#DearHilwaa
Hilwa itu berasal dari bahasa Arab, artinya manis. Harapannya, pekerti dan masa depannya juga manis.
Tulisan ini bukan saya mendustakan nikmat Tuhan, namun sebaliknya. Tuhan hadir dalam banyak hal, termasuk dari wajah ibu-ibu di bus umum itu. Betapa saya hutang rasa pada mereka, yang telah memberlakukan anak bayiku kedua, Hilwa.
Delapan bulan usianya. Saya pikir, seperti anggapan banyak orang, ketika bertambah anak, saya akan mendapatkan rejeki yang luar biasa, rejeki yang tidak diduga-duga. Tapi kenyataannya, masih saja kehidupan ekonomi saya seperti ini. Betapapun kerasnya hidup, orang sekelilingku adalah manusia luar biasa. Mereka menerima.
Dulu saya mengira, kelak anak kedua nasibnya tidak semuram kakaknya yang motoran ke mana-mana. Saya pikir, saya sudah siap mempunyai kendaraan roda empat. Tapi begitulah nasib.
Sampai suatu ketika, Hilwa yang delapan bulan, terjebak di bus umum minim ventilasi. Cuaca sedang panas-panasnya.
Hilwa ini bagaikan sungai yang mengalir di malam hari. Sejuk. Damai. Tenang. Anteng. kesehariannya ia jarang rewel. Dan di bus umum itu, di tengah siang bolong itu, tangisannya pecah. Keringatnya basah kuyup membanjiri wajahnya. Suara tangisnya tidak berhenti hingga suaranya serak.
Ia tidak berhenti juga menangis meski sudah diiming-imingi diajak bermain dengan banyak ibu-ibu penumpang bus itu.
Duhai Adik Hilwa, ingin ku bisikan padamu: bus umum itu adalah tempat di mana manusia saling bertegur sapa, tanpa kenal sebelumnya. Betapa saya sangat hutang rasa pada mereka, pada ibu-ibu di bus umum itu.
Begitulah nasib kita, Dik, dan maafkan ayahmu yang miskin ini.
4 Ramadan 1443 Hijriyah
No comments:
Post a Comment