manusia untuk hanya menyembah satu Tuhan, bukan yang lain. Secara sederhana bisa dikatakan, Nabi sebenarnya mengajak manusia untuk selalu mengasah dan mengutamakan rohani ketimbang meributkan persoalan dzohir yang tampak, seperti gambar dan patung-patung. Bukankah agama memang sebuah ajaran yang mendasarkan pada hal-hal yang bersifat rohani? Dari rohani kemudian terbentuk perilaku dzohir.

Selain hadis dari Bukhari itu, tidak ada hadis yang secara langsung dan terang menjelaskan hal itu. Tidak juga di dalam al Quran. Namun jika Nabi sendiri sudah menghapus semua gambar di Ka’bah, barngkali logikanya lukisan atau gambar tentang dirinya juga dilarang. Kira-kira begitulah pendapat sebagian jumhur ulama, meskipun peristiwa tentang gambar itu sangat debatable yang idak akan pernah selesai,

Lalu bagaimana dengan kartun di Perancis itu? Pada suatu hari, datanglah Jibril kepada kanjeng nabi yang kepalanya sudah berdarah-darah gara-gara lemparan batu oleh penduduk Thaif yang bertubi-tubi, mereka tidak bersedia menerima ajaran Islam. “Berdoalah Muhammad kepada Tuhanmu, agar aku diizinkan melemparkan dua bukit gunung itu kepada mereka,” kata Jibril. Namun Nabi malah tersenyum dan menolak saran dari Jibril. Nabi kemudian malah berdoa agar Allah mengampuni penduduk Thaif. Nabi juga mengharapkan suatu saat generasi bertakwa lahir dari orang-orang Thaif yang telah mendzoliminya.

 

Bukan sekali dua kali saja, Kanjeng Nabi memperoleh perlakuan tidak mengenakan. Melainkan hampir setiap hari. sepanjang hidup. Pernah suatu ketika, seorang nenek Yahudi selalu menyempatkan diri naik ke atap rumahnya, setiap kali nabi akan lewat di depan rumah itu. Lalu dari atas rumahnya si Yahudi menyiramkan kotoran unta kepada Nabi yang sedang melintas di bawah dan setiap kali itu pula nabi tidak pernah marah, Nabi Muhammad terpaksa kembali ke rumahnya untuk mengganti pakaian. Kejadian itu berlangsung setiap hari hingga suatu hari, Nabi lewat ruah nenek Yahudi itu tanpa mendapat siraman kotoran dari nenek Yahudi. Bertanyalah Nabi kepada para tetangga si Yahudi, ke mana gerangan orang itu. “Sakit,” jawab para tetangga. Nabi lalu mendatangi rumah si Yahudi untuk menjenguk dan ketika ditemui, nenek Yahudi yang sedang terbaring tak berdaya, Nabi berkata, “Aku berdoa agar engkau segera sembuh, agar engkau bisa kembali menyiramku dengan kotoran unta.” nenek Yahudi lalu menangis sesenggukan. Setelah sembuh, dia selalu menceritakan tentang kemuliaan perilaku Nabi kepada semua orang.

Maka kartun di majalah Charlie Hebdo yang katanya menggambarkan Nabi Muhammad itu, tak perlu disikapi dengan reaktif, terlebih dengan cara-cara yang tidak diajarkan oleh Nabi. Kemuliaan Nabi Muhammad tidak akan  pernah berkurang hanya karena sebuah gambar yang dimaksudkan untuk melecehkan dan menghinanya maupun yang menyanjungnya.

 

Maka lihat dan amatilah, wajah di kartun itu, sesungguhnya sama sekali jauh dari wajah Nabi yang digambarkan oleh banyak hadis, juga diakui kaum orientalis sebagai wajah yang menyejukan, wajah yang penuh keteduhan. Juin (nama pena), pembuatnya, sekali lagi hanya berimajinasi. Celakanya, imajinasi itu memang keliru besar karena tampaknya dia memang tak pernah punya bayangan dan referensi sama sekali tentang wajah dan perilaku Nabi.

 


No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE