Setiap kali aku pulang kerja, senja sudah mulai menjingga.
Terkadang mendung sedikit melukis langit yang bermuram durja. Meski usiaku
terbilang muda, aku adalah tipikal pembosan, aku sudah penat kerja, aku lelah
dengan rutinitas, aku pemuda pemalas. Tubuhku
lemas, tulangku serasa remuk, mataku lelah, nafasku sesak, dari ujung kepala
smpai kaki berbau tembakau. Menyengat. Jobdesk ku memilah-memilih tembakau yang layak siap
digiling chaos rokok. Kerja di pabrik rokok bagiku adalah salah satu cara dari
seribu cara untuk menjadi orang gila, semetara aku tak ingin gila, aku bukan
robot, aku ingin bebas. Dan setiap kali aku pulang kerja, dari dalam bus
karyawan aku selalu melihat lelaki kurus ceking dipinggir jalan. Aku
membayangkan lelaki itu ialah aku, jika lima tahun mendatang masih kerja di
pabrik yang gajinya tak cukup membeli celana dalam istri dan susu anakku yang
masih balita. Namaku Arief.
Aku tidak kenal siapa dia, dari mana asalnya. Siapa pula yang ingin
mengenalinya, lelaki dekil, rambut keriting, telanjang, serta bau badan. Menari-nari
di tepian jalan. Tubuhnya berputar, kaki kanan diangakat ke depan, bersila,
kaki kiri menjadi tumpuan, tangan kiri membawa kantong plastik mungkin berisi
sampah, tangan kanan telungkap di depan dada, ia berputar menari, berputar
sepanjang hari, orang-orang menyebut
lelaki itu; orang gila.
Aku lelaki pekerja pabrik rokok, di sebuah kabupaten yang tak terkanal.
Jam 06.00 am aku harus sudah harus berdiri di tepi jalan raya untuk menunggu bus karyawan
datang menjemput, terlambat satu menit saja aku harus menggunakan bus umum, itu
artinya uang saku untuk membeli kebutuhan bulanan terkurangi. Itu belum perihal
presensi yang terlambat, sudah barang tentu potong gaji. Potong gaji bagi buruh
pabrik sepertiku adalah loading untuk menjadi gila yang kaffah, ah
kalau hidup adalah muaranya kematian, maka gila adalah bak sampan yang
menakjubkan.
Aku pernah mengalami keterlambatan menunggu bus karyawan dan itu
membuatku menyesal, sangat menyesal. Peristiwa itu masih membekas dalam
ingatan, suatu pagi tetanggaku melolong, menjerit keras, bahwa rumahnya semalam
dibobol maling, sepeda motornya raib, beberapa barang mewah miliknya hilang.
Aku mendatangi rumahnya, aku datang untuk sekedar empati ala kadarnya,
tetanggaku memang malang. Namun hari itu juga kemalangan menimpaku. Aku
terlambat ke pabrik. Aku menyesal telah berempati pada tetangga. Aku berjanji pada diriku; aku takan terlambat
lagi. Maka aku tak boleh terlambat pagi ini, esok pagi dan setiap pagi.
Tapi tidak hari ini, aku telah mencapai titik klimaks kebosanan
bekerja. Apa aku ini sudah mendekati gila? mungkin sudah tembus, kuadrat super gila.
Bagaimana mungkin aku yang sudah bekerja menafkahi anak istri secara halal,
gaji umr yang terbilang lumayan tidak seperti gaji guru honorer, aku yang
setiap pagi menghabiskan hari bermandi keringat campur tembakau, sementara
anakku masih kecil, aku akan resign dari pabrik rokok itu? Akan aku
nafkahi dengan apa anak istriku?
Sebenarnya tidak terjadi apa-apa di pabrik, tidak terjadi konflik.
Antara aku dan teman kerja kami tak banyak ngobrol, kami tak cukup banyak
sosialiasasi jadi konflikpun minimal dapat dihindari. Dengan atasan, aku
baik-baik saja. Aku mematuhi segala aturan perusahaan, kerja sesuai SOP yang
ada, juga siap lembur jika atasanku sudah berfatwa. Aku, teman kerja, atasan,
dan perusahaan semua baik-baik saja. Di rumah pun demikian adanya, rumah
tanggaku cukup bahagia, istriku seorang guru honorer yang penyabar, sedikitpun
ia tak pernah berkeluh kesah. Kehadiran putri kecilku dua tahun yang lalu,
bertambahlah kebahagian kami. Semua baik-baik saja. Hanya aku yang sedikit gila.
Awal mula konflik batinku terjadi tiga bulan yang lalu. Berangkat kerja
dalam bus karyawan aku duduk dipinggir jendela, melihat ke arah tepi sebrang
jalan. Aku melihat seorang duduk tersenyum sedikit tertawa, mungkin ke arahku.
Pertama aku tak menghiraukan , lama-lama jadi kebiasaan. Pulang kerja,
seseorang yang tadi pagi tersenyum tertawa, Tubuhnya kini berputar, kaki kanan
diangakat ke depan, bersila, kaki kiri menjadi tumpuan, tangan kiri membawa
kantong plastik mungkin berisi sampah, tangan kanan telungkap di depan dada, ia
berputar menari, berputar sepanjang hari. Aku penasaran, mulai jam berapa ia
menari. Ketika libur kerja aku buktikan tepat jam 9 pagi ia mulai menari. Aku
memantaunya tiga kali.
Hari ini sudah kuputuskan aku berhenti bekerja, aku ingin mengamati
orang gila, aku ingin menikmati keindahan tariannya. Aku tidak gila.
***
Kewarasan adalah ilusi. Ada berapa milyar penduduk di bumi saat
ini? aku tidak tahu angka tepatnya, katakanlah 10 milyar, jika seperempat saja dari
mereka pernah stres dengan pekerjaan, masalah keluarga, setidaknya ada sekitar
dua setengah milyar lebih cerita orang depresi, stres, bahkan bunuh diri. Akan
ada 10 kali dalam setiap detik, 600 kali dalam satu menit, dan 36.000 kali
dalam satu jam orang-orang mencoba bunuh diri. Orang gila menganggap
dirinya tidak gila, sementra orang gila menggap orang lain lah yang gila. Dan
jika kau temukan tetanggamu, saudara-saudaramu hidup baik-baik saja, lihatlah di
pasar daerahmu, kan kau temukan orang gila di sana. Kewarasan adalah ilusi.
Tapi semua itu tidak berlaku terhadap tetanggaku, Arief. Ia terbilang
orang yang baik-baik saja. Aku hormati ia sebagai tetangga sepenuhnya. saat
rumahku kebobolan maling, Arief adalah tetangga yang pertama yang menjumpaiku,
menghiburku, membesarkan hatiku. Arief adalah tetanggaku yang bisa dikatakan
paling loyal dalam berteman. Aku ceritakan keluh kesahku tentang permasalahan
kehidupan, Arief adalah pendengar setia, ia mendengar secara seksama, bahkan
tak jarang ia memberi solusinya.
Suatu ketika aku bercerita pada Arief. Dikisahkan ada seorang wali
- kekasih Tuhan - yang menyamar menjadi
orang gila, kesehariannya tongkrong di daereh pasar kota K Jawa Tengah. Wali
itu bernama wali S, konon Tuhan memerintah wali S untuk menyamar sebagai orang
gila. kemudian mbah Kiai dari Pasuruan menitipkan salam melalui tamu yang sowan
kerumahnya. Setelah si tamu pulang dan mendapati wali S di tepi jalan pasar
kota K, ia menyampaikan salam dari kiai Pasuruan, Wali S bersedih karena
identitasnya terbongkar, akhirnya meninggal dunia. Selama ini wali S telah
menyembunyikan dirinya sebagai orang gila dalam kesunyian dan demi ketaatan
pada Tuhan. Para pedagang pasar mengira si S adalah orang gila gelandangan.
Arief orang yang loyal dalam
berteman. Ia sering ku ajak kemana aku ingin pergi. Beberapa tahun yang lalu
ketika musim hujan tiba, Arief ku ajak pergi sowan ke seseorang di pegunungan
Dieng. Ku katakan padanya bahwa seseorang yang akan kami sowani adalah orang
gila, masyarakat Dieng memanggilnya mbah F. Mbah F bertempat tinggal gubug, berterpal
tenda biru di pinggir jalan menuju puncak Dieng. Aku ceritakan pada Arief dalam
perjalanan ke Dieng; Rif, Temanku bercerita padaku, temanku dari abdi -juru
kunci- mbah F, bahwa ada rombongan bus, puluhan orang, mereka sowan ke gubug
mbah F, sementara orang yang bisa melihat mbah F adalah hanya sebagian dari
rombongan itu. Mbah F tidak pernah beranjak dari gubugnya, mbah F tidak
kemana-mana, hatinya orang yang sowanlah yang kemana-mana. Arief diam menyimak
ceritaku. Ketika kami sampai di gubug sowan menemui mbah F, beliau menampakan
wujudnya. Kami minta doa, dan kami pulang bahagia.
Suatu ketika di beranda rumah, Arief mendatangiku, ia berkata,
“Mas Wir, entah kenapa aku seringkali menganggap bahwa orang gila
di tepi jalan jangan-jangan kekasih Tuhan, maka aku harus berhati-hati. Jangan
pernah merendahkan orang gila, jangan mengejek, jangan menghina. Kalaupun dia
bukan kekasih Tuhan, mungkin Tuhan lebih mengasihi orang gila ketimbang kita.
Terbukti Tuhan tidak akan menuntut kewajiban apapun dari orang gila”.
Arief adalah orang pendiam, berbicara seperlunya. Sahabat yang
baik, pekerja yang ulet, rajin beribadah, manusia sederhana, aku menyukainya,
seluruh tetangga suka padanya. Seluruh tetangga suka pada pekerti Arief yang
mulia.
***
Pernikahanku dengan mas Arief tiga tahun yang lalu adalah kebahagian
tersendiri bagiku. Aku mencintai lelaki sederhana seperti ia. Celananya memang
itu-itu saja, baju yang dipakai hanya dua lembar, dua warna, hitam dan merah,
selebihnya seragam pabrik dan sarung serta baju koko untuk shalat. Tak pernah
berkeluh kesah perihal lauk apa yang aku sajikan di atas meja, kami telah
sepakat ngirit nabung untuk masa depan Faza anak kami.
Hingga suatu malam mas Arief berkata
“Sudah kubulatkan tekadku untuk berhenti bekerja dari buruh pabrik
rokok, aku ingin lebih khusu’ melihat tarian orang gila yang ada di tepi jalan
menuju pabrik. Boleh dik?”. Aku tidak tahu arah pembicaraan mas Arief. aku diam
tidak menjawab. Aku menduga mas Arief telah dipengarhui mas Wiroso, tetangga
kami.
Pagi hari aku langsung mendatangi rumah mas Wir. Aku ceritakan apa
yang mas Arief katakan semalam. Mas Wir sedikit paham maksud arah pembicaraan.
Hari ini mas Wir mengikuti secara diam-diam ke mana mas Arief pergi. Mas Wir
melihat mas Arief di tepi jalan, kosong, tidak ada siapa-siapa di sana. Tidak
ada orang gila yang menari. Semua hanya ilusi milik mas Arief.
Belakangan diketahui, kata dokter mas Arief terkena Skizofrenia,
gangguan mental kronis yang penderitanya mengalami delusi, halusinasi. Mas arief
aku mencintaimu. Tuhan juga pasti mencintai kepribadianmu.
No comments:
Post a Comment