Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Friday, 7 January 2022

Kebaikan itu Abadi


#DearDifaa

#DearHilwa


Mbak Yenny Zanuba Wahid, putri Almarhum Gus Dur, ketika diwawancara oleh Prof Abdul Gaffar Karim di Channel YT DPP UGM, tentang bagaimana rasanya menjadi anak Gus Dur. Dia menjawab, bahwa awalnya dia merasa terbebani, dari sisi personal, dia selalu akan diukur, dibandingkan dengan bayang-bayang Bapaknya. 


Orang-orang, akan memberi parameter bahwa kehebatannya seperti para leluhurnya, Kakeknya, Kiai Haji Wahid Hasyim adalah salah satu pendiri bangsa Indonesia, Kakek buyutnya KH. Hasyim Asy'ari pendiri organisasi Islam terbesar: Nahdlatul Ulama. Dan ayahnya adalah presiden Indonesia. Sudah barang tentu, orang akan berekspektasi besar terhadap dia.


Jadi, ketika dia akan melangkah selalu berhati-hati, saat dia mau melakukan tindakan apapun, akan selalu berrefleksi terlebih daulu, apakah jalan ini ada dampak negatif bagi nama keluarga. Hal ini semacam rambu-rambu bagi dia. 


Apakah ini mengekang? Tanya Prof Gaffar.

Awalnya dulu tersiksa, namun akhirnya saya bersyukur, Jawab Yenny.


Terkadang manusia tidak jauh dari kealpaan. Apalagi bagi yang pernah bergerak di politik, pemerintahan. Ada saja momen-momen yang bertentangan dengan hati nurani. 


Nah, menjadi anaknya Gus Dur adalah benteng agar  tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani. 


#DearDifaa #DearHilwaa Apa yang sudah ditanam oleh para sesepuh dulu, sudah bisa dipanen anaknya sekarang. Orang-orang menyebutnya dengan kebaikan. Integritas. 


Dari sebuah pekerjaan yang saya geluti lebih dari dua tahun ini, ada banyak hikmah yang saya yakini saya akan mengambilnya. Saya dipertemukan dengan berbagai karakter manusia. Dari yang putih, sampai yang hitam. 


Manusia baik dan buruk akan kelihatan ketika sedang duduk sebagai “raja”. Pemangku kebijakan. Atau sekedar sebagai kaki tangan raja. Setiap orang baik tentu saja berpeluang melakukan hal-hal buruk, kecuali dia mempunyai tameng, senjata rahasia, untuk terus berlaku lurus.


Jika mbak Yenni Wahid tamengnya adalah orang tuanya, para sesepuhnya. Maka terdapat orang yang saya kenal tamengnya adalah masa silamnya. 


“Saya dari dulu sudah biasa tidak punya uang mas, jadi kalau sekarang tidak punya uang ya tidak masalah”. Kalimat itu dikatakan oleh seorang ”raja” kepada saya waktu siang di udara yang dingin.


Lagi,

“Saya kan asli Provinsi J, Rumah saya itu desa pelosok, Mas. Berangkat sekolah ke ibu kota kecamatan harus jalan kaki 10 KM, itu belum pulangnya saya ngarit rumput untuk makan kambing”. Kata seorang pelayan masyarakat,  sekaligus pejabat anggota keamanan negara. 


#DearDifaa #DearHilwaa

Saya tidak tahu, harus pakai tameng seperti saya agar berlaku lurus, nenek kakekku dulu orang petani biasa, tapi nenekmu selalu berpesan untuk selalu jangan pernah meninggalkan shalat. 


Duhai kalian berdua, PR saya, senjata apa yang harus saya siapkan untuk mengarungi zaman kalian nanti. Duhai aku. Berbuat baiklah. 


Rambu-rambu itu adalah kebaikan, yang membentengi kebaikan.

No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE