Dikisahkan, ada seorang lelaki yang merasa sangat jatuh cinta kepada Rabiah Al-Adawiyah. Betapa tak tertahankan sebuah rasa cinta itu, akhirnya sang lelaki ini mendatangi Rabiah.
"Ada apa gerangan engkau mendatangiku, wahai Lelaki?" tanya Rabiah.
"Aku sangat mencintaimu, wahai Rabiah," jawab si Lelaki.
"Apa yang membuatmu merasa begitu sangat mencintaiku?" kembali tanya Rabiah.
"Matamu, dan kesalehanmu," kembali jawab si Lelaki.
"Mataku? Kesalehanku? Benarkah? Kalau begitu, engkau lebih tepat untuk saudara perempuanku. Meripatnya lebih indah dari meripatku. Dia juga lebih saleh dibanding diriku. Dia bahkan lebih muda dariku. Dia sedang berdiri di sana, di belakang tempatmu berdiri," terang Rabiah.
Dan, si Lelaki itu menoleh. Di belakangnya ternyata tak ada siapa-siapa.
"Engkau pendusta!! Cinta itu tidak menoleh kepada yang lainnya," tegas Rabiah, sembari meninggalkan si Lelaki itu sendiri.
Aku tulis ini, ketika Nadifa sedang tertidur, suhu badannya sangat tinggi. Aku kompres. Dan sedikitpun aku tidak menoleh selain kepadanya. Nadifa.
No comments:
Post a Comment