Search This Blog

Suwungs

Tentang aku

My photo
Yogyakarta, DIY, Indonesia
Lelaki kelahiran Tegal, yang percaya bahwa hujan selalu menawarkan berbagai keromantisan

Search This Blog

AZIZ MUZAYIN. Powered by Blogger.

Terbaru

Sebasa.

 #DearDHA “Sekolah yang pinter, Nak. Biar kelak enggak jadi polisi.” banyak komentar dari kita di sosial media seperti itu. Kemarahan publik...

Translate

Wednesday, 10 July 2019

Haji


Kenapa yang harus dihormati hanya orang yang berhaji? Kenapa orang yang salat tidak dipanggil Pak Salat? Orang yang puasa tidak dipanggil Pak Puasa? Orang yang berzakat, Pak Zakat? - Cak Dlahom [Rusdi Mathari].


Disadari atau tidak, Kisah-kisah sufi yang sering didengarkan di pesantren-pesantren adalah kisah untuk mengasah kepedulian sosial seorang santri.  Aku ingin berkisah padamu dik, kisah tentang Abdullah bin Mubarak. Seorang ulama besar pada masanya. Seorang tabi'ut tabi'in.


Hari itu, kesekian kalinya Abdullah bin Mubarak menunaikan ibadah haji. Setelah thawaf mengelilingi ka'bah. Beliau tertidur. Dalam tidurnya antara mimpi dan sadar, Abdullah bin Mubarak mendengar percakapan antara dua malaikat:
"Berapa jumlah umat Islam yang menunaikan haji pada tahun ini?” tanya salah seorang malaikat.
“600.000 jama’ah haji,” jawab malaikat yang lain.
“Sayangnya tidak ada satupun dari mereka yang diterima hajinya”.
Dalam mimpi itu, Abdullah bin Mubarak terperangah. Ibnu Mubarak menangis.
“Namun…” lanjut malaikat, “Ada satu orang yang hajinya diterima. Namanya Ali bin Muwaffaq, berasal dari Damaskus. Seorang tukang sol sepatu".
"Sebenarnya ia tidak jadi berangkat haji, tetapi Allah menerima hajinya dan mengampuni dosanya. Bahkan berkat dia, seluruh jama’ah haji yang sekarang ada di tanah suci ini diterima hajinya oleh Allah". Seru malaikat.


Abdullah bin Mubarak sangat bahagia. Ia bersyukur, hajinya dan haji seluruh jama’ah diterima. Sayangnya, Abdullah bin Mubarak terbangun sebelum mendengarkan dialog malaikat berikutnya. Sehingga ia pun tidak mengetahui lebih lanjut siapa orang mulia yang karenanya haji ratusan ribu orang ini diterima.


Musim haji telah usai, rasa penasaran Abdullah bin Mubarak semakin menjadi. Siapa sebenarnya Ali bin Muwaffaq. Maka ia pun memutuskan untuk pergi ke Damaskus.


Damaskus tentu saja bukan kota kecil. Mencari seseorang yang hanya diketahui nama dan profesinya, tanpa diketahui alamatnya seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Namun, dengan izin Allah, setelah berusaha dan bertanya ke sana kemari, akhirnya Abdullah bin Mubarak dapat menemukan rumah orang yang bernama Ali bin Muwaffaq.
“Assalamu’alaikum,” kata Abdullah bin Mubarak di depan rumah sederhana itu.
“Wa’alaikum salam”
“Benarkah ini rumah Ali bin Muwaffaq, tukang sepatu?”
“Ya, benar. Ada yang bisa saya bantu?”.


Singkat cerita. Abdullah bin Mubarak menceritakan kisahnya tentang percakapan dua malaikat di tanah suci kepada Ali bin Muwaffaq. Lalu Abdullah bin Mubarak bertanya, "apa sesungguhnya rahasia amalan-amalanmu, wahai Ali bin Muwaffaq?"

****

Ali bin Muwaffaq berkisah. Dia memang tidak jadi berangkat haji. Sesungguhnya dia telah menabung sejak lama. Menumpuk pundi-pundi uang. Hingga terkumpullah biaya haji. Namun suatu siang yang panas. Sebelum dia berangkat ke tanah suci, dia dan istrinya mencium masakan yang sangat sedap.


Istrinya saat itu sedang hamil. Sang istri nyidam menginkan masakan itu. Lalu Ali bin Muwaffaq mencari sumbernya, ternyata dari rumah tetangga. Sang tetangga adalah seorang janda. Anaknya banyak.


Demi sang istri dan calon buah hati, Ali bin Muwaffaq memberanikan diri mengetuk pintu rumah tetangga. Tanpa banyak basa-basi, dia mengutarakan maksud dan tujuan.


Sang tetangga berkata, "Wahai Ali bin Muwaffaq, maafkan aku, makanan ini halal untukku dan anak-anakku. Tetapi haram untuk mu dan istrimu".
"Lho kenapa?", Tanya Ali.
"Sudah beberapa hari anakku tidak makan. Hari ini aku menemukan keledai mati, tergeletak di pinggir kali. Aku potong dan sayati. Aku memasakknya menjadi masakan ini".


Mendengar itu, Ali bin Muwaffaq si tukang sol sepatu merasa tertampar sekaligus sangat sedih. "Bagaimana mungkin aku akan berangkat haji sedangkan tetanggaku tidak bisa makan", dalam hati Ali.


Maka dia ambil seluruh uangnya dan diserahkan pada tetangga yang janda itu untuk memberikan makan anak-anaknya. Karena itu, dia tidak jadi berangkat haji.


Abdullah bin Mubarak terharu. Bulir-bulir air mata membasahi pipi ulama itu. “Sungguh pantas engkau menjadi mabrur sebelum haji. Sungguh pantas hajimu diterima sebelum engkau pergi ke tanah suci,” kata Abdullah bin Mubarak kepada Ali bin Muwaffaq.

No comments:

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE