Disclaimer: Jangan teruskan membaca tulisan ini. Hanya asumsi, sedikit cocoklogi, dibumbui refrensi agar terlihat seperti akademisi. Tapi bisa jadi, ini mungkin nyata dan hakiki.
Lama sekali saya tidak menulis di blog, selain menulis beberapa artikel yang sudah menjadi kewajiban, saya juga terjebak dalam siklus kehidupan yang namanya kesibukan (helehhh sok sibuk). Dan sudah lama sekali saya ingin menulis tentang ini, tentang paksenasi, yang sebenarnya saya urungkan, selain bukan bidang keilmuan saya, saya tidak punya kepentingan apapun. Selain kepentinganku mencintai dan menjaga keluarga dan mengingatkan teman-teman semua. Terlebih pada pembaca setia blog saya.
Blog saya ini tentu saja bukan media scaremongering. Plandemik telah berlalu, pasca pakŲ³ coped yang sudah berlangsung 2 tahun ini, banyak hal telah terjadi, kehidupan new normal telah diterapkan. ekonomi melesat, pendidikan berjalan sebagaimana mestinya, dan seperti biasa perpolitikan kita mendekati 2024 semakin memanas.
Tapi bukan itu maksud saya, saya ingin menunjukkan beberapa hal, pertama berita ini https://www.reuters.com/business/healthcare-pharmaceuticals/new-zealand-australia-vaccination-mandates-protests-gain-numbers-2022-02-12/ . Di Australia dan Selandia baru masyarakat berdemo pasca paksenasi yang terus menerus diwajibkan di beberapa negara bagian.
Sungguh kau tahu, kan, kawan? saya bukan tipe orang anti terhadap pemerintah Indonesia yang sah. Saya hormat kepada negara ini, dengan segala simbol-simbolnya saya cintai. Namun, setelah kebijakan PPKM dicabut oleh presiden di akhir tahun kemarin, kebijakan paksenasi tidak berakhir. Justru paksen keempat sudah ada yg menerimanya. Bagi jiwa-jiwa yang penuh tanda tanya, sebenarnya ini ada apa?
Sekali lagi saya tidak anti paksen. Tubuh saya juga menerima paksen coped. Hal yang ingin kukatan kepada sidang pembaca, yang Kedua adalah, tidak semua jenis paksen sama. Jika di media mainstream berkali-kali mengatakan kebermanfaatan semua jenis paksen itu sama semua, hanya tingkat prosentase efektivitasnya saja yang berbeda, tentu ini tidak salah, namun masih ada hal yang kurang. Kurang sosialisasi. Masyarakat kita tentu tidak banyak yang memahami tentang virologi, Pemerintah atau organisasi yang punya kewenangan tentu masih kurang memberikan edukasi yang komprehensif kepada masyarakat lebih luas. Padahal, jika kita telisik tidak semua jenis vaksin itu sama. lihat tabel dalam gambar ini.
Sumber gambar : https://dinkes.jogjaprov.go.id/berita/detail/jenis-vaksin-covid-19-yang-digunakan-di-indonesia
Di masyarakat kita secara luas, beberapa nama-nama paksen itu kurang populer, khususnya distribusi jenis paksen-paksen itu di daerah saya. Dari 11 nama jenis paksen itu hanya 4-6 yang mungkin terlihat jamak.
Saya sebenarnya ingin mengajak fokus pada platform jenis paksen itu. dari 11, kita bisa mengklasifikasikan 4 jenis platform: inactivated pirus, non replicating viral vektor, m-RNA, dan rekombinian protein sub unit.
Dari empat itu jenis platform tersebut, Setidaknya dalam ilmu teknologi pengembangan paksen, bisa dikerucut lagi dalam dua kategori platform, yaitu klasik dan terbaru. Platform klasik, merupakan teknologi yang selama ini sudah banyak digunakan untuk menghasilkan beragam paksen.
Platform klasik yang banyak digunakan antara lain paksen yang dikembangkan dari pirus utuh yang diinaktivasi atau pirus utuh yang dimatikan. Telah banyak paksen yang dihasilkan melalui teknologi ini, seperti Polio, Rabies, hingga paksen Hepatitis A. Sementara pada paksen coped 19, teknologi ini digunakan untuk pengembangan paksen.... (lihat kembali gambar tabel). Pak Presiden kita, dan hampir seluruh pejabat petinggi negara menggunakan jenis paksen ini. (karena keterbatasan jumlah, rakyat biasa, terlebih yang penerima bantuan pemerintah tidak bisa seluruhnya mengakses vaksin jenis ini).
Sementara, platform yang terbarukan adalah platform selain inactivated pirus. Nah ini yang sebenarnya berbahaya. sebut saja m-RNA, yang terbuat dari komponen materi genetik yang direkayasa agar menyerupai kuman atau virus tertentu. Rekayasa genetik ini yang sebenarnya sangat berbahaya bagi tubuh manusia, jika kita baca jurnal-jurnal internasional, beragam penelitian lanjutannya.
KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) untuk paksen m-RNA itu bukan sehari atau seminggu, tapi berbulan-bulan. Banyak jurnal yang membicarakan tentang efek dari jenis platform terbarukan salah satunya adalah ini https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8611574/
Mungkin pihak berwenang selalu menyangkal mRNA tidak terkait miokarditis atau radang jantung / henti jantung dan juga shedding pirus dari viral vector mutan adenovirus menyebabkan hepatitis dan gagal ginjal akut misterius. Tetapi dalam kaca mata awam saya, saya gunakan positivis. Jika Anda dalam lingkar pertemanan saya tentu paham sahabat-sahabat kita yang mendahului telah paksin keberapa, menggunakan jenis paksin platform apa. Saya sangat sedih.
Jika Anda menggunakan jenis platform paksin itu, tentu masih ada solusinya, cara mengatasi pirus Adenovirus dan dampak paksin itu bisa dilihat disini. https://pekokers.wordpress.com/2022/10/22/cara-mengatasi-virus-adenovirus/
Wallahu a'lam bi shawab.
Sehat selalu untuk kita semua.
No comments:
Post a Comment