SEKARJALAK. Saya sedang betul-betul menikmati waktu dengan anak lanang saya, Asfar. Kami jalan kaki, main bola. Kejar lari. Masuk dunianya seperti masuk duniaku dulu. Usianya di bulan ini akan menginjak 3 tahun. Insya Allah.
Sore tadi, kami membuat perangkap. Burung Jalak Kebo sukses berhasil masuk perangkap kami. Betapa bahagianya dia. Burung Jalak liar, masuk ke kandang. Nahasnya, si burung stress berat. Dia tidak mau makan. Dia ngamuk di kandang.
Burung jenis ini tentu saja punya banyak kisah dalam hidupku. Burung kesayangan bapakku dulu. Dan beberapa kisah-kisah perjalanan tentang Per-Jalakan. Tentang kisah Sufi Muhamadiyah dari Sekarjalak. Asfar, tentu saja tidak dan belum waktunya untuk saya kisahkan cerita-cerita itu. Malamnya, saya merasa berdosa. Saya tidak bisa tidur.
Subuh tiba. Pagi yang dingin, dia bangun, tiba-tiba dia mengusulkan padaku untuk melepaskan Jalak itu. Alhamdulillah. Mungkin saya tidak bisa menikmati ocehan Jalak bapak lagi, atau saya tidak bisa 'memiliki' sepenuhnya Jalak itu. Tapi siang ini, Jalak mampir di samping rumah. Memakan pisang yang sudah kami siapkan.


No comments:
Post a Comment