Jika Anda berada di taman yang terdapat bunga yang warna warni. Cantik. Tentu Anda akan memetik bunga yang tercantik. Untuk dihirup baunya. Atau sekedar dibawa pulang untuk menemani hari Anda. Itu sebagai tamsil, bahwa Tuhan akan 'mengambil' orang-orang baik. Orang istimewa. Orang yang dikasihi-Nya.
Gus Dur (Allahu Yarhamhu). Mantan presiden Indonesia. Ketika ditanya seseorang. "Kenapa penjenengan suka ziarah kubur, Gus?". Gus Dur jawab sekenanya, "Karena orang mati tidak punya kepentingan". Secara tidak langsung jawaban Gus Dur menohok relung hati saya. Gus Dur itu Kiai. Tentu ilmu agamanya tinggi. Tapi Gus Dur tidak menjawab hukum dan berbagai macam dalil tentang ziarah kubur. Terlepas 'asbabun nuzul' Gus Dur saat menjawab pertanyaan itu menjadi tokoh nasional. Yang tentu saja banyak di sekitarnya pasti punya kepentingan. Dari jawaban Gus Dur itulah saya harus belajar. Belajar pada orang mati tentu saja. Belajar tentang apa? Belajar apa saja. Tokoh pertama adalah Gus Dur. Allah menyayangi beliau. Gus Dur dengan berbagai sepak terjang kontroversial dalam hidupnya. Saya merindunya.
Tokoh kedua adalah mbah Surip. Sang maestro reggae meninggal sekitar sepuluh tahun lalu. 04 Agustus 2009. Mbah Surip bagi saya saat itu adalah segalanya. Istimewa. Meski orangnya sudah meninggal, dendangan musik dan suaranya selalu mewarnai hari-hari saya yang kelabu. Siang dan malam. Mbah Surip itu bukan perihal lagu 'Tak Gendong'-nya saja. Ada banyak deretan judul lagu yang kebanyakan orang tidak tahu. Lagu religi pun ada, meski lirik dan suaranya tetap kental dengan jenaka.
Konon sebelum meninggal, mbah Surip belum sempat untuk menyelesaikan album religi. Mbah Surip seperti halnya Gito Rollies. Seorang Rocker, yang sebelum meninggal, dalam konsernya menangis saat menyanyikan lagu Rock berjudul 'Cinta yang Tulus'. Lagu yang sangat kentara akan cinta sejati. Lagu yang dipersembahkan oleh hamba untuk kekasihnya: Allah. Mbah Surippun sama.
Mbah Surip adalah kegetiran. Kegetiran manusia Indonesia. Tertawanya adalah kesedihannya. Orang Indonesia meskipun banyak masalah, ditolak perempuan pujaannya. Atau gaji pas-pasan, tarif dasar listrik naik, BBM naik, hutang semakin melangit. Tapi mereka tetap masih bisa ngopi dan merokok, serta tertawa dan tentu saja insya Allah bahagia. Itulah mbah Surip, representasi manusia Indonesia. Kepadanya saya belajar tertawa, meski sedang lara. Qonaah bahasa agamanya. I love you full, Mbah.
Tokoh berikutnya adalah Zainul Arifin, Allahu Yarhamhu. Mas Zainul dalam perjalanan terakhir hidupnya adalah vokalis Kiai Kanjeng. Suaranya bening. Menggetarkan 'sesuatu' yang di dalam. Di kota asalnya, Mojokerto, mas Zainul dikenal sebagai qori. Seorang pentilawah atau pembaca ayat-ayat suci. dengan teknik, gaya dan cengkok lisanul arabi. Ada 7 (tujuh) tradisi maqam tilawah, yang masing-masing berbeda genre-nya. Ketujuh maqam tilawah: bayati, shoba, nahawand, hijaz, rost, sika dan jiharka. Dan mas Zainul menguasai keseluruh maqam tilawah tersebut.
Saat tur-tur Emha dan Kiai Kanjeng ke seluruh penjuru tanah air dan beberapa kali ke luar negeri; Mesir, Abu Dhabi, Inggris, Vatikan, Belanda, Finlandia, dan lain sebagainya; mas Zainul salah salah satu vokalis andalan Kiai Kanjeng. Di negara-negara Timur Tengah, sebagai pusat kebudayaan Arab — mas Zainul yang kemampuan komunikasi bahasa Arabnya minim — justru sangat dielu-elukan karena kemampuan mengolah suara yang 'sangat Arab'. Langgam Arabic. Di Maroko misalnya, mas Zainul membawakan lagu yang sangat familiar bagi masyarakat setempat: Allah Ya Maulana, mendapat aplus meriah. Driss Ouaouicha, Rektor Universitas Al Akhawayn, Maroko saat itu, meminta untuk bertemu dengan mas Zainul. Rektor bersama ketua lembaga bahasa universitas tersebut terkagum-kagum terhadap suaranya dalam membawakan suluk-suluk atau lagu-lagu berbahasa Arab. Lagu yang sering saya putar ketika sendiri di malam yang sunyi, adalah 'Kuncine Lawang Suwarga, Laa Ila ha Illa Allah'. 13 Juni 2015, mas Zainul lebih dirindui oleh Tuhan-nya. Allah bersegera ingin bertemu seorang makhluk-Nya yang sangat indah ketika melantunkan firman-firman-Nya.
Dari mas Zainul, tentu saja suaraku yang cempreng tidak akan belajar meniru suaranya. Tapi suaranya yang lembut, menginspirasi hidup kita seharusnya terus berfikir positif, jernih dan bening. Mas Zainul adalah keindahan. Dan kita suatu saat nanti akan bermuara ke yang Maha Indah.
Rusdi Amrullah bin Mathari adalah tokoh berikutnya. Allah menyayanginya. Semasa hidupnya beliau adalah seorang jurnalis. Dalam lingkungan pergaulannya dia orang yang baik. Sangat baik. Dia punya semboyan "Karena Jurnalistik Bukan Monopoli Wartawan". Dia seorang idealis. Cak Rusdi, panggilan akrabnya seorang penulis. Menulis apa saja.
Yang paling saya suka adalah petuah-petuahnya tentang agama. "Kenapa yang harus dihormati hanya orang yang berhaji? Kenapa orang yang salat tidak dipanggil Pak Salat? Orang yang puasa tidak dipanggil Pak Puasa? Orang yang berzakat, Pak Zakat?"
Dulu, setiap pagi di beranda Facebook adalah keriaan yang disajikan oleh Rusdi Mathari. Hingga akhir hayatnya Cak Rusdi terus menulis. Belajar integritas itu bukan kepada penyelenggara negara. Cukup kepada Cak Rusdi saja.
Kepada beliau-beliau alfatihah....
No comments:
Post a Comment