Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Saturday, 15 September 2018

Nadifa

Dear Nadifa,


Kesehatan, keberkahan akan selalu menyelimutimu. Hari ini kau berusia 17 bulan. Kau tumbuh menjadi gadis Jawa yang anggun, saleh beragama, dan cerdas dalam menghadapi hiruk pikuk dunia.


Aku sengaja tulis ini di sini, di sini lebih sepi, karena kalau sudah sepi tinggal kita mengubahnya menjadi sunyi. Di sini jarang orang yang klik membuka blog ini. Bisa jadi, kau tidak akan pernah menemukan tulisan ayah mu ini, atau jika kau bisa menemukan ini, ayah sudah tidak ada. Atau kelak ketika kau dewasa blog ini sudah usang dan tidak bisa di akses lagi. Tidak mengapa, ayah hanya berupaya mengirim sesuatu hal ke masa depan. Sampai atau tidak, itu urusan takdir.


Nadifa, jika di dunia ini manusia bisa memilih dari ibu dan ayah siapa kau dilahirkan, kau tentu saja jangan pilih ayahmu ini. Menjadi bagian dari ayah mu ini adalah hal yang paling memalukan dan menyedihkan di jagat alam raya. Kenapa begitu? Tanyakan saja pada ibumu. Atau kepada kerabat ayah mu.


Jika kebahagiaan tolak ukurnya harta, maka tentu saja ibumu adalah orang yang paling menderita. Jika cinta itu berlandaskan azas keindahan rupa, maka ibumu tidak akan pernah mau dinikahi ayah. Dan jika Semangat hidup seorang wanita itu adalah peluh kesuh keringat suaminya, maka ibumu adalah orang yang paling tidak ada semangat hidupnya.


Ayahmu ini ayah yang miskin, ayah yang jauh dari kata cerdas, ayah yang  pemalas, ayah yang sama sekali tidak ada unsur intrinsik ketampanan. Itu deskripsi ayah untukmu. Apa kau menginkan ayah yang lain? Tapi Nadifa, percayalah, ayah menyayangi mu. Sangat sangat sangat sayang. Peluk ayah, Nadifa. Peluk ayah. Jika saat ini kau tidak bisa memeluk ayah, maka cukup beri hadiah alfatihah untuk ayah. Saat ayah menulis ini tentu saja dengan mata yang klilipan. Tapi ayah berharap saat nanti kau baca ini, kau anak gadis yang kuat. Senyum dan tawa saat kau masih bayi sangat membekas dalam ingatan ayah.


Nadifa, cita-cita ayah yang pemalas ini sebenarnya sangat banyak terhadap masa depanmu. Tapi sudah tidak zamannya orang tua menyuruh mewajibkan segala cita2 orang tua. Lakukan apa yang kau suka. Kerjakan apa yang kau bisa. Untuk kebaikan sesama. Bantu dan jaga ibumu. Jangan buat dia marah. Kau akan tumbuh menjadi perempuan yang progresif. Perempuan yang tahu kodratnya perempuan, tapi juga membawa perubahan kebaikan. Ayah berdoa untukmu, kau akan dijaga selalu. Ingatlah ayah ketika kau sedih, ayah akan memelukmu. Ayah akan selalu mendukungmu. Salam peluk, salam kecup, anakku, Nadifa.

No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE