Aku kadang tidak habis pikir. Kenapa operator salah satu pompa bensin kecil di kotaku pelayanannya sangat tidak ramah. Tersenyum saja susah. Operator itu lelaki setengah baya. Bertubuh ceking. Jika tidak mengenakan topi, rambutnya terlihat ikal. Matanya merah, pertanda ia sangat lelah. Terkadang mulutnya berbau alkohol. Pernah suatu ketika aku mengajak basa-basi. Tapi ia tak menggubris sama sekali.
Seorang teman berkabar. Pom yang aku maksud, konon sering melakukan kecurangan. Manipulasi nota pembayaran. Mengurangi takaran bensin, dan lain-lain. Aku jadi malas untuk mengisi bensin di sana. Pom tersebut terletak di jalan Pantura. Oleh karena itu, customer kebanyakan kendaraan dari luar kota.
Hingga terjadilah adegan dalam suatu perjalanan. Aku sangat terpaksa untuk mampir di pom-bensin tersebut. Kejadian ini terjadi ramadhan tahun lalu. Saat itu aku pulang dari Purwokerto. Setelah mengikuti RDK (Rapat dalam kantor).
Aku pulang sore. Matahari hampir terbenam. Langit memerah. Senja sudah merekah. Jarak tempuh rumahku masih sekitar 25 menitan lagi. Sementara maghrib sudah datang. Pada detik itu pula, indikator bensin memberi signal sudah hampir habis. Waktu itu tubuhku sungguh sangat lemas. Ingin segera berbuka. Atau sekedar minum air mineral untuk melepas dahaga. Aku tidak bawa bekal air. Celakanya juga, uang di dompet tinggal 7 ribu.
Aku diberi dua pilihan oleh keadaan: pertama, membeli air mineral, dan harap-harap cemas semoga motor bisa sampai rumah. Kedua, membeli bensin, dan menunda berbuka.
Aku pilih yang kedua. Dengan pertimbangan indikator bensinku sebenarnya sudah tipis sejak masuk Purbalingga. Aku tidak mau berjudi lebih dalam lagi. Satu-satunya pom yang tersisa adalah pom yang selalu aku hindari itu.
Tidak ada pilihan. Aku mampir isi bensin 7 ribu. Operator masih sama dengan yang dulu. Miskin senyum. Tentu dengan tubuhku yang masih lemas, berkomunikasi pun malas. Pom bensin sangat sepi. Bisa langsung ngisi tanpa antri. Setelah aku bayarkan uangku. Si operator mengambil sesuatu di meja. Sambil menyerahkan kepadaku dia berkata,
"Keh, Mas. Go takjil, mbokan durung buka".
Seplastik es campur dan 3 kurma.
Aku jawab dengan berbinar, "Suwun, Om!"
Kadang sesuatu yang kita tidak sukai
Kita selalu hindari, terdapat kebaikan di dalamnya. Terimakasih Tuhan. Maturnembahnuwun Ya Ramadhan...
No comments:
Post a Comment